Greenpeace Sebagai Organisasi Rasional Terbuka

(Tidak untuk dikutip)

I. Pendahuluan

Selama 30 tahun terakhi ini, global civil society berkembang pesat. Munculnya persoalan global, seperti persoalan pemanasan global (global warming) yang mendorong perubahan iklim (climate change) memaksa pemerintahan-pemerintahan di dunia membantuk organisasi antar-pemerintahan (intergovernmental organization). Untuk mengimbangi dan membantu mengatasi persoalan global, terbentuklah global civil society (Coleman dan Wayland, 2006).

Menggunakan pemikiran John Boli dan George Thomas, Coleman dan Wayland (2006) menjelaskan ada lima karakteristik dan operasional organisasi non-pemerintah internasional (INGO – international nongovernmental organization) yaitu (1) universalisme; (2) individualisme; (3) aktivitas sukarela rasional (rational voluntaristic activity); (4) rasionalisasi; dan (5) warga dunia (world citizenship). Mengikuti pemikiran Coleman dan Wayland (2006), Greenpeace bisa dikategorikan global civil society. Greenpeace adalah warga dunia dalam bentuk INGO.

Anggaran Greenpeace tahun 2007 mencapai 205 juta Euro yang sebagain besar berasal dari sumbangan dari 2,9 juta supporter di seluruh dunia.[1] Sebagai organisasi beranggaran lebih dari seratus juta Euro setahun, Greenpeace sudah seperti perusahaan multinasional yang juga beranggaran ratusan juta Euro. Tidak bisa lagi Greenpeace dikelola seperti mengelola organisasi nir-laba yang informal dan bersifat natural.

Greenpeace sebagai organisasi menyerupai perusahaan multinasional. Greenpeace adalah organisasi global dengan 28 NROs (national and regional offices) dengan kantor di 41 negara di dunia, termasuk di Asia Tenggara dan kantor di Jakarta.[2]

Seperti juga pasar yang meng-global yang menjadi sasaran perusahaan multinasional, persoalan lingkungan yang menjadi “pasar”-nya Greenpeace, juga adalah persoalan global. Seperti pasar global, persoalan lingkungan global juga bertumbuh. Seperti juga organisasi bisnis multinasional, Greenpeace meminta ahli-ahli manajemen bisnis dunia.

The Economist, majalah ekonomi terkemuka dunia terbitan Amerika Serikat edisi 19 Agustus 1995 menggambarkan Greenpeace sebagai entitas yang membawa ciri-ciri entitas bisnis. Bedanya, kalau entitas bisnis tujuannya mencari keuntungan, Greenpeace yang nir-laba tujuannya menyelamatkan dunia.[3]

Paper ini menguraikan Greenpeace sebagai organisasi nir-laba yang struktur organisasinya mengikuti struktur organisasi bisnis. Kemudian mencoba melihat Greenpeace menggunakan satu tiga perspektif teori sosiologi organisasi (perspektif rasional, natural, dan open sistem). Dari ketiga perspektif teori sosiologi organisasi itu, paper ini menentukan perspektif yang mana yang paling pas untuk menjelaskan Greenpeace sebagai organisasi karena kebanyakan teori sosiologi organisasi berakar pada bisnis.

II. Latar belakang teori

Ada tiga perspektif teori organisasi untuk menganalisis organisasi sebagai sistem yaitu (1) perspektif organisasi sebagai sistem yang rasional atau rational system; (2) organisasi sebagai sistem natural atau natural system; dan (3) organisasi sebagai sistem yang terbuka atau open system (Scott, 1987). Scott (1987) melihat organisasi sebagai kolektivitas sosial (social collectivities).

Perspektif sistem rasional melihat organisasi memiliki tujuan yang spesifik dan didefinisikan dengan jelas sekali. Anggota organisasi bersama-sama menggunakan organisasi untuk mencapai tujuan spesifik itu. Organisasi memiliki struktur yang formal. Formal artinya organisasi memiliki peraturan yang tertulis (formalized) dengan jelas. Aturan organisasi ini menentukan bagaimana organisasi berperilaku. Bukan hanya aturan tertulis yang menentukan perilaku, peran dan tanggung jawab aktor dalam struktur tertulis dengan jelas.

Perspektif sistem natural melihat organisasi memiliki struktur yang informal. Scott mendefinisikan perspektif sistem natural sebagai kelompok bersama yang anggotanya berbagi kepentingan bersama agar sistem bisa bertahan hidup dan yang ikut dalam kegiatan kolektif yang diselenggarakan secara informal untuk memastikan agar bisa terus bertahan (Scott, 1987). Struktur informal yang terjadi lebih memberikan panduan yang akurat dan informatif untuk memahami perilaku organisasi dibandingkan struktur yang formal.

Perspektif sistem terbuka mengikuti pemikiran lingkungan, sebagai elemen di luar organisasi, akan menpengaruhi bentuk organisasi dan mendukung kehidupan organisasi. Perspektif sistem terbuka lebih fokus dan mementingkan pengaruh lingkungan daripada organisasinya itu sendiri. Sehingga, sistem terbuka tidak mempersoalkan apakah struktur organisasinya formal atau informal. Organisasi dilihat sebagai sistem dari kegiatan yang saling bergantung satu dengan lainnya.

Ada tiga teori berkembang di dalam perspektif sistem terbuka yaitu teori ketergantungan sumber daya, teori institusional, dan teori ekologi organisasi.

Ketiga perspektif ini berakar pada organisasi bisnis. Para pencetus teori dari ketiga perspektif ini mengembangkan teori-teori mereka untuk diterapkan pada organisasi bisnis. Apakah ketiga perspektif ini (dan teori-teorinya) bisa digunakan untuk memahami organisasi non-profit seperti Greenpeace?

III. Greenpeace sebagai organisasi

Greenpeace sebagai organisasi memiliki elemen organisasi yaitu struktur sosial, partisipan atau aktor sosial, gol atau tujuan, teknologi, dan lingkungannya (Scott, 1987). Struktur sosial adalah adalah bagaimana hubungan sosial antara aktor atau orang-orang atau sub-group di dalam sebuah organisasi (Scott, 1987; Nadel, 1957). Greenpeace memiliki struktur yang formal, hubungan antara aktor sudah ditetapkan menurut peraturan internal yang tertulis dan diketahui oleh semua aktor.

Greenpeace adalah organisasi lingkungan internasional yang terdiri dari Greenpeace International atau Stichting Greenpeace Council (SGC) dan 28 NRO yang ada di 41 negara di dunia ini. Ada satu NRO di Asia Tenggara yaitu Greenpeace South East Asia dengan tiga kantor di tiga negara Asia Tenggara (Jakarta – Indonesia, Bangkok – Thailand, Manila – Filipina).

Greenpeace International yang berkantor pusat di Belanda menurut peraturan memberikan lisensi menggunakan nama Greenpeace kepada NRO. Tidak bisa seseorang aktivis di suatu negara membentuk Greenpeace negaranya tanpa mendapatkan kontrak lisensi.[4] Ketentuan lisensi bisa dianalogikan dengan pemberian franchise di dunia bisnis.

Berdasarkan lisensi ini NRO berhak menggunakan logo dan nama Greenpeace. Selain hak, NRO wajib mengikuti ketentuan terkait pemberian lisensi itu.

Greenpeace sebagai organisasi formal pemerintahannya terbagi menjadi dua yaitu board atau dewan dan eksekutif yang menjalankan roda organisasi sehari-hari. Dewan bertanggung jawab dan memiliki wewenang memilih dan memberhentikan direktur eksekutif. Dewan juga memiliki wewenang mensahkan rencana tahunan dan rencana tiga tahunan organisasi. Hubungan yang sama antara dewan dan eksekutif juga diterapkan di tingkat NRO.

Setiap dewan di tingkat NRO kemudian menetapkan wakil yang akan duduk di Trustee. Trustee bertemu setahun sekali untuk menetapkan strategi jangka panjang, perubahan struktur, pembiayaan organisasi, dan memilih board di tingkat internasional. Board internasional ini yang akan mensahkan anggaran tahunan Greenpeace International dan memilih Direktur Eksekutif Greenpeace International.

Greenpeace International akan memonitor semua NRO, mengoperasikan tiga kapal Greenpeace, melaksanakan kampanye global, mengkoordinasikan perencanan, dan memastikan apakah ketentuan organisasi dijalankan oleh NRO.

Struktur organisasi Greenpeace menyerupai organisasi perusahaan multinasional: ada board, dewan direktur, dan perwakilan perusahaan di berbagai negara atau franchise-nya di berbagai negara. Dari anggarannya, anggaran Greenpeace sebanding dengan perusahaan multinasional.

Selain aturan formal organisasi, Greenpeace memiliki prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang menjadi pegangan setiap aktor berperilaku dan berinteraksi satu dengan lainnya, dan dengan lingkungan atau organisasi lainnya. Berikut ini beberapa prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut Greenpeace:

-Greenpeace tidak meminta atau menerima dana dari pemerintah, perusahaan atau partai politik.

-Greenpeace tidak mencari atau menerima sumbangan yang akan mengkompromikan kemandirian, tujuan, atau integritasnya

-Greenpeace memegang teguh prinsip-prinsip: tanpa kekerasan (non-violence), independen dari politik (political independence), dan internasionalisme.

-Greenpeace tidak memiliki sekutu atau musuh permanen (no permanent allies or enemies).

-Greenpeace, sebagai organisasi non-pemerintah, memegang teguh prinsip transparan dan akuntabilitas

Selain NRO, Greenpeace memiliki lebih dari 3 juta orang supporter dan jutaan sukarelawan (volunteer) dan cyber activists sebagai aktor sosial organisasi Greenpeace. Supporter adalah individu yang menyumbangkan uangnya untuk membiayai kegiatan Greenpeace. Volunteer adalah individu yang mendukung dan ikut terlibat secara sukarela dalam kegiatan Greenpeace. Supporter dan volunteer memiliki aturan tersendiri yang tertulis.

Tujuan Greenpeace mengubah keyakinan (attitude) dan perilaku (behavior), melindungi dan mengonservasi lingkungan, dan mempromosikan perdamaian.

Greenpeace sangat sadar memanfaatkan teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Membangun cyber activists adalah salah satu bentuk pemanfaatan teknologi Internet untuk memperluas dampak kegiatan Greenpeace.

IV. Analisis

Penelitian mengenai organisasi akan sangat tergantung dari latar belakang siapa yang meneliti. Para ilmuwan politik akan tertarik meneliti struktur partai-partai politik dan struktur administrasi negara. Para ahli ekonomi akan tertarik meneliti organisasi sebagai perusahaan bisnis. Ahli sosiologi akan meneliti asosiasi-asosiasi tanpa ikatan, lembaga-lembaga yang bergerak di bidang peningkatan kesejahteraan dan kontrol sosial. Dan para antropolog akan meneliti administrasi perbandingan di dalam perkembangan masyarakat.

Apakah para sosiolog akan tertarik meneliti organisasi nir-laba? Atau para ahli politik yang tertarik karena organisasi nir-laba internasional akan berpengaruh pada pengambilan kebijakan di dalam pemerintahan?

Sejumlah peneliti menggunakan perspektif sistem terbuka untuk menganalisis organisasi nir-laba (Darlington, 1998; Frumkin dan Galaskiewicz, 2004; Fottler, 1981).

Darlington (1998) menggunakan perspektif sistem terbuka dalam meneliti tugas utama organisasi nir-laba atau organisasi non-pemerintah (NGO – non-governmental organization).

Greenpeace adalah organisasi formal yang kegiatannya selalu akan berhubungan dengan lingkungannya dan dengan organisasi lain di luar lingkungan. Greenpeace ada juga karena merespon situasi lingkungan sekelilingnya. Ke kawasan mana Greenpeace ekspansi dipengaruhi oleh persoalan lingkungan.

Greenpeace tidak akan bisa lepas dari dukungan para supporter-nya dan volunteer-nya. Struktur Greenpeace sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Saat ini supporter paling banyak ada di Eropa dan Amerika Serikat. Kebijakan dan struktur Greenpeace akan cenderung berwarna Eropa atau Amerika Serikat (Eropa sentris).[5]

Eksplisit Greenpeace menyatakan tidak ada sekutu atau musuh abadi, menunjukkan Greenpeace sangat sadar sebagai organisasi yang terbuka dan ingin mempertahankan struktur formalnya.

V. Kesimpulan

Revolusi ICT (information and communication technology) dan munculnya persoalan global membuat tidak mungkin lagi organisasi modern bersifat tertutup. Organisasi modern, apakah organisasi pemerintah, bisnis, atau organisasi nir-laba, tidak bisa lagi menghindari pengaruh lingkungan. Bahkan sudah sejak awal terbentuknya organisasi modern saat ini adalah sebagai tanggapan pengaruh lingkungan dan menjawab kebutuhan masyarakat.

Berdasarkan struktur organisasi, norma-norma yang dianutnya juga tujuan yang jelas, dan kegiatannya, termasuk pemikiran sejumlah ahli (Darlington, 1998; Frumkin dan Galaskiewicz, 2004; Fottler, 1981), Greenpeace paling tepat dibedah menggunakan perspektif sistem terbuka dengan struktur formal.

Meskipun Greenpeace termasuk organisasi nir-laba, struktur formalnya mengikuti struktur formal organisasi bisnis. Greenpeace mengeluarkan lisensi hak menggunakan nama Greenpeace kepada perwakilan independen di berbagai negara (NRO). Pemberian lisensi itu mengikuti prosedur formal yang ada. Hubungan antara Greenpeace Internasional, yang memberikan lisensi, dengan NRO diatur dengan peraturan tertulis.

Greenpeace sangat tergantung pemasukan dana dari supporter yang jumlahnya sudah mencapai 3 juta individu dari seluruh dunia. Hubungan antara Greenpeace dengan supporternya ditentukan secara formal dan tertulis.

Selain menggalang dana, Greenpeace juga menggalang sukarelawan (volunteer) dari berbagai penjuru dunia. Kegiatan Greenpeace tergantung dari para volunteer-nya. Bagaimana volunteer ini bisa terlibat dalam kegiatan Greenpeace sudah diatur tertulis.

Karena sifatnya mengadvokasi, Greenpeace akan bersinggungan dan mendapat pengaruh dari berbagai lembaga atau institusi, seperti pemerintah, organisasi non-pemerintah lainnya, institusi bisnis, dan media. Sifat kegiatan seperti ini “memaksa” Greenpeace bersekutu atau mendapatkan musuh. Greenpeace menjadi organisasi yang terbuka pada pengaruh lingkungannya.

Greenpeace sebagai organisasi juga mengikuti perspektif rasional dengan tujuan yang dirumuskan dan tertulis dengan jelas.

Berdasarkan data dan informasi yang sudah diuraikan di atas, bisa disimpulkan Greenpeace cenderung mengikuti perspektif rasional dan terbuka.

VI. Referensi

Coleman, W.D. dan Wayland, Sarah. 2006. “The Origins of Global Civil Society and Nonterritorial Gobernance: Some Empirical Reflections.” Global Governance, Vol. 12.: 241-261.

Darlington, Tim. 1998. “From Altruism to Action: Primary Task and the Not-for-Profit Organization.” Human Relations, Vol. 51, No. 12: 1477-1493.

Fottler, Myron D. 1981. “Is Management Really Generic?” Academy of Management Review. Vol. 6., No.1: 1-12.

Frumkin, Peter dan Galaskiewicz, Joseph. 2004. “Institutional Isomorphism and Public Sector Organizations.” Journal of Public Administration Research and Theory, Vol. 14, No. 3: 283-307.

Nadel, SF. 1957. The Theory of Social Structure. London: Cohen and West, Ltd.

Scott, Richard.W. 1987. Organization: Rational, Natural, and Open Sytem. Edisi kedua. Stanford University: Prentice Hall International.


[1] Lihat Greenpeace Internasional Annual Report 2007 di <http://www.greenpeace.org/raw/content/international/press/reports/gpi-annual-report-2007.pdf> Diakses tanggal 8 Desember 2008

[2] Lihat web site Greenpeace di <http://www.greenpeace.org/international/about> Diakses tanggal 8 Desember 2008

[3] Anonym. 1995. “Environmentalism: Greenpeace means business.” The Economist, Vol. 336, Iss. 7928: 59-60

[5] Komunikasi pribadi dengan Direktur Ekeskutif Greenpeace South East Asia dan anggota Board GPSEA

This entry was posted on Wednesday, December 10th, 2008 at 3:44 pm and is filed under Sociology of Organization. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.