Kegiatan

  • SITI ANNISA mengirim sebuah pembaruan 3 tahun, 1 bulan lalu

    Adil untuk Khojaly
    Masa Depan Yang Lebih Baik
    Dikuliti, dibunuh secara keji, dibakar hidup-hidup, dipenggal, dan dicungkili matanya, itulah beberapa cara yang dilakukan oleh tentara Armenia untuk membunuh penduduk Azerbaijan di kota Khojaly. Tragedi tersebut adalah kejahatan sadis yang terjadi tanpa memandang status siapa yang dibunuh. Apakah anda tau kota Khojaly ? kota tersebut merupakan bagian dari Negara Azerbaijan. Sebelum lebih lanjut mengenai kejahatan Armenia terhadap Khojaly, saya akan mengajak anda untuk lebih mengenal Negara Azerbaijan.
    Negara Azerbaijan dikenal dengan “Fire Land” atau “Tanah Api” . Dibenak anda mungkin akan tergambarkan sebuah negara yang dikelilingi oleh api dan sejujurnya negara yang dikenal dengan sebutan tersebut masih terasa asing bagi kalangan masyarakat Indonesia. Mengenalnya dengan sebutan “Tanah Api” karena nyala api yang berasal semburan gas alam dan masyarakat masa lampau Azerbaijan memuja api. Negara yang memiliki iklim kering tersebut memiliki luas 86.000 kilometer persegi yang dibatasi oleh Rusia dan Georgia di sebelah utara, Iran dan Turki di sebelah selatan, Laut Kaspia pada bagian timur, serta Armenia di sebelah barat.
    Ada banyak keyakinan mengenai keberadaan Azerbaijan, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa Azerbaijan terletak di Eropa Timur tapi di Indonesia beberapa jurnalis maupun diplomat, negara tersebut terletak di Asia Tengah.
    Negara yang memiliki Baku sebagai ibukotanya memeluk dan menyambut semua kepercayaan, seperti Zoroastrianisme, Yudaisme, Kristen, dan Islam. Seperti Indonesia, Azerbaijan merupakan negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam.
    Negara yang memiliki Ilham Aliyev sebagai Presidennya, memiliki berbagai tarian dan alat musik yang diantaranya adalah tutek dan tarian zorkhana. Tidak hanya itu negara tersebut memiliki keragaman dan kekayaan artisitik serta kemahiran rakyat Azerbaijan membuat kerajinan tangan yang menjadikan salah satu faktor penarik turis internasional untuk datang.

    Walaupun bukan negara yang besar, Azerbaijan mampu menujukan kekuatannya yang berpusat kepada kemajuan pengetahuan industri minyak dan gas. Negara yang disebut sebagai “ibu” dari industri minyak global ini mampu menarik perusahaan energi multinasional untuk menanamkan modal sebesar US$ 20 miliar pada industri minyak dan gas, dan dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, produksi minyak Azerbaijan tumbuh dengan pesat pada tahun 2005 yang mampu memompa keluar rata-rata lebih dari 320.000 barel per hari, lalu semakin meningkat pada tahun 2008 yang hasil akhirnya mencapai 1 juta barel per hari, serta pada tahun 2010 mencapai 1,16 juta barel per hari, bisa di prediksi bahwa negara ini mungkin mampu menghasilkan dua juta barel per hari pada tahun 2020.
    Itulah sepenggal cerita mengenai Azerbaijan, selanjutnya saya akan mengajak anda untuk mengetahui lebih lanjut cerita kejahatan yang dilakukan oleh pasukan Armenia terhadap penduduk Khojaly yang memakan banyak jiwa. Khojaly merupakan bagian dari negara Azerbaijan yang terletak didalam batas-batas administrasi wilayah Nagornoh-Karabakh. Latar belakang terjadi peristiwa tersebut karena Armenia ingin mengklaim bahwa wilayah Nagornoh-Karabakh dan wilayah disekitarnya merupakan bagian dari Armenia. Pada tanggal 25 hingga 26 Februari 1992, pasukan bersenjata Armenia dengan dibantu oleh tentara infanteri resimen 366 bekas Uni Soviet menyerang Khojaly.
    Tragedi ini merupakan tragedi yang sangat sadis, kejadian yang berlangsung tidak lebih dari 48 jam ini telah menelan banyak korban. Tragedi yang dikenal dengan sebutan Genosida Khojaly, merupakan pembantaian Armenian terhadap ribuan penduduk Azerbaijan yang berada di kota Khojaly. Kota Khojaly dalam sekejam menjadi kota yang dibanjiri oleh mayat-mayat yang berserakan. Banyak penduduk Khojaly yang berusaha untuk mencoba meninggalkan rumah mereka setelah serangan dimulai dengan harapan dapat mencapai pemukiman Azerbaijan terdekat, tapi usahanya itu sia-sia karena tentara Armenia yang terlalu brutal.
    Akibat kejadian ini, 613 orang dibunuh, termasuk 106 perempuan, 83 anak, dan 70 orang lanjut usia. Sebanyak 1.275 orang disandera, sementara nasib 150 orang lainnya belum diketahui, lalu dalam pembantaian ini, terdapat 487 penduduk Khojaly yang luka berat, termasuk diantaranya 76 anak-anak, 6 keluarga tewas, 25 anak kehilangan kedua orang tua mereka, dan 130 anak kehilangan satu diantara kedua orang tuanya.
    Ketahuilah bahwa Pasukan Armenia sangatlah brutal, karena dari korban yang tewas, 56 orang dibunuh secara keji, dibakar hidup-hidup, dikuliti, dipenggal, dicungkil matanya, dan terdapat wanita hamil yang perutnya ditusuk dengan bayonet. Pembunuhan yang dilakukan oleh pasukan Armenia menurut saya sudah tidak masuk di otak, mereka tidak memiliki hati nurani, hati mereka sudah dibutakan oleh ambisi yang kuat untuk meratakan seluruh kota Khojaly dan menjadikan wilayah itu sebagai wilayah mereka. Mereka dengan teganya membunuh warga sipil yang sama sekali tidak salah. Jika dikaitkan dengan Undang-Undang Republik Indonesia perlakuan yang dilakukan oleh pasukan Armenia sudah jelas sangat melanggar Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
    Pembataian ini sudah di sebar luaskan kepada media internasional, dan pada akhirnya Dewan Keamanan PBB mengesahkan empat resolusi yaitu nomor 882, 853, 874, dan 884, mengenai resolusi damai atas pertikaian yang terjadi, penarikan mundur tentara Armenia dari wilayah yang diduduki, dan bantuan bagi para pengungsi serta orang-orang yang kehilangan tempat tinggal.
    Dalam sebuah majalah IRS Warisan dinyatakan bahwa beberapa orang percaya bahwa konflik yang terjadi bersumber dari interprestasi yang salah atas sejarah. Selama kurang lebih dari kejadian tersebut hingga sekarang, Azerbaijan masih berusaha keras untuk menuntut kembali wilayah yang memang bagian dari Azerbaijan. Tragedi berdarah tersebut telah membuat kerugian yang besar untuk Negara yang didominasi oleh daratan tersebut. Negara Azerbaijan lebih memilih untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi secara damai ketimbang menyelesaikannya dengan kekerasan, namun hingga sekarang dari Armenia masih mengabaikan panggilan dari Azerbaijan untuk membicarakan mengenai wilayah yang menjadi saksi bisu pembataian yang keji.
    Menurut saya tragedi Genosida Khojaly merupakan tragedi yang didasarkan karena kesalapahaman kejelasan pada masa lampau, ini bisa juga disebabkan karena komunikasi yang kurang. Ketika saya pertama kali mendengar tragedi tersebut saya terkejut karena baru mengetahui kejadian yang sangat sadis itu, saya merasa sangat ibah dan sedih, melihat sejumlah warga Azerbaijan yang mayoritas muslim dan tidak bersalah tersebut dibunuh dengan kejam. Tidak banyak orang yang mengetahui tragedi yang menelan nyawa lebih dari 2000 jiwa ini, padahal tragedi ini merupakan tindakan yang memiliki kesetaraan dengan Hiroshima, Nagasaki, Khatin, dan Songmin. Saya yakin hati pasukan tentara Armenia itu sudah keras seperti batu dan dingin seperti es.
    Kita juga belajar bahwa kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang kita miliki.