Minaaa….1

Mina ini dalam bahasa Arab disebut Muna, artinya pengharapan. Jadi penulis tahu sekarang kenapa teman penulis namanya Muna..karena dia merupakan pengharapan orang tuanya..hehe. Di Mina, tendanya tenda tahan api jadi tidak ada motif bunga-bunga seperti di tenda Arafah. Samaaaaa…..semua dari ujung ke ujung. Di setiap tenda ada AC sentralnya, ada sprinkle water yang akan mengeluarkan air bila ada asap dibawahnya. Tenda ini hanya berbeda dari satu tempat ke tempat lain, dari segi kebersihannya atau asesoris di dalamnya. Contohnya tenda muasasah..itu diberi karpet tebal, sofa dan telivisi datar besaaaaar. Kalau tendanya askar ada tambahan kompor listrik dan bantal-bantal. Sedangkan di tenda jamaah haji reguler hanya diberi karpet. Di tenda jamaah haji plus ditambah kasur tipis, bantal tipis dan selimut. Di tenda negara mana itu ya…di depan maktab diberi tanaman rambat buatan..sehingga kelihatan hijau asik. Tapi paling bagus ya tenda tempat tamu kenegaraan..keren abis (pantes aja ya..). Di Mina intinya adalah melempar batu jumrah, yakni tugu perlambang setan. Jadi kita melempar ‘setan’ dan sesudahnya berdoa sambil menghadap Ka’bah, berdoa apa saja boleh. Menurut ustadz, berdoanya setelah melempar jumrah Ula (disana ditulis dengan plang hijau bertuliskan small jamarah) dan jumrah Wusta (middle jamarah) sedangkan setelah melempar jumrah Aqobah (big jamarah) tidak ada tuntunan doa dari Nabi Muhammad SAW. Tugu tempat melempar jamarah sekarang ini dibuat oval, dan tinggi penuh hingga langit-langit sehingga lemparan dari satu sisi jamaah diharapkan tidak mengenai jamaah di seberangnya seperti tugu yang dulu berupa tiang kecil. Pada saat penulis menunaikan haji di tahun 2008 ini, rencana pembangunan pelemparan jumrah hingga tiga tingkat sudah hampir selesai, namun tingkat 3 belum digunakan. Saat hari melempar, Askar berjaga-jaga dengan tempat berdiri yang tinggi menggunakan alat khusus. Bersama askar juga ada kameraman yang merekam pelemparan batu secara live. Bila jamaah yang melempar terlalu banyak, maka akan segera dikonfirmasikan ke maktab-maktab sehingga pintu-pintu maktab segera dikunci oleh petugas maktab. Sebenarnya setiap maktab sudah memperoleh jadwal melempar. Bila belum gilirannya tiba, tidak akan dibukakan pintu oleh askar. Waktu melempar batu ada yang afdol, biasanya orang berlomba-lomba untuk mencari waktu afdol ini sehingga jamaah penuh, padat dan sesak. Tidak semua jamaah itu mempunyai ‘tenda’ di Mina. Banyak orang yang mungkin dekat dengan Saudi Arabia, datang membawa tenda sendiri, digelar dipinggir-pinggir jalan. Ada yang tidur cukup dengan tikar, ada yang membuat tempat tinggal tinggi di atas bukit. Sebisanya mereka naik haji dengan keadaan dan finansial yang ada. Keadaan tersebut dimungkinkan bagi yang negaranya tidak jauh-jauh amat kali ya. Nah bagi orang-orang ini tentunya tidak bisa diatur oleh askar-askar, kapan mau melempar ya tinggal jalan saja menuju ke sana. Jadilah orang-orang yang di maktab yang diatur. Misalnya jamaah haji Indonesia, apalagi yang reguler, itu biasanya diberi jam-jam sepi, jauh dari jam afdol..supaya aman. Aman dari serbuan orang besar-besar dan yang menurut askar di Raudah diistilahkan sebagai ‘susah diatur’. Supaya tidak tergencet-gencet, jamaah yang besar-besar ini dan susah diatur ini, didahulukan. Kalau keadaan sudah aman, baru yang kecil-kecil dari Indonesia boleh melempar. Penulis pada tanggal 11 Dzulhijah sore hendak melempar berombongan, dikunci pintunya. Usut punya usut, jamaah sedang banyak2nya. Dan kabarnya terjadi kecelakaan, ada jamaah yang terjatuh dilantai 3 (yang sebenarnya bangunannya belum 100% jadi). Jadi konfirmasi ke maktab, langsung deh semua dikunci..disuruh perginya nanti saja seusai Mahgrib..

to be continued..

Comments are closed.