Anak panah

BebasComments are off for this post.

You Are Here:Anak panah

Hai embun pagi,
Aku ingin bercerita,
Aku pernah membenamkan diri di keramaian
Kau tau kan, aku tidak terlalu suka dengan itu
Rasanya sedikit sesak
Tapi sesaknya suasana ruangan itu tidak terasa karena dinginnya hujan di bulan juni
Suara derasnya air hujan itu memecah lamunanku
Mataku tiba tiba menancapkan panah pada seseorang,
Aku tidak mengenalnya, tapi sejak melihatnya hatiku…
seperti menemukan serpihan yang hilang dari hati ini

Ntahlah…….
Waktu itu aku tidak berani menatapnya dalam dalam
Aku hanya memandangnya beberapa detik

Siapa ya dia? Kenapa saat melihatnya hatiku menjadi sangat kacau, meringis ingin berkenalan, ingin dekat, ingin bersama

Aku masih sama
Ga terlalu berharap, cuma bisa curhat ke Allah soal ini, tapi dia bener bener nyejukin hatiku, untuk kali ini aku gapunya alasan soal itu

Aku meninggalkan ruangan sesak itu tanpa meninggalkan daun yang telah ku petik

Daun itu pun melambat menguning dan mudah hancur saat ku injak


Beberapa bulan berlalu, hampir 8 bulan.

Seperti mimpi,
Dia ada dibelakangku
Kami begitu dekat,
Ada saja cara Allah ini
Tapi ntahlah, aku malas berharap

Bagaimana dengan mu?

About the author:

Chita Yumina Karissima ialah seorang mahasiswi jurusan Gizi Universitas Indonesia. Ia merupakan anagata 2017. Selama ngampus ketika ia sering mengalami masalah, ia lebih suka menceritakannya kepada teman dekatnya atau dengan puisi dan menulis.
Top