PETAKUMU – pemasaran sosial pengenalan museum

Tentang Kami

Gerakan Nasional Cinta Museum merupakan upaya penggalangan kebersamaan antar pemangku kepentingan dan pemilik kepentingan dalam rangka pencapaian fungsionalisasi museum guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan kebudayaan bangsa. Gerakan Nasional Cinta Museum ini sendiri merupakan bagian dari program Tahun Kunjungan Museum yang resmi dicanangkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada tanggal 30 Desember 2009 di Jakarta. Gerakan Nasional Cinta Museum merupakan momentum awal dari Tahun Kunjungan Museum 2010. Program Gerakan Nasional Cinta Museum akan dilaksanakan selama lima tahun (2010-2014). Pada tanggal 1 Desember 2011, Gerakan Nasional Cinta Museum mencanangkan program pemilihan duta museum yaitu Sigi Wimala dan juga melakukan revitalisasi museum yang dilakukan secara tahunan yang dilakukan oleh pemerintah.

 

Di sini kami bergerak sebagai staf divisi yang khusus dibentuk oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang bergerak di bagian event dari Gerakan Nasional Cinta Museum. Kami memfokuskan diri kepada anak-anak sebagai agen perubahan yang masih mudah untuk dipengaruhi dengan pengaruh-pengaruh positif. Anak-anak inilah yang nantinya akan menjadi generasi penerus oleh karena itu perubahan perilaku mereka yang lebih baik juga akan membawa perubahan yang baik bagi Indonesia nantinya. Kami bergerak seiringan  dengan program lain dalam Gerakan Nasional Cinta Museum untuk sama-sama membenahi peran dan posisi museum agar memiliki citra yang lebih baik di masyarakat.

 

Ringkasan Eksekutif

Analisis Situasi 1.     2.     3.   4.   5.   6. Gerakan Nasional Cinta Museum merupakan upaya penggalangan kebersamaan dalam rangka pencapaian fungsionalisasi museum. Tahun 2011, Gerakan Nasional Cinta Museum mencanangkan program pemilihan duta museum dan juga revitalisasi museum. Indonesia memiliki 281 museum dan 50 diantaranya berada di Jakarta. Kurangnya minat masyarakat Jakarta pergi ke museum di saat senggang. Museum dianggap sebagai tempat yang membosankan dan kurang atraktif. Jumlah pengunjung museum secara keseluruhan di Indonesia mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Tujuan 1.   2.   Mengubah perilaku anak-anak menjadi suka dan ingin datang ke Museum. Membuat orangtua dan pihak sekolah menjadikan Museum sebagai salah satu destinasi yang menarik untuk dikunjungi bersama anak-anak (sarana edukasi sekaligus rekreasi).
Strategi Strategi yang akan dilakukan adalah melakukan pemasaran sosial dengan cara kampanye di berbagai media, produksi buku pendukung, dan pelaksanaan program khusus untuk kunjungan museum.
Khalayak Sasaran 1.     2.   3. Anak usia SD (6-12 tahun) laki-laki dan perempuan yang tinggal di Jakarta dengan golongan A B C [primer]. Orang tua sang anak dengan golongan A B C dan tinggal di Jakarta [sekunder] Guru-guru sekolah.
Pesan Kunci Museum sebagai tempat menyenangkan untuk belajar selama liburan
Kompetitor 1.           2. Mal-mal besar di Jakarta, seperti: –               Grand Indonesia –               EX –               Mall Kelapa Gading –               Pondok Indah Mall –               Mall Taman Anggrek Buku anak-anak: –               Buku cerita bergambar –               Majalah anak –               Komik
Program 1. 2.                     Roadshow (simulasi dan penyebaran proposal kegiatan) Kampanye melalui beberapa media
  1. Penyebaran printed material (poster)
  1. Penayangan iklan layanan masyarakat di televisi (TVC).
  2. Publikasi melalui blog dan Twitter.
  3. Promosi terintegrasi dengan website-website tentang museum seperti  museumindonesia.com dan cinta-museum.blogspot.com.
  4. Ambience yang ditempatkan di tempat-tempat strategis.
Kampanye melalui program khusus (study tour).
Jadwal Kegiatan Kampanye akan berlangsung dari bulan  Maret hingga Juni 2012, kemudian main event dilaksanakan pada Desember 2012.
Evaluasi 1.       2.           3. pengukuran input pengukuraninput akan diadakan melalui rapat koordinasi setiap dua hari sekali terhitung sejak awal bulan Februari 2012. pengukuran output
  1. media monitoring
  2. media content analysis
  3. observasi langsung
  4. daftar peserta
  pengukuran outcome
  • observasi langsung ke masyarakat
  • observasi langsung ke museum (peningkatan jumlah pengunjung)
media monitoring
Anggaran  


 

I. Latar Belakang

 

Museum adalah salah satu tempat pendidikan yang harus dilestarikan, tempat berharga yang harus dijaga karena bisa dijadikan sebagai tempat untuk menikmati hasil kebudayaan, mempelajari sejarah, dan memahami orang-orang yang tinggal disuatu tempat. Dengan adanya museum, tingkat pengetahuan serta wawasan masyarakat dapat ditingkatkan. Hal ini selanjutnya berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia. Selain itu, jumlah pengunjung museum dapat dijadikan indikator seberapa ingin tahunya masyarakat (curiousity) dengan pengetahuan yang ada.[1]

 

Indonesia sendiri memiliki 281 museum dan 50 di antaranya berada di Jakarta[2]. Sayangnya, yang terjadi di Jakarta, masyarakat Jakarta lebih memilih pergi ke mall daripada pergi ke museum di saat senggang. Museum dianggap sebagai tempat yang membosankan dan kurang atraktif. Citra museum Indonesia yang seperti ini mengakibatkan jumlah pengunjung museum secara keseluruhan di Indonesia mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 terdapat 4,56juta pengunjung, di tahun 2007 turun menjadi 4,20 juta pengunjung, dan turun lagi pada menjadi 4,17 juta pengunjung di tahun 2008.[3]

 

Padahal, saat ini museum di Jakarta sudah direvitalisasi dan mengalami peningkatan performa. Bahkan, telah dibuatkan rencana jangka pendek untuk revitalisasi museum. Pada tahun 2010 ditargetkan ada enam (6) revitalisasi museum. Tahun 2011, revitalisasi 30 museum. Revitalisasi sepuluh (10) museum di tahun 2012.  Tahun 2013, sebanyak 15 museum dan pada tahun 2014 sebanyak 20 museum yang direvitalisasi.  Gerakan revitalisasi ini adalah bagian dari kegiatan “Gerakan Nasional Cinta Museum ” periode 2010-2014 dengan diawali peluncuran Tahun Kunjung Museum (Visit Museum Year) 2010. Gerakan ini diluncurkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Ir. Jero Wacik.[4]

 

“Gerakan Nasional Cinta Museum” memang memiliki beberapa program untuk mebangkitkan museum, namun untuk kerjasama dengan pihak pengelola museumnya sendiri, seperti bagaimana pelayanan terhadap pengunjung dan sbegaiamnya masih kurang. Hal ini disebabkan karena pihak pengelola museum dianggap kurang kreatif dalam pengelolaan museum[5]. Sehingga bisa dikatakan, belum ada komunikasi efektif yang cukup untuk mengajak masyarakat berkunjung ke museum di waktu senggangnya. Padahal museum sangat mudah dijangkau, khususnya di kota Jakarta. Selain harga tiket masuk untuk museum yang relatif murah dan terjangkau, Keberadaan museum-museum di pusat kota pun menjadi keuntungan tersendiri untuk museum karena banyak sarana transportasi yang dapat digunakan untuk mencapai lokasi museum. Sarana transportasi yang dapat digunakan antara lain TransJakarta, angkutan umum (mikrolet dan bus), dan juga kereta atau commuter line.

 

Dengan adanya kemudahan yang didapat baik harga tiket yang relatif murah, dan juga transportasi yang mudah dijangkau pula, idealnya museum banyak diminati oleh masyarakat. Namun kenyataan berkata lain, anak-anak sekarang lebih senang berkunjung ke taman bermain seperti dunia fantasi, atau berlibur ke pantai dan pergi ke mall dibandingkan mengunjungi museum. Sekolah, sebagai tempat belajar dan mengajar seharusnya dapat menjadi sarana dalam mengedukasi anak-anak akan pentingnya museum dan bagaimana perlu dan serunya mengunjungi museum, bukan hanya sebagai kunjungan saat staudy tour, melainkan saat akhir pekan pun museum dapat dijadikan temapt kunjungan yang menyenangkan.

 

Kemudian, di sisi lain, ada pihak keluarga yang dapat mengedukasi anak-anak mengenai museum. Orang tua memiliki posisi sebagai decision maker dalam keluarga. Biasanya mereka yang menentukan tempat atau lokasi yang akan mereka datangi untuk rekreasi atau mencari hiburan maka sang anak mau tidak mau akan mengikuti orang tuanya. Ketika mereka memilih untuk datang ke mall atau tempat-tempat hiburan lainnya maka anak-anak mereka akan menjadi familiar dan terbiasa dengan mall. Persepsi akan terbentuk dalam diri mereka bahwa mall dan taman hiburan merupakan tempat yang tepat untuk rekreasi dan mencari hiburan. Anak-anak jadi tidak akan memperhitungkan museum sebagai tempat yang cukup menyenangkan dan cenderung membosankan. Mereka menganggap bahwa museum hanya tempat yang kaku untuk mempelajari sesuatu.

 

Berdasarkan hal tersebut, maka dibentuklah serangkaian program sebagai ide pemasaran sosial yang dimaksudkan untuk merubah sikap anak-anak terhadap museum menjadi lebih menyenangkan yang diberi nama “PETAKUMU” “Petualanganku di Museum dengan rangkaian acara “PETAKUMU Study Tour” dan “PETAKUMU Karnival” sebagai acara puncak.

 

               

 

 

                     

1.1 Kondisi Eksternal

1.1.1 Analisis Target Adopter

 

Hubungan Anak dan Sekolah

Pada periode awal kampanye, event yang akan diadakan pertama kali akan bekerja sama dengan sekolah-sekolah yang telah ditentukan. Di sini, sekolah memiliki peran sebagai pihak yang memiliki “kekuatan memaksa” terhadap para siswa (anak), dalam artian ketika program ini telah disetujui oleh sekolah-sekolah tersebut, maka program ini secara otomatis akan bersifat wajib untuk diikuti para siswa. Hal ini akan sangat membantu kesuksesan dan kelancaran program program. Selain itu, para guru juga berperan dalam mengedukasi dan menyampaikan pesan dari program ini kepada anak-anak di sekolah. Para guru juga membantu mengontrol anak-anak ketika diadakan simulasi di sekolahnya tentang event awal (study tour) yang akan dilakukan.

 

Hubungan Anak dan Orang Tua

Kemudian kami juga menjadikan orang tua anak sebagai target sekunder kami karena di akhir kegiatan pada akhirnya yang diharapkan adalah sang anak dapat menjadi penggerak bagi keluarganya atau orang tuanya untuk pergi ke museum. Setelah mengikuti event awal di sekolahnya masing-masing, anak akan mendapatkan pengalaman menyenangkan tentang museum. Dari situ diharapkan sang anak memiliki minat untuk datang lagi ke museum-museum lainnya dan akan mengajak orang tuanya.

 

Pada tahap tersebut, event puncak yang kami adakan berperan sebagai event yang mewadahi anak-anak beserta keluarganya yang akan datang ke museum secara bersama-sama. Event puncak ini juga tidak hanya ditujukan bagi anak-anak yang mengikuti event awal, tetapi juga untuk masyakarat umum yang memang tertarik untuk datang. Di sini, masyarakat umum juga menjadi target sekunder dari program.

 

Dalam hidupnya, seorang anak mengalami perkembangan yang cukup pesat, perkembangan anak ini bisa berbeda-beda di tiap individunya, namun secara garis besar sama berdasarkan umurnya. Kami memfokuskan diri kepada anak usia sekolah dasar yang sudah memiliki kemampuan yang cukup untuk menulis dan membaca. Rata-rata secara garis besar siswa SD dalam kemampuannya, dibagi menjadi dua bagian yakni usia 6-9 tahun dan 10-12 tahun. Berikut adalah table perkembangan anak pada usia SD yakni 6-12 tahun dari Xiramedia disertai dengan prospect dalam museum yang sesuai dengan perkembangannya.

 

 

 

 

Tabel 1. Karakteristik anak berdasarkan usia

Kategori 6-9 tahun 10-12 tahun  
motorik aktivitas fisik mulai terarah pada hobi, menari sesuai irama, perubahan fisik perempuan lebih cepat dari laki-laki  
  mengerti dan bisa menggunakan alat, senang berlatih    
bermain mainan dengan aturan (monopoli, gobak sodor) mengenal olahraga, mulai memilih minat  
  senang menari, teater, musik, bisa memainkan beberapa karakter    
sosial butuh pembenaran diri, senang berbagi dengan teman, mulai perhatian dengan lawan jenis, pengembangan harga diri  
  pemecahan masalah sendiri, bisa curang berteman dengan yang interest sama, menjauh dari orang tua, puber  
bahasa bisa kali dan bagi, berpikir logis senang menulis cerita, mulai berargumen (mepertanyakan otoritas),  
  kurang lebih 3000 kata, per hari bisa 20 kata baru mengerti konsekuensi dan antisipasi  
  mulai berbicara kasar  
kebutuhan observasi alam, rasa tanggung jawab, pengenalan puber sexual education, adult role model, pembentukan konsep diri  
    kehidupan bermasyarakat  
moralitas ketaatan berdasar pada imbalan  
sisi unik teman sebaya paling penting, suka koleksi barang senang diperlakukan dewasa, segan pada guru  
 
keyword teman sebaya, berbagai karakter, hobi, koleksi gender, harga diri, puber, menulis, role model  
 

Hubungan Anak dan Buku

Dilihat dari tabel di atas dapat terlihat bahwa anak sedang mengalami masa penyerapan informasi yang pesat dan untuk memenuhinya dibuatlah buku untuk kegiatan ini. Karakteristik anak umur 6-9 tahun adalah pentingnya peran teman sebaya sebagai pengaruh pengambilan keputuan. Banyaknya teman tentunya mempengaruhi keberagaman karakter yang dapat dilihat oleh anak. Selain itu, karena pengaruh teman juga lah akhirnya muncul hobi untuk mengoleksi sesuatu. Hal ini dikarenakan adanya keinginan untuk terlihat lebih dibanding teman sebayanya. Melihat karakteristik yang seperti itu, buku yang dinilai cocok untuk anak usia 6-9 tahun adalah buku berhadiah yang bisa dikoleksi ataupun buku yang memiliki banyak seri untuk dikoleksi.

 

Karakteristik anak usia 10-12 tahun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak usia 6-9 tahun. Perbedaan yang mencolok adalah adanya pembentukan identitas diri yang lebih matang setelah melihat keberadaaan teman sebayanya. Mereka mulai tertarik dengan peran gender sehingga mulai menaikan harga diri dengan melihat role model tertentu dan juga adanya pubertas. Untuk hubungan anak usia 10-12 tahun, mereka senang menulis sebagai salah satu cara pembentukan diri. Oleh karena itu, buku yang mereka perlukan adalah buku yang bisa memperkuat pembentukan identitas diri dengan melibatkan mereka turut menulis di dalam buku tersebut.

Tabel 2. Bentuk buku untuk anak usia 6-12 tahun

Usia 6-12 tahun
Isi horor, ensiklopedia, novel, fiksi, biografi (ensiklopedia, novel) tell about imperfect world, real daily life, less picture, humor
Bentuk chapter book,hardcover
Halaman ± 100-200 halaman
Kata ± 3000 kata
Ilustrasi mulai realistis, bisa abstrak, kompleks

 

 

1.1.2 Analisis Kompetitor

Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi di sini, bahwa masyarakat di Jakarta lebih memilih pergi ke mall atau tempat-tempat hiburan modern ketimbang museum. Oleh karena itu yang menjadi kompetitor di sini adalah mall di Jakarta seperti Grand Indonesia, EX, Mall Kelapa Gading, Pondok Indah Mall, Mall Taman Anggrek, dan mall besar lainnya dengan rata-rata pengunjung per harinya sekitar 20.000-30.000 orang. Namun kekurangan dari para kompetitor adalah tidak adanya unsur pendidikan di dalamnya. Unsur pendidikan yang ada dalam museum bisa menjadi nilai tambah yang bisa membuat museum lebih unggul di banding kompetitornya. Karena itu buku kegiatan yang menjadi alat bantu dalam kampanye ini dibagikan ke sekolah-sekolah sebagai Pekerjaan Rumah (PR) selama liburan yang panjang atau bisa di jual secara luas mengingat ada banyaknya seri museum yang dibuat.

 

Sedangkan kompetitor utama dari buku kegiatan adalah buku kegiatan lain, namun biasanya buku kegiatan ini ditujukan untuk anak TK. Untuk buku kegiatan yang ditujukan bagi anak sekolah dasar biasanya berupa buku latihan soal. Buku lain yang biasanya digunakan anak sekolah dasar adalah majalah atau buku komik yang lebih mengedepankan unsur hiburan. Untuk buku kegiatan yang mengkhususkan kepada tempat wisata bagi anak SD belum ada yang membuat. Hal ini menjadikan peluang kampanye ke museum  dengan menggunakan buku bisa lebih berhasil.

 

1.2 Kondisi Internal

1.2.1 Kondisi Perusahaan

Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) adalah upaya penggalangan kebersamaan antar pemangku kepentingan dan pemilik kepentingan dalam rangka pencapaian fungsionalisasi museum guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan budaya bangsa. Gerakan ini bertujuan untuk membenahi peran dan posisi museum yang difokuskan pada aspek internal maupun eksternal. Aspek internal lebih kepada revitalisasi fungsi museum dalam rangka penguatan pencitraan melalui pendekatan konsep manajemen yang terkait dengan fisik dan non fisik. Aspek eksternal lebih kepada konsep kemasan program yaitu menggunakan bentuk sosialisasi dan kampanye pada masyarakat sebagai bagian dari stakeholder. Tujuan terpenting yang menjadi harapan adalah adanya perubahan perilaku masyarakat agar senang pergi mengunjungi Museum. Salah satu program dari aspek eksternal ini adalah Tahun Kunjung Museum 2010 yang dicanangkan pada tanggal 30 Desember 2009 oleh Bapak Ir. Jero Wacik, SE selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia

 

Gerakan Cinta Museum Indonesia yang merupakan bagian dari gerakan yang dilakukan oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata sebagai lanjutan dari program tahun kunjungan Museum 2009 telah melakukan beberapa program yang akan dilaksanakan selama lima tahun ke depan (2011-2014). Program tersebut diantaranya, yaitu mengkampanyekan GNCM itu sendiri, dengan beberapa program didalamnya, yaitu sebagai berikut:

  • Pemilihan Sigi Wimala sebagai duta museum pada 1 Desember 2011
  • Program revitalisasi museum-museum yang ada di Indonesia
  • Workshop GNCM dengan tema “Museum dan Masyarakat”

Namun, program-program ini kurang terdengar oleh seluruh masyarkat Indonesia, terlihat bahwa promosi yang dilakukan kurang gencar dan heboh, maka dari itu, program PETAKUMU ini dimaksudkan untuk menanggulangi masalah promosi, namun dengan kemasan yang lebih menarik dan menjadikan anak-anak sebagai target khalayak utamanya.

 

 

1.2.2 Analisis Produk

Indonesia sendiri memiliki 281 museum dan 50 di antaranya berada di Jakarta[6]. Namun kondisi museum-museum di Indonesia, bahkan di ibu kota pun sangat memprihatinkan, kondisi yang tidak terawatt ini ditambah pula pandangan sebelah mata dari masyarakat terhadap museum yang dianggap sebagai tempat yang membosankan dan kurang menarik, tertutup, serta terkesan suram.[7] Berkebalikan dengan museum-museum luar negeri yang sudah lebih modern, sudah menjadi area publik, dan tempat yang menyenangkan untuk melakukan berbagai aktivitas kreatif.

Berikut ini data tentang beberapa museum yang ada di Jakarta:

a)      Museum Indonesia

Museum ini dibangun atas prakarsa Ibu Tien Soeharto dan didirikan di TMII dengan luas tanah 20.100 meter persegi dan luas bangunan 7.000 meter persegi. Diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1980. Menampilkan gaya arsitektur Bali yang dikembangkan dimana secara keseluruhan memperlihatkan wajah budaya Indonesia.

 

 

b)      Museum Sejarah Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Taman Fatahillah No.1, Jakarta Barat. Pada mulanya digunakan sebagai gedung Balaikota (Stadhuis) dan pengadilan. Merupakan gedung Balaikota kedua yang dibangun pada masa pemerintahan VOC di Batavia. Pada tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta dan kemudian dijadikan sebagai Museum pada tahun 1974. Menonjolkan peninggalan-peninggalan Belanda yang bermukim di Batavia sejak awal abad XVI. Koleksi tersebut terdiri dari mebel, perabot rumah tangga, senjata, keramik, peta, dan buku-buku.

c)       Museum Sejarah Nasional (Monas)

Museum yang terletak di Jalan Silang Monas ini dibangun untuk mengenang dan melestarikan kebesaran perjuangan bangsa Indonesia yang dikenal dengan Revolusi Kemerdekaan Rakyat Indonesia 17 Agustus 1945. Bagian-bagian utama tugu Monas yaitu Ruang Museum Sejarah, Ruang Kemerdekaan, Pelataran Puncak, dan Lidah Api Kemerdekaan.

d)      Museum Mandiri

Museum ini Terletak di Jl. Lapangan Stasiun no.1, seberang Stasiun Kota. Pada mulanya adalah kantor Nederlandsch Handel-Maatschappij (NHM) atau Netherlands Trading Corporation alias Maskapai Dagang Belanda. Museum ini memiliki tiga lantai yang terdiri dari Ruang Treasury (Kas Afdeeling), Ruang Pembukuan, Ruang Kasir China, Ruang Perlengkapan Bank, Ruang Kearsipan dan Komunikasi, serta Ruang ATM.

e)      Museum Taman Prasasti

Museum ini terletak di Jl. Tanah Abang I no.1, Jakarta Pusat. Awalnya merupakan pemakaman pada masa penjajahan Belanda. Terdapat lonceng perunggu di halaman belakangnya yang akan dibunyikan ketika ada upacara pemakaman.

f)       Museum Seni Rupa dan Keramik

Awalnya merupakan gedung Lembaga Peradilan tertinggi Belanda (Raad van Justitie). Museum ini terletak di Jalan Pos Kota no.2, Jakarta Barat. Museum ini memiliki 500-an karya seni rupa seperti patung, totem kayu, grafis, sketsa, dan batik lukis. Selain itu terdapat juga koleksi keramik lokal dan keramik asing.

g)      Museum Prangko Indonesia

Museum ini diresmikan pada tanggal 29 September 1983 atas gagasan Ibu Tien Soeharto (Ibu Negara) dan dibangun sebagai sarana edukasi yang mampu merefleksikan sejarah bangsa dan keelokan budaya Indonesia. Museum ini memiliki ribuan koleksi prangko serta diorama yang menceritakan tentang aktivitas perjalanan penerbitan dan pencetakan prangko.

h)      Museum M.H. Thamrin

Museum ini terletak di Jl. Kenari II no.15, Jakarta. Museum ini mengoleksi foto-foto reproduksi kiprah perjuangan Mohammad Husni Thamrin dan pergerakan nasional Indonesia serta suasana kota Jakarta zaman itu, lukisan tentang M.H. Thamrin, radio yang digunakan untuk mendengarkan siaran dari NIROM maupun dari luar negeri, bale-bale tempat pembaringan terakhir jenazah M.H. Thamrin, lemari pakaian peninggalan M.H. Thamrin, kursi, piring hias, blangkon, serta kepustakaan yang meliputi buku-buku naskah tentang M.H. Thamrin dan pidata-pidatonya di Volksraad.

i)        Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Museum ini terletak di Jl. Imam Bonjol no. 1, Jakarta. Awalnya merupakan kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat. Ruang pameran terdiri dari Ruang Pra-Proklamasi Naskah Proklamasi, Ruang Perumusan Naskah Proklamasi, Ruang Pengesahan/Penandatanganan Naskah Proklamasi, dan Ruang Pengetikan Teks Proklamasi.

 

Rata-rata kondisi benda-benda peninggalan sejarah dalam museum sangat memprihatinkan, dimana kurangnya perawatan dan pelestarian terhadap benda-benda peninggalan sejarah. Hal ini dikhawatirkan menjadi salah satu penyebab masyarakat semakin kekurangan minat untuk mengunjungi museum karena kondisi benda-benda didalamnya kurang terawat, selain itu, hal lain yang dikhawatirkan akan mengurangi minat masyarakat, terutama anak-anak adalah tempat yang terkesan suram dan kurang dapat dijadikan sebagai objek wisata.

 

 

 

 

1.2.3 Analisis Harga

  • Berdasarkan Harga Tiket

Tiket masuk rata-rata museum di Jakarta adalah sebagai berikut:

Dewasa: Rp.3000/orang

Rombongan Dewasa: Rp.1500/orang

Mahasiswa: Rp.1000/orang

Rombongan Mahasiswa: Rp.750/orang

Anak-anak Pelajar: Rp.650/orang

Rombongan Anak-anak: Rp.500/orang

Untuk Museum Bank Indonesia tidak dikenakan biaya sepersenpun.

  • Berdasarkan Harga Psikologis

Terkait dengan sisi psikologis masyarakat. Masyarakat masih memandang museum dengan sebelah mata karena museum dianggap sebagai tempat yang membosankan, sehingga dengan harga tiket yang murah pun diangap tidak worth it.

 

Dengan melihat penjelasan diatas, meskipun harga tiket murah, namun minat masyarakat terhadap kunjungan museum masih sedikit. Pada intinya asumsi dari kebanyakan masyarakat kita, terutama anak-anak merasa dating ke museum itu tidak seseru dating ke taman hiburan lainnya meskipun harga tiketnya jauh lebih murah.

 

1.2.4 Analisis Tempat dan Promosi

Sebelum GNCM terbentuk, pada tahun 2009, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata telah melakukan program Visit Indonesia Year yang meningkatkan kepariwisataan Indonesia. Oleh karena itu, untuk GNCM itu sendiri baru dimulai sejak 2010, dan hal-hal yang sudah dilakukan antara lain, revitalisasi museum sejak tahun 2010, dimana telah berhasil merevitalisasi 6 museum di Indonesia, dan tahun 2011, sudah merevitalisasi 36 museum.[8] Program lainnnya, yaitu pemilihan duta museum, yaitu Sigi Wamala pada awal Desember 2011, dimana duta Museum ini akan menjalani tugasnya berdasarkan program Direktorat Permuseuman, kemudian ada  Workshop Gerakan Nasional Cinta Museum dengan tema “Museum dan Masyarakat”. Program-program yang sudah dilakukan ini lebih kepada internalnya (perbaikan museum dan organisasinya saja) yang daapat dikatakan sudah cukup baik, dimana diharapkan mampu membangun kembali museum. Oleh karena itu, kali ini akan dibuatnya program yang langsung turun kepada masyarakat, dengan memfokuskan kepada anak-anak sebagai target khalayak untuk agen perubahan sikap dan perilakunya.

 

 

 

 

 

1.3 Riset Pendahuluan

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan, ditemukan bahwa pengunjung museum terus-menerus mengalami penurunan.Oleh karena itu sebelum memulai merumuskan program ide sosial, kami melakukan riset pendahuluan dengan menyebarkan kuesioner ke beberapa sekolah dasar di DKI Jakarta yang juga akan menjadi target adopter dari ide pemasaran sosial yang kami lakukan. Sekolah-sekolah yang menjadi objek riset pendahuluan kami antara lain adalah SDN 05 Pagi Pegangsaan Dua, SD Riccie, SDN 08 Kalisari, SD Don Bosco II Pulomas, SDN 22 Pagi Pasar Minggu, Madrasah Diniyah Pejaten Timur, SDN Bidaracina 05, SDN Batu Ampar 03 Pagi, SDI Al-Bayyinah Jakarta, SDN Cakung Barat 16, dan SDN Percontohan Kebon Jeruk 11 Pagi.

Kuesioner yang kami sebarkan berjumlah 40 buah dan disebarkan ke beberapa sekolah dasar di DKI Jakarta dan target dari kuesioner ini adalah kelas tiga sampai kelas enam sekolah dasar.Kuesioner mencakup enam pertanyaan penting yang nantinya menjadi pedoman bagi kami untuk menarik hipotesis awal dari penelitian ini. Pertanyaan tersebut antara lain pernahkah kamu pergi ke museum, berapa kali dalam setahun kamu mengunjungi museum, museum apa yang kamu kunjungi, bersama siapa kamu pergi ke museum, apa yang kamu sukai dari museum, dan apa yang tidak kamu sukai dari museum.

Untuk pertanyaan mengenai “pernahkah kamu ke museum?” hasil yang kami dapatkan dari riset pendahuluan ini menunjukkan bahwa sebanyak 81 % responden kami pernah melakukan kunjungan ke Museum.

 

 

Dari diagram diatas dilihat bahwa 77% responden mengunjungi museum sebanyak satu sampai dua kali dalam setahun, 19% responden menyatakan tidak pergi (0 kali) ke museum dalam setahun, dan 4% responden pergi ke museum sebanyak 3-4 kali dalam setahun.

 

 

 

Pertanyaan selanjutnya adalah museum apa yang pernah dikunjungi oleh responden dan hasil yang ditemukan adalah sebanyak 52% responden pernah mengunjungi Museum Sejarah Jakarta (Taman Fatahillah), 19% responden mengunjungi Museum Pancasila Sakti, 10% responden mengunjungi Monumen Nasional (Monas) , 6% responden mengunjungi Museum Lubang Buaya , dan 10% responden menjawab lain-lain.

 

 

Kemudian berdasarkan hasil riset pendahuluan ditemukan pula bahwa sebanyak 61% dari responden pergi ke museum karena acara sekolah dan 39% responden menyatakan bahwa mereka pergi ke museum bersama dengan keluarganya.

 

 

Kemudian berdasarkan pertanyaan apa yang disukai dari museum, didapatkan hasil sebagai berikut, 90% dari responden menjawab menyukai benda-benda yang terdapat di museum dan 10% menyukai cerita/legenda yang ada di museum tersebut.

 

 

Pertanyaan terakhir adalah apa yang tidak disukai dari museum dan jawaban dari responden menyatakan sebanyak 56% tidak menyukai suasana museum yang seram dan sebanyak 44% tidak menyukai museum karena tidak adanya permainan-permainan.

 

 

 

 

1.4 SWOT Pemasaran Sosial Museum

  • Kekuatan (Strengths)
  1. Jumlah museum di kota Jakarta terbilang cukup banyak (sebanyak 39 museum dan 16 museum di TMII)[9]
  2. Adanya sarana transportasi di Jakarta yang memadai untuk mencapai museum-museum
  3. Harga tiket masuk museum yang relatif murah
  4. Sedang berlangsungnya revitalisasi pada 85 museum di Indonesia oleh pemerintah yang diharapkan mampu memperbaiki citra museum di mata masyarakat.[10]

 

  • Kelemahan (Weaknesses)
  1. Kurang memadainya kegiatan pemasaran dan promosi, baik mengenai museum-museum itu sendiri maupun revitalisasi yang sedang dilakukan di dalamnya
  2. Suasana museum yang selama ini sangat monoton

 

  • Peluang (Opportunities)
  1. Adanya program study tour ke museum-museum yang dilakukan beberapa sekolah dasar di Jakarta
  2. Minat anak-anak yang cukup besar terhadap benda-benda unik dan sejarah di Indonesia
  3. Adanya perkembangan media yang luas untuk melakukan pemasaran sosial, konvensional maupun internet

 

  • Ancaman (Threats)
  1. Kunjungan ke museum merupakan sesuatu yang hanya dilakukan sekali untuk mendapatkan informasi tentang sejarah (tidak berulang), berbeda dengan tempat wisata lainnya sehingga masyarakat lebih memilih menghabiskan liburannya ke tempat wisata yang menawarkan hiburan-hiburan. Contohnya; Dunia Fantasia atau mall.
  2. Banyak masyarakat yang  masih belum mengetahui akan revitalisasi museum yang sedang dilakukan
  3. Perkembangan teknologi yang memungkinkan masyarakat untuk mencari informasi mengenai sejarah tanpa harus mengunjungi museum.


 

II. Tujuan

2.1           Rincian Masalah

Pada dasarnya museum merupakan tempat yang seharusnya dilestarikan berkaitan dengan fungsinya di bidang pendidikan. Museum menyimpan berbagai serpihan dari sejarah dan ilmu pengetahuan yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi anak-anak yang mengunjungi tempat ini sehingga dapat berpengaruh dengan kualitas sumber daya manusia di generasi depan.

 

Namun sangat disayangkan dalam perkembangannya, tempat ini kurang mendapat perhatian khusus dari pemerintah dalam hal perawatan dan penjagaannya. Setelah dibangun, museum dibiarkan tanpa promosi lebih lanjut bahkan ada di antaranya yang mengalami kerusakan. Di mata masyarakat pun museum hanya tempat yang dikunjungi sekali saja seumur hidupnya untuk mendapatkan informasi tentang sejarah, bukan untuk melepas penat, karena dianggap membosankan oleh sebagian orang. Akibatnya jumlah pengunjung museum menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.

 

Kehadiran obyek-obyek wisata yang menawarkan hiburan-hiburan seperti Dunia Fantasi dan berbagai pasar malam juga menjadi faktor minimnya pengunjung museum saat ini. Masyarakat, terutama apabila berkeluarga, tentunya akan lebih memilih untuk menghabiskan waktu liburannya ke tempat-tempat tersebut untuk melepas kepenatan.

 

2.2          Solusi Masalah

Dengan berdasarkan pada masalah-masalah yang ada terkait minimnya pengunjung museum dewasa ini, kami menemukan suatu solusi yang akan dapat dikembangkan kemudian. Untuk menanggulangi rasa bosan masyarakat bila mengunjungi museum dan persaingan tempat ini dengan obyek wisata hiburan, kami bermaksud menyusun kampanye yang dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan di museum.

 

Kampanye ini akan ditujukan langsung ke siswa-siswi sekolah dasar dengan bekerja sama dengan pihak sekolah melalui kegiatan study tour berkelanjutan yang kemudian akan diakhiri oleh suatu event yang akan lekat dalam ingatan anak-anak dan pada efek jangka panjangnya mengakibatkan bertambahnya minat mereka untuk selalu mengunjungi museum secara rutin.

 

2.3          Tujuan 

Dari masalah dan solusi tersebut kami memfokuskan dua poin yang menjadi tujuan dari kampanye yang akan kami lanjutkan, yakni;

  1. Mengubah perilaku anak-anak menjadi suka dan ingin datang ke Museum.
  2. Membuat orangtua dan pihak sekolah menjadikan Museum sebagai salah satu destinasi yang menarik untuk dikunjungi bersama anak-anak (sebagai sarana edukasi sekaligus rekreasi).

III. Strategi

Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana mengubah museum yang membosankan menjadi menyenangkan. Anak SD yang menjadi sasaran dalam permasalahan ini, sedang dalam tahap aktif menyerap ilmu dan sudah memiliki kemampuan yang cukup untuk sekedar membaca dan menulis. Ada berbagai macama cara untuk menyelesaikan permasalahan ini, misalnya dengan menambah fasilitas di dalam museum itu sendiri, penyuluhan ke sekolah-sekolah akan pentingnya museum, pendekatan kepada keluarga, penggunaan aplikasi tertentu dan sebagainya.

 

Fokus kami lebih kepada target bukan kepada perkembangan fasilitas di dalam museum itu sendiri, karena dari program lainnya sudah ada revitalisasi dari dalam museum itu sendiri. Disini kami memfokuskan permasalahan lebih realistis kepada bagaimana anak bisa merasa senang dengan keadaaan museum yang sama.

 

Untuk mencapai tujuan itu diperlukan pihak ketiga untuk menghubungkan anak dengan museum. Disini kami menggunaan buku sebagai alat untuk menyambungkan anak dan museum. Buku dipilih karena sesuai dengan kebutuhan anak yang sedang membutuhkan alat belajar untuk lebih mengembangkan kemampuan baca tulis. Buku lebih mudah menjangkau banyak khalayak.

 

Untuk lebih jelas, berikut ini strategi pemasaran sosial berdasarkan 8P (Product, Place, Price, Promotion, Personel, Presentation, Process, dan policy):

 

 3.1 Product

Untuk menjadikan museum sebagai tempat belajar yang seru bagi anak-anak, kami membuat permainan di museum sebagai intagible product yang melibatkan barang-barang yang ada di dalam museum. Untuk menghubungkan antara barang-barang di museum dan anak-anak digunakan buku dan gelang sebagai tangible product. Puncak produk kami adalah event PETAKUMU Festival yang diawali dengan PETAKUMU study tour dari sekolah untuk mengkomunikasikan PETAKUMU Festival.

 

3.2 Place

Tempat diadakannya kegiatan tentunya adalah museum yang akan kami tingkatkan citranya. Beberapa museum yang kami pilih untuk dijadikan tempat kegiatan adalah museum arsip nasional, museum gajah dan museum bank Indonesia. Kedepannya diharapkan museum-museum lain dapat dijadikan tempat kegiatan.

 

3.3 Price

Barang tangible yang digunakan dalam kegiatan ini adalah buku catatan perjalanan. Harga buku ini adalah Rp. 15.000,00. Buku hanya dijual selama PETAKUMU Festival berlangsung. Selama kegiatan study tour, buku sudah termasuk ke dalam anggaran yang dibayar.

 

3.4 Personel

Orang-orang yang akan mempresentasikan selama study tour ini adalah tour guide dari pihak museum dan LSM. Dari pihak sekolah sendiri, kami bekerja sama dengan para guru untuk mengkomunikasikan mengenai kegiatan ini.

 

3.5 Presentation

Produk yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sebuah buku kegiatan bagi anak-anak yang akan mereka bawa ketika mereka ke museum. Buku kegiatan ini merupakan agenda kegiatan yang akan mereka isi tiap kali mereka mengunjungi musem. Buku kegiatan ini akan diproduksi berseri sesuai dengan museum-museum yang ada. Konten dari buku ini antara lain biodata dari pemilik buku, tips-tips ketika akan bepergian, bagian-bagian museum (sesuai dengan seri museum), beberapa objek museum yang dipilih untuk dicari oleh anak pemilik buku, halaman khusus untuk menuliskan pengalaman dan pelajaran apa saja yang telah didapat setelah mengunjungi museum tersebut. Bahasa dalam buku ini dibuat interaktif agar lebih mudah dimengerti dan anak tidak bosan membacanya. Kemudian dgunakan juga banyak gambar agar tidak terkesan kaku.

 

3.6 Process

Alur kegiatan dari kampanye ini dimulai dengan kegiatan promosi. Promosi yang akan kami lakukan mencakup roadshow ke sekolah-sekolah, pemasangan ambience di kantor-kantor tempat orangtua target bekerja dan fasilitas, penayangan iklan di televisi, serta promosi via internet seperti twitter, blog, dan artikel website. Setelah promosi, kami memulai masa kampanye dengan melakukan study tour ke museum-museum terpilih secara berkala. Setelah melakukan study tour selama beberapa kali, rangkaian kegiatan kampanye diakhiri dengan event besar yang dilakukan di tiga museum Jakarta pada masa liburan anak.

 

3.7 Policy

Dasar hukum yang menjadi landasan kegiatan ini adalah:

  1. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan BCB di Museum
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2009 tentang NPSK Museum.
  3. Peraturan Pemerintah (PP) tentang Museum sebagai acuan pelaksanaan UU No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

 

3.8          Promotion

3.8.1 Roadshow

Roadshow dari PETAKUMU ini akan dilakukan sepanjang bulan Maret hingga Juni 2012 untuk 100 Sekolah Dasar yang tersebar di Jakarta. Dalam roadshow ini akan ada simulasi untuk sekolah-sekolah yang dikunjungi tentang apa yang akan dilakukan jika mengikuti study tour dan penyebaran proposal studi tour kepada pihak-pihak sekolah yang dikunjungi. Namun untuk, sekolah-sekolah dengan game simulasi hanya akan dipilih 20 sekolah saja. Adapun daftar sekolahnya adalah sebagai berikut:

 

  1. SDN Menteng 01 Pagi*
  2. SDN Cakung Timur 06 Pagi
  3. SD LB Abdi Pratama
  4. SDN Cakung Timur 07 Petang
  5. SDN Kayumanis 02
  6. SDN Cakung Timur 08 Petang
  7. SDN Bidaracina 05
  8. SDN Cakung Timur 09 Pagi
  9. SDN Cipinang Besar Selatan 07
  10. SDN Cakung Timur 10 Pagi
  11. SDN Kebon Manggis 01
  12. SDN Cawang 01 Pagi
  13. SDN Kebon Manggis 14
  14. SDN Cawang 02 Petang*
  15. SDN Kebon Pala 01 Pagi*
  16. SDN Meruya Utara 01 Pagi
  17. SDN Palmeriam 01
  18. SDN Cipinang Melayu 01 Pagi
  19. SDN Utan Kayu Selatan 01 Pagi*
  20. SDN Cipinang Melayu 02 Pagi
  21. SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi
  22. SDN Cipinang Melayu 03 Pagi
  23. SDN Kayu Putih 09 Pag*i
  24. SDN Cipinang Melayu 12 Petang
  25. SDN Ujung Menteng 04 Pagi*
  26. SDN Pondok Bambu 01*
  27. SDN Balekambang 03 Pagi
  28. SDN Pondok Bambu 02
  29. SDN Balimester 01 Pagi
  30. SDN Pondok Bambu 03
  31. SDN Balimester 07 Petang
  32. SDN Pondok Bambu 04 Pagi
  33. SDN Bambu Apus 01 Pagi
  34. SDN Pondok Bambu 05
  35. SDN Bambu Apus 06 Pagi
  36. SDN Pondok Bambu 06 Pagi
  37. SDN Baru 01
  38. SDN Pondok Bambu 07 Pagi
  39. SDN Baru 08
  40. SDN Pondok Bambu 08 Pagi
  41. SDN Batu Ampar 03 Pagi
  42. SDN Pondok Bambu 11
  43. SDN Batu Ampar 09
  44. SDN Pondok Bambu 17
  45. SDN Batu Ampar 10 Pagi
  46. SDN Pondok Bambu 18
  47. SDN Batu Ampar 11 Pagi
  48. SDN Pondok Kelapa 01*
  49. SDN Batu Ampar 12
  50. SDN Pondok Kelapa 03 Pagi
  51. SDN Batu Ampar 13 Pagi
  52. SDN Pondok Kelapa 04 Pagi
  53. SDN Bidara Cina 01 Jatinegara*
  54. SDN Pondok Kelapa 11 Petang
  55. SDN Cakung Barat 01 Pagi
  56. SDN Pondok Kelapa 12 Petang
  57. SDN Cakung Barat 02 Pagi
  58. SD Islam Al-Azhar 1 Kebayoran Baru*
  59. SDN Cakung Barat 03 Pagi
  60. SD Islam Al-Azhar 13 Rawamangun*
  61. SDN Cakung Barat 04 Pagi
  62. SD Islam Al-Azhar 20 Cibubur*
  63. SDN Cakung Barat 05 Pagi
  64. SD Muhammadiyah 06 Tebet*
  65. SDN Cakung Barat 06 Pagi
  66. Madrasah Ibtidaiyah Saadatuddarain
  67. SDN Cakung Barat 07 Pagi
  68. Madrasah Ibtidaiyah Al Falah
  69. SDN Cakung Barat 08 Pagi*
  70. SDIT Al-Azhar
  71. SDN Cakung Barat 09 Pagi
  72. SD Santa Theresia*
  73. SDN Cakung Barat 10 Petang
  74. SD Chandra Kusuma
  75. SDN Cakung Barat 11 Petang
  76. SD Tarsius 2
  77. SDN Cakung Barat 13 Pagi
  78. SD Santa Maria Jakarta
  79. SDN Cakung Barat 14 Pagi
  80. SD Dian Harapan
    1. SDN Cakung Barat 15 Pagi
    2. SD Charitas
    3. SDN Cakung Barat 16
    4. SD Pangudi Luhur*
    5. SDN Cakung Barat 17 Pagi
    6. SD Strada Bina Mulia 1*
    7. SDN Cakung Barat 18 Petang
    8. SD Strada Bhakti Utama
    9. SDN Cakung Barat 22 Pagi
    10. SD Charitas
    11. SDN Cakung Timur 01 Pagi
    12. SD Strada Santo Fransiskus Xaverius
    13. SDN Cakung Timur 02 Pagi
    14. SDK 5 BPK Penabur*
    15. SDN Cakung Timur 03 Pagi
    16. SDK 6 BPK Penabur Kelapa Gading
    17. SDN Cakung Timur 04 Pagi*
    18. SDK 7 BPK Penabur Bintaro
    19. SDN Cakung Timur 05 Pagi
100.SDK 8 BPK Penabur Cawang*

Keterangan: *sekolah-sekolah yang akan diadakan simulasi saat roadshow

 

3.8.2    Promosi Melalui Berbagai Media

3.8.2.1 Internet

Promosi lainnya yang akan dilakukan adalah memposting dan mempromosikan program yang akan dilaksanakan melalui saluran internet yaitu websites-websites, seperti websites museumindonesia.com, cinta-museum.blogspot.com dan lain-lain.

3.8.2.2 Buzzer

Selain memposting artikel promosi di websites formal, pemasaran sosial ini pun akan menggunakan beberapa buzzer untuk promosi di blog ddan twitter.

Daftar Buzzer yang akan diajak kerjasama, yaitu sebagai berikut:

Ka seto @IDcerita @IndoHistoria @theurbanmama
@motivakid @bincangedukasi @infobudaya @SekolahCikal
@ayobercerita @dongeng10twit @sobatbudaya @kompasdotcom
@GNFI @InfoSejarah @mommiesdaily @detikcom

 

3.8.2.3 Ambience

Ambience yang akan digunakan berupa beberapa benda-benda yang menyerupai benda-benda yang ada diberbagai museum di Jakarta yang rencananya akan disebar dibeberapa tempat seperti halte, sekolah-sekolah, di daerah perkantoran yang dimaksudkan untuk memicu rasa penasaran masyarakat dan kemudian menjadi topik yang hangat tentang keanehan mengapa ada benda-benda museum di jalanan dengan kekuatan ”world of mouth”. (contoh ambience terlampir)

3.8.2.4 Poster

Poster ini akan disebar di beberapa tempat seperti di sekolah, halte dan daerah perkantoran guna mengingatkan bahwa di liburan akhir tahun akan ada event PETAKUMU carnival. Jadi poster ini akan menggambarkan bagaiamana PETAKUMU Carnival dan masih berkesinambungan dengan TVC-nya nanti.

3.8.2.5 Iklan TVC

Iklan TVC ini akan ditayangkan dua minggu menjelang pelaksanaan PETAKUMU Karnival. Adapun penempatan iklan TVC ini, yaitu di Stasiun TVRI, SCTV, Global TV, TransTV, dan b-Channel.

IV. Khalayak Sasaran

4.1 Primer

Secara primer, khalayak dari pemasaran sosial ini adalah anak-anak, laki-laki dan perempuan, berumur 6-12 tahun dan tinggal di Jakarta. Anak-anak dipilih sebagai target primer karena anak-anak masih bisa dimasuki dengan nilai-nilai yang positif dimana Museum merupakan tempat yang asik untuk bermain dan belajar.

 

4.2 Sekunder

Dalam hidup anak terdapat dua saluran komunikasi yang penting, yakni keluarga dan sekolah. Karena itu kami juga menyasar kepada orang tua dan sekolah sebagai target sekunder dari kampanye sosial ini. Dilihat dari harga masuk museum yang sangat murah, kami membatasi lebih kepada SES A-B-C dengan karakteristik sangat memperhatikan pendidikan anak. Biasanya mereka memiliki waktu luang di akhir pekan dan menghabiskan waktunya bersama keluarga untuk sekadar bersantai di rumah ataupun rekreasi ke suatu tempat.

 

 

V. Pesan Kunci

Pesan utama yang ingin disampaikan adalah museum bisa jadi menyenangkan apabila tahu caranya. Cara yang dimaksud salah satunya adalah dengan penggunaan buku sebagai penghubung antara museum dan anak.

 

VI. Program

6.1 PETAKUMU Study Tour

Menurut survey yang kita lakukan, didapatkan data bahwa kebanyakan anak-anak merasa bosan dengan keadaan museum karena tidak ada permainan. Konfirmasi dari pihak museum sendiri mengatakan sudah melakukan revitalisasi. Tantangan bagi kami adalah bagaimana mengemas keadaan museum yang sama dengan gaya baru. Bagaimana menghubungkan antara benda di museum dengan anak-anak. Disini kami bekerja sama dengan pihak sekolah sebagai tour guide untuk menerangkan mengenai museum melalui study tour dengan gaya baru.

 

Study tour sendiri dipilih karena mempunyai kekuatan ‘memaksa’ anak untuk pergi ke museum. Perbedaan study tour ini dengan study tour lainnya adalah terdapat buku sebagai panduan untuk menghubungkan objek dalam museum dengan anak. Buku dikemas sedemikian rupa sehingga tidak berkesan seperti tugas dan bersifat menyenangkan. Buku dipilih sebagai media, karena berdasarkan data yang di dapat dari Xiramedia bahwa anak usia sekolah dasar menyukai kegiatan menulis sebagai cara pembentukan diri.

 

Anak-anak diajak untuk berburu benda-benda yang ada di dalam museum berdasarkan apa yang ada di buku. Misalnya untuk di museum gajah, setelah menemukan benda-benda berupa patung-patung, anak-anak akan disuruh untuk mengikuti gerakan patung sambil menyebutkan namanya. Hal ini dilakukan untuk mengingatkan nama patung kepada anak. Setelahnya, anak akan mendapatkan gelang, dimana setiap gelang bernilai satu poin. Dengan begitu diharapkan anak-anak akan menyukai museum dan berharap dapat kembali ke museum untuk mencoba semua gerakan patung.

6.1.1 Buku

Merupakan agenda perjalanan anak yang dikemas secara tidak kaku sehingga tidak menimbulkan tekanan bahwa buku ini adalah tugas. Buku berisi mulai dari sebelum berangkat sampai kembali pulang lagi. Selain untuk study tour, buku ini juga dijual bebas ke orang tua-orang tua sebagai bekal liburan.

6.1.2 Gelang

Gelang berupa ukiran yang bisa ditukar dengan hadiah berupa buku ensiklopedia apabila telah mencapai poin tertentu.

 

6.2 PETAKUMU Karnival

PETAKUMU Karnival merupakan event besar sebagai event puncak akan diselenggarakan saat masa-masa liburan akhir tahun. Dimana pesan kunci dari event ini adalah menanamkan nilai kepada anak-anak beserta orang tuanya bahwa museum adalah tempat yang menyenangkan yang dapat dijadikan salah satu tempat kunjungan keluarga diakhir pekan. Hal ini berdasarkan penelitian kami bahwa anak-anak mendapatkan kesan “membosankan” dari museum, dan kami ingin merubah kesan/citra museum menjadi “menyenangkan” layaknya taman/tempat hiburan lainnya yang biasa dijadikan tempat kunjungan oleh keluarga di akhir Pekan atau masa-masa liburan.

 

Seperti kampanye melalui program PETAKUMU Study Tour, event inipun menggunakan pendekatan bermain sambil belajar, karena dianggap pendekatan ini akan menarik minat anak-anak untuk mengikuti kegiatan ini, dan mendorong minat orang tuanya untuk mengikutsertakan diri dan anak-anaknya dalam event ini.

 

Adapun teknis untuk event ini, yaitu dilaksanakan saat liburan akhir tahun di bulan Desember, dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam tiga minggu di museum yang berbeda yang ada di Jakarta. Adapun detailnya sebagai berikut:

 

 

Lokasi Tanggal Pelaksanaan
Museum Arsip Nasional Sabtu, 14 Desember 2012
Museum Gajah Sabtu, 21 Desember 2012
Museum Bank Indonesia Sabtu, 28 Desember 2012

 

Format acara dari event ini adalah “temukan sejarah dalam harta karunmu” dimana dalam event ini akan dibuatnya suatu permainan seperti permainan menemukan harta karun yang akan dikemas semenarik mungkin. Permainan ini diikuti oleh anak-anak dimana dibeberapa spot permainannya akan dibantu oleh orang tua masing-masing, sehingga acara ini lebih kepada event untuk keluarga karena seperti yang diungkapkan sebelumnya, event besar ini dimaksudkan untuk menaikkan citra museum sebagai tempat yang menyenangkan yang diharapkan dapat dijadikan kunjungan dan rekreasi keluarga di akhir pekan.

 

Dalam event besar ini, disetiap lokasi event akan di-setting sebagai  tempat pencarian harta karun yang setiap benda di museum akan dijadikan sebagai petunjuk dalam menemukan harta karun, Selain itu, diluar museum pun akan diadakan semacam karnival yang diisi oleh hal-hal yang berhubungan dengan benda-benda museum yang ada di museum-museum di Jakarta, misalnya akanada pantomin dari tokoh-tokoh pahlawan Indonesia yang menrujuk kepada Museum Tokoh Indonesia, ada pula hiasan laying-layang dan laying-layang lainnya yang bisa digunakan oleh anak-anak beserta orang tuanya yang merujuk pada museum layang-layang, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan museum lainnya. Ini semua dimaksudkan untuk memperkenalkan museum-museum lainnya yang ada di Jakarta. Oleh sebab itu, event besar ini disebut sebagai PETAKUMU Karnival karena format kegiatannya pun mengacu kepada hiburan, namun ada pembelajaran didalamnya atau dengan kata lain lebih mendidik.

 

­


 

VII. Jadwal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VIII. Pengukuran

8.1 Pengukuran Input

Pengukuran input dalam pelaksanaan program kampanye pemasaran sosial ini akan diadakan melalui rapat koordinasi yang akan dilaksanakan setiap dua hari sekali terhitung sejak awal bulan Februari 2012.

Kegiatan Tolak Ukur Instrumen
Serangkaian program kampanye “PETAKUMU” Hasil dari pelaksanaan kegiatan, sejauh mana perkembangan kegiatan sesuai dengan hasil ynag direncanakan Progress report

 

 

 

 

8.2 Pengukuran Output

Pengukuran output serangkaian kampanye sosial ini menggunakan:

Kegiatan Tolak Ukur Instrumen
  1. Kampanye melalui roadshow (ke 100 Sekolah Dasar) dan kampanye melalui media
  • Pengetahuan dan pemahaman khalayak sasaran mengenai kampanye dan produk sosial
  • Media monitoring
  • Media content analysis
  • Jumlah pengunjung Museum setelah roadshow dan setelah kampanye melalui media
  1. Kampanye melalui program PETAKUMU Study Tour
  • Pemahaman khalayak sasaran (anak-anak SD) mengenai museum bukan tempat yang membosankan
  • Pemahaman khalayak sasaran (anak-anak SD) mengenai museum merupakan tempat yang dapat dijadikan tempat belajar dan bermain
  • Sambutan antusias dari sekolah-sekolah SD terhadap pelaksanaan kampanye
  • Jumlah Sekolah SD yang menjadi peserta PETAKUMU Study Tour
 
  • Observasi langsung
  • Daftar peserta PETAKUMU Study Tour
  • Media monitoring
  • Jumlah pengunjung Museum setelah hari pelaksanaan
  1. Kampanye melalui special event (PETAKUMU Carnival))
  • Pemahaman khalayak sasaran (anak beserta orangtuanya) mengenai museum sebagai tempat yang tidak membosankan
  • Pemahaman kepada khalayak sasaran (anak beserta orangtuanya) mengenai museum yang dapat dijadikan tempat belajar dan bermain
  • Pemahaman kepada khlayak sasaran (anak beserta orangtuanya) mengenai museum yang dapat dijadikan tempat kunjungan dan rekreasi di akhir pekan
  • Sambutan antusias dari anak-anak dan orangtuanya terhadap pelaksanaan kampanye
  • Jumlah keluarga yang menjadi peserta dan jumlah keluarga yang hadir di special event PETAKUMU Carnival
  • Observasi langsung
  • Daftar peserta
  • Media monitoring
  • Jumlah pengunjung Museum setelah hari pelaksanaan

 

8.3 Pengukuran Outcome

Untuk pengukuran Outcome terhadap serangkaian kampanye social ini akan berlangsung selama satu tahun ke depan, yaitu terhitung dari bulan Januari 2012 sampai dengan Desember 2012. Pengukuran Outcome ini akan menggunakan:

Kegiatan Tolak Ukur Instrumen
Serangkaian program kampanye PETAKUMU
  • Perubahan sikap dan perilaku anak-anak SD yang tidak lagi menganggap museum adalah tempat yang membosankan
  • Perubahan sikap dan perilaku anak-anak beserta orang tuanya yang mulai menjadikan museum sebagai tempat kunjungan (rekreasi) di akhir pekan
  • Observasi langsung ke masyarakat
  • Observasi langsung ke museum
  • Media Monitoring

 

 

 

 

IX. Anggaran

9.1 Persiapan Awal

No. Nama Kegiatan Frk Unit Harga (Rp) Total (Rp)
1 Sewa Base Camp 1 1

5,000,000

5,000,000

2 Silaturahmi
  a. Transportasi 2 5

75,000

 750,000

3 Musyawarah
  a. Transportasi 2 5

 75,000

 750,000

  b. Konsumsi 1 20

 5,000

 150,000

4 Menghubungi relawan 1 40

 2,000

 80,000

5 Pembentukan panitia
  a. Konsumsi 2 50

5,000

 500,000

6 Pembuatan kaos dan name tag panitia
  a. Desain 1 1

5,000,000

5,000,000

  b. Pemesanan kaos 1 50

25,000

1,250,000

  c. Pemesanan name tag 1 50

3,000

 150,000

7 Survey
  a. Transportasi 2 10

75,000

 1,500,000

  b. Konsumsi 7 20

5,000

 700,000

8 Rapat perumusan konsep keseluruhan acara
  a. Konsumsi 1 50

 5,000.00

250,000

9 Pembuatan proposal sponsorship
  a. Konsumsi 1 50

5,000

250,000

  b. Penggandaan 1 20

150,000

3,000,000

  c. Pengiriman 1 18

15,000

   270,000

10 Pensponsoran
  a. menyampaikan proposal 1 15

 10,000

 150,000

  b. Follow up 1 15

10,000

 150,000.00

11 Pembuatan Proposal kegiatan PETAKUMU
  a. Konsumsi 1 50

5,000

 250,000

  b. Penggandaan 1 45

 10,000

 450,000.00

12 Pembuatan Buku PETAKUMU
  a. Desain 1 1

 5,000,000

 5,000,000

  b. Penggandaan 1 3000

10,000

 30,000,000

13 Pembuatan Gelang PETAKUMU
  a. Desain 1 1

 2,000,000

2,000,

  b. Penggandaan 1 3000

5,000,000

15,000,000.

14 Perizinan untuk keseluruhan kampanye 1 1

7,500,000

7,500,000

15 Rapat Koordinasi
  a. Konsumsi 1 50

 5,000

2,500,000

16 Briefingrelawan
  a. Konsumsi 1 40

5,000

200,000

Sub Total

 82,800,000

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9.2 Kampanye Melalui Roadshow dan Media

9.2.1. Persiapan
No. Nama Kegiatan Frk Unit Harga (Rp) Total (Rp)
1 Pembuatan printed materials
  a. Desain 1 1

7,500,000

                750,000

  b. Poster 1 200

7,500

1,500,000

2 Pembuatan embience
  a. embience simulasi harta karun 1 10

                  250,000

2,500,000

  b. embience benda-benda museum 1 10

2,500,000

             25,000,000

3 Perizinan penempatan embience 1 10

2,000,000

20,000,000

4 Pembuatan iklan TVC PETAKUMU Carnival 1 1

 120,000,000.00

120,000,000

Sub Total  169,750,000
       
9.2.2 Pelaksanaan
No. Kegiatan Frk Unit Harga (Rp) Total (Rp)
1 Roadshow
  a. Transportasi 8 10

100,000

8,000,000

  b. Konsumsi 8 20

10,000

        1,600,000

2 Penyebaran poster
  a. Transportasi 8 5

75,000

          3,000,000

  b. Konsumsi 16 20

7,500

2,400,000

3 Penyebaran dan pemasangan embience
  a. Transportasi 4 3

100,000

            700,000

  b. Konsumsi 4 10

7,500

300,000

4 Pemasangan iklan TVC PETAKUMU Carnival
  a. SCTV 4 1

7,500,000

            30,000,000

  b. TVRI 6 1

       3,000,000

18,000,000

  c. b-Channel 4 1

3,500,000

14,000,000

  d. TransTv 4 1

            15,000,000

       60,000,000

e. Global Tv 4 1

15,000,000

           60,000,000

Sub Total

 198,000,000

 

 

9.3. Kampanye PETAKUMU Study Tour

9.3.1. Persiapan
No. Nama Kegiatan Frk Unit

Harga (Rp)

Total (Rp)

1 Pembuatan permainan harta karun PETAKUMU Study Tour 4 10

2,500,000

100,000,000

2 Pemasangan arena PETAKUMU Study Tour 2 10

                  500,000

10,000,000

  a. Transportasi 2 5

          75,000

750,000

  b. Konsumsi 2 20

             5,000

200,000

3 Pelatihan para relawan sebagai tour guides
  a. Konsumsi 3 25

7,500

562,500

Sub Total

 111,512,500

 

 

 

9.3.2. Pelaksanaan
No. Nama Kegiatan Frk Unit Harga (Rp) Total (Rp)
1 Tour guides        
  a. Konsumsi 25 25

              10,000.00

6,250,000.00

2 Bongkar pasang arena permainan 100 10

   10,000.00

10,000,000.00

Sub Total  16,250,000
9.3.3. Evaluasi Pasca PETAKUMU Study Tour
No. Nama Kegiatan Frk Unit Harga (Rp) Total (Rp)
1 Evaluasi kerja para tour guidesselama sekitar 6 bulan
  a. Konsumsi 10 25

5,000

1,250,000

2 Evaluasi/pemeriksaan arena permainan 10 10

25,000

2,500,000

Sub Total

 3,750,000

 

 

 

9.4 Kampanye PETAKUMU Carnival

 
   
  9.4.1 Persiapan  
  No. Nama Kegiatan Frk Unit Harga (Rp) Total (Rp)  
  1 Dekorasi Museum 1 3

10,000,000

30,000,000

 
  2 Sewa alat-alat sound 3 1

25,000,000

75,000,000

 
  3 Pembuatan replica benda-benda museum 1 100

500,000

50,000,000

 
  4 Menyewa para pelaku pantonim 3 20

3,000,000

180,000,000

 
  5 Keamanan 3 1

5,000,000

15,000,000

 
  6 Petugas Kebersihan 3 30

    200,000

    18,000,000

 
  7 Bayaran para Buzzer 4 5

5,000,000

 100,000,000

 
  8 Bintang Tamu 3 2

75,000,000

        45,000,000

 
  Sub Total

 513,000,000

 
   
   
        9.4.2. Pelaksanaan  
  No. Nama Kegiatan Frk Unit Harga (Rp) Total (Rp)  
  1 Konsumsi  
    a. Panitia 3 50

15,000

2,250,000

 
    b. Bintang Tamu 3 10

     20,000

600,000

 
    c. Para Pemain Pantonim 3 20

15,000

900,000

 
    d. Para petugas Keamanan 3 30

15,000

1,350,000

 
    e. Para petugas kebersihan 3 30

15,000

  1,350,000

 
  2 Pemberian hadiah 3 3

         1,000,000

   9,000,000

 
  Sub Total

15,450,000

 
   
   
  9.4.3. Evaluasi Pasca Kampanye PETAKUMU Carnival  
  No. Nama Kegiatan Frk Unit Harga (Rp) Total (Rp)  
  1 Evaluasi kepanitiaan          
    a. Konsumsi 3 50

10,000.00

1,500,000.00

 
  Sub Total

 1,500,000

 
   
   
  Ket: untuk event PETAKUMU Carnival diadakan sebanyak  tiga kali dalam waktu tiga minggu  
 

 

9.5 Pasca Keseluruhan Event dan Evaluasi

No. Nama Kegiatan Frk Unit Harga (Rp) Total (Rp)
1 Pembuatan press release
  a. Penggandaan 1 5

         500,000.00

      250,000.00

2 Mengirim ucapan terima kasih    

  a. Penggandaan piagam kerjasama 1 15

20,000.00

300,000.00

  b. Jasa pos 1 15

5,000.00

75,000.00

3 Media monitoring
  b. Pembuatan kliping 1 1

100,000.00

100,000.00

4 Rapat Evaluasi
  a. Konsumsi 1 50

10,000.00

500,000.00

  b. Pembuatan LPJ 1 1

15,000.00

            15,000.00

  c. Penggandaan 1 15

15,000.00

225,000.00

Sub Total

 1,465,000

 

9.5 Rekapitulasi Keseluruhan Anggaran

No. Nama Kegiatan Sub Total
1 Persiapan awal  Rp          82,800,000.00
2 Kampanye melalui roadshow dan media
  a. Persiapan  Rp       196,750,000.00
  b. Pelaksanaan  Rp       198,000,000.00
3 Kampanye PETAKUMU Study Tour
  a. Persiapan  Rp       111,512,500.00
  b. Pelaksanaan  Rp          16,250,000.00
  c. Evaluasi  Rp            3,750,000.00
4 Kampanye PETAKUMU Carnival
  a. Persiapan  Rp       513,000,000.00
  b. Pelaksanaan  Rp          15,450,000.00
  c. Evaluasi  Rp            1,500,000.00
5 Pasca keseluruhan event dan evaluasi  Rp            1,465,000.00
 Grand Total  Rp1,140,477,500.00

 

 

LAMPIRAN

Contoh Ambience PETAKUMU di area-area publik

 

Poster PETAKUMU



[1] Macdonald, Sharon.(2006). A companion to museum studies. Oxford: Blackwell Publishing.
[8] http://travel.okezone.com/read/2011/12/02/407/537045/87-museum-akan-direvitalisasi
This entry was posted in pemasaran sosial, semester 5. Bookmark the permalink.