Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Dari Sabang sampai Merauke, dari darat sampai dasar laut, tersimpan harta yang begitu melimpah. Berada pada ring of fire akibat pertemuan empat lempeng benua sehingga bermunculan banyak gunung api aktif diikuti kesuburan tanahnya. Di pulau Sumatera dan Jawa terdapat tanah yang subur dan sangat optimal untuk kegiatan pertanian. Di tanah Kalimantan terdapat kandungan mineral yang sangat melimpah, dan merupakan salah satu tempat industri tambang. Hutan hujan tropis yang kaya akan biodiversitas menyelimuti sebagian besar daratan di Indonesia. Lautan luas yang memeluk seluruh kepulauan dan mengandung ikan-ikan sehat dan kaya akan protein dalam jumlah yang luar biasa melimpah. Betapa luar biasa kekayaan alam Indonesia.

Hubungan antara manusia dan alam tidak pernah bisa dilepaskan satu sama lain. Manusia dan alam selalu melakukan interaksi bolak-balik yang selalu terjadi dari waktu ke waktu. Indonesia merupakan salah satu bukti bahwa alam mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tanah yang subur, ikan-ikan yang sehat, air yang bersih, udara yang segar, serta mineral-mineral yang berharga ada di bumi pertiwi. Indonesia sudah seharusnya kaya dan sejahtera. Kemiskinan dan kelaparan tidak sepantasnya muncul di tanah air ini. Krisis air bersih dan pangan bukanlah  hal yang patut dikhawatirkan. Itulah yang seharusnya terjadi. Tapi kenyataannya…? Tidak seperti itu.

Terlalu sederhana jika mengasumsikan negara yang kaya sumberdaya alamnya adalah negara yang kaya secara harfiah dan mampu menyejahterakan masyarakatnya. Terlepas dari keberlimpahan sumberdaya yang ada, Indonesia adalah negara yang miskin. Masih ada saudara-saudara kita yang kelaparan dan sulit memperoleh air bersih. Masih ada saudara-saudara kita yang tidak memperoleh kesejahteraan seperti yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kesenjangan masih terasa di tanah tumpah darah kita ini. Berganti pemimpin tidak pula mengubah keadaan yang ada, tetapi justru melanjutkannya.

Terlalu banyak nasi yang menjadi sampah, sementara masih banyak orang yang miskin dan kelaparan. Terlalu banyak air yang terbuang sia-sia, sementara di tempat yang lain betapa sulitnya menemukan air. Terlalu banyak uang yang diberikan kepada para anggota DPR, sementara masih banyak rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Terlalu banyak anggaran yang direncanakan untuk pembangunan gedung DPR, sementara di beberapa tempat fasilitas pendidikan masih menyedihkan. Terlalu banyak sumberdaya Indonesia yang menghidupi orang asing, sementara tuan rumah hidupnya pun masih terlilit.

Mengapa Indonesia miskin di atas kekayaannya? Begitu banyak sumberdaya yang tidak di kelola dengan baik dan merata. Indonesia yang katanya Negara maritim, nyatanya tidak punya pelabuhan laut yang megah dan bersih. Wilayah teritori pun masih dikadali oleh tetangga seberang yang ‘pengen banget jadi Negara kepulauan tapi maksa’. Padahal banyak sekali ikan-ikan laut yang berada di perairan Indonesia. Mengapa tidak dimanfaatkan saja? Tentu saja di beberapa daerah sudah dimanfaatkan, tetapi bukankah lebih baik jika pemanfaatan sumberdaya perikanan dilakukan di berbagai tempat sehingga tidak terjadi krisis jumlah ikan di satu daerah. Hal ini berlaku untuk sumberdaya lain.

Kalau memang Negara maritim dan agraris, untuk apa bermimpi jadi Negara industri. Setiap Negara memiliki potensi sumberdaya-nya masing-masing. Indonesia tidak perlu berusaha untuk menjadi Negara yang tidak sesuai dengan potensinya. Indonesia memiliki potensi pariwisata, pertanian, perikanan, dan pertambangan. Ya sudah, kembangkan saja dulu. Masifkan pengelolaan SDA tersebut agar terwujud pemerataan kesejahteraan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Indonesia harus berlaku sebagai Negara yang kaya. Negara yang tidak menimbun kekayaan diatas kekurangan saudara-saudara setanah airnya. Kita semua lahir dan besar di tanah yang sama. Tidakkah kita semua memiliki hak yang sama atas kekayaan alam ini? Berbagilah dengan bijaksana. Kelak Indonesia yang kaya, tidak akan miskin lagi.

 

Depok, 3 April 2012