Jangan Remehkan Insomnia! Ini dia Penyebabnya!

Penderita insomnia merupakan pada umumnya akan mengalami kesulitan tidur, ataupun mengalami kurang tidur, meski sebenarnya punya cukup waktu agar bisa melakukannya.

Jenis gangguan tidur ini membuat penderitanya mengalami kondisi yang tidak prima dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Tentunya penyebab insomnia perlu diketahui agar menemukan solusi tepat.

Tipe insomnia

Terdapat 2 tipe insomnia yakni insomnia sekunder dan insomnia primer.

  1. Penyebab insomnia primer tak terkait kondisi medis lainnya.
  2. Penyebab insomnia sekunder cenderung dipicu oleh gangguan kesehatan lainnya, misal penderita radang sendi, penderita asma, penderita depresi, penderita kanker, atau penderita GERD (refluks asam lambung). Jenis insomnia sekunder dapat pula disebabkan konsumsi alkohol dan obat-obatan.

Penyebab Meningkatnya Risiko insomnia

Ada juga beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko mengalami insomnia, diantaranya:

  1. Masalah mental

Misalnya gangguan kecemasan, depresi, sampai gangguan mental pasca trauma (PTSD).

  1. Bekerja shift

Pola kerja seperti ini dapat mengubah waktu biologis tubuh.

  1. Jenis kelamin

Misalnya pada perempuan ketika sedang menstruasi, maka terjadi perubahan hormon tubuh dan memunculkan hot flasher (berkeringat malam hari) sehingga menyebabkan penderitanya mengalami gangguan tidur.

  1. Usia

Seiring bertambahnya usia, pada umumnya para lansia cenderung mengalami insomnia.

  1. Gaya hidup

Tidak sehatnya gaya hidup yang diterapkan sehari-hari juga dapat memicu insomnia, seperti mengonsumsi kopi lebih dari secangkir sehari, gemar begadang, mengonsumsi alkohol, merokok dan sangat jarang olah raga.

  1. Penggunaan obat

Beberapa jenis obat-obatan tertentu dapat menimbulkan efek samping berupa insomnia bagi orang-orang yang mengonsumsinya.

Cara mengatasi insomnia

Insomnia dapat diatasi dengan melakukan beberapa cara, diantaranya:

  1. Mengonsumsi obat tidur sesuai resep dokter
    Sebelum mengonsumsi obat tidur, sebaiknya berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter karena bisa saja efek sampingnya akan berdampak buruk bagi tubuh, terlebih bila konsumsi jangka panjang.
  2. Terapi perilaku-kognitif
    Jenis terapi ini merupakan bagian dari psikoterapi, bertujuan mengubah respons negatif jadi positif sekaligus mengubah pola pikir ke arah positif. Terapi ini dapat diterapkan bagi penderita yang penyebab insomnia karena masalah mental.
  3. Kombinasi obat tidur dan terapi perilaku-kognitif
    Pengobatan bagi penderita insomnia biasanya disesuaikan kondisi masing-masing pasien. Apabila diperlukan, dokter akan memberikan resep obat tidur selama beberapa minggu, sekaligus terapi perilaku-kognitif agar penderita insomnia tidak ketergantungan dengan obat tidur.

Insomnia dapat juga menjadikan daya ingat lemah serta menurunkan gairah seksual. Selain itu, insomnia yang terus menerus berlangsung dan tidak memperoleh penanganan, dapat menimbulkan gangguan mental dan fisik.