Saat menulis artikel di blog ini, saya bisa bilang salah satu pekerjaan utama saya adalah health blogging. Karena hampir semua hal yang saya lakukan secara profesional saat ini berkaitan dengan menulis konten bertema kesehatan. Tentu saja pekerjaan saya sebagai health blogger ini hanyalah self-proclaimed, karena memang title saya secara de jure di kantor adalah Digital Marketing Executive.

Anyway, saya sering berfikir, kenapa gak sekalian aja ya saya coba jadi selebgram ato youtuber? kontennya ya tentang kesehatan. Saya bisa membayangkan diri saya berbicara kepada handphone sambil menenggak jus bebas gula yang terbuat dari campuran sayuran dan buah-buahan segar di pagi hari; setelah saya mengajak penonton untuk live jogging bersama saya di car free day. hahahaha

Saat saya memulai pekerjaan ini, saya membaca banyak artikel kesehatan, terutama artikel tentang pencegahan penyakit (vaksin, cuci tangan, olahraga, dsb.). Karena saya percaya, kalau memang mau memberikan konten kesehatan yang bermanfaat, justru kita harus banyak bercerita dan menginspirasi mengenai pencegahan penyakit, bukan hanya pengobatannya saja. lagipula mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?

Setelah mulai banyak menulis artikel-artikel kesehatan, saya cukup senang. Karena menurut google analytics, artikel-artikel yang saya buat lumayan banyak yang membaca. Ada kebanggan tersendiri di sana saat kita berfikir bahwa mungkin saja artikel yang kita buat bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi seseorang di luar sana. “Saya seorang influencer,” pikir saya dengan penuh rasa senang. Tapi tidak lama, karena setelah itu pikiran-pikiran insecure saya muncul : “Influencer cuma di wordpress, bukan sosmed… kalau sosmed ada yang mau nyimak konten saya gak ya? kalo pembaca artikel saya ngeliat saya yang asli gimana ini, penulis artikel kesehatan kok gempal banget gini, apa artikelnya bisa dipercaya?,”

FYI, saat artikel ini ditulis, berat badan saya adalah 96 Kg (kurang lebih), padahal dulu waktu zaman kuliah semester awal di UI, berat badan saya hanya 75 Kg. Tapi meski begitu, saya ingat saat berat badan saya masih 75 Kg, saya sempat berfikir kalau saya itu gemuk. padahal kalau dilihat di foto saat itu, saya keren juga dengan berat badan segitu. Sungguh tidak bersyukur. hahahaha, sekarang saya jadi pengen lagi punya berat badan 75 Kg.

Yah, saya rasa pemikiran-pemikiran pribadi mengenai set up tubuh yang nggak ideal itu pasti selalu ada. Kita diprogram oleh lingkungan untuk punya sebuah kerangka berfikir kalau ada berat badan dan bentuk-bentuk tubuh yang ideal, dan diluar itu, ya kurang ideal. Dan saya percaya kerangka pikiran seperti itu tidak sepenuhnya salah. Saya hanya mencoba mengambil sudut pandang positifnya dan selalu mengatakan pada diri saya bahwa hey, kita harus hidup sehat loh. Berat badan dan bentuk tubuh ideal itu akan ikut dengan sendirinya kalau kita mencoba menerapkan pola hidup sehat : rutin olah raga, memilah-milah makanan, tidur cukup, dsb.

Pada akhirnya, jika Anda seperti saya, obes dan ingin menjadi lebih sehat, yang harus kita pertama kali lakukan adalah kita harus percaya kalau kita selalu bisa mencapai apapun yang kita inginkan. Tuhan membekali kita dengan tenaga, tapi menguji kita dengan kemauan. Seberapa mau kita untuk menggapai tujuan, sebesar apa drive kita, terkadang menjadi faktor penentu apakah pada akhirnya kita berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan atau tidak. Tetap semangat dan ketahuilah bahwa dalam perjuangan Anda untuk menjadi lebih sehat, Anda tidak sendirian, Saya pun ikut berjuang bersama Anda. Cheers! 

Written by RADEN DIBI IRNAWAN

Bingung cari vaksin untuk kuliah ke luar negeri? kunjungi inHarmony clinic https://www.klinikvaksinasi.com/ (021) 422 0214 / 424 8790 Suntik imunisasi hepatitis B, vaksin meningitis, imunisasi MMR, imunisasi ibu hamil, imunisasi DPT, imunisasi pcv, imunisasi umrah dan haji.