Archive for December 22nd, 2008

TUGAS AKHIR SEMESTER PSIKOLOGI DALAM TERAPAN I

December 22nd, 2008 -- Posted in Papers | Comments Off on TUGAS AKHIR SEMESTER PSIKOLOGI DALAM TERAPAN I

TUGAS AKHIR SEMESTER PSIKOLOGI DALAM TERAPAN I: Aplikasi Certainty Based Marking dalam Achievement Test Menggunakan Bentuk Pertanyaan Benar-Salah

Imam Salehudin, SE. NPM 0806436680 Program Pascasarjana Terapan Psikometri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia imams@ui.edu

Makalah ini mengeksplorasi aplikasi Certainty Based Marking (CBM) untuk mengatasi perilaku menebak (guessing behavior) dalam mengerjakan Achievement Test. Untuk menekankan pengaruh CBM dalam mengurangi perilaku menebak, maka bentuk pertanyaan yang dipilih untuk aplikasi CBM ini adalah bentuk pertanyaan Benar-Salah yang dipandang sebagai bentuk pertanyaan paling rentan terhadap perilaku menebak.

Kata Kunci: Certainty Based Marking, Achievement Test, True-False

Perilaku menebak merupakan salah satu faktor measurement error dalam berbagai tes maximum performance, khususnya bagi test pencapaian atau achievement test. Kecenderungan melakukan perilaku menebak sangat dipengaruhi oleh bentuk pertanyaan, instruksi pengisian dan metode penilaian. Certainty Based Marking atau CBM merupakan konsep yang disusun untuk mengakomodasi perilaku menebak melalui ketiga faktor diatas. Makalah ini berusaha mengekplorasi aplikasi CBM dalam Achievement Test menggunakan bentuk pertanyaan benar-salah atau true-false. Bentuk pertanyaan ini dipilih karena diyakini sebagai bentuk pertanyaan yang paling rentan terhadap perilaku guessing. Makalah ini juga berusaha mengembangkan alat ukur achievement berupa soal UAS bagi mata kuliah “Perilaku Organisasi” menggunakan CBM dan membandingkan soal tersebut dengan soal UAS menggunakan essay. Perbandingan dilakukan dengan soal berbentuk essay karena bentuk soal ini merupakan bentuk soal yang diyakini paling kebal terhadap perilaku guessing.

Achievement Test Sebelum membandingkan antara kedua bentuk pertanyaan, terlebih dahulu perlu dibahas mengenai definisi dan sifat Achievement Test. Achievement Test dapat didefinisikan sebagai instrumen tes yang bertujuan untuk mengukur derajat pencapaian seseorang dalam memperoleh informasi tertentu atau menguasai keahlian tertentu, umumnya sebagai hasil dari suatu instruksi atau pelatihan yang terencana.. Achievement Test umumnya dirancang untuk mengukur hasil dari sebuah program belajar dan pelatihan. Achievement test digunakan mengukur hasil pengalaman yang relatif terstandarisasi antar individu. Umumnya digunakan untuk menggambarkan bagaimana keberhasilan seseorang setelah mengikuti pelatihan tertentu. Contoh Achievement Test antara lain: UN, Kuis, UTS, UAS, dsb. Berdasarkan jenis tingkah laku yang diukur, achievement test dapat kategorikan sebagai maximum performance test (ability test/optimal performance test), dimana terdapat standar kinerja atau hasil penilaian tertentu yang harus dicapai subjek pengukuran tersebut. Selain itu, hasil tes dapat digunakan untuk mengurutkan seluruh subjek pengukuran, dari subjek dengan kinerja tertinggi hingga subjek dengan kinerja terendah.

Bentuk Pertanyaan Terbuka dan Tertutup Secara umum bentuk pertanyaan dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni pertanyaan terbuka dan tertutup. Pertanyaan terbuka merupakan bentuk pertanyaan dimana subjek dapat menuliskan jawaban apapun yang ia inginkan tanpa diberikan pilihan jawaban tertentu. Bentuk pertanyaan seperti ini bisa berupa essay maupun pertanyaan “isi yang kosong” (fill in the blanks). Contoh pertanyaan terbuka misalnya pertanyaaan “Ibukota Indonesia adalah _______________” dan “Jelaskan apa yang anda ketahui mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi sebaran penduduk di Indonesia!” Pertanyaan tertutup merupakan bentuk pertanyaan dimana subjek diberikan beberapa pilihan pertanyaan dan diminta untuk memilih salah satu. Variasi bentuk pertanyaan ini umumnya berasal dari jumlah pilihan jawaban yang diberikan. Diantara bentuk pertanyaan tertutup, bentuk pertanyaan benar-salah (true-false) dipandang sebelah mata dibanding bentuk pertanyaan pilihan ganda yang lain, sedikitnya jumlah pilihan dan kesederhanaan proses berpikir yang dibutuhkan sehingga dianggap terlalu mudah dan rentan terhadap perilaku menebak. Bisa jadi pandangan tersebut dapat dijustifikasi. Friesbie (1973) menemukan bahwa bentuk pertanyaan benar-salah secara signifikan memiliki reliabilitas yang lebih rendah dibandingkan bentuk pertanyaan pilihan ganda. Tetapi ia menambahkan bahwa secara umum masih dapat mengukur hal yang sama dengan pilihan ganda (valid). Rendahnya reliabilitas ini dapat diatribusikan terhadap tingginya perilaku menebak.

Perilaku Menebak Nunnally (1970) menjelaskan bahwa salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengukuran maximum performance adalah pengaruh perilaku menebak jawaban terhadap distribusi skor secara statistik dan psikometrik. Perilaku menebak jawaban ini muncul pada bentuk tes yang memiliki jawaban yang benar dan jawaban yang salah. Perilaku ini dominan muncul pada bentuk pertanyaan tertutup pilihan ganda, walaupun tidak membatasi kemungkinan terjadinya perilaku ini pada bentuk pertanyaan terbuka. Walaupun bentuk pertanyaan pilihan ganda memiliki kelemahan terhadap perilaku menebak dibandingkan pertanyaan terbuka, namun pilihan ganda memiliki bias respons yang lebih kecil dibanding pertanyaan tertutup. Selain itu, bentuk pilihan ganda dapat mempermudah penilaian dan meminimalisir bias subjektivitas penilai dalam memberikan penilaian. Nunnally menambahkan, responden seringkali menebak dengan melakukan eliminasi terhadap pilihan jawaban yang mereka anggap tidak mungkin benar. Oleh karena itu, alternatif pilihan sesungguhnya cenderung lebih kecil dari alternatif pilihan yang diberikan sehingga estimasi efek menebak cenderung lebih kecil dari efek sesungguhnya (underestimasi). Untuk mengatasi efek eliminasi, pembuat alat ukur dapat memasukkan satu atau lebih pilihan “jebakan” yang sangat masuk akal dan dapat menipu responden yang tidak benar-benar mengetahui jawaban yang benar. Pilihan jebakan ini bahkan dapat membingungkan dan menipu responden yang sebenarnya mengetahui apa jawaban yang benar. Oleh karena itu, praktik jebakan ini dinilai sebagai praktik yang kurang baik dan praktik yang ideal adalah menyusun pertanyaan dengan satu jawaban yang benar dan semua sisa alternatifnya adalah pertanyaan “jebakan”. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku menebak adalah penggunaan instruksi tertentu untuk mendorong responden untuk tidak menebak jawaban yang benar. Instruksi ini termasuk memberikan penalti untuk jawaban yang salah dan tidak ada keharusan untuk mengisi semua pertanyaan. Meskipun begitu, penggunaan instruksi tertentu ini dapat memasukkan unsur error dari perbedaan bagaimana responden merespon instruksi tersebut. Secara umum, instruksi untuk mengisi semua jawaban -walaupun harus menebak- merupakan instruksi yang lebih akurat dengan penggunaan model estimasi perilaku menebak yang sudah dijelaskan pada poin sebelumnya. Setelah reliabilitas instrumen antara bentuk pertanyaan pilihan ganda dengan pertanyaan terbuka diperbandingkan, ternyata reliabilitas pertanyaan pilihan ganda tidak serendah yang diestimasi Nunnally. Hal ini diakibatkan oleh asumsi yang lemah bahwa pertanyaan terbuka adalah pertanyaan dengan jumlah alternatif tidak terbatas. Pada kenyataannya, bentuk pertanyaan terbuka juga memiliki suatu set alternatif yang terbatas dan terbuka pada perilaku menebak yang sama dengan bentuk pertanyaan tertutup. Selain itu, setelah reliabilitas instrumen dengan jumlah alternatif jawaban yang berbeda-beda dihitung dan diperbandingkan, ditemukan bahwa reliabilitas cenderung meningkat seiring dengan jumlah alternatif jawaban yang diberikan. Walaupun begitu, peningkatan reliabilitas terhadap jumlah alternatif jawaban tersebut berlaku pada reliabilitas instrumen secara keseluruhan dan bukan merupakan peningkatan yang dramatis. Khusus untuk tes kecepatan (speed test), Nunnally juga menambahkan bahwa instruksi menjadi sangat penting untuk meminimalisir efek menebak. Meskipun demikian, untuk tes kecepatan sangat dianjurkan untuk menggunakan bentuk pertanyaan terbuka. Dalam tes kecepatan, responden tidak diharapkan dapat mengerjakan semua pertanyaan.. Jika tidak ada halangan yang signifikan untuk menebak, maka efek menebak pada tes kecepatan menjadi lebih besar dibanding efek menebak pada tes kekuatan (power test). Certainty Based Marking Certainty Based Marking (CBM) mengakomodasi perilaku menebak dan eliminasi alternatif jawaban dengan menanyakan tingkat keyakinan jawaban yang dianggap benar oleh subjek. Oleh karena itu, CBM mampu membedakan antara jawaban yang reliabel dan jawaban yang asal menebak. Selain itu, skema penilaian CBM memberikan penghargaan bagi jawaban benar dan memberikan penalti bagi jawaban salah berdasarkan tingkat keyakinan subjek terhadap jawaban tersebut. Hal ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi titik-titik kelemahan atas proses pembelajaran yang dilakukan sebelumnya. CBM juga dapat dengan mudah diaplikasikan pada bahan-bahan tes yang sudah ada (Gardner-Medwin dan Curtin, 2007). Bentuk pertanyaan CBM serupa dengan pertanyaan biasa, namun selain diharapkan untuk mengisi jawaban yang tepat, subjek juga mengisi tingkat keyakinan yang ia miliki terhadap jawabannya sendiri, yakni: (1) Sangat Yakin (2) Yakin (3) Agak Yakin (4) Tidak Tahu Pilihan keempat (Tidak Tahu) diberikan agar jika seorang subjek memiliki tingkat keyakinan yang sangat rendah dan tidak ingin mendapatkan penalti jika jawabannya salah, maka ia dapat memilih tidak tahu. Wood (1976) menjelaskan bahwa instruksi pengerjaan memiliki pengaruh signifikan terhadap reliabilitas dengan mempengaruhi perilaku menebak. Dalam CBM, diinstruksikan bahwa semua pertanyaan harus dijawab, dan penilaian terhadap jawaban dipengaruhi oleh tingkat keyakinan. Untuk mempermudah instruksi, dibawah ini terdapat tabel skema penilaian yang mudah dipahami. Tabel 1: Skema Penilaian CBM No. Jawaban Tingkat Keyakinan Tidak Tahu Agak Yakin Yakin Sangat Yakin A Sesuai Dengan Kunci 0 1 2 3 B Berbeda dengan Kunci 0 -1 -4 -9

Seperti yang sudah dijabarkan diatas, skema penilaian CBM memberikan penghargaan atas jawaban benar yang memiliki tingkat keyakinan yang tinggi. Sebaliknya, CBM juga memberikan penalti yang besar bagi jawaban salah yang memiliki tingkat keyakinan yang tinggi. Grafik rerata ekspektasi nilai berdasarkan tingkat keyakinan, untuk masing-masing item pertanyaan dapat dilihat dibawah.

Gambar 1: Grafik Rerata Ekspektasi Nilai Berdasar Tingkat Keyakinan (Nilai Absolut)

Gambar 2: Grafik Rerata Ekspektasi Nilai Berdasar Tingkat Keyakinan (Nilai Terstandarisir)

Berdasarkan grafik diatas, titik tengah penilaian untuk masing-masing item adalah 67%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jika rerata nilai salah satu item dibawah 67% maka terdapat kesalahan pemahaman yang sistematis yang dapat diatribusikan pada kesalahan kunci jawaban atau kesalahan pengajaran.

Aplikasi CBM Dalam Bentuk Pertanyaan Benar-Salah Aplikasi CBM dalam bentuk pertanyaan Benar-Salah dapat dilihat pada Lampiran 3. Pertanyaan disusun menggunakan format Likert yang sudah cukup dikenal oleh mahasiswa sebagai subjek pengukuran. Pertanyaan Benar-Salah diambil dari buku “Organizational Behavior” oleh Robbins dan Judge (2007). Dalam makalah ini, penulis hanya memberikan 10 item pertanyaan Benar-Salah mengenai “Komunikasi” sebagai contoh aplikasi CBM dalam achievement test. Dalam praktik yang sesungguhnya, untuk ujian selama 2.5 jam dapat diberikan sekitar 100 buah pertanyaan yang secara komprehensif mencakup materi yang akan diujikan.

Perbandingan Soal Ujian Akhir Semester “Perilaku Organisasi” antara Soal Benar-Salah CBM dengan Essay Sebagai perbandingan terhadap aplikasi CBM dalam bentuk pertanyaan benar salah, maka penulis menyertakan Soal Ujian Akhir Semester Mata Kuliah “Perilaku Organisasi” Semester Genap 2007/2008 pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang dapat dilihat pada Lampiran 2. Selain itu, penulis juga menyertakan materi perkuliahan selama satu semester yang terdapat dalam Silabus Mata Kuliah “Perilaku Organisasi” Semester Genap 2007/2008 dalam Lampiran 1. Sepuluh buah contoh pertanyaan Benar-Salah yang diberikan pada Lampiran 3 dapat dibandingkan dengan soal essay nomor 1 pada Lampiran 1.

Kesimpulan CBM merupakan alternatif yang sangat menjanjikan dalam mengidentifikasi dan mempertimbangkan efek menebak dalam pengukuran Achievement. Aplikasi CBM tidak terbatas pada bentuk pertanyaan benar-salah. CBM dapat diaplikasikan pada bentuk pertanyaan pilihan ganda yang lain, dan bahkan pertanyaan terbuka seperti essay. Keunggulan soal benar-salah menggunakan CBM dibanding soal essay adalah memungkinkan penguji untuk memberikan jumlah item yang lebih banyak sehingga meningkatkan content validity alat ukur. Selain itu, soal benar-salah CBM memudahkan proses penilaian dan menghilangkan subjektivitas penilai.

Referensi 1. Anon. University of Wisconsin-Stout. (2007, June 11). Glossary. Diakses 17 Desember, 2008, from http://faculty.uwstout.edu/lawlerm/at101/glossary.shtml 2. Frisbie, D.A. (1973) Multiple Choice Versus True-False: A Comparison of Reliabilities and Concurrent Validities. Journal of Educational Measurement. 10(4). Diunduh dari JSTOR. 3. Gardner-Medwin, A.R. & Curtin, N.A. (2007). Certainty-Based Marking (CBM) For Reflective Learning and Proper Knowledge Assessment. REAP International Online Conference on Assessment Design for Learner Responsibility, 29th-31st May, 2007. Diunduh dari http://ewds.strath.ac.uk/REAP07 4. Nunnally, J.C. Jr (1970). Introduction to Psychological Measurement. New York: McGraw-Hill Book Company. 5. Wood, R. (1976). Inhibiting Blind Guessing: The Effect of Instructions. Journal of Educational Measurement, 13:4 (Winter, 1976), pp. 297-307. Diterbitkan oleh National Council on Measurement in Education. Diunduh dari JSTOR (http://www.jstor.org/stable/1434106). Tanggal 13 Oktober 2008. Lampiran 1: Silabus Perkuliahan “Perilaku Organisasi” Semester Genap 2007/2008

Kuliah Ke- Tanggal Topik Bahasan Bacaan 1 04-02-08 Pengantar pada Mata Kuliah R:Bab 1, G:Bab 1 2 11-02-08 “Foundations of Individual Behavior” dan “Attitudes and Job Satisfaction” R: Bab 2 & 3 3 18-02-08 “Personality and Values” R: Bab 4 4 25-02-08 “Perception and Individual Decision Making”dan “Motivation Concepts” R: Bab 5 & 6 5 03-03-08 “Motivation : From Concepts to Applications” dan “Emotions and Moods” R: Bab 7 & Bab 8 6 10-03-08 “Foundations of Group Behavior” R: Bab 9 7 17-03-08 “Understanding Work Teams” R: Bab 10 24-03-08 — 04-04-08 : Ujian Tengah Semester 8 09-04-08 “Communication” R: Bab 11; G: Bab 15 9 16-04-08 “Basic Approaches to Leadership” “Contemporary Issues in Leadership” R: Bab 12 & 13 10 23-04-08 “Power and Politics” “Conflict and Negotiations” R: Bab 14 & 15 11 30-04-08 “Foundations of Organizational Structure” R: Bab 16 12 07-05-08 “Organizational Culture” R: Bab 17 13 14-05-08 “Human Resources Policies and Practices” G: Bab 18 14 21-05-08 “Organizational Change and Stress Management “ G: Bab 19 28-05-06 — 08-06-06 : Ujian Akhir Semester R: Robbins, Stephen P., and Timothy A Judge, Organizational Behavior, 12th edition, New Jersey, Pearson Prentice Hall, 2007. G: Gibson, James L., John M. Ivancevich, Jr., James H. Donnelly, Robert Konopaske, Organizations: Behavior, Structure, Processes, McGrawHill/Irwin, 11th edition, 2005.

Lampiran 2

UJIAN AKHIR SEMESTER SEMESTER GENAP 2007/2008

Mata Kuliah : Perilaku Keorganisasian Dosen : Tim Dosen Hari/Tanggal : Senin, 26 Mei 2008 Waktu : 150 menit (13.00-15.30) Sifat Ujian : Closed Book (Buku Tertutup)

Pilih dan kerjakan 6 dari 9 soal di bawah. Semua soal memiliki bobot sama. Baca semua soal dengan teliti dan kerjakan yang paling mudah terlebih dahulu..

Soal 1: Komunikasi. Sebutkan dan jelaskan hambatan-hambatan terhadap efektivitas komunikasi menurut Robbins dan saran-saran Robbins untuk mengatasinya. (Jawaban : Robbins, hal 339-342).

Soal 2: Kepemimpinan: Pendekatan-pendekatan Dasar. Sebagai seorang manager, anda dihadapkan pada sekelompok anak buah anda yang akhir-akhir ini performansi kerja mereka terus menurun. Terlihat kurang ada usaha pada mereka untuk memberikan yang terbaik pada perusahaan. Padahal anda tahu bahwa mereka sebenarnya sangat mampu untuk bisa melaksanakan tugas mereka dengan baik. Berpegang pada Teori Kepemimpinan Situasional dari Hersey and Blanchard, gaya kepemimpinan apa yang harus anda pilih untuk bisa mengatasi permasalahan ini. Gunakan prinsip pemilihan gaya kepemimpinan menurut Teori Kepemimpinan dari Hersey and Blanchard didalam menunjang pilihan anda. (Jawaban : Robbins, hal 367-368)

Soal 3: Kepemimpinan: Masalah-masalah Masakini. Kepemimpinan tidak bebas nilai. Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dalam menjalankan perannya mempertimbangkan cara-cara pencapaian tujuan yang tepat maupun aspek moral dari tujuan tersebut. Setujukah anda dengan pendapat di atas? Bila setuju/tidak setuju berikan alasan yang mendasari jawaban anda disertai contoh konkrit. (Jawaban: Robbins, hal 387-388).

Soal 4: Kekuasaan dan Berpolitik. Sumber-sumber dari kekuasaan dapat berasal dari sumber formal ataupun sumber pribadi. Jelaskan apa saja yang menjadi sumber kekuasaan formal atapun pribadi disertai dengan contohnya! (Jawaban: Robbins, hal. 417-418)

Soal 5: Konflik dan Negosiasi. Konflik dalam organisasi memiliki tingkatan yang berbeda dan perlu penanganan yang tepat agar tidak mempengaruhi kinerja unit serta kepuasan kerja karyawan. Dengan demikian seorang atasan dituntut untuk mampu memilih metoda/cara mengatasi konflik yang dihadapi sesuai tingkatan dan karakteristika masing-masing. Jelaskan jenis metoda/cara penyelesaian konflik yang sudara ketahui sesuai tingkatan konflik, disertai dengan contoh. (Jawaban : Robbins, Exhibit 15-10, hal 469-470).

Soal 6: Dasar-dasar Struktur Organisasi. Deskripsikan beberapa rancangan struktur organisasi umum dan terbaru yang anda ketahui beserta kelebihan dan kelemahannya. Sertakan penjelasan anda dengan keterkaitannya pada elemen utama dari struktur organisasi! (Jawaban: Robbins hal 485-494)

Soal 7: Budaya Organisasi. Menurut Robbins, dimensi-dimensi apakah yang membedakan spiritual organizations dan non spiritual organizations? (Jawaban: Robbins, hal. 531-532)

Soal 8: Kebijakan dan Praktik-praktik SDM. Jelaskan berbagai tujuan evaluasi kinerja dalam sebuah organisasi dan berikan beberapa saran yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas evaluasi kinerja? (Jawaban: Robbins, hal 553-554, 558)

Soal 9: Perubahan Organisasi dan Manajemen Ketegangan (Stress). Uraikan resistensi/penolakan terhadap perubahan yang bersumber pada faktor-faktor organisasional. (Jawaban: Robbins, Exhibit 19-2, hal. 577-578)

—Selamat Mengerjakan—

Lampiran 3: Contoh Pertanyaan Benar Salah Untuk Ujian Akhir Semester “Perilaku Organisasi” Chapter 11: Komunikasi No. Pernyataan (1) Sangat Yakin Salah (2) Yakin Salah (3) Agak Yakin Salah (4) Tidak Tahu (5) Agak Yakin Benar (6) Yakin Benar (7) Sangat Yakin Benar 1 Proses Komunikasi merupakan langkah-langkah antara sumber atau pengirim yang menghasilkan penyampaian dan pemaham-an pengertian secara verbal. (Kunci: Salah) 2 Elemen kunci dalam proses komunikasi adalah (1) Pengirim, (2) Encoding, (3) Pesan, (4) Saluran, (5) Penerima, dan (6) Decoding. (Kunci: Salah) 3 Efektivitas komunikasi dapat diukur dari tingkat kesamaan pesan yang dipahami penerima dengan pesan yang dimaksud pengirim. (Kunci: Salah) 4 Informasi Berlebih Beban (“Overload”) yang terjadi apabila volume informasi melebihi kemampuan mengirim dan mengolah informasi merupakan hambatan berasal dari pihak Pengirim dan Penerima. (Kunci: Benar) 5 Budaya suku Tiong Hoa dapat dikategorikan sebagai Budaya Konteks Rendah karena mengandalkan isyarat non-verbal dan situasional. (Kunci: Salah) 6 Ciri-ciri budaya Polikronik adalah menepati janji waktu; ketat mengikuti rencana; menghormati hak-hak pribadi; menghormati milik pribadi; dan tepat waktu dengan siapa saja. (Kunci: Salah) 7 Saluran yang “Kaya Informasi” adalah saluran yang mampu menangani berbagai jenis komunikasi dan isyarat sekaligus; memungkinkan umpan-balik secepatnya; dan dapat menciptakan rasa keakraban dan kedekatan. (Kunci: Benar) 8 Jaringan non-formal (grapevine) merupakan saluran utama komunikasi antara karyawan yang tidak dapat dikendalikan oleh pimpinan dan diyakini lebih akurat dibanding dengan saluran komunikasi resmi.(Kunci: Benar) 9 Jaringan Komunikasi Rantai memiliki kecepatan informasi sedang, ketepatan informasi tinggi. kecenderungan munculnya pemimpin yang sedang, dan kepuasan anggota yang sedang.(Kunci: Benar) 10 Berikut adalah contoh selective perception: Pembicara dengan suara yang merdu, wajah yang bagus, dan ekspresi muka yang menyenangkan, dipersepsikan lebih menguasai per-soalan dan tenang dan karena itu lebih meyakinkan, dibanding dengan yang tidak. (Kunci: Salah)

TUGAS AKHIR SEMESTER PROSES MENTAL

December 22nd, 2008 -- Posted in Papers | Comments Off on TUGAS AKHIR SEMESTER PROSES MENTAL

TUGAS AKHIR SEMESTER PROSES MENTAL: Shalat Istikharah: Mekanisme Religious Coping dalam Proses Pengambilan Keputusan

Imam Salehudin, SE. NPM 0806436680 Program Pascasarjana Terapan Psikometri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia imams@ui.edu

Abstraksi Makalah ini berusaha mengupas mengenai shalat istikharah sebagai mekanisme religious coping umat Islam, khususnya ketika menghadapi pengambilan keputusan yang dapat menimbulkan stress. Bagian pertama makalah ini adalah mengenai stress yang dapat ditimbulkan dalam proses pengambilan keputusan. Bagian kedua makalah ini menganalisa tafsir text doa shalat istikharah sesuai hadits Nabi Muhammad SAW terkait dalam peran shalat istikharah dalam meminimalisir stress yang ditimbulkan dalam proses pengambilan keputusan. Berdasar tafsir doa tersebut, dapat dilihat bahwa shalat istikharah merupakan wujud penyerahan diri kepada Allah SWT dan pengakuan atas keterbatasan rasionalitas manusia (bounded rationality) atas apa yang baik dan buruk bagi seseorang dimasa depan. Shalat istikharah dapat meminimalisir stress dalam pengambilan keputusan melalui keyakinan bahwa apapun hasil (outcome) dari suatu keputusan adalah apa yang terbaik bagi orang tersebut pada akhirnya, bahkan jika hasil itu terlihat buruk pada awalnya.

Kata Kunci: Decision Making Stress, Religious Coping, Islam

Latar Belakang Pemahaman awwam umumnya beranggapan bahwa shalat istikharah hanya dilakukan untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT melalui mimpi ketika seseorang bimbang dan tidak dapat memutuskan suatu perkara. Sebaliknya, Islam menganjurkan pengikutnya untuk melakukan shalat istikharah setiap hendak melakukan pengambilan keputusan, terlebih lagi jika keputusan yang diambil memiliki implikasi yang besar dalam hidup orang tersebut. Secara ilmiah, penulis berpendapat bahwa shalat istikharah merupakan mekanisme penting dalam religious coping seorang penganut agama Islam, ketika dihadapkan pada situasi pengambilan keputusan yang dalam menimbulkan tingkat stress yang dapat menghambat proses pengambilan keputusan yang ideal. Oleh karena itu, penulis berusaha membahas mekanisme ini menggunakan literatur ilmiah yang sudah ada mengenai religious coping.

Bagian 1: Stress dan Mekanisme Coping Stress dalam Proses Pengambilan Keputusan Sebelum membahas mengenai mekanisme religious coping, terlebih dahulu perlu penulis akan membahas mengenai apa itu stress dan bagaimana stress dapat muncul dalam proses pengambilan keputusan. Stress merupakan istilah yang sulit dijelaskan dalam satu kalimat karena banyaknya pengertian yang berbeda mengenai stress. Hans Selye, tokoh yang pertama kali menggunakan istilah stress, mendefinisikan stress untuk menjelaskan sebab timbulnya penyakit tertentu pada binatang subjek percobaan. Ia mendefinisikan Stress sebagai respons tubuh yang tidak spesifik terhadap setiap tuntutan untuk perubahan (American Institute of Stress). Dyer (2006) memberikan definisi yang lebih tajam, menyatakan bahwa Stress merupakan reaksi dari tubuh terhadap suatu perubahan yang membutuhkan respons atau penyesuaian fisik, mental atau emosional. Ia menambahkan bahwa Stress dapat timbul dari berbagai situasi atau pikiran yang menyebabkan munculnya rasa frustasi, marah, gugup dan cemas. Dalam konteks organisasi, Robbins dan Judge (2007) dalam buku mereka “Organizational Behavior” mendefinisikan stress sebagai kondisi dinamis dimana individu dihadapkan pada kesempatan, batasan, atau tuntutan terkait dengan apa yang ia inginkan, dimana hasil yang mungkin keluar dipersepsikan sebagai sesuatu yang penting namun tidak pasti.

Lemyre dan Tessier (1990) menyatakan bahwa keadaan stress seseorang merupakan hasil interaksi antara lingkungan sekitar seseorang dengan representasi lingkungan sekitar berdasarkan individu itu sendiri. Selye sendiri mendefinisikan stimulus yang dapat menyebabkan stress sebagai “Stressor”.

Gambar 1: Sumber-sumber stressor dalam konteks pekerjaan Sumber : Robbins (2007)

Robbins dan Judge (2007) mengutip hasil penelitian Parker dan DeCotiis (1983) mengenai sumber-sumber stressor dalam konteks pekerjaan. Parker dan DeCotiis menyatakan bahwa sumber stressor dalam pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni faktor lingkungan, faktor organisasi dan faktor personal, dan pengaruh masing-masing stressor dimoderasi oleh individual differences. Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, kita dapat menganalisa bagaimana stressor dapat muncul dalam berbagai tahapan pengambilan keputusan. Robbins (2007) mendefinisikan keputusan sebagai pilihan yang diambil dari dua atau lebih alternatif. Sementara itu, pengambilan keputusan dapat didefinisikan sebagai proses kognisi yang dilakukan untuk mencapai satu keputusan (WordNet®3.0, 2006). Ciccarelli (2005) mengaitkan konsep pengambilan keputusan dengan konsep pemecahan masalah. Keduanya merupakan konsep yang saling terkait dan seringkali sulit dibedakan. Ciccareli mendefinisikan Problem solving atau pemecahan masalah sebagai proses kognisi yang terjadi ketika sebuah tujuan harus dicapai melalui jalan pemikiran dan perilaku tertentu. Sejalan dengan itu, teori pengambilan keputusan mengemukakan bahwa pengambilan keputusan bertujuan untuk mencari keputusan optimal, dimana tidak tersedia keputusan lain yang memberikan hasil yang lebih besar. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa proses pengambilan keputusan dapat didefinisikan sebagai proses identifikasi dan evaluasi berbagai pilihan yang mungkin diambil, berdasarkan suatu set kriteria yang dimiliki pengambil keputusan, yang bertujuan untuk memilih satu solusi yang memberikan hasil paling besar yang dapat dimungkinkan. Robbins dan Judge (2007) menjabarkan langkah-langkah pengambilan keputusan rasional untuk mencapai solusi yang dapat memberikan hasil yang paling besar, antara lain: 1. Mendefinisikan masalah. 2. Mengidentifikasi kriteria keputusan. 3. Mengalokasikan bobot untuk masing-masing kriteria. 4. Mengembangkan alternatif. 5. Mengevaluasi alternatif. 6. Memilih alternatif terbaik.

Pada kenyataannya, pengambilan keputusan rasional diatas sulit untuk diterapkan. Terdapat beberapa asumsi yang harus terpenuhi untuk pengambilan keputusan rasional dapat berjalan dengan baik, antara lain: • Masalah yang dihadapi dapat teridentifikasi dengan jelas; • Semua alternatif (dan masing-masing konsekwensinya) dapat teridentifikasi dengan jelas. • Preferensi kriteria alternatif yang diinginkan dapat dibedakan dengan jelas. • Bobot kriteria tidak berubah; • Tidak ada kendala waktu dan biaya dalam mencari alternatif dan kriteria.

Model keputusan rasional jarang sekali dapat diaplikasikan secara sempurna karena adanya keterbatasan –keterbatasan diatas. Untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan untuk masalah yang tidak memenuhi kondisi-kondisi diatas, maka dikembangkan model Bounded Rationality, dimana individu membuat keputusan berdasarkan model yang disederhanakan sehingga dapat menarik esensi dari permasalahan tanpa menangkap seluruh kompleksitas masalah tersebut. Model bounded rationality menangkap keterbatasan manusia dalam mengidentifikasi dan menimbang alternatif dan kriteria. Model pengambilan keputusan dengan bounded rationality dapat dideskripsikan sebagai berikut: • Orang membuat keputusan berdasarkan penyederhanaan masalah dan aspek-aspeknya sehingga mudah dimengerti. • Tidak semua keadaan dipandang “masalah”; • Tidak diketahui semua kriteria, hanya diketahui yang pernah dikenali; • Tidak diketahui bobot yang tepat; • Tidak diperiksa semua alternatif yang teoretis tersedia, hanya dipertimbangkan alternatif-alternatif yang dekat dengan yang lazim ditempuh; • Alternatif diurut menurut yang paling memenuhi kriteria; • Tidak diambil alternatif yang paling baik tetapi yang cukup baik.

Pengambilan keputusan dengan rational model merupakan suatu kondisi ideal, Oleh karena itu, sebagian besar proses pengambilan keputusan dilakukan menggunakan model bounded rationality. Namun demikian, penting untuk ditekankan bahwa dalam model bounded rationality tidak semua informasi yang masuk akan diproses sebagai input dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, tingkat ketidakpastian yang dihadapi pengambil keputusan menjadi semakin tinggi. Sementara itu, berdasarkan definisi Stress Robbins dan Judge (2007), tingkat ketidakpastian dan tingkat kepentingan hasil merupakan faktor yang menentukan intensitas stress. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat kepentingan dan ketidakpastian suatu keputusan yang harus diambil, dapat dipastikan bahwa stress yang dialami pengambil keputusan juga akan semakin tinggi. . Problem-Based, Emosional dan Religious Coping Coping dapat didefinisikan sebagai mekanisme seseorang untuk mengatasi stress yang ia alami. Umumnya, coping digunakan untuk menjelaskan perilaku seseorang dalam menurunkan tingkat stress yang ia alami, dari tingkat yang terlalu tinggi ke tingkat yang masih dapat ia tolerir. Namun, Matlin, Wethington dan Kessler (1990), menyatakan bahwa pengaruh dan hasil mekanisme coping dapat berbeda antar individu. Satu perilaku yang identik dapat menghasilkan dampak yang berbeda antar individu dan bahkan antar konteks. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil dan pengaruh dari coping. Mekanisme coping sendiri dapat dibagi menjadi tiga tipe, yakni Problem based, Emotional dan Religious Coping. Meskipun demikian, dalam literatur ilmiah yang tersedia, pembahasan lebih ditekankan pada dua coping yang pertama, sementara pembahasan mengenai religious coping masih relatif minim. Hal ini mungkin disebabkan karena sebagian besar konteks penelitian mengenai coping dilakukan di negara-negara dimana religi bukan merupakan faktor signifikan dalam proses mental sebagian besar penduduknya. Problem-based coping melibatkan perilaku yang berusaha untuk secara langsung mengatasi permasalahan yang menjadi sumber stress. Contoh problem based coping dalam pengambilan keputusan adalah seorang calon mahasiswa yang berusaha mengurangi stress dan kecemasan dengan mencari informasi dari berbagai sumber mengenai berbagai jurusan bidang studi S1 dan D3 yang mungkin ia pilih, sebelum menentukan pilihan yang ia ambil. Emotional coping melibatkan perilaku yang berusaha mengurangi gejala-gejala stress, khususnya yang berupa emosi negatif, tanpa mengatasi permasalahan yang menjadi sumber stress. Contoh emotional coping dalam pengambilan keputusan adalah seorang calon mahasiswa yang meyakinkan dirinya bahwa sebenarnya pendidikan itu tidak terlalu penting, dan jika pilihan jurusan yang dia ambil salah, dia bisa dengan mudah keluar dan membuka bisnis. Sementara itu, religious coping melibatkan perilaku yang menekankan unsur spiritual dalam usaha mengurangi stress. Religious coping terkadang diklasifikasikan sebagai sub-kategori dari emotional coping. Namun, Aldwin (2007) menjelaskan bahwa terkadang individu dapat menggunakan doa sebagai sumber problem-focused coping (misalnya: meminta bantuan, kesembuhan, atau hal material lain), tetapi bisa juga menjadi sarana emotion-focused coping (misal: orang yang berdoa untuk mencari ketenangan). Dalam kejadian lain, doa bisa melibatkan elemen social support dengan menjadikan Tuhan sebagai tempat mencurahkan isi hati. Aldwin (2007), mengutip hasil penelitian Pargament, Koenig, and Perez (2000) yang berpendapat bahwa terdapat lima fungsi kunci religious coping, yakni: Pemberian Makna, Keyakinan Kendali, Ketentraman secara Spiritual, Keintiman secara Spiritual, dan Transformasi Hidup. Pemberian makna dilakukan dengan meyakini kerangka pikir yang disediakan oleh suatu Agama/Kepercayaan untuk memahami makna suatu peristiwa yang ia alami, misalnya keyakinan terhadap karma atau adanya Hari Pembalasan. Agama juga seringkali dapat memberikan keyakinan kendali terhadap peristiwa yang tidak terkendali. Ketentraman secara spiritual berasal dari penyerahan diri individu terhadap kehendak Kekuatan yang lebih tinggi. Keintiman berasal dari persamaan identitas dan perasaan bersaudara yang diangkat oleh Agama dan Kepercayaan antar sesama umatnya. Yang terakhir, seringkali Agama menjadi alasan transformasi hidup seseorang, dari kehidupan yang penuh maksiat menjadi kehidupan yang lebih baik.

Bagian 2: Tafsir Teks Doa Shalat Istikharah Teks Shalat Istikharah Berdasarkan kerangka pemikiran mengenai stress dalam pengambilan keputusan dan mekanisme religious coping dalam mengurangi stress, penulis berusaha mentafsirkan teks doa Shalat Istikharah yang disunnahkan untuk dilakukan sebelum seorang penganut Agama Islam melakukan suatu perbuatan atau mengambil suatu keputusan yang memiliki tingkat kepentingan dan ketidakpastian yang tinggi. Berikut ini adalah terjemah teks doa shalat Istikharah yang berasal dari hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Shahih Bukhari Volume 2 Hadist Nomor 263:

“Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu”. (HR Al Bukhari)

Berdasarkan kerangka fungsi religious coping yang dikemukakan Pargament, Koenig, and Perez diatas, dapat dianalisa elemen-elemen doa yang mengacu pada satu atau lebih fungsi religious coping. Shalat istikharah dapat meminimalisir stress dalam pengambilan keputusan melalui keyakinan bahwa apapun hasil (outcome) dari suatu keputusan adalah apa yang terbaik bagi orang tersebut pada akhirnya, bahkan jika hasil itu terlihat buruk pada awalnya. Hal ini memberikan makna bagi hasil yang muncul dari keputusan yang ia ambil, baik hasil yang ia inginkan maupun yang tidak ia inginkan. Melalui shalat Istikharah, individu tersebut menerima penjelasan bahwa hal yang ia inginkan bukan berarti hal yang paling baik bagi dirinya dan agamanya, dan sebaliknya. Oleh karena itu, jikapun hasil keputusan yang ia ambil tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan, maka hal itu adalah untuk yang terbaik. Doa Istikharah juga dapat dilihat sebagai wujud penyerahan diri kepada kehendak Allah SWT dan pengakuan atas keterbatasan rasionalitas manusia (bounded rationality) atas apa yang baik dan buruk bagi seseorang dimasa depan. Hal ini dapat menumbuhkan keyakinan kendali dan ketentraman spiritual. Penyerahan diri kepada Kekuatan yang lebih tinggi dapat mengurangi ketidakpastian yang dipersepsikan oleh individu pengambil keputusan tersebut, yang pada akhirnya mengurangi tingkat stress yang ia alami. Doa shalat Istikharah juga memiliki elemen Problem-based coping, dimana individu tersebut meminta bantuan untuk dimudahkan mengambil pilihan yang paling baik, dan dijauhkan dari mengambil pilihan yang memiliki hasil tidak baik.

Ilustrasi Shalat Istikharah sebagai Mekanisme Religious Coping Ilustrasi yang dapat diberikan mengenai Shalat Istikharah sebagai mekanisme religous coping adalah sebagai berikut. Seorang wanita Muslimah baru saja dilamar oleh seorang laki-laki. Wanita tersebut baru mengenal laki-laki tersebut selama setahun sebagai rekan kerja di suatu perusahaan IT. Laki-laki tersebut memberi waktu satu minggu bagi wanita tersebut untuk memutuskan apakah ia bersedia menerima atau menolak lamaran laki-laki tersebut. Wanita tersebut bimbang dalam menentukan pilihan, karena wanita tersebut sebenarnya mengharapkan untuk dilamar oleh laki-laki lain yang juga rekan sekantor. Namun laki-laki tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan melamar dalam waktu dekat. Untuk mengatasi kebimbangannya dalam menentukan pilihan, wanita tersebut melakukan Shalat Istikharah untuk memohon bantuan dalam memutuskan untuk menerima atau menolak lamaran dari laki-laki yang pertama. Dalam shalat tersebut, ia mengucapkan doa shalat istikharah dengan penghayatan yang mendalam terhadap makna doa tersebut. Setelah selesai shalat, ia mempertimbangkan baik-buruk keputusan yang akan ia ambil, kemudian menyerahkan hasil akhir keputusan tersebut kepada Allah SWT dan meyakini bahwa apapun hasil akhir keputusan yang ia ambil merupakan hal yang paling baik bagi dirinya, di dunia dan di akhirat. Kemudian, wanita tersebut menelpon laki-laki pertama untuk memberitahukan keputusan yang ia ambil.

Kesimpulan Shalat istikharah merupakan wujud penyerahan diri kepada Allah SWT dan pengakuan atas keterbatasan rasionalitas manusia (bounded rationality) atas apa yang baik dan buruk bagi seseorang dimasa depan. Shalat istikharah dapat meminimalisir stress dalam pengambilan keputusan melalui keyakinan bahwa apapun hasil (outcome) dari suatu keputusan adalah apa yang terbaik bagi orang tersebut pada akhirnya, bahkan jika hasil itu terlihat buruk pada awalnya. Keyakinan ini mengurangi ketidakpastian yang dipersepsikan oleh individu pengambil keputusan tersebut. Dapat disimpulkan bahwa, Shalat istikharah merupakan mekanisme yang ditujukan untuk mengurangi stress dan kecemasan yang timbul dari ketidakpastian keputusan-keputusan yang memiliki derajat kepentingan yang tinggi. Walaupun begitu, efektivitas shalat Istikharah sebagai mekanisme coping dapat berbeda-beda antar individu maupun antar konteks. Oleh karena itu, penulis merekomendasikan bagi penelitian selanjutnya untuk menggali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas tersebut.

Referensi 1. Aldwin, C.M. (2007) Stress, Coping, And Development: An Integrative Perspective 2nd Edition. 72 Spring Street, New York, NY: THE GUILFORD PRESS 2. Anon. Stress, Definition of Stress and Stressor. American Institute of Stress. http://www.stress.org/topic-definition-stress.htm 3. Ciccarelli, S.K dan Meyer, G.E. (2005). Psychology. Upper Saddle River, N.J: Pearson Prentice Hall. 4. Dyer KA (2006). Acute Stress Disorder. Loss, Change & Grief: Journey of Hearts. <http://www.journeyofhearts.org/jofh/grief/stress> 5. Folkman, Susan (1984). “Personal control and stress and coping processes: A theoretical analysis”. Journal of Personal and Social Psychology. 46: 839–852. 6. Louise Lemyre, PHD RĂ©jean Tessier, PHD. Measuring psychological stress. Canadian Family Physician. http://www.cfpc.ca/cfp/2003/Sep/vol49-sep-resources-6.asp 7. Mattlin, J.A., Wethington, E., Kessles, R.C. (1990). Situational Determinants of Coping and Coping Effectiveness. Journal of Health and Social Behavior, 31:1 (Mar., 1990), pp. 103-122. American Sociological Association. Diunduh dari JSTOR (http://www.jstor.org/stable/2137048) tanggal 2 Desember 2008. 8. Robbins, S.P. dan Judge, T.A. (2007). Organizational Behavior. Upper Saddle River, N.J: Pearson Prentice Hall. 9. Sahih Bukhari. Vol. 2 Hadits nomor 263 mengenai tata cara shalat istikharah.

TUGAS AKHIR SEMESTER FILSAFAT ILMU

December 22nd, 2008 -- Posted in Papers | Comments Off on TUGAS AKHIR SEMESTER FILSAFAT ILMU

TUGAS AKHIR SEMESTER FILSAFAT ILMU Temporalitas Kebenaran Eksplanasi Ilmiah: Membedakan antara Teori dan Dogma Ilmiah

Imam Salehudin, SE. NPM 0806436680 Program Pascasarjana Terapan Psikometri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia imams@ui.edu

Abstraksi Makalah ini berusaha mengemukakan pemahaman penulis mengenai hakikat kebenaran eksplanasi ilmiah berdasarkan prinsip falsifikasi Karl Popper. Makalah ini berusaha menganalisa dan membagi eksplanasi ilmiah, antara teori dan dogma. Makalah ini juga memaparkan beberapa contoh bagaimana teori ilmiah berubah menjadi dogma ilmiah.

Kata Kunci: Filsafat Ilmu, Kebenaran Temporal, Falsifikasi

Okasha (2002) dalam bukunya “Philosophy of Science” mengemukakan bahwa salah satu tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk memberikan eksplanasi terhadap hal-hal yang terjadi di sekeliling kita. Salah satu topik sentral dalam filsafat ilmu adalah pembahasan mengenai bagaimana metoda pembuktian atas sebuah eksplanasi ilmiah terhadap suatu fenomena pada berbagai bidang ilmu yang ada. Sementara itu, metoda pembuktian dapat didefinisikan sebagai cara justifikasi kebenaran suatu eksplanasi ilmiah atau context of justification. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hakikat kebenaran suatu eksplanasi ilmiah sangat terkait dengan metode pembuktian yang digunakan atas eksplanasi tersebut.

Falsifikasi Popper sebagai Context of Justification Perkembangan mainstream filsafat ilmu modern saat ini sangat dipengaruhi oleh perdebatan pemikiran yang dimulai pada pertengahan tahun 1960-an antara Thomas S. Kuhn melawan Karl Popper. Fuller (2003) dalam bukunya yang membandingkan pemikiran Kuhn dan Popper, berpendapat bahwa Kuhn dengan pemikirannya mengenai “paradigma ilmu” yang menekankan pada perlunya suatu revolusi ilmiah dalam menggeser suatu paradigma ilmu yang dominan, dipandang mewakili kekuatan authoritarianism dalam komunitas ilmiah. Sementara itu, Popper dengan pemikirannya mengenai “falibilitas ilmu”, menekankan bagaimana falsifikasi atas suatu teori dapat mengugurkan teori tersebut dipandang mewakili kekuatan libertarianism. Walaupun bisa dikatakan bahwa pada akhirnya pemikiran Kuhn menjadi pemikiran yang dominan, hingga kini pemikiran Popper tetap memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam pembuktian eksplanasi ilmiah. Falsifikasi tetap menjadi dasar context of justification yang dominan pada mayoritas bidang ilmu, alam maupun sosial. Popper dalam bukunya Logik der Forschung (The Logics of Science) berpendapat bahwa kebenaran suatu eksplanasi ilmiah tidak dibuktikan dengan proses verifikasi secara induktif. Sebaliknya, kebenaran suatu eksplanasi ilmiah dibuktikan dengan logika deduksi melalui usaha falsifikasi. Falsifikasi menurut Popper adalah upaya untuk membuktikan bahwa kebenaran teori yang bersangkutan tidak benar. Jika suatu teori tidak dapat dibuktikan salah, maka teori tersebut masih dapat diterima sementara jika teori tersebut dapat dibuktikan salah, maka teori tersebut akan ditinggalkan. Disini, falsifikasi menjadi context of justification atas teori ilmiah tersebut.

Logika Temporalitas Kebenaran Hasil Falsifikasi Dengan memegang falsifikasi sebagai context of justification suatu eksplanasi ilmiah, marilah kita lihat logika dibalik pembuktian menggunakan falsifikasi. Ketika sebuah eksplanasi diuji menggunakan falsifikasi, peneliti berusaha menemukan fakta realitas yang dapat membantah eksplanasi tersebut. Jika peneliti gagal menemukan bukti yang menyangkal eksplanasi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa eksplanasi tersebut lolos dari falsifikasi. Sementara itu, jika peneliti menemukan satu kasus yang dapat membuktikan bahwa eksplanasi tersebut salah maka eksplanasi tersebut terfalsifikasi dan gugur. Walaupun begitu, falsifikasi bukan verifikasi. Eksplanasi yang berhasil lolos falsifikasi bukan berarti eksplanasi tersebut pasti benar. Eksplanasi yang lolos dari falsifikasi hanya berarti bahwa eksplanasi tersebut belum dapat dibuktikan salah. Oleh karena itu, walaupun teori yang gagal difalsifikasi dapat diterima sebagai kebenaran, namun sifat kebenaran hasil falsifikasi tersebut belum menjadi kebenaran absolut. Sebaliknya, kebenaran hasil falsifikasi tersebut hanya sebatas kebenaran temporal. Istilah temporal disini berarti memiliki keterikatan terhadap waktu. Percival (1989) memberikan contoh kebenaran temporal, ketika seseorang mengeluarkan pernyataan “diluar hujan” maka kebenaran pernyataan tersebut sangat tergantung pada konteks waktu dan tempat pernyataan itu dibuat. Jika ternyata setelah kita lihat keluar, saat itu memang sedang hujan, maka pernyataan tersebut bisa dikatakan memang benar. Namun, jika beberapa jam kemudian pernyataan “diluar hujan” diulang kembali, belum tentu pernyataan tersebut tetap benar. Jika ternyata diluar hujan sudah reda, maka pernyataan tersebut menjadi salah. Jika dikaitkan dengan konteks hasil falsifikasi eksplanasi ilmiah, bisa jadi sebuah eksplanasi yang lolos dari satu kali falsifikasi gagal pada falsifikasi yang kedua. Walaupun eksplanasi tersebut lolos dari falsifikasi yang kedua, tidak ada yang bisa menjamin bahwa eksplanasi tersebut pasti akan dapat lolos falsifikasi yang ketiga, dan seterusnya. Pada kenyataannya, sebanyak apapun sebuah eksplanasi lolos dari falsifikasi tidak ada yang menjamin bahwa eksplanasi tersebut pasti berhasil pada falsifikasi berikutnya. Oleh karena itulah semua pembuktian eksplanasi ilmiah menggunakan falsifikasi hanya menghasilkan kebenaran temporal. Untuk memperjelas pemahaman mengenai istilah “kebenaran temporal”, maka perlu dibahas mengenai lawan dari kebenaran temporal yakni “kebenaran absolut”. Kebenaran absolut merupakan kebenaran yang tidak tergantung oleh waktu dan tempat tertentu. Kebenaran absolut berlaku kapan saja dan dimana saja. Walaupun begitu, membuktikan kebenaran absolut tidak semudah membuktikan kebenaran temporal. Sebagai contoh, pernyataan “semua manusia pasti mati” seringkali dipandang sebagai pernyataan yang memiliki kebenaran absolut. Namun, pembuktian pernyataan tersebut tidak semudah dan sesederhana yang dikira. Bisa dikatakan bahwa setiap kali seseorang meninggal, setiap kali itu pula pernyataan tersebut lolos falsifikasi. Bisa dibayangkan berapa milyar kali pernyataan tersebut lolos dari falsifikasi. Namun, kematian seorang manusia hanyalah merupakan verifikasi temporal berdasarkan induksi. Untuk membuktikan pernyataan tersebut benar secara absolut, maka setiap manusia yang pernah hidup dimuka bumi harus mati terlebih dahulu. Popper sendiri menyangkal absolutisme kebenaran eksplanasi ilmiah “We do not know: we can only guess.” (Popper, Logic of Scientific Discovery, p. 278). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa menurut Popper ilmu pengetahuan merupakan sekumpulan teori yang belum dapat difalsifikasi. Berdasar pemikiran Popper tersebut, kebenaran semua ilmu pengetahuan yang kita miliki saat ini bersifat provisional dan masih dapat dikoreksi dimasa depan.

Membedakan Eksplanasi Ilmiah Pada kenyataannya, temporalitas kebenaran suatu eksplanasi ilmiah tidak membuat eksplanasi tersebut salah. Sebaliknya, eksplanasi tersebut dapat diterima sebagai kebenaran. Hanya saja, perlu ditanamkan pemahaman bahwa kebenaran eksplanasi ilmiah tersebut terbatas oleh konteks waktu dan tempat usaha falsifikasi terhadap eksplanasi tersebut. Namun demikian, beberapa eksplanasi ilmiah dianggap sebagai suatu kebenaran absolut, baik dapat difalsifikasi atau tidak. Popper memberikan contoh beberapa eksplanasi ilmiah yang tidak dapat difalsifikasi, seperti Psikoanalisa Freud dan Sosialisme Marx. Popper memandang kedua eksplanasi tersebut sebagai pseudo-science karena eksplanasi tersebut dapat digunakan oleh pengikutnya untuk menjelaskan apapun hasil dari suatu fenomena. Dalam hal ini, kedua teori diatas diterima oleh penganutnya sebagai kebenaran tanpa memerlukan adanya falsifikasi. Dengan kata lain, eksplanasi ilmiah tersebut diyakini sebagaimana seorang penganut agama diharapkan meyakini kepercayaannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dogma ilmiah merupakan eksplanasi ilmiah yang diyakini benar oleh sekelompok ilmuwan tanpa melewati context of justification yang diakui. Pada kenyataannya, banyak sekali eksplanasi yang bermula sebagai suatu teori ilmiah, namun berakhir sebagai dogma ilmiah. Selain contoh Psikoanalisa dan Sosialisme, contoh lain yang dapat diambil adalah teori Adam Smith mengenai Invisible Hand. Teori Adam Smith ini melahirkan mazhab klasik dan paham liberalisme. Penganut mazhab klasik akan meyakini prinsip-prinsip ekonomi yang diturunkan dari teori Smith, meskipun banyak fenomena terkini yang membuktikan bahwa teori tersebut salah. Jikapun mereka mengakui adanya fenomena yang bertolak belakang dengan eksplanasi Adam Smith, mereka akan berusaha mencari provisi-provisi tambahan yang memungkinkan teori Adam Smith berkelit dari falsifikasi. Pada akhirnya, semua provisi tersebut dapat menyebabkan teori Adam Smith sama seperti teori Karl Marx yang tidak dapat lagi difalsifikasi. Sungguh ironis bahwa eksplanasi Adam Smith dan Karl Marx terhadap fenomena ekonomi memiliki nasib yang serupa sebagai dogma ilmiah, walaupun memiliki isi yang bertolak belakang. Selain Psikoanalisa, contoh lain teori yang berubah menjadi dogma ilmiah pada ilmu psikologi adalah Teori Test Klasik yang merupakan salah satu dasar ilmu psikometri. Teori Test Klasik menyatakan bahwa X=T+e; dimana X merupakan nilai hasil pengukuran, T merupakan True Score atau nilai objek terukur yang sesungguhnya, sementara e merupakan merupakan error baik acak maupun sistematis. Pada kenyataannya, teori tersebut tidak dapat dibuktikan benar atau salah karena nilai true score dan error yang sesuangguhnya tidak dapat diketahui dan hasil pengukuran psikologi macam apapun dapat membenarkan teori tersebut. Teori-teori diatas tidak lagi dapat difalsifikasi sebagaimana dahulu karena masing-masing teori sudah mendapatkan kelembaman masing-masing yang diakibatkan oleh banyaknya aplikasi dan pemikiran yang didasarkan pada masing-masing teori diatas. Sebagai akibatnya, jika pada suatu waktu ditemukan bukti yang memfalsifikasi teori tersebut, sehingga para ilmuwan dan non-ilmuwan yang memiliki kepentingan atas keberlanjutan teori itu merasa enggan dan tidak lagi menghiraukan bukti-bukti falsifikasi teori tersebut. Jika kita kembali ke pemikiran Kuhn VS Popper, hal diatas sejalan dengan “Paradigma Ilmiah” Kuhn, dimana revolusi ilmiah terjadi ketika dominasi ilmuwan generasi sebelumnya yang memiliki lebih banyak kepentingan terhadap satu paradigma ilmu yang berlaku digantikan oleh dominasi ilmuwan generasi berikutnya yang memiliki kepentingan atas paradigma ilmu yang baru. Namun demikian, realita yang ada bisa jadi bukan merupakan kondisi ideal yang dimungkinkan. Eksplanasi Kuhn memang dapat lebih tepat menggambarkan menggambarkan fenomena ilmu pengetahuan yang ada, namun falsifikasi Popper tetap menjadi standar emas yang seharusnya dipegang oleh setiap ilmuwan.

Kesimpulan Kesimpulan makalah ini adalah bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia terdiri dari serangkaian eksplanasi provisional yang bersifat sementara. Oleh karena itu, proses pembuktian kebenaran suatu eksplanasi ilmiah merupakan sebuah proses berkelanjutan tanpa akhir karena realita senantiasa berubah dan ilmuwan seharusnya juga senantiasa berusaha mendapatkan kebenaran yang terkini. Jika suatu eksplanasi ilmiah diterima begitu saja tanpa proses pembuktian yang berkelanjutan, maka dapat dikatakan bahwa teori tersebut sudah berubah menjadi dogma ilmiah yang diyakini kebenarannya tanpa perlu pembuktian apa-apa.

Referensi 1. Fuller, S. (2003). KUHN VS POPPER: The Struggle for the Soul of Science. Duxford, Cambridge: Icon Books Ltd. 2. Kuhn. T. S. (1970). International Encyclopedia of Unified Science Vol. 2 No. 2: The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: The University of Chicago Press, Ltd. 3. Okasha, S. (2002). Philosophy of Science: A Very Short Introduction. Great Clarendon Street, Oxford: Oxford University Press. 4. Popper, K. (2002). The Logic of Scientific Discovery (English Translation). New Fetter Lane, London: Routledge Classics. 5. Percivel, P. (1989). Indices of Truth and Temporal Propositions. The Philosophical Quarterly, 39(155): 190-199. Diunduh 2 Desember 2008 dari JSTOR (www.jstor.org)