est publié sous la direction de Kompas, Jeudi, 16 Octobre 2008

Ketika tim dari Universitas Gadjah Mada masih berkutat untuk penyelesaian jilid terakhir dari 12 jilid karya sastra Jawa Serat Centhini yang telah digarap sejak tahun 1996, Elizabeth D Inandiak mampu merangkum serta mengkreasikan Serat Centhini menjadi buku dalam tiga tahun.

Maka, tak heran kalau Ketua Tim Penerjemah Serat Centhini dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Marsono, menyatakan kekagumannya terhadap Elizabeth D Inandiak, penyair asal Perancis ini. Sebab, menerjemahkan atau mengkreasi ulang Serat Centhini bukan pekerjaan mudah.

Karya dari awal abad ke-19 ini tebal naskahnya 4.200 halaman, berbahasa Jawa klasik yang dipenuhi deskripsi detail. Irama bunyi-bunyian gamelan, misalnya, ditulis lengkap dan sering kali tak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Serat Centhini yang memuat banyak hal tentang tanah Jawa sering disebut sebagai ensiklopedia kebudayaan Jawa.Dari Serat Centhini kreasi baru berbahasa Perancis bertajuk Les Chants de l’ile a dormir debout: le Livre de Centhini yang terbit tahun 2002 itu, Elizabeth memperoleh penghargaan Prix de La Francophonic pada 2003. Ia lalu mengalihbahasakan karya itu ke dalam bahasa Indonesia yang terbit pada Juli 2008, judulnya Centhini, Kekasih yang Tersembunyi.

”Saya merasa ada rahasia sangat indah (dari Serat Centhini),” kata Elizabeth di rumahnya yang diapit sawah di kawasan Sleman, Yogyakarta.

Bercerita tentang bagaimana ia menerjemahkan Serat Centhini, dengan bersemangat Elizabeth menunjukkan cara kerjanya. Ia tunjukkan tumpukan buku referensi sembari membuka lembar demi lembar buku itu yang menarik perhatiannya. Untuk menerjemahkan, ia tak hanya memerlukan buku yang terkait langsung dengan Serat Centhini, tetapi juga aneka karya sastra dunia, seperti syair dari seniman Perancis, Victor Hugo. Ia juga mempelajari buku tentang kehidupan Hallaj pada abad ke-10, hingga karya PJ Zoetmulder tentang sastra suluk dan sastra Jawa.

”Saya mengambil beberapa ajaran yang relevan untuk memperkaya Serat Centhini,” katanya.

Pengembaraan Setelah melahirkan putrinya, Sarah Diorita (17) pada 1991, Elizabeth membaca karya Denys Lombard, Le Carrefour Javanais, yang dia peroleh dari sang ibu. Di salah satu jilid dalam buku tentang esai sejarah global tersebut, ia menemukan dua lembar ringkasan Serat Centhini tentang pengembaraan orang yang tak puas.

”Saya menemukan kesamaan karena saya pun seorang pengembara,” katanya. Tahun 1999 Elizabeth mulai menerjemahkan Serat Centhini. Selama delapan bulan sebelum karya itu selesai, ia seakan tak lelah, setiap hari menulis mulai pukul 14.00 hingga 01.00. ”Saya beruntung, memperoleh bantuan pendanaan dari Kedutaan Perancis (di Indonesia) dalam membuat Centhini dalam bahasa Perancis,” katanya.

Demi Centhini, Elizabeth pun bekerja sama dengan murid PJ Zoetmulder, Sunaryati Sutanto, yang mahir berbahasa Jawa klasik. Sebab, kendala utama yang ia hadapi dalam penulisan ulang Serat Centhini adalah semakin sedikitnya orang Jawa yang bisa berbahasa Jawa klasik.

Penerjemahan Serat Centhini sering kali juga terkendala anggapan masyarakat bahwa karya ini ”kotor” karena mendeskripsikan kehidupan seksualitas dengan detail dan jujur. Namun, sebagian orang lainnya justru menganggapnya suci dalam menggambarkan pengembaraan spiritual menuju kesempurnaan.

Sementara pengembaraan Elizabeth dalam kehidupannya sendiri, dimulai saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Menginjak usia 18 tahun, ia merasa hidup di luar rumah lebih menarik. Meski tergolong siswa pandai di kelas dwibahasa Jerman dan Perancis, ia memilih pergi dari rumah. Dia sempat bermukim di Jerman, lalu Amerika Serikat.

”Awalnya saya mengira pelarian ini dipicu ketidakcocokkan dengan ayah. Ini seperti tokoh dalam Serat Centhini. Mereka ternyata lari bukan karena dikejar Sultan Agung, tetapi karena pencarian jati diri. Untuk menemukan jati diri, awalnya memang harus mengembara secara horizontal atau vertikal. Tak sekadar perjalanan secara ragawi, melainkan juga batin,” ungkapnya.

Pengembaraan itu terus berlanjut setelah Elizabeth berprofesi sebagai wartawan lepas kebudayaan dari sebuah majalah di Perancis. Sebagai wartawan, ia menemukan dunia lain yang sering kali lebih keras dari bayangannya. Ia sempat ke India setahun dan mewawancarai Perdana Menteri Indira Gandhi sebelum terbunuh.

Meski tak merampungkan kuliahnya di bidang politik, ia menguasai berbagai bahasa, seperti bahasa Perancis, Jerman, Inggris, Rusia, Indonesia, dan Jepang.

Tanah Jawa

Elizabeth menginjak tanahJawa pertama kali pada 1988. Saat itu ia menjadi wartawan lepas dan bertugas menulis tentang Islam dan kebatinan. Ia mewawancarai Menteri Agama pertama Indonesia, HM Rasjidi, yang pernah menulis disertasi tentang Serat Centhini dalam bahasa Perancis tahun 1956. Situasi Indonesia kala itu, seingatnya, masih diwarnai perdebatan tentang apakah kebatinan akan dimasukkan sebagai agama resmi negara.

Ia juga bertemu Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang memberinya informasi tentang mayoritas masyarakat Jawa dan ajaran sufi. ”Padahal, sebelumnya saya tak pernah berpikir akan ke Jawa, apalagi mencintai Jawa,” ujar Elizabeth yang pernah menikah dengan pria Jawa, lalu bercerai ini.

Berada di Pulau Jawa, iamerasa seperti kembali ke masa kanak-kanak yang indah dan penuh kepercayaan Ilahi. Makhluk khayalan dalam dongeng sang nenek yang sering kali didengarnya sewaktu kecil, seperti buaya, ditemuinya di tanah Jawa.

”Nasib membawa saya ke Jawa. Saya menemukan masa kanak-kanak saya di sini, dunia yang ajaib,” ungkap Elizabeth yang sejak kecil suka menulis syair.

Dari pengembaraannya, ia mendapati, jurang perbedaan yang memisahkan bangsa, agama, dan suku hanya terletak di permukaan.

Ketika orang mulai masuk dalam tingkat keindahan, seperti syair dan kesenian, jurang itu tak ada lagi. Dalam keindahan syair, jurang tersebut sirna. Oleh karena itulah, ia merasa berkewajiban memperkenalkan karya sastra dari penyair besar yang belum dikenal dunia.

Tak puas hanya dengan Serat Centhini, ia berencana menulis ulang karya sastrawan Jawa, Ronggowarsito. Elizabeth juga sempat menulis beberapa buku, seperti The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih, pada 1998.

Ia juga masih punya waktu bergiat di Sanggar Giri Gino Guna yang didirikannya di Dusun Bebekan, Pandak, Kabupaten Bantul. Sanggar ini berawal dari gempa yang melanda Yogyakarta pada 2006. Lewat sanggar, Elizabeth berharap bisa ikut mengisi pendidikan anak-anak, terutama dalam mempelajari karawitan, gamelan, dan seni budaya setempat.