BersamaMu (True Worshippers)

Chord BersamaMu (True Worshippers)

Bait :
     C          Em
  Engkau Ada Bersamaku
F
  Di S’tiap Musim Hidupku
Dm                   G          F/C  C  G
  Tak Pernah Kau Biarkan ‘Ku Sendiri
    C         Em
  Kekuatan Di Jiwaku
F
  Adalah Bersama-Mu
Dm                 G         F   G
  Tak Pernah Kuragukan Kasih-Mu

Reff :
        C             F
Bersama-Mu Bapa Kulewati Semua
       Dm           G          F/C  C  G
Perkenanan-Mu Yang    Teguhkan Hatiku
            C                    F
Engkau Yang Bertindak Memb’ri Pertolongan
        Dm         G          C
Anugrah-Mu Besar Melimpah Bagiku

Sumber : BersamaMu

Untuk Chord dan Lirik lagu rohani kristen lainnya dapat kamu lihat di JRChord

Kendala yang Mungkin Timbul Sebelum Pesta Adat Batak Toba

1. Penerima Ulos Pansamot

Siapa penerima ulos pansamot di pesta batak toba (pesta adat) adakalanya menjadi kendala / masalah bila kedua orang tua pengantin laki-laki telah tiada, dan bila si pengantin laki-laki bukan orang Batak.

Apabila kedua orang tua pengantin laki-laki telah tiada, yang berperan sebagai orang tua dan menjadi penerima ulos pansamot, hendaklah dilihat dari urutan penerima ulos na marhadohoan itu. Sudah lazim berlaku, urutan penerima  ulos na marhadohoan adalah :

  • ulos pansamot (orang tua pengantin laki-laki)
  • ulos hela (pengantin)
  • pamarai / paramaan (amangtua / amanguda pengantin laki-laki)
  • simandokhon / simolohon (amangtua / amanguda pengantin laki-laki)
  • sihunti ampang (namboru / ito pengantin laki-laki)

Berdasarkan urutan di atas, maka bila ayah / ibu pengantin laki-laki sudah tidak ada, pamarai atau paramaan yaitu abang atau adik dari ayah pengantin laki-laki tampil sebagai ayah pengantin dan menerima ulos pansamot. Di kehidupan sehari-hari pun, apabila ayah kita sudah meninggal maka abang atau adik ayah kita itulah yang menjadi ayah kita terutama berkaitan dengan adat. Jadi apabila abang pengantin laki-laki bertindak menerima ulos pansamot, dimana amangtua atau amanguda masih ada kuranglah pada tempatnya.

Apabila amangtua dan amanguda itu lebih dari satu orang, sebaiknya amangtua atau amanguda yang sedomisili dengan si pengantin laki-laki itulah yang paling tepat. Sebab di adat Batak, selain kedekatan hubungan darah juga kedekatan hubungan domisili. Kita ingat pesan leluhur yang berakata : Jonok partubu, jonokan do parhundul. Karena itu amangtua atau amanguda yang jonok parhundullah yang tampil sebagai penerima ulos pansamot menggantikan orang tua si pengantin laki-laki yang sudah tiada.

Seseorang pemuda non-Batak, bila hendak menghadapi pesta adat, sebaiknya lebih dahululah si pemuda itu diangkat anak atau diampu menjadi warga dalihan natolu. Dengan catatan, si pemuda tersebut telah menyatakan kesediaannya menjadi warga dalihan natolu. Di segala hal yang berbau adat Batak sesorang yang mengangkat / menerima anak itulah yang bertindak sebagai ayah, dan menerima ulos pansamot di acara adat perkawinannya. Kecuali acara pesta adat perkawinan itu hanyalah sebagai simbolis saja, pelaku adat dari pihak paranak hanyalah sebagai pangamai, ulos pansamot bolehlah diterima ayah kandung si pengantin, dan yang mangamai itu menerima ulos pangamai atau pamarai.

2. Sebutan Pangamai

Ada kalanya orang tua calon pengantin laki-laki atau calon pengantin perempuan jauh di bonapasogit, hingga teman semarga dekat menanggungjawabi acara-acara sebelum ke hari H pesta  perkawinan adat batak toba tersebut. Apabila teman semarga dekat yang mewakili orang tuanya mengurusi acara-acara pendahuluan menjelang pesta perkawinan itu masih termasuk suhi ni ampang na opat yaitu pamarai dan simandokhon / simolohon, kuranglah tepat disebut padanya sebagai pangamai. Tetapi apabila sudah di luar itu seseorang yang bertindak mewakili orang tua pengantin di acara-acara marhata sinamot, martumpol, dan martonggo raja, maka pantaslah disebut sebagai pangamai, dan pantas pula menerima ulos pangamai. Dengan demikian urutan penerima ulos na marhadohoan adalah menjadi sebagai berikut : ulos pansamot, ulos hela, ulos pangamai, ulos pamarai, ulos sihunti ampang, simolohon, dan seterusnya. Dengan kata lain, jumlah penerima ulos na marhadohoan bertambah satu orang.

3. Pendamping di Pelaminan

Apabila ayah dan ibu pengantin sudah bercerai, ada kalanya timbul masalah siapa di antara mereka yang mendampingi dipelaminan, atau siapa di antara mereka yang memberikan / menerima ulos pansamot. Apakah si ayah atau si ibu, atau keduanya secara bersama?

Untuk mengatasi hal ini, perlu dipelajari hal si anak. Siapa di antara suami / istri itu yang membesarkannya, itulah yang mendampingi di pelaminan dan yang berhak menerima / memberi ulos pansamot.

Contoh, si A (ayah) dan si B (ibu) sudah lama pisah. Si anak yang akan menikah selama ini tinggal bersama si A (ayah) yang sudah kawin dengan si C atau di keluarganya. Maka yang mendampingi pengantin di pelaminan dan menerima / memberi ulos pansamot adalah si A bersama istrinya si C. Apabila si B, ibu kandung si penantin protes dan menghendaki dia yang mendampingi si A duduk di pelaminan serta memberi / menyerahkan ulos pansamot itu tidak ada rumusnya. Kecuali hubungan si anak selama ini baik-baik terhadap kedua orang tuanya yang sudah cerai itu dan sama-sama menyantuni kebutuhan moril / material si anak, maka dapat ditempuh jalan berikut. Kedua ayah dan ibunya yang sudah lama pisah itu, demi anak dapatlah mendampingi pengantin di pelaminan dan memberi / menyerahkan ulos pansamot secara bersama. Demi si anak yang akan menempuh hidup baru, kedua ayah dan ibu yang bercerai itu dapatlah berperan sebagai suami istri hanya di acara itu saja.

Bila si anak dibesarkan ibunya yang sudah kawin dengan lelaki lain, si ayah selama ini tidak mau tahu. Si ayah tersebut hendaklah tahu diri, dan mengiklaskan si ibu dengan suaminya sekarang mendampingi di pelaminan serta memberi / menerima ulos pansamot.

Tetapi apabila si ibu yang membesarkan anak itu tidak kawin lagi, si anak yang akan menikah menginginkan kedua orang tuanya mendampingi di pelaminan dan menerima / memberi ulos pansamot, demi si anak yang akan menempuh hidup baru, pantas dapat dipertimbangkan.

Apabila suami istri itu sudah lama pisah dan masing-masing  kawin lagi, si anak dibesarkan ompung baonya, si ompung bao tidak boleh mengawinkannya secara adat Batak. Sebaiknya si ompung bao melaporkan ke ompung suhut melalui dongan tubunya terdekat. Sekiranya keluarga ompung sudah tiada atau tidak bersedia, dongan tubu terdekat pun tidak bersedia, jalan satu-satunya acara pesta perkawinan cukuplah dengan resepsi saja.

Sumber :

  • Sinaga, R. 2012. Perkawinan Adat Dalihan Natolu. Jakarta: Dian Utama