Helmeted Hornbill (Rhinoplax vigil) – Female in flight from below

[Sumber foto: Oriental Bird Images]

 

  • Karakteristik Burung Rangkong Gading

Rangkong gading (Rhinoplax vigil) merupakan salah satu burung dari family Bucerotidae yang mudah dikenali karena memiliki ukuran tubuh yang besar dengan ciri khas ekor tengah yang lebih panjang. Panjang total rangkong gading berkisar antara 110-120 cm, jika ditambah dengan panjang ekor tengah dapat mencapai 140-170 cm. Rangkong gading jantan memiliki berat tubuh sekitar 3060 g dan betinanya antara 2610-2840 g (Kemp,
1995). Bulu rangkong gading didominasi oleh warna hitam kecoklatan dan putih. Balung (casque) rangkong pada umumnya berongga kosong, terkecuali untuk rangkong gading yang pada bagian balungnya padat terbentuk dari keratin dan tidak memiliki pembuluh darah sehingga menjadi keras. Namun jika dibandingkan dengan gading gajah, balung rangkong gading masih lebih lunak, sehingga lebih mudah untuk diukir menjadi hiasan (Collar, 2015).

 

[Sumber foto: timlaman.photoshelter.com]

 

  • Ciri Khas Sarang Burung Rangkong Gading

Tahukah kamu jika burung rangkong gading memiliki tubuh yang berukuran besar dan bentuk paruh yang meruncing, namun burung ini tidak dapat membuat lubang sarang sendiri lho~ Oleh karena itu, burung rangkong gading hanya mengandalkan lubang alami pada pohon yang terbentuk akibat pembusukan dengan proses yang cukup lama (Kemp, 1995). Menjelang musim berbiak, rangkong gading jantan akan mulai mencari dan pengecekan lubang pada pohon yang akan dijadikan tempat bersarangnya rangkong gading betina. Apabila lubang tersebut sudah sesuai, maka rangkong gading betina akan masuk ke dalam lubang dan memulai proses berbiaknya.

 

[Sumber foto: timlaman.photoshelter.com]

 

Lubang pintu masuk ke sarang akan ditutup dengan tanah dan lumpur dengan menyisakan lubang kecil yang cukup seukuran paruh rangkong betina untuk mengambil makanan yang nantinya akan di antar oleh rangkong jantan. Pada bagian dasar sarang diberi alas berupa serpihan kayu. Selama waktu bersarang yang membutuhkan waktu ebberapa bulan, induk jantan akan mencari pakan yang akan diberikan juga kepada betinannya. Durasi masa bersarang merupakan bentuk adaptasi juga terhadap ketersedian buah di alam yang menjadi sumber makanan utama bagi rangkong gading (Leighton, 1982).

 

[Sumber foto: timlaman.photoshelter.com]

 

Akibat dari ukuran tubuhnya yang besar, rangkong gading hanya mampu bersarang pada lubang pada pohon-pohon besar dengan bentuk yang berbeda dari lubang sarang burung rangkong lainnya (Kemp, 1995). Berdasarkan hasil penelitian yang telah ada, lubang sarang rangkong gading yang ditemukan berada pada pohon-pohon yang memiliki diameter batang 65-195 cm dengan ketinggian lubang 40 meter diatas tanah. Lubang sarang yang ideal umumnya pada pohon dari jenis Dipterocarpaceae dan sebagian kecil dari family Malvaceae dan Tetramelaceae (Utoyo et al., 2017). Selain itu, rangkong gading juga sangat selektif dalam menentukan sarangnya karena hanya menggunakan lubang yang memiliki bonggol pada bagian bawah, atas atau sampingnya. Bonggol tersebut digunakan sebagai pijakan saat rangkong gading jantan bertengger untuk memberi makan induk betina maupun anaknya (Thiensongrusamee et al., 2001).

 

  • Daftar Acuan

Collar, N. 2015. Helmeted Hornbills Rhinoplax vigil and the ivory trade: the crisis that came out of nowhere. Birding ASIA 24:12-17.

Leighton, M. 1982. Fruit Resources and Patterns of Feeding, Spacing and Grouping Among Sympatric Bornean Hornbills (Bucerotidae). Pages -. University of California, Davis.

Thiensongrusamee, P., P. Poonswad, and S. Hayeemuida. 2001. Characteristics of Helmeted Hornbill nests in Thailand. Paper presented at the 3rd International Hornbill Conference, Phuket and Narathiwat, Thailand.

Kemp, A. C. 1995. The Hornbills. Oxford University Press New York.

Utoyo, L., W. Marthy, R. A. Noske, and F. Surahmat. 2017. Nesting cycle and nest tree characteristics of the Helmeted Hornbill Rhinoplax vigil, compared to the Wreathed Hornbill Rhyticeros undulatus, in Sumatran lowland rainforest. KUKILA 20:12-22.

Written by Aulia Nurfitriana