Feb 23

Arthritis atau radang sendi merupakan istilah dari reumatik artikuler (mengenai sendi), dikenal dalam berbagai bentuk, diantaranya yang paling umum yaitu Arthritis Reumatiod, Osteoarthritis, dan Gout (arthritis pirai). Semua bentuk Arthritis bermula dengan teradangnya jaringan-jaringan halus seperti jaringan ikat, ligamen, dan tendon dekat tulang sendi. Dapat dikatakan pula bahwa Arthritis merupakan keluhan penyakit rematik yang umum pada segala usia, gejala yang sering dirasakan seseorang selama kehidupannya. Arthritis mengakibatkan rasa sakit dan membatasi gerakan penderita. Gejala atau tanda-tanda serangan artritis secara umum yaitu :

  • persendian terasa kaku dan nyeri apabila digerakan
  • adanya pembengkakan pada salah satu atau beberapa persendian
  • pada persendian yang sakit akan berwarna kemerah-merahan
  • demam, dan kelelahan yang menyertai rasa sakit pada persendian.

Patofisiologi

Pada sendi synovial yang normal, kartilago artikuler membungkus ujung tulang pada sendi dan menghasilkan permukaan yang licin serta ulet untuk gerakan. Membrane synovial melapisi dinding dalam kapsula fibrosa dan mensekresikan cairan ke dalam ruangan antar tulang. Cairan synovial ini berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) dan pelumas yang memungkinkan sendi untuk bergerak secara bebas dalam arah yang tepat. Sendi merupakan bagian tubuh yang paling sering terkena inflamasi dan degenerasi yang terlihat pada penyakit reumatik. Semua penyakit reumatik meliputi inflamasi dan degenerasi dalam derajat tertentu yang bisa terjadi sekaligus. Inflamasi akan terlihat pada persendian sebagai sinovitis. Pada penyakit reumatik inflamatori, inflamasi merupakan proses primer dan degenerasi yang terjadi merupakan proses sekunder yang timbul akibat pembentukkan pannus (proliferasi jaringan synovial). Inflamasi merupakan akibat dari respons imun. Sebaliknya pada penyakit rematik degenerative dapat terjadi proses inflamasi yang sekunder. Sinovitis ini biasanya lebih ringan serta menggambarkan suatu proses reaktif dan lebih besar kemungkinannya untuk terlihat pada penyakit yang lebih lanjut.

Inflamasi

Inflamasi meliputi serangkaian tahapan yang saling berkaitan. Tahap pertama merupakan kejadian pemicu dimana stimulus antigen mengaktifkan monosit dan limfosit T (sel T). selanjutnya, antibody immunoglobulin membentuk kompleks imun dengan antigen (reaksi tipe III- yang diantarai kompleks imun). Fagositosis kompleks imun akan dimulai dan menghasilkan reaksi inflamasi (pembengkakan, nyeri, dan edema pada sendi). Fagositosis akan menghasilkan zat-zat kimia seperti leukotrien prostaglandin. Leukotrien turut serta dalam menimbulkan proses inflamasi dengan menarik sel-sel darah putih lainnya ke daerah inflamasi tersebut. Prostaglandin bertindak sebagai modifier, pada sebagian kasus meningkatkan proses inflamasi dan terkandang memperlambat proses inflamasi. Leukotrien dan prostaglandin akan menghasilkan enzim kolagenase yang memecah kolagen. Pelepasan enzim-enzim ini akan menimbulkan edema, proliferasi membrane synovial, dan pembentukkan pannus, penghancuran kartilago, dan erosi tulang. Proses inflamatori imunologik dimulai dengan disampaikannya antigen pada sel T yang diikuti oleh proliferasi sel-sel T dan B (sumber pembentuk antibody). Sebagai reaksi terhadap antigen yang spesifik, sel plasma akan memproduksi dan melepaskan antibody yanga kan mengikat antigen yang bersesuaian untuk membentuk kompleks imun. Kompleks imun terbentuk dan tertimbun dalam jaringan synovial atau organ lainnya dalam tubuh, dan memicu reaksi inflamasi yang akan merusak jaringan yang terkena.

Degenerasi

Degenerasi kartilago artikuler disebabkan oleh gangguan keseimbangan fisiologi antara stress mekanis dan kemampuan jaringan sendi untuk bertahan terhadap stress tersebut. Pada stres mekanis, kartilago artikuler sangat resisten terhadap proses pengausan dalam kondisi gerakan yang berkali-kali, kendati beban benturan yang berulang akan menyebabkan kegagalan sendi pada tingkat kartilago. Ketika sendi mengalami stress mekanis yang berulang, elastisitas kapsula sendi, kartilago artikuler dan ligamentum akan berkurang. Lempeng artikuler akan menipis dan kemampuannya untuk menyerap kejutan menurun, terjadi penyempitan rongga sendi dan gangguan stabilitas.ketika lempeng artikuler lenyap, osteofit (tulang taji) akan terbentuk di bagian tepi permukaan sendi dan kapsula serta membrane synovial menebal. Kartilago sendi mengalami degenerasi serta atrofi, tulang mengeras dan mengalami hipertrofi pada permukaan sendinya dan ligament akan mengalami kalsivikasi. Akibatnya terbentuk efusi sendi yang steril dan sinovitis sekunder. Selain stress mekanis, perubahan pelumas dan imobilitas juga mempengaruhi degenerasi.

Rheumatoid arthritis

Rheumatoid arthritis merupakan bentuk arthritis yang serius, disebabkan oleh peradangan kronis yang bersifat progresif, yang menyangkut persendian. Ditandai dengan sakit dan bengkak pada sendi-sendi terutama pada jari-jari tangan, pergelangan tangan, siku, dan lutut. Dalam keadaan yang parah dapat menyebabkan kerapuhan tulang sehingga menyebabkan kelainan bentuk terutama pada tangan dan jari-jari. Tanda lainnya yaitu persendian terasa kaku terutama pada pagi hari, rasa letih dan lemah, otot-otot terasa kejang, persendian terasa panas dan kelihatan merah dan mungkin mengandung cairan, sensasi rasa dingin pada kaki dan tangan yang disebabkan gangguan sirkulasi darah. Gejala ekstra-artikuler yang sering ditemui ialah demam, penurunan berat badan, mudah lelah, anemia, pembesaran limfe dan jari-jari yang pucat. Penyakit ini belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun diduga berhubungan dengan penyakit autoimmunitas. Rheumatoid arthritis lebih sering menyerang wanita daripada laki-laki. Walaupun dapat dapat meyerang segala jenis umur, namun lebih sering terjadi pada umur 30-50 tahun.

Patofisiologi arthritis rhematoid

Pada arthritis rheumatoid, reaksi autoimun terjadi dalam jaringan synovial. Proses fagosistosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membrane synovial dan akhirnya pembentukkan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan turut terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degenerative dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot.

Penyakit sendi degenerative (osteoarthritis)

Osteoartritis merupakan penyakit degeneratif kronis dari sendi-sendi. Pada penyakit ini terjadi penurunan fungsi tulang rawan terutama yang menopang sebagian dari berat badan dan seringkali pada persendian yang sering digunakan. Osteoarthritis merupakan gangguan yang umum pada usia lanjut, sering dianggap sebagai konsekuensi dari perubahan-perubahan dalam tulang dengan lanjutnya usia. Penyakit ini biasa terjadi pada umur 50 tahun ke atas dan pada orang kegemukan (obesitas), tetapi bisa juga disebabkan oleh kecelakaan persendian . Pada usia lanjut tampak dua hal yang khas, yaitu rasa sakit pada persendian dan terasa kaku jika digerakkan. Untuk tipe perawatannya : kompres hangat pada bagian yang sakit atau rendam dengan air hangat selama 15 menit. Kurangi berat badan bagi yang obesitas. Oseteoartritis diklasifikasikan sebagai tipe primer (idiopatik) tanpa kejadian atau penyakit sebelumnya. Pertambahan usia berhubungan secara langsung dengan proses degenerative dalam sendi, mengingat kemampuan kartilago artikuler untuk bertahan terhadap mikrofraktur dengan beban muatan rendah yang berulang-ulang menurun. Osteoarthritis sering dimulai pada decade ketiga dan mencapai puncaknya diantara decade kelima dan keenam (75-85 tahun).

 

Patofisiologi osteoartritis

Osteoartrisis dapat dianggap sebagai hasil akhir dari proses ‘aus karena pemakaian’ yang berhubungan dengan penuaan. Faktor risiko bagi osteoarthritis mencakup usia, jenis kelamin, predisposisi genetic, obesitas, stress mekanik sendi, trauma sendi, kelainan sendi atau tulang sebelumnya, riwayat penyakit inflamasi, endokrin serta metabolik. Secara mekanis, obesitas dianggap meningkatkan gaya yang melintas sendi dan menyebabkan degenerasi kartilago. Obesitas akan disertai peningkatan massa tulang subkondrium yang dapat menimbulkan kekakuan tulang sehingga tulang subkondrium menjadi kurang lentur terhadap dampak beban muatan yang akan mentransmisikan lebih besar gaya pada kartilago artikuler yang melapisi diatasnya dan dengan demikian membuat tulang tersebut lebih rentan terhadap cidera.

Penatalaksanaan pasien radang sendi Pengkajian diagnostik:

  • Artrosentesis: pemeriksaan cairan synovial dengan jarum. Normalnya cairan berwarna jernih, viskus, berwarna kuning seperti jerami dengan volume yang sedikit dan mengandung beberapa sel. Pada inflamasi sendi cairan keruh, warna kuning gelap, bisa seperti susu, mengandung sel inflamasi seperti leukosit, dan komplemen (protein plasma).
  • Pemindaian tulang dan sendi
  • Biopsy otot, arteri, dan kulit
  • Pemeriksaan darah.

Diagnosa keperawatan:

  • Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan peningkatan aktivitas penyakit, keadaan mudah lelah serta keterbatasan mobilitas.
  • Keletihan yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas penyakit, rasa nyeri, tidur/istirahat yang tidak memadai, dekondisioning, nutrisi yang tidak memadai, stress emosional/depresi.
  •  Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kelemahan otot, nyeri pada gerakan, keterbatasan ketahanan fisik, kurangnya atau tidak tepatnya penggunaan alat-alat ambulatory.
  • Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kontraktur, keletihan dan gangguan gerak.
  • Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik serta psikologis yang disebabkan oleh penyakit dan terapi.
  • Koping tidak efektif yang berhubungan dengan gaya hidup atau perubahan peranan yang actual atau dirasakan.

Intervensi keperawatan:

  • Meredakan nyeri dan gangguan rasa nyaman
  • Mengurangi keletihan
  • Meningkatkan tidur restorative
  • Meningkatkan mobilitas
  • Memfasilitasi perawatan mandiri
  • Memperbaiki citra tubuh

Komplikasi potensial

  • Menghindari komplikasi akibat obat. Obat yang digunakan pada pengobatan radang sendi (kortikosteroid) berisisko meninbulkan efek yang serius dan merugikan. Efek samping ini dapat mencakup perdarahan atau iritasi gastrointestinal, supresi sumsum tulang, keracunan pada ginjal atau hati, peningkatan insidensi infeksi, luka-luka pada mulut, ruam dan perubahan penglihatan. Tanda dan gejala lainnya adalah hematoma, gangguan pernapasan, vertigo, ikterus, urine yang berwarna gelap, tinja hitam atau berdarah, diare, mual serta vomitus, dan sakit kepala.
  • Menghindari infeksi dan gagal organ dengan memantau tanda-tanda vital, tingkat kesadaran dan gejala infeksi pasien untuk mendeteksi infeksi sistemik dan lokal.

 

Referensi: Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2002). Brunner & suddarth’s textbook of medical-surgical nursing. (terj.) Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Feb 23

Pneumonia pada Anak

  1. Pada bayi. Pada kelompok usia ini, pneumonia biasanya disebabkan oleh virus. Jika penyebabnya bakteri, berbagai macam bakteri dapat menjadi penyebabnya tetapi jenis yang berbahaya adalah yang disebabkan staphylococcus aureus, yang dapat menyebabkan terbentuknya abses dan empiema. Bayi Nampak lebih sakit dibandingkan dengan pada bronchitis. Bayi cenderung pucat dan kolaps dengan rintihan waktu ekspirasi. Kegelisahan bayi disebabkan oleh hipoksia otak. Pengobatan: bayi harus dirawat dengan oksigen yang dipantau kadarnya secara teratur. Bila penyebabnya tidak diketahui maka kombinasi atibiotika yang dapat digunakan adalah flukloksasilin dan ampisilin. Mungkindiperlukan sedasi dan pemberian minum dengan pipa lambung apabila minum dengan botol menyebabkan sesak.
  2. Pada anak. Sebagian besar kasus pneumonia pada usia lebih dari dua tahun disebabkan pneumokokus, tetapi sebagian disebabkan oleh staph. Aureus atau H.influenzae. Anak nampak pucat dan gelisah dengan rintihan waktu ekspirasi. Dapat juga terjadi nyeri pleura dan bila nyeri pleura dijalarkan ke perut maka dapat menyerupai apendisitis. Pengobatan: antibiotika pilihan pertama ialah benzilpensilin yang mula-mula diberikan dengan suntikan, kemudian dapat digunakan fenoksimetil penisilin. Oksigen sering kali tidak diperlukan. Pneumonia yang disebabkan mycoplasma pneumonia mempunyai gejala yang sama dengan pneumonia yang disebabkan bakteri dan virus. Tes serologis dapat menegakkan diagnosis. Pneumonia yang disebabkan M.pneumoniae responsit dengan eritromisin atau tetrasiklin.

Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur, hipostatik, aspirasi, dan benda asing.

  1. Pneumonia pada anak seringkali bersamaan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus dan disebut bronchopneumonia.
  2. Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus (bronchopneumonia).

Dalam pelaksanaan program P2 ISPA semua bentuk pneumonia (baik pneumonia maupun bronchopneumonia) disebut Pneumonia.

 

Pneumonia berdasarkan anatomic :

  1. Pneumonia lobaris adalah radang paru-paru yang mengenai sebagian besar/seluruh lobus paru-paru.
  2. Pneumonia lobularis (bronchopneumonia) adalah radang pada paru-paru yang mengenai satu/beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate.
  3. Pneumonia interstitialis (bronkhiolitis) adalah radang pada dinding alveoli (interstitium) dan peribronkhial dan jaringan interlobular.

Pneumonia lobaris

Gejala yang Nampak secara mendadak namunterkadang didahului oleh infeksi traktus respiratorus bagian atas. Pada anak usia besar sering disertai badan menggigil dan pada bayi disertai kejang. Suhu naik cepat sampai 39-40 derajat, napas sesak, disertai pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut serta nyeri pada dada. Terdapat batuk kering yang kemuadian menjadi batuk produktif. Pada pengkajian fisik kelainan khas tampak setelah 1-2 hari, inspeksi dan palpasi menunjukkan pergeseran toraks yang terkena berkurang. Pada permulaan suara napas melemah sedangkan pada perkusi tidak jelas ada kelainan. Setelah terjadi kongesti, terdengar ronki basah yang segera hilang setelah terjadi konsolidasi, kemudian pada perkusi jelas terdengan keredupan dengan suara pernapasan sub-bronkial sampai bronchial. Pada stadium resolusi, ronki terdengar lebih jelas. Tanpa pengobatan dapat sembuh dengan krisis 5-9 hari.

Bronkopneumonia Komplikasi yang dapat terjadi adalah empiema, otitis media akut. Komplikasi lain yang terjadi adalah atelektasis, emfisema, atau komplikasi seperti meningitis. Komplikasi tidak terjadi bila diberikan antibiotik secara tepat.

Patofisiologi Bronkhopneumonia :

  1. Bronkhopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder.
  2. Keadaan yang dapat menyebabkan bronchopneumonia adalah pertusis, morbili, penyakit lain yang disertai dengan infeksi saluran pernafasan atas, gizi buruk, paska bedah atau kondisi terminal.

Etiologi :

  1. Streptococcus.
  2. Staphylococcus.
  3. Pneumococcus.
  4. Hemovirus Influenza.
  5. Pseudomonas.
  6. Fungus.
  7. Basil colli.

Sehingga menimbulkan : 1. Reaksi radang pada bronchus dan alveolus dan sekitarnya. 2. Lumen bronkhiolus terisi eksudat dan sel epitel yang rusak. 3. Dinding bronkhiolus yang rusak mengalami fibrosis dan pelebaran. 4. Sebagian jaringan paru-paru mengalami etelektasis/kolaps alveoli, emfisema hal ini disebabkan karena menurunnya kapasitas fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan.

Gejala Klinis : 1. Biasanya didahului infeksi saluran pernafasan bagian atas. Suhu dapat naik secara mendadak (38 – 40 ºC), dapat disertai kejang (karena demam tinggi). 2. Gejala khas : 1. Sianosis pada mulut dan hidung. 2. Sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung. 3. Gelisah, cepat lelah. 3. Batuk mula-mula kering kemudian produktif. 4. Kadang-kadang muntah dan diare, anoreksia. 5. Pemeriksaan laboratorium = lekositosis. 6. Foto thorak = bercak infiltrate pada satu lobus/beberapa lobus.

Komplikasi : Bila tidak ditangani secara tepat akan menimbulkan: 1. Otitis media akut (OMA) terjadi bila tidak diobati, maka sputum yang berlebihan akan masuk ke dalam tuba eustachius, sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah dan mengakibatkan hampa udara, kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan timbul efusi. 2. Efusi pleura. 3. Emfisema. 4. Meningitis. 5. Abses otak. 6. Endokarditis. 7. Osteomielitis.

Penatalaksanaan : 1. Oksigen. 2. Cairan, kalori dan elektrolit à glukosa 10 % : NaCl 0,9 % = 3 : 1 ditambah larutan KCl 10 mEq/500 ml cairan infuse. 3. Obat-obatan : 1. Antibiotika à berdasarkan etiologi. 2. Kortikosteroid à bila banyak lender.

Prognosis : Dengan pemberian antibiotik yang tepat, mortalitas dapat menurun.

 

Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Bronkopneumonia

Pengkajian Riwayat Kesehatan :

  1. Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan sebelumnya/batuk, pilek, takhipnea, demam.
  2. Anoreksia, sukar menelan, muntah.
  3. Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas, seperti ; morbili, pertusis, malnutrisi, imunosupresi.
  4. Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernafasan.
  5. Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernafasan cepat dan dangkal, gelisah, sianosis.

Pemeriksaan Fisik :

  1. Demam, takhipnea, sianosis, cuping hidung.
  2. Auskultasi paru adanya ronchi basah, stridor.
  3. Laboratorium lekositosis, AGD abnormal, LED meningkat.
  4. Roentgen dada abnormal (bercak konsolidasi yang tersebar pada kedua paru).

Faktor Psikososial/Perkembangan :

  1. Usia, tingkat perkembangan.
  2. Toleransi/kemampuan memahami tindakan.
  3. Koping.
  4. Pengalaman berpisah dengan keluarga/orang tua.
  5. Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya.

Pengetahuan Keluarga, Psikososial :

  1. Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit bronchopneumonia.
  2. Pengalaman keluarga dalam menangani penyakit saluran pernafasan.
  3. Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya.
  4. Koping keluarga.
  5. Tingkat kecemasan.

 

Diagnosa Keperawatan

  1. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.
  2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.
  3. Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.
  4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.
  5. Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
  6. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.
  7. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.
  8. Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.

 

Intervensi Dx. : Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.

Tujuan : Jalan nafas efektif, ventilasi paru adekuat dan tidak ada penumpukan secret.

Rencana tindakan :

  1. Monitor status respiratori setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan status pernafasan dan bunyi nafas abnormal.
  2. Lakukan perkusi, vibrasi dan postural drainage setiap 4 – 6 jam.
  3. Beri therapy oksigen sesuai program.
  4. Bantu membatukkan sekresi/pengisapan lender.
  5. Beri posisi yang nyaman yang memudahkan pasien bernafas.
  6. Ciptakan lingkungan yang nyaman sehingga pasien dapat tidur tenang.
  7. Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernafasan.
  8. Beri minum yang cukup.
  9. Sediakan sputum untuk kultur/test sensitifitas.
  10. Kelolaa pemberian antibiotic dan obat lain sesuai program.

 

Dx. : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.

Tujuan : Pasien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenasi jaringan secara adekuat.

Rencana Tindakan :

  1. Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda sianosis setiap 2 jam.
  2. Beri posisi fowler/semi fowler.
  3. Beri oksigen sesuai program.
  4. Monitor analisa gas darah.
  5. Ciptakan lingkungan yang tenang dan kenyamanan pasien.
  6. Cegah terjadinya kelelahan pada pasien.

 

Dx. : Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.

Tujuan : Pasien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal.

Rencana Tindakan :

  1. Catat intake dan out put cairan. Anjurkan ibu untuk tetaap memberi cairan peroral à hindari milk yang kental/minum yang dingin à merangsang batuk.
  2. Monitor keseimbangan cairan à membrane mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran menurun, tanda-tyanda vital.
  3. Pertahankan keakuratan tetesan infuse sesuai program.
  4. Lakukan oral hygiene.

 

Dx. : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.

Tujuan : Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kondisi.

Rencana Tindakan :

  1. Kaji toleransi fisik pasien.
  2. Bantu pasien dalam aktifitas dari kegiatan sehari-hari.
  3. Sediakan permainan yang sesuai usia pasien dengan aktivitas yang tidak mengeluarkan energi banyak à sesuaikan aktifitas dengan kondisinya.
  4. Beri O2 sesuai program.
  5. Beri pemenuhan kebutuhan energi.

 

Dx. : Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.

Tujuan : Pasien akan memperlihatkan sesak dan keluhan nyeri berkurang, dapat batuk efektif dan suhu normal.

Rencana Tindakan :

  1.  Cek suhu setiap 4 jam, jika suhu naik beri kompres dingin.
  2. Kelola pemberian antipiretik dan anlgesik serta antibiotic sesuai program.
  3. Bantu pasien pada posisi yang nyaman baginya.
  4. Bantu menekan dada pakai bantal saat batuk.
  5. Usahakan pasien dapat istirahat/tidur yang cukup.

 

Dx. : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.

Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal.

Rencana Tindakan :

  1. Observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam.
  2. Beri kompres dingin.
  3. Kelola pemberian antipiretik dan antibiotic.
  4. Beri minum peroral secara hati-hati, monitor keakuratan tetesan infuse.

 

Dx. : Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.

Tujuan : Anak dapat beraktifitas secara normal dan orang tua tahu tahap-tahap yang harus diambil bila infeksi terjadi lagi.

Rencana Tindakan :

  1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang perawatan anak dengan bronchopneumonia.
  2. Bantu orang tua untuk mengembangkan rencana asuhan di rumah ; keseimbangan diit, istirahat dan aktifitas yang sesuai.
  3. Tekankan perlunya melindungi anak kontak dengan anak lain sampai dengan status RR kembali normal.
  4. Ajarkan pemberian antibiotic sesuai program.
  5. Ajarkan cara mendeteksi kambuhnya penyakit.
  6. Beritahu tempat yang harus dihubungi bila kambuh.
  7. Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.

 

Dx. : Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.

Tujuan : Kecemasan teratasi.

Rencana Tindakan :

  1. Kaji tingkat kecemasan anak.
  2. Fasilitasi rasa aman dengan cara ibu berperan serta merawat anaknya.
  3. Dorong ibu untuk selalu mensupport anaknya dengan cara ibu selalu berada di dekat anaknya.
  4. Jelaskan dengan bahasa sederhana tentang tindakan yang dilakukan à tujuan, manfaat, bagaimana dia merasakannya.
  5. Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.

 

Implementasi

Prinsip implementasi :

  1. Observasi status pernafasan seperti bunyi nafas dan frekuensi setiap 2 jam, lakukan fisioterapi dada setiap 4 – 6 jam dan lakukan pengeluaran secret melalui batuk atau pengisapan, beri O2 sesuai program.
  2. Observasi status hidrasi untuk mengetahui keseimbangan intake dan out put.
  3. Monitor suhu tubuh.
  4. Tingkatkan istirahat pasien dan aktifitas disesuaikan dengan kondisi pasien.
  5. Perlu partisipasi orang tua dalam merawat anaknya di RS.
  6. Beri pengetahuan pada orang tua tentang bagaimana merawat anaknya dengan bronchopneumonia.

 

Evaluasi

Hasil evaluasi yang ingin dicapai :

  1.   Jalan nafas efektif, fungsi pernafasan baik.
  2.   Analisa gas darah normal.

 

Tata laksana medis

  • Penisilin 50.000 U/kgBB/hari, ditambah dengan kloramfenikol 50-70 mg/kgBB/hari atau diberikan antibiotik yang mempunyai spectrum luas seperti ampisilin, pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari.
  • Pemberian oksigen dengan cairan intravena, biasanya diperlukan campuran glucose 5%, dan NaCl 0,9% dalam perbandingan 3:1 ditambah larutan KCl 10mEq/500 ml/botol infuse.
  • Karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asidosis metabolik akibat kurang makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan hasil analisis gas darah arteri.

 

Kepustakaan Ngastiah. (2008). Perawatan anak sakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran: EGC Speirs, A.L. (1992). Pediatrics for nurses. (Terj. Dr, Sidhartani Zain). Semarang: IKIP Semarang Press.

Nov 10

Hubungan Belajar Mengajar dalam Patient Education

oleh Rani Setiani Sujana, 0806334306

Mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

I. Pendahuluan

<

p class=”MsoNormal”>Learning and teaching should not stand on opposite banks and just watch the river flow by; instead, they should embark together on a journey… ~ Loris Malaguzzi (1920–1994).

Kutipan diatas telah menunjukkan bahwa belajar dan mengajar merupakan suatu proses yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain dan akan selalu saling berhubungan. Mengajar merupakan suatu aktivitas yang bertujuan untuk menghasilkan suatu proses belajar, sedangkan belajar merupakan representasi dari perubahan kebiasaan yang merupakan proses intelektual dan emosional.

Kebanyakan literatur menyebutkan bahwa teacher (guru) merupakan student-centred ideologies. Penelitian pada pendidikan perawat pada umumnya menunjukkan bahwa guru dan murid dalam proses belajar mengajar dilihat dari persepsi kebanyakan manusia ialah: guru (teacher), merupakan yang terdepan dalam hal pengetahuan dan murid (learner) merupakan passive recipient dalam proses belajar mengajar. Persepsi seperti itu memang sudah sangat tertanam kuat di dalam benak banyak orang dan banyak ungkapan yang menyebutkan bahwa guru (teacher) merupakan orang yang paling tahu tentang banyak hal termasuk orang yang menjadi muridnya.

Berbeda dengan uraian di atas, di dalam patient education hal itu tidak berlaku dalam hubungan belajar mengajar antara perawat (educator) dan klien (learner). Klien belajar dari perawat mengenai hal-hal yang perlu dilakukan terkait dengan masalah kesehatannya dan perawat juga akan belajar dari klien mengenai hal-hal baru yang terdapat di dalam diri klien yang akan dijadikan bahan pertimbangan dalam memberikan asuhan keperawatan maupun pembelajaran bagi klien.

II. Isi

Belajar merupakan proses kolaboratif dan koperatif dalam pendidikan kesehatan bagi klien (patient education). Perawat dalam menjalankan perannya sebagai educator bagi klien harus mengetahui dan memahami hubungan antara belajar dan mengajar dalam patient education. Proses kolaboratif dan koperatif antara perawat dan klien terjadi selama proses belajar mengajar dalam patient education. Di dalam proses keperawatan, hubungan antara perawat sebagai educator dan klien sebagai orang yang belajar (learner), merupakan proses yang spesial yang ditandai dengan adanya hubungan saling sharing atau berbagi, advocacy, dan negosiasi antara perawat dengan klien.

Proses pembelajaran yang efektif dalam patient education terjadi ketika klien dan health care professional atau perawat sama-sama berpartisipasi dalam proses belajar dan mengajar. Perawat harus sensitif dalam menentukan tipe dari proses pembelajaran yang paling tepat untuk klien selama proses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, perlu adanya sharing dan negosiasi antara klien dan perawat selama proses itu berlangsung. Sebagai contoh, seorang klien memilih situasi belajar yang terstruktur dan terkontrol oleh perawat seperti pada proses belajar merawat luka iritasi setelah keluar dari rumah sakit. Sementara klien lain memilih proses belajar yang lebih kolaboratif dan melibatkan klien lebih banyak dimana mereka hanya akan bertanya pada perawat bagaimana melakukan prosedur dan meminta saran atau nasihat dari perawat, selebihnya klien ingin melakukan tindakan yang telah diajarkan sendiri.

Tidak semua klien ingin terlibat aktif di dalam proses belajar mengajar dalam patient education. Ada saatnya dimana proses mengajar harus ditunda sampai klien memiliki keinginan untuk berpartisipasi secara aktif. Kualitas yang positif yang merupakan karakteristik dari proses belajar mengajar ditandai dengan adanya fokus klien (client focus), negosiasi (negotiation), holistik (holism), dan interaksi (interaction). (Craven & Hirnle, hal. 401-402)

Fokus klien (Client focus)

Patient education merupakan hubungan terapeutik yang harus difokuskan terhadap kebutuhan spesifik klien. Klien memiliki nilai yang unik, kepercayaan atau agama, kemampuan kognitif dan pilihan cara untuk belajar yang mempengaruhi hasil akhir dari proses patient education. Oleh karena itu, seorang perawat haruslah mengizinkan klien untuk berbagi (sharing) mengenai apa yang menjadi kepercayaannya dan apa yang menjadi pilihannya. Dengan begitu, perawat akan mengerti lebih baik lagi tentang keunikan setiap individu dan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh klien pada saat proses belajar berlangsung.

Holistik (Holism)

Hubungan belajar mengajar harus mencakup seluruh aspek dalam seorang individu, tidak hanya mencakup sebagian atau suatu spesifik konten dalam diri individu saja. Oleh karena itu, perawat harus mengumpulkan dan mengkaji data-data mengenai klien untuk menentukan gambaran mengenai diri klien secara menyeluruh. Dalam hal ini, perawat dapat menggunakan pengalaman mereka. Sebagai contoh, ketika seorang perawat mengajarkan cara memberikan suntikan insulin pada klien yang baru saja didiagnosa diabetes. Perawat akan mengantisipasi masalah-masalah yang berdasarkan riwayat kesehatan dan riwayat penyakit klien.

Negosiasi (Negotiation)

Perawat dan klien bersama-sama menentukan apa yang sudah diketahui dan apa yang penting untuk dipelajari. Dengan begitu, mereka dapat mengembangkan rencana dalam proses pembelajaran dengan menggunakan input yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Ada kalanya negosiasi menjadi proses yang lebih formal seperti pada saat perubahan sikap dan kebiasaan dibutuhkan. Namun terkadang, proses negosiasi dapat merupakan proses yang informal yang terjadi begitu saja yang akan membantu proses belajar dalam patient education.

Interaksi (Interaction)

Hubungan belajar mengajar merupakan hubungan yang dinamik yang merupakan proses interaktif yang melibatkan partisipasi aktif dari perawat dan kliennya. Perawat belajar dari klien, begitu pun dengan klien yang belajar dari perawat. Mereka mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar, mengklarifikasi dan merevisi tujuan-tujuan spesifik dalam belajar atau menentukan kebutuhan-kebutuhan baru dalam proses belajar tersebut. Proses interaktif ini merupakan nonlinear model yang berbeda dari simplistic model yang mempresentasikan konten pelajaran, proses belajar dan melakukan evaluasi proses belajar.

III. Penutup

Kesimpulan

Sangat penting bagi seorang perawat untuk memperhatikan keempat karakteristik hubungan yang positif dalam proses belajar mengajar di dalam memberikan pendidikan kesehatan pada klien. Jika keempat hal tersebut dapat dilakukan dengan baik dalam hubungan belajar mengajar antara perawat dan klien, maka tujuan yang diharapkan di dalam patient education akan tercapai dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Setelah melihat pembahasan di atas, jelaslah sudah bahwa peran klien sebagai learner juga sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar dalam patient education.

Referensi

Craven & Hirnle. (2007). Concepts essential for human & nursing management. United States.

Kozier,et.al. (2004).  Fundamentals of nursing ; concepts, process & practice seventh  edition. United States: Pearson Prentice Hall.

Potter, P.A & Perry, A.G. (2001). Fundamental of nursing concepts, process & practice. Sixth edition. St.Louis: Mosby Year Book.

International journal of nursing studies. https://www.researchgate.net/publication/15409358_The_teachinglearning_preferences_of_student_nurses_in_the_Republic_of_Ireland_background_issues_and_a_study (Diunduh pada hari Sabtu, tanggal 12 september 2009. Pukul 11.36 WIB).

http://jamminsoul.wordpress.com/2008/08/14/relationship-between-teaching-and-learning/ (Diunduh pada hari Sabtu, tanggal 12 september 2009. Pukul 11.13 WIB).

<

p class=”MsoNormal”>

Nov 10

I. Pendahuluan

Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan merupakan sasaran utama dari promosi kesehatan. Masyarakat atau komunitas merupakan salah satu dari strategi global promosi kesehatan pemberdayaan (empowerment) sehingga pemberdayaan masyarakat sangat penting untuk dilakukan agar masyarakat sebagai primary target memiliki kemauan dan kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.

II. Pembahasan

Tujuan pemberdayaan masyarakat

Pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo, 2007). Batasan pemberdayaan dalam bidang kesehatan meliputi upaya untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan sehingga secara bertahap tujuan pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk:

· Menumbuhkan kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman akan kesehatan individu, kelompok, dan masyarakat.

· Menimbulkan kemauan yang merupakan kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan atau sikap untuk meningkatkan kesehatan mereka.

· Menimbulkan kemampuan masyarakat untuk mendukung terwujudnya tindakan atau perilaku sehat.

Suatu masyarakat dikatakan mandiri dalam bidang kesehatan apabila:

1) Mereka mampu mengenali masalah kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan terutama di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Pengetahuan tersebut meliputi pengetahuan tentang penyakit, gizi dan makanan, perumahan dan sanitasi, serta bahaya merokok dan zat-zat yang menimbulkan gangguan kesehatan.

2) Mereka mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri dengan menggali potensi-potensi masyarakat setempat.

3) Mampu memelihara dan melindungi diri mereka dari berbagai ancaman kesehatan dengan melakukan tindakan pencegahan.

4) Mampu meningkatkan kesehatan secara dinamis dan terus-menerus melalui berbagai macam kegiatan seperti kelompok kebugaran, olahraga, konsultasi dan sebagainya.

Prinsip pemberdayaan masyarakat

1) Menumbuhkembangkan potensi masyarakat.

2) Mengembangkan gotong-royong masyarakat.

3) Menggali kontribusi masyarakat.

4) Menjalin kemitraan.

5) Desentralisasi.

Peran petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat

1) Memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-program pemberdayaan masyarakat meliputi pertemuan dan pengorganisasian masyarakat.

2) Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan agar masyarakat mau berkontribusi terhadap program tersebut.

3) Mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi kepada masyarakat dengan melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat vokasional.

Ciri pemberdayaan masyarakat

1) Community leader: petugas kesehatan melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat atau pemimpin terlebih dahulu. Misalnya Camat, lurah, kepala adat, ustad, dan sebagainya.

2) Community organization: organisasi seperti PKK, karang taruna, majlis taklim, dan lainnnya merupakan potensi yang dapat dijadikan mitra kerja dalam upaya pemberdayaan masyarakat.

3) Community Fund: Dana sehat atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) yang dikembangkan dengan prinsip gotong royong sebagai salah satu prinsip pemberdayaan masyarakat.

4) Community material : setiap daerah memiliki potensi tersendiri yang dapat digunakan untuk memfasilitasi pelayanan kesehatan. Misalnya, desa dekat kali pengahsil pasir memiliki potensi untuk melakukan pengerasan jalan untuk memudahkan akses ke puskesmas.

5) Community knowledge: pemberdayaan bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan berbagai penyuluhan kesehatan yang menggunakan pendekatan community based health education.

6) Community technology: teknologi sederhana di komunitas dapat digunakan untuk pengembangan program kesehatan misalnya penyaringan air dengan pasiratau arang.

Masalah teoretis kunci

Pertanyaan yang harus diajukan dalam pendekatan pemberdayaan masyarakat di dalam promosi kesehatan adalah:

Pertama, siapakah masyarakat yang menjadi konteks program ; Pengenalan karakter masyarakat ini penting dan dilatar belakangi oleh bukti-bukti bahwa masyarakat bersifat heterogen dan memiliki energi, waktu, motivasi, dan kepentingan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, dalam sebuah kasus promosi kesehatan, terdapat lokasi-lokasi tertentu yang tidak memiliki ketua RT, misalnya di perumahan yang penghuninya baru pulang setelah jam 8 malam. Dapat diperkirakan bahwa rencana program penyuluhan secara oral kepada mereka akan sulit dilaksanakan. Dengan demikian, pendekatan lain bisa dilakukan misalnya melalui situs jika mereka mudah mengakses internet, atau menggunakan fasilitas mobile messaging.

Pertanyaan kedua berkaitan dengan faktor-faktor apa saja yang sekiranya dapat mempengaruhi pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan penelitian Laverack, faktor-faktor tersebut antara lain partisipasi, kepemimpinan, analisis masalah, struktur organisasi, mobilisasi sumber daya, link (tautan) terhadap yang lain, manajemen program, dan peran dari pihak luar.

Pertanyaan ketiga adalah apakah pemberdayaan masyarakat ini merupakan proses atau merupakan outcome. Dalam hal ini, banyak literatur yang menyebutkan bahwa jawabannya adalah bisa kedua-duanya. Hampir semua bersepakat bahwa pemberdayaan masyarakat adalah proses yang dinamis dan melibatkan berbagai hal, seperti pemberdayaan personal, pengembangan kelompok kecil yang bersama-sama, organisasi masyarakat, kemitraan, serta aksi sosial politik. Sebagai outcome, pemberdayaan merupakan perubahan pada individu maupun komunitas yang bersifat saling mempengaruhi.

Indikator hasil pemberdayaan masyarakat

1) Input, meliputi SDM, dana, bahan-bahan, dan alat-alat yang mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat.

2) Proses, meliputi jumlah penyuluhan yang dilaksanakan, frekuensi pelatihan yang dilaksanakan, jumlah tokoh masyarakat yang terlibat, dan pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan.

3) Output, meliputi jumlah dan jenis usaha kesehatan yang bersumber daya masyarakat, jumlah masyarakat yang telah meningkatkan pengetahuan dan perilakunya tentang kesehatan, jumlah anggota keluarga yang memiliki usaha meningkatkan pendapatan keluarga, dan meningkatnya fasilitas umum di masyarakat.

4) Outcome dari pemberdayaan masyarakat mempunyai kontribusi dalam menurunkan angka kesakitan, angka kematian, dan angka kelahiran serta meningkatkan status gizi masyarakat.

III. Kesimpulan

Pemberdayaan masyarakat merupakan sasaran utama dalam promosi kesehatan yang bertujuan untuk memandirikan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan status kesehatannya menjadi lebih baik dengan menggunakan prinsip pemberdayaan dimana petugas kesehatan berperan untuk memfasilitasi masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuannya untuk memlihara dan meningkatkan status kesehatannnya.

Referensi

Marasabessy, N.B,. (2007). Program pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan pemberantasan malaria di kabupaten Maluku tengah.pdf. Universitas Gadjah Mada.

Notoatmodjo, S. (2007). Promosi kesehatan & ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.

Wass, A. (1995). Promoting health: the primary health approach. Toronto: W.B. Sanders.

Nurbeti, M. (2009). Pemberdayaan masyarakat dalam konsep “kepemimpinan yang mampu menjembatani”: bagaimana mengukurnya?. Dari: http://www.kesehatanmasyarakat.com/2009/02/pemberdayaan-masyarakat-dalam-konsep.html (tanggal unduh 28 Oktober 2009 pukul 12:21 WIB)

* Laporan Tugas Mandiri Promosi Kesehatan

<

p class=”MsoNormal” style=”margin-left: 49.65pt”>

Oct 16

On Saturday October 2009, Faculty of Nursing Universitas Indonesia held the national event named Nursing in Action 2009. This event organized by Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Faculty of Nursing 2009. This event has so many activities like seminar, talk show, journalistic training, photography exhibition and many kind of charity activity. Last Saturday, on October 10th, the final celebration held in faculty of Nursing.  Charity music festival and bazaar took a place in basket court, while national seminar in Auditorium Ojoradiat.

National seminar is event that always held annually, and this event always success every year. The ticket always sold out, even over participant sometimes occurred.  I guess i don’t have to evaluate this. Meanwhile, charity music festival was held for the first time. I had not too good impression at the first time because the audiences from seminar and talk show didn’t give enough appreciation for band performance, but at the last session, when the guest star “Tangga” on the stage, I could see my friends and the audiences, and also the crews of Nursing in Action gave more appreciation and enjoyed the performance. Since this event is the first, I can say that charity music festival is success. The weakness of this event is on the publication. I hope charity music festival can be held annually like national nursing seminar and talk show. And I also hope this event can be more success.

I’m so happy and proud of being one of the Nursing in Action crews. It’s not the first time for me to participate in the events and celebration in my faculty, I’ve participate on Brave and Nursing Expo as crew last semester. But, for me, Nursing in Action is different from the last event. Well, no matter what the odds, I feel happy at the end….^^

 

NIA 2009

Charity Music Festival on Nursing in Action 2009. Me: in the middle..

 

NIA

I was LO for this band :)

 

 

BEM

with "Bang Yudhi Arieta Chandra" head of BEM FIK UI..

Oct 12

Strategi Komunikasi Terapeutik dalam Setiap Tahapan*

<

p class=”MsoNormal” style=”text-align: center” align=”center”>by Rani Setiani Sujana**

I. Pendahuluan

Keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill yang harus dimiliki oleh seorang perawat dan merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan. Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik, yang merupakan komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi keperawatan sehingga memberikan khasiat terapi bagi proses penyembuhan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terstruktur yang terdiri dari empat tahap yaitu fase pra-interaksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi.

II. Isi

Komunikasi terapeutik yang terjadi antara perawat dan klien harus melalui empat tahap meliputi fase pra-interaksi, orientasi, fase kerja dan fase terminasi. Agar komunikasi terapeutik antara perawat dan klien dapat berjalan sesuai harapan, diperlukan strategi yang harus dilakukan oleh perawat pada saat melakukan komunikasi terpeutik dengan kliennya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai strategi pada setiap tahapan komunikasi terapeutik sesuai dengan pemicu 1 yaitu antara perawat A dan Ny. S yang merupakan klien post-operasi.

a. Fase pra-interaksi

Fase pra-interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan klien. Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan menilik dirinya dengan cara mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini juga perawat mencari informasi tentang klien sebagai lawan bicaranya. Setelah hal ini dilakukan perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. Tahapan ini dilakukan oleh perawat dengan tujuan mengurangi rasa cemas atau kecemasan yang mungkin dirasakan oleh perawat sebelum melakukan komunikasi terapeutik dengan klien.

Kecemasan yang dialami seseorang dapat sangat mempengaruhi interaksinya dengan orang lain (Ellis, Gates dan Kenworthy, 2000 dalam Suryani, 2005). Hal ini disebabkan oleh adanya kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Pada saat perawat merasa cemas, dia tidak akan mampu mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien dengan baik (Brammer, 1993 dalam Suryani, 2005) sehingga tidak mampu melakukan active listening (mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian).

<

p class=”MsoNormal”>Strategi komunikasi yang harus dilakuakn perawat A dalam tahapan ini adalah: a.      Mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan mengidentifikasi kecemasan Ny. S. b.      Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri. c.      Mengumpulkan data dan informasi tentang Ny. S dari keluarga terdekatnya. d.      Merencanakan pertemuan pertama dengan Ny.S dengan bersikap positif dan menghindari prasangka buruk terhadap klien di pertemuan pertama.

b. Fase orientasi

Fase orientasi atau perkenalan merupakan fase yang dilakukan perawat pada saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien. Tahap perkenalan dilaksanakan setiap kali pertemuan dengan klien dilakukan. Tujuan dalam tahap ini adalah memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah lalu (Stuart.G.W, 1998).

Strategi yang dapat dilakukan perawat A dalam tahapan ini adalah:

a) Membina rasa saling percaya dengan menunjukkan penerimaan dan komunikasi terbuka terhadap Ny.S dengan tidak membebani diri dengan sikap Ny.S yang melakukan penolakan diawal pertemuan.

b) Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik pembicaraan) bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali kontrak yang telah disepakati bersama. Perawat A dapat menanyakan kepada keluarga Ny.S mengenai topik pembicaraan yang mungkin akan menarik bagi Ny.S.

c) Mengeksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan serta mengidentifikasi masalah klien yang umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik komunikasi pertanyaan terbuka. Ketika Ny.S diam saja atau memalingkan muka, perawat A bisa menanyakan apakah Ny.S merasakan sakit dan apa yang membuat Ny.S merasa tidak nyaman.

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 72pt”>d) Merumuskan tujuan interaksi dengan klien. Pada pertemuan awal dengan Ny.S, perawat A memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa saling percaya dengan kliennya. Maka, perawat A harus berusaha agar tujuan awal tersebut dapat tercapai.

c. Fase kerja

Fase kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart,1998). Fase kerja merupakan inti dari hubungan perawat dan klien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dicapai. Pada fase kerja ini perawat perlu meningkatkan interaksi dan mengembangkan faktor fungsional dari komunikasi terapeutik yang dilakukan. Meningkatkan interaksi sosial dengan cara meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, atau dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik sebagai cara pemecahan dan dalam mengembangkan hubungan kerja sama. Mengembangkan atau meningkatkan faktor fungsional komunikasi terapeutik dengan melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada, meningkatkan komunikasi klien dan mengurangi ketergantungan klien pada perawat, dan mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada.

Tugas perawat pada fase kerja ini adalah mengeksplorasi stressor yang terjadi pada klien dengan tepat. Perawat juga perlu mendorong perkembangan kesadaran diri klien dan pemakaian mekanisme koping yang konstruktif, dan mengarahkan atau mengatasi penolakan perilaku adaptif. Strategi yang dapat dilakukan perawat A terhadap Ny.S ialah mengatasi penolakan perilaku adaptif Ny.S dengan cara menciptakan suasana komunikasi yang nyaman bagi Ny.S dengan cara:

a) Berhadapan dengan lawan bicara.Dengan posisi ini perawat menyatakan kesiapannya (”saya siap untuk anda”).

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 72pt”>b) Sikap tubuh terbuka; kaki dan tangan terbuka (tidak bersilangan) Sikap tubuh yang terbuka menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk mendukung terciptanya komunikasi.

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 72pt”>c) Menunduk/memposisikan tubuh kearah/lebih dekat dengan lawan bicara Hal ini menunjukkan bahwa perawat bersiap  untuk merespon dalam komunikasi (berbicara-mendengar).

d) Pertahankan kontak mata, sejajar, dan natural. Dengan posisi mata sejajar perawat menunjukkan kesediaannya untuk mempertahankan komunikasi.

e) Bersikap tenang. Akan lebih terlihat bila tidak terburu-buru saat berbicara dan menggunakan  gerakan/bahasa tubuh yang natural.

Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena didalamnya perawat dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa respons ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh klien. Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan dengan penuh perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang sedang dihadapi oleh klien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.

<

p class=”MsoListParagraphCxSpMiddle” style=”margin-left: 0cm”>Dibagian akhir tahap ini, perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. Teknik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, dan membantu perawat dan klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray,B. & Judith,P,1997 dalam Suryani,2005). Dengan dilakukannya penarikan kesimpulan oleh perawat maka klien dapat merasakan bahwa keseluruhan pesan atau perasaan yang telah disampaikannya diterima dengan baik dan benar-benar dipahami oleh perawat.

d. Fase terminasi

Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien. Tahap terminasi dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart,G.W,1998). Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat dan klien, setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masih akan bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati bersama. Sedangkan terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan seluruh proses keperawatan.

Tugas perawat dalam tahap ini adalah:

a) Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan (evaluasi objektif). Brammer dan McDonald (1996) menyatakan bahwa meminta klien untuk menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan merupakan sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini.

b) Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan klien setelah berinteraksi dengan perawat. Perawat A bisa langsung menanyakan perasaan Ny. S dalam setiap akhir pertemuan dengannya.

c) Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindak lanjut yang disepakati harus relevan dengan interaksi yang baru saja dilakukan atau dengan interaksi yang akan dilakukan selanjutnya. Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan berikutnya.

III. Penutup

Komunikasi terapeutik merupakan tanggung jawab moral seorang perawat serta salah satu upaya yang dilakukan oleh perawat untuk mendukung proses keperawatan yang diberikan kepada klien. Untuk dapat melakukannya dengan baik dan efektif diperlukan strategi yang tepat dalam berkomunikasi sehingga efek terapeutik yang menjadi tujuan dalam komunikasi terapeutik dapat tercapai.

<

p class=”MsoNormal” style=”margin-bottom: 0.0001pt”>REFERENSI Hitchcock, JE.(1999). Community health nursing:caring in action. Madrid: Delmar Publisher. Kozier,et.al.(2004).  fundamentals of nursing ; concepts, process and practice seventh  edition. United States: Pearson Prentice Hall. Potter, P.A & Perry, A.G.(1993). fundamental of nursing concepts, process & practice. third edition. St.Louis: Mosby Year Book. Sears.M.(2004). Using Therapeutic Communication to Connect with Patients.(http://www.Nonviolent Communication.com) Suryani.(2005). komunikasi terapeutik; teori &praktik. Jakarta: EGC Tim keilmuan keperawatan jiwa.(2009). Komunikasi Keperawatan mata ajr keperawatan dewasa III. Depok: FIKUI.

<

p class=”MsoNormal” style=”margin-bottom: 0.0001pt”>*) It’s written as an assignment in KD 3.

<

p class=”MsoNormal”>* *) student of Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Jun 17

The Nursing Law for the Better Condition in Health Service and Nurse Professionalism*

by Rani Setiani Sujana

Nursing was the medical profession that patients most closely related to and an integral part of the medical field, but it lacked of a clear and formal legal platform. Indonesia is one of the three countries in ASEAN that do not have the nursing law yet. There are several reasons why nursing law is really important and have to be legitimated and issued by the government in Indonesia.

The first is the philosophy reason. The nurses have given the great contribution in increasing the public health status. The nurses give the health service in the government institution and the private institution to the people both in the big city and the small village. Even in the rural area of the town, the nurses keep their dedication to give the health service to the people. The nurses also have the science competency, rational act, ethic and professionalism, discipline, creativity and patient when help the client.

The second reason is judicial reason. On the Indonesia health law number 23 1992: paschal 32, explicitly said that the using of medication and treatment based on the medicine science and nursing science can only used by the health service provider or nursing service provider which expert and have the power to do that. It also said that the health practitioner have the right to do their job with the law protection. In addition, the health practitioners also have to do their job by obeying the professionalism standard. But, ironically, the nurses tend to be the object of law.

The last but not least is the sociological reason. The needed of the public health service has increased particularly the nursing service. This evidence shows that the public needs the health service that can be reached for all of the people, has the good quality, and has the law protection in providing the health service.

Based on the nursing law, the nursing council can handle all the aspect that needed by the people and the nursing profession in giving the health service. For the nursing students, the law can make the increasing in student competency because the nursing council will regulate the education system for nursing student. The nursing council will determine the most appropriate system in learning based on the needed of health service as the public expect to.

For the public, the law is urgently needed to protect people from illegal nursing practices, as well as to restate the job description of nurses. People are assured of their right to safe and effective medical treatment.

The law on nursing is mostly important for the nurses in our country. As we know that Indonesia is one of the three countries in ASEAN that have not the nursing law yet. This makes the nurses from our country have the difficulty to reach the global competition. The United States has recruited one million nurses until 2012, the United Kingdom recruits 20.000/year, and Canada 78.000 registered nurses until 2011. Meanwhile, in our country the recruited is less. The nurses in our country have the difficulty in developing their nursing career. They have to be the registered nurse but it is not easy for them to be the registered nurse because they have to ask the Malaysian, Singapore or Australian government that already has the Nursing Board. The mechanism and the procedure are not easy because of the international recognition of the Indonesian nurses. They do not trust to our nurses’ competency. Ironically, there are so many country need a lot number of nurses but there is no institution which warrant the nurse’s competency and help them to develop their competency in global competition.

In conclusion, it is time for us to have a law on nursing so the tasks and functions of nurses who are engaged directly with patients become clearer. This is the time for Indonesia to be recognized having the competent nurses, which can compete in the global competition.

*) This is dedicated for all of nurses in Indonesia, I wrote this essay when I participate in English oration competition in my campus.

Universitas Indonesia
May 4

Peran Perawat Profesional dalam Membangun Citra Perawat

Ideal di Mata Masyarakat

oleh Rani Setiani Sujana*

Menjadi seorang perawat merupakan suatu pilihan hidup bahkan merupakan suatu cita-cita bagi sebagian orang. Namun, adapula orang yang menjadi perawat karena suatu keterpaksaan atau kebetulan, bahkan menjadikan profesi perawat sebagai alternatif terakhir dalam menentukan pilihan hidupnya. Terlepas dari semua itu, perawat merupakan suatu profesi yang mulia. Seorang perawat mengabdikan dirinya untuk menjaga dan merawat klien tanpa membeda-bedakan mereka dari segi apapun. Setiap tindakan dan intervensi yang tepat yang dilakukan oleh seorang perawat, akan sangat berharga bagi nyawa orang lain. Seorang perawat juga mengemban fungsi dan peran yang sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan secara holistik kepada klien. Namun, sudahkah perawat di Indonesia melakukan tugas mulianya tersebut dengan baik? Bagaimanakah citra perawat ideal di mata masyarakat?

Perkembangan dunia kesehatan yang semakin pesat kian membuka pengetahuan masyarakat mengenai dunia kesehatan dan keperawatan. Hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat yang mulai menyoroti kinerja tenaga-tenaga kesehatan dan mengkritisi berbagai aspek yang terdapat dalam pelayanan kesehatan. Pengetahuan masyarakat yang semakin meningkat, berpengaruh terhadap meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan keperawatan. Oleh karena itu, citra seorang perawat kian menjadi sorotan. Hal ini tentu saja merupakan tantangan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan profesionalisme selama memberikan pelayanan yang berkualitas agar citra perawat senantiasa baik di mata masyarakat.

Menjadi seorang perawat ideal bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi untuk membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Hal ini dikarenakan kebanyakan masyarakat telah didekatkan dengan citra perawat yang identik dengan sombong, tidak ramah, genit, tidak pintar seperti dokter dan sebagainya. Seperti itulah kira-kira citra perawat di mata masyarakat yang banyak digambarkan di televisi melalui sinetron-sinetron tidak mendidik. Untuk mengubah citra perawat seperti yang banyak digambarkan masyarakat memang tidak mudah, tapi itu merupakan suatu keharusan bagi semua perawat, terutama seorang perawat profesional. Seorang perawat profesional seharusnya dapat menjadi sosok perawat ideal yang senantiasa menjadi role model bagi perawat vokasional dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal ini dikarenakan perawat profesional memiliki pendidikan yang lebih tinggi sehingga ia lebih matang dari segi konsep, teori, dan aplikasi. Namun, hal itu belum menjadi jaminan bagi perawat untuk dapat menjadi perawat yang ideal karena begitu banyak aspek yang harus dimiliki oleh seorang perawat ideal di mata masyarakat.

Perawat yang ideal adalah perawat yang baik. Begitulah kebanyakan orang menjawab ketika ditanya mengenai bagaimana sosok perawat ideal di mata mereka. Mungkin kedengarannya sangat sederhana. Namun, di balik semua itu, pernyataan tersebut memiliki makna yang besar. Masyarakat ternyata sangat mengharapkan perawat dapat bersikap baik dalam arti lembut, sabar, penyayang, ramah, sopan dan santun saat memberikan asuhan keperawatan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang masih menemukan perilaku kurang baik yang dilakukan oleh seorang perawat terhadap klien saat menjalankan tugasnya di rumah sakit. Hal itu memang sangat disayangkan karena bisa membuat citra perawat menjadi tidak baik di mata masyarakat. Ternyata memang hal-hal seperti itulah yang memunculkan jawaban demikian dari masyarakat.

Untuk menjadi perawat ideal di mata masyarakat, diperlukan kompetensi yang baik dalam hal menjalankan peran dan fungsi sebagai perawat. Seorang perawat profesional haruslah mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Adapun peran perawat diantaranya ialah pemberi perawatan, pemberi keputusan klinis, pelindung dan advokat klien, manajer kasus, rehabilitator, pemberi kenyamanan, komunikator, penyuluh, dan peran karier. Semua peran tersebut sangatlah berpengaruh dalam membangun citra perawat di masyarakat. Namun, disini saya akan menekankan peran yang menurut saya paling penting dalam membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Peran–peran tersebut diantaranya ialah peran sebagai pemberi perawatan, peran sebagai pemberi kenyaman dan peran sebagai komunikator.

Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan merupakan peran yang paling utama bagi seorang perawat. Perawat profesional yang dapat memberikan asuhan keperawatan dengan baik dan terampil akan membangun citra keperawatan menjadi lebih baik di mata masyarakat. Saat ini, perawat vokasional memang masih mendominasi praktik keperawatan di rumah sakit maupun di tempat pelayanan kesehatan lainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa perawat vokasional memiliki kemampuan aplikasi yang baik dalam melakukan praktik keperawatan. Namun, perawat vokasional memiliki pengetahuan teoritis yang lebih terbatas jika dibandingkan dengan perawat profesional. Dengan semakin banyaknya jumlah perawat profesional saat ini, diharapkan dapat melengkapi kompetensi yang dimiliki oleh perawat vokasional. Seorang perawat profesional harus memahami landasan teoritis dalam melakukan praktik keperawatan. Landasan teoritis tersebut akan sangat berguna bagi perawat profesional saat menjelaskan maksud dan tujuan dari asuhan keperawatan yang diberikan secara rasional kepada klien. Hal ini tentu saja akan membawa dampak baik bagi terciptanya citra perawat ideal di mata masyarakat yaitu perawat yang cerdas, terampil dan profesional.

Kenyamanan merupakan suatu perasaan subjektif dalam diri manusia. Masyarakat yang menjadi klien dalam asuhan keperawatan akan memiliki kebutuhan yang relatif terhadap rasa nyaman. Mereka mengharapkan perawat dapat memenuhi kebutuhan rasa nyaman mereka. Oleh karena itu, peran perawat sebagai pemberi kenyamanan, merupakan suatu peran yang cukup penting bagi terciptanya suatu citra keperawatan yang baik. Seorang perawat profesional diharapkan mampu menciptakan kenyamanan bagi klien saat klien menjalani perawatan. Perawat profesional juga seharusnya mampu mengidentifikasi kebutuhan yang berbeda-beda dalam diri klien akan rasa nyaman. Kenyamanan yang tercipta akan membantu klien dalam proses penyembuhan, sehingga proses penyembuhan akan lebih cepat. Pemberian rasa nyaman yang diberikan perawat kepada klien dapat berupa sikap atau perilaku yang ditunjukkan dengan sikap peduli, sikap ramah, sikap sopan, dan sikap empati yang ditunjukkan perawat kepada klien pada saat memberikan asuhan keperawatan. Memanggil klien dengan namanya merupakan salah satu bentuk interaksi yang dapat menciptakan kenyamanan bagi klien dalam menjalani perawatan. Klien akan merasa nyaman dan tidak merasa asing di rumah sakit. Perilaku itu juga dapat menciptakan citra perawat yang ideal di mata klien itu sendiri karena klien mendapatkan rasa nyaman seperti apa yang diharapkannya.

Peran perawat sebagai komunikator juga sangat berpengaruh terhadap citra perawat di mata masyarakat. Masyarakat sangat mengharapkan perawat dapat menjadi komunikator yang baik. Klien juga manusia yang membutuhkan interaksi pada saat ia menjalani asuhan keperawatan. Interaksi verbal yang dilakukan dengan perawat sedikit banyak akan berpengaruh terhadap peningkatan kesehatan klien. Keperawatan mencakup komunikasi dengan klien dan keluarga, antar-sesama perawat dan profesi kesehatan lainnya, serta sumber informasi dan komunitas. Kualitas komunikasi yang dimiliki oleh seorang perawat merupakan faktor yang menentukan dalam memenuhi kebutuhan individu, keluarga, dan komunitas. Sudah seharusnya seorang perawat profesional memiliki kualitas komunikasi yang baik saat berhadapan dengan klien, keluarga maupun dengan siapa saja yang membutuhkan informasi mengenai masalah keperawatan terkait kesehatan klien.

Hal-hal di atas merupakan sebagian kecil gambaran mengenai peran yang dapat dilakukan oleh seorang perawat profesional dalam membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Masih banyak lagi hal lain yang dapat dilakukan oleh seorang perawat profesional untuk menciptakan citra perawat ideal yang lebih baik lagi di mata masyarakat. Untuk mewujudkan hal itu, tentu saja diperlukan kompetensi yang memadai, kemauan yang besar, dan keseriusan dari dalam diri perawat sendiri untuk membangun citra keperawatan menjadi lebih baik. Perawat yang terampil, cerdas, baik, komunikatif, dan dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik sesuai dengan kode etik, tampaknya memang merupakan sosok perawat ideal di mata masyarakat. Semoga kita dapat menjadi perawat profesional yang mampu menjadi role model bagi perawat-perawat lain dalam membawa citra perawat ideal di mata masyarakat. Hidup perawat Indonesia!

(* Student of  Faculty of Nursing UI 2008, writer & owner of this blog

Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Mar 18

Pengkajian Fisik terkait Sistem Sirkulasi pada Penderita

Hipertensi

<

p class=”NoSpacing” style=”text-align: center” align=”center”>

I.Pengkajian Fisik sistem sirkulasi

Pengkajian fisik adalah mengukur tanda-tanda vital dan pengukuran lainnya menggunakan teknik inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pengkajian fidik sistem sirkulasi dapat berupa pengukuran tekanan darah maupun perhitungan nadi.

Inspeksi

Inspeksi adalah proses observasi. Perawat menginspeksi bagian tubuh untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanda fisik yang signifikan. Perawat melakukan inspeksi dengan melihat penampilan klien dari luar.

Untuk menggunakan inspeksi secara efektif, perawat harus mengobservasi prinsip berikut ini:

1) Pastikan tersedianya pencahayaan yang baik.

2) Posisiskan bagian tubuh sedemikian rupa sehingga semua permukaan terlihat.

3) Inspeksi setiap area untuk ukuran, bentuk, warna, kesimetrian, posisi, dan abnormalitas.

4) Jika mungkin, bandingkan area yang diinspeksi dengan area yang sama di sisi tubuh yang berlawanan.

5) Gunakan lampu tambahan untuk menginspeksi rongga tubuh.

6) Jangan terburu-buru melakukan inspeksi dan beri perhatian pada hal-hal detil.

Palpasi

Palpasi dilakukan dengan cara meraba bagian tubuh yang ingin dikaji. Melalui palpasi tangan dapat dilakukan pengukuran yang lembut dan sensitif terhadap tanda fisik. Pada saat melakukan palpasi, klien harus diposisikan dengan nyaman karena ketegangan otot akan mengganggu keefektifan palpasi. Pada pengkajian terkait sistem sirkulasi, perawat dapat melakukan perhitungan jumlah denyut nadi klien per menit. Untuk menghitung denyut nadi per menit, hal yang perlu dilakukan perawat ialah menggunakan ketiga jari untuk menemukan arteri radialis di tangan. Biasanya arteri radialis terletak di dekat

Perkusi

Perkusi melibatkan pengetukan tubuh dengan ujung-ujung jari untuk mengevaluasi ukuran, batasan dan konsistensi organ-organ tubuh dan untuk menemukan adanya cairan pada rongga tubuh. Melalui perkusi, lokasi, ukuran dan densitas struktur dapat ditentukan.Perkusi membantu menentukan abnormalitas yang didapat dari pemeriksaan sinar-x atau pengkajian melalui auskultasi.

Terdapat dua macam perkusi yaitu perkusi langsung dan tidak langsung. Perkusi langsung melibatkan pengetukan permukaan tubuh secara langsung dengan satu atau dua jari. Sedangkan teknik tidak langsung dilakukan dengan menempatkan jari tengah tangan non-dominan di atas permukaan tubuh, dengan telapak tangan dan jari-jari tangan yang lain tidak berada di permukaan kulit. Perkusi menghasilkan lima jenis bunyi yaitu timpani, resonansi, hiperesonansi, pekak, dan flatness.

Auskultasi

Auskultasi adalah mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh dengan menggunakan alat bantu stetoskop. Untuk dapat mengauskultasi dengan benar, perawat harus mendengarkan bunyi di tempat tenang dan mendengarkan karakteristik dari bunyi tersebut.

Melalui auskultasi, perawat memerhatikan beberapa karakteristik bunyi berikut ini:

1) Frekuensi atau jumlah siklus gelombang per detik yang dihasilkan oleh benda yang bergetar. Semakin tinggi frekuensinya, semakin tinggi nada bunyi dan sebaliknya.

2) Kekerasan atau amplitudo gelombang bunyi. Bunyi terauskultasi digambarkan sebagai keras atau pelan.

3) Kualitas, atau bunyi-bunyian dengan frekuensi dan kekerasan yang sama dari sumber berbeda. Istilah seperti tiupan atau gemuruh menggambarkan kualitas bunyi.

4) Durasi, atau lamanya waktu bunyi itu berlangsung. Durasi bunyi adalah pendek, sedang dan panjang. Lapisan jaringan lunak mengendapkan durasi bunyi dari organ internal dalam.

<

p class=”NoSpacing” style=”margin-left: 0.5in”>

II. Pemeriksaan Sistem Kardiovaskuler

Pemeriksaan Pembuluh Darah Perifer

1) Arteri perifer cara palpasi

Periksa arteri radialis dalam posisi pronasi dan fleksi di siku, jika perlu angkat sedikit, arteri karotis, arteri femoralis, arteri poplitea, arteri dorsalis pedis dan arteri posterior.

Nilai:

· Frekuensi, irama, ciri denyutan, isi nadi, keadaan pembuluh darah.

· Frekuensi: normal 60-90x per menit, agak meningkat pada anak-anak, wanita dalam keadaan berdiri, sedang makan, emosi dan lain-lain.

Abnormal:

Lebih dari 100x per menit- takikardia (pulpus frekuensi): pada demam, infeksi streptokokus, difteri, dan macam-macam penyakit jantung.

Kurang dari 60x per menit- bradikardi pada mikusudema, penyakit kuning, demam enteritis, tifoid, dsb.

Irama:

o Normal :

Teratur

Tak teratur misalnya aritmi sinus yang meningkat pada inspirasi dan menurun pada ekspirasi.

oAbnormal:

· Pulsus bigemini = tiap 2 denyut jantung dipisahkan sesamanya oleh waktu yang lama, karena satu siantara tiap denyut menghilang.

· Pulsus trigemini = tiap 3 denyut jantung dipisahkan oleh masa antara denyut nadi yang lama.

· Pulsus ekstra sistolik = interval yang memanjang dapat ditemukan juga jika terdapat satu denyut tambahan yang timbul lebih dini daripada denyut-denyutan lain yang menyusul.

Macam/ciri denyutan:

Tiap denyut nadi dilukiskan sebagai suatu gelombang yang terdiri dari bagian yang naik, puncak, dan turun.

· Pulsus anarkot, yakni denyut nadi yang lemah, mempunyai gelombang dengan puncak tumpul dan rendah, misalnya pasien stenosis aorta.

·Pulsus seler, yakni denyut nadi yang seolah-olah meloncat tinggi, meningkat tinggi, dan menurun cepat sekali, misalnya pasa insulfisiensi aorta.

· Pulpus paradoks, yakni denyut nadi yang semakin lemah selama inspirasi bahkan menghilang sama sekali pada bagian akhir inspirasi untuk timbul kembali pada ekspirasi. Misalnya pada perikarditis konstraktiva, efusi perikard.

· Pulpus alternans, yakni nadi yang kuat dan lemah berganti-ganti, misalnya pada kerusakan otot jantung.

Isi nadi:

Pada setiap denyut nadi sejumlah darah melewati bagian tertentu dan jumlah darah itu dicerminkan oleh tinggi puncak gelombang nadi. Isi nadi mencerminkan tekanan nadi, yakni beda antara tekanan sistolik dan diastolik.

· Pulpus magnus- denyutan terasa mendorong jari yang melakukan palpasi, mialnya pada demam.

· Pulpus parvus- denyutan terasa lemah (gelombang nadi yang kecil), misalnya pada pendarahan, infark miokard.

Keadaan dinding arteri:

Dengan palpasi keadaan dinding arteri dapat ditafsirkan. Normal-kenyal, tetapi dapat mengeras pada sklerosis.

Mengukur tekanan darah dengan palpasi dan auskultasi:

Cara palpasi:

Hanya untuk mengukur tekanan sistolik. Manset tensimeter yang mengikat lengan dipompa dengan udara berangsur-angsur sampai denyut nadi pergelangan tangan tak teraba lagi. Kemudia tekanan didalam manset diturunkan. Amati tekanan dalam tensi meter. Waktu denyut nadi teraba kembali, kita baca tekanan dalam tensi meter, tekanan ini adalah tekanan sistolik.

Cara auskultasi:

Cara untuk mengukur tekanan sistolik dan diastolik.

· Manset tensimeter siikatkan pada lengan atas, stetoskop ditempatkan pada arteri brakhialis pada permukaan ventral siku agak ke bawah manset tensimeter. Sambil mendengarkan denyut nadi, tekanan dalam tensimeter dinaikkan dengan memompa sampai di tidak terdengar lagi. Kemudian tekanan di dalam tensimeter diturunkan pelan-pelan.

· Pada saat denyut nadi mulai terdengar kembali, kita baca tekanan yang tercantum dalam tensimeter, tekanan ini adalah tekanan sistolik.

· Suara denyutan nadi selanjutnya menjadi agak keras dan tetap terdengar sekeras itu sampai suatu saat denyutannya melemah atau menghilang sama sekali. Pada saat suara denyutan yang keras itu berubah menjadi lemah, kita baca lagi tekanan dalam tensimeter. Tekanan itu adalah tekanan diastolik.

Tekanan darah diukur waktu klien berbaring. Pada penderita hipertensi perlu juga diukur tekanan darah waktu berdiri. Kadang- kadang dijumpai masa bisu (auscultatory gap) yakni suatu masa dimana denyut nadi tak terdengar waktu tekanan tensimeter diturunkan. Misalnya denyut pertama terdengar pada tekanan 220 mmHg, suara denyut nadi berikutnya baru terdengar pada tekanan 150 mmHg. Jadi ada masa bisu tekanan antara 220-150 mmHg. Gejala ini sering ditemukan pada penderita hipertensi dan sebabnya belum diketahui.

Tekanan darah normal 100/60 – 140/90 mmHg. Bila tekanan darah diastol diatas 90 mmHg disebut hipertensi. Bila tekanan darah sistol diatas 150 mmHg pada usia di bawah 50 tahun disebut hipertensi. Tekanan darah sistol 160 – 170 mmHg pada usia diatas 50 tahun dianggap normal.

<

p class=”NoSpacing” style=”margin-left: 0.25in”>

Denyut arteri di permukaan tubuh

Pada penyumbatan lubang cabang-cabang aorta dan pada aneurysma aorta, denyut arteri dapat sitemukan pada permukaan tubuh.

· Stenosis aorta: menimbulkan sirkulasi kolateral, sehingga denyut teraba dipermukaan tubuh.

· Aneurysma aorta: arteri subklavia membesar dan berdenyut jelas di klavikula.

2) Pemeriksaan vena

Terutama pada vena jugularis interna dan eksterna. Vena dada jika tampak jelas dan berliku-liku, berarti ada hambatan terhadap vena porta, vena kava atau ada proses yang menekan atrium kanan akibat tumor mediastinum atau aneurysma aorta desenden.

KEPUSTAKAAN

Potter, P.A.& Perry, A.G. (1997). Fundamental of nursing: concepts, process & practice. 4th ed. St. Louis: Mosby. (terj.hlm.158-159, 814-820)

Rokhaeni, H. et all. (2001). Buku ajar keperawatan kardiovaskuler. Jakarta: Bidang pendidikan dan pelatihan pusat kesehatan jantung dan darah nasional “harapan kita”.

Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Jan 22

 

Untuk Indonesiaku*

oleh  Rani Setiani Sujana

Lebih dari setengah abad bangsa ini merdeka dan seabad sudah kebangkitan nasional bagi bangsa ini diperingati. Namun, seabad masih belumcukup untuk menjadikan bangsa ini seperti apa yang dicita-citakan para pahlawan, yang telah membawa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan dan mewariskannya kepada kita para generasi muda. Sudah seharusnya kita memaknai seabad kebangkitan nasional ini dengan perubahan yang besar bagi bangsa ini. Permasalahan yang melanda bangsa ini, sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab kita dan sudah saatnya kita mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan.

Untuk menyongsong Indonesia di masa depan yang maju dan sejajar dengan bangsa lain, salah satu cara yang dapat kita lakukan ialah mengubah pola pikir kita yang cenderung hanya mementingkan kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan bagi bangsa ini. Sebagai contoh membeli vcd bajakan dan membuang sampah sembarangan. Orang yang melakukan hal tersebut tidak pernah memikirkan berapa kerugian negara karena pajak dari barang yang dibeli tidak masuk kas negara. Begitu pula orang yang membuang sampah ke sungai, mereka seolah tidak peduli lagi akan bencana banjir yang setiap musim hujan merenggut tempat tinggal bahkan nyawa orang lain. Kita bisa melihat bahwa hal yang kecil sekalipun bisa memberikan kontribusi yang besar jika dilakukan oleh banyak orang.

Sekarang, sudah saatnya kita pikirkan hal kecil apa yang bisa kita lakukan bagi bangsa ini agar memberikan kontribusi yang besar bagi Indonesia di masa yang akan datang. Belajar merupakan hal kecil pertama yang sudah seharusnya dilakukan sebelum kita melakukan yang lainnya karena itu merupakan kunci utama kesuksesan sekaligus kewajiban kita sebagai pelajar dan mahasiswa. Selanjutnya, kita juga bisa mulai bersikap kritis dan peduli pada setiap perubahan yang ada. Dengan begitu, kita akan terbiasa untuk memikirkan segala solusi dari setiap permasalahan yang ada di negara ini, tidak hanya berpangku tangan dan menjadi penonton saja. Selain belajar dengan sungguh-sungguh dan bersikap kritis terhadap segala perubah.an yang ada, hal penting lainnya yang harus ditanamkan dalam diri kita sebagai seorang mahasiswa ialah jujur dalam berkarya. Dengan begitu kita telah membantu bangsa ini dalam mencetak generasi muda yang cerdas, produktifdan kompetitif , yang mampu bersaing secara sportifdenganbangsa lain dan dapat diperhitungkandi mata dunia. Jika hal tersebut itu bisa dilakukan oleh setiap generasi muda saat ini, maka bersiap-siaplah untuk menyongsong Indonesia baru yang lebih baik di masa depan. Yaitu Indonesia yang maju dan sejahtera yang disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Pada akhirnya, sudah seharusnya kita mulai merenungkan kembali arti kebangkitan nasional yang sudah seabad ini dengan melakukan apa yang bisa kita berikan pada bangsa ini. Hal-hal di atas hanyalah sebagian kecil contoh yang bisa kita lakukan. Masih banyak lagi hal-hal yang bisa kita berikan bagi bangsa ini, semua tergantung dari ada atau tidaknya keinginan dalam diri kita untuk berubah.

*) Ditulis pada saat mengikuti  OKK UI 2008 “Bangkit Indonesia” untuk memenuhi tugas OKK…

HI

Taken at Bundaran HI in "Sumpah Pemuda Day" :)

« Previous Entries