Kegiatan

  • Rosi S. mengirim sebuah pembaruan 3 tahun, 5 bulan lalu

    Bagi kebanyakan sineas, mendapat kesempatan diputarnya film mereka di Hollywood masih sebatas mimpi. Namun tidak bagi Livi Zheng, sutradara muda berbakat asal Blitar, Jawa Timur yang beberapa waktu lalu film yang Ia bikin berhak untuk ikut serta di ajang Oscar. Perempuan kelahiran 3 April 1989 itu baru saja merilis film perdananya yang berjudul ‘Brush with Danger’ yang telah rilis di Indonesia 26 November lalu.

    Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Program Vokasi Universitas Indonesia mengadakan sebuah seminar bertajuk “Daya Saing SDM Indonesia di Era MEA”. Sekitar empat ratusan mahasiswa memenuhi Aula Terapung Perpustakaan Pusat UI hari Rabu (21/10). Puluhan mahasiswa tampak berdiri, tak dapat jatah kursi.
    Livi Zheng siang itu hadir sebagai pembicara. Ia banyak bertutur soal pengalaman jatuh bangunnya menggarap film Brush the Danger hingga bisa sampai sekarang. Dalam film bergenre action itu, Livi bertindak selaku sutradara, produser, sekaligus pemain.

    Meskipun kini berkiprah di pusat industri perfilman dunia di Hollywood sebagai sutradara di usia muda, ternyata bukan perkara mudah bagi Livi pada awalnya. Mengawali karier di Hollywood sebagai pemeran pengganti bersertifikat dan produser, saat hendak menjadi sutradara, Livi dihadapkan pada tiga hal yang membuat pelaku industri di Hollywood mengerutkan dahi: Asia, perempuan, dan muda.

    Kerutan dahi itu dihadapi Livi dengan keyakinan dan kegigihan seperti dia praktikkan dalam seni bela diri yang diajarkan ayahnya dan dicintainya sejak kecil. Karena kecintaannya pada bela diri ini, Livi berangkat ke Beijing pada usia 15 tahun bersama Ken yang berusia 9 tahun dan berlatih di Shi Cha Hai Sports School. ”Bintang laga Jet Li dulu juga berlatih di Shi Cha Hai Sports School,” kata Livi.

    Tinggal di apartemen bersama adiknya, ia sekolah SMA di Western Academy of Beijing. Hidup terpisah dari orangtua mengajarkan kemandirian dan disiplin ketat. Livi juga berusaha mengoptimalkan semua potensi, termasuk bela diri yang dia cintai bersama adiknya yang mengikuti jejaknya.

    “Aku tuh dulu asisten yang ngangkatin lampu. Nggak pernah bayangin bisa menjadi produser film di Hollywood,” tutur Livi.

    Meski telah 11 tahun tinggal di luar negeri, Livi siang itu berbicara Bahasa Indonesia dengan lancar. Dengan gerak tubuh bersemangat, sesekali terdengar logat Jawa Timur yang khas setiap kali Ia berbicara.
    Perempuan yang dari kecil telah belajar bela diri Wushu ini setelah lulus SMA di Beijing, Ia melanjutkan kuliah S-1 di Universitas Washington, Amerika mengambil jurusan ekonomi.

    Di Amerika, perempuan 26 tahun ini mencoba peruntungannya dengan menjadi tenaga sukarela untuk pembuatan set film. Ia juga memberanikan diri memberi skrip film kepada produser terkenal Hollywood.
    “Saya menulis treatment (naskah skenario) 30 kali, baru produser bilang film ini layak syuting,” kenang Livi. “Saya sempat down, tapi saya harus sukses!,” tambahnya bersemangat.

    Setelah menyelesaikan kuliah S-1nya di Universitas Washington, untuk memperdalam kemampuan ilmu perfilman, Livi kemudian melanjutkan S2-nya di University of Southern California mengambil jurusan Cinematic Arts. Karena menurutnya, karier di film itu tidak bisa paruh waktu. Saat ini Ia masih berkuliah, mudik 3 bulan (Oktober-Desember) untuk mengurus sendiri rilis film Brush with Danger di Indonesia.

    “Karena saya orang Indonesia, saya minta hak ditribusi buat Indonesia saya yang pegang. Tapi, kalau yang lain ada distributornya dari Amerika. Karena saya warga negara Indonesia, saya pengen film saya tayang di Indonesia dan saya yang pegang distribusinya,” lanjutnya.

    Di Amerika Serikat film Brush with Danger telah rilis bulan November 2014. Tak lama setelah pemutaran filmnya, Ia mendapat kiriman e-mail dari penyelenggara Academy Awards atau Oscar. Isinya tentu menggetarkan setiap film maker pemula yang berkiprah di negeri Paman Sam, termasuk Livi. Yaitu undangan mengikutsertakan filmnya ke ajang Academy Awards.

    Semula Livi mengira surat elektronik itu ulah orang iseng. Ia mengabaikannya. Hingga seminggu kemudian, surat dari penyelenggara Oscar datang lagi. Kali ini, ia sedikit percaya. Surat itu mengatakan Ia bisa mengirimkan copy skenario untuk disimpan di perpustakaan Oscar.

    “Saya tak langsung percaya. Takutnya bohong. Apalagi waktu itu filmnya masih main di bioskop,” ia bercerita. Akhirnya Ia hantarkan sendiri skenario ke alamat penyelenggara Oscar. “Baru dari situ saya percaya.” Kenangnya sambil tertawa.

    Mengecek peraturan Oscar di situsnya, disebutkan film yang tayang di bioskop komersil di wilayah Los Angeles selama tujuh hari berturut-turut berhak ikut serta di ajang Oscar. Film Brush with Danger memenuhi syarat untuk itu. Hal ini cukup membanggakan mengingat dari 40.000 film yang masuk, hanya sekitar 1% film yang terpilih.

    Sejauh ini Livi Zheng telah memproduseri 3 film Hollywood, diantaranya The Empire’s Throne, Legend of The Best, dan Brush with Danger. Kedepan, Livi berencana untuk menggarap film ke-empatnya di tanah air Indonesia. Ia telah membawa tim intinya dari Amerika, seperti stunt coordinator, executive producer, dan cinematographer, ke Indonesia dan mereka setuju untuk bekerja sama dengan tim Indonesia di tahun – tahun yang akan datang.