Selamat Datang Mahasiswa Baru Kesehatan Masyarakat Seluruh Indonesia “Mengenal Lebih Dekat Sejarah Fakultas Kesehatan Masyarakat di Indonesia”

fkm 1

Sumber gambar : suma.ui.ac.id

Dinamika Pendidikan Kesehatan Masyarakat
Tahun ajaran baru telah dimulai, saatnya Fakultas Kesehatan Masyarakat/Jurusan Kesehatan Masyarakat diseluruh penjuru negeri kebanjiran mahasiswa baru. Fakultas Kesehatan Masyarakat sekarang patut diperhitungkan sebab saat ini mejadi salah satu fakultas favorit siswa untuk melanjutkan studi sarjana maupun pascasarjana nya. Berita yang di sajikan oleh okezone.com yang diterbitkan bulan februari 2016 menuturkan bahwa program studi kesehatan masyarakat belakangan ini diminati oleh para peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) untuk kategori saintek. Hal ini menjadi hal yang wajar sebab saat ini perkembangan paradigma kesehatan masyarakat semakin menjadi trend baru masyarakat Indonesia yang semakin sadar bahwa upaya pencegahan yang menjadi ciri khas ilmu kesehatan masyarakat merupakan upaya yang terbaik daripada upaya pengobatan karena lebih simpel dan lebih murah untuk menjaga kesehatan masing-masing individu, ya mungkin bisa jadi karena ada jargon “Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati”.
Tercatat hampir 200 perguruan tinggi pelaksana pendidikan kesehatan masyarakat di Indonesia dalam bentuk naungan Fakultas maupun Jurusan, namun bentuk nanungan ini tidak menjadi masalah sebab pendidikan yang disampaikan tetaplah sama. Hal dikarenakan pendidikan kesehatan masyarakat telah memiliki kurikulum nasional yang telah disahkan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI), namun yang menjadi masalah adalah seberapa besar mahasiswa mengetahui jatidiri seorang mahasiswa kesehatan masyarakat dalam memaknai ilmu kesehatan masyarakat dan calon profesinya (kesehatan masyarakat)? Apakah mahasiswa tersebut hanya memafaatkan pendidikan kesehatan masyarakat hanya sebagai pelarian ataupun sebagai pengisi waktu luang kuliah untuk mencoba peruntungan kembali mengikuti seleksi masuk jurusan impiannya terdahulu yang belum tercapai.

Terdapat dua tipe mahasiswa kesehatan masyarakat, tipe yang pertama yakni mahasiswa yang menjadikan fakultas kesehatan masyarakat pilihan pertamanya dalam seleksi masuk, biasanya mahasiswa yang seperti ini akan terus mencari tau siapa jati dirinya sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat. Mahasiswa jenis kedua adalah mahasiswa yang menempatkan pilihan masuk fakultas kesehatan masyarakat sebagai pilihan ketiga dan bukan sebagai pilihan utama, biasanya mahasiswa yang seperti ini kurang minat dengan ilmu kesehatan masyarakat dan calon profesinya, sehingga semangat untuk tetap berkuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat sangat rendah untuk mencari tau dinamika dan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat. Semangat rendah ini akan berimbas pada pengembangan diri mahasiswa yang sedikit menghambat, sebab mahasiswa tipe kedua akan menerima apa adanya yang diberikan di perkuliahan kelas, padahal pengetahuan dan kemampuan seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat juga dapat diasah melalui kegiatan-kegiatan ekstra seperti kegiatan diskusi maupun ikut organisasi. Contoh dari pengetahuan ekstra tersebut adalah pengetahuan terkait perkembangan dinamika Sarjana Kesehatan Kasyarakat seperti registrasi tenaga kesehatan, uji kompetensi, sejarah pendidikan kesehatan masyarakat, surat ijin kerja dan masih banyak lainnya. Dengan mengetahui pengetahuan ekstra ini, akan semakin membakar semangat untuk terus mengembangakn diri di profesinya, khususnya Sarjana Kesehatan Masyarakat.

Dalam tulisan ini, akan dituliskan terkait sejarah pendidikan kesehatan masyarakat yang di ambil dari berbagai sumber dengan cara mencuplik, wawancara beberapa informan dan beberapa informasi yang didapat dari seminar-seminar kesehatan masyarakat. Dengan mengetahui sejarah Sarjana Kesehatan Masyarakat dan Pendidikan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menjadi pecut semangat mahasiswa baru untuk terus mengembangkan diri dikampus masing-masing dimanapun berada. Seperti halnya pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang”, hal ini berlaku pula pada Sejarah Sarjana Kesehatan Masyarakat di Indonesia, jika mahasiswa tidak mengenal siapa dirinya, maka bagaimana cara untuk menyayanginya. Begitupun semangat Bung Karno yang mengungkapkan “Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah” yang lebih dikenal dengan Jasmerah, sebab dengan mengetahui sejarah akan mengetahui pula bagaimana semangat perjuangan pendahulu-pendahulu kita untuk mengeksiskan profesi ini.


fk ui

Smber gambar : fk.ui.ac.id

Sejarah Pendidikan Kesehatan Masyarakat di Indonesia
Upaya kesehatan masyarakat yang dilakukan di Indonesia tak bisa terlepas oleh tenaga-tenaga kesehatan yang ada didalamnya. Salah satu tenaga kesehatan yang ikut berperan adalah tenaga kesehatan masyarakat. Menurut Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, jenis tenaga kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kesehatan masyarakat terdiri atas epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga. Tenaga kesehatan ini dicetak oleh Perguruan Tinggi Kesehatan Masyarakat yang ada di luar negri maupun dalam negri.

Perkembangan pendidikan kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai pada tahun 1956, Prof. Mochtar salah satu staf pengajar di FK UI yang kembali dari studi di University of Harvard mendirikan bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Pencegahan (IKM-IKP). Hal ini menjadi awal mula adanya pendidikan kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini dilakukan Prof. Mochtar dalam rangka melakukan pengembangan ilmu kesehatan masyarakat yang masih di bawah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Upaya Prof. Mochtar ini mencoba untuk menggabungkan dua ciri khas yang berbeda antara ilmu kedokteran yang melakukan pendekatan retrospektif dengan ilmu kesehatan masyarakat yang melakukan pendekatan prospektif dalam melakukan intervensi permasalahan kesehatan. Pengembangan ilmu kesehatan masyarakat yang dilakukan Prof. Mochtar sesuai dengan orientasi kajian sesuai dengan perkembangan ilmu kesehatan masyarakat di Amerika dan Inggris.

Selain melakukan pengembangan ilmu kesehatan masarakat di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Mochtar melakukan pengajaran ilmu kesehatan masyarakat di Universitas Gajah Mada dan Institut Teknologi Bandung. Pada periode yang sama, tokoh kesehatan masyarakat lain seperti Prof. Sulianti Saroso, Prof. Barmawi Wongso Kusumo dan Prof. Sabdoadi mengajarkan ilmu kesehatan masyarakat di Universitas Airlangga yang kemudia menjadi cikal bakal berdirinya bagian IKM-IKP di bawah naungan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Namun upaya yang dilakukan oleh Prof. Mochtar dkk tersebut yang mencoba untuk menggabungkan pendekatan prospektif dan retrospektif terbukti tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendekatan yang berbeda khususnya pada perbedaan metode dalam mempercepat penyelesaian masalah kesehatan. Latar belakang inilah yang menjadi dasar alasan mengapa para pengajar di IKM-IKP merasa sangat perlu untuk mendirikan Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Pada tahun 1959 Prof. Mochtar mengajukan gagasan ke Rektor UI untuk membentuk Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia. Pengajuan ini dengan alasan bahwa pengembangan ilmu kesehatan masyarakat tidak dapat berkembang di bawah naungan Bagian IKM-IKP Fakultas Kedokteran karena akan terjadi banyak konflik kepentingan. Namun sebelum gagasan tersebut terealisasikan, Prof. Mochtar gugur dalam kecelakaan pesawat yang terjadi pada 24 Januari 1961 di Pegunungan Burangrang. Prof. Mochtar gugur dalam rangka menjalankan tugas mengajar ilmu kesehatan masyarakat di Institur Teknologi Bandung. Gagasan Prof. Mochtar direalisasikan oleh Prof. Sayono Sumodijoyo dengan berdirinya Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ditandai dengan adanya SK Mendiknas No. 26/1965 tanggal 26 Febuari 1965. Kemudian SK berdirinya FKM UI diperbaiki melalui SK No. 153/1965 dan tanggal berdirinya FKM UI ditetapkan pada tanggal 1 Juli 1965. Prof. Sayono Sumodijoyo diangkat menjadi Dekan pertama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Setelah berdirinya FKM UI pada tahun 1965 tersebut maka pada tahun 1982 diikuti berdirinya Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar.

Pada awal terbentuknya Fakultas Kesehatan Masyarakat, gelar yang didapat adalah SKM (Sarjana Kesehatan Masyarakat), namun pada saat itu pendidikan SKM setara dengan gelar magister (S2). Namun seiring berjalannya waktu maka Kementrian Pendidika dan Kebudayaan saat itu menghendaki bahwa harus ada pendidikan linear dari jalur S1, sehingga munculah pendidikan S1 dengan dua jenis pendidikan yakni pendidikan SKM-2 dan SKM-4. Pendidikan SKM-2 merupakan pendidikan SKM yang peserta didiknya merpakan lintas jalur dari jenjang Diploma sebelumnya (Akademi Kesehatan Lingkungan, Akademi Gizi, Akademi Keperawatan dsb), pendidikan SKM-2 ini ditempuh selama 2 tahun. Sedangkan SKM-4 marupakan pendidikan SKM yang ditempuh selama 4 tahun dan peserta didiknya adalah siswa jalur reguler (SMA). Pendidikan reguler SKM diawali oleh Universitas Airlangga yang dimulai pada tahun 1985, selanjutnya disusul oleh Universitas Diponegoro dan Universitas Hasanuddin tahun 1987, Universitas Indonesia tahun 1989 dan disusul paling akhir oleh Universitas Sumatera Utara.

Referensi
Okezone, 2016. Kampus Terbaik Untuk Prodi Saintek SNMPTN. http://news.okezone.com/read/2016/02/15/65/1312308/kampus-terbaik-untuk-prodi-saintek-snmptn-2016 diakses pada 23 Agustus 2016
Achmadi UF. 2013. Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi. Depok; Rajagrafindo Persada.
IAKMI, AIPTKMI. 2012. Naskah Akademik Kesehatan Masyarakat. Jakarta; IAKMI-AIPTKMI
Purwo Setiyo Nugroho, S.KM.
Mahasiswa Magister Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail