Graduation

September 7th, 2010 -- Posted in Random Whine | Comments Off

This will be my last post in this blog, since I finally graduated from the Psychometrics Applied Masters Program, Faculty of Psychology University of Indonesia in August 2010. I hope this will be a milestone for further journey in academic science. I will be continuing my blog posts in http://staff.blog.ui.ac.id/imams

Thank you…..

Tugas Akhir Mata Kuliah Teori Tes 1: Norma

July 9th, 2009 -- Posted in Papers | Comments Off

Imam Salehudin, SE.

NPM 0806436680

A. Kuliah X

Tabel skor peserta tes Kuliah X dapat dilihat pada Lampiran 1. Skor mentah dihitung menggunakan ITEMAN, sementara Z-skor dan skor akhir dihitung menggunakan Microsoft Excel berdasarkan skor mentah. Skor akhir dihitung dengan menjumlahkan Z-skor dengan angka 4, kemudian mengalikan hasilnya dengan angka 12.5. Dasar pertimbangan adalah agar skor final berada pada kisaran 0 hingga 100. Sementara, deskripsi data dan pengujian normalitas dilakukan dengan SPSS. Berikut adalah hasil analisis item berdasar dari hasil pengolahan data tersebut:

A.1 Deskripsi Sebaran Data

Jumlah data yang diolah adalah 133 kasus. Nilai skor mentah yang terendah adalah 7.00 dan yang tertinggi adalah 25.00. Rerata skor mentah untuk kelompok ini adalah 14.488 dengan standar deviasi 2.682 dan SEM 0.232.

A.2 Normalitas Data

Pengujian normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov menunjukkan hasil yang signifikan (<0.05) bahwa data skor peserta tes Kuliah X tidak tersebar secara normal. Oleh karena itu, data belum mencukupi untuk dijadikan norma. Untuk memperoleh data yang tersebar secara normal, sangat direkomendasikan untuk menambah jumlah sample. Berikut adalah hasil statistic uji Kolmogorov-Smirnov yang diperoleh berdasarkan hasil pengolahan menggunakan SPSS:

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnov(a)

Statistic

df

Sig.

KuliahX

0.124

133

0.000

a Lilliefors Significance Correction

A.3 Tabel Norma

Berdasarkan Rerata dan Standar Deviasi skor mentah hasil tes Kuliah X, maka diperoleh tabel Norma berikut:

Raw Score

Scale Score

3.762 - 6.443

-4σ

6.444 - 9.125

-3σ

9.126 – 11.807

-2σ

11.808 – 14.488

-1σ

14.489 – 17.170

17.171 – 19.851

19.852 – 22.533

22.534 – 25.215

B. Empathy

Tabel skor peserta tes Empathy dapat dilihat pada Lampiran 2. Skor mentah dihitung menggunakan ITEMAN, sementara Z-skor dan skor akhir dihitung menggunakan Microsoft Excel berdasarkan skor mentah. Skor akhir dihitung dengan menjumlahkan Z-skor dengan angka 4, kemudian mengalikan hasilnya dengan angka 12.5. Dasar pertimbangan adalah agar skor final berada pada kisaran 0 hingga 100. Sementara, deskripsi data dan pengujian normalitas dilakukan dengan SPSS. Berikut adalah hasil analisis item berdasar dari hasil pengolahan data tersebut:

B.1 Deskripsi Sebaran Data

Jumlah data yang diolah adalah 46 kasus. Nilai skor mentah yang terendah adalah 15.62 dan yang tertinggi adalah 22.07. Rerata skor mentah untuk kelompok ini adalah 19.170 dengan standar deviasi 1.388 dan SEM 0.205.

B.2 Normalitas Data

Pengujian normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov menunjukkan hasil yang tidak signifikan (>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa data skor peserta tes Empathy tersebar secara normal. Oleh karena itu, data sudah dapat digunakan sebagai norma. Berikut adalah hasil statistic uji Kolmogorov-Smirnov yang diperoleh berdasarkan hasil pengolahan menggunakan SPSS:

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnov(a)

Statistic

df

Sig.

Empathy

0.101

46

0.200(*)

* This is a lower bound of the true significance.

a Lilliefors Significance Correction

B.3 Tabel Norma

Berdasarkan Rerata dan Standar Deviasi skor mentah hasil tes Empathy, maka diperoleh tabel Norma berikut:

Raw Score

Scale Score

13.616 – 15.004

-4σ

15.005 – 16.393

-3σ

16.394 – 17.782

-2σ

17.783 – 19.170

-1σ

19.171 – 20.559

20.560 – 21.948

21.949 – 23.337

23.338 – 24.725

C. Spatial

Tabel skor peserta tes Spatial dapat dilihat pada Lampiran 3. Skor mentah dihitung menggunakan ITEMAN, sementara Z-skor dan skor akhir dihitung menggunakan Microsoft Excel berdasarkan skor mentah. Skor akhir dihitung dengan menjumlahkan Z-skor dengan angka 4, kemudian mengalikan hasilnya dengan angka 12.5. Dasar pertimbangan adalah agar skor final berada pada kisaran 0 hingga 100. Sementara, deskripsi data dan pengujian normalitas dilakukan dengan SPSS. Berikut adalah hasil analisis item berdasar dari hasil pengolahan data tersebut:

C.1 Deskripsi Sebaran Data

Jumlah data yang diolah adalah 45 kasus. Nilai skor mentah yang terendah adalah 5.00 dan yang tertinggi adalah 16.00. Rerata skor mentah untuk kelompok ini adalah 11.155 dengan standar deviasi 2.836 dan SEM 0.104.

C.2 Normalitas Data

Pengujian normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov menunjukkan hasil yang tidak signifikan (>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa data skor peserta tes Spatial tersebar secara normal. Oleh karena itu, data sudah dapat digunakan sebagai norma. Berikut adalah hasil statistic uji Kolmogorov-Smirnov yang diperoleh berdasarkan hasil pengolahan menggunakan SPSS:

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnov(a)

Statistic

df

Sig.

Spatial

0.120

45

0.104

a Lilliefors Significance Correction

C.3 Tabel Norma

Berdasarkan Rerata dan Standar Deviasi skor mentah hasil tes Spatial, maka diperoleh tabel Norma berikut:

Raw Score

Scale Score

4.153 - 5.542

-4σ

5.543 - 6.930

-3σ

6.931 - 8.319

-2σ

8.320 – 11.155

-1σ

11.156 – 13.991

13.992 – 15.380

15.381 – 16.769

16.780 – 18.157


<

p class=”MsoNormal”>

Lampiran 1: Tabel Raw, Z dan Final Score Kuliah X
Record Raw Score Z-score Final Score
001 7 -2.7926 15.09
002 10 -1.6739 29.08
003 10 -1.6739 29.08
004 10 -1.6739 29.08
005 10 -1.6739 29.08
006 10 -1.6739 29.08
007 10 -1.6739 29.08
008 11 -1.301 33.74
009 11 -1.301 33.74
010 11 -1.301 33.74
011 11 -1.301 33.74
012 11 -1.301 33.74
013 11 -1.301 33.74
014 11 -1.301 33.74
015 11 -1.301 33.74
016 11 -1.301 33.74
017 11 -1.301 33.74
018 12 -0.9281 38.4
019 12 -0.9281 38.4
020 12 -0.9281 38.4
021 12 -0.9281 38.4
022 12 -0.9281 38.4
023 12 -0.9281 38.4
024 12 -0.9281 38.4
025 12 -0.9281 38.4
026 12 -0.9281 38.4
027 12 -0.9281 38.4
028 12 -0.9281 38.4
029 12 -0.9281 38.4
030 12 -0.9281 38.4
031 12 -0.9281 38.4
032 12 -0.9281 38.4
033 13 -0.5552 43.06
034 13 -0.5552 43.06
035 13 -0.5552 43.06
036 13 -0.5552 43.06
037 13 -0.5552 43.06
038 13 -0.5552 43.06
039 13 -0.5552 43.06
040 13 -0.5552 43.06
041 13 -0.5552 43.06
042 13 -0.5552 43.06
043 13 -0.5552 43.06
044 13 -0.5552 43.06
045 13 -0.5552 43.06
046 14 -0.1823 47.72
047 14 -0.1823 47.72
048 14 -0.1823 47.72
049 14 -0.1823 47.72
050 14 -0.1823 47.72
051 14 -0.1823 47.72
052 14 -0.1823 47.72
053 14 -0.1823 47.72
054 14 -0.1823 47.72
055 14 -0.1823 47.72
056 14 -0.1823 47.72
057 14 -0.1823 47.72
058 14 -0.1823 47.72
059 14 -0.1823 47.72
060 14 -0.1823 47.72
061 14 -0.1823 47.72
062 14 -0.1823 47.72
063 14 -0.1823 47.72
064 14 -0.1823 47.72
065 14 -0.1823 47.72
066 14 -0.1823 47.72
067 14 -0.1823 47.72
068 14 -0.1823 47.72
069 15 0.19066 52.38
070 15 0.19066 52.38
071 15 0.19066 52.38
072 15 0.19066 52.38
073 15 0.19066 52.38
074 15 0.19066 52.38
075 15 0.19066 52.38
076 15 0.19066 52.38
077 15 0.19066 52.38
078 15 0.19066 52.38
079 15 0.19066 52.38
080 15 0.19066 52.38
081 15 0.19066 52.38
082 15 0.19066 52.38
083 15 0.19066 52.38
084 15 0.19066 52.38
085 15 0.19066 52.38
086 15 0.19066 52.38
087 15 0.19066 52.38
088 15 0.19066 52.38
089 15 0.19066 52.38
090 15 0.19066 52.38
091 15 0.19066 52.38
092 15 0.19066 52.38
093 15 0.19066 52.38
094 16 0.56357 57.04
095 16 0.56357 57.04
096 16 0.56357 57.04
097 16 0.56357 57.04
098 16 0.56357 57.04
099 16 0.56357 57.04
100 16 0.56357 57.04
101 16 0.56357 57.04
102 16 0.56357 57.04
103 16 0.56357 57.04
104 16 0.56357 57.04
105 16 0.56357 57.04
106 16 0.56357 57.04
107 17 0.93647 61.71
108 17 0.93647 61.71
109 17 0.93647 61.71
110 17 0.93647 61.71
111 17 0.93647 61.71
112 17 0.93647 61.71
113 17 0.93647 61.71
114 17 0.93647 61.71
115 17 0.93647 61.71
116 17 0.93647 61.71
117 17 0.93647 61.71
118 18 1.30938 66.37
119 18 1.30938 66.37
120 18 1.30938 66.37
121 18 1.30938 66.37
122 18 1.30938 66.37
123 18 1.30938 66.37
124 19 1.68229 71.03
125 19 1.68229 71.03
126 19 1.68229 71.03
127 19 1.68229 71.03
128 20 2.05519 75.69
129 20 2.05519 75.69
130 20 2.05519 75.69
131 20 2.05519 75.69
132 20 2.05519 75.69
133 25 3.91973 99
Lampiran 2: Tabel Raw, Z dan Final Score Empathy
Record Raw Score Z-score Final Score
001 15.62 -2.55695 18.038
002 16.25 -2.10329 23.709
003 16.76 -1.73605 28.299
004 16.88 -1.64964 29.38
005 17.01 -1.55602 30.55
006 17.45 -1.23918 34.51
007 17.56 -1.15997 35.5
008 17.83 -0.96555 37.931
009 17.98 -0.85754 39.281
010 18.3 -0.62711 42.161
011 18.43 -0.53349 43.331
012 18.47 -0.50469 43.691
013 18.6 -0.41108 44.862
014 18.63 -0.38948 45.132
015 18.65 -0.37507 45.312
016 18.68 -0.35347 45.582
017 18.74 -0.31027 46.122
018 18.75 -0.30306 46.212
019 18.83 -0.24546 46.932
020 18.91 -0.18785 47.652
021 19.23 0.04258 50.532
022 19.28 0.07858 50.982
023 19.45 0.201 52.513
024 19.45 0.201 52.513
025 19.57 0.28741 53.593
026 19.66 0.35222 54.403
027 19.69 0.37382 54.673
028 19.78 0.43863 55.483
029 19.79 0.44583 55.573
030 19.8 0.45303 55.663
031 19.8 0.45303 55.663
032 19.81 0.46023 55.753
033 19.83 0.47463 55.933
034 19.91 0.53224 56.653
035 19.96 0.56825 57.103
036 20 0.59705 57.463
037 20.13 0.69066 58.633
038 20.28 0.79868 59.984
039 20.3 0.81308 60.164
040 20.41 0.89229 61.154
041 20.5 0.9571 61.964
042 20.55 0.9931 62.414
043 21 1.31714 66.464
044 21.58 1.7348 71.685
045 21.7 1.82121 72.765
046 22.07 2.08764 76.096
Lampiran 3: Tabel Raw, Z dan Final Score Spatial
Record Raw Score Z-score Final Score
001 5 -2.17043 22.87
002 6 -1.81784 27.277
003 7 -1.46524 31.685
004 7 -1.46524 31.685
005 7 -1.46524 31.685
006 8 -1.11264 36.092
007 8 -1.11264 36.092
008 8 -1.11264 36.092
009 8 -1.11264 36.092
010 8 -1.11264 36.092
011 9 -0.76004 40.5
012 9 -0.76004 40.5
013 9 -0.76004 40.5
014 9 -0.76004 40.5
015 10 -0.40745 44.907
016 10 -0.40745 44.907
017 10 -0.40745 44.907
018 11 -0.05485 49.314
019 11 -0.05485 49.314
020 11 -0.05485 49.314
021 11 -0.05485 49.314
022 11 -0.05485 49.314
023 11 -0.05485 49.314
024 11 -0.05485 49.314
025 12 0.29775 53.722
026 12 0.29775 53.722
027 12 0.29775 53.722
028 12 0.29775 53.722
029 13 0.65035 58.129
030 13 0.65035 58.129
031 13 0.65035 58.129
032 13 0.65035 58.129
033 13 0.65035 58.129
034 13 0.65035 58.129
035 13 0.65035 58.129
036 14 1.00294 62.537
037 14 1.00294 62.537
038 14 1.00294 62.537
039 14 1.00294 62.537
040 15 1.35554 66.944
041 15 1.35554 66.944
042 15 1.35554 66.944
043 15 1.35554 66.944
044 16 1.70814 71.352
045 16 1.70814 71.352

Universitas Indonesia

Tugas Akhir Mata Kuliah Teori Tes 1: Analisis Item

July 9th, 2009 -- Posted in Papers | Comments Off

Imam Salehudin, SE.

NPM 0806436680

A. Kuliah X

Hasil pengolahan data jawaban peserta tes Kuliah X menggunakan ITEMAN dapat dilihat pada Lampiran 1. Berikut adalah hasil analisis item berdasar dari hasil pengolahan data tersebut:

A.1 Tingkat Kesulitan

Berdasarkan hasil analisis ITEMAN, terlihat bahwa tingkat kesulitan alat tes Kuliah X tidak terstruktur dari soal yang termudah ke soal yang tersulit. Tujuh soal memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi, sehingga tidak ada satupun peserta yang menjawab benar, yaitu Soal nomor 2, 6, 7, 9, 39, 42, dan 50. Sementara empat soal memiliki tingkat kesulitan yang sangat rendah, sehingga lebih dari 95% peserta dapat menjawab dengan benar, yaitu Soal nomor 22, 27, 30, 53. Untuk item-item diatas, sangat disarankan untuk dihilangkan dari alat tes atau dimodifikasi agar tingkat kesulitan item lebih mendekati 0.5.

A.2 Daya Beda

Berdasarkan hasil analisis ITEMAN, terlihat cukup banyak item pada alat tes yang memiliki daya beda yang sangat rendah (< 0.2), yakni Soal nomor 2, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 15, 17, 21, 22, 29, 30, 33, 34, 35, 39, 41, 42, 43, 45, 49, 50, 58, 69, 71, 74, dan 75. Rendahnya daya beda item-item diatas dapat dipengaruhi juga oleh tingkat kesulitan yang ekstrem sulit atau mudah. Untuk item-item diatas, sangat disarankan untuk dihilangkan dari alat tes atau dimodifikasi agar tingkat kesulitan item menjadi lebih moderat untuk meningkatkan daya beda.

A.3 Distractor Power

Berdasarkan analisis ITEMAN, terlihat bahwa hampir semua item pada alat tes Kuliah X memiliki pilihan jawaban dengan distractor power yang tidak merata. Dari 75 item yang dianalisis, hanya Soal nomor 51 dan 55 yang memiliki sebaran distractor power yang merata pada semua pilihan jawabannya. Untuk itu, sangat direkomendasikan agar item-item yang memiliki sebaran distractor yang tidak merata untuk dimodifikasi pilihan jawabannya dengan mengganti pilihan yang memiliki distractor power kurang dari 0.1.

Selain itu, beberapa item memiliki pilihan jawaban yang distractor powernya sangat tinggi (>0.95) sementara tingkat kesulitan sangat rendah (<0.05) sehingga item-item tersebut perlu diperhatikan untuk kemungkinan kesalahan kunci.

A.4 Kesimpulan

Dari 75 item pertanyaan pada alat tes Kuliah X, hanya dua item yang dapat digunakan untuk keperluan pengetesan selanjutnya tanpa dimodifikasi. Kedua item tersebut adalah Soal nomor 51 dan 55.

B. Empathy

Hasil pengolahan data jawaban peserta tes Empathy menggunakan ITEMAN dapat dilihat pada Lampiran 2. Perlakuan missing data yang digunakan adalah item-wise deletion. Berikut adalah hasil analisis item berdasar dari hasil pengolahan data tersebut:

B.1 Validitas Item

Berdasarkan hasil analisis ITEMAN, dapat dilihat validitas item dengan mengkorelasikan item dengan item-item lain dalam dimensi yang sama. Jika hasil korelasi item diatas 0.3, maka item tersebut dapat dikatakan valid. Untuk item-item yang tidak valid, sangat direkomendasikan untuk dihilangkan dari alat tes. Berikut hasil korelasi masing-masing dimensi:

· Dimensi Empati: Semua item pada dimensi ini sudah valid karena semua hasil korelasi item masih diatas 0.3.

· Dimensi Warm: Pada dimensi ini, item-1 tidak valid karena hasil korelasinya dengan item-item lain pada dimensi yang sama hanya 0.088. Tiga item dimensi Warm yang lain sudah valid karena koefisien korelasinya diatas 0.3.

· Dimensi Compassionate: Pada dimensi ini, item-23 tidak valid karena hasil korelasinya dengan item-item lain pada dimensi yang sama hanya 0.163. Tiga item dimensi Compassionate yang lain sudah valid karena koefisien korelasinya masih diatas 0.3.

· Dimensi Softhearted: Semua item pada dimensi ini sudah valid karena semua hasil korelasi item masih diatas 0.3.

· Dimensi Tender: Pada dimensi ini, item-19 tidak valid karena hasil korelasinya dengan item-item lain pada dimensi yang sama hanya -0.081. Empat item dimensi Tender yang lain sudah valid karena koefisien korelasinya masih diatas 0.3.

· Dimensi Moved: Pada dimensi ini, item-24 tidak dapat dihitung korelasinya karena tidak ada partisipan tes yang mengisi item ini. Tiga item dimensi Moved yang lain sudah valid karena karena koefisien korelasinya masih diatas 0.3.

B.2 Social Desirability

Berdasarkan hasil analisis ITEMAN, dapat diuji apakah item memiliki social desirability dengan melihat proportion endorsing masing-masing item. Jika ada salah satu pilihan jawaban yang memiliki proportion endorsing >50% maka item tersebut perlu dikaji ulang karena ada kecenderungan social desirability. Berikut hasil korelasi masing-masing dimensi:

· Dimensi Empati: Pada dimensi ini, ternyata item-12, 15 dan 21 memiliki social desirability karena ada salah satu pilihan jawabannya yang memiliki proportion endorsing lebih dari 50%.

· Dimensi Warm: Pada dimensi ini, ternyata item-12, 15 dan 21 memiliki social desirability karena ada salah satu pilihan jawabannya yang memiliki proportion endorsing lebih dari 50%.

· Dimensi Compassionate: Pada dimensi ini, ternyata item-5 dan 6 memiliki social desirability karena ada salah satu pilihan jawabannya yang memiliki proportion endorsing lebih dari 50%.

· Dimensi Softhearted: Pada dimensi ini, tidak ada item yang memiliki social desirability.

· Dimensi Tender: Pada dimensi ini, ternyata item-3, 9 dan 13 memiliki social desirability karena ada salah satu pilihan jawabannya yang memiliki proportion endorsing lebih dari 50%.

· Dimensi Moved: Pada dimensi ini, ternyata item-10 dan 14 memiliki social desirability karena ada salah satu pilihan jawabannya yang memiliki proportion endorsing lebih dari 50%.

B.3 Kesimpulan

Dari 24 item yang ada dalam alat tes Empathy, item yang sudah bisa digunakan tanpa modifikasi untuk dimensi empati, hanya item nomor 4 saja. Sementara untuk dimensi warm, hanya item nomor 11 dan 22 saja. Untuk dimensi compassionate hanya item nomor 17 saja. Sementara untuk dimensi softhearted, semua item (nomor 2, 7 dan 18) dapat digunakan. Untuk dimensi tender, hanya item nomor 8 yang dapat digunakan. Sementara untuk dimensi moved, hanya item nomor 20 saja yang bisa digunakan.

C. Spatial

Hasil pengolahan data jawaban peserta tes Spatial menggunakan ITEMAN dapat dilihat pada Lampiran 3. Untuk mengatasi missing data, perlakuan yang digunakan adalah case-wise deletion. Berikut adalah hasil analisis item berdasar dari hasil pengolahan data tersebut.

C.1 Tingkat Kesulitan

Berdasarkan hasil analisis ITEMAN, terlihat bahwa tingkat kesulitan alat tes Spatial ini tidak terstruktur dari soal yang termudah ke soal yang tersulit. Dua soal dari dimensi Spatial Orientation, satu soal dari dimensi Spatial Relation dan dua soal dari dimensi Spatial Visualization memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi sehingga tidak ada satupun peserta yang menjawab benar, yaitu Soal KR nomor 2, 7, 15, 18 dan 40. Sementara Soal KR nomor 45 sama sekali tidak dijawab oleh seluruh partisipan tes. Untuk item-item diatas, sangat disarankan untuk dihilangkan dari alat tes atau dimodifikasi agar tingkat kesulitan item lebih mendekati 0.5.

C.2 Daya Beda

Berdasarkan hasil analisis ITEMAN, terlihat cukup banyak item pada alat tes yang memiliki daya beda yang sangat rendah (< 0.2). Tiga soal dari dimensi Spatial Orientation, tiga soal dari dimensi Spatial Relation dan lima soal dari dimensi Spatial Visualization memiliki daya beda yang lebih rendah dari 0.2, antara lain item KR nomor 2, 5, 6, 7, 15, 17, 18, 22, 24, 40 dan 45.

Rendahnya daya beda item-item diatas dapat dipengaruhi juga oleh tingkat kesulitan yang ekstrem sulit atau mudah. Untuk item-item diatas, sangat disarankan untuk dihilangkan dari alat tes atau dimodifikasi agar tingkat kesulitan item menjadi lebih moderat untuk meningkatkan daya beda.

C.3 Distractor Power

Berdasarkan analisis ITEMAN, terlihat bahwa hampir semua item pada alat tes Spatial memiliki pilihan jawaban dengan distractor power yang tidak merata. Dari 15 item dimensi Spatial Orientation yang dianalisis, hanya KR nomor 13 yang memiliki sebaran distractor power yang merata pada semua pilihan jawabannya. Dari 15 item dimensi Spatial Relation yang dianalisis, hanya KR nomor 14 dan 29 yang memiliki sebaran distractor power yang merata pada semua pilihan jawabannya. Sementara dari 15 item dimensi Spatial Visualization yang dianalisis, tidak ada item yang memiliki sebaran distractor power yang merata pada semua pilihan jawabannya. Untuk itu, sangat direkomendasikan agar item-item yang memiliki sebaran distractor yang tidak merata untuk dimodifikasi pilihan jawabannya dengan mengganti pilihan yang memiliki distractor power kurang dari 0.1.

Selain itu, beberapa item memiliki pilihan jawaban yang distractor powernya sangat tinggi (>0.95) sementara tingkat kesulitan sangat rendah (<0.05) sehingga item-item tersebut perlu diperhatikan untuk kemungkinan kesalahan kunci.

C.4 Kesimpulan

Dari 45 item pertanyaan pada alat tes Spatial, hanya tiga item yang dapat digunakan untuk keperluan pengetesan selanjutnya tanpa dimodifikasi. Kedua item tersebut adalah KR nomor 13, 14 dan 29.


Lampiran 1: Tabel Integratif Analisis Item Kuliah X

Item

Tingkat Kesulitan

Daya Beda (Biserial)

Distractor Power

A

B

C

D

SOAL1

0.008

0.341

0.827

0.008

0.038

0.128

SOAL2

0

-9

0

0.008

0.023

0.97

SOAL3

0.038

0.294

0.496

0.218

0.248

0.038

SOAL4

0.353

-0.022

0.038

0.135

0.474

0.353

SOAL5

0.023

0.186

0.015

0

0.962

0.023

SOAL6

0

-9

0.632

0.316

0

0.053

SOAL7

0

-9

0.376

0

0.143

0.481

SOAL8

0.211

0.403

0.06

0.15

0.211

0.579

SOAL9

0

-9

0.955

0.008

0

0.038

SOAL10

0.023

-0.024

0.023

0.128

0.797

0.053

SOAL11

0.008

-0.066

0.955

0

0.008

0.038

SOAL12

0.045

-0.176

0.045

0.188

0.421

0.346

SOAL13

0.008

0.341

0.233

0.045

0.008

0.714

SOAL14

0.143

0.333

0.098

0.729

0.03

0.143

SOAL15

0.188

0.175

0.03

0.188

0.602

0.18

SOAL16

0.03

0.332

0.023

0.03

0.526

0.421

SOAL17

0.083

0.159

0.038

0.211

0.669

0.083

SOAL18

0.271

0.284

0.556

0.271

0.105

0.068

SOAL19

0.008

0.747

0.008

0.985

0.008

0

SOAL20

0.075

0.26

0.293

0.075

0.053

0.579

SOAL21

0.113

0.069

0.113

0.271

0.571

0.045

SOAL22

0.977

-0.186

0.008

0.008

0.008

0.977

SOAL23

0.346

0.279

0.113

0.075

0.466

0.346

SOAL24

0.759

0.25

0.759

0.008

0.233

0

SOAL25

0.038

0.741

0.038

0.857

0.068

0.038

SOAL26

0.669

0.229

0.068

0.045

0.669

0.218

SOAL27

0.962

0.565

0.008

0.023

0.962

0.008

SOAL28

0.015

0.521

0.075

0.865

0.015

0.045

SOAL29

0.045

0.15

0.932

0.045

0.015

0.008

SOAL30

0.962

-0.053

0.962

0

0

0.038

SOAL31

0.053

0.487

0.053

0.947

0

0

SOAL32

0.15

0.292

0.797

0.15

0.015

0.038

SOAL33

0.338

0.185

0.338

0.008

0.617

0.038

SOAL34

0.053

0.094

0.068

0.835

0.053

0.038

SOAL35

0.023

0.186

0

0.023

0.955

0.015


Item

Tingkat Kesulitan

Daya Beda (Biserial)

Distractor Power

A

B

C

D

SOAL36

0.06

0.356

0

0.526

0.06

0.414

SOAL37

0.008

0.341

0.015

0.962

0.015

0.008

SOAL38

0.008

0.747

0.564

0.008

0

0.429

SOAL39

0

-9

0.008

0.985

0

0.008

SOAL40

0.286

0.326

0.293

0.286

0.406

0.015

SOAL41

0.895

-0.018

0.068

0.038

0.895

0

SOAL42

0

-9

0.008

0.992

0

0

SOAL43

0.586

0.079

0.135

0.586

0.098

0.18

SOAL44

0.03

0.415

0.241

0.03

0.692

0.038

SOAL45

0.008

0.069

0.308

0.03

0.008

0.654

SOAL46

0.008

0.205

0.03

0.075

0.887

0.008

SOAL47

0.09

0.279

0.038

0.805

0.09

0.068

SOAL48

0.233

0.339

0.571

0.233

0.008

0.188

SOAL49

0.113

0.113

0.113

0.827

0.03

0.03

SOAL50

0

-9

0.767

0

0.226

0.008

SOAL51

0.256

0.257

0.519

0.12

0.256

0.105

SOAL52

0.827

0.355

0

0.038

0.135

0.827

SOAL53

0.977

0.392

0

0.977

0.023

0

SOAL54

0.023

0.396

0

0.023

0.94

0.038

SOAL55

0.248

0.132

0.15

0.105

0.248

0.496

SOAL56

0.489

0.284

0.451

0.045

0.015

0.489

SOAL57

0.06

0.214

0.06

0.887

0.008

0.045

SOAL58

0.023

0.133

0.023

0.03

0.271

0.677

SOAL59

0.677

0.251

0.015

0.053

0.677

0.256

SOAL60

0.113

0.422

0.789

0.06

0.038

0.113

SOAL61

0.023

0.553

0.023

0.015

0.962

0

SOAL62

0.053

0.592

0.015

0.015

0.053

0.917

SOAL63

0.023

0.711

0.045

0.008

0.925

0.023

SOAL64

0.045

0.269

0.038

0.015

0.045

0.902

SOAL65

0.015

0.817

0.902

0

0.083

0.015

SOAL66

0.015

1

0.015

0.03

0.038

0.917

SOAL67

0.068

0.336

0.015

0.857

0.06

0.068

SOAL68

0.316

0.344

0.233

0.316

0.045

0.406

SOAL69

0.09

0.193

0.308

0.18

0.421

0.09

SOAL70

0.045

0.802

0.165

0.782

0.045

0.008


Item

Tingkat Kesulitan

Daya Beda (Biserial)

Distractor Power

A

B

C

D

SOAL71

0.541

-0.03

0.03

0.541

0.053

0.376

SOAL72

0.015

1

0.008

0.113

0.865

0.015

SOAL73

0.075

0.478

0.008

0.383

0.075

0.534

SOAL74

0.135

0.093

0.105

0.135

0.09

0.669

SOAL75

0

-9

0

0

0

0


Lampiran 2: Tabel Integratif Analisis Item Kuliah X

Dimensi

Item

Rata-rata

Varians

Korelasi

Proportion Endorsing

1

2

3

4

5

Empati

item-4

3.239

1.138

0.448

0.109

0.348

0.261

0.239

0.043

item-12

3.848

0.825

0.424

0.196

0.587

0.109

0.087

0.022

item-15

3.391

0.934

0.676

0.022

0.239

0.109

0.587

0.043

item-21

2.587

0.938

0.559

0.065

0.543

0.152

0.217

0.022

Warm

item-1

2.478

0.684

0.088

0.043

0.587

0.239

0.109

0.022

item-11

2.957

0.955

0.744

0.022

0.37

0.174

0.413

0.022

item-16

3.696

0.516

0.405

0.065

0.652

0.196

0.087

0

item-22

2.87

0.94

0.725

0

0.348

0.239

0.348

0.065

Compassionate

item-5

3.522

0.597

0.457

0.022

0.63

0.196

0.152

0

item-6

2.63

0.581

0.529

0

0.543

0.283

0.174

0

item-17

2.957

0.868

0.659

0.022

0.37

0.261

0.326

0.022

item-23

3.955

0.18

0.163

0.065

0.783

0.109

0

0

Softhearted

item-2

3.761

0.573

0.48

0.174

0.435

0.37

0.022

0

item-7

1.891

0.879

0.464

0.391

0.435

0.065

0.109

0

item-18

3.304

1.038

0.774

0.087

0.435

0.196

0.261

0.022

Tender

item-3

3.783

0.561

0.461

0.109

0.652

0.152

0.087

0

item-8

3.63

1.059

0.534

0.217

0.37

0.261

0.13

0.022

item-9

3.543

0.987

0.674

0.13

0.522

0.109

0.239

0

item-13

4.022

0.586

0.559

0.261

0.543

0.152

0.043

0

item-19

3.174

0.752

-0.081

0

0.261

0.348

0.348

0.043

Moved

item-10

2.37

0.798

0.503

0.13

0.522

0.196

0.152

0

item-14

3.413

0.764

0.676

0.043

0.522

0.261

0.152

0.022

item-20

3.326

0.655

0.577

0.022

0.478

0.304

0.196

0

item-24

0

0

-9

0

0

0

0

0


Lampiran 3: Tabel Integratif Analisis Item Spatial

Dimensi Spatial Orientation

Item

Tingkat Kesulitan

Daya Beda (Biserial)

Distractor Power

A

B

C

D

KR-1

0.067

0.372

0.022

0.067

0.889

0

KR-4

0.067

0.79

0.067

0.022

0.089

0.822

KR-7

0.000

-9

0.022

0.844

0

0.089

KR-10

0.489

0.251

0.333

0.133

0.489

0.022

KR-13

0.289

0.662

0.133

0.244

0.311

0.289

KR-16

0.911

0.386

0.089

0

0.911

0

KR-19

0.178

0.285

0

0.556

0.267

0.178

KR-22

0.022

-0.378

0.044

0.044

0.867

0.022

KR-25

0.756

0.472

0.133

0.756

0.067

0.044

KR-28

0.067

0.372

0

0.8

0.067

0.044

KR-31

0.778

0.551

0

0.778

0.067

0

KR-34

0.067

0.65

0.533

0.067

0.067

0.022

KR-37

0.400

0.466

0.4

0

0.067

0

KR-40

0.000

-9

0.178

0.044

0.133

0

KR-43

0.022

0.303

0

0.022

0.244

0.022

Dimensi Spatial Relation

Item

Tingkat Kesulitan

Daya Beda (Biserial)

Distractor Power

A

B

C

D

KR-2

0

-9

0.978

0.022

0

0

KR-5

0.133

-0.015

0.067

0.778

0.022

0.133

KR-8

0.844

0.689

0

0.844

0.044

0.089

KR-11

0.156

0.269

0.156

0.089

0.156

0.6

KR-14

0.178

0.569

0.244

0.222

0.178

0.333

KR-17

0.867

0.015

0.111

0

0.867

0.022

KR-20

0.044

0.221

0.778

0.044

0.133

0

KR-23

0.133

0.44

0.022

0.111

0.133

0.711

KR-26

0.089

0.867

0.067

0.089

0.533

0.289

KR-29

0.267

0.378

0.133

0.267

0.333

0.111

KR-32

0.711

0.635

0.022

0.711

0.022

0.022

KR-35

0.044

0.569

0.044

0.378

0.133

0

KR-38

0.289

0.561

0.289

0

0.044

0.067

KR-41

0.089

0.765

0.089

0.156

0.022

0.022

KR-44

0.022

0.35

0.044

0.133

0.022

0.044

Dimensi Spatial Visualization

Item

Tingkat Kesulitan

Daya Beda (Biserial)

Distractor Power

A

B

C

D

KR-3

0.933

0.575

0.933

0.044

0

0.022

KR-6

0.044

0.113

0.022

0.044

0.667

0.267

KR-9

0.044

0.287

0.4

0.044

0.533

0

KR-12

0.6

0.603

0.044

0.244

0.067

0.6

KR-15

0

-9

0

0

0.978

0.022

KR-18

0

-9

0.022

0.022

0

0.956

KR-21

0.111

0.443

0.111

0

0.067

0.822

KR-24

0.022

-0.055

0.133

0.689

0.111

0.022

KR-27

0.489

0.868

0.133

0.267

0.489

0.044

KR-30

0.022

0.255

0

0.822

0.022

0

KR-33

0.644

0.786

0.022

0.644

0.089

0

KR-36

0.022

0.255

0.333

0.022

0.022

0.133

KR-39

0.022

0.565

0.022

0.067

0.067

0.244

KR-42

0.222

0.783

0

0.222

0.022

0.044

KR-45

0

-9

0

0

0

0

PROPOSAL EVALUASI PROGRAM: Implementasi Program Pembelajaran Berbasis E-Learning pada Mata Kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia di Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

July 9th, 2009 -- Posted in Papers | 2 Comments »

Imam Salehudin, SE.

NPM 0806436680

Program Studi Magister Terapan Psikometri

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Depok

2009

Bab I Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

Sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan peringkatnya secara Internasional, Universitas Indonesia mulai membangun sistim pembelajaran berbasis E-Learning sejak tahun 2005. Sistim pembelajaran berbasis E-Learning merupakan model pembelajaran dimana sebagian atau seluruh pertemuan tatap muka dipindahkan menjadi pertemuan interaktif secara online melalui internet. Diharapkan dengan memindahkan sebagian atau seluruh materi tatap muka menjadi pertemuan virtual, kualitas pengajaran akan menjadi semakin baik sekaligus menciptakan efisiensi proses pembelajaran.

Program E-Learning ini dijalankan menggunakan platform SCeLE yang mulai dikembangkan dan diterapkan pertama kali pada Fakultas Ilmu Komputer. Menyusul dengan keberhasilan program ini pada Fakultas Ilmu Komputer, pada tahun 2007 Fakultas Ekonomi mulai memberikan tiga paket hibah pengajaran setiap tahunnya untuk membuat model dan modul pengajaran menggunakan metode E-Learning. Meskipun begitu, Fakultas Ekonomi memutuskan bahwa penerapan E-Learning di sana tidak akan mengurangi frekuensi pertemuan tatap muka. Penerapan E-Learning di Fakultas Ekonomi hanya menjadi sarana untuk menambah kuantitas dan kualitas interaksi dosen dan mahasiswa di luar kelas.

Untuk periode pertama, satu dari tiga mata kuliah yang mendapatkan hibah pengajaran ini adalah mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia. Simulasi awal uji coba modul hasil hibah tersebut mendapatkan reaksi positif dari mahasiswa, namun selama dua tahun berikutnya implementasi program pembelajaran menggunakan E-Learning belum ini pernah dievaluasi oleh pihak manapun meskipun sudah diterapkan sebanyak tiga semester untuk mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia.

Tabel 1.1 Indikator Keberhasilan Kegiatan Implementasi E-Learning Dalam Mata Kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia Di FEUI

Indikator Kinerja

Awal

Tengah

Akhir

Tingkat pertisipasi dalam diskusi kasus/tugas

50 % total mahasiswa

75% total mahasiswa

99 % total mahasiswa

Penguasaan Materi

-

Rata-rata nilai UTS lebih tinggi dari kelas yang tidak menggunakan E-Learning

Rata-rata nilai UAS lebih tinggi dari kelas yang tidak menggunakan E-Learning

Untuk itu, perlu dilakukan kajian evaluasi terhadap implementasi program pembelajaran menggunakan metode E-Learning, dengan membandingkan penerapan program tersebut dengan tujuan kegiatan yang tercantum dalam proposal kegiatan maupun juga dengan kegiatan pembelajaran tradisional yang tidak menggunakan media bantu internet.

I.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan bahwa permasalahan yang ingin dijawab dalam kajian evaluasi ini, antara lain:

1. Apakah rencana kegiatan pembelajaran yang diajukan sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diajukan?

2. Apakah pelaksanaan kegiatan pembelajaran menggunakan E-Learning pada mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia sudah sesuai dengan rencana kegiatan pembelajaran yang diajukan?

3. Apakah sebenarnya mahasiswa sudah siap menerapkan metode pembelajaran E-Learning?

4. Apakah sebenarnya pengajar sudah siap menerapkan metode pembelajaran E-Learning?

5. Apakah sebenarnya sistim administrasi yang dimiliki oleh institusi pendidikan sudah dapat mengakomodasi penerapan metode pembelajaran E-Learning?

6. Apakah sebenarnya infrastruktur yang disediakan oleh institusi pendidikan sudah memadai untuk penerapan metode pembelajaran E-Learning?

7. Apakah pengguna lulusan melihat adanya nilai tambah atas penggunaan metode pembelajaran E-Learning?

8. Apakah metode pembelajaran menggunakan E-Learning secara signifikan lebih baik dari metode pembelajaran tradisional?

a. Apakah partisipasi mahasiswa dalam proses pembelajaran di kelas yang menggunakan E-Learning lebih tinggi dari partisipasi mahasiswa di kelas yang menggunakan metode pembelajaran tradisional?

b. Apakah pemahaman materi mahasiswa di kelas yang menggunakan E-Learning lebih tinggi dari pemahaman materi mahasiswa di kelas yang menggunakan metode pembelajaran tradisional?

9. Apakah sasaran kegiatan yang diajukan sudah layak dan sesuai dengan tujuan kegiatan dan kondisi yang dihadapi?

10. Apakah sasaran kegiatan yang diajukan dalam proposal sudah terpenuhi?

a. Jika sudah, apakah ada bagian dari implementasi metode pembelajaran E-Learning yang masih dapat diperbaiki?

b. Jika belum, apakah penyebab sasaran kegiatan belum terpenuhi dan apa saja solusi yang dapat dilakukan?

I.3 Identifikasi Stakeholder dan Manfaat Evaluasi bagi Stakeholder

Evaluasi yang dilaksanakan akan bermanfaat terhadap para stakeholder dalam hal sebagai berikut.

Tabel 1.2: Manfaat Evaluasi Untuk Para Stakeholder

Identifikasi Stakeholder

Peran Stakeholder

Manfaat Evaluasi terhadap Stakeholder

Mahasiswa yang mengambil kelas Manajemen Sumber Daya Manusia dengan metode pembelajaran yang menggunakan E-Learning

· Partisipan dalam kegiatan pembelajaran.

· Tolok ukur keberhasilan program

· Narasumber dalam evaluasi program

Sebagai dasar untuk mereka untuk meminta atau menolak penerapan E-Learning untuk mata kuliah MSDM maupun mata kuliah yang lain.

Selain itu, evaluasi ini juga dapat mengidentifikasi peluang perbaikan bagi penerapan E-Learning untuk mata kuliah MSDM maupun mata kuliah yang lain.

Dosen yang menjadi pengajar untuk kelas Manajemen Sumber Daya Manusia dengan metode pembelajaran yang menggunakan E-Learning

· Fasilitator yang mengimplementasikan program dalam kegiatan pembelajaran.

· Narasumber dalam evaluasi program

Sebagai dasar untuk mereka untuk meminta atau menolak penerapan E-Learning untuk mata kuliah MSDM maupun mata kuliah lain yang mereka ajar.

Selain itu, evaluasi ini juga dapat mengidentifikasi peluang perbaikan bagi penerapan E-Learning untuk mata kuliah MSDM maupun mata kuliah yang lain.


Identifikasi Stakeholder

Peran Stakeholder

Manfaat Evaluasi terhadap Stakeholder

Institusi Pendidikan: Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi, Departemen Manajemen

· Penanggung jawab kualitas pendidikan untuk kelas MSDM maupun mata kuliah lain pada Program Studi Manajemen S1 Reguler.

· Penanggung biaya pelaksanaan program dan evaluasi program.

Sebagai bahan pertimbangan untuk memutuskan keberlanjutan penerapan metode pembelajaran menggunakan E-Learning untuk mata kuliah MSDM dan penerapkan E-Learning secara lebih luas pada mata kuliah lain di Departemen Manajemen FEUI.

Pengguna Lulusan

(Industri dan Asosiasi Profesi)

· Sebagai pengguna akhir mahasiswa yang berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran menggunakan metode E-Learning.

· Partner “Link and Match” Institusi Pendidikan

Melihat nilai tambah yang dimiliki lulusan yang sudah terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode E-Learning.

I.4 Kredibilitas Evaluator

Sebagai usaha untuk meningkatkan kredibilitas evaluator evaluasi, pelaksanaan evaluasi sebaiknya dilaksanakan bekerjasama dengan unit pengendalian mutu akademik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sebagai otoritas pengendalian mutu pengajaran dan mengundang penasihat dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia sebagai otoritas keilmuan atas program pembelajaran berbasis E-Learning.

Bab II Landasan Teori dan Deskripsi Program E-Learning FEUI

II.1 Evaluasi Program

James R. Sanders dalam buku “The Program Evaluation Standards, 2nd Edition” (1994) mendefinisikan Evaluasi sebagai investigasi yang sistematis untuk menilai kegunaan sebuah obyek. Obyek yang dimaksud disini adalah suatu program atau project pendidikan, di mana program adalah aktivitas yang terus berlangsung tanpa ada batas waktu yang ditentukan sebelumnya sementara project memiliki batas waktu tertentu. Evaluasi suatu program atau project dilakukan untuk memutuskan apakah program/project itu sudah memenuhi tujuannya, apakah apa bagian dari program/project yang dapat ditingkatkan, dan/atau apakah sebaiknya program/project tersebut dihentikan saja.

Ada beberapa pendekatan umum dalam melakukan evaluasi. Pendekatan pertama adalah objective-oriented approach. Pendekatan ini hanya menfokuskan perhatian kepada tujuan program/project dan seberapa jauh tujuan itu tercapai. Pendekatan ini membutuhkan kontak intensif dengan pelaksana program/project yang bersangkutan. Pendekatan kedua adalah pendekatan three-dimensional cube atau Hammond’s evaluation approach. Berbeda dengan objective-oriented, Hammond’s melihat mengapa tujuan program/project bisa/tidak tercapai selain melihat apakah tujuan project/program tercapai. Karena itu, pendekatan Hammond melihat dari tiga dimensi yaitu instruction (karateristik pelaksanaan, isi, topik, metode, fasilitas, dan organisasi program/project), institution (karakteristik individual peserta, instructor, administrasi sekolah/kampus/organisasi), dan behavioral objective (tujuan program itu sendiri, sesuai dengan taksonomi Bloom, meliputi tujuan kognitif, afektif dan psikomotor).

Pendekatan ketiga adalah management-oriented approach. Mirip dengan Hammond’s, pendekatan ini berfokus kepada sistem (dengan model CIPP: context-input-proses-product) selain kepada tujuan program/project. Model ini lebih komprehensif daripada model Hammond’s karena pendekatan ini melihat program/project sebagai suatu sistem sehingga jika tujuan program tidak tercapai, bisa dilihat di proses bagian mana yang perlu ditingkatkan.

Pendekatan keempat adalah goal-free evaluation. Berbeda dengan tiga pendekatan di atas, pendekatan ini tidak berfokus kepada tujuan atau pelaksanaan program/project, melainkan berfokus pada efek sampingnya, bukan kepada apakah tujuan yang diinginkan dari pelaksana program/project terlaksana atau tidak. Evaluasi ini biasanya dilaksanakan oleh evaluator eksternal.

Pendekatan keempat adalah consumer-oriented approach. Berbeda dengan keempat di atas yang menilai kegunaan program/project, pendekatan ini menilai kegunaan materi seperti software, buku, silabus. Mirip dengan pendekatan kepuasan konsumen di ilmu Pemasaran, pendekatan ini menilai apakah materi yang digunakan sesuai dengan penggunanya, atau apakah diperlukan dan penting untuk program/project yang dituju. Selain itu, juga dievaluasi apakah materi yang dievaluasi di-follow-up dan cost effective.

Pendekatan kelima adalah expertise-oriented approach. Pendekatan ini adalah pendekatan tertua di mana evaluator secara subyektif menilai kegunaan suatu program/project, karena itu disebut subjective professional judgement. Dalam pendekatan ini, evaluasi dilaksanakan secara formal atau informal, dengan arti jadwal dispesifikasikan/tidak dispesifikasikan, standar penilaian dipublikasikan/tidak dipublikasikan. Selain itu, evaluasi bisa dilakukan oleh individu atau kelompok.

Pendekatan keenam adalah adversary-oriented approach. Dalam pendekatan ini, ada dua pihak evaluator yang masing-masing menunjukkan sisi baik dan buruk, sementara ada juri yang menentukan argumen evaluator mana yang diterima. Untuk melakukan pendekatan ini, evaluator harus tidak memihak, meminimalkan bias individu dan mempertahankan pandangan yang seimbang.

Pendekatan terakhir adalah naturalistic & participatory approach. Pelaksana evaluasi dengan pendekatan ini bisa para stakeholder. Hasil dari evaluasi ini beragam, sangat deskriptif dan induktif. Evaluasi ini menggunakan data beragam dari berbagai sumber dan tidak ada standar rencana evaluasi. Susahnya dari pendekatan evaluasi ini adalah hasilnya tergantung siapa yang menilai.

II.2 Program Pembelajaran berbasis E-Learning

Strategi pembelajaran merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian kompetensi lulusan. Strategi pembelajaran telah mengalami perkembangan yang cukup pesat seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Salah satu di antaranya adalah E-Learning. E-Learning telah menjadi suatu kebutuhan bagi sivitas akademika, mengingat baik dosen, mahasiswa maupun institusi pendidikan telah memanfaatkan teknologi komputer dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Perubahan paradigma strategi pembelajaran dari teacher-centered ke learner-centered mendorong sivitas akademika untuk menggunakan E-Learning sebagai salah satu metode pembelajaran yang dipersepsikan bersifar learner centered. Pemanfaatan E-Learning diharapkan dapat memotivasi peningkatan kualitas pembelajaran dan materi ajar, kualitas aktivitas dan kemandirian mahasiswa, serta komunikasi anatara dosen dengan mahasiswa maupun antar mahasiswa. E-Learning juga dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan ruang kelas serta hambatan jarak dan waktu, di dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

E-Learning adalah proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara sistematis dengan mengintegrasikan semua komponen pembelajaran, termasuk interaksi pembelajaran lintas ruang dan waktu, dengan kualitas yang terjamin ( Prof. Dr. Sulistyoweni Widanarko (BPMA).

Komponen E-Learning mencakup:

1. Perangkat keras

2. Infrastruktur/jaringan

3. Perangkat lunak

4. Materi/Isi

5. Strategi interaksi

6. Pemeran (dosen, mahasiswa dan lain-lain)

Skenario E-Learning memungkinkan mahasiswa dapat kontak langsung dengan mahasiswa lain, dosen maupun berbagai materi dan sumber belajar dalam bentuk elektronik. Materi yang dimaksud bisa dalam bentuk bahan ajar, materi tugas, soal ujian/tes maupun bentuk linkages

Perbedaan utama antara pembelajaran konvensional dan E-Learning adalah adanya media antarmuka berbasis web yang digunakan selama proses pembelajaran. Pada pembelajaran konvensional interaksi dilakukan dalam bentuk tatap muka, sedangkan dalam E-Learning dapat dilakukan melalui media elektronik.

Gambar 2.1 Perbedaan Proses Pembelajaran Konvensional dan Berbasis E-Learning

Ditinjau dari moda penggunaan media elektronik dalam pembelajaran, strategi/metode E-Learning di UI dibedakan atas 4 (empat) kategori, yaitu:

Kategori 1: Perkuliahan tetap dilakukan secara tatap muka. Pemanfaatan TIK hanya untuk memfasilitasi perkuliahan tatap muka tersebut, seperti untuk pengiriman silabus, materi, soal latihan, tugas dan komunikasi melalui forum diskusi elektronik. Proporsi penyampaian materi perkuliahan secara elektronik berkisar 0-10%, dan semua bahan kuliah (materi, tugas, butir tes, dan lain-lain.) sudah berbentuk elektronik (e-file).

Kategori 2: Perkuliahan dilakukan secara tatap muka dan secara elektronik. Proporsi penyampaian materi perkuliahan secara elektronik sebesar 10-40%.

Kategori 3: Perkuliahan dilakukan secara tatap muka dan secara elektronik. Proporsi penyampaian materi perkuliahan secara elektronik sebesar 40-80%.

Kategori 4: Perkuliahan dan penyampaian materi perkuliahan dilakukan secara elektronik. Komunikasi antara dosen dan mahasiswa juga dilakukan secara elektronik, sehingga pertemuan secara tatap muka dilakukan dengan kuantitas maksimal (<20%).

II.3 Hibah Pengajaran untuk Penerapan Kegiatan Pembelajaran Berbasis E-Learning untuk Mata Kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia

Dalam rangka mendukung visi UI untuk “Menjadi Universitas Riset yang mandiri, modern, dan berkualitas internasional” dan mencapai visi Departemen Manajemen FEUI ”menjadi center of excellent dalam bidang pendidikan dan riset bisnis-manajemen di Asia Pasifik”, maka staf pengajar sebagai salah satu elemen terpenting dituntut untuk dapat terus meningkatkan kompetensinya dalam proses pengajaran berbasis pada experiential learning dan student centered learning.

Sementara itu, pengajar dihadapkan pada keterbatasan-keterbatasan yang menghambat penerapan kedua konsep pembelajaran tersebut dalam proses perkuliahan. Diantara keterbatasan-keterbatasan tersebut, dua keterbatasan yang paling signifikan pengaruhnya adalah terbatasnya waktu perkuliahan yang tersedia untuk proses pembelajaran experiential learning dan rendahnya kemauan mahasiswa untuk belajar mandiri diluar kelas tanpa arahan dosen.

Penyampaian materi menggunakan experiential learning membutuhkan waktu penyampaian yang lebih panjang dibanding perkuliahan konvensional. Asosiasi Pendidikan Experiential mendefinisikan experiential learning sebagai “a philosophy and methodology in which educators purposefully engage with learners in direct experience and focused reflection in order to increase knowledge, develop skills and clarify values.”

Dengan kata lain, pengajar harus merencanakan dan menghadirkan sebuah pengalaman langsung yang relevan dan memberikan refleksi yang dapat meningkatkan pengetahuan, mengembangkan skill dan memperjelas nilai-nilai, yang kesemuanya membutuhkan waktu penyampaian yang lebih panjang dibandingkan metode pembelajaran konvensional dengan lecture ataupun presentasi text-book untuk satu materi yang sama.

Seringkali dengan banyaknya kuantitas materi yang harus disampaikan dan keterbatasan waktu penyampaian, antara 1 hingga 3 chapter yang harus disampaikan hanya dalam waktu 2,5 jam perkuliahan dan 1-1,5 jam asistensi per minggu, pengajar terpaksa harus mengorbankan kualitas untuk mencapai kuantitas penyampaian materi. Rencana pengajaran experiential learning menjadi tidak feasible karena keterbatasan waktu perkuliahan membatasi metode-metode experiential yang dapat dipakai.

Terlebih lagi mahasiswa memiliki keterbatasan konsetrasi dan perhatian dalam mengikuti metode pembelajaran konvensional dengan lecture dan presentasi text-book, sehingga hanya dalam 1 – 1,5 jam perkuliahan saja mahasiswa seringkali sudah kehilangan konsentrasi dan perhatian dalam menyerap materi perkuliahan.

Dilain pihak, mahasiswa juga belum menunjukkan kemandirian yang diperlukan dalam melakukan proses student centered learning. Kemauan mahasiswa untuk membaca text-book sebelum mengikuti perkuliahan masih rendah, sehingga dosen masih menjadi sumber utama materi perkuliahan. Pada metode presentasipun mahasiswa yang melakukan persiapan sebelum perkuliahan terbatas pada mahasiswa yang mendapat giliran presentasi pada pertemuan tersebut.

Dengan rendahnya tingkat kemandirian tersebut, metode pengajaran dan evaluasi menjadi penting untuk memotivasi dan menumbuhkan inisiatif mahasiswa untuk belajar secara mandiri diluar jam perkuliahan.

Untuk itu, salah satu alternatif metode pembelajaran yang dapat digunakan sebagai komplemen untuk metode pembelajaran konvensional di dalam kelas, adalah metode pembelajaran menggunakan media teknologi informasi atau E-Learning. E-Learning memberikan kesempatan bagi dosen untuk memberikan penyampaian materi di luar perkuliahan dan mendorong inisiatif mahasiswa untuk belajar secara mandiri diluar jam perkuliahan.

Dengan sudah tersedianya platform Learning Management System (LMS) di UI seperti SCeLE dan melalui pemberian hibah pengajaran untuk penerapan kegiatan pembelajaran berbasis E-Learning, terbuka kesempatan yang lebar bagi pengajar yang memiliki inovasi pengajaran berbasis teknologi informasi untuk mewujudkan idenya dalam bentuk implementasi proses pembelajaran E-Learning berbasis experiential learning.

II.4 Uraian Mata Ajar Manajemen Sumber Daya Manusia (EMA 22004)

Mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib departemen yang menjadi pengantar ke arah pemahaman mahasiswa tentang pengelolaan sumber daya manusia dan hubungannya dengan strategi perusahaan. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah 3 SKS.

Materi kuliah menekankan pada fungsi dan konsep manajemen sumber daya manusia yang dimulai dari perencanaan SDM, analisa dan rancangan pekerjaan, rekruitasi dan seleksi SDM, orientasi dan penempatan karyawan, pelatihan dan pengembangan SDM, penilaian prestasi kerja, pengembangan karir, penentuan remunerasi serta strategi pemeliharaan karyawan.

Sistematika materi pembelajaran dapat dibagi menjadi enam kelompok, antara lain:

A. Perencanaan:

1. Job Analysis

2. Manpower Planning

B. Pengadaan:

1. Rekrutmen

2. Seleksi

C. Pembudayaan:

1. Orientasi

2. ISO

D. Pengembangan:

1. Pelatihan

2. Pengembangan

3. Perencanaan Karir

E. Pemberdayaan:

1. Penempatan Karyawan

2. Penilaian Kinerja

3. Kompensasi

F. Pemeliharaan:

1. Hubungan Industrial

2. Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Setelah mengikuti mata kuliah ini diharapkan para mahasiswa memperoleh pengetahuan serta memahami pentingnya pengelolaan dan strategi SDM dalam rangka mencapai tujuan organisasi

Dalam pencapaian tujuan di atas, kami mengedepankan beberapa cara yaitu dengan penggunaan studi kasus dan juga student-centered learning dengan optimalisasi penggunaan LMS yang sudah ada di UI sebagai komplemen terhadap metode pembelajaran konvensional.


Silabus Perkuliahan Manajemen Sumber Daya Manusia

Pertemuan ke-

Topik Bahasan

Tugas Mahasiswa

Bab

1

Introduction of HRM ;

Strategic Role of HRM

Mengikuti kuliah dan tanya jawab

D 1

WD 1

2

Job Description, Job Specification, & Job Performance Standard as result of Job Analysis

Mengikuti kuliah dan tanya jawab

D 4

WD 5

3

Personnel Planning & Recruiting

Mengikuti kuliah dan tanya jawab

D 5

4

Selection Process and Interviewing

Mengikuti kuliah dan tanya jawab

D 6,7

5

Orientation, Training and Developing Employees

Mengikuti kuliah dan tanya jawab

D 8

WD 10

6

Managing Careers

Mengikuti kuliah dan tanya jawab

D 10

WD 11

7

Kuliah Tamu

Resume Kuliah Tamu

Materi Pembicara Tamu

UJIAN TENGAH SEMESTER

8

Performance Management and Appraisal

Mengikuti kuliah dan tanya jawab

D 9

WD 12

9

Establishing Strategic Pay Plans and Pay for Performance

Mengikuti kuliah dan tanya jawab

D 11, 12

WD 13

10

Financial Incentives, Benefits and Services

Mengikuti kuliah dan tanya jawab

D 12, 13

WD 14, 15

11

Ethics, Justice & Fair Treatment; Labor Relations (Indonesia’s Context)

Mengikuti kuliah dan tanya jawab

Materi kordinator

12

Employees Health & Safety (Indonesia’s Context)

Mengikuti kuliah dan tanya jawab

Materi kordinator

13

Case Study

Diskusi Kelompok

Membuat makalah

Materi kordinator/dosen

14

Kuliah Tamu

Resume Kuliah Tamu

Materi Pembicara Tamu

UJIAN AKHIR SEMESTER

Keterangan Buku Teks:

D : Gary Dessler, Human Resources Management, 11th ed, Prentice Hall, 2007

WD : William B. Werther Jr & Keith Davis, Human Resources and Personnel

Management, 5th ed., McGraw Hill, 1996.


MEKANISME DAN RANCANGAN PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN BERBASIS E-LEARNING

Topik

PERENCANAAN

PERENCANAAN

PEMBUDAYAAN

PENGEMBANGAN

Waktu

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Minggu 5

Minggu 6

Minggu 7

UTS

Senin

UPLOAD LITERATUR

UPLOAD LITERATUR

UPLOAD LITERATUR

UPLOAD LITERATUR

UPLOAD LITERATUR

UPLOAD LITERATUR

Selasa

KELAS

KELAS

KELAS

KELAS

KELAS

KELAS

KELAS

Rabu

UPLOAD KASUS & TUGAS

SUBMIT TUGAS

UPLOAD KASUS & TUGAS

SUBMIT TUGAS

UPLOAD KASUS

UPLOAD KASUS & TUGAS

SUBMIT TUGAS

Kamis

DISKUSI TUGAS

DISKUSI TUGAS

DISKUSI TUGAS

Jum’at

DISKUSI KASUS

LATIHAN

DISKUSI KASUS

LATIHAN

DISKUSI KASUS & KUIS

DISKUSI KASUS

LATIHAN

Sabtu

PUBLISH EVALUASI TOPIK

PUBLISH EVALUASI TOPIK

PUBLISH EVALUASI TOPIK

PUBLISH EVALUASI TOPIK

Minggu

Topik

PEMBERDAYAAN

PEMELIHARAAN

EVALUASI

Waktu

Minggu 8

Minggu 9

Minggu 10

Minggu 11

Minggu 12

Minggu 13

Minggu 14

UAS

Senin

UPLOAD LITERATUR

UPLOAD LITERATUR

UPLOAD LITERATUR

UPLOAD LITERATUR

UPLOAD LITERATUR

UPLOAD LITERATUR

Selasa

KELAS

KELAS

KELAS

KELAS

KELAS

KELAS

KELAS

Rabu

UPLOAD KASUS & TUGAS

SUBMIT TUGAS

UPLOAD KASUS & TUGAS

SUBMIT TUGAS

Kamis

KUIS

Jum’at

DISKUSI KASUS

DISKUSI TUGAS

LATIHAN

DISKUSI KASUS

DISKUSI TUGAS

LATIHAN

Sabtu

PUBLISH EVALUASI TOPIK

PUBLISH EVALUASI TOPIK

PUBLISH EVALUASI FINAL

Minggu


PENJELASAN MEKANISME

UPLOAD LITERATUR:

Administrator mengupload materi dan literatur yang relevan dengan topik yang sedang dibahas pada minggu tersebut. Upload dilakukan satu hari sebelum perkuliahan agar mahasiswa bisa membaca dan mencari informasi yang lebih dalam mengenai materi perkuliahan.

Contoh: Untuk topiK Pemberdayaan, khususnya sub-topik sistem kompensasi pekerja, mahasiswa sebaiknya sudah memahami konsep motivasi dan pengaruhnya terhadap kinerja. Oleh karena itu, administrator menyediakan link yang dapat diakses untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai konsep motivasi.

http://ollie.dcccd.edu/mgmt1374/book_contents/4directing/motivatg/motivate.html

KELAS:

Metode pembelajaran konvensional mengandalkan tatap muka mingguan dalam kelas.Sebelum mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharapkan untuk sudah menggali lebih dalam mengenai materi yang akan diajarkan. Dosen mencoba memancing diskusi mahasiswa mengenai materi dan literature yang sudah di upload sehri sebelumnya.

UPLOAD KASUS DAN TUGAS:

Administrator mengupload tugas dan kasus yang harus didiskusikan dan dikerjakan oleh semua mahasiswa.

DISKUSI KASUS:

Content Specialist bekerja sama dengan administrator dalam memandu jalannya diskusi mahasiswa pada forum yang telah disediakan.

SUBMIT TUGAS:

Deadline penyerahan tugas yang sudah di upload paling lambat satu minggu sebelum jadwal pengumpulan.

DISKUSI TUGAS:

Tugas yang sudah dikerjakan dan dikumpulkan oleh mahasiswa, dianalisa dalam diskusi kelas untuk menantang pendekatan masing-masing.

LATIHAN/KUIS:

Mahasiswa diwajibkan mengerjakan latihan/kuis yang berisi serangkaian pertanyaan yang dipilih secara random. Tempat untuk pelatihan bisa bebas.

PUBLISH EVALUASI :

Setiap akhir pembahasan suatu topik, administrator mengupload hasil evaluasi untuk topik tersebut. Administrator mengupload nilai evaluasi total sebelum UAS.


Bab III. Metode Evaluasi

III.1 Pendekatan Evaluasi yang Digunakan

Pendekatan evaluasi yang akan digunakan untuk mengevaluasi Program Pembelajaran Berbasis E-Learning untuk mata kuliah MSDM adalah pendekatan C-I-P-P atau Context-Input-Process-Product.

Mengenai aspek Context dari program, akan dievaluasi apakah rencana kegiatan pembelajaran berbasis E-Learning untuk mata kuliah MSDM sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran. Selain itu, juga akan dievaluasi apakah sasaran kegiatan yang diajukan oleh program sudah layak dan sesuai dengan tujuan kegiatan dan kondisi yang dihadapi pada mata kuliah MSDM. Aspek context yang akan dievaluasi juga adalah mengenai persepsi pengguna lulusan terhadap nilai tambah penggunaan metode pembelajaran E-Learning.

Mengenai aspek Input dari program, akan dievaluasi kesiapan dari para stakeholder yang memiliki peran aktif dalam pelaksanaan program, yakni mahasiswa, pengajar dan pengelola institusi pendidikan. Kesiapan yang dievaluasi dari mahasiswa dan pengajar adalah kesiapan motivasi, kemampuan , dan fasilitas pembelajaran berbasis E-Learning. Sementara aspek kesiapan yang akan dievaluasi dari pengelola institusi pendidikan adalah kesiapan infrastruktur dan sistim administrasi pendukung kegiatan pembelajaran berbasis E-Learning.

Mengenai aspek Process dari program, yang akan dievaluasi adalah apakah metode pembelajaran menggunakan E-Learning secara signifikan lebih baik dari metode pembelajaran tradisional. Indikator yang digunakan ada dua, yakni partisipasi mahasiswa dan pemahaman materi. Selain itu, akan dievaluasi apakah pelaksanaan kegiatan pembelajaran menggunakan E-Learning pada mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia sudah sesuai dengan rencana kegiatan pembelajaran yang diajukan dan apakah ada penerapan metode pembelajaran yang masih dapat diperbaiki.

Mengenai aspek Product, akan dievaluasi apakah sasaran kegiatan yang diajukan dalam proposal sudah terpenuhi. Jika sasaran yang diajukan belum terpenuhi, maka akan dicari apakah penyebab sasaran kegiatan belum terpenuhi dan apa saja solusi yang dapat dilakukan.

III.2 Tujuan Evaluasi

Berdasarkan dengan latar belakang, perumusan masalah, dan pendekatan evaluasi yang digunakan, maka evaluasi program untuk Program Pembelajaran Berbasis E-Learning ini memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Menilai secara context, kesesuaian Program Pembelajaran Berbasis E-Learning dengan tujuan, situasi dan kondisi kegiatan pembelajaran mata kuliah MSDM di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

2. Menilai secara input, kesiapan mahasiswa dan pengajar sudah siap untuk menggunakan Program Pembelajaran Berbasis E-Learning, serta kesiapan fasilitas dan institusi pendukung pelaksanaan Program Pembelajaran Berbasis E-Learning

3. Menilai secara process, konsistensi implementasi Program Pembelajaran Berbasis E-Learning dalam mata kuliah MSDM terhadap panduan pembelajaran E-Learning dan rencana kegiatan yang diajukan.

4. Menilai secara product, pencapaian sasaran yang diajukan dalam proposal kegiatan Program Pembelajaran Berbasis E-Learning untuk mata kuliah MSDM.

III.3 Lingkup tempat dan waktu evaluasi

Evaluasi akan dilakukan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Evaluasi akan dilakukan terhadap penerapan Program Pembelajaran Berbasis E-Learning untuk mata kuliah MSDM yang akan berjalan pada kalender akademik semester pendek 2009-2010.

Evaluasi akan dilaksanakan selama satu semester pendek atau sekitar dua bulan, mulai dari awal semester pada bulan Juni 2009 hingga akhir semester pada bulan Agustus 2009.

Evaluasi dilaksanakan pada enam kelas mata kuliah MSDM. Tiga kelas akan menggunakan Program Pembelajaran Berbasis E-Learning, sementara tiga kelas lainnya akan menggunakan Program Pembelajaran Konvensional.

III.4 Pertanyaan Evaluasi

No.

Pertanyaan Evaluasi

Sasaran

Pengumpulan Data

Analisis

1

Apakah rencana kegiatan pembelajaran yang diajukan sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diajukan?

Pengajar

Wawancara

Triangulasi Data

Pengelola

Wawancara

Mahasiswa

Kuesioner

2

Apakah pelaksanaan kegiatan pembelajaran menggunakan E-Learning pada mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia sudah sesuai dengan rencana kegiatan pembelajaran yang diajukan?

Pengajar

Wawancara

Analisis Statistik dan Komparasi

Mahasiswa

Kuesioner

3

Apakah sasaran kegiatan yang diajukan sudah layak dan sesuai dengan tujuan kegiatan dan kondisi yang dihadapi?

Pengajar

Wawancara

Triangulasi Data

Pengelola

Wawancara

Mahasiswa

Kuesioner

4

Apakah sebenarnya mahasiswa sudah siap menerapkan metode pembelajaran E-Learning?

Pengajar

Wawancara

Triangulasi Data

Pengelola

Wawancara

Mahasiswa

Kuesioner

5

Apakah sebenarnya pengajar sudah siap menerapkan metode pembelajaran E-Learning?

Pengajar

Wawancara

Triangulasi Data

Pengelola

Wawancara

Mahasiswa

Kuesioner

6

Apakah sebenarnya sistim administrasi yang dimiliki oleh institusi pendidikan sudah dapat mengakomodasi penerapan metode pembelajaran E-Learning?

Pengajar

Wawancara

Triangulasi Data

Pengelola

Wawancara

Mahasiswa

Kuesioner

7

Apakah sebenarnya infrastruktur yang disediakan oleh institusi pendidikan sudah memadai untuk penerapan metode pembelajaran E-Learning?

Pengajar

Wawancara

Triangulasi Data

Pengelola

Wawancara

Mahasiswa

Kuesioner

Koneksi Internet Kampus

Observasi Lapangan

8

Apakah partisipasi mahasiswa dalam proses pembelajaran di kelas yang menggunakan E-Learning lebih tinggi dari partisipasi mahasiswa di kelas yang menggunakan metode pembelajaran tradisional?

Pengajar

Wawancara

Triangulasi Data

Mahasiswa

Kuesioner dan Observasi Lapangan

9

Apakah pemahaman materi mahasiswa di kelas yang menggunakan E-Learning lebih tinggi dari pemahaman materi mahasiswa di kelas yang menggunakan metode pembelajaran tradisional?

Pengajar

Wawancara

Triangulasi Data dan Perbandingan Nilai Ujian

Pengelola

Wawancara

Mahasiswa

Nilai Ujian

10

Apakah sasaran kegiatan yang diajukan dalam proposal sudah terpenuhi?

Pengajar

Wawancara

Triangulasi Data

Pengelola

Wawancara

Mahasiswa

Kuesioner

a.

Jika sudah, apakah ada bagian dari implementasi metode pembelajaran E-Learning yang masih dapat diperbaiki?

Pengajar

Wawancara

Triangulasi Data

Pengelola

Wawancara

Mahasiswa

Kuesioner

b.

Jika belum, apakah penyebab sasaran kegiatan belum terpenuhi dan apa saja solusi yang dapat dilakukan?

Pengajar

Wawancara

Triangulasi Data

Pengelola

Wawancara

Mahasiswa

Kuesioner

11

Apakah pengguna lulusan melihat adanya nilai tambah atas penggunaan metode pembelajaran E-Learning?

Pengguna Lulusan

Kuesioner

Analisis Statistik

III.5 Metode dan Instrumen Pengumpulan Data

Beberapa metode pengumpulan data yang akan dilakukan, antara lain:

a. Wawancara

Salah satu metode yang digunakan untuk menggali pandangan stakeholder, khususnya pengajar dan pengelola institusi pendidikan, adalah metode wawancara. Untuk menjawab pertanyaan evaluasi yang menyangkut stakeholder tertentu, akan dilakukan wawancara terpandu (guided interview) terhadap perwakilan stakeholder yang diundang secara khusus.

Untuk perwakilan pengelola institusi pendidikan, jika memungkinkan akan mengundang Dekan dan Kepala Departemen yang bersangkutan sebagai narasumber. Jika dua pejabat tersebut berhalangan, maka Manajer bidang Pendidikan dan Manajer bidang Administrasi dan Infrastruktur (Adfastur) akan diminta sebagai perwakilan pengganti.

Untuk perwakilan pengajar, akan diambil dua orang pengajar dari kelas yang sudah menggunakan metode pembelajaran berbasis E-Learning dan dua orang pengajar dari kelas yang belum menggunakan metode pembelajaran berbasis E-Learning sebagai narasumber.

b. Observasi Lapangan

(1) Observasi Konektivitas Internet Kampus

Observasi ini dilakukan dengan mencoba mengakses situs Student Centered e-Learning Environment (SCeLE) yang merupakan platform LMS (Learning Management System) yang dikembangkan oleh Universitas Indonesia menggunakan Jaringan UI TerpAdu (JUITA). SCeLE ini juga yang digunakan dalam program pembelajaran berbasis E-Learning sebagai sarana interaksi pengajar dan mahasiswa melalui internet.

Observasi dilakukan pada tiga waktu yang berbeda (pukul 8.00, 12.00 dan 20.00 WIB) dari dua access point yang berbeda (menggunakan wireless JUITA dari kampus dan menggunakan jaringan internet dari warnet di sekitar kampus) setiap hari selama satu minggu. Hasil observasi ini adalah rerata kecepatan loading halaman muka yang akan digunakan untuk mengevaluasi kesiapan infrastruktur bandwidth yang disediakan JUITA.

(2) Observasi Partisipasi Mahasiswa dalam Kelas

Observasi ini dilakukan secara acak pada satu kelas mata kuliah MSDM yang menggunakan program pembelajaran berbasis E-Learning dan satu kelas mata kuliah MSDM yang belum menggunakan program pembelajaran berbasis E-Learning. Observasi ini dilakukan selama jam perkuliahan. Observasi dilakukan secara simultan pada materi pertemuan yang sama, oleh dua kelompok yang masing-masing terdiri dari tiga orang pengamat. Pengajar dan mahasiswa akan diberitahu terlebih dahulu bahwa mereka akan diobservasi, walaupun tanggal pasti pelaksanaan observasi akan dirahasiakan hingga hari-H.

c. Survey dengan Kuesioner

Survey akan dilaksanakan untuk menggali pandangan dan persepsi mahasiswa sebagai pengguna program serta perwakilan industri dan asosiasi profesi sebagai pengguna dari mahasiswa yang sudah lulus. Metode ini dipilih karena jumlah stakeholder terlalu banyak untuk diambil sampel yang cukup mewakili untuk wawancarai. Oleh karena itu, untuk dua kelompok stakeholder ini diputuskan untuk dilakukan survey menggunakan kuesioner.

Survey untuk mahasiswa dilakukan secara serentak pada waktu yang sudah dialokasikan sebelum mahasiswa mulai mengerjakan UAS. Tidak ada proses sampling pada survey ini karena semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah MSDM yang menggunakan program pembelajaran berbasis E-Learning sebanyak tiga kelas harus berpartisipasi dalam survey ini.

Sementara itu, untuk survey terhadap pengguna lulusan dilakukan melalui alumnus yang sudah bekerja kepada atasan langsung mereka dan alumnus yang sedang tergabung dalam suatu asosiasi profesi tertentu. Diperkirakan akan diperoleh data dari kurang lebih 150 orang responden yang dipilih secara kuota, dengan target kurang lebih 100 responden dari pengguna industri dan 50 responden dari asosiasi profesi.

d. Ujian

Umumnya ujian diadakan dua kali setiap semester, yakni Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Ujian dilakukan secara paralel, dengan soal yang sama, untuk enam kelas Manajemen Sumber Daya Manusia. Soal ujian disusun bersama oleh tim dosen berdasarkan materi perkuliahan yang telah diajarkan, dengan bentuk pilihan ganda sebanyak 75 soal yang harus dikerjakan dalam waktu 150 menit secara closed book.

III.6 Teknik dan Analisis Data

  1. Triangulasi Data

Untuk memperoleh kebenaran, evaluasi ini menggunakan teknik triangulasi. Menurut Patton, triangulasi data berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Moleong, 1990: 178). Triangulasi data dari penelitian ini diperoleh dengan melakukan cross-check informasi antara informan yang satu dengan informan yang lain. Adapun dari beberapa macam teknik triangulasi, maka pada penelitian ini yang akan digunakan adalah teknik triangulasi sumber.

Triangulasi sumber adalah teknik yang digunakan dengan cara membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.

Triangulasi sumber ini dapat dilakukan dengan beberapa jalan, yaitu :

· Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara.

· Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

· Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

· Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang, seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, dan orang pemerintahan.

· Membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan.

Dari kelima jalan dalam proses triangulasi sumber tersebut, maka pada evaluasi ini akan digunakan jalan dengan membandingkan (1) hasil wawancara dengan hasil pengamatan, (2) perspektif berbagai stakeholder (mahasiswa, pengajar dan pengelola), dan (3) hasil wawancara dengan dokumen yang berkaitan (hasil ujian mahasiswa).

  1. Analisis Statistik

Untuk hasil kuesioner dari mahasiswa dan pengguna, akan dilakukan analisis statistik deskriptif menggunakan software SPSS. Sementara, untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan nilai mahasiswa antara kelas yang menggunakan E-Learning dengan yang tidak, akan dilakukan uji beda 2 sampel independent terhadap hasil ujian tengah semester dan ujian akhir semester seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah MSDM.


Lampiran A:

Evaluation Standards

Digunakan

Tidak Digunakan

Tidak Dapat Digunakan

U1

Stakeholder Identification

V

U2

Evaluator Credibility

V

U3

Information Scope and Selection

V

U4

Values Identification

V

U5

Report Clarity

V

U6

Report Timeliness and Dissemination

V

U7

Evaluation Impact

V

F1

Practical Procedures

V

F2

Political Viability

V

F3

Cost Effectiveness

V

P1

Service Orientation

V

P2

Formal Agreements

V

P3

Rights of Human Subjects

V

P4

Human Interactions

V

P5

Complete and Fair Assessment

V

P6

Disclosure of Findings

V

P7

Conflict of Interest

V

P8

Fiscal Responsibility

V

A1

Program Documentation

V

A2

Context Analysis

V

A3

Described Purposes and Procedures

V

A4

Defensible Information Sources

V

A5

Valid Information

V

A6

Reliable Information

V

A7

Systematic Information

V

A8

Analysis of Quantitative Information

V

A9

Analysis of Qualitative Information

V

A10

Justified Conclusions

V

A11

Impartial Reporting

V

A12

Metaevaluation

V


Daftar Pustaka

Badan Penjaminan Mutu Akademik Universitas Indonesia. (2007). Pedoman Penjaminan Mutu Penyelenggaraan E-Learning. http://www.clr.ui.ac.id

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Buku Panduan Akademik 2008/2009.

Mustaqim, M (2007) Laporan Akhir Pengembangan Materi Pembelajaran Berbasis E-Learning pada Mata Kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia.

Langbein, L. & Felbinger, C. L. (2006). Public Program Evaluation. New York: M. E. Sharpe, Inc.

The Joint Committee on Standards for Educational Evaluation. (1994). The Program Evaluation Standards, 2nd edition, How to Assess Evaluation of Educational Programs. Thousand Oaks, California: Sage Publications, Inc.

Lexy J. Moleong. (1989). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remadja Karya

Universitas Indonesia

TUGAS MATA KULIAH ANALISIS DATA KATEGORIK: ANALISIS CHI-SQUARE TERHADAP PENGALAMAN BERWIRAUSAHA DAN PENGALAMAN GAGAL DALAM BERWIRAUSAHA BERDASARKAN GENDER

July 9th, 2009 -- Posted in Minor Assignments | Comments Off

Imam Salehudin

NPM 0806436680

TUGAS MATA KULIAH ANALISIS DATA KATEGORIK:

ANALISIS CHI-SQUARE TERHADAP PENGALAMAN BERWIRAUSAHA DAN PENGALAMAN GAGAL DALAM BERWIRAUSAHA BERDASARKAN GENDER

I. Tujuan Analisis

Dua variabel yang diteliti disini adalah Pengalaman Berwirausaha dan Pengalaman Gagal berdasarkan Gender berdasarkan variabel demografis Jenis Kelamin. Tujuan analisis ini adalah mencari tahu keberadaan perbedaan pengalaman berwirausaha dan pengalaman gagal berwirausaha antara Pria dan Wanita. Jika terdapat perbedaan, hal ini dapat menjadi dasar intervensi pemberdayaan ekonomi wanita khususnya dalam hal wirausaha.

II. Analisis Data

A. Observed Count

Gender * Pernah Berwirausaha

Count

Pernah Berwirausaha

Total

Tidak Pernah

Pernah

Gender

Wanita

11

32

43

Pria

0

7

7

Total

11

39

50

Gender * Gagal Berwirausaha

Count

Gagal Berwirausaha

Total

Gagal

Sukses

Gender

Wanita

11

21

32

Pria

3

4

7

Total

14

25

39

B. Expected Count

Gender * Pernah Berwirausaha

Count

Pernah Berwirausaha

Total

Tidak Pernah

Pernah

Gender

Wanita

9.46

33.54

43

Pria

1.54

5.46

7

Total

11

39

50

Gender * Gagal Berwirausaha

Count

Gagal Berwirausaha

Total

Gagal

Sukses

Gender

Wanita

11.49

20.51

32

Pria

2.51

4.49

7

Total

14

25

39

C. Statistik Uji

χobserved ~ χobserved

χ2Gender*Pernah=2.295766, sig.= 0.129727 (df=1, α=0.05)

χ2Gender*Gagal=0.179579, sig.= 0.671735 (df=1, α=0.05)

V. Kesimpulan

H0 tidak dapat ditolak untuk kedua hipotesis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara gender dengan pengalaman melakukan wirausaha maupun pengalaman gagal berwirausaha.

Universitas Indonesia
Universitas Indonesia

TUGAS AKHIR METODE KUANTITATIF DESAIN PENELITIAN

January 5th, 2009 -- Posted in Papers | Comments Off

TUGAS AKHIR METODE KUANTITATIF DESAIN PENELITIAN

DOSEN: HAMDI MULUK, Ph. D

KECENDERUNGAN INTENSI SEKSUALITAS

MAHASISWA S1 BERDASARKAN 5 INDEPENDENT VARIABEL DAN 1 MODERATING VARIABEL

ADRIAN ACHYAR, NPM 0806 436 352

IMAM SALEHUDIN, NPM 0806 436 680

ADHIKA GANENDRA, NPM 0806436333

ANNA ARMEINI RANGKUTI, NPM 0806 436 390

ELISABETH TRI ASTUTININGTYAS, NPM 0806436516

INDAH MELIANA, NPM 0806436693

Program Pascasarjana Terapan Psikometri

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Pendahuluan

Policy capturing adalah sebuah metode yang digunakan untuk menganalisa pertimbangan (judgement) yang didasari oleh berbagai stimuli yang multi dimensi dengan menggunakan metode model linear (Wiederman, 1999). Dengan menggunakan dasar analisa regresi, subyek diminta untuk membuat keputusan dari berbagai skenario, lalu peneliti meregresikan keputusannya dengan berbagai dimensi (stimuli) yang diberikan (Aiman-Smith, Scullen & Barr, 2002).

Metode ini masih satu aliran dengan psikologi kognitif dalam pengambilan keputusan di mana seseorang diasumsikan menganalisa semua alternatif dan pertimbangan sebelum melakukan sesuatu untuk mencapai nilai (value) maksimum (Norman, 1977). Dalam analisa, metode ini menggunakan model linear baik uji beda rata-rata dengan t-test, ANOVA, atau MANOVA, menggunakan regresi sederhana atau berganda dengan variabel dummy, atau menggunakan regresi multivariat (multivariate regression). Dengan regresi, nilai koefisien regresi yang didapat adalah besarnya pengaruh setiap stimulus terhadap keputusan (Aiman-Smith, Scullen & Barr, 2002).

Pendekatan metode policy capturing ini berbeda dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP; Bhushan & Rai, 2004). Pada AHP, besarnya kepentingan setiap dimensi terhadap suatu keputusan ditentukan dengan pembobotan. Karena itu, seseorang diasumsikan memiliki pemahaman (insight) yang baik terhadap setiap dimensi yang memengaruhi keputusannya dan besarnya pengaruh setiap dimensi terhadap keputusan sehingga dia bisa memberikan pembobotan.

Namun kadang-kadang seseorang mempunyai pemahaman yang kurang baik terhadap dimensi-dimensi keputusan (Wiederman, 1999). Tidak hanya pemahaman yang kurang baik, kadang bahkan dimensinya-pun tidak diketahui. Jika ini terjadi, metode AHP, atau pendekatan kognitif yang lain, kurang tepat digunakan untuk menganalisa pertimbagan dalam suatu pengambilan keputusan. Pembobotan akan tidak tepat karena besarnya pembobotan tidak menyatakan kepentingan yang sebenarnya. Karena itulah pada saat pemahaman terhadap suatu dimensi kurang baik, metode policy capturing lebih tepat digunakan.

Policy capturing memiliki beberapa kelebihan (Wiederman, 1999). Seperti yang dijelaskan tadi, policy capturing mengukur pertimbangan yang sebenarnya, bukan kepercayaan (belief) seseorang terhadap hal-hal yang melandasi suatu pertimbangan. Pembobotan terhadap suatu dimensi yang digunakan dalam AHP adalah kepercayaan seseorang terhadap pentingnya suatu dimensi itu dalam pengambilan keputusan. Namun, kepercayaan ini bukanlah yang sebenarnya terjadi dan jika pemahaman terhadap pentingnya suatu dimensi kurang memadai maka pembobotan dalam AHP tidak bisa menangkap besarnya kepentingan yang sebenarnya. Selain itu, policy capturing, seperti AHP, bisa digunakan untuk menganalisa pengambilan keputusan yang dilakukan individu, kelompok, atau yang lebih umum. Ini tergantung dari tujuan penelitan apakah bersifat idiografis atau monotetis (Aiman-Smith, Scullen & Barr, 2002).

Namun, policy capturing memiliki beberapa kelemahan (Wiederman, 1999). Jika yang diteliti adalah pengambilan keputusan yang sudah dilakukan sebelumnya, subyek dituntut untuk mengingat kembali keputusan-keputusan yang sudah dilakukan; kesimpulannya akan terbatas hanya pada orang yang sudah melakukan pengambilan keputusan yang ingin diteliti. Selain itu, stimuli yang diberikan bersifat buatan, bukan stimuli yang sebenarnya terjadi di dunia nyata sehingga tidak bisa mewakili stimuli yang sebenarnya (Aiman-Smith, Scullen & Barr, 2002). Selain itu, akan terjadi laboratory effect (Nunnally, 1978); lingkungan pada saat eksperimen dilakukan tidak sama dengan lingkungan pada saat stimuli yang sebenarnya terjadi. Konteks juga kadang memengaruhi keputusan (Aiman-Smith, Scullen & Barr, 2002). Terakhir, stimuli yang diberikan bisa sangat banyak sehingga subyek akan lelah.

Policy capturing banyak digunakan dalam studi manajemen, terutama sumber daya manusia. Policy capturing digunakan untuk menganalisa karakteristik personal dan organisasional yang memengaruhi seleksi, alokasi reward, atau hal lain dalam hubungan karyawan-perusahaan (Aiman-Smith, Scullen & Barr, 2002). Metode ini digunakan untuk menganalisa pilihan pekerjaan oleh pencari kerja (Aiman-Smith, Bauer & Cable, 2001; Williamson, Cope, Thompson & Wuensch, 2002; Slaughter, Richard & Martin, 2006), pengambilan keputusan dalam interview calon karyawan (Graves, & Karren, 1992), performance appraisal (Hobson & Gibson, 1983), dan penentuan alokasi kompensasi (Beatty, McCune, & Beatty, 1988; Deshpande, & Schoderbek, 1993; Zhou & Martocchio, 2001; Hu, Hsu, Lee & Chu, 2007) termasuk kepuasan terhadap kompensasi (Law & Wong, 1998) serta keputusan kenaikan kompensasi (Barclay & York, 2003).

Selain manajemen SDM, policy capturing juga digunakan di manajemen logistik dalam penentuan penyedia jasa logistik (Waller & Novack, 1995; Crosby & LeMay, 1998), di manajemen pemasaran dalam penentuan media yang digunakan dalam komunikasi pemasaran (Webster & Trevino, 1995) serta pemilihan produk oleh pelanggan (Brinberg, Bumgardner & Daniloski, 2007), di bidang hukum (Knapp & Heshizer, 2001; Sensibaugh & Allgeier, 1996), keputusan dalam penggunaan teknologi baru (Bahmanziari, Pearson & Crosby, 2003). Selain itu, policy capturing juga digunakan dalam pendidikan untuk menganalisa efektifitas pengajaran (Carkenord, & Stephens, 1994), keputusan penerimaan aplikasi mahasiswa pasca sarjana (Kline, & Sulsky, 1995).

Walaupun dalam semua bidang tersebut sudah banyak digunakan, policy capturing dalam riset seksualitas sangat sedikit digunakan padahal metode ini sangat cocok dalam riset seksualitas (Wiederman, 1999). Kebanyakan pelaku seks kurang memahami hal-hal yang melandasi keputusannnya dalam pemilihan pasangan seks dan keinginan untuk melakukan hubungan seks. Wiederman (1999) menyatakan hanya tiga riset seksualitas yang menggunakan policy capturing. Perlu lebih banyak riset seksualitas yang menggunakan metode policy capturing. Karena itu, studi yang akan dilakukan ini berusaha untuk mengatasi gap dalam penggunaan policy capturing dalam riset seksualitas dengan melakukan studi seksualitas dengan menggunakan metode policy capturing. Dengan menggunakan lima stimuli yang digunakan Finkelstein & Brannick (1997), tujuan penelitian dari studi ini adalah mengetahui pengaruh lama hubungan, pengetahuan terhadap perilaku seks pasangan, apakah keduanya telah minum minuman keras, apakah hubungan seks sudah diharapkan, dan adanya kondom terhadap keputusan untuk melakukan hubungan seks.

Metodologi

Subjek Penelitian. Subjek yang dipilih pada penelitian ini adalah 60 orang mahasiswa usia remaja akhir menuju dewasa awal (18-25 tahun) dengan orientasi seksual normal (heteroseksual). Dari 60 orang responden, sengaja dipilih 30 orang dengan jenis kelamin pria dan 30 orang dengan jenis kelamin wanita. Logika pemilihan subjek dikaitkan dengan variabel moderasi yang dipilih dan variabel extraneous yang ingin dikontrol.

Variabel Moderasi. Sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dalam jumlah yang seimbang. Keberadaan variable moderator ini akan memberi masukan apakah intensi untuk melakukan hubungan seksual (dependent variable) yang dipengaruhi oleh independent variable tergantung pada jenis kelamin (laki-laki atau perempuan).

Variable Extraneous yang di Kontrol. Dalam eksperimen ini, terdapat dua variable yang dikontrol yaitu usia dan orientasi seksual. Usia sample penelitian adalah pada rentang usia remaja akhir menuju dewasa awal (18-25 tahun). Orientasi seksual sample difokuskan pada heteroseksual yaitu pemilihan pasangan berdasarkan jenis kelamin yang berbeda dengan diri individu tersebut. Individu dengan orientasi seksual homoseksual dan biseksual tidak dilibatkan dalam penelitian ini. Kedua variabel ini dikontrol agar tidak mempengaruhi hasil penelitian.

Manipulation check. Eksperimen ini menggunakan lima variable independent yaitu: lama relationship/hubungan, pengetahuan tentang perilaku seks pasangan, apakah meminum minuman keras atau tidak, mengharapkan terjadi hubungan seks atau tidak, dan apakah tersedia kondom atau tidak. Pertanyaan yang diajukan untuk memastikan sampel menganggap kelima variabel tersebut memang penting pada saat terjadinya keinginan untuk melakukan hubungan seksual adalah :

Saat akan melakukan hubungan seksual, apakah Anda mempertimbangkan dan menganggap penting hal-hal berikut ini?

1. Lama hubungan yang terjadi (Ya/Tidak)

2. Pengetahuan Anda tentang perilaku seks pasangan (Ya/Tidak)

3. Meminum minuman keras atau tidak (Ya/Tidak)

4. Adanya harapan untuk berhubungan seksual pada saat itu (Ya/Tidak)

5. Ketersediaan kondom (Ya/Tidak)

Subyek yang akan dilibatkan dalam eksperimen adalah subyek yang menjawab (Ya) pada kelima variable independent yang diajukan. Jika menurut subyek tidak semua dari kelima variable independent tersebut menjadi hal-hal yang penting dalam terjadinya hubungan seksual, maka subyek tersebut tidak dilibatkan lagi dalam langkah eksperimen selanjutnya. Hal ini dimaksudkan agar dalam eksperimen yang dilakukan terjadi kesesuaian antara subyek yang dilibatkan dan peneliti tentang keberadaan kelima variable independent tersebut dalam kaitannya dengan variable dependen.

Bentuk Pertanyaan. Kuesioner “Policy Capturing” yang akan digunakan disusun berdasarkan variabel independen dari literatur review diatas, antara lain:

1.  lama relationship

2.  pengetahuan tentang perilaku seks pasangan

3.  minum minuman keras atau tidak

4.  mengharapkan terjadi hubungan seks atau tidak

5.  ada kondom atau tidak

Kuesioner yang digunakan terdiri dari 32 pertanyaan yang merupakan kombinasi dari kelima variabel diatas. Template untuk pertanyaan yang akan digunakan dapat dilihat dibawah.

Pertanyaan No.X:

Jika seorang (Pria/Wanita) mengajak saya untuk berhubungan badan, sementara hubungan saya dengan dia (sudah diatas/belum sampai) satu tahun, saya juga (sudah mengetahui betul/tidak tahu sama sekali) mengenai perilaku seks dia sebelumnya, saya (baru saja/tidak sedang) minum-minuman keras, dan saya sebenarnya (juga mengharapkan/tidak menginginkan) untuk berhubungan seks, sementara kondom (tersedia/tidak tersedia), maka kemungkinan saya untuk menerima ajakan tersebut adalah:

No.

Sangat Tidak Mungkin

Tidak Mungkin

Bisa Iya Bisa Tidak

Mungkin

Sangat Mungkin

X

1

2

3

4

5

Analisis Data-Coding dan Input Data. Setiap IV memiliki dua alternatif, antara 1 (Ada) dan 0 (Tidak). Setiap pertanyaan memiliki kombinasi 5 IV yang unik. Oleh karena itu, data yang diperoleh dari policy capturing akan diinput menggunakan tabel yang dapat dilihat dibawah.

Berdasarkan kalkulasi, maka untuk setiap responden akan diperoleh 32 kasus observasi. Oleh karena itu, dengan menggunakan 30 orang responden pria dan 30 orang responden wanita, akan diperoleh 960 kasus pria dan 960 kasus pria, dengan mengasumsikan semua responden lolos manipulation check.

Responden

Pertanyaan

Y

X1

X2

X3

X4

X5

1

1

0

0

0

0

0

1

2

1

0

0

0

0

1

3

0

1

0

0

0

1

4

0

0

1

0

0

1

5

0

0

0

1

0

1

6

0

0

0

0

1

1

7

1

1

0

0

0

1

8

1

0

1

0

0

1

9

1

0

0

1

0

1

10

1

0

0

0

1

1

11

0

1

1

0

0

1

12

0

1

0

1

0

1

13

0

1

0

0

1

1

14

0

0

1

1

0

1

15

0

0

1

0

1

1

16

0

0

0

1

1

1

17

0

0

1

1

1

1

18

0

1

0

1

1

1

19

0

1

1

0

1

1

20

0

1

1

1

0

1

21

1

0

0

1

1

1

22

1

0

1

0

1

1

23

1

0

1

1

0

1

24

1

1

0

0

1

1

25

1

1

0

1

0

1

26

1

1

1

0

0

1

27

1

1

1

1

0

1

28

1

1

1

0

1

1

29

1

1

0

1

1

1

30

1

0

1

1

1

1

31

0

1

1

1

1

1

32

1

1

1

1

1

Variabel Dependen Intensi Seksualitas akan dimasukkan ke kolom Y, dengan koding “1” untuk jawaban “Sangat Tidak Mungkin”, “2” untuk jawaban “Tidak Mungkin”, “3” untuk jawaban “Bisa Iya Bisa Tidak”, “4” untuk jawaban “Mungkin”, dan “5” untuk jawaban “Sangat Mungkin”.

Analisis Data-Analisis Statistik. Data akan dianalisis menggunakan metode regresi linear dengan software SPSS. Dengan demikian akan diperoleh persamaan:

Y=a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5

Dengan Y=Intensi Seksualitas

a=Konstanta Intensi Seksualitas

b1=Koefisien pengaruh Variabel X1

X1=Lama Hubungan

b2= Koefisien pengaruh Variabel X2

X2=Pengetahuan tentang Perilaku Pasangan

b3= Koefisien pengaruh Variabel X3

X3=Minum-minuman Keras

b4= Koefisien pengaruh Variabel X4

X4=Harapan Hubungan Badan saat itu

b5= Koefisien pengaruh Variabel X5

X5=Ketersediaan Kondom

Dengan mengasumsikan bahwa semua variabel independen terbukti signifikan, maka interpretasi yang bisa kita ambil dari persamaan diatas adalah bahwa a adalah intensi seksualitas ketika semua IV tidak ada (kontrol), sementara b merupakan pengaruh masing-masing variabel terhadap intensi seksualitas.

Analisis Data-Analisis Hubungan Moderasi. Untuk membuktikan efek moderasi jenis kelamin terhadap kelima IV, maka data diolah terpisah antara respon dari subjek pria dan wanita. Dari kedua kelompok data tersebut diperoleh persamaan regresi yang berbeda. Dengan membandingan konstanta dan koefisien variabel masing-masing persamaan, akan dapat diketahui ada tidaknya interaction dan moderation effect dari jenis kelamin terhadap kelima Independent Variabel.

Referensi

Aiman-Smith, L., Bauer, T. N. & Cable, D. M. (2001). Are You Attracted? Do You Intend to Pursue? A Recruiting Policy-Capturing Study. Journal of Business and Psychology, 16 (2), pp. 219-237.

Aiman-Smith, L., Scullen, S. E. & Barr, S. H. (2002). Conducting Studies of Decision Making In Organizational Contexts: A Tutorial for Policy-Capturing and Other Regression-Based Techniques. Organizational Research Methods, 5 (4), pp. 388-414.

Barclay, L. A. & York, K. M. (2003). Clear Logic and Fuzzy Guidance: A Policy Capturing Study of Merit Raise Decisions. Public Personnel Management, 32 (2), pp. 287.

Bahmanziari, T., Pearson, J. M. & Crosby, L. (2003). Is Trust Important in Technology Adoption? A Policy Capturing Approach. The Journal of Computer Information Systems, 43 (4), pp. 46-54.

Beatty, J. R., McCune, J. T. & Beatty, R. W. (1988). A Policy-Capturing Approach To The Study Of United States and Japanese Managers’ Compensation Decision. Journal of Management, 14 (3), pp. 465-1988.

Bhushan, N. & Rai, K. (2004) Strategic Decision Making; Applying the Analytic Hierarchy Process. London, UK: Springer-Verlag London Limited.

Brinberg, D., Bumgardner, M. & Daniloski, K. (2007). Understanding Perception of Wood Household Furniture: Application of a Policy Capturing Approach. Forest Products Journal, 57 (7/8), pp. 21-26.

Carkenord, D. M. & Stephens, M. G. (1994). Understanding Student Judgments of Teaching Effectiveness: A “Policy Capturing” Approach. The Journal of Psychology. 128 (6), pp. 675.

Crosby, L. & LeMay, S. A. (1998). Empirical Determination of Shipper Requirements for Motor Carrier Services: SERVQUAL, Direct Questioning, and Policy Capturing Methods. Journal of Business Logistics, 19 (1), pp. 139-153.

Deshpande, S. P. & Schoderbek, P. P. (1993). Pay-Allocations by Managers: A Policy-Capturing Approach. Human Relations. 46 (4), pp. 465-479.

Finkelstein M. A. & Brannick M. T. (1997). Making decisions about sexual intercourse: Capturing college students’ policies. Basic and applied social psychology, 19 (1), pp. 101-120.

Graves, L. M. & Karren, R. J. (1992). Interviewer Decision Processes and Effectiveness: An Experimental Policy-Capturing Investigation. Personnel Psychology. 45 (2). Pp. 313-340.

Hobson, C. J. & Gibson, F. W. (1983). Policy Capturing As an Approach to Understanding and Improving Performance Appraisal: A Review of Literature. Academy of Management. The Academy of Management Review, 8 (4), pp. 640-649.

Hu, H. H., Hsu, C. T., Lee, W. R. & Chu, C. M. (2007). A Policy-Capturing Approach to Comparing the Reward Allocation Decisions of Taiwanese and US Managers. Social Behavior and Personality, 35 (9), pp. 1235-1250.

Kline, T. J. & Sulsky, L. M. (1995). A Policy-Capturing Approach to Individual Decision-Making: A Demonstration Using Professors’ Judgments of the Acceptability of Psychology Graduate School Applicants. Canadian Journal of Behavioural Science. 27 (4), pp. 393.

Knapp, D. E. & Heshizer, B. P. (2001). Outcomes of Requests for Summary Judgments in Federal Sexual Harassment Cases: Policy Capturing Revisited. Sex Roles, 44, (3/4), pp. 109-128.

Law, K. S. & Wong, C. S. (1998). Relative Importance of Referents on Pay Satisfaction: A Review and Test of a New Policy-Capturing Approach. Journal of Occupational and Organizational Psychology, 71, pp. 47-60.

Norman, L. (1977) Human Information Processing, 2nd Ed. San Diego, CA: Harcourt Brace Jovanovich.

Nunnally, J. C. (1978). Psychometric Testing, 2nd ed. New York, NY: McGraw-Hill.

Sensibaugh, C. C. & Allgeier, E. R. (1996). Factors Considered by Ohio Juvenile Court Judges in Judicial Bypass Judgments: A Policy- Capturing Approach. Politics and the Life Sciences, 15 (1), pp. 35-47.

Slaughter, J. E., Richard, E. M. & Martin, J. H. (2006). Comparing the Efficacy of Policy-Capturing Weights and Direct Estimates for Predicting Job Choice. Organizational Research Methods, 9 (3), pp. 285-314.

Waller, M. A & Novack, R. A. (1995). Using Policy Capturing to Identify the Effects of External Consistency on Logistics Managers’ Performance. Transportation Journal, 34 (3), pp. 45-53.

Webster, J. & Trevino, L. K. (1995). Rational and Social Theories as Complementary Explanations of Communication Media Choices: Two Policy-Capturing Studies. Academy of Management Journal, 38 (6), pp. 1544-1572.

Wiederman, M. W. (1999). Policy Capturing Methodology in Sexuality Research. The Journal of Sex Research, 36 (1), pp. 91-95.

Williamson, C. L , Cope, J. G., Thompson, L. F. & Wuensch, K. L. (2002). Policy Capturing as a Tool to Enhance Recruiting. Career Development International, 7 (3), pp. 159-166.

Zhou, J. & Martocchio, J. J. (2001). Chinese and American Managers’ Compensation Award Decisions: A Comparative Policy-Capturing Study. Personnel Psychology, 54 (1), pp. 115-145.

Lampiran:

Tabel Presentasi Data Rerata dan Standar Deviasi Intensi berdasar 5 Independen Variabel

TUGAS AKHIR SEMESTER PSIKOLOGI DALAM TERAPAN I

December 22nd, 2008 -- Posted in Papers | Comments Off

TUGAS AKHIR SEMESTER PSIKOLOGI DALAM TERAPAN I: Aplikasi Certainty Based Marking dalam Achievement Test Menggunakan Bentuk Pertanyaan Benar-Salah

Imam Salehudin, SE. NPM 0806436680 Program Pascasarjana Terapan Psikometri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia imams@ui.edu

Makalah ini mengeksplorasi aplikasi Certainty Based Marking (CBM) untuk mengatasi perilaku menebak (guessing behavior) dalam mengerjakan Achievement Test. Untuk menekankan pengaruh CBM dalam mengurangi perilaku menebak, maka bentuk pertanyaan yang dipilih untuk aplikasi CBM ini adalah bentuk pertanyaan Benar-Salah yang dipandang sebagai bentuk pertanyaan paling rentan terhadap perilaku menebak.

Kata Kunci: Certainty Based Marking, Achievement Test, True-False

Perilaku menebak merupakan salah satu faktor measurement error dalam berbagai tes maximum performance, khususnya bagi test pencapaian atau achievement test. Kecenderungan melakukan perilaku menebak sangat dipengaruhi oleh bentuk pertanyaan, instruksi pengisian dan metode penilaian. Certainty Based Marking atau CBM merupakan konsep yang disusun untuk mengakomodasi perilaku menebak melalui ketiga faktor diatas. Makalah ini berusaha mengekplorasi aplikasi CBM dalam Achievement Test menggunakan bentuk pertanyaan benar-salah atau true-false. Bentuk pertanyaan ini dipilih karena diyakini sebagai bentuk pertanyaan yang paling rentan terhadap perilaku guessing. Makalah ini juga berusaha mengembangkan alat ukur achievement berupa soal UAS bagi mata kuliah “Perilaku Organisasi” menggunakan CBM dan membandingkan soal tersebut dengan soal UAS menggunakan essay. Perbandingan dilakukan dengan soal berbentuk essay karena bentuk soal ini merupakan bentuk soal yang diyakini paling kebal terhadap perilaku guessing.

Achievement Test Sebelum membandingkan antara kedua bentuk pertanyaan, terlebih dahulu perlu dibahas mengenai definisi dan sifat Achievement Test. Achievement Test dapat didefinisikan sebagai instrumen tes yang bertujuan untuk mengukur derajat pencapaian seseorang dalam memperoleh informasi tertentu atau menguasai keahlian tertentu, umumnya sebagai hasil dari suatu instruksi atau pelatihan yang terencana.. Achievement Test umumnya dirancang untuk mengukur hasil dari sebuah program belajar dan pelatihan. Achievement test digunakan mengukur hasil pengalaman yang relatif terstandarisasi antar individu. Umumnya digunakan untuk menggambarkan bagaimana keberhasilan seseorang setelah mengikuti pelatihan tertentu. Contoh Achievement Test antara lain: UN, Kuis, UTS, UAS, dsb. Berdasarkan jenis tingkah laku yang diukur, achievement test dapat kategorikan sebagai maximum performance test (ability test/optimal performance test), dimana terdapat standar kinerja atau hasil penilaian tertentu yang harus dicapai subjek pengukuran tersebut. Selain itu, hasil tes dapat digunakan untuk mengurutkan seluruh subjek pengukuran, dari subjek dengan kinerja tertinggi hingga subjek dengan kinerja terendah.

Bentuk Pertanyaan Terbuka dan Tertutup Secara umum bentuk pertanyaan dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni pertanyaan terbuka dan tertutup. Pertanyaan terbuka merupakan bentuk pertanyaan dimana subjek dapat menuliskan jawaban apapun yang ia inginkan tanpa diberikan pilihan jawaban tertentu. Bentuk pertanyaan seperti ini bisa berupa essay maupun pertanyaan “isi yang kosong” (fill in the blanks). Contoh pertanyaan terbuka misalnya pertanyaaan “Ibukota Indonesia adalah _______________” dan “Jelaskan apa yang anda ketahui mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi sebaran penduduk di Indonesia!” Pertanyaan tertutup merupakan bentuk pertanyaan dimana subjek diberikan beberapa pilihan pertanyaan dan diminta untuk memilih salah satu. Variasi bentuk pertanyaan ini umumnya berasal dari jumlah pilihan jawaban yang diberikan. Diantara bentuk pertanyaan tertutup, bentuk pertanyaan benar-salah (true-false) dipandang sebelah mata dibanding bentuk pertanyaan pilihan ganda yang lain, sedikitnya jumlah pilihan dan kesederhanaan proses berpikir yang dibutuhkan sehingga dianggap terlalu mudah dan rentan terhadap perilaku menebak. Bisa jadi pandangan tersebut dapat dijustifikasi. Friesbie (1973) menemukan bahwa bentuk pertanyaan benar-salah secara signifikan memiliki reliabilitas yang lebih rendah dibandingkan bentuk pertanyaan pilihan ganda. Tetapi ia menambahkan bahwa secara umum masih dapat mengukur hal yang sama dengan pilihan ganda (valid). Rendahnya reliabilitas ini dapat diatribusikan terhadap tingginya perilaku menebak.

Perilaku Menebak Nunnally (1970) menjelaskan bahwa salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengukuran maximum performance adalah pengaruh perilaku menebak jawaban terhadap distribusi skor secara statistik dan psikometrik. Perilaku menebak jawaban ini muncul pada bentuk tes yang memiliki jawaban yang benar dan jawaban yang salah. Perilaku ini dominan muncul pada bentuk pertanyaan tertutup pilihan ganda, walaupun tidak membatasi kemungkinan terjadinya perilaku ini pada bentuk pertanyaan terbuka. Walaupun bentuk pertanyaan pilihan ganda memiliki kelemahan terhadap perilaku menebak dibandingkan pertanyaan terbuka, namun pilihan ganda memiliki bias respons yang lebih kecil dibanding pertanyaan tertutup. Selain itu, bentuk pilihan ganda dapat mempermudah penilaian dan meminimalisir bias subjektivitas penilai dalam memberikan penilaian. Nunnally menambahkan, responden seringkali menebak dengan melakukan eliminasi terhadap pilihan jawaban yang mereka anggap tidak mungkin benar. Oleh karena itu, alternatif pilihan sesungguhnya cenderung lebih kecil dari alternatif pilihan yang diberikan sehingga estimasi efek menebak cenderung lebih kecil dari efek sesungguhnya (underestimasi). Untuk mengatasi efek eliminasi, pembuat alat ukur dapat memasukkan satu atau lebih pilihan “jebakan” yang sangat masuk akal dan dapat menipu responden yang tidak benar-benar mengetahui jawaban yang benar. Pilihan jebakan ini bahkan dapat membingungkan dan menipu responden yang sebenarnya mengetahui apa jawaban yang benar. Oleh karena itu, praktik jebakan ini dinilai sebagai praktik yang kurang baik dan praktik yang ideal adalah menyusun pertanyaan dengan satu jawaban yang benar dan semua sisa alternatifnya adalah pertanyaan “jebakan”. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku menebak adalah penggunaan instruksi tertentu untuk mendorong responden untuk tidak menebak jawaban yang benar. Instruksi ini termasuk memberikan penalti untuk jawaban yang salah dan tidak ada keharusan untuk mengisi semua pertanyaan. Meskipun begitu, penggunaan instruksi tertentu ini dapat memasukkan unsur error dari perbedaan bagaimana responden merespon instruksi tersebut. Secara umum, instruksi untuk mengisi semua jawaban -walaupun harus menebak- merupakan instruksi yang lebih akurat dengan penggunaan model estimasi perilaku menebak yang sudah dijelaskan pada poin sebelumnya. Setelah reliabilitas instrumen antara bentuk pertanyaan pilihan ganda dengan pertanyaan terbuka diperbandingkan, ternyata reliabilitas pertanyaan pilihan ganda tidak serendah yang diestimasi Nunnally. Hal ini diakibatkan oleh asumsi yang lemah bahwa pertanyaan terbuka adalah pertanyaan dengan jumlah alternatif tidak terbatas. Pada kenyataannya, bentuk pertanyaan terbuka juga memiliki suatu set alternatif yang terbatas dan terbuka pada perilaku menebak yang sama dengan bentuk pertanyaan tertutup. Selain itu, setelah reliabilitas instrumen dengan jumlah alternatif jawaban yang berbeda-beda dihitung dan diperbandingkan, ditemukan bahwa reliabilitas cenderung meningkat seiring dengan jumlah alternatif jawaban yang diberikan. Walaupun begitu, peningkatan reliabilitas terhadap jumlah alternatif jawaban tersebut berlaku pada reliabilitas instrumen secara keseluruhan dan bukan merupakan peningkatan yang dramatis. Khusus untuk tes kecepatan (speed test), Nunnally juga menambahkan bahwa instruksi menjadi sangat penting untuk meminimalisir efek menebak. Meskipun demikian, untuk tes kecepatan sangat dianjurkan untuk menggunakan bentuk pertanyaan terbuka. Dalam tes kecepatan, responden tidak diharapkan dapat mengerjakan semua pertanyaan.. Jika tidak ada halangan yang signifikan untuk menebak, maka efek menebak pada tes kecepatan menjadi lebih besar dibanding efek menebak pada tes kekuatan (power test). Certainty Based Marking Certainty Based Marking (CBM) mengakomodasi perilaku menebak dan eliminasi alternatif jawaban dengan menanyakan tingkat keyakinan jawaban yang dianggap benar oleh subjek. Oleh karena itu, CBM mampu membedakan antara jawaban yang reliabel dan jawaban yang asal menebak. Selain itu, skema penilaian CBM memberikan penghargaan bagi jawaban benar dan memberikan penalti bagi jawaban salah berdasarkan tingkat keyakinan subjek terhadap jawaban tersebut. Hal ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi titik-titik kelemahan atas proses pembelajaran yang dilakukan sebelumnya. CBM juga dapat dengan mudah diaplikasikan pada bahan-bahan tes yang sudah ada (Gardner-Medwin dan Curtin, 2007). Bentuk pertanyaan CBM serupa dengan pertanyaan biasa, namun selain diharapkan untuk mengisi jawaban yang tepat, subjek juga mengisi tingkat keyakinan yang ia miliki terhadap jawabannya sendiri, yakni: (1) Sangat Yakin (2) Yakin (3) Agak Yakin (4) Tidak Tahu Pilihan keempat (Tidak Tahu) diberikan agar jika seorang subjek memiliki tingkat keyakinan yang sangat rendah dan tidak ingin mendapatkan penalti jika jawabannya salah, maka ia dapat memilih tidak tahu. Wood (1976) menjelaskan bahwa instruksi pengerjaan memiliki pengaruh signifikan terhadap reliabilitas dengan mempengaruhi perilaku menebak. Dalam CBM, diinstruksikan bahwa semua pertanyaan harus dijawab, dan penilaian terhadap jawaban dipengaruhi oleh tingkat keyakinan. Untuk mempermudah instruksi, dibawah ini terdapat tabel skema penilaian yang mudah dipahami. Tabel 1: Skema Penilaian CBM No. Jawaban Tingkat Keyakinan Tidak Tahu Agak Yakin Yakin Sangat Yakin A Sesuai Dengan Kunci 0 1 2 3 B Berbeda dengan Kunci 0 -1 -4 -9

Seperti yang sudah dijabarkan diatas, skema penilaian CBM memberikan penghargaan atas jawaban benar yang memiliki tingkat keyakinan yang tinggi. Sebaliknya, CBM juga memberikan penalti yang besar bagi jawaban salah yang memiliki tingkat keyakinan yang tinggi. Grafik rerata ekspektasi nilai berdasarkan tingkat keyakinan, untuk masing-masing item pertanyaan dapat dilihat dibawah.

Gambar 1: Grafik Rerata Ekspektasi Nilai Berdasar Tingkat Keyakinan (Nilai Absolut)

Gambar 2: Grafik Rerata Ekspektasi Nilai Berdasar Tingkat Keyakinan (Nilai Terstandarisir)

Berdasarkan grafik diatas, titik tengah penilaian untuk masing-masing item adalah 67%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jika rerata nilai salah satu item dibawah 67% maka terdapat kesalahan pemahaman yang sistematis yang dapat diatribusikan pada kesalahan kunci jawaban atau kesalahan pengajaran.

Aplikasi CBM Dalam Bentuk Pertanyaan Benar-Salah Aplikasi CBM dalam bentuk pertanyaan Benar-Salah dapat dilihat pada Lampiran 3. Pertanyaan disusun menggunakan format Likert yang sudah cukup dikenal oleh mahasiswa sebagai subjek pengukuran. Pertanyaan Benar-Salah diambil dari buku “Organizational Behavior” oleh Robbins dan Judge (2007). Dalam makalah ini, penulis hanya memberikan 10 item pertanyaan Benar-Salah mengenai “Komunikasi” sebagai contoh aplikasi CBM dalam achievement test. Dalam praktik yang sesungguhnya, untuk ujian selama 2.5 jam dapat diberikan sekitar 100 buah pertanyaan yang secara komprehensif mencakup materi yang akan diujikan.

Perbandingan Soal Ujian Akhir Semester “Perilaku Organisasi” antara Soal Benar-Salah CBM dengan Essay Sebagai perbandingan terhadap aplikasi CBM dalam bentuk pertanyaan benar salah, maka penulis menyertakan Soal Ujian Akhir Semester Mata Kuliah “Perilaku Organisasi” Semester Genap 2007/2008 pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang dapat dilihat pada Lampiran 2. Selain itu, penulis juga menyertakan materi perkuliahan selama satu semester yang terdapat dalam Silabus Mata Kuliah “Perilaku Organisasi” Semester Genap 2007/2008 dalam Lampiran 1. Sepuluh buah contoh pertanyaan Benar-Salah yang diberikan pada Lampiran 3 dapat dibandingkan dengan soal essay nomor 1 pada Lampiran 1.

Kesimpulan CBM merupakan alternatif yang sangat menjanjikan dalam mengidentifikasi dan mempertimbangkan efek menebak dalam pengukuran Achievement. Aplikasi CBM tidak terbatas pada bentuk pertanyaan benar-salah. CBM dapat diaplikasikan pada bentuk pertanyaan pilihan ganda yang lain, dan bahkan pertanyaan terbuka seperti essay. Keunggulan soal benar-salah menggunakan CBM dibanding soal essay adalah memungkinkan penguji untuk memberikan jumlah item yang lebih banyak sehingga meningkatkan content validity alat ukur. Selain itu, soal benar-salah CBM memudahkan proses penilaian dan menghilangkan subjektivitas penilai.

Referensi 1. Anon. University of Wisconsin-Stout. (2007, June 11). Glossary. Diakses 17 Desember, 2008, from http://faculty.uwstout.edu/lawlerm/at101/glossary.shtml 2. Frisbie, D.A. (1973) Multiple Choice Versus True-False: A Comparison of Reliabilities and Concurrent Validities. Journal of Educational Measurement. 10(4). Diunduh dari JSTOR. 3. Gardner-Medwin, A.R. & Curtin, N.A. (2007). Certainty-Based Marking (CBM) For Reflective Learning and Proper Knowledge Assessment. REAP International Online Conference on Assessment Design for Learner Responsibility, 29th-31st May, 2007. Diunduh dari http://ewds.strath.ac.uk/REAP07 4. Nunnally, J.C. Jr (1970). Introduction to Psychological Measurement. New York: McGraw-Hill Book Company. 5. Wood, R. (1976). Inhibiting Blind Guessing: The Effect of Instructions. Journal of Educational Measurement, 13:4 (Winter, 1976), pp. 297-307. Diterbitkan oleh National Council on Measurement in Education. Diunduh dari JSTOR (http://www.jstor.org/stable/1434106). Tanggal 13 Oktober 2008. Lampiran 1: Silabus Perkuliahan “Perilaku Organisasi” Semester Genap 2007/2008

Kuliah Ke- Tanggal Topik Bahasan Bacaan 1 04-02-08 Pengantar pada Mata Kuliah R:Bab 1, G:Bab 1 2 11-02-08 “Foundations of Individual Behavior” dan “Attitudes and Job Satisfaction” R: Bab 2 & 3 3 18-02-08 “Personality and Values” R: Bab 4 4 25-02-08 “Perception and Individual Decision Making”dan “Motivation Concepts” R: Bab 5 & 6 5 03-03-08 “Motivation : From Concepts to Applications” dan “Emotions and Moods” R: Bab 7 & Bab 8 6 10-03-08 “Foundations of Group Behavior” R: Bab 9 7 17-03-08 “Understanding Work Teams” R: Bab 10 24-03-08 — 04-04-08 : Ujian Tengah Semester 8 09-04-08 “Communication” R: Bab 11; G: Bab 15 9 16-04-08 “Basic Approaches to Leadership” “Contemporary Issues in Leadership” R: Bab 12 & 13 10 23-04-08 “Power and Politics” “Conflict and Negotiations” R: Bab 14 & 15 11 30-04-08 “Foundations of Organizational Structure” R: Bab 16 12 07-05-08 “Organizational Culture” R: Bab 17 13 14-05-08 “Human Resources Policies and Practices” G: Bab 18 14 21-05-08 “Organizational Change and Stress Management “ G: Bab 19 28-05-06 — 08-06-06 : Ujian Akhir Semester R: Robbins, Stephen P., and Timothy A Judge, Organizational Behavior, 12th edition, New Jersey, Pearson Prentice Hall, 2007. G: Gibson, James L., John M. Ivancevich, Jr., James H. Donnelly, Robert Konopaske, Organizations: Behavior, Structure, Processes, McGrawHill/Irwin, 11th edition, 2005.

Lampiran 2

UJIAN AKHIR SEMESTER SEMESTER GENAP 2007/2008

Mata Kuliah : Perilaku Keorganisasian Dosen : Tim Dosen Hari/Tanggal : Senin, 26 Mei 2008 Waktu : 150 menit (13.00-15.30) Sifat Ujian : Closed Book (Buku Tertutup)

Pilih dan kerjakan 6 dari 9 soal di bawah. Semua soal memiliki bobot sama. Baca semua soal dengan teliti dan kerjakan yang paling mudah terlebih dahulu..

Soal 1: Komunikasi. Sebutkan dan jelaskan hambatan-hambatan terhadap efektivitas komunikasi menurut Robbins dan saran-saran Robbins untuk mengatasinya. (Jawaban : Robbins, hal 339-342).

Soal 2: Kepemimpinan: Pendekatan-pendekatan Dasar. Sebagai seorang manager, anda dihadapkan pada sekelompok anak buah anda yang akhir-akhir ini performansi kerja mereka terus menurun. Terlihat kurang ada usaha pada mereka untuk memberikan yang terbaik pada perusahaan. Padahal anda tahu bahwa mereka sebenarnya sangat mampu untuk bisa melaksanakan tugas mereka dengan baik. Berpegang pada Teori Kepemimpinan Situasional dari Hersey and Blanchard, gaya kepemimpinan apa yang harus anda pilih untuk bisa mengatasi permasalahan ini. Gunakan prinsip pemilihan gaya kepemimpinan menurut Teori Kepemimpinan dari Hersey and Blanchard didalam menunjang pilihan anda. (Jawaban : Robbins, hal 367-368)

Soal 3: Kepemimpinan: Masalah-masalah Masakini. Kepemimpinan tidak bebas nilai. Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dalam menjalankan perannya mempertimbangkan cara-cara pencapaian tujuan yang tepat maupun aspek moral dari tujuan tersebut. Setujukah anda dengan pendapat di atas? Bila setuju/tidak setuju berikan alasan yang mendasari jawaban anda disertai contoh konkrit. (Jawaban: Robbins, hal 387-388).

Soal 4: Kekuasaan dan Berpolitik. Sumber-sumber dari kekuasaan dapat berasal dari sumber formal ataupun sumber pribadi. Jelaskan apa saja yang menjadi sumber kekuasaan formal atapun pribadi disertai dengan contohnya! (Jawaban: Robbins, hal. 417-418)

Soal 5: Konflik dan Negosiasi. Konflik dalam organisasi memiliki tingkatan yang berbeda dan perlu penanganan yang tepat agar tidak mempengaruhi kinerja unit serta kepuasan kerja karyawan. Dengan demikian seorang atasan dituntut untuk mampu memilih metoda/cara mengatasi konflik yang dihadapi sesuai tingkatan dan karakteristika masing-masing. Jelaskan jenis metoda/cara penyelesaian konflik yang sudara ketahui sesuai tingkatan konflik, disertai dengan contoh. (Jawaban : Robbins, Exhibit 15-10, hal 469-470).

Soal 6: Dasar-dasar Struktur Organisasi. Deskripsikan beberapa rancangan struktur organisasi umum dan terbaru yang anda ketahui beserta kelebihan dan kelemahannya. Sertakan penjelasan anda dengan keterkaitannya pada elemen utama dari struktur organisasi! (Jawaban: Robbins hal 485-494)

Soal 7: Budaya Organisasi. Menurut Robbins, dimensi-dimensi apakah yang membedakan spiritual organizations dan non spiritual organizations? (Jawaban: Robbins, hal. 531-532)

Soal 8: Kebijakan dan Praktik-praktik SDM. Jelaskan berbagai tujuan evaluasi kinerja dalam sebuah organisasi dan berikan beberapa saran yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas evaluasi kinerja? (Jawaban: Robbins, hal 553-554, 558)

Soal 9: Perubahan Organisasi dan Manajemen Ketegangan (Stress). Uraikan resistensi/penolakan terhadap perubahan yang bersumber pada faktor-faktor organisasional. (Jawaban: Robbins, Exhibit 19-2, hal. 577-578)

—Selamat Mengerjakan—

Lampiran 3: Contoh Pertanyaan Benar Salah Untuk Ujian Akhir Semester “Perilaku Organisasi” Chapter 11: Komunikasi No. Pernyataan (1) Sangat Yakin Salah (2) Yakin Salah (3) Agak Yakin Salah (4) Tidak Tahu (5) Agak Yakin Benar (6) Yakin Benar (7) Sangat Yakin Benar 1 Proses Komunikasi merupakan langkah-langkah antara sumber atau pengirim yang menghasilkan penyampaian dan pemaham-an pengertian secara verbal. (Kunci: Salah) 2 Elemen kunci dalam proses komunikasi adalah (1) Pengirim, (2) Encoding, (3) Pesan, (4) Saluran, (5) Penerima, dan (6) Decoding. (Kunci: Salah) 3 Efektivitas komunikasi dapat diukur dari tingkat kesamaan pesan yang dipahami penerima dengan pesan yang dimaksud pengirim. (Kunci: Salah) 4 Informasi Berlebih Beban (“Overload”) yang terjadi apabila volume informasi melebihi kemampuan mengirim dan mengolah informasi merupakan hambatan berasal dari pihak Pengirim dan Penerima. (Kunci: Benar) 5 Budaya suku Tiong Hoa dapat dikategorikan sebagai Budaya Konteks Rendah karena mengandalkan isyarat non-verbal dan situasional. (Kunci: Salah) 6 Ciri-ciri budaya Polikronik adalah menepati janji waktu; ketat mengikuti rencana; menghormati hak-hak pribadi; menghormati milik pribadi; dan tepat waktu dengan siapa saja. (Kunci: Salah) 7 Saluran yang “Kaya Informasi” adalah saluran yang mampu menangani berbagai jenis komunikasi dan isyarat sekaligus; memungkinkan umpan-balik secepatnya; dan dapat menciptakan rasa keakraban dan kedekatan. (Kunci: Benar) 8 Jaringan non-formal (grapevine) merupakan saluran utama komunikasi antara karyawan yang tidak dapat dikendalikan oleh pimpinan dan diyakini lebih akurat dibanding dengan saluran komunikasi resmi.(Kunci: Benar) 9 Jaringan Komunikasi Rantai memiliki kecepatan informasi sedang, ketepatan informasi tinggi. kecenderungan munculnya pemimpin yang sedang, dan kepuasan anggota yang sedang.(Kunci: Benar) 10 Berikut adalah contoh selective perception: Pembicara dengan suara yang merdu, wajah yang bagus, dan ekspresi muka yang menyenangkan, dipersepsikan lebih menguasai per-soalan dan tenang dan karena itu lebih meyakinkan, dibanding dengan yang tidak. (Kunci: Salah)

TUGAS AKHIR SEMESTER PROSES MENTAL

December 22nd, 2008 -- Posted in Papers | Comments Off

TUGAS AKHIR SEMESTER PROSES MENTAL: Shalat Istikharah: Mekanisme Religious Coping dalam Proses Pengambilan Keputusan

Imam Salehudin, SE. NPM 0806436680 Program Pascasarjana Terapan Psikometri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia imams@ui.edu

Abstraksi Makalah ini berusaha mengupas mengenai shalat istikharah sebagai mekanisme religious coping umat Islam, khususnya ketika menghadapi pengambilan keputusan yang dapat menimbulkan stress. Bagian pertama makalah ini adalah mengenai stress yang dapat ditimbulkan dalam proses pengambilan keputusan. Bagian kedua makalah ini menganalisa tafsir text doa shalat istikharah sesuai hadits Nabi Muhammad SAW terkait dalam peran shalat istikharah dalam meminimalisir stress yang ditimbulkan dalam proses pengambilan keputusan. Berdasar tafsir doa tersebut, dapat dilihat bahwa shalat istikharah merupakan wujud penyerahan diri kepada Allah SWT dan pengakuan atas keterbatasan rasionalitas manusia (bounded rationality) atas apa yang baik dan buruk bagi seseorang dimasa depan. Shalat istikharah dapat meminimalisir stress dalam pengambilan keputusan melalui keyakinan bahwa apapun hasil (outcome) dari suatu keputusan adalah apa yang terbaik bagi orang tersebut pada akhirnya, bahkan jika hasil itu terlihat buruk pada awalnya.

Kata Kunci: Decision Making Stress, Religious Coping, Islam

Latar Belakang Pemahaman awwam umumnya beranggapan bahwa shalat istikharah hanya dilakukan untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT melalui mimpi ketika seseorang bimbang dan tidak dapat memutuskan suatu perkara. Sebaliknya, Islam menganjurkan pengikutnya untuk melakukan shalat istikharah setiap hendak melakukan pengambilan keputusan, terlebih lagi jika keputusan yang diambil memiliki implikasi yang besar dalam hidup orang tersebut. Secara ilmiah, penulis berpendapat bahwa shalat istikharah merupakan mekanisme penting dalam religious coping seorang penganut agama Islam, ketika dihadapkan pada situasi pengambilan keputusan yang dalam menimbulkan tingkat stress yang dapat menghambat proses pengambilan keputusan yang ideal. Oleh karena itu, penulis berusaha membahas mekanisme ini menggunakan literatur ilmiah yang sudah ada mengenai religious coping.

Bagian 1: Stress dan Mekanisme Coping Stress dalam Proses Pengambilan Keputusan Sebelum membahas mengenai mekanisme religious coping, terlebih dahulu perlu penulis akan membahas mengenai apa itu stress dan bagaimana stress dapat muncul dalam proses pengambilan keputusan. Stress merupakan istilah yang sulit dijelaskan dalam satu kalimat karena banyaknya pengertian yang berbeda mengenai stress. Hans Selye, tokoh yang pertama kali menggunakan istilah stress, mendefinisikan stress untuk menjelaskan sebab timbulnya penyakit tertentu pada binatang subjek percobaan. Ia mendefinisikan Stress sebagai respons tubuh yang tidak spesifik terhadap setiap tuntutan untuk perubahan (American Institute of Stress). Dyer (2006) memberikan definisi yang lebih tajam, menyatakan bahwa Stress merupakan reaksi dari tubuh terhadap suatu perubahan yang membutuhkan respons atau penyesuaian fisik, mental atau emosional. Ia menambahkan bahwa Stress dapat timbul dari berbagai situasi atau pikiran yang menyebabkan munculnya rasa frustasi, marah, gugup dan cemas. Dalam konteks organisasi, Robbins dan Judge (2007) dalam buku mereka “Organizational Behavior” mendefinisikan stress sebagai kondisi dinamis dimana individu dihadapkan pada kesempatan, batasan, atau tuntutan terkait dengan apa yang ia inginkan, dimana hasil yang mungkin keluar dipersepsikan sebagai sesuatu yang penting namun tidak pasti.

Lemyre dan Tessier (1990) menyatakan bahwa keadaan stress seseorang merupakan hasil interaksi antara lingkungan sekitar seseorang dengan representasi lingkungan sekitar berdasarkan individu itu sendiri. Selye sendiri mendefinisikan stimulus yang dapat menyebabkan stress sebagai “Stressor”.

Gambar 1: Sumber-sumber stressor dalam konteks pekerjaan Sumber : Robbins (2007)

Robbins dan Judge (2007) mengutip hasil penelitian Parker dan DeCotiis (1983) mengenai sumber-sumber stressor dalam konteks pekerjaan. Parker dan DeCotiis menyatakan bahwa sumber stressor dalam pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni faktor lingkungan, faktor organisasi dan faktor personal, dan pengaruh masing-masing stressor dimoderasi oleh individual differences. Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, kita dapat menganalisa bagaimana stressor dapat muncul dalam berbagai tahapan pengambilan keputusan. Robbins (2007) mendefinisikan keputusan sebagai pilihan yang diambil dari dua atau lebih alternatif. Sementara itu, pengambilan keputusan dapat didefinisikan sebagai proses kognisi yang dilakukan untuk mencapai satu keputusan (WordNet®3.0, 2006). Ciccarelli (2005) mengaitkan konsep pengambilan keputusan dengan konsep pemecahan masalah. Keduanya merupakan konsep yang saling terkait dan seringkali sulit dibedakan. Ciccareli mendefinisikan Problem solving atau pemecahan masalah sebagai proses kognisi yang terjadi ketika sebuah tujuan harus dicapai melalui jalan pemikiran dan perilaku tertentu. Sejalan dengan itu, teori pengambilan keputusan mengemukakan bahwa pengambilan keputusan bertujuan untuk mencari keputusan optimal, dimana tidak tersedia keputusan lain yang memberikan hasil yang lebih besar. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa proses pengambilan keputusan dapat didefinisikan sebagai proses identifikasi dan evaluasi berbagai pilihan yang mungkin diambil, berdasarkan suatu set kriteria yang dimiliki pengambil keputusan, yang bertujuan untuk memilih satu solusi yang memberikan hasil paling besar yang dapat dimungkinkan. Robbins dan Judge (2007) menjabarkan langkah-langkah pengambilan keputusan rasional untuk mencapai solusi yang dapat memberikan hasil yang paling besar, antara lain: 1. Mendefinisikan masalah. 2. Mengidentifikasi kriteria keputusan. 3. Mengalokasikan bobot untuk masing-masing kriteria. 4. Mengembangkan alternatif. 5. Mengevaluasi alternatif. 6. Memilih alternatif terbaik.

Pada kenyataannya, pengambilan keputusan rasional diatas sulit untuk diterapkan. Terdapat beberapa asumsi yang harus terpenuhi untuk pengambilan keputusan rasional dapat berjalan dengan baik, antara lain: • Masalah yang dihadapi dapat teridentifikasi dengan jelas; • Semua alternatif (dan masing-masing konsekwensinya) dapat teridentifikasi dengan jelas. • Preferensi kriteria alternatif yang diinginkan dapat dibedakan dengan jelas. • Bobot kriteria tidak berubah; • Tidak ada kendala waktu dan biaya dalam mencari alternatif dan kriteria.

Model keputusan rasional jarang sekali dapat diaplikasikan secara sempurna karena adanya keterbatasan –keterbatasan diatas. Untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan untuk masalah yang tidak memenuhi kondisi-kondisi diatas, maka dikembangkan model Bounded Rationality, dimana individu membuat keputusan berdasarkan model yang disederhanakan sehingga dapat menarik esensi dari permasalahan tanpa menangkap seluruh kompleksitas masalah tersebut. Model bounded rationality menangkap keterbatasan manusia dalam mengidentifikasi dan menimbang alternatif dan kriteria. Model pengambilan keputusan dengan bounded rationality dapat dideskripsikan sebagai berikut: • Orang membuat keputusan berdasarkan penyederhanaan masalah dan aspek-aspeknya sehingga mudah dimengerti. • Tidak semua keadaan dipandang “masalah”; • Tidak diketahui semua kriteria, hanya diketahui yang pernah dikenali; • Tidak diketahui bobot yang tepat; • Tidak diperiksa semua alternatif yang teoretis tersedia, hanya dipertimbangkan alternatif-alternatif yang dekat dengan yang lazim ditempuh; • Alternatif diurut menurut yang paling memenuhi kriteria; • Tidak diambil alternatif yang paling baik tetapi yang cukup baik.

Pengambilan keputusan dengan rational model merupakan suatu kondisi ideal, Oleh karena itu, sebagian besar proses pengambilan keputusan dilakukan menggunakan model bounded rationality. Namun demikian, penting untuk ditekankan bahwa dalam model bounded rationality tidak semua informasi yang masuk akan diproses sebagai input dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, tingkat ketidakpastian yang dihadapi pengambil keputusan menjadi semakin tinggi. Sementara itu, berdasarkan definisi Stress Robbins dan Judge (2007), tingkat ketidakpastian dan tingkat kepentingan hasil merupakan faktor yang menentukan intensitas stress. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat kepentingan dan ketidakpastian suatu keputusan yang harus diambil, dapat dipastikan bahwa stress yang dialami pengambil keputusan juga akan semakin tinggi. . Problem-Based, Emosional dan Religious Coping Coping dapat didefinisikan sebagai mekanisme seseorang untuk mengatasi stress yang ia alami. Umumnya, coping digunakan untuk menjelaskan perilaku seseorang dalam menurunkan tingkat stress yang ia alami, dari tingkat yang terlalu tinggi ke tingkat yang masih dapat ia tolerir. Namun, Matlin, Wethington dan Kessler (1990), menyatakan bahwa pengaruh dan hasil mekanisme coping dapat berbeda antar individu. Satu perilaku yang identik dapat menghasilkan dampak yang berbeda antar individu dan bahkan antar konteks. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil dan pengaruh dari coping. Mekanisme coping sendiri dapat dibagi menjadi tiga tipe, yakni Problem based, Emotional dan Religious Coping. Meskipun demikian, dalam literatur ilmiah yang tersedia, pembahasan lebih ditekankan pada dua coping yang pertama, sementara pembahasan mengenai religious coping masih relatif minim. Hal ini mungkin disebabkan karena sebagian besar konteks penelitian mengenai coping dilakukan di negara-negara dimana religi bukan merupakan faktor signifikan dalam proses mental sebagian besar penduduknya. Problem-based coping melibatkan perilaku yang berusaha untuk secara langsung mengatasi permasalahan yang menjadi sumber stress. Contoh problem based coping dalam pengambilan keputusan adalah seorang calon mahasiswa yang berusaha mengurangi stress dan kecemasan dengan mencari informasi dari berbagai sumber mengenai berbagai jurusan bidang studi S1 dan D3 yang mungkin ia pilih, sebelum menentukan pilihan yang ia ambil. Emotional coping melibatkan perilaku yang berusaha mengurangi gejala-gejala stress, khususnya yang berupa emosi negatif, tanpa mengatasi permasalahan yang menjadi sumber stress. Contoh emotional coping dalam pengambilan keputusan adalah seorang calon mahasiswa yang meyakinkan dirinya bahwa sebenarnya pendidikan itu tidak terlalu penting, dan jika pilihan jurusan yang dia ambil salah, dia bisa dengan mudah keluar dan membuka bisnis. Sementara itu, religious coping melibatkan perilaku yang menekankan unsur spiritual dalam usaha mengurangi stress. Religious coping terkadang diklasifikasikan sebagai sub-kategori dari emotional coping. Namun, Aldwin (2007) menjelaskan bahwa terkadang individu dapat menggunakan doa sebagai sumber problem-focused coping (misalnya: meminta bantuan, kesembuhan, atau hal material lain), tetapi bisa juga menjadi sarana emotion-focused coping (misal: orang yang berdoa untuk mencari ketenangan). Dalam kejadian lain, doa bisa melibatkan elemen social support dengan menjadikan Tuhan sebagai tempat mencurahkan isi hati. Aldwin (2007), mengutip hasil penelitian Pargament, Koenig, and Perez (2000) yang berpendapat bahwa terdapat lima fungsi kunci religious coping, yakni: Pemberian Makna, Keyakinan Kendali, Ketentraman secara Spiritual, Keintiman secara Spiritual, dan Transformasi Hidup. Pemberian makna dilakukan dengan meyakini kerangka pikir yang disediakan oleh suatu Agama/Kepercayaan untuk memahami makna suatu peristiwa yang ia alami, misalnya keyakinan terhadap karma atau adanya Hari Pembalasan. Agama juga seringkali dapat memberikan keyakinan kendali terhadap peristiwa yang tidak terkendali. Ketentraman secara spiritual berasal dari penyerahan diri individu terhadap kehendak Kekuatan yang lebih tinggi. Keintiman berasal dari persamaan identitas dan perasaan bersaudara yang diangkat oleh Agama dan Kepercayaan antar sesama umatnya. Yang terakhir, seringkali Agama menjadi alasan transformasi hidup seseorang, dari kehidupan yang penuh maksiat menjadi kehidupan yang lebih baik.

Bagian 2: Tafsir Teks Doa Shalat Istikharah Teks Shalat Istikharah Berdasarkan kerangka pemikiran mengenai stress dalam pengambilan keputusan dan mekanisme religious coping dalam mengurangi stress, penulis berusaha mentafsirkan teks doa Shalat Istikharah yang disunnahkan untuk dilakukan sebelum seorang penganut Agama Islam melakukan suatu perbuatan atau mengambil suatu keputusan yang memiliki tingkat kepentingan dan ketidakpastian yang tinggi. Berikut ini adalah terjemah teks doa shalat Istikharah yang berasal dari hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Shahih Bukhari Volume 2 Hadist Nomor 263:

“Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu”. (HR Al Bukhari)

Berdasarkan kerangka fungsi religious coping yang dikemukakan Pargament, Koenig, and Perez diatas, dapat dianalisa elemen-elemen doa yang mengacu pada satu atau lebih fungsi religious coping. Shalat istikharah dapat meminimalisir stress dalam pengambilan keputusan melalui keyakinan bahwa apapun hasil (outcome) dari suatu keputusan adalah apa yang terbaik bagi orang tersebut pada akhirnya, bahkan jika hasil itu terlihat buruk pada awalnya. Hal ini memberikan makna bagi hasil yang muncul dari keputusan yang ia ambil, baik hasil yang ia inginkan maupun yang tidak ia inginkan. Melalui shalat Istikharah, individu tersebut menerima penjelasan bahwa hal yang ia inginkan bukan berarti hal yang paling baik bagi dirinya dan agamanya, dan sebaliknya. Oleh karena itu, jikapun hasil keputusan yang ia ambil tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan, maka hal itu adalah untuk yang terbaik. Doa Istikharah juga dapat dilihat sebagai wujud penyerahan diri kepada kehendak Allah SWT dan pengakuan atas keterbatasan rasionalitas manusia (bounded rationality) atas apa yang baik dan buruk bagi seseorang dimasa depan. Hal ini dapat menumbuhkan keyakinan kendali dan ketentraman spiritual. Penyerahan diri kepada Kekuatan yang lebih tinggi dapat mengurangi ketidakpastian yang dipersepsikan oleh individu pengambil keputusan tersebut, yang pada akhirnya mengurangi tingkat stress yang ia alami. Doa shalat Istikharah juga memiliki elemen Problem-based coping, dimana individu tersebut meminta bantuan untuk dimudahkan mengambil pilihan yang paling baik, dan dijauhkan dari mengambil pilihan yang memiliki hasil tidak baik.

Ilustrasi Shalat Istikharah sebagai Mekanisme Religious Coping Ilustrasi yang dapat diberikan mengenai Shalat Istikharah sebagai mekanisme religous coping adalah sebagai berikut. Seorang wanita Muslimah baru saja dilamar oleh seorang laki-laki. Wanita tersebut baru mengenal laki-laki tersebut selama setahun sebagai rekan kerja di suatu perusahaan IT. Laki-laki tersebut memberi waktu satu minggu bagi wanita tersebut untuk memutuskan apakah ia bersedia menerima atau menolak lamaran laki-laki tersebut. Wanita tersebut bimbang dalam menentukan pilihan, karena wanita tersebut sebenarnya mengharapkan untuk dilamar oleh laki-laki lain yang juga rekan sekantor. Namun laki-laki tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan melamar dalam waktu dekat. Untuk mengatasi kebimbangannya dalam menentukan pilihan, wanita tersebut melakukan Shalat Istikharah untuk memohon bantuan dalam memutuskan untuk menerima atau menolak lamaran dari laki-laki yang pertama. Dalam shalat tersebut, ia mengucapkan doa shalat istikharah dengan penghayatan yang mendalam terhadap makna doa tersebut. Setelah selesai shalat, ia mempertimbangkan baik-buruk keputusan yang akan ia ambil, kemudian menyerahkan hasil akhir keputusan tersebut kepada Allah SWT dan meyakini bahwa apapun hasil akhir keputusan yang ia ambil merupakan hal yang paling baik bagi dirinya, di dunia dan di akhirat. Kemudian, wanita tersebut menelpon laki-laki pertama untuk memberitahukan keputusan yang ia ambil.

Kesimpulan Shalat istikharah merupakan wujud penyerahan diri kepada Allah SWT dan pengakuan atas keterbatasan rasionalitas manusia (bounded rationality) atas apa yang baik dan buruk bagi seseorang dimasa depan. Shalat istikharah dapat meminimalisir stress dalam pengambilan keputusan melalui keyakinan bahwa apapun hasil (outcome) dari suatu keputusan adalah apa yang terbaik bagi orang tersebut pada akhirnya, bahkan jika hasil itu terlihat buruk pada awalnya. Keyakinan ini mengurangi ketidakpastian yang dipersepsikan oleh individu pengambil keputusan tersebut. Dapat disimpulkan bahwa, Shalat istikharah merupakan mekanisme yang ditujukan untuk mengurangi stress dan kecemasan yang timbul dari ketidakpastian keputusan-keputusan yang memiliki derajat kepentingan yang tinggi. Walaupun begitu, efektivitas shalat Istikharah sebagai mekanisme coping dapat berbeda-beda antar individu maupun antar konteks. Oleh karena itu, penulis merekomendasikan bagi penelitian selanjutnya untuk menggali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas tersebut.

Referensi 1. Aldwin, C.M. (2007) Stress, Coping, And Development: An Integrative Perspective 2nd Edition. 72 Spring Street, New York, NY: THE GUILFORD PRESS 2. Anon. Stress, Definition of Stress and Stressor. American Institute of Stress. http://www.stress.org/topic-definition-stress.htm 3. Ciccarelli, S.K dan Meyer, G.E. (2005). Psychology. Upper Saddle River, N.J: Pearson Prentice Hall. 4. Dyer KA (2006). Acute Stress Disorder. Loss, Change & Grief: Journey of Hearts. <http://www.journeyofhearts.org/jofh/grief/stress> 5. Folkman, Susan (1984). “Personal control and stress and coping processes: A theoretical analysis”. Journal of Personal and Social Psychology. 46: 839–852. 6. Louise Lemyre, PHD Réjean Tessier, PHD. Measuring psychological stress. Canadian Family Physician. http://www.cfpc.ca/cfp/2003/Sep/vol49-sep-resources-6.asp 7. Mattlin, J.A., Wethington, E., Kessles, R.C. (1990). Situational Determinants of Coping and Coping Effectiveness. Journal of Health and Social Behavior, 31:1 (Mar., 1990), pp. 103-122. American Sociological Association. Diunduh dari JSTOR (http://www.jstor.org/stable/2137048) tanggal 2 Desember 2008. 8. Robbins, S.P. dan Judge, T.A. (2007). Organizational Behavior. Upper Saddle River, N.J: Pearson Prentice Hall. 9. Sahih Bukhari. Vol. 2 Hadits nomor 263 mengenai tata cara shalat istikharah.

TUGAS AKHIR SEMESTER FILSAFAT ILMU

December 22nd, 2008 -- Posted in Papers | Comments Off

TUGAS AKHIR SEMESTER FILSAFAT ILMU Temporalitas Kebenaran Eksplanasi Ilmiah: Membedakan antara Teori dan Dogma Ilmiah

Imam Salehudin, SE. NPM 0806436680 Program Pascasarjana Terapan Psikometri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia imams@ui.edu

Abstraksi Makalah ini berusaha mengemukakan pemahaman penulis mengenai hakikat kebenaran eksplanasi ilmiah berdasarkan prinsip falsifikasi Karl Popper. Makalah ini berusaha menganalisa dan membagi eksplanasi ilmiah, antara teori dan dogma. Makalah ini juga memaparkan beberapa contoh bagaimana teori ilmiah berubah menjadi dogma ilmiah.

Kata Kunci: Filsafat Ilmu, Kebenaran Temporal, Falsifikasi

Okasha (2002) dalam bukunya “Philosophy of Science” mengemukakan bahwa salah satu tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk memberikan eksplanasi terhadap hal-hal yang terjadi di sekeliling kita. Salah satu topik sentral dalam filsafat ilmu adalah pembahasan mengenai bagaimana metoda pembuktian atas sebuah eksplanasi ilmiah terhadap suatu fenomena pada berbagai bidang ilmu yang ada. Sementara itu, metoda pembuktian dapat didefinisikan sebagai cara justifikasi kebenaran suatu eksplanasi ilmiah atau context of justification. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hakikat kebenaran suatu eksplanasi ilmiah sangat terkait dengan metode pembuktian yang digunakan atas eksplanasi tersebut.

Falsifikasi Popper sebagai Context of Justification Perkembangan mainstream filsafat ilmu modern saat ini sangat dipengaruhi oleh perdebatan pemikiran yang dimulai pada pertengahan tahun 1960-an antara Thomas S. Kuhn melawan Karl Popper. Fuller (2003) dalam bukunya yang membandingkan pemikiran Kuhn dan Popper, berpendapat bahwa Kuhn dengan pemikirannya mengenai “paradigma ilmu” yang menekankan pada perlunya suatu revolusi ilmiah dalam menggeser suatu paradigma ilmu yang dominan, dipandang mewakili kekuatan authoritarianism dalam komunitas ilmiah. Sementara itu, Popper dengan pemikirannya mengenai “falibilitas ilmu”, menekankan bagaimana falsifikasi atas suatu teori dapat mengugurkan teori tersebut dipandang mewakili kekuatan libertarianism. Walaupun bisa dikatakan bahwa pada akhirnya pemikiran Kuhn menjadi pemikiran yang dominan, hingga kini pemikiran Popper tetap memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam pembuktian eksplanasi ilmiah. Falsifikasi tetap menjadi dasar context of justification yang dominan pada mayoritas bidang ilmu, alam maupun sosial. Popper dalam bukunya Logik der Forschung (The Logics of Science) berpendapat bahwa kebenaran suatu eksplanasi ilmiah tidak dibuktikan dengan proses verifikasi secara induktif. Sebaliknya, kebenaran suatu eksplanasi ilmiah dibuktikan dengan logika deduksi melalui usaha falsifikasi. Falsifikasi menurut Popper adalah upaya untuk membuktikan bahwa kebenaran teori yang bersangkutan tidak benar. Jika suatu teori tidak dapat dibuktikan salah, maka teori tersebut masih dapat diterima sementara jika teori tersebut dapat dibuktikan salah, maka teori tersebut akan ditinggalkan. Disini, falsifikasi menjadi context of justification atas teori ilmiah tersebut.

Logika Temporalitas Kebenaran Hasil Falsifikasi Dengan memegang falsifikasi sebagai context of justification suatu eksplanasi ilmiah, marilah kita lihat logika dibalik pembuktian menggunakan falsifikasi. Ketika sebuah eksplanasi diuji menggunakan falsifikasi, peneliti berusaha menemukan fakta realitas yang dapat membantah eksplanasi tersebut. Jika peneliti gagal menemukan bukti yang menyangkal eksplanasi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa eksplanasi tersebut lolos dari falsifikasi. Sementara itu, jika peneliti menemukan satu kasus yang dapat membuktikan bahwa eksplanasi tersebut salah maka eksplanasi tersebut terfalsifikasi dan gugur. Walaupun begitu, falsifikasi bukan verifikasi. Eksplanasi yang berhasil lolos falsifikasi bukan berarti eksplanasi tersebut pasti benar. Eksplanasi yang lolos dari falsifikasi hanya berarti bahwa eksplanasi tersebut belum dapat dibuktikan salah. Oleh karena itu, walaupun teori yang gagal difalsifikasi dapat diterima sebagai kebenaran, namun sifat kebenaran hasil falsifikasi tersebut belum menjadi kebenaran absolut. Sebaliknya, kebenaran hasil falsifikasi tersebut hanya sebatas kebenaran temporal. Istilah temporal disini berarti memiliki keterikatan terhadap waktu. Percival (1989) memberikan contoh kebenaran temporal, ketika seseorang mengeluarkan pernyataan “diluar hujan” maka kebenaran pernyataan tersebut sangat tergantung pada konteks waktu dan tempat pernyataan itu dibuat. Jika ternyata setelah kita lihat keluar, saat itu memang sedang hujan, maka pernyataan tersebut bisa dikatakan memang benar. Namun, jika beberapa jam kemudian pernyataan “diluar hujan” diulang kembali, belum tentu pernyataan tersebut tetap benar. Jika ternyata diluar hujan sudah reda, maka pernyataan tersebut menjadi salah. Jika dikaitkan dengan konteks hasil falsifikasi eksplanasi ilmiah, bisa jadi sebuah eksplanasi yang lolos dari satu kali falsifikasi gagal pada falsifikasi yang kedua. Walaupun eksplanasi tersebut lolos dari falsifikasi yang kedua, tidak ada yang bisa menjamin bahwa eksplanasi tersebut pasti akan dapat lolos falsifikasi yang ketiga, dan seterusnya. Pada kenyataannya, sebanyak apapun sebuah eksplanasi lolos dari falsifikasi tidak ada yang menjamin bahwa eksplanasi tersebut pasti berhasil pada falsifikasi berikutnya. Oleh karena itulah semua pembuktian eksplanasi ilmiah menggunakan falsifikasi hanya menghasilkan kebenaran temporal. Untuk memperjelas pemahaman mengenai istilah “kebenaran temporal”, maka perlu dibahas mengenai lawan dari kebenaran temporal yakni “kebenaran absolut”. Kebenaran absolut merupakan kebenaran yang tidak tergantung oleh waktu dan tempat tertentu. Kebenaran absolut berlaku kapan saja dan dimana saja. Walaupun begitu, membuktikan kebenaran absolut tidak semudah membuktikan kebenaran temporal. Sebagai contoh, pernyataan “semua manusia pasti mati” seringkali dipandang sebagai pernyataan yang memiliki kebenaran absolut. Namun, pembuktian pernyataan tersebut tidak semudah dan sesederhana yang dikira. Bisa dikatakan bahwa setiap kali seseorang meninggal, setiap kali itu pula pernyataan tersebut lolos falsifikasi. Bisa dibayangkan berapa milyar kali pernyataan tersebut lolos dari falsifikasi. Namun, kematian seorang manusia hanyalah merupakan verifikasi temporal berdasarkan induksi. Untuk membuktikan pernyataan tersebut benar secara absolut, maka setiap manusia yang pernah hidup dimuka bumi harus mati terlebih dahulu. Popper sendiri menyangkal absolutisme kebenaran eksplanasi ilmiah “We do not know: we can only guess.” (Popper, Logic of Scientific Discovery, p. 278). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa menurut Popper ilmu pengetahuan merupakan sekumpulan teori yang belum dapat difalsifikasi. Berdasar pemikiran Popper tersebut, kebenaran semua ilmu pengetahuan yang kita miliki saat ini bersifat provisional dan masih dapat dikoreksi dimasa depan.

Membedakan Eksplanasi Ilmiah Pada kenyataannya, temporalitas kebenaran suatu eksplanasi ilmiah tidak membuat eksplanasi tersebut salah. Sebaliknya, eksplanasi tersebut dapat diterima sebagai kebenaran. Hanya saja, perlu ditanamkan pemahaman bahwa kebenaran eksplanasi ilmiah tersebut terbatas oleh konteks waktu dan tempat usaha falsifikasi terhadap eksplanasi tersebut. Namun demikian, beberapa eksplanasi ilmiah dianggap sebagai suatu kebenaran absolut, baik dapat difalsifikasi atau tidak. Popper memberikan contoh beberapa eksplanasi ilmiah yang tidak dapat difalsifikasi, seperti Psikoanalisa Freud dan Sosialisme Marx. Popper memandang kedua eksplanasi tersebut sebagai pseudo-science karena eksplanasi tersebut dapat digunakan oleh pengikutnya untuk menjelaskan apapun hasil dari suatu fenomena. Dalam hal ini, kedua teori diatas diterima oleh penganutnya sebagai kebenaran tanpa memerlukan adanya falsifikasi. Dengan kata lain, eksplanasi ilmiah tersebut diyakini sebagaimana seorang penganut agama diharapkan meyakini kepercayaannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dogma ilmiah merupakan eksplanasi ilmiah yang diyakini benar oleh sekelompok ilmuwan tanpa melewati context of justification yang diakui. Pada kenyataannya, banyak sekali eksplanasi yang bermula sebagai suatu teori ilmiah, namun berakhir sebagai dogma ilmiah. Selain contoh Psikoanalisa dan Sosialisme, contoh lain yang dapat diambil adalah teori Adam Smith mengenai Invisible Hand. Teori Adam Smith ini melahirkan mazhab klasik dan paham liberalisme. Penganut mazhab klasik akan meyakini prinsip-prinsip ekonomi yang diturunkan dari teori Smith, meskipun banyak fenomena terkini yang membuktikan bahwa teori tersebut salah. Jikapun mereka mengakui adanya fenomena yang bertolak belakang dengan eksplanasi Adam Smith, mereka akan berusaha mencari provisi-provisi tambahan yang memungkinkan teori Adam Smith berkelit dari falsifikasi. Pada akhirnya, semua provisi tersebut dapat menyebabkan teori Adam Smith sama seperti teori Karl Marx yang tidak dapat lagi difalsifikasi. Sungguh ironis bahwa eksplanasi Adam Smith dan Karl Marx terhadap fenomena ekonomi memiliki nasib yang serupa sebagai dogma ilmiah, walaupun memiliki isi yang bertolak belakang. Selain Psikoanalisa, contoh lain teori yang berubah menjadi dogma ilmiah pada ilmu psikologi adalah Teori Test Klasik yang merupakan salah satu dasar ilmu psikometri. Teori Test Klasik menyatakan bahwa X=T+e; dimana X merupakan nilai hasil pengukuran, T merupakan True Score atau nilai objek terukur yang sesungguhnya, sementara e merupakan merupakan error baik acak maupun sistematis. Pada kenyataannya, teori tersebut tidak dapat dibuktikan benar atau salah karena nilai true score dan error yang sesuangguhnya tidak dapat diketahui dan hasil pengukuran psikologi macam apapun dapat membenarkan teori tersebut. Teori-teori diatas tidak lagi dapat difalsifikasi sebagaimana dahulu karena masing-masing teori sudah mendapatkan kelembaman masing-masing yang diakibatkan oleh banyaknya aplikasi dan pemikiran yang didasarkan pada masing-masing teori diatas. Sebagai akibatnya, jika pada suatu waktu ditemukan bukti yang memfalsifikasi teori tersebut, sehingga para ilmuwan dan non-ilmuwan yang memiliki kepentingan atas keberlanjutan teori itu merasa enggan dan tidak lagi menghiraukan bukti-bukti falsifikasi teori tersebut. Jika kita kembali ke pemikiran Kuhn VS Popper, hal diatas sejalan dengan “Paradigma Ilmiah” Kuhn, dimana revolusi ilmiah terjadi ketika dominasi ilmuwan generasi sebelumnya yang memiliki lebih banyak kepentingan terhadap satu paradigma ilmu yang berlaku digantikan oleh dominasi ilmuwan generasi berikutnya yang memiliki kepentingan atas paradigma ilmu yang baru. Namun demikian, realita yang ada bisa jadi bukan merupakan kondisi ideal yang dimungkinkan. Eksplanasi Kuhn memang dapat lebih tepat menggambarkan menggambarkan fenomena ilmu pengetahuan yang ada, namun falsifikasi Popper tetap menjadi standar emas yang seharusnya dipegang oleh setiap ilmuwan.

Kesimpulan Kesimpulan makalah ini adalah bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia terdiri dari serangkaian eksplanasi provisional yang bersifat sementara. Oleh karena itu, proses pembuktian kebenaran suatu eksplanasi ilmiah merupakan sebuah proses berkelanjutan tanpa akhir karena realita senantiasa berubah dan ilmuwan seharusnya juga senantiasa berusaha mendapatkan kebenaran yang terkini. Jika suatu eksplanasi ilmiah diterima begitu saja tanpa proses pembuktian yang berkelanjutan, maka dapat dikatakan bahwa teori tersebut sudah berubah menjadi dogma ilmiah yang diyakini kebenarannya tanpa perlu pembuktian apa-apa.

Referensi 1. Fuller, S. (2003). KUHN VS POPPER: The Struggle for the Soul of Science. Duxford, Cambridge: Icon Books Ltd. 2. Kuhn. T. S. (1970). International Encyclopedia of Unified Science Vol. 2 No. 2: The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: The University of Chicago Press, Ltd. 3. Okasha, S. (2002). Philosophy of Science: A Very Short Introduction. Great Clarendon Street, Oxford: Oxford University Press. 4. Popper, K. (2002). The Logic of Scientific Discovery (English Translation). New Fetter Lane, London: Routledge Classics. 5. Percivel, P. (1989). Indices of Truth and Temporal Propositions. The Philosophical Quarterly, 39(155): 190-199. Diunduh 2 Desember 2008 dari JSTOR (www.jstor.org)

Essay Mid Term Mata Kuliah Proses Mental

November 1st, 2008 -- Posted in Papers | Comments Off

Pengambilan Keputusan Emosional VS Tanpa Emosi

(Emotional VS Emotionless Decision Making)

Imam Salehudin, SE.

NPM 0806436680

Program Pascasarjana Terapan Psikometri

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

imams@ui.edu

ABSTRAKSI

Paper ini membahas mengenai perbedaan pendapat para ahli ilmu sosial mengenai peran emosi terhadap proses pengambilan keputusan yang optimal. Secara umum terdapat dua kutub pendapat, yakni sisi yang meyakini bahwa emosi dapat menghambat pengambilan keputusan optimal dan sisi yang meyakini bahwa emosi dapat meningkatkan kualitas keputusan yang diambil. Dengan mempertimbangkan hasil temuan dari kedua belah pihak, penulis mengambil posisi bahwa emosi dapat menghambat maupun membantu proses pengambilan keputusan. Penulis berpendapat bahwa pengambilan keputusan yang dilakukan secara emosional maupun tanpa emosi sama-sama dapat mengurangi kualitas pengambilan keputusan. Oleh karena itu, penulis berspekulasi bahwa salah satu faktor yang dapat menentukan apakah emosi dapat menghambat atau membantu proses pengambilan keputusan adalah kemampuan pengambil keputusan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan emosi yang ia miliki.

LATAR BELAKANG PENGAMBILAN TOPIK PAPER

Peran emosi dalam pengambilan keputusan merupakan salah satu topik perdebatan yang telah diperdebatkan oleh para ahli ilmu sosial sejak dulu (Vohs dan Baumeister, 2007). Salah satu pihak meyakini bahwa emosi merupakan faktor penghambat yang menyebabkan individu pengambil keputusan berpikir irasional sehingga tidak dapat memilih keputusan yang memberikan hasil paling baik atau optimal. Oleh karena itu, pihak ini meyakini bahwa proses pengambilan keputusan yang ideal adalah yang dilakukan tanpa emosi dan bebas nilai.

Dilain pihak, terdapat ilmuwan sosial yang meyakini bahwa emosi membantu individu mencapai keputusan optimal. Pihak ini meyakini bahwa emosi sangat penting bagi proses pengambilan keputusan untuk mencapai suatu solusi keputusan yang manusiawi dan praktis diimplementasikan. Oleh karena itu, pihak ini meyakini bahwa pengambilan keputusan tanpa emosi menghasilkan keputusan yang lemah dan sulit diimplementasikan dalam konteks sosial kemasyarakatan.

Paper ini berusaha memperbandingkan argumen dan temuan dari kedua belah pihak, untuk mencari titik temu dari berbagai hasil studi mengenai peran emosi dalam proses pengambilan keputusan.

DEFINISI EMOSI

Sebelum dapat memperbandingkan argumen dan temuan mengenai pengaruh emosi terhadap proses pengambilan keputusan, terlebih dahulu akan dibahas mengenai definisi emosi berdasarkan pemahaman penulis.

Ciccarelli (2005) mendefinisikan emosi sebagai aspek “perasaan” dari kesadaran, yang ditandai dengan adanya perubahan fisiologis tertentu, perilaku tertentu yang menunjukkan emosi tersebut ke dunia luar, dan kesadaran terhadap diri sendiri atas munculnya perasaan tersebut. Ciccarelli menambahkan bahwa emosi dapat memunculkan pengalaman afektif tertentu-seperti perasaan senang/tidak senang, memulai proses kognitif tertentu-penilaian atau labelling, mengaktifkan penyesuaian fisiologis yang menyeluruh terhadap kondisi yang memberikan rangsangan, dan mengarah pada perilaku yang seringkali -tetapi tidak selalu- ekspresif, memiliki tujuan tertentu dan adaptif.

Reisenzein (2007) mengemukakan pendapatnya bahwa definisi emosi adalah sebuah kondisi mental, untuk menentang teori Component Process Model yang dikemukakan oleh Scherer (1987) yang mendefinisikan bahwa emosi merupakan suatu urutan dari perubahan yang saling terkait dan tersinkronisasi dari keadaan lima subsistem organismik, antara lain: subsistem pengolahan informasi, subsistem pendukung, subsistem eksekutif, subsistem aksi dan subsistem monitor.

Reisenzein menunjukkan bahwa berbagai hasil penelitian yang menunjukkan lemahnya hubungan antara reaksi fisiologis dengan berbagai pola perubahan mental dan fisik, pada moda emosi tertentu. Jikapun teori Scherer memang benar, makna emosi yang dimaksud oleh kata yang digunakan sehari-hari seperti marah, sedih, gembira dan semacamnya adalah emosi sebagai suatu keadaan mental yang mengacu pada suatu moda emosi tertentu, bukan bermakna sebagai suatu pola dinamika sebagaimana yang diusulkan Scherer.

Walaupun teori Component Process Model mendapatkan perhatian yang cukup oleh komunitas akademik, secara umum mayoritas ahli psikologi tetap berpendapat bahwa emosi merupakan sebuah keadaan mental, walaupun belum terdapat satu penelitian konklusif yang dapat menjelaskan definisi emosi secara final.

Untuk menghindari perbedaan pemahaman mengenai definisi emosi, penulis menjelaskan keterkaitan antara tiga konsep yang sering sulit dibedakan, yaitu afek, mood dan emosi.

Robbins (2007) membedakan antara afek, mood dan emosi sebagai berikut. Menurut Robbins, afek merupakan istilah generik yang secara luas mencakup jangkauan perasaan yang dialami seseorang. Oleh karena itu, jangkauan afek juga mencakup mood dan emosi. Sementara itu, Robbins menjelaskan bahwa emosi merupakan perasaan intens yang diarahkan pada suatu objek sedangkan mood merupakan perasaan dengan intensitas yang lebih rendah dan seringkali tidak memiliki konteks stimulus (objek yang menjadi sasaran) tertentu. Robbins juga menambahkan bahwa emosi memiliki jangka waktu yang lebih singkat dari mood.

Keterkaitan antara emosi dan mood dapat digambarkan sebagai hubungan timbal balik. Kondisi mood tertentu bisa meningkatkan kecenderungan individu untuk merasakan emosi tertentu. Sebaliknya, jika seseorang merasakan emosi tertentu dengan intensitas yang tinggi terhadap suatu objek, maka dapat dimungkinkan emosi tersebut digantikan oleh mood yang bertahan setelah emosi awal mereda.

Gambar 1: Afek, Emosi dan Mood

Oleh karena itu, berdasarkan hal-hal diatas, penulis menyimpulkan bahwa definisi emosi yang akan digunakan pada paper ini adalah suatu keadaan mental yang dihasilkan oleh konteks stimulus tertentu, disadari oleh individu yang merasakan dan dapat menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis dan perilaku ekspresif tertentu.

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN OPTIMAL

Selain pemahaman mengenai definisi emosi, untuk menjabarkan pandangan penulis mengenai peran emosi dalam pengambilan keputusan optimal juga memerlukan pembahasan mengenai definisi pengambilan keputusan optimal.

Robbins (2007) mendefinisikan keputusan sebagai pilihan yang diambil dari dua atau lebih alternatif. Sementara itu, pengambilan keputusan dapat didefinisikan sebagai proses kognisi yang dilakukan untuk mencapai satu keputusan (WordNet®3.0, 2006).

Ciccarelli (2005) mengaitkan konsep pengambilan keputusan dengan konsep pemecahan masalah. Keduanya merupakan konsep yang saling terkait dan seringkali sulit dibedakan. Ciccareli mendefinisikan Problem solving atau pemecahan masalah sebagai proses kognisi yang terjadi ketika sebuah tujuan harus dicapai melalui jalan pemikiran dan perilaku tertentu. Sejalan dengan itu, teori pengambilan keputusan mengemukakan bahwa pengambilan keputusan bertujuan untuk mencari keputusan optimal, dimana tidak tersedia keputusan lain yang memberikan hasil yang lebih besar.

Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa proses pengambilan keputusan dapat didefinisikan sebagai proses identifikasi dan evaluasi berbagai pilihan yang mungkin diambil, berdasarkan suatu set kriteria yang dimiliki pengambil keputusan, yang bertujuan untuk memilih satu solusi yang memberikan hasil paling besar yang dapat dimungkinkan.

EMOSI SEBAGAI PENDUKUNG PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Terdapat beberapa penelitian dengan temuan yang mendukung gagasan mengenai adanya pengaruh positif emosi terhadap proses pengambilan keputusan. Seo dan Barret (2007) melakukan penelitian terhadap sejumlah investor pasar modal dan menemukan bahwa individu dengan perasaan yang lebih intens mendapatkan kinerja pengambilan keputusan yang lebih tinggi. Mereka juga menemukan bahwa investor yang lebih mampu mengidentifikasi dan membedakan diantara perasaan mereka, mendapatkan kinerja pengambilan keputusan yang lebih tinggi melalui peningkatan kemampuan untuk mengendalikan bias-bias yang mungkin diakibatkan oleh perasaan-perasaan tersebut.

Sementara itu, Chuang (2007) dalam serangkaian eksperimen yang melibatkan pengambilan keputusan dalam kondisi emosi tertentu menemukan bahwa keputusan yang diambil dalam kondisi emosi positif akan memiliki akurasi pilihan yang lebih tinggi, melibatkan jumlah informasi yang lebih besar dan lama waktu yang lebih panjang dalam pengolahan informasi.

Berdasarkan hasil temuan kedua penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa emosi dapat memberikan manfaat positif bagi proses pengambilan keputusan. Selain itu, kedua penelitian diatas membuktikan bahwa premis “emosi mengaburkan penilaian dan menghambat proses pengambilan keputusan yang optimal” tidak berlaku pada situasi-situasi tertentu.

EMOSI SEBAGAI PENGHAMBAT PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Meskipun emosi dapat memberikan manfaat positif bagi proses pengambilan keputusan, belum tentu berarti semua pengambilan keputusan yang melibatkan emosi menjadi lebih baik. Banyak literatur yang mendokumentasikan pengaruh negatif emosi terhadap pengambilan keputusan.

Luce (2005) mengemukakan bahwa tujuan meminimalisasi emosi negatif dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang dilakukan seseorang dengan cara yang tidak dapat dijelaskan oleh teori pengambilan keputusan yang klasik. Ia berargumen bahwa salah satu alasan untuk ini adalah karena beberapa operasi pengambilan keputusan yang bertujuan meningkatkan akurasi pengambilan keputusan seringkali juga menimbulkan emosi negatif tertentu. Oleh karena itu, aspek pengambilan keputusan yang terlihat masuk akal dari sudut pandang teori klasik, bisa jadi dihindari oleh pengambil keputusan yang ingin menghindari emosi negatif.

Sementara itu, Anderson (2003) mengemukakan temuannya mengenai perilaku individu dalam hal menghindari keputusan, gagal bertindak, atau menerima status quo. Anderson menggali lebih lanjut perilaku umum yang mengganggu, seperti penundaan pilihan, bias status quo, bias omisi dan inersia inaksi. Ia menemukan bahwa perilaku-perilaku diatas memiliki faktor penyebab yang sama berdasar model rasional-emosional yang mendorong manusia untuk tidak berbuat apa-apa. Komponen utama faktor penyebab tersebut termasuk kalkulasi untung-rugi, antisipasi penyesalan, dan kesulitas seleksi. Faktor lain yang juga dapat mempengaruhi penghindaran keputusan melalui komponen utama ini, adalah antara lain antisipasi emosi negatif, strategi pengambilan keputusan, pemikiran kontrafaktual, dan ketidakpastian preferensi.

Melanjutkan temuan Anderson, Wong dan Kwong (2007) menggali mengenai pengaruh antisipasi terhadap penyesalan dalam pengambilan keputusan individu, khususnya dalam situasi adanya eskalasi komitmen. Eskalasi komitmen merupakan situasi dimana individu dihadapkan pada dua pilihan, yaitu untuk berhenti atau tidak. Jika individu memutuskan untuk tidak berhenti, maka keputusan tersebut ditunda untuk waktu pengambilan keputusan berikutnya. Selain itu, hal yang dipertaruhkan terhadap hasil keputusan itu menjadi semakin besar seiring dengan berjalannya waktu, sehingga terjadi eskalasi komitmen seseorang terhadap keputusan yang sudah diambil sebelumnya.

Penelitian tersebut menggunakan premis bahwa pengambilan keputusan individu dipengaruhi oleh emosi yang sudah dialami sebelumnya (retrospektif) sekaligus antisipasi terhadap emosi yang mungkin timbul sebagai akibat dari keputusan tersebut (prospektif).

Hasil temuan mereka adalah bahwa penyesalan merupakan salah satu emosi yang diantisipasi individu yang melakukan pengambilan keputusan. Selain itu, terdapat kecenderungan yang lebih besar untuk terjadinya eskalasi komitmen jika individu menilai bahwa keputusan untuk berhenti memiliki kemungkinan penyesalan yang lebih besar.

Contoh aplikasi temuan ini pada situasi dunia nyata, antara lain:

1) Konsumen memilih antara produk murah yang tidak terkenal atau produk bermerek yang lebih mahal, cenderung memilih pilihan yang memiliki resiko penyesalan yang paling kecil, yaitu produk bermerek yang lebih mahal.

2) Jika dihadapkan pada pilihan bertahan atau berhenti, seperti dalam kasus investasi yang tidak menguntungkan, maka kecenderungan untuk bertahan semakin besar sebanding dengan perbedaan antisipasi penyesalan antara pilihan bertahan atau berhenti semakin besar.

Berbeda dengan penelitian lainnya yang mengisolasi keputusan dari keputusan-keputusan sebelumnya dan lebih banyak menekankan pada efek aksi (antisipasi penyesalan jika bertindak salah), Zeelenberg et. al. (2002) meneliti bahwa pada situasi tertentu efek antisipasi penyesalan yang diakibatkan oleh kegagalan untuk bertindak (efek inaksi) menjadi lebih besar dari efek aksi. Situasi ini adalah apabila pada keputusan sebelumnya individu memutuskan untuk tidak bertindak sehingga menyebabkan hasil yang negatif, maka pada pengambilan keputusan berikutnya individu tersebut mengantisipasi penyesalan yang lebih besar jika gagal bertindak dibanding jika bertindak tetapi gagal. Oleh karena itu, pada situasi ini terdapat kecenderungan yang lebih tinggi untuk bertindak dibandingkan untuk tidak bertindak.

Temuan-temuan diatas memberikan bukti bahwa memang benar emosi dapat memberikan pengaruh negatif terhadap proses pengambilan keputusan. Meskipun begitu, bukan berarti pengambilan keputusan tanpa emosi akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pengambilan keputusan emosional.

DISKUSI DAN KESIMPULAN

Selain penelitian yang menguji pengaruh positif atau negatif emosi terhadap proses pengambilan keputusan, beberapa penelitian menggali pengaruh emosi terhadap pengambilan keputusan yang bukan merupakan pengaruh positif maupun negatif. Tiedens (2001) mengemukakan pendapatnya bahwa emosi mempengaruhi bagaimana strategi pengambilan keputusan yang digunakan individu. Ketika emosi yang dominan adalah emosi yang menyangkut ketidakpastian, maka strategi yang diambil cenderung strategi pengambilan keputusan sistematis. Sementara jika tidak, maka strategi yang cenderung diambil adalah strategi heuristik.

Sementara Pham (2007) menggali pengaruh emosi terhadap konsep rasionalitas yang digunakan individu-logis, material dan ekologis. Ia menemukan bahwa kondisi emosi mempengaruhi proses cara berpikir dan dapat mendorong perilaku sosial dan moral. Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa pernyataan kategoris mengenai rasionalitas dan irasionalitas emosi secara keseluruhan dapat menyesatkan.

Baron (1994) menjelaskan mengenai bagaimana rasio menjadi hal yang relatif terhadap emosi. Ia menggali fenomena pengambilan keputusan non-consequental, dimana individu tidak memilih alternatif yang sepertinya memberikan hasil yang paling baik bagi dia sendiri. Ia menemukan bahwa hasil yang sama namun memiliki memuatan emosi yang berbeda akan dipandang sebagai dua konsekuensi yang berbeda oleh seorang individu.

Berdasarkan pembahasan diatas, penulis berpendapat bahwa dalam memperoleh keputusan yang optimal bukanlah masalah mengambil keputusan tersebut dalam keadaan emosional atau tanpa emosi. Emosi secara pasti memiliki pengaruh terhadap proses kognisi manusia, baik emosi yang kita alami maupun yang kita antisipasi (Mellers, 1999). Sebaliknya, pengambilan keputusan tanpa emosi hampir tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia normal karena emosi merupakan bagian alami yang tidak terpisahkan dari proses mental manusia yang sehat. Emosi memberikan makna bagi alternatif hasil yang dipertimbangkan manusia.

Mellers (1999) menyimpulkan bahwa menyederhanakan emosi sebagai hal yang irasional, hanya akan meningkatkan kerentanan diri kita terhadap efek-efek negatif emosi. Penulis setuju sepenuhnya dengan pendapat ini.

Oleh karena itu, penulis berspekulasi bahwa salah satu faktor yang dapat menentukan apakah emosi dapat menghambat atau membantu proses pengambilan keputusan adalah kemampuan pengambil keputusan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan emosi yang ia miliki. Namun, spekulasi ini membutuhkan penelitian empiris lebih lanjut.

REFERENSI

1.Ciccarelli, S.K dan Meyer, G.E. (2005). Psychology. Upper Saddle River, N.J: Pearson Prentice Hall.

2.Robbins, S.P. dan Judge, T.A. (2007). Organizational Behavior. Upper Saddle River, N.J: Pearson Prentice Hall.

3.Anderson, C.J. (2003). The Psychology of Doing Nothing: Forms of Decision Avoidance Result from Reason and Emotion. Psychological Bulletin, 129 (1): 139–167. Retrieved October 17, 2008, from APA PsycNet database.

4.Baron, J. (1994) Nonconsequentialist decisions. Behavioral and Brain Sciences 17(1): 1-10. Retrieved October 17, 2008, from BBSOnline Prints: http://www.bbsonline.org/Preprints/OldArchive/bbs.baron.html

5.Chuang, S-C. (2007). Sadder but Wiser or Happier and Smarter? A Demonstration of Judgement and Decision Making. The Journal of Psychology, 141(1): 63. Retrieved October 17, 2008, from ProQuest Psychology Journals database.

6.Luce, M.F. (2005). Decision Making As Coping. Health Psychology, 24 (4) Supplement: S23–S28. Retrieved October 17, 2008, from APA PsycNet database.

7.Mellers, B., Schwartz, A., dan Ritov, I. (1999) Emotion-Based Choice. Journal of Experimental Psychology: General 1999. 128(3): 332-345. Retrieved October 17, 2008, from APA PsycNet database.

8.Pham, M.T. (2007) Emotion and Rationality: A Critical Review and Interpretation of Empirical Evidence. Review of General Psychology, 11(2): 155–178. Retrieved October 17, 2008, from APA PsycNet database.

9.Reisenzein, R. (2007). What is a definition of emotion? And are emotions mental-behavioral processes? Social Science Information, (46): 424. Retrieved October 17, 2008, from SAGE Publishing website: http://ssi.sagepub.com

10.Scherer, K. (1987) Toward a Dynamic Theory of Emotion: The Component Process Model Of Affective States. Geneva Studies in Emotion and Communication, 1(1): 1–98. Published on Swiss Center for Affective Sciences (http://www.affective-sciences.org)

11.Seo, M.G. dan Barrett, L.F. (2007). Being Emotional During Decision Making–Good or Bad? An Empirical Investigation. Academy of Management Journal, 50(4): 923-940. Retrieved October 17, 2008, from ProQuest Psychology Journals database. (Document ID: 1330577191).

12.Tiedens, L.Z. dan Linton, S. (2001). Judgment under Emotional Certainty and Uncertainty: The Effects of Specific Emotions on Information Processing. Journal of Personality and Social Psychology, 81(6): 973-988

13.Vohs, K.D. dan Baumeister, R.F. (2007). Introduction to Special Issue: Emotion and Decision Making. Review of General Psychology, 11(2): 98. Retrieved October 17, 2008, from APA PsycNet database.

14.Wong, K.F.E. dan Kwong, J.Y.Y (2007). The Role of Anticipated Regret In Escalation Of Commitment. Journal of Applied Psychology, 92(2): 545–554. Retrieved October 17, 2008, from APA PsycNet database.

15.Zeelenberg, M., Bos, K.V.D., Dijk, E.V. dan Pieters, R. (2002). The Inaction Effect in the Psychology of Regret. Journal of Personality and Social Psychology, 82(3): 314–327. Retrieved October 17, 2008, from APA PsycNet database.

16.Decision making (2006). WordNet® 3.0. Princeton University. Retrieved October 23, 2008, from Dictionary.com website: http://dictionary.reference.com/browse/decision making