Oct 12

Strategi Komunikasi Terapeutik dalam Setiap Tahapan*

<

p class=”MsoNormal” style=”text-align: center” align=”center”>by Rani Setiani Sujana**

I. Pendahuluan

Keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill yang harus dimiliki oleh seorang perawat dan merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan. Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik, yang merupakan komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi keperawatan sehingga memberikan khasiat terapi bagi proses penyembuhan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terstruktur yang terdiri dari empat tahap yaitu fase pra-interaksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi.

II. Isi

Komunikasi terapeutik yang terjadi antara perawat dan klien harus melalui empat tahap meliputi fase pra-interaksi, orientasi, fase kerja dan fase terminasi. Agar komunikasi terapeutik antara perawat dan klien dapat berjalan sesuai harapan, diperlukan strategi yang harus dilakukan oleh perawat pada saat melakukan komunikasi terpeutik dengan kliennya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai strategi pada setiap tahapan komunikasi terapeutik sesuai dengan pemicu 1 yaitu antara perawat A dan Ny. S yang merupakan klien post-operasi.

a. Fase pra-interaksi

Fase pra-interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan klien. Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan menilik dirinya dengan cara mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini juga perawat mencari informasi tentang klien sebagai lawan bicaranya. Setelah hal ini dilakukan perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. Tahapan ini dilakukan oleh perawat dengan tujuan mengurangi rasa cemas atau kecemasan yang mungkin dirasakan oleh perawat sebelum melakukan komunikasi terapeutik dengan klien.

Kecemasan yang dialami seseorang dapat sangat mempengaruhi interaksinya dengan orang lain (Ellis, Gates dan Kenworthy, 2000 dalam Suryani, 2005). Hal ini disebabkan oleh adanya kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Pada saat perawat merasa cemas, dia tidak akan mampu mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien dengan baik (Brammer, 1993 dalam Suryani, 2005) sehingga tidak mampu melakukan active listening (mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian).

<

p class=”MsoNormal”>Strategi komunikasi yang harus dilakuakn perawat A dalam tahapan ini adalah: a.      Mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan mengidentifikasi kecemasan Ny. S. b.      Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri. c.      Mengumpulkan data dan informasi tentang Ny. S dari keluarga terdekatnya. d.      Merencanakan pertemuan pertama dengan Ny.S dengan bersikap positif dan menghindari prasangka buruk terhadap klien di pertemuan pertama.

b. Fase orientasi

Fase orientasi atau perkenalan merupakan fase yang dilakukan perawat pada saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien. Tahap perkenalan dilaksanakan setiap kali pertemuan dengan klien dilakukan. Tujuan dalam tahap ini adalah memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah lalu (Stuart.G.W, 1998).

Strategi yang dapat dilakukan perawat A dalam tahapan ini adalah:

a) Membina rasa saling percaya dengan menunjukkan penerimaan dan komunikasi terbuka terhadap Ny.S dengan tidak membebani diri dengan sikap Ny.S yang melakukan penolakan diawal pertemuan.

b) Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik pembicaraan) bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali kontrak yang telah disepakati bersama. Perawat A dapat menanyakan kepada keluarga Ny.S mengenai topik pembicaraan yang mungkin akan menarik bagi Ny.S.

c) Mengeksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan serta mengidentifikasi masalah klien yang umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik komunikasi pertanyaan terbuka. Ketika Ny.S diam saja atau memalingkan muka, perawat A bisa menanyakan apakah Ny.S merasakan sakit dan apa yang membuat Ny.S merasa tidak nyaman.

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 72pt”>d) Merumuskan tujuan interaksi dengan klien. Pada pertemuan awal dengan Ny.S, perawat A memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa saling percaya dengan kliennya. Maka, perawat A harus berusaha agar tujuan awal tersebut dapat tercapai.

c. Fase kerja

Fase kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart,1998). Fase kerja merupakan inti dari hubungan perawat dan klien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dicapai. Pada fase kerja ini perawat perlu meningkatkan interaksi dan mengembangkan faktor fungsional dari komunikasi terapeutik yang dilakukan. Meningkatkan interaksi sosial dengan cara meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, atau dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik sebagai cara pemecahan dan dalam mengembangkan hubungan kerja sama. Mengembangkan atau meningkatkan faktor fungsional komunikasi terapeutik dengan melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada, meningkatkan komunikasi klien dan mengurangi ketergantungan klien pada perawat, dan mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada.

Tugas perawat pada fase kerja ini adalah mengeksplorasi stressor yang terjadi pada klien dengan tepat. Perawat juga perlu mendorong perkembangan kesadaran diri klien dan pemakaian mekanisme koping yang konstruktif, dan mengarahkan atau mengatasi penolakan perilaku adaptif. Strategi yang dapat dilakukan perawat A terhadap Ny.S ialah mengatasi penolakan perilaku adaptif Ny.S dengan cara menciptakan suasana komunikasi yang nyaman bagi Ny.S dengan cara:

a) Berhadapan dengan lawan bicara.Dengan posisi ini perawat menyatakan kesiapannya (”saya siap untuk anda”).

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 72pt”>b) Sikap tubuh terbuka; kaki dan tangan terbuka (tidak bersilangan) Sikap tubuh yang terbuka menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk mendukung terciptanya komunikasi.

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 72pt”>c) Menunduk/memposisikan tubuh kearah/lebih dekat dengan lawan bicara Hal ini menunjukkan bahwa perawat bersiap  untuk merespon dalam komunikasi (berbicara-mendengar).

d) Pertahankan kontak mata, sejajar, dan natural. Dengan posisi mata sejajar perawat menunjukkan kesediaannya untuk mempertahankan komunikasi.

e) Bersikap tenang. Akan lebih terlihat bila tidak terburu-buru saat berbicara dan menggunakan  gerakan/bahasa tubuh yang natural.

Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena didalamnya perawat dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa respons ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh klien. Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan dengan penuh perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang sedang dihadapi oleh klien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 0cm”>Dibagian akhir tahap ini, perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. Teknik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, dan membantu perawat dan klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray,B. & Judith,P,1997 dalam Suryani,2005). Dengan dilakukannya penarikan kesimpulan oleh perawat maka klien dapat merasakan bahwa keseluruhan pesan atau perasaan yang telah disampaikannya diterima dengan baik dan benar-benar dipahami oleh perawat.

d. Fase terminasi

Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien. Tahap terminasi dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart,G.W,1998). Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat dan klien, setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masih akan bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati bersama. Sedangkan terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan seluruh proses keperawatan.

Tugas perawat dalam tahap ini adalah:

a) Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan (evaluasi objektif). Brammer dan McDonald (1996) menyatakan bahwa meminta klien untuk menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan merupakan sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini.

b) Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan klien setelah berinteraksi dengan perawat. Perawat A bisa langsung menanyakan perasaan Ny. S dalam setiap akhir pertemuan dengannya.

c) Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindak lanjut yang disepakati harus relevan dengan interaksi yang baru saja dilakukan atau dengan interaksi yang akan dilakukan selanjutnya. Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan berikutnya.

III. Penutup

Komunikasi terapeutik merupakan tanggung jawab moral seorang perawat serta salah satu upaya yang dilakukan oleh perawat untuk mendukung proses keperawatan yang diberikan kepada klien. Untuk dapat melakukannya dengan baik dan efektif diperlukan strategi yang tepat dalam berkomunikasi sehingga efek terapeutik yang menjadi tujuan dalam komunikasi terapeutik dapat tercapai.

<

p class=”MsoNormal” style=”margin-bottom: 0.0001pt”>REFERENSI Hitchcock, JE.(1999). Community health nursing:caring in action. Madrid: Delmar Publisher. Kozier,et.al.(2004).  fundamentals of nursing ; concepts, process and practice seventh  edition. United States: Pearson Prentice Hall. Potter, P.A & Perry, A.G.(1993). fundamental of nursing concepts, process & practice. third edition. St.Louis: Mosby Year Book. Sears.M.(2004). Using Therapeutic Communication to Connect with Patients.(http://www.Nonviolent Communication.com) Suryani.(2005). komunikasi terapeutik; teori &praktik. Jakarta: EGC Tim keilmuan keperawatan jiwa.(2009). Komunikasi Keperawatan mata ajr keperawatan dewasa III. Depok: FIKUI.

<

p class=”MsoNormal” style=”margin-bottom: 0.0001pt”>*) It’s written as an assignment in KD 3.

<

p class=”MsoNormal”>* *) student of Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Sep 11

Huft’ finally I write on this blog again. Well, actually I have so much story that I want to share after I back from Bali, but it’s need a long time to share about it and now I just have a limit time to write on this blog because I have a lot of schedule today….(busy mode:on) No matter what happen there, I can say it is such a exhilarating experience that I ever had. Mmm, I want to upload some photo here, but I can’t. I don’t know why, maybe because the file is too large but when I try the smaller  one it’s not meet the security guideline…>,<”

I got sick for week after back from Bali, so I just stay home until the first day in my campus. But, I still go to campus for OKK and I don’t participate on teater UI performace on UKM’s display. In my first week in this semester I’ve had a lot of assignment from my lecturer and it makes me stressed!!! ~,~  (Come on, it’s fasting month, right?? why you stil make me confused of this all sh*t LTM, Sir/Mam??). There’s so many new student in my campus right now and it’s make the library on my campus full ofe them because they have a lot of things to do in library during the orientation time.

Mmm, tomorrow I’ll go for teaching again. Now, I have a new student (I mean money source..hhe). I hope my new student will be nice just like Bayu.

I think it’s enough for today. Later I’ll write more..

Aug 1

If there’s no trouble happened, I and my friends of Teater UI will go to Bali on 5th of August to attend “Temu Teman Mahasiswa VII” in Art Center. We will stay there until 15th. There are so many activity that we have to follow such as culture carnaval, theater performance, seminar & workshop about theater, watching film, etc. And I hope we’ll have a great performance there. Our theater team will participate in theater performance. And some of us include me, also have to participate in culture carnaval. Randu, Martha and I will present Yapong dance. It’s traditional dance from Betawi. I’ve performed this dance when I was in Senior High School. But, I forget how to perform it as good as before. Randu modifies it with Bali, Sundanese, and Javanese dance. I hope we can do the best in our performance. I hope our performance will be success. And I hope I’ll have the great experience although there’s something that makes me become so anxious..But, I believe everything will be OK and GOD will bless us.^^

Teater UI, Bali
Jul 1

Well, I know that today is the first registration day for the new student in my college (usually called MaBa). Actually I have to go to balairung at 7.30 am as an OKK team to decorate the bazaar stand there but I woke up again at 7.30 am after finishing pray shubuh..hehehe

And I have to be there at 10 a.m again as Bedah Kampus team to survey the bazaar area. But, until now, 11.20 am  when I writing this post, I still enjoy the computer in the library. Today should be the busy day for me. But I don’t know I’m feeling so confuse and tired because of  yesterday….!!!

So, I just wanna say welcome MaBa 2009…!!!! I hope all of U will enjoy this campus…

p.s : Maybe there’s some people who will be angry to me after reading this post. I’m sorry!!!! :p

Universitas Indonesia
Jun 17

The Nursing Law for the Better Condition in Health Service and Nurse Professionalism*

by Rani Setiani Sujana

Nursing was the medical profession that patients most closely related to and an integral part of the medical field, but it lacked of a clear and formal legal platform. Indonesia is one of the three countries in ASEAN that do not have the nursing law yet. There are several reasons why nursing law is really important and have to be legitimated and issued by the government in Indonesia.

The first is the philosophy reason. The nurses have given the great contribution in increasing the public health status. The nurses give the health service in the government institution and the private institution to the people both in the big city and the small village. Even in the rural area of the town, the nurses keep their dedication to give the health service to the people. The nurses also have the science competency, rational act, ethic and professionalism, discipline, creativity and patient when help the client.

The second reason is judicial reason. On the Indonesia health law number 23 1992: paschal 32, explicitly said that the using of medication and treatment based on the medicine science and nursing science can only used by the health service provider or nursing service provider which expert and have the power to do that. It also said that the health practitioner have the right to do their job with the law protection. In addition, the health practitioners also have to do their job by obeying the professionalism standard. But, ironically, the nurses tend to be the object of law.

The last but not least is the sociological reason. The needed of the public health service has increased particularly the nursing service. This evidence shows that the public needs the health service that can be reached for all of the people, has the good quality, and has the law protection in providing the health service.

Based on the nursing law, the nursing council can handle all the aspect that needed by the people and the nursing profession in giving the health service. For the nursing students, the law can make the increasing in student competency because the nursing council will regulate the education system for nursing student. The nursing council will determine the most appropriate system in learning based on the needed of health service as the public expect to.

For the public, the law is urgently needed to protect people from illegal nursing practices, as well as to restate the job description of nurses. People are assured of their right to safe and effective medical treatment.

The law on nursing is mostly important for the nurses in our country. As we know that Indonesia is one of the three countries in ASEAN that have not the nursing law yet. This makes the nurses from our country have the difficulty to reach the global competition. The United States has recruited one million nurses until 2012, the United Kingdom recruits 20.000/year, and Canada 78.000 registered nurses until 2011. Meanwhile, in our country the recruited is less. The nurses in our country have the difficulty in developing their nursing career. They have to be the registered nurse but it is not easy for them to be the registered nurse because they have to ask the Malaysian, Singapore or Australian government that already has the Nursing Board. The mechanism and the procedure are not easy because of the international recognition of the Indonesian nurses. They do not trust to our nurses’ competency. Ironically, there are so many country need a lot number of nurses but there is no institution which warrant the nurse’s competency and help them to develop their competency in global competition.

In conclusion, it is time for us to have a law on nursing so the tasks and functions of nurses who are engaged directly with patients become clearer. This is the time for Indonesia to be recognized having the competent nurses, which can compete in the global competition.

*) This is dedicated for all of nurses in Indonesia, I wrote this essay when I participate in English oration competition in my campus.

Universitas Indonesia
May 4

Peran Perawat Profesional dalam Membangun Citra Perawat

Ideal di Mata Masyarakat

oleh Rani Setiani Sujana*

Menjadi seorang perawat merupakan suatu pilihan hidup bahkan merupakan suatu cita-cita bagi sebagian orang. Namun, adapula orang yang menjadi perawat karena suatu keterpaksaan atau kebetulan, bahkan menjadikan profesi perawat sebagai alternatif terakhir dalam menentukan pilihan hidupnya. Terlepas dari semua itu, perawat merupakan suatu profesi yang mulia. Seorang perawat mengabdikan dirinya untuk menjaga dan merawat klien tanpa membeda-bedakan mereka dari segi apapun. Setiap tindakan dan intervensi yang tepat yang dilakukan oleh seorang perawat, akan sangat berharga bagi nyawa orang lain. Seorang perawat juga mengemban fungsi dan peran yang sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan secara holistik kepada klien. Namun, sudahkah perawat di Indonesia melakukan tugas mulianya tersebut dengan baik? Bagaimanakah citra perawat ideal di mata masyarakat?

Perkembangan dunia kesehatan yang semakin pesat kian membuka pengetahuan masyarakat mengenai dunia kesehatan dan keperawatan. Hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat yang mulai menyoroti kinerja tenaga-tenaga kesehatan dan mengkritisi berbagai aspek yang terdapat dalam pelayanan kesehatan. Pengetahuan masyarakat yang semakin meningkat, berpengaruh terhadap meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan keperawatan. Oleh karena itu, citra seorang perawat kian menjadi sorotan. Hal ini tentu saja merupakan tantangan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan profesionalisme selama memberikan pelayanan yang berkualitas agar citra perawat senantiasa baik di mata masyarakat.

Menjadi seorang perawat ideal bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi untuk membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Hal ini dikarenakan kebanyakan masyarakat telah didekatkan dengan citra perawat yang identik dengan sombong, tidak ramah, genit, tidak pintar seperti dokter dan sebagainya. Seperti itulah kira-kira citra perawat di mata masyarakat yang banyak digambarkan di televisi melalui sinetron-sinetron tidak mendidik. Untuk mengubah citra perawat seperti yang banyak digambarkan masyarakat memang tidak mudah, tapi itu merupakan suatu keharusan bagi semua perawat, terutama seorang perawat profesional. Seorang perawat profesional seharusnya dapat menjadi sosok perawat ideal yang senantiasa menjadi role model bagi perawat vokasional dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal ini dikarenakan perawat profesional memiliki pendidikan yang lebih tinggi sehingga ia lebih matang dari segi konsep, teori, dan aplikasi. Namun, hal itu belum menjadi jaminan bagi perawat untuk dapat menjadi perawat yang ideal karena begitu banyak aspek yang harus dimiliki oleh seorang perawat ideal di mata masyarakat.

Perawat yang ideal adalah perawat yang baik. Begitulah kebanyakan orang menjawab ketika ditanya mengenai bagaimana sosok perawat ideal di mata mereka. Mungkin kedengarannya sangat sederhana. Namun, di balik semua itu, pernyataan tersebut memiliki makna yang besar. Masyarakat ternyata sangat mengharapkan perawat dapat bersikap baik dalam arti lembut, sabar, penyayang, ramah, sopan dan santun saat memberikan asuhan keperawatan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang masih menemukan perilaku kurang baik yang dilakukan oleh seorang perawat terhadap klien saat menjalankan tugasnya di rumah sakit. Hal itu memang sangat disayangkan karena bisa membuat citra perawat menjadi tidak baik di mata masyarakat. Ternyata memang hal-hal seperti itulah yang memunculkan jawaban demikian dari masyarakat.

Untuk menjadi perawat ideal di mata masyarakat, diperlukan kompetensi yang baik dalam hal menjalankan peran dan fungsi sebagai perawat. Seorang perawat profesional haruslah mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Adapun peran perawat diantaranya ialah pemberi perawatan, pemberi keputusan klinis, pelindung dan advokat klien, manajer kasus, rehabilitator, pemberi kenyamanan, komunikator, penyuluh, dan peran karier. Semua peran tersebut sangatlah berpengaruh dalam membangun citra perawat di masyarakat. Namun, disini saya akan menekankan peran yang menurut saya paling penting dalam membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Peran–peran tersebut diantaranya ialah peran sebagai pemberi perawatan, peran sebagai pemberi kenyaman dan peran sebagai komunikator.

Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan merupakan peran yang paling utama bagi seorang perawat. Perawat profesional yang dapat memberikan asuhan keperawatan dengan baik dan terampil akan membangun citra keperawatan menjadi lebih baik di mata masyarakat. Saat ini, perawat vokasional memang masih mendominasi praktik keperawatan di rumah sakit maupun di tempat pelayanan kesehatan lainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa perawat vokasional memiliki kemampuan aplikasi yang baik dalam melakukan praktik keperawatan. Namun, perawat vokasional memiliki pengetahuan teoritis yang lebih terbatas jika dibandingkan dengan perawat profesional. Dengan semakin banyaknya jumlah perawat profesional saat ini, diharapkan dapat melengkapi kompetensi yang dimiliki oleh perawat vokasional. Seorang perawat profesional harus memahami landasan teoritis dalam melakukan praktik keperawatan. Landasan teoritis tersebut akan sangat berguna bagi perawat profesional saat menjelaskan maksud dan tujuan dari asuhan keperawatan yang diberikan secara rasional kepada klien. Hal ini tentu saja akan membawa dampak baik bagi terciptanya citra perawat ideal di mata masyarakat yaitu perawat yang cerdas, terampil dan profesional.

Kenyamanan merupakan suatu perasaan subjektif dalam diri manusia. Masyarakat yang menjadi klien dalam asuhan keperawatan akan memiliki kebutuhan yang relatif terhadap rasa nyaman. Mereka mengharapkan perawat dapat memenuhi kebutuhan rasa nyaman mereka. Oleh karena itu, peran perawat sebagai pemberi kenyamanan, merupakan suatu peran yang cukup penting bagi terciptanya suatu citra keperawatan yang baik. Seorang perawat profesional diharapkan mampu menciptakan kenyamanan bagi klien saat klien menjalani perawatan. Perawat profesional juga seharusnya mampu mengidentifikasi kebutuhan yang berbeda-beda dalam diri klien akan rasa nyaman. Kenyamanan yang tercipta akan membantu klien dalam proses penyembuhan, sehingga proses penyembuhan akan lebih cepat. Pemberian rasa nyaman yang diberikan perawat kepada klien dapat berupa sikap atau perilaku yang ditunjukkan dengan sikap peduli, sikap ramah, sikap sopan, dan sikap empati yang ditunjukkan perawat kepada klien pada saat memberikan asuhan keperawatan. Memanggil klien dengan namanya merupakan salah satu bentuk interaksi yang dapat menciptakan kenyamanan bagi klien dalam menjalani perawatan. Klien akan merasa nyaman dan tidak merasa asing di rumah sakit. Perilaku itu juga dapat menciptakan citra perawat yang ideal di mata klien itu sendiri karena klien mendapatkan rasa nyaman seperti apa yang diharapkannya.

Peran perawat sebagai komunikator juga sangat berpengaruh terhadap citra perawat di mata masyarakat. Masyarakat sangat mengharapkan perawat dapat menjadi komunikator yang baik. Klien juga manusia yang membutuhkan interaksi pada saat ia menjalani asuhan keperawatan. Interaksi verbal yang dilakukan dengan perawat sedikit banyak akan berpengaruh terhadap peningkatan kesehatan klien. Keperawatan mencakup komunikasi dengan klien dan keluarga, antar-sesama perawat dan profesi kesehatan lainnya, serta sumber informasi dan komunitas. Kualitas komunikasi yang dimiliki oleh seorang perawat merupakan faktor yang menentukan dalam memenuhi kebutuhan individu, keluarga, dan komunitas. Sudah seharusnya seorang perawat profesional memiliki kualitas komunikasi yang baik saat berhadapan dengan klien, keluarga maupun dengan siapa saja yang membutuhkan informasi mengenai masalah keperawatan terkait kesehatan klien.

Hal-hal di atas merupakan sebagian kecil gambaran mengenai peran yang dapat dilakukan oleh seorang perawat profesional dalam membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Masih banyak lagi hal lain yang dapat dilakukan oleh seorang perawat profesional untuk menciptakan citra perawat ideal yang lebih baik lagi di mata masyarakat. Untuk mewujudkan hal itu, tentu saja diperlukan kompetensi yang memadai, kemauan yang besar, dan keseriusan dari dalam diri perawat sendiri untuk membangun citra keperawatan menjadi lebih baik. Perawat yang terampil, cerdas, baik, komunikatif, dan dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik sesuai dengan kode etik, tampaknya memang merupakan sosok perawat ideal di mata masyarakat. Semoga kita dapat menjadi perawat profesional yang mampu menjadi role model bagi perawat-perawat lain dalam membawa citra perawat ideal di mata masyarakat. Hidup perawat Indonesia!

(* Student of  Faculty of Nursing UI 2008, writer & owner of this blog

Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Mar 18

Pengkajian Fisik terkait Sistem Sirkulasi pada Penderita

Hipertensi

<

p class=”NoSpacing” style=”text-align: center” align=”center”>

I.Pengkajian Fisik sistem sirkulasi

Pengkajian fisik adalah mengukur tanda-tanda vital dan pengukuran lainnya menggunakan teknik inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pengkajian fidik sistem sirkulasi dapat berupa pengukuran tekanan darah maupun perhitungan nadi.

Inspeksi

Inspeksi adalah proses observasi. Perawat menginspeksi bagian tubuh untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanda fisik yang signifikan. Perawat melakukan inspeksi dengan melihat penampilan klien dari luar.

Untuk menggunakan inspeksi secara efektif, perawat harus mengobservasi prinsip berikut ini:

1) Pastikan tersedianya pencahayaan yang baik.

2) Posisiskan bagian tubuh sedemikian rupa sehingga semua permukaan terlihat.

3) Inspeksi setiap area untuk ukuran, bentuk, warna, kesimetrian, posisi, dan abnormalitas.

4) Jika mungkin, bandingkan area yang diinspeksi dengan area yang sama di sisi tubuh yang berlawanan.

5) Gunakan lampu tambahan untuk menginspeksi rongga tubuh.

6) Jangan terburu-buru melakukan inspeksi dan beri perhatian pada hal-hal detil.

Palpasi

Palpasi dilakukan dengan cara meraba bagian tubuh yang ingin dikaji. Melalui palpasi tangan dapat dilakukan pengukuran yang lembut dan sensitif terhadap tanda fisik. Pada saat melakukan palpasi, klien harus diposisikan dengan nyaman karena ketegangan otot akan mengganggu keefektifan palpasi. Pada pengkajian terkait sistem sirkulasi, perawat dapat melakukan perhitungan jumlah denyut nadi klien per menit. Untuk menghitung denyut nadi per menit, hal yang perlu dilakukan perawat ialah menggunakan ketiga jari untuk menemukan arteri radialis di tangan. Biasanya arteri radialis terletak di dekat

Perkusi

Perkusi melibatkan pengetukan tubuh dengan ujung-ujung jari untuk mengevaluasi ukuran, batasan dan konsistensi organ-organ tubuh dan untuk menemukan adanya cairan pada rongga tubuh. Melalui perkusi, lokasi, ukuran dan densitas struktur dapat ditentukan.Perkusi membantu menentukan abnormalitas yang didapat dari pemeriksaan sinar-x atau pengkajian melalui auskultasi.

Terdapat dua macam perkusi yaitu perkusi langsung dan tidak langsung. Perkusi langsung melibatkan pengetukan permukaan tubuh secara langsung dengan satu atau dua jari. Sedangkan teknik tidak langsung dilakukan dengan menempatkan jari tengah tangan non-dominan di atas permukaan tubuh, dengan telapak tangan dan jari-jari tangan yang lain tidak berada di permukaan kulit. Perkusi menghasilkan lima jenis bunyi yaitu timpani, resonansi, hiperesonansi, pekak, dan flatness.

Auskultasi

Auskultasi adalah mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh dengan menggunakan alat bantu stetoskop. Untuk dapat mengauskultasi dengan benar, perawat harus mendengarkan bunyi di tempat tenang dan mendengarkan karakteristik dari bunyi tersebut.

Melalui auskultasi, perawat memerhatikan beberapa karakteristik bunyi berikut ini:

1) Frekuensi atau jumlah siklus gelombang per detik yang dihasilkan oleh benda yang bergetar. Semakin tinggi frekuensinya, semakin tinggi nada bunyi dan sebaliknya.

2) Kekerasan atau amplitudo gelombang bunyi. Bunyi terauskultasi digambarkan sebagai keras atau pelan.

3) Kualitas, atau bunyi-bunyian dengan frekuensi dan kekerasan yang sama dari sumber berbeda. Istilah seperti tiupan atau gemuruh menggambarkan kualitas bunyi.

4) Durasi, atau lamanya waktu bunyi itu berlangsung. Durasi bunyi adalah pendek, sedang dan panjang. Lapisan jaringan lunak mengendapkan durasi bunyi dari organ internal dalam.

<

p class=”NoSpacing” style=”margin-left: 0.5in”>

II. Pemeriksaan Sistem Kardiovaskuler

Pemeriksaan Pembuluh Darah Perifer

1) Arteri perifer cara palpasi

Periksa arteri radialis dalam posisi pronasi dan fleksi di siku, jika perlu angkat sedikit, arteri karotis, arteri femoralis, arteri poplitea, arteri dorsalis pedis dan arteri posterior.

Nilai:

· Frekuensi, irama, ciri denyutan, isi nadi, keadaan pembuluh darah.

· Frekuensi: normal 60-90x per menit, agak meningkat pada anak-anak, wanita dalam keadaan berdiri, sedang makan, emosi dan lain-lain.

Abnormal:

Lebih dari 100x per menit- takikardia (pulpus frekuensi): pada demam, infeksi streptokokus, difteri, dan macam-macam penyakit jantung.

Kurang dari 60x per menit- bradikardi pada mikusudema, penyakit kuning, demam enteritis, tifoid, dsb.

Irama:

o Normal :

Teratur

Tak teratur misalnya aritmi sinus yang meningkat pada inspirasi dan menurun pada ekspirasi.

oAbnormal:

· Pulsus bigemini = tiap 2 denyut jantung dipisahkan sesamanya oleh waktu yang lama, karena satu siantara tiap denyut menghilang.

· Pulsus trigemini = tiap 3 denyut jantung dipisahkan oleh masa antara denyut nadi yang lama.

· Pulsus ekstra sistolik = interval yang memanjang dapat ditemukan juga jika terdapat satu denyut tambahan yang timbul lebih dini daripada denyut-denyutan lain yang menyusul.

Macam/ciri denyutan:

Tiap denyut nadi dilukiskan sebagai suatu gelombang yang terdiri dari bagian yang naik, puncak, dan turun.

· Pulsus anarkot, yakni denyut nadi yang lemah, mempunyai gelombang dengan puncak tumpul dan rendah, misalnya pasien stenosis aorta.

·Pulsus seler, yakni denyut nadi yang seolah-olah meloncat tinggi, meningkat tinggi, dan menurun cepat sekali, misalnya pasa insulfisiensi aorta.

· Pulpus paradoks, yakni denyut nadi yang semakin lemah selama inspirasi bahkan menghilang sama sekali pada bagian akhir inspirasi untuk timbul kembali pada ekspirasi. Misalnya pada perikarditis konstraktiva, efusi perikard.

· Pulpus alternans, yakni nadi yang kuat dan lemah berganti-ganti, misalnya pada kerusakan otot jantung.

Isi nadi:

Pada setiap denyut nadi sejumlah darah melewati bagian tertentu dan jumlah darah itu dicerminkan oleh tinggi puncak gelombang nadi. Isi nadi mencerminkan tekanan nadi, yakni beda antara tekanan sistolik dan diastolik.

· Pulpus magnus- denyutan terasa mendorong jari yang melakukan palpasi, mialnya pada demam.

· Pulpus parvus- denyutan terasa lemah (gelombang nadi yang kecil), misalnya pada pendarahan, infark miokard.

Keadaan dinding arteri:

Dengan palpasi keadaan dinding arteri dapat ditafsirkan. Normal-kenyal, tetapi dapat mengeras pada sklerosis.

Mengukur tekanan darah dengan palpasi dan auskultasi:

Cara palpasi:

Hanya untuk mengukur tekanan sistolik. Manset tensimeter yang mengikat lengan dipompa dengan udara berangsur-angsur sampai denyut nadi pergelangan tangan tak teraba lagi. Kemudia tekanan didalam manset diturunkan. Amati tekanan dalam tensi meter. Waktu denyut nadi teraba kembali, kita baca tekanan dalam tensi meter, tekanan ini adalah tekanan sistolik.

Cara auskultasi:

Cara untuk mengukur tekanan sistolik dan diastolik.

· Manset tensimeter siikatkan pada lengan atas, stetoskop ditempatkan pada arteri brakhialis pada permukaan ventral siku agak ke bawah manset tensimeter. Sambil mendengarkan denyut nadi, tekanan dalam tensimeter dinaikkan dengan memompa sampai di tidak terdengar lagi. Kemudian tekanan di dalam tensimeter diturunkan pelan-pelan.

· Pada saat denyut nadi mulai terdengar kembali, kita baca tekanan yang tercantum dalam tensimeter, tekanan ini adalah tekanan sistolik.

· Suara denyutan nadi selanjutnya menjadi agak keras dan tetap terdengar sekeras itu sampai suatu saat denyutannya melemah atau menghilang sama sekali. Pada saat suara denyutan yang keras itu berubah menjadi lemah, kita baca lagi tekanan dalam tensimeter. Tekanan itu adalah tekanan diastolik.

Tekanan darah diukur waktu klien berbaring. Pada penderita hipertensi perlu juga diukur tekanan darah waktu berdiri. Kadang- kadang dijumpai masa bisu (auscultatory gap) yakni suatu masa dimana denyut nadi tak terdengar waktu tekanan tensimeter diturunkan. Misalnya denyut pertama terdengar pada tekanan 220 mmHg, suara denyut nadi berikutnya baru terdengar pada tekanan 150 mmHg. Jadi ada masa bisu tekanan antara 220-150 mmHg. Gejala ini sering ditemukan pada penderita hipertensi dan sebabnya belum diketahui.

Tekanan darah normal 100/60 – 140/90 mmHg. Bila tekanan darah diastol diatas 90 mmHg disebut hipertensi. Bila tekanan darah sistol diatas 150 mmHg pada usia di bawah 50 tahun disebut hipertensi. Tekanan darah sistol 160 – 170 mmHg pada usia diatas 50 tahun dianggap normal.

<

p class=”NoSpacing” style=”margin-left: 0.25in”>

Denyut arteri di permukaan tubuh

Pada penyumbatan lubang cabang-cabang aorta dan pada aneurysma aorta, denyut arteri dapat sitemukan pada permukaan tubuh.

· Stenosis aorta: menimbulkan sirkulasi kolateral, sehingga denyut teraba dipermukaan tubuh.

· Aneurysma aorta: arteri subklavia membesar dan berdenyut jelas di klavikula.

2) Pemeriksaan vena

Terutama pada vena jugularis interna dan eksterna. Vena dada jika tampak jelas dan berliku-liku, berarti ada hambatan terhadap vena porta, vena kava atau ada proses yang menekan atrium kanan akibat tumor mediastinum atau aneurysma aorta desenden.

KEPUSTAKAAN

Potter, P.A.& Perry, A.G. (1997). Fundamental of nursing: concepts, process & practice. 4th ed. St. Louis: Mosby. (terj.hlm.158-159, 814-820)

Rokhaeni, H. et all. (2001). Buku ajar keperawatan kardiovaskuler. Jakarta: Bidang pendidikan dan pelatihan pusat kesehatan jantung dan darah nasional “harapan kita”.

Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Jan 22

 

Untuk Indonesiaku*

oleh  Rani Setiani Sujana

Lebih dari setengah abad bangsa ini merdeka dan seabad sudah kebangkitan nasional bagi bangsa ini diperingati. Namun, seabad masih belumcukup untuk menjadikan bangsa ini seperti apa yang dicita-citakan para pahlawan, yang telah membawa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan dan mewariskannya kepada kita para generasi muda. Sudah seharusnya kita memaknai seabad kebangkitan nasional ini dengan perubahan yang besar bagi bangsa ini. Permasalahan yang melanda bangsa ini, sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab kita dan sudah saatnya kita mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan.

Untuk menyongsong Indonesia di masa depan yang maju dan sejajar dengan bangsa lain, salah satu cara yang dapat kita lakukan ialah mengubah pola pikir kita yang cenderung hanya mementingkan kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan bagi bangsa ini. Sebagai contoh membeli vcd bajakan dan membuang sampah sembarangan. Orang yang melakukan hal tersebut tidak pernah memikirkan berapa kerugian negara karena pajak dari barang yang dibeli tidak masuk kas negara. Begitu pula orang yang membuang sampah ke sungai, mereka seolah tidak peduli lagi akan bencana banjir yang setiap musim hujan merenggut tempat tinggal bahkan nyawa orang lain. Kita bisa melihat bahwa hal yang kecil sekalipun bisa memberikan kontribusi yang besar jika dilakukan oleh banyak orang.

Sekarang, sudah saatnya kita pikirkan hal kecil apa yang bisa kita lakukan bagi bangsa ini agar memberikan kontribusi yang besar bagi Indonesia di masa yang akan datang. Belajar merupakan hal kecil pertama yang sudah seharusnya dilakukan sebelum kita melakukan yang lainnya karena itu merupakan kunci utama kesuksesan sekaligus kewajiban kita sebagai pelajar dan mahasiswa. Selanjutnya, kita juga bisa mulai bersikap kritis dan peduli pada setiap perubahan yang ada. Dengan begitu, kita akan terbiasa untuk memikirkan segala solusi dari setiap permasalahan yang ada di negara ini, tidak hanya berpangku tangan dan menjadi penonton saja. Selain belajar dengan sungguh-sungguh dan bersikap kritis terhadap segala perubah.an yang ada, hal penting lainnya yang harus ditanamkan dalam diri kita sebagai seorang mahasiswa ialah jujur dalam berkarya. Dengan begitu kita telah membantu bangsa ini dalam mencetak generasi muda yang cerdas, produktifdan kompetitif , yang mampu bersaing secara sportifdenganbangsa lain dan dapat diperhitungkandi mata dunia. Jika hal tersebut itu bisa dilakukan oleh setiap generasi muda saat ini, maka bersiap-siaplah untuk menyongsong Indonesia baru yang lebih baik di masa depan. Yaitu Indonesia yang maju dan sejahtera yang disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Pada akhirnya, sudah seharusnya kita mulai merenungkan kembali arti kebangkitan nasional yang sudah seabad ini dengan melakukan apa yang bisa kita berikan pada bangsa ini. Hal-hal di atas hanyalah sebagian kecil contoh yang bisa kita lakukan. Masih banyak lagi hal-hal yang bisa kita berikan bagi bangsa ini, semua tergantung dari ada atau tidaknya keinginan dalam diri kita untuk berubah.

*) Ditulis pada saat mengikuti  OKK UI 2008 “Bangkit Indonesia” untuk memenuhi tugas OKK…

HI

Taken at Bundaran HI in "Sumpah Pemuda Day" :)

Dec 15

Praktik Suap dalam Pengalihan Fungsi Hutan*

oleh Rani Setiani Sujana

Kasus penyuapan yang dilakukan oleh para pejabat terkait pengalihan fungsi hutan di Indonesia sedang menjadi perhatian masyarakat. Tulisan ini menguraikan tentang sebab dan akibat dari tindakan penyuapan yang dilakukan para pengusaha kepada para pejabat dalam pengalihan fungsi hutan di Indonesia.

Pengalihan fungsi hutan lindung untuk pembangunan kota tepat dilakukan jika tetap berpedoman pada analisis dampak lingkungan (AMDAL). Namun, eksploitasi dan kerusakan hutan saat ini telah sampai pada titik kritis. Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), dalam periode 2000-2005, hutan Indonesia telah hilang seluas 5,4 juta hektar. Deforestasi ini terjadi akibat pembangunan ekonomi yang dilangsungkan tak lagi menempatkan pertimbangan ekologis sebagai rujukan utama. Selain itu, maraknya praktik penyuapan pejabat dalam pengalihan fungsi hutan juga semakin memperparah keadaan hutan di Indonesia.

Praktik penyuapan pejabat dalam pemberian konsesi hutan dalam bentuk Hak Pengusaha Hutan (HPH), izin pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI), pembukaan perkebunan, kawasan transmigrasi dan lainnya marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Dari banyaknya kasus pengalihan fungsi hutan, alih fungsi hutan lindung yang sedang berlangsung di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau dan Banyuasin, Sumatera Selatan, adalah ukuran paling mencolok. Menurut Gunawan, praktik penyuapan dalam pengalihan fungsi hutan tersebut tidak terlepas dari kebijakan pengelolaan hutan selama ini yang menitikberatkan kepada upaya perolehan devisa negara melalui eksploitasi produk-produk hutan yang bernilai ekonomis seperti kayu. Hal ini memotivasi banyak pengusaha untuk mendapatkan HPH, HTI dan izin pengelolaan hutan lainnya. Jika izin sulit diperoleh, praktik penyuapan pejabat daerah pun menjadi suatu pilihan yang dapat dilakukan oleh para pengusaha. Sementara itu, Rose dalam bukunya “Korupsi pemerintahan” menyebutkan bahwa pejabat juga memiliki kecenderungan menjadi objek penyuapan karena adanya keinginan untuk mendapat keuntungan dari pengusaha swasta maupun warga di daerah yang mereka pimpin.

Kalimantan Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan sumber daya hutan. Namun, hutan yang ada di provinsi tersebut kini telah berkurang lebih dari setengahnya akibat pembangunan industri dan wilayah kota. Sebagian pengusaha yang melakukan alih fungsi hutan lindung di provinsi tersebut mendapatkan HTI, HPH dan izin lainnya melalui praktik penyuapan pejabat setempat. Izin yang seharusnya tidak dapat diberikan karena tidak sesuai dengan AMDAL menjadi mudah didapat, akibatnya kerusakan lingkungan hutan karena pembangunan dan alih fungsi hutan tidak dapat dihindari. Industri-industri yang dibangun serta pelebaran wilayah kota yang dilakukan tanpa memperhatikan AMDAL akan mengakibatkan kerusakan ekosistem.Selain kerusakan ekosistem yang mengakibatkan bencana alam, negara juga dirugikan trilyunan rupiah akibat tindakan para pengusaha dan pejabat tersebut.

Akibat praktik penyuapan alih fungsi hutan juga dapat dirasakan di lingkungan sosial. Pembangunan hutan telah mengakibatkan tersingkirnya masyarakat asli (indigenous people) dan masyarakat adat (tribal people) di sekitar hutan. Pembangunan hutan telah membuat kedaulatan dan akses mereka terhadap sumber daya hutan terampas. Jika praktik penyuapan dalam alih fungsi hutan lindung tidak ada, maka hal ini tidak akan terjadi karena keberadaan mereka merupakan suatu hal yang harus dijaga kelestariannya.

Pembahasan di atas telah menunjukkan bahwa praktik penyuapan yang dilakukan akan membawa dampak yang merugikan negara dan masyarakat. Sudah seharusnya pemerintah menangani kasus ini dengan tegas sampai tuntas agar praktik penyuapan seperti ini tidak terus-menerus berlanjut ke generasi berikutnya.

KEPUSTAKAAN

Gunawan, R. (1999). After the rain fall: the impact of the east Kalimantan forestry industry on tribal society. Bandung: AKATIGA Foundation.

Rose, S. (2006). Korupsi pemerintahan: sebab, akibat & reformasi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. “Tenggelamnya Indonesiaku!style sheet. http:// www.walhi.or.id/ kampanye/hutan/konversi/080528 (27 Mei 2008)

*) Ditulis sebagai LTM pada Mata kuliah MPKT di UI

Universitas Indonesia
Nov 20

Otonomi Daerah dalam Mengatasi Kesenjangan Sistem Pendidikan

di Setiap Daerah

oleh Rani Setiani Sujana

Kesenjangan yang terjadi pada sistem pendidikan di Indonesia memang tidak dapat dipungkiri. Kesempatan belajar bagi setiap anak di seluruh Indonesia tidak sama, begitupun berbagai akses yang dimiliki mereka untuk mengenyam pendidikan yang layak sangat bermacam-macam. Dengan diberlakukannya otonomi daerah diharapkan akan muncul sebuah harapan baru untuk mengatasi masalah pendidikan di setiap daerah seperti kesenjangan sistem pendidikan di Indonesia. Tulisan ini akan membahas lebih jauh lagi mengenai upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah dalam mengatasi masalah tersebut.

Menyelenggarakan pemerintahan jarak jauh atau dikenal dengan asas sentralisasi tidak akan efektif, begitupun di dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan pemerintah pusat tidak dapat melakukan pengawasan terhadap semua daerah terutama yang jauh dari pusat pemerintahan. Oleh karena itu, diperlukan asas dalam mengelola daerah yang meliputi desentalisasi pelayanan publik/rakyat dan dekonsentrasi. Untuk memudahkan pelayanan pendidikan kepada rakyat/publik, otonomi daerah dapat digunakan. Otonomi daerah merupakan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan adanya otonomi daerah, akan tercipta suatu otonomi pendidikan yang mampu mengatur sistem pendidikan di suatu daerah sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing.

Indonesia dikenal dengan pluralisme, sehingga sudah saatnya setiap daerah melaksanakan program pendidikan yang terbaik untuk daerahnya. Sedangkan pemerintah pusat membuat regulasi dan memberikan pengawasan serta bertanggung jawab sepenuhnya bagi terlaksana pendidikan nasional tersebut sebaik mungkin. Otonomi pendidikan sangat tepat dilaksanakan, karena persoalan serta kendala terlaksananya program pendidikan di setiap daerah pada umumnya berbeda-beda. Otonomi pendidikan harus dilakukan, mengingat kualitas guru, sarana dan prasarana sekolah di setiap daerah juga berbeda-beda. Dengan otonomi pendidikan yang dilakukan di setiap daerah, pendidikan di setiap daerah akan semakin berkembang.

Di daerah yang sudah maju seperti di kota-kota besar yang berada di Pulau Jawa yang letaknya dekat pusat pemerintahan Indonesia, sistem pendidikannya berkembang dengan pesat. Sekolah-sekolah umum negeri memiliki fasilitas pendidikan yang memadai dan akses pendidikan yang baik dan mudah. Sistem pendidikan yang diterapkanpun beragam dan dianggap sesuai dengan perkembangan zaman yang menuntut kompetensi yang baik. Sekolah internasional, homeschooling dan sekolah umum negeri yang memiliki sistem pendidikan yang maju seperti kelas internasional dan akselarasi ditawarkan. Setiap orang tua dapat dengan mudah memilih sekolah yang diinginkan denagn sistem pendidikan yang paling tepat atau dianggap cocok untuk anak-anaknya. Sementara itu, di daerah yang terpencil, masih banyak anak yang masih belum mendapatkan pendidikan dengan baik karena kekurangan guru, ruang kelas yang tidak layak dan akses ke sekolah yang sulit ditempuh. Jangankan untuk mengembangkan sistem pendidikan di sekolah, untuk memperbaiki gedung saja dananya tidak ada. Jika hanya mengandalkan perhatian pemerintah pusat, keadaan ini akan terus berlangsung. Oleh karena itu perlu adanya otonomi pendidikan di daerah.

Pembahasan di atas telah menunjukan bahwa otonomi pelaksanaan pendidikan merupakan salah satu jawaban terbaik terlaksananya program pembelajaran masyarakat dari tingkat dasar, menengah pertama, menengah atas maupun perguruan tinggi. Selain itu, kepala daerah memiliki tanggung jawab terhadap kemajuan pendidikan di daerahnya.

KEPUSTAKAAN

Bisri, I. (2004). Sistem Hukum Indonesia: Prinsip-prinsip dari implementasi hukum di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Mubarak, Z., et al. (2008). Mata kuliah pengembangan kepribadian terintegrasi: buku ajar III manusia, akhlak, budi pekerti & masyarakat. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI.

Universitas Indonesia

« Previous Entries Next Entries »