Pertumbuhan Ekonomi, Pengangguran dan Employment Elasticity

Pertumbuhan ekonomi merujuk pada peningkatan total output pada suatu perekonomian. Ekonom mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai peningkatan riil nilai GDP per-kapita. Penganggur didefisnikan sebagai penduduk usia kerja yang sama sekali tidak bekerja dan mencari pekerjaan. Sejak 2001, konsep penganggur yang digunakan BPS merujuk pada ILO, dimana seseorang yang tidak bekerja dan tidak mencari pekerjaan karena alasan “ekonomis” (merasa tidak akan memperolehnya atau sudah memiliki pekerjaan/usaha tetapi belum mulai) dikategorikan sebagai penganggur.

Sebagai catatan tambahan, kategori penganggur bersama kategori bekerja tergolong angkatan kerja. Dua ketegori itu memiliki konotasi normatif tetapi arahnya jelas berbeda: bekerja dinilai “baik”, sedangkan penganggur dinilai “buruk”. Ini berarti, angka yang tinggi dinilai “baik” jika diterapkan untuk bekerja tetapi sebaliknya “buruk” untuk penganggur. Angka pengangguran terbuka menunjukkan proporsi penganggur terhadap angkatan kerja, sedangkan angka partisipasi angkatan kerja menunjukkan proporsi angkatan kerja terhadap tenaga kerja.

Grafik diatas menunjukkan perkembangan tingkat pengangguran, pertumbuhan ekonomi dan employment elasticity di Indonesia pada periode 2001 hingga 2005. Secara kasat mata, dari grafik tersebut terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan naiknya tingkat pengangguran. Menurut Harmadi (2007), salah satu penjelasan terhadap munculnya gejala ini ialah bahwa pertumbuhan Indonesia selama ini lebih banyak disebabkan oleh pengeluaran konsumsi (baik rumah tangga maupun pemerintah). Pernyataan ini didukung oleh dekomposisi PDB Indonesia berdasarkan jenis pengeluaran, yang menunjukkan betapa besarnya sumbangan konsumsi dalam permintaan agregat, dan kecilnya peran investasi (Lihat grafik 2). (Harmadi,2007). Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi mungkin disebabkan oleh tingginya sumbangan sektor manufaktur terhadap perekonomian, sementara di sektor ini jumlah tenaga kerja yang terserap relatif lebih kecil dibandingkan dengan tenaga kerja yang terserap di sektor pertanian. Hal ini merupakan indikasi bahwa sektor industri manufaktur Indonesia telah mengalami peningkatan teknologi. Namun demikian, ternyata tidak mudah untuk memahami lebih mendalam tentang berbagai faktor yang mendasari perkembangan yang signifikan dalam produktivitas tersebut. Ini berarti sulit dipastikan apakah peningkatan itu diakibatkan oleh peningkatan yang setara dalam kapasitas industri di Indonesia (termasuk peningkatan modal manusianya), ataukah hanya diakibatkan oleh pembelian teknologi maju dari luar negeri.

Menurut Harmadi (2007), akibat adanya krisis moneter di Indonesia pada pertengahan 1997, terjadi proses penyesuaian di pasar tenaga kerja hingga Tahun 2000. Selama periode 2000 hingga 2005, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada tahap pemulihan (recovery), dimana terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi meskipun tidak secepat yang diinginkan. Beberapa kalangan menilai, bahwa pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan oleh kenaikan konsumsi merupakan pertumbuhan semu (artificial). Pertumbuhan ekonomi akan riil dan berkelanjutan hanya jika bersumber dari kenaikan investasi, bukan konsumsi. Tetapi, pendapat pesimistik para ekonom tersebut, menurut Mubyarto, meremehkan peranan sektor ekonomi rakyat yang telah mampu secara tepat menanggapi (merespon) kenaikan konsumsi masyarakat dengan investasi ekonomi rakyat juga. Investasi ekonomi rakyat adalah investasi kecil-kecilan di luar sektor perbankan yang luput dari catatan resmi investasi makro perbankan.

Searahnya pergerakan pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran seperti tampak dalam Grafik 1 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi semata tidak akan serta merta mengurangi angka pengangguran. Padahal, dalam teori pertumbuhan Neo-Klasik, peningkatan GDP seharusnya merupakan representasi peningkatan tenaga kerja yang terserap (An increasing labor supply can generate more output, but if the capital stock remains fixed, the new labor will be less productive (diminishing returns)).

Pada Tahun 2005, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6%. Namun, dilihat dari angka pengangguran pada tahun yang sama ternyata naik menjadi 10,26%, dibandingkan tahun 2004 sebesar 9,86%. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan peningkatan angka pengangguran atau tidak mampunya pertumbuhan ekonomi menyerap tenaga kerja disebabkan antara lain :

1. Kelebihan Penawaran

Jika dilihat dari data statistik penduduk usia 15 tahun ke atas yang termasuk dalam angkatan kerja menurut pendidikan, terlihat bahwa pada Februari 2005, sebanyak 53,8% angkatan kerja di Indonesia hanya berpendidikan SD ke bawah, 20,1% berpendidikan SLTP, 20,6% berpendidikan SLTA, dan hanya 5,5% berpendidikan diploma maupun sarjana.

Kelebihan penawaran terjadi di pasar pekerja dengan mutu modal manusia yang rendah. Pasar inilah yang dimasuki oleh mereka yang memiliki pendidikan rendah dan produktivitas rendah. Oleh karena itu, mereka biasanya mau menerima pekerjaan apa saja yang ditawarkan, asal bisa memperoleh penghasilan untuk melanjutkan hidup. Tidak mengheranakan, pada tingkat upah rendah, penawaran untuk pekerjaan tersebut sangat banyak, melebihi permintaan. (Ananta, et al:1991). Fenomena ini terlihat dari banyaknya tenaga kerja yang terserap pada sektor pertanian dan sedikitnya tenaga kerja yang terserap pada sektor manufaktur. Sedikitnya tenaga kerja yang terserap pada sektor manufaktur disebabkan oleh kebutuhan sektor manufaktur akan tenaga kerja terampil (skilled labor), yang mampu bekerja sesuai dengan teknologi yang digunakan dalam sektor manufaktur.

Dalam sejarah pembangunan ekonomi di Indonesia, sektor pertanian merupakan sektor yang dominan dalam penyerapan tenaga kerja, tetapi peran sektor pertanian dalam pembentukan GDP semakin menurun. Akibatnya, rata-rata produktivitas pekerja sektor pertanian tetap pada level yang rendah. Produktivitas pekerja di sektor pertanian diperkirakan seperlima dari sektor manufaktur dan kurang lebih sepertiga dibandingkan dengan sektor jasa pada tahun 1961. Pada tahun 1989, produktivitas sektor pertanian hanya mencapai sepersepuluh kali sektor manufaktur dan sekitar sepertiga sektor jasa (Pasay, et al:1993).

Permasalahan yang terjadi disini adalah adanya trade off antara penyerapan tenaga kerja dengan produktivitas tenaga kerja. Sektor pertanian mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja tetapi produktivitas tenaga kerja yang terserap lebih kecil dibandingkan dengan sektor manufaktur. Pada Februari 2006, sebanyak 44,7% tenaga kerja terserap pada sektor pertanian, sedangkan sektor manufaktur menyerap 37,36%, padahal sumbangan sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi pada tahun yang sama jauh lebih tinggi dibandingkan sumbangan sektor pertanian.

Menurut Harmadi (2007) :”Gejala di atas menyatakan pula bahwa proses industrialisasi yang terjadi selama ini tidak diikuti oleh transformasi struktural tenaga kerja. Industri pengolahan yang dibangun pada masa 1980-1990-an (yakni pada masa ledakan ekspor) lebih banyak merupakan industri footlose yang dengan mudah akan melakukan relokasi jika suatu negara atau daerah kehilangan daya tariknya. Industri-industri seperti ini peka terhadap masukan-masukan lokal (local inputs), dan bersifat tidak padat modal maupun keahlian. Salah satu faktor pokok yang menjadi masukan lokal bagi industri ini ialah upah tenaga kerja. Dalam masa ledakan ekspor tersebut, peraturan perburuhan memang kurang menguntungkan bagi pihak buruh. Namun demikian, di sisi lain, situasi ini memberi kemudahan bagi penanam modal untuk melakukan usahanya di Indonesia. Kedua faktor ini, longgarnya peraturan perburuhan dan kondisi perekonomian yang surplus tenaga kerja, memiliki peran yang besar dalam proses masuknya berbagai footloose industry di awal 1990-an tersebut.

Secara spasial penyebaran industri pengolahan di Indonesia lebih banyak terjadi di Indonesia bagian Barat. Di Jawa, industri yang berkembang ialah footloose industry tersebut sedangkan di pulau-pulau lain yang berkembang ialah industri-industri berbasiskan sumberdaya alam (resource-based industry) (Hill, 1996). Dan ini sesuai dengan karakter kedua wilayah itu: Jawa merupakan pulau dengan kepadatan tertinggi sehingga tenaga kerja tersedia dalam jumlah yang berlimpah; sedangkan di luar Jawa, dengan berbagai keterbatasan dalam jumlah tenaga kerja dan infrastruktur lebih menarik bagi industri yang berorientasi sumberdaya. Namun demikian dalam perkembangannya tidak terdapat dampak limpahan (spillover effect) dalam proses industrialisasi tersebut (khususnya dari perusahaan-perusahaan asing), yang berarti tidak terjadinya perluasan dan peningkatan teknologi melalui proses ini (Jojo dan Meister, 2004). Salah satu kemungkinan penyebab yang diajukan kedua peneliti itu ialah kurangnya kapasitas penyerapan teknologi pada sumberdaya manusia Indonesia.

Kondisi tersebut di atas mengungkapkan kembali bahwa ada sesuatu yang kurang tepat dalam pengelolaan dan pengembangan sumberdaya manusia Indonesia selama ini. Dari sisi permintaan tenaga kerja (industri), ternyata tidak terdapat proses pengalihan teknologi yang signifikan, meskipun selama ini telah banyak terjadi interaksi dengan negara-negara berteknologi maju.

2. Kelebihan Permintaan

Pasar kerja yang terjadi kelebihan permintaan biasanya dimasuki oleh mereka yang berpendidikan tinggi dengan produktivitas yang tinggi. Permintaan untuk pekerja semacam ini sangat besar di Indonesia. Pemacuan ekonomi dari sisi permintaan telah menyebabkan meledaknta permintaan untuk pekerja dengan mutu modal manusia yang tinggi. Sayang, pemacuan dari sisi permintaan ini belum bisa diiringi dengan pemacuan dari sisi penawaran. Akibatnya, terjadi kekurangan pekerja di pasar kerja ini.

Mekanisme pasar mengatur kekurangan ini. Harga pekerja dengan mutu modal manusia yang tinggi naik dengan cepat. Tetapi, penawaran pekerja dengan mutu modal manusia yang tinggi relatif lebih rendah dibandingkan dengan permintaan. Hal ini terjadi karena perusahaan tidak mau (enggan) untuk melakukan investasi modal manusia (melalui pelatihan, peningkatan pendidikan, peningkatan gizi, kesehatan, dsj) pada karyawan yang ada atau karyawan baru. Akibatnya, permintaan akan skilled labor tinggi, sehingga terjadi pembajakan (hijack) tenaga dengan mutu modal manusia yang tinggi. Kenyataan sehari-hari yang bisa kita temui adalah adanya persyaratan pengalaman kerja yang diperuntukkan bagi pekerja yang ingin melamar pekerjaan di suatu perusahaan. Hal inilah yang menyebabkan tenaga-tenaga baru yang tidak berpengalaman sulit terserap di pasar kerja.

Perekonomian yang maju mengakibatkan naiknya permintaan terhadap pekerja dengan produktivitas tinggi. Laju permintaan tidak seimbang dengan laju peningkatan penawaran. Akibatnya terjadi “inflasi” pekerja yang berproduktivitas tinggi. Usaha peningkatan kapasitas produksi menjadi mahal bagi perusahaan. Akibatnya adalah terhambatnya laju pertumbuhan kapasitas produksi pada tingkat nasional, yang pada gilirannya memperlambat laju pertumbuhan perekonomian. (Ananta, et al:1991)

3. Informasi Pasar Kerja

Persoalan yang menyebabkan fenomena seperti yang terjadi pada grafik 1 adalah kurangnya penyebaran informasi pasar kerja yang mengakibatkan terjadinya spatial mismatch. Salah satu ciri spatial mismatch ialah banyaknya angkatan kerja khususnya di perkotaan yang pada umumnya berpendidikan rendah, sedangkan kebutuhan akan tenaga kerja lebih banyak pada high skilled labor, sehingga orang-orang tersebut tidak dapat memperoleh pekerjaan seperti yang diharapkan. Akibatnya banyak tenaga kerja yang terserap pada sektor informal. Menurut Harmadi (2007) informal channels dapat ditransformasi menjadi formal channels dengan cara membangun labor market information secara baik, sehingga dapat mengurangi munculnya mismatch di pasar kerja.

Dengan informasi yang lebih baik, para calon pekerja dapat menginvestasikan waktu dan uang mereka secara optimal. Tanpa informasi yang baik, tenaga kerja tidak mengetahui apa yang diinginkan perekonomian. Mereka dapat memiliki informasi yang salah mengenai apa yang dibutuhkan konsumen dan calon pengguna pekerja. Mereka ingin tahu kualifikasi apa yang diinginkan dan berapa upahnya, serta dimana mereka harus bekerja.

Hal yang selanjutnya harus dipikirkan adalah berapa persen pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan untuk menyerap pengangguran tersebut? Untuk menganalisis hal ini, dapat digunakan indikator makro yaitu elastisitas tenaga kerja (employment elasticity).(Harmadi:2007). Menurut Islam, et al (2000), employment elasticity measures the percentage changes in employment induced by changes in GDP. Hence, the elascticity of employment seeks to capture the responsiveness of the labor market to changes in macroeconomic conditions (as represented by GDP growth).

Grafik 1 menunjukkan employmet elasticity, yang pada tahun 2005 adalah sebesar 215. Artinya setiap 1% pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyerap sekitar 219.000 tenaga kerja. Dengan angka pengangguran pada tahun 2005 sebesar 10,85 juta orang, maka dibutuhkan pertumbuhan ekonomi sekitar 9,91% per tahun selama 5 tahun mendatang. Jika dibandingkan dengan tahun 2004, dengan employment elasticity sebesar 186 dan angka pengangguran sebesar 10,25 juta, maka dibutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 11,02% per tahun selama lima tahun. Hal ini sangatlah sulit untuk dapat terpenuhi mengingat tidak banyak terjadi peningkatan investasi. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Berikut beberapa cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar seiring dengan penyerapan tenaga kerja.

1. Pembangunan berbasis ketenagakerjaan

Pembangunan berbasis ketenagakerjaan tidak dapat disederhanakan menjadi sekedar pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang cepat dapat saja dilakukan dengan, misalnya, memfokuskan pada sektor-sektor ekonomi padat modal, tanpa harus diikuti penciptaan tenaga kerja yang memadai. Pengalaman pembangunan selama Orde Baru memberikan ilustrasi sepintas bagaimana “mudahnya” memicu pertumbuhan melalui pendekatan itu.

Pernyataan di atas sama sekali tidak mengimplikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak penting. Bahkan dalam perspektif pembangunan manusia (human development) pertumbuhan ekonomi merupakan sarana utama (principal means) bagi pembangunan manusia untuk dapat berlangsung secara berkesinambungan. Hal ini sejalan dengan banyak bukti empiris yang menunjukkan bahwa tidak ada suatu negara pun yang dapat membangun manusia secara berkesinambungan tanpa tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Walaupun demikian tidak berarti bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat yang cukup bagi pembangunan manusia. Antara keduanya tidak ada hubungan otomatis tetapi berlangsung melalui berbagai jalur antara lain yang penting ketenagakerjaan. Artinya, pertumbuhan ekonomi akan dapat ditransformasikan menjadi peningkatan kapabilitas manusia jika pertumbuhan itu berdampak secara positif terhadap penciptaan lapangan kerja atau usaha. Lapangan kerja yang diciptakan pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan rumahtangga yang memungkinkannya “membiayai” peningkatan kualitas manusia anggotanya. Kualitas manusia yang meningkat pada sisi lain akan berdampak pada peningkatan kualitas tenaga kerja yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkat dan kualitas pertumbuhan ekonomi. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pertumbuhan dapat (tetapi tidak bersifat otomatis) mempengaruhi ketenagakerjaan dari sisi permintaan (menciptakan lapangan kerja) dan sisi penawaran (meningkatkan kualitas tenaga kerja).

Hubungan fungsional antara pertumbuhan ekonomi, pembangunan manusia dan ketenagakerjaan serta faktor-faktor lainnya diilustrasikan dalam skema yang dipoplerkan oleh UNDP (1996) sebagaimana tampak dalam Gambar 4. Gambar itu secara jelas mengilustrasikan hubungan dua arah atau timbal balik antara pertumbuhahan ekonomi dan pembangunan manusia. Arah ke atas menjelaskan bagaimana pertumbuhan ekonomi (diharapkan dapat) mempengaruhi besar dan pola pengeluaran rumahtangga (jalur paling kanan) dan pemerintah (jalur tengah) sebelum berdampak terhadap status pembangunan manusia. Jalur paling kanan menjelaskan pernan krusial ketenagakerjaan untuk menjamin pertumbuhan ekonomi dapat ditransformasikan menjadi kenaikan pendapatan rumahtangga. Jalur ke bawah (paling kiri) mengilustrasikan bagaimana pertumbuhan ekonomi dapat berpengaruh terhadap struktur dan kualitas tenaga kerja dan barang dan jasa yang diproduksi masyarakat.

2. Peningkatan investasi dalam mutu modal manusia, yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan dan keamanan. Campur tangan pemerintah perlu diarahkan pada mereka yang berpendapatan rendah. Investasi dalam bidang ini amat mahal dan tak akan menarik sektor swasta karena keuntungan yang diperoleh sektor swasta apabila melakukan investasi untuk kalangan marginal akan kecil.

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Sumber :UNDP 1996

Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Manusia

Pembangunan

Manusia

Pertumbuhan Ekonomi

Modal sosial, LSM, Ormas

Kapabilitas

Pekerja dan Petani,

Manager, Wira Usaha

Ketengakerjaan

Produksi

R&D, Technologi

Komposisi dan

Output Ekspor

Kelembagaan dan Governance

Ketenagakerjaan

Distribusi

Sumber Daya Pem. dan Swasta

Kebijakan dan

Pemerintah

Anggaran u/ Bidang

Sosial Prioritas

Kegiatan dan

pengeluaran

rumahtangga

Kebutuhan Dasar

Reproduksi

Sosial

Saving

Luar Negeri

Modal

Kapital

Saving

Domestik

Pengeluaran

Rumahtangga u/

Pengeluaran

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

3. Investasi yang lebih produktif masih merupakan pilihan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang tentunya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ekspansi pada sektor moderen yang lebih padat karya walaupun dengan konsekwensi penurunan marginal productivity of labor, tetapi penyerapan tenaga kerja tentu akan semakin mempercepat roda perekonomian karena semakin meratanya tingkat pendapatan.

4. Menurut Harmadi, hal yang lebih mudah (meskipun cukup sulit dan membutuhkan waktu) ialah memperbaiki angka employment elasticity yang sama artinya dengan meningkatkan angka penyerapan tenaga kerja sebagai hasil pertumbuhan ekonomi. Salah satu prasyarat penting agar penyerapan tenaga kerja cukup tinggi ialah bergeraknya sektor riil nasional. Caranya ialah dengan memperbaiki iklim investasi di Indonesia dengan memperbaiki perangkat hukum (Undang-undang) dan proses birokrasi yang lebih sederhana.

Undang-undang ketenagakerjaan di Indonesia dianggap terlalu rigid bagi sebagian kalangan pengusaha. Selain itu, adanya kenyataan bahwa sekitar 2/3 pekerja di Indonesia bekerja di sektor informal dan sisanya bekerja di sektor formal kurang menguntungkan. Mengapa demikian? Karena undang-undang ataupun peraturan ketenagakerjaan memang hanya mampu menjangkau sektor formal saja. Berarti, tidak ada perlindungan yang memadai untuk sebagian besar tenaga kerja kita. Oleh karena itu, perlu ada upaya mentransfer mereka yang bekerja di sektor informal (termasuk buruh yang tidak dibayar, pekerja keluarga, pekerja tidak tetap dan sebagainya) untuk dapat bekerja di sektor formal. Bagaimana caranya? Jawabannya ialah dengan mendorong pertumbuhan investasi. Lagi-lagi masalah iklim investasi yang harus segera diperbaiki. Revisi UU no. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan memang perlu direvisi segera. Namun demikian, agar perlindungan terhadap pekerja tidak terbaikan, maka kita perlu segera untuk mengimplementasikan secara nyata sistem jaminan sosial nasional (UU no. 40/2004) (Harmadi:2007).

Referensi

Agenor, Pierre-Richard. 2000. The Economics of Adjustment and Growth. Academic Press.

Ananta, Aris dan Ismail Budhiarso. 1991. Ketimpangan Pasar Kerja di Indonesia. Lembaga Demografi Paper Series No. 5, Oktober 1991. Jakarta.

Barro, Robert J dan Xavier Sala-i-Martin. 1995. Economic Growth. McGraw-Hill International Editions Economic Series.

Islam, Iyanatul dan Suahasil Nazara.2000. Technical Note on the Indonesian Labor Market : Estimating Employment Elasticity for The Indonesian Economy. International Labor Office-Jakarta, Indonesia.

Kuncoro, Haryo dan Bambang Kustituanto.1995. Netralitas Perubahan Teknologi Pada Sektor Industri Pengolahan di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Volume 10, No. 1, 1995. Hal:55-66. Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada.

Mubyarto dan Daniel W. Bromley.2002. Ilmu Ekonomi dan Pembangunan Indonesia (A Development Manifesto for Indonesia). Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Volume 17, No. 1, Januari 2002. Hal:1-12. Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada.

Mubyarto. 2001. Mengatasi Krisis Moneter Melalui Penguatan Ekonomi Rakyat. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Volume 16, No. 2, April 2001. Hal:97-110. Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada.

Mubyarto. 2001. Pemulihan Ekonomi Nasional Menuju Demokrasi Ekonomi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Volume 16, No. 1, Januari 2001. Hal:1-17. Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada.

Mubyarto.2002. Peran Ilmu Ekonomi dalam Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Volume 17, No. 3, Juli 2002. Hal:233-242. Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada.

Pasay, N Haidy A, Udi H. Pungut dan Gatot Arya Putra.1993. Productive Employment Creation and Institutional Entities in Indonesian Garment Industry 1975-1987. Demographic Institute Paper Series No. 10 September 1993. Jakarta.

Pasay, N. Haidy A. 1996. A Model of Induced Migration Impacts on Labor Productivity and Economy. Journal of Population, volume 2, number 1, June 1996. Hal:1-19.

Pasay, N. Haidy A. Dan Suahasil Nazara. 1997. Efisiensi, Produktivitas Pekerja dan Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan. Widjojo Nitisastro 70 tahun. Pembangunan Nasional : Teori, Kebijakan dan Pelaksanaan. Hal: 1011-1046. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Suryawati. 2000. Peranan Investasi Asing Langsung Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Negara-negara Asia Timur. Jurnal Ekonomi Pembangunan Volume 5, No. 2, 2000. Hal : 101-113.

16 Comments to “Pertumbuhan Ekonomi, Pengangguran dan Employment Elasticity”

  1. admin says:

    karena keterbatasan feature wordpress, grafik tidak dpt ditampilkan

  2. yudhis says:

    analisisnya mantap. berguna sekali terutama untuk saya yg sedang belajar menulis ulasan dan analisis. sayang grafik tidak dapat ditampilkan. tetap menulis, ya pak acul..

  3. Profile photo of m.nashrul m.nashrul says:

    trims komennya pak yudhis…

  4. xi_pot says:

    mantap cul, lanjutkan… btw, lo punya bukunya James P Smith (female labor supply) gak?

  5. coby says:

    Top bro, lanjutkan….

  6. suhaimi says:

    aslmlkm, ada gk bahan tentang tenaga kerja anak (buruh anak) atau bahan yang berhubungan dengan itu? kalau ada tolong y please…..

  7. Hey, I just hopped over to your site via StumbleUpon. Not somthing I would normally read, but I liked your thoughts none the less. Thanks for making something worth reading.

  8. Hello.This article was extremely motivating, particularly since I was investigating for thoughts on this subject last couple of days.

  9. You completed various fine points there. I did a search on the issue and found a good number of folks will consent with your blog.

  10. tramadol buy says:

    Excellent read, I just passed this onto a colleague who had previously been performing a little research on that. And he actually bought me lunch because I came across it for him smile So i want to rephrase that: Thanks for lunch!

  11. Many thanks sharing superb informations. Your websiteis so cool.I am astounded by the important points that you’ve with this blog. It reveals how nicely you perceive this subject. Bookmarked this web site, can come backfor extra articles. You, my pal, ROCK! I found simply the info I already searched everywhere and simply couldn?t encounter. That of a ideal website. I favor this web internet site and your website is without question one of my new favorite ones.I favor this excellent website given and has now given me some sort of dedication to achieve success for many purpose, so thanks

  12. Owen Paci says:

    This domain seems to get a large ammount of visitors. How do you get traffic to it? It offers a nice unique twist on things. I guess having something useful or substantial to post about is the most important thing.

  13. Certainly together with your thoughts here and that i really like your site! I’ve bookmarked it in order that I will go back & read more down the road.

  14. Easily i am not saying against everything you saying but i’ve got to exclude that you are not valid with this issue. Why on earth person convertd so much in length of time? Can’t we just coincide on all causes? We comparable injury in our business.Decoding the condition want some concentrated analysis

  15. Aiden Jen says:

    Thanks for this. I really like what you’ve posted here and wish you the best of luck with this blog!