Sejarah Psikologi di Indonesia: Penuturan Tokoh

Seluruh tulisan tentang Sejarah Psikologi di Indonesia berikut ini merupakan sejumlah penggalan yang disitat langsung dari buku “Dialog Psikologi Indonesia: Doeloe, Kini dan Esok” yang ditulis dan disusun oleh Dr. Wilman Dahlan, M.Org.Psy., Drs. Bunce Harbunangin, Drs. Johannes A. A. Rumeser M.Psi., dan Drs. Lukman Sarosa Sriamin M.Psi. (2007), seluruhnya sebagai Editor, yang diterbitkan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI).

Diseminasi tulisan ini dalam bentuk online dimaksudkan untuk memperluas cakupan pembacanya, sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan oleh berbagai pihak, baik mahasiswa, dosen, para jurnalis, dan sebagainya. Untuk penulisan dalam Daftar Referensi, harap merujuk pada data bibliografik yang tercantum pada http://www.goodreads.com/book/show/16179785-dialog-psikologi-indonesia

 

 

Universitas Indonesia

 

Yang dianggap sebagai  pendiri pendiri pendidikan psikologi di Indonesia adalah Prof. Dr. Slamet Iman Santoso, psikiater. Ketika itu para psikiater mendapat pasien yang sekarang diistilahkan mengalami gejala “psikosomatis”. Psikosomatis disebabkan oleh ketidaksesuaian antara kepribadian, bakat, kemampuan, dan sebagainya, dengan pekerjaannya, sekolahnya, dan sebagainya. Sarlito Wirawan Sarwono melukiskan:

“Waktu itu baru selesai perang, Jepang dan Belanda baru meninggalkan Indonesia. Banyak posisi yang tiba-tiba lowong dan harus diisi oleh orang-orang Indonesia. Kebanyakan mereka seperti turun dari gunung, pejuang, tentara-tentara pelajar. Pendidikannya juga kurang, kemudian tiba-tiba harus jadi manajer, direktur perusahaan, ada yang mengurus perkebunan, jadi gubernur, dan lain-lain. Karena kemampuannya itu tidak sesuai, tidak cukup untuk tingkat pekerjaannya, lalu banyak yang stres dan mengalami psikosomatis. Ada yang tiba-tiba gatal tanpa sebab, sesak nafas, dan lain-lain; tetapi kalau diberi cuti sakit langsung sehat di rumah. Lalu bekerja lagi, sakit lagi, dan secara medis tidak ada apa-apa. Dari situlah Pak Slamet mengatakan bahwa kita memerlukan psikologi untuk mendiagnosis apakah orang-orang ini sesuai untuk pekerjaannya atau pendidikannya.”

Ada istilah the right man in the right place, the right man in the wrong place, the wrong man in the right place, the wrong man in the wrong place, dan lain-lain. “Yang kita perlukan sekarang adalah menempatkan manusia di tempat yang tepat,” kata Slamet Iman Santoso pada waktu itu. Tema ini kemudian menjadi pidato pengukuhan Slamet sebagai Guru Besar Universitas Indonesia pada Dies Natalis Universitas Indonesia pada tahun 1952 di Fakultas Pengetahuan Teknik Universitas Indonesia di Bandung yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung.

Balai Psikoteknik di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dipakai sebagai induk belajar psikologi, walaupun yang dibutuhkan sebenarnya adalah psikolog, bukan ahli psikoteknik. Sejarah ini diakui menyebabkan psikolog identik dengan “tukang tes”. Hampir setiap psikolog pada saat itu terlibat dalam pemberian tes, khususnya untuk keperluan seleksi. Oleh karena yang dibutuhkan adalah psikolog penuh, maka langkah Slamet Iman Santoso selanjutnya adalah mendatangkan seorang psikolog dari negeri Belanda, Prof. L. D. Teutelink. Beliaulah yang menangani semua jadwal pelajaran yang berhubungan dengan psikologi, dari psikologi umum psikologi anak, dan lain-lain. Ini terjadi karena pada saat itu tidak ada dana untuk mendatangkan psikolog yang lain. Dua pelajaran pertama yang diajarkan adalah psikologi pendidikan dan psikologi klinis. Namun karena pada saat itu belum ada psikolog klinis, maka pelajaran psikologi klinis diberikan oleh Slamet dengan materi kuliah Psikiatri.

Pada Maret 1953, Presiden (Rektor) UI, Prof. Soepomo menyatakan, “Saya resmikan Jurusan Psikologi di Fakultas Kedokteran”.  Yang menjadi pengajar adalah mereka yang pulang dari negeri Belanda, seperti Drs. Yap Kie Hien (psikologi eksperimen), Dr. Lie Pok Lim (psikologi anak), dan Drs. Ng Po Kioen (psikologi perusahaan). Dekan pertama adalah Prof. Dr. Slamet Iman Santoso. Pada 1 Juli 1960, Fakultas Psikologi UI berdiri sendiri terpisah dari Fakultas Kedokteran. Mengingat bahwa Slamet Iman Santoso adalah psikiater, bukan psikolog, maka suatu saat Fuad Hasan dengan beberapa teman senior sepakat agar Slamet diberikan gelar Doktor Honoris Causa karena jasa-jasa beliau di bidang psikologi. Pada tahun 1973, Slamet digelari Dr. (H.C.) Psikologi.

Dulu di Fakultas Psikologi UI, ada mata kuliah dengan warna kedokteran, seperti anatomi, genetika, neurologi, histologi, sitologi, dan lain-lain. Menurut Anggadewi Moesono, oleh karena ketika itu juga ada pengaruh dari Fakultas Kedokteran, eksperimen-eksperimen dengan hewan juga berkembang. Ada praktikum di bagian faal, bagian eksperimen. Pada masa itu, di belakang Fakultas Psikologi UI ada kandang tikus, kera, dan hewan lainnya. Mahasiswa membuat sendiri maze untuk melihat apakah dorongan (drive) terkuat binatang. Dari buku eksperimen, mahasiswa meniru dan membuat alat eksperimen. Di samping itu, ada pengajar filsafat yang terkenal pada masa itu, Dr. Drijarkara, yang diundang oleh Fuad Hasan untuk mengajar di Psikologi UI. Pada 1980, Depdikbud membuat peraturan bahwa harus ada laboratorium-laboratorium fakultas yang berada dalam Bagian dan tugasnya adalah mengembangkan keilmuan. Misalnya, di Bagian Psikologi Perkembangan, ada laboratorium anak dan keluarga, dan sebagainya. Masih menurut Anggadewi, laboratorium jangan diartikan sebagai suatu ruangan, namun merupakan kegiatan kajian.

Anggadewi Moesono, dan beberapa pengajar UI, menambahkan:

“Dulu mahasiswa rata-rata kuliahnya delapan tahun. Sebenarnya harus selesai dalam enam tahun. Namun reratanya delapan tahun karena sistem skripsinya. Untuk mendapatkan gelar Sarjana Muda harus membuat paper (semacam skripsi, tetapi lebih ringan). Setelah itu ada stage (baca: stasye; di Fakultas Kedokteran disebut sebagai internship atau ko-as dibimbing oleh dokter senior). Mahasiswa belajar menerima klien, wawancara, mengambil tes, kasuistik, dan menulis laporan klien. Mahasiswa harus melewati semua bagian, dan menghabiskan waktu selama beberapa bulan di masing-masing bagian, seperti Bagian Psikologi Perusahaan, Psikologi Klinis, Psikologi Anak. Setelah melakukan stage, baru mahasiswa membuat skripsi. Tadinya mahasiswa wajib membuat satu skripsi, lalu kemudian ada kebijakan untuk membuat dua skripsi yang terdiri dari skripsi teori (semacam book review) dan praktik.”

Menurut Enoch Markum, dulu tidak ada riset yang benar-benar memenuhi standar ilmiah seperti sekarang, baik dari segi metodologi maupun statistik. Menurutnya, sebenarnya Slamet Iman Santoso sudah memperkenalkan penelitian kepada mahasiswa. Mahasiswa harus ke desa, misalnya diterjunkan di Tebet. Orang Tebet itu awalnya tinggal di Senayan, kemudian “digusur” dan dipindahkan ke Tebet. Slamet menugaskan mahasiswa untuk meneliti bagaimana struktur keluarganya, dan data demografis lainnya; masih berbau sosiologis. Jadi yang dilakukan itu sebenarnya penelitian lapangan, namun “Mahasiswa tidak menyadari dan menguasai dengan baik berbagai metode penelitian, seperti metode wawancara, observasi, metode survei, dan lain-lain,” kata Enoch Markum.

Dulu pernah ada Prof. Mulyono, dengan acara di TVRI, “Psikologi Untuk Anda”. Acara tersebut kemudian membuat psikologi menjadi populer.

Menurut Dewi Sawitri Matindas, dewasa ini dalam kurikulum Fakultas Psikologi UI sejak 2006 ada mata kuliah “Pelatihan”. Tujuannya untuk membekali para Sarjana Psikologi agar mereka memiliki pengetahuan yang benar mengenai training atau pelatihan. Dewi melanjutkan:

“Kalau mereka mengembangkan diri ke sana nantinya, mereka sudah punya ilmunya. Mereka sudah punya keterampilannya sedikit-sedikit. Pada waktu Pak Sarlito menjadi dekan, beliaulah yang sangat menginginkan hal tersebut masuk dalam kurikulum. Sarjana Psikologi UI mestinya selain mampu melakukan penelitian dan menyusun alat ukur, juga harusnya tahu tentang pelatihan dan menguasai masalah pelatihan. Bagaimanapun, karena lulusan fakultas psikologi lebih menguasai konsep-konsep psikologi, pelatihan yang menyangkut soft-skills, seperti pengembangan kepribadian, sebaiknya diberikan oleh lulusan psikologi.”

Anggadewi Musono mengatakan bahwa kita perlu mengingat situasi di Indonesia. Ia memberikan contoh, misalnya tentang grievance (kesedihan, kematian). Studi tentang ini sedang marak di Amerika, karena masalah kematian sangat mengharu-biru seseorang. Pernah datang seorang psikolog dari Amerika yang memberikan ceramah mengenai grievance. Ia membandingkan keadaan di Amerika dengan di Indonesia. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa orang di Indonesia sangat sederhana dalam menghadapi kematian, karena kita melihat di sini kita beragama dan berkeyakinan. “Apalagi kalau memegang filsafat Jawa, nrimo, sehingga bisa sangat tabah dan pasrah menerima jika ada anggota keluarganya yang meninggal,” kata Anggadewi. Beliau menambahkan:

“Buku-buku baru tentang kognitif, misalnya, pengambilan keputusan, juga merupakan tren terakhir dalam psikologi yang mendunia karena semua orang seumur hidupnya tentu mengambil keputusan, baik keputusan yang kecil maupun keputusan yang besar. Di Belgia, ada pusat studi pengambilan keputusan yang meneliti sampai ke aspek budaya. Ternyata orang Timur dan Barat mempunyai cara pengambilan keputusan yang berbeda. Saya kemudian meneliti pengambilan keputusan orang Indonesia. Saya menemukan bahwa ternyata tahapan pengambilan keputusan yang universal tidak berlaku di Indonesia, karena di Indonesia tahap dua tidak dilakukan, namun langsung ke tahap lima. Pada tahap dua itu antara lain mencari informasi dengan benar. Orang Indonesia loncat langsung mencari alternatif (tahap lima). Jadi berarti proses pengambilan keputusan orang Indonesia berbeda dengan orang Barat. Adalah sangat menarik bahwa intuisi orang Amerika berbeda dengan intuisi orang Timur, seperti yang disebut oleh Pusat Pengambilan Keputusan di Swedia. Jadi, dalam pengambilan keputusan, selain menggunakan rasio, orang pun menggunakan intuisi. Namun yang disebut intuisi oleh orang Amerika adalah pengalaman-pengalaman masa lalu yang dibuat sebagai rumusan untuk memutuskan. Tapi yang disebut intuisi orang Timur adalah perasaan-perasaan, ketajaman naluri. Ini berarti bahwa kita harus berhati-hati dalam menggunakan pengertian ‘intuisi’ karena berbeda antara orang Timur dan orang Barat. Hal ini menjadi contoh betapa pentingnya pengembangan indigenous psychology.”

Sementara itu, Ediasri Toto Atmodiwirjo mengemukakan kenyataan bahwa Fakultas Psikologi UI ada di metropolitan. “Bisakah kita menjawab masalah-masalah urban di metropolitan ini? UGM berani mencanangkan bahwa dia khusus di Psikologi Pedesaan. Mengapa kita tidak bisa mencanangkan Psikologi Urban?” kata Ediasri.

Fuad Hasan menyatakan bahwa kemajuan psikologi di Indonesia terutama harus diukur dari kesiapan psikologi di Indonesia untuk menghadapi tantangan-tantangan masa kini, baik pada tingkat nasional maupun global. Sekarang permasalahannya adalah bagaimana secara teoretis, psikologi melahirkan konsep-konsepnya yang baru. Bagaimana psikologi bisa menanggapi keadaan sezaman, keadaan kontemporer. Fuad Hasan memberikan contoh:

“Ada/tidak studi tentang dalang? Dalang itu memainkan beberapa persona sekaligus. Dari yang jahat, yang baik. Terus suaranya berganti-ganti. Apakah saya bisa menyimpulkan, ‘To be a dalang, you have to be a psycho?’. Lalu keahlian ini dari mana tumbuhnya? Saya kita kalau diadakan studi bersama antara psikolog Jawa dan psikolog Belanda, mungkin hasilnya lain…. Mengapa tidak membuat penelitian yang lebih lekat pada budaya Indonesia? Sebagai contoh, pernahkah ada studi psikologis tentang tarian massa kecak? Bagaimana menjelaskan gejala trance pada tarian itu? Contoh lain, kuda lumping. Mengapa penarinya bisa makan kaca/beling? Lalu kecenderungan kita untuk mistifikasi, segala sesuatu dimistikkan. Lalu, anak-anak yang sejak tsunami itu parentless, itu bagaimana? How do you explain the concept of parenthood pada anak-anak yang kehilangan kedua orangtua sekaligus secara tiba-tiba. Kita perlu sanggup mengolah dan menciptakan konsep-konsep in anticipation of a lot of progress.”

Menurut Fuad Hasan, sekarang yang penting, bagaimana psikologi bisa tegak dengan konsep-konsep teoretik yang kuat, bukan sekadar verbalisme. Ini bahaya yang ia anggap mengancam disiplin-disiplin yang non-eksakta, yaitu terutama verbalisme. Gejala yang muncul adalah bahwa siapa saja dapat menjawab berbagai pertanyaan dengan mengandalkan “akal sehat” dan pengalaman, sehingga tidak terbedakan antara yang belajar psikologi dengan yang tidak, karena jawabannya, menurut Fuad, “enteng-enteng” saja. Fuad juga mengaku tidak menyukai istilah emotional intelligence. Ia tidak bisa mengerti emotional dikaitkan dengan intelligence. Dua konsep itu bagi Fuad tidak bisa bertemu, tetapi sekarang berkembang terus. “Bermacam-macam intelligence yang akhirnya membuat kedua istilah itu sama-sama kabur. Misalnya, spiritual intelligence, akhirnya tidak spiritual dan tidak juga intelligence. Itu menunjukkan bahwa kita gampang dihanyutkan oleh apa yang sedang menjadi best seller di luar,” kata Fuad.

Enoch Markum mengingatkan bahwa keterlibatan psikologi atau kepedulian para pakar psikologi terhadap masalah sosial masih sangat terbatas dan sporadis sifatnya; meskipun harus diakui bahwa ada pakar psikologi yang peduli pada masalah sosial, seperti mereka yang tergabung dalam Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI dan Ichsan Malik yang terkenal dengan gagasan Bakubae dalam menyelesaikan konflik di Ambon. Namun jika melihat jumlah pakar psikologi di Indonesia yang cukup besar, ternyata mereka yang terlibat dalam persoalan makro masih terbatas jumlahnya, dapat dikatakan belum merupakan gerakan sinergis yang bisa merubah keadaan. Hal ini, menurut pendapat Markum, disebabkan oleh orientasi psikologi di Indonesia yang masih pada masalah-masalah mikro-individual, seperti asesmen psikologi, rekrutmen dan seleksi karyawan, warid belajar, dan konseling serta psikoterapi. Enoch Markum memberikan contoh:

“Kalau kita membaca surat kabar Kompas yang memberitakan nasib orang miskin yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung, dan mereka membuang sampahnya ke kali, ternyata tidak ada perhatian dari pada psikolog. Padahal itu telah berlangsung bertahun-tahun. Masalah-masalah yang menyangkut warga miskin ini banyak sekali. Psikologi sebenarnya bisa melakukan atau menyumbangkan sesuatu untuk merubah kondisi masyarakat Indonesia. Inilah tantangan dan sekaligus peluang yang dihadapi oleh pakar psikologi Indonesia. Sekali lagi, kita masih asyik dengan masalah mikro. Tidak berarti ini jelek atau tidak ada manfaatnya, karena memang ada yang membutuhkan jasa psikologi individual dan mikro ini. Tetapi memang hal ini terbawa dari kondisi dan tuntutan masyarakat pada masa awal didirikannya tiga fakultas psikologi negeri di Indonesia tahun 1960-an. Sekarang kita mengenal tuntutan persamaan jender, ada Komnas Anak, ada gejala kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), konflik antar kelompok, meningkatnya kemiskinan, dan masalah sosial lainnya yang menuntut kepedulian, peran, dan kompetensi pakar psikologi untuk menangani masalah makro. Singkatnya, kita harus melakukan transformasi dari orientasi mikro ke orientasi makro.”

Sarlito Wirawan Sarwono menambahkan:

“Sekarang ada yang namanya Psikologi Kritis, yang mengkritik psikologi yang hanya memfokuskan pada masalah intrapersonal dan interpersonal saja. Psikologi harus masuk ke masalah-masalah yang lebih makro yang lebih membela orang kecil, yang tidak status quo.”

Mengenai organisasi profesi psikologi, Sarlito Wirawan Sarwono menyatakan pendapatnya:

“Peran Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) sebenarnya banyak. Sebelumnya ISPsI (Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia), yang anggotanya hanya psikolog. Mengapa namanya menjadi HIMPSI?  Karena psikologi itu bukan untuk psikolog saja. Yang menjadi anggota Himpsi adalah mereka yang mendapatkan degree S1, S2, maupun S3 dalam bidang psikologi. Jadi, termasuk mereka yang bukan psikolog, dalam arti kata bukan practicing psychologist atau clinical psychologist atau licensed psychologist. Di Amerika, praktik atau tidak praktik namanya, psychologist, apakah social psychologist, educational psychologist, cultural psychologist; semuanya disebut psychologist.”

Lebih lanjut, Sarlito mengatakan:

“Sekarang dengan sistem penerimaan S2 yang terbuka seperti ini, ada arsitek belajar psikologi, jadilah dia Magister Psikologi Lingkungan, atau yang lainnya. Apa yang dia lakukan, bagaimana dia membuat rumah sesuai dengan gambaran psikologi penghuninya. Bagaimana dengan seorang planolog, perencana kota? Ada salah satu mahasiswa saya yang kebetulan dosen Arsitektur Trisakti. Dia mencoba menyusun kembali lingkungan Kebayoran. Belajar psikologi sampai S2, dia menjadi paham bidang psikologi lingkungan. Sekarang, bisakah seorang psikolog merancang Kebayoran? Kan tidak bisa. Tetapi planolog itu bisa belajar psikologi. Kita harus terbuka, tidak perlu kikir dengan ilmu.”

 

 

Universitas Gadjah Mada (UGM)

 

Di UGM, Fakultas Paedagogi (berdiri 1951) ada beberapa jurusan, salah satunya Jurusan Psikologi (1958). Salah satu alasan adanya Jurusan Psikologi, karena ada salah satu lulusan dari Cekoslowakia, Busono Wiwoho, yang mendorong mendirikan Jurusan Psikologi. Pada Fakultas Paedagogi, banyak juga pelajaran psikologi, seperti psikologi sosial, psikologi perkembangan, psikologi klinis, hanya kurang mendalam secara psikologis. Selanjutnya, Fakultas Paedagogi UGM digabungkan dengan IKIP Yogyakarta, sedangkan Bagian Psikologi terpisah dan tetap di UGM. Pada 8 Januari 1965, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI, Bagian Psikologi UGM resmi menjadi Fakultas Psikologi UGM mulai tanggal 19 Desember 1964. Tanggal 8 Januari 1965 ditetapkan sebagai hari jadi Fakultas Psikologi UGM, dengan dekan Masroen. Yang dianggap sebagai  pendiri Fakultas Psikologi UGM antara lain Sutrisno Hadi, Masroen, Sri Mulyani Martaniah, Soemadi, dan Siti Rahayu. Ketika pulang dari Amerika, Sutrisno Hadi menularkan metode Statistik (Sutrisno Hadi menulis buku Metodologi Riset yang sekarang terdiri atas 4 jilid). Pada 1957 sudah ada Lembaga Psikologi, yang dikepalai Busono Wiwoho. Kegiatannya penelitian tentang berbagai macam tes. Tes disesuaikan dengan kultur Indonesia, misalnya Tes Apersepsi Tematik (TAT). Tidak mengadopsi sama persis, hanya menggunakan idenya secara teoretis.

Menurut Sutrisno Hadi, baru sejak sekitar 1980-1990-an, Fakultas Psikologi mendapat perhatian besar. Dulu Paedagogi dianggap lebih penting. Jadi mahasiswa psikologi masih sedikit. Orang-orang tidak tahu psikologi lapangan kerjanya di mana. Namun, ketika mulai banyak permintaan terhadap lulusan psikologi (kebanyakan lulusan diserap oleh tentara), baru mulai banyak perhatian ke psikologi, karena tentara dianggap penting. Dulu Psikologi UGM tidak memiliki laboratorium. Untuk meneliti prinsip perkembangan, biasanya dimulai dengan perkembangan binatang. Dulu pernah ada kucing atau tikus. Setelah satu-dua tahun mulai tidak bisa memelihara, akhirnya tidak ada lagi. Masih menurut Sutrisno Hadi, dulu lulusan psikologi bergelar Drs. Psikologi, berbeda dengan  sekarang yang Sarjana Psikologi (S.Psi.). Sekarang S.Psi dianggap undergraduate, tidak bisa langsung praktik psikolog. Dulu Drs. Psikologi dianggap graduate, bisa langsung praktik psikolog. Undergraduate itu dulu Sarjana Muda atau Baccalauréat. Dulu materi kuliahnya banyak yang teoretik, sekarang banyak yang praktis. Dulu Doktorandus atau Doktoranda berarti calon doktor. Jadi untuk masuk S3 tidak ada syarat apa-apa, seperti tes. Sekarang untuk melanjutkan ke Doktor butuh jembatan S2, karena pendidikan Doktor sifatnya teoretik. Menurut Bimo Walgito, dulu buku-buku psikologi dari Belanda. Begitu Indonesia putus hubungan dengan Belanda, lalu memakai buku psikologi berbahasa Inggris.

Sri Mulyani Martaniah mengungkapkan bahwa sampai sekarang psikologi masih sering menggunakan teori dari luar. Seharusnya kita mengumpulkan hasil-hasil penelitian yang ada sekarang sebagai sumber psikologi Indonesia, yang indigenous. Padahal psikologi itu meneliti psyche orang di suatu tempat, dalam hal ini orang Indonesia. Menurutnya, mungkin sekarang kita harus memfokuskan bagaimana orang Indonesia itu. Ketika Martaniah mendalami konseling di Michigan, Amerika, pada 1968-1970, ia diberitahu bahwa sebetulnya jika seseorang ingin belajar psikologi, harusnya di negeri sendiri. Misalnya, mengenai locus of control (lokus kendali). Kalau penelitian orang Barat mengatakan locus of control yang baik adalah yang internal. Padahal keberagamaan orang Indonesia itu kuat, dan hal ini akan mengalahkan lokus kendali internal. Pendapat orang Indonesia adalah bahwa Tuhan itu lebih baik, misalnya. Kalau pada orang Barat, “aku” lebih kuat, bahwa “kekuatan itu ada pada saya”. Pada orang Timur, orang, lingkungan, agama kepercayaan itu berpengaruh sekali pada tingkah laku manusia, dan itu tidak jelek. “Kalau kita percaya Tuhan selalu memberi kita sesuatu, itu tidak jelek,” kata Martaniah.

Bimo Walgito mengemukakan bahwa masyarakat sudah mengerti tentang psikologi, hanya untuk mengangkat menjadi scientific masih kurang. Ia memberikan sebuah contoh. Misalnya, Pak Lurah yang diminta bantuannya oleh penduduk yang merasa kesulitan. Pak Lurah kemudian memberikan bantuan pemecahannya, yang sekarang disebut bimbingan konseling. Bimbingan konseling dari dulu sudah ada, hanya belum disebut bimbingan konseling seperti sekarang ini. Bantuan Pak Lurah ini menunjukkan bahwa masyarakat telah mengerti tentang psikologi, mengerti bahwa jika ada yang mengalami kesusahan perlu ditolong dan diarahkan; namun masyarakat belum mengetahui apa itu psikologi. Pak Lurah memberikan bantuan, namun belum ada scientific approach-nya, karena belum tahu. Sebenarnya akan menjadi lebih baik apabila tiap lurah mengetahui bagaimana cara memberikan sentuhan psikologis ke penduduknya. Masih menurut Walgito, perbedaan psikologi dengan bimbingan koseling di sekolah (BK) adalah dalam praktiknya. BK praktiknya di sekolah mengenai masalah pendidikan. Tetapi masalah pendidikan tidak lepas dari personal problems (misalnya dimarahi orang tua). Jadi anak dalam masalah belajar pada dasarnya tidak bisa lepas dari masalah pribadinya. Ini harus menjadi bahasan antar institusi yang mengurus BK dan psikolog.

Walgito mengatakan bahwa penelitian psikologi penting menggali apa yang ada di Indonesia. Ambil contoh, penelitian terkait dengan karya Freud, The Interpretation of Dreams. Di Indonesia, mimpi mempunyai arti yang banyak. Untuk mengilmiahkannya yang menjadi masalah. Misalnya lagi, mengenai konseling non-directed menurut Rogers. Di sini budayanya berbeda. Orang menggantungkan diri pada orang lain, misalnya pimpinan, minta restu, minta pertimbangan, disuruh, diarahkan.

Sutrisno Hadi menambahkan bahwa masing-masing profesi memiliki kriteria keberhasilan masing-masing. Kita harus memiliki potretnya. Sehingga kalau kita nanti bekerja di biro rekrutmen, kita harus memiliki kriteria jabatan yang dibutuhkan. Misalnya saja kriteria lurah. Belum ada hasil penelitian yang menyimpulkan Lurah yang berhasil seperti apa. Sebaiknya kita melakukan riset sekarang terhadap 50 lurah yang berhasil. Karakteristik apa yang ada pada lurah yang berhasil, dan ini seharusnya menjadi potret yang memberikan dasar kepada pemilihan lurah yang baik.

Terkait dengan pendidikan tinggi psikologi, Sri Mulyani Martaniah mengungkapkan bahwa dulu untuk mendirikan Fakultas Psikologi harus memiliki dasar yang kuat, namun sepertinya sekarang semua bisa mendirikan fakultas psikologi. Untungnya, sekarang organisasi profesi HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) memiliki hak untuk menyatakan setuju atau tidak dalam proses pendirian fakultas psikologi.

Sutrisno Hadi mengatakan bahwa sekarang S2 (Sains) Psikologi itu multi entry, jadi bisa menerima mahasiswa yang S1-nya lulusan dari bidang studi manapun, bahkan dari IAIN. Namun sebelumnya harus diseleksi, dan kemudian masuk kelas matrikulasi. Kelas matrikulasi berlangsung selama satu semester. Menurutnya, sebenarnya satu semester saja tidak cukup. Namun ada pertimbangan-pertimbangan anggaran belanja keuangan dalam penyelenggaraan. Dalam kaitan ini, Sutrisno Hadi mengatakan:

 

“Saya tidak keberatan. Karena ternyata lulusan psikologi tidak selalu lebih baik dari lulusan yang bukan psikologi. Dalam praktiknya, saya mengajar banyak yang berasal dari luar psikologi. Hasilnya juga bagus. Jadi tidak realistis kalau kita hanya mau menerima psikologi untuk psikologi saja. Yang penting idealisme bahwa kualitasnya ketika keluar (lulus) tetap bagus.”

 

Sutrisno Hadi menambahkan bahwa instrumen psikologi itu paling lama 5 tahun sekali harus distandarisasi. Ia sudah membuat program item banking. Item banking adalah bank pertanyaan untuk angket. Latar belakangnya adalah bahwa mahasiswa psikologi boleh dikatakan 90 sampai hampir 100 persen akan lulus dengan menulis skripsi. Setiap kali akan menulis skripsi, mereka harus menyusun angket. Karena itu, ia membuat bank pertanyaan, item bank untuk angket. Misalnya, butir-butir untuk kepuasan kerja. Programnya sudah beliau buat. Dari penelitian mahasiswa, butir-butir angket dimasukkan dalam item bank. Semua butir angket dari skripsi itu dimasukkan jadi satu. Siapa saja yang memerlukan bisa mengambil dari sana. Caranya seperti berikut ini. Misalnya kepuasan kerja ada lima faktor: faktor A, faktor B, faktor C, faktor D, faktor E. Masing-masing faktor dibagi lagi, misalnya bank A1, A2, A3, A4, A5. Dari bank A1 untuk kepuasan kerja, yaitu aspek finansial, apabila mahasiswa ingin mengungkapkan 10 pertanyaan, maka ambillah 10 pertanyaan dari antara 60 pertanyaan yang sudah tersedia.  Jika kita memiliki soal kepuasan kerja sebanyak 200-300 soal saja, maka mahasiswa yang ingin mengungkap kepuasan kerja dengan 50 pertanyaan bisa mengambil dari 300 soal tersebut secara random. Tidak ada batas, sama sekali random. Programnya sudah ada, namun yang menangani belum ada. Mereka yang membeli program dari Hadi hanya perlu memasukkan pertanyaan-pertanyaan saja, lalu program untuk retrieving atau menarik juga sudah ada. “Misalnya mau menarik 30 pertanyaan, tinggal di-print sore hari, besok pagi sudah siap untuk diterapkan,” kata Hadi.

Sutrisno Hadi menyesali bahwa penelitian psikologi di Indonesia kurang pada teori dasarnya, karena lebih banyak pada terapan. Sebenarnya hal itu bagus, karena kalau tidak ada terapan, psikologi tidak begitu “laku”. Namun, hal ini menjadikan tidak akan pernah ada pemegang nobel dari Indonesia. Sebab pemegang nobel itu semuanya adalah penelitian dasar, tidak ada penelitian terapan.

 

 

Universitas Padjadjaran (Unpad)

 

Menurut Sunardi D. Sarojo, Dipl.Psych., istilah psikologi sudah beliau kenal sejak tahun 1945, zaman Revolusi. Ada buku psikologi yang beliau temukan di sebuah rumah di Ambarawa, judulnya “Inlanding for Psychologie” (H. Bufing). Di buku itu ditulis pengertian psikologi “de wittenschaf der sill”, kira-kira artinya “ilmu pengetahuan mengenai jiwa”.

Psikologi di Bandung mulai dari Psikologi Angkatan Darat, baru kemudian menjadi fakultas yang berdiri sendiri. Namun demikian, psikologi di Bandung tidak dapat dikatakan psikologi militer. Yang pertama kali menjabat Ketua Lembaga Psikoteknik Tentara yakni dr. Sumantri Hardjoprakoso, psikiater, pada 1950. Tanggal 15 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Dinas Psikologi Angkatan Darat.  Pada 1958, Lembaga Psikoteknik Angkatan Darat berubah nama menjadi Pusat Psikologi Angkatan Darat.

Selanjutnya, ada orang-orang yang dipilih untuk belajar Psikologi di Belanda dan di Jerman, antara lain Soemarto, Soemitro Kartosudjono, Soenardi, Sardjono, dan Bob Dengah. Mereka yang baru pulang dari luar negeri berbicara bersama dengan dr. Soemantri, muncul gagasan ingin mendirikan semacam Akademi Psikologi di lingkungan Angkatan Darat. Pada 1961, mereka melapor ke Yani, Panglima Angkatan Darat, kira-kira bulan April atau Mei. Yani mengatakan, “Kalau mau mendirikan akademi psikologi militer baik saja, tapi jangan di lingkungan militer. Gabung saja di universitas setempat.” Yani mengatakan waktu itu Angkatan Darat tidak dapat membiayai itu, di samping tidak benar mendirikan akademi di Angkatan Darat. Di Bandung sudah ada universitas setempat, yaitu Universitas Padjadjaran yang berdiri sejak 1957. Panitia pembentukan Fakultas Psikologi Unpad bekerjasama dengan IKIP Bandung. Ketua sementaranya adalah Sardardjoen, ayah dari Sawitri (Sawitri adalah salah seorang penulis kolom konsultasi psikologi di harian Kompas Minggu). Gerungan (Kepala Lembaga Penelitian Pendidikan FKIP UNPAD), yang dikenal sebagai animal psychologist, turut membantu berdirinya Fakultas Psikologi Unpad. Tanggal 2 September 1961 diperingati sebagai hari jadi Fakultas Psikologi Unpad. Pater Brouwer sangat gencar memperkenalkan psikologi karena dulu menulis di harian Kompas. Disertasi Sumantri Harjoprakoso mengenai psikiatri (Jung). Ia menggelar dalam disertasinya itu kemungkinan-kemungkinan ilmu Kejawen. Filsafat Jawa dipakai sebagai pembantu dalam psikoterapi di Indonesia.

Menurut Untung Kahar, dahulu laporan psikologi kental dengan eksperimental. “Sampai tachitoscope yang kita tidak punya kita buat sendiri di bawah supervisi, terutama dari Pater Brouwer,” katanya. Mahasiswa angkatan-angkatan tertentu untuk Sarjana Muda di Psikologi Unpad membuat peralatan eksperimental. Itulah mengapa, menurut Untung Kahar, kemudian untuk masuk Fakultas Psikologi Unpad harus dari ilmu pasti.

Menurut Wisnubrata Hendrojuwono, dulu Lembaga Psikologi Unpad banyak menangani rekrutmen (seleksi, klasifikasi, placement). Karena pemeriksaannya tidak bisa individual, maka dikembangkan pemeriksaan klasikal. “Tidak semua alat pemeriksaan psikologi bisa dibuat untuk klasikal, tetapi semua yang klasikal bisa digunakan untuk individual,” kata Wisnubrata. Pada waktu itu, Bob Dengah dengan Wisnubrata Hendrojuwono mengembangkan dan menstandarisasi beberapa alat pemeriksaan psikologi, dengan sampel sekitar 4500-5000 orang calon mahasiswa Unpad. Ini adalah cikal bakal IST (Intelligenz-Struktur-Test) di Indonesia. Jumlah 4500-5000 diperoleh dalam satu tahun, artinya dalam tahun yang sama. “Mengingat calon mahasiswa Unpad berasal dari berbagai macam daerah waktu itu, kami menganggap bahwa sampel itu bisa mewakili Indonesia. Sejak itu kita jadikan norma. Saya tidak tahu, apakah norma itu sekarang masih dipakai atau sudah diperbaharui,” kata Winsubrata.

Menurut Kusdwiratri Setiono, sewaktu beliau menjadi Ketua Jurusan di Fakultas Psikologi UNPAD, ada mata pelajaran yang bernama “Karya Praktis dan Partisipasi”, yaitu untuk memperkenalkan psikologi kepada institusi tertentu. Jadi, psikolog-psikolog diperkenalkan posisinya di masyarakat. Di lain pihak juga memberikan informasi kepada institusi-institusi mengenai hal-hal apa yang bisa dilakukan oleh psikolog. “Jadi, kalau masyarakat belum kenal, kitalah yang mengenalkan diri, agar masyarakat bisa memanfaatkan profesi psikolog,” kata Kusdwiratri. Masih menurut Kusdwiratri, Psikologi Unpad mengambil posisi psikologi sebagai natureweissenschaft, karena itu mempersyaratkan calon mahasiswa berasal dari Ilmu Pengetahuan Alam. Menurutnya, psikologi bisa berakar dari natureweissenschaft, bisa socialweissenschaft. Namun demikian, Kusdwiratri menyatakan bahwa ciri khas Psikologi Unpad adalah eksperimen, jadi mahasiswa banyak sekali dibekali eksperimen-eksperimen. Malah dulu, dalam kurikulum untuk Sarjana Muda, mahasiswa harus membuat alat, namanya Skripsi Metodik. Namun demikian, arah S2 justru ke socialweissenschaft, ke arah cross cultural psychology (psikologi lintas budaya).

Menurut Samsunuwiyati Mar’at, yang merupakan pengajar mata kuliah Psikolinguistik, psikolinguistik itu cukup sulit dan merupakan bagian psikologi kognitif berkaitan dengan proses bahasa. Psikoloinguistik mempengaruhi komunikasi kita dengan orang lain, juga dalam mengambil kesimpulan, keputusan, menyampaikan gagasan. Intelijen memakai psikolinguistik untuk mempengaruhi masyarakat. Masalah kedwibahasaan juga masuk dalam bidang garapan psikolinguistik. Dalam praktik, interferensi antar dua bahasa (misalnya, bahasa daerah dan bahasa Indonesia) sangat besar. Mar’at menyatakan bahwa bahasa bisa menjadi identitas suatu etnik. Ia mengatakan sebagai berikut:

“Dua bahasa saling bertemu nantinya ada gesekan, dan ada yang menimbulkan hal negatif maupun positif. Bagaimana supaya pengaruhnya tidak negatif? Bagaimana kita tetap merasa menjadi orang Minang, orang Aceh, namun kita tetap sadar kita ini Indonesia, bahasa Indonesia tetap sebagai bahasa pemersatu.”

Bob Dengah mengatakan:

“UI dasarnya kedokteran, UGM dasarnya pendidikan. Kita sendiri, psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, punya metode sendiri. Pada suatu waktu, kita mendapat suatu majalah psikologi dari Belanda. Di sana dikupas, ada artikel, bahwa ilmu psikologi dikupas lima. Sehingga secara teoretis ada lima sub disiplin, ada lima bagian.”

Kelima bagian tersebut menurut Bob Dengah adalah sebagai berikut. Pertama, metodologi. Metodologi meliputi semua mata kuliah psikologi, baik eksperimental maupun pendidikan. Filsafat merupakan suatu pendamping utama. Kedua, psikologi umum. Ada pendekatan psikologi umum, psikologi fungsi-fungsi. Pendekatannya bahwa semua manusia itu sama, memiliki fungsi-fungsi yang sama. Ada pengamatan, daya ingat, imajinasi, emosi, kemauan, motivasi. Itu semua dimiliki manusia. Manusia dianggap sama; hal ini biasa disebut psikologi umum. Psikologi umum adalah psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dewasa dan beradab, bukan yang masih anak, bukan yang primitif. Ketiga, psikologi perkembangan, mempelajari tingkah laku manusia mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan dewasa tua. Keempat, psikologi kepribadian, psikologi yang mempelajari karakter manusia, karakterologi. Kelima, psikologi sosial, mempelajari manusia dalam hubungan sosial, hubungan manusia dalam suatu kelompok, dalam hubungan kelompok, menghadapi lingkungan dan menghadapi kelompok.

Menurut John S. Nimpoeno, psikodgnostik membentuk pola pikir strategis dalam menghadapi individu, logika antisipasi, dan langkah strategis untuk membantu seseorang. Tes adalah alat untuk membantu ini. Menurut Nimpoeno:

“Jangan memulai dari tes dulu, melainkan dari apa itu manusia, bagaimana melihat manusia. Itu sebabnya ada psikologi umum psikologi klinis, psikologi sosial. Dengan bekal itu, kita akan bisa memahami seorang individu. Kita tidak melihat orang dari tes. Teori psikologi itu sangat penting, yang seharusnya diberikan pada awal semester-semester awal, dan seharusnya oleh seorang guru besar. Seorang guru besar mengajar di semester satu terutama untuk pemahaman mengenai manusia itu apa.”

Masih menurut Nimpoeno, pada 1970-an Psikologi Unpad masih kuat pada pemahaman tentang manusianya. Mata kuliahnya Psikodinamika. Baginya, Psikodinamika itu penting sekali. “Psikodinamika itu bukan klinis. Psikodinamika itu semua cabang psikologi utama, psikologi umum, sosial, klinis, perkembangan, pendidikan, itu semua masuk,” kata Nimpoeno. Nimpoeno juga menambahkan bahwa kita harus mengembangkan area aplikasi psikologi untuk daerah-daerah di Indonesia, dengan memperhatikan values serta harus survive dengan keadaan. Nimpoeno mengatakan:

“Misalnya carok atau siri, secara psikologi apakah itu. Kalau santet, saya termasuk tim waktu tahun 1960-an, tim pembahasan aliran-aliran ini. Ada 44 aliran di Jawab Barat. Itu psikologi. Namun saya tidak sempat untuk memperdalam.”

Saat ini, menurutnya begitu banyak permasalahan masyarakat yang belum bisa kita jawab. Misalnya, psikolog kota dibawa ke desa, ditanya mengapa orang desa itu cukup makan sekali saja sehari. Aspek psikologisnya ada. Lalu ia menjelaskan, pertama itu karena habit, turun-temurun. Lanjutnya:

“Misal, walaupun saya beri beras dan sebagainya, mereka masih masak jagung atau ketela. Habit itu. Kemudian posisi laki-laki dan wanita. Wanita ternyata lebih progresif di desa, misalnya menjadi TKW. Yang jaga kebun saya, tiga anaknya wanita ada di Saudi, Kuwait, Dubai. Jadi jutaan rupiah dikirim ke rumah. Ini muncul dalam disertasi, ternyata nilai-nilai ke-Sunda-an itu berubah. Silih asah, silih asuh, silih asih itu sudah berubah secara tidak terasa.”

Menurut Kusdwiratri Setiono, indigenous psychology mulai disadari. Jadi, misalnya, achievement motivation training atau assertive training penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Misalnya, disertasi Pak Suryana tentang AMT yang dikemas dalam satu pelatihan yang mempertimbangkan agama. Memasukkan agama karena spiritualitas atau unsur keagamaan itu di sini menonjol. Masih menurut Kusdwiratri, dalam psikologi perkembangan, jika kita langsung saja menerapkan konsep-konsep Barat di desa-desa dan membuat anak-anak berani mengutarakan atau mengekspresikan diri, misalnya; padahal di desa itu orangtua masih berpendapat bahwa anak itu harus menurut kepada orangtua, maka bisa ditafsirkan nantinya anak itu menentang orangtua. Menurut Kusdwiratri, ia mempelajari sesuatu dari usaha untuk mensosialisasikan hak anak di Kalimantan. Dalam sosialisasi hak anak, anak harus dilindungi, tidak boleh diperlakukan dengan kekerasan, antara lain dipukul. Yang dialami oleh para penyuluh hak anak adalah sosialisasi ini bertentangan dengan orangtua karena dianggap turut campur, dan hak anak itu bertentangan dengan hak orangtua. Jadi, menurutnya, perlu dipikirkan, apakah kondisi setempat tidak cocok diterapkan dengan konsep Barat. Maka kita harus mencari jalan bagaimana menyeimbangkan antara konsep atau teori dengan strategi agar tidak ditentang oleh para orangtua.

Kusdwiratri menambahkan bahwa dulu sewaktu Kongres ISPsI (Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia), psikologi ditantang oleh Emil Salim, waktu itu Menteri Lingkungan Hidup, untuk melahirkan konsep mengenai manusia Indonesia yang berkualitas. Namun rupanya kurang mendapat tanggapan dari psikolog. Ia mengingatkan agar psikologi jangan hanya memberikan pelayanan individual, tetapi juga ke masyarakat. Kita harus peduli terhadap psikologi orang miskin. Di Indonesia banyak orang miskin. Di sini banyak bencana alam. “Psikologi korban bencana alam bagaimana?” katanya.

Sutardjo A. Wiramihardja mengatakan:

“Saya pernah baca atau dengar pernyataan tentang penyesalan terhadap psikologi, setelah 1998 ada kekacauan politik, lalu bencana tsunami di Aceh, di Pangandaran, di Yogya. Hampir semua ilmu berbunyi, dan psikologi paling sedikit. Psikologi itu paling rendah kontribusinya. Kenapa orang mengatakan begitu? Padahal psikologi itu penting sebetulnya, karena mengatur perilaku orang berpolitik dan perilaku orang yang membangun. Saya ingat zaman dulu di China, filsafat, seni, ilmu disebutnya ‘di atas angin’, yang berarti statusnya tinggi tidak bisa hidup di dunia nyata (menara gading). Saya kira psikologi di Indonesia pun begitu.”

Dengan demikian, menurut Sutardjo, kita perlu memberanikan diri merumuskan psikologi Indonesia tapi bukan psikologi bangsa Indonesia. Orang Indonesia harus berani membangun pemikiran-pemikiran psikologinya. Dulu sudah ada, misalnya, dari Ki Hadjar Dewantoro, itu menyatakan tentang cipta, rasa, karsa, itu dinamis.

Sutardjo memberikan contoh mengenai pentingnya psikologi Indoensia:

“Budaya bisa menyebabkan salah paham. Seseorang didatangi klien sepasang ibu-bapak dari anak yang sudah beranjak dewasa dan baru mengikuti assertive training a la ‘Barat’, yang diselenggarakan di Indonesia. Anaknya menulis pada bapak-ibunya bahwa ia akan memaafkan bapak-ibunya tersebut kalau bapak-ibunya berbuat sesuatu untuknya. Bapak-ibunya depressed-nya luar biasa, ini anak macam apa nantinya. Sudah kebayang kan? Karena dalam Islam, bapak-ibu Cuma di­-‘cih’-kan saja dosa besar, apalagi kalau tidak maafkan papa mama. Itu masalah bahasa, itu kan masalah budaya. Saya tanyakan ternyata benar, ternyata asertif (kebablasan).”

Menurut Sunardi D. Sarojo, hal yang menarik dari Indonesia adalah kebhinekaan, Bhinneka Tunggal Ika. Karena kebhinnekaaan itu berarti ada keragaman. Adanya keanekaragaman pandangan-pandangan dengan sendirinya juga berarti ada keanekaragaman dari sudut pandang psikologi. Di samping itu, keanekaragaman budaya juga berarti keanekaragaman tingkah laku. Padahal objek utama psikologi itu tingkah laku. Menurut Sunardi, jika kita mau menyusun psikologi di Indonesia, terutama kita harus mendalami antropologi masyarakat, antropologi sosial (“Antropologi”, antropos dan logos, suatu sistem pengetahuan mengenai antropo, manusia). Manusia hidup tidak di dalam ruang hampa, selalu hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Tugas psikolog menurut Sunardi pertama-tama itu mengerti. Kalau kita sebagai konsultan polisi, kita harus memberikan pengertian supaya polisi juga mengerti apa yang kita mengerti. “Jadi dengan demikian bisa menilai si tersangka dengan benar, tidak salah sangka, tidak salah nilai, harus betul-betul tahu hal apa yang menggerakkan tersangka,” kata Sunardi.

Untung Kahar menyatakan bahwa respons masyarakat Indonesia terhadap psikologi masih belum optimal. Itu banyak karena kesalahan psikologi sendiri, kurang berkembang. Contohnya, pada kecelakaan pesawat terbang, aspek psikologi dalam kecelakaan pesawat terbang belum diperhatikan. Padahal, kontribusi psikologi sangat besar dalam membahas aspek aircraft accident. Mengenai human factor di dalam aviation psychology itu luas sekali. Adaptasi manusia pada mesin melahirkan human factor. Human factor dipertimbangkan dalam seleksi, training, dan maintaining. Salah satu bagian dari psikologi yaitu human engineering, atau di Jerman antropoteknik, melahirkan teknik dan eksperimen dan juga kibernetik. Ergonomi dan kibernetik masih belum berkembang. Untung Kahar menambahkan:

“Jadi bagaimana mungkin mengikuti perkembangan high-tech dalam konteks ini untuk kepentingan psikologi? Sekarang artificial intelligence saja ITB yang mengembangkan, bukan orang psikologi. Waktu kita bicara mengenai Delphi Method, tidak ada orang psikologi yang mengerti. Penerbang seperti Joko Purwoko setiap kali waktu ada kecelakaan pesawat pasti menulis. Mantan KSAU Pak Chapy, dia juga menulis sehingga dipanggil Presiden untuk membantu beliau. Tetapi tidak ada psikolog.”

Psikologi penerbangan sudah ada laboratorium yang besar sekali di Halim. Untung Kahar mengaku salut sekali terhadap Psikologi Angkatan Udara yang sampai bisa meyakinkan pimpinan sehingga tidak “kepalang tanggung”, sekian milyar dikucurkan untuk membangun laboratorium psikologi. Untung Kahar selanjutnya mengatakan:

“Kalau orang lain sudah menghargai, instansi sudah menghargai, maka kita harus mengisi agar tidak hilang kepercayaan itu. Yang belum dimiliki oleh psikologi Indonesia adalah pengembangan riset. Indonesia ini kaya sekali untuk diteliti, tetapi tidak berdiri sendiri khususnya yang berkaitan dengan variabilitas etnis. Ada sekitar 400-an etnis, sangat kaya untuk penelitian. Seorang psikolog juga harus menguasai antropologi dan sosiologi. Seperti halnya bioastronotic untuk ke angkasa luar harus menguasai psikologi, ilmu fisika, dan ilmu fisiologi. Penelitian jangan hanya membedakan Timur dan Barat, karena itu adalah sesuatu yang tidak jelas. Coba ditemukan karakteristik apa yang bisa dikembangkan di Indonesia. Itu akan menarik bagi dunia luar juga. Selanjutnya, di Psikologi Angkatan Darat sedang dikembangkan mengenai leadership. Di Fakultas ada juga yang mengembangkan. Persyaratannya pengetahuan harus luas. Kita ini kurang menguasai teori. Tanpa landasan teori, bukan ilmu namanya. Kita itu bukan kurang praktik, tapi kurang teori.”

March 19th, 2017 by