Kegiatan

  • DEBRINA ANINDITA HAPSARI mengirim sebuah pembaruan 3 tahun, 1 bulan lalu

    Debrina Anindita

    Amerika, Tempat “Ia” Ukir Cahaya Untuk Indonesia

    “Beri Aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” – Ir. Soekarno
    Indonesia, Negara Ibu Pertiwi yang menurut http://www.change.org nilainya semakin asing di mata pemudanya sendiri. Contohnya ketika pemilihan umum, survey mengatakan bahwa pemuda Indonesia kurang ambil bagian. Jaman semakin maju untuk menampung perkembangan teknologi, tetapi segelintir pemuda yang turut andil pada kecanggihan teknologi tersebut. Bung Karno berkata bahwa sepuluh pemuda pada jamannya, bisa mengguncangkan dunia. Artinya, generasi muda mampu bersaing dengan kemajuan tekologi, mengimbangi Negara-negara maju, menyejahterakan Negara dengan menjunjung tinggi nilai kebudayaan nusantara. Pemuda pengharum nama dan cita-cita bangsa.
    Barangkali makna kutipan Bung Karno inilah yang menguatkan alasan Komunikasi Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia untuk mengadakan Seminar bertajuk “Daya Saing SDM Indonesia dalam Menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)” di Aula Terapung Perpustakaan Pusat UI, 21 Oktober 2015. Demi mengembalikan semangat Sumpah Pemuda, terutama dalam menghadapi MEA, Vokasi Komunikasi menghadirkan tokoh-tokoh sukses yang dapat menjadi inspirator sekaligus tauladan bagi peserta seminar. Dato Sri Prof. Dr. Tahir, MBA (CEO Mayapada Group), Handoko Wignjowargo (Presiden Direktur Maestro Mitra Korpora), Alberthiene Endah (Penulis Buku, Coaching Penulisan, dan Mantan Jurnalis), dan Livi Zheng (Sutradara Film Brush with Danger) adalah sederetan nama yang bersedia meluangkan waktu demi memberi semangat kepada pemuda Indonesia.
    Livi Zheng, salah satu bukti pemuda Indonesia mampu bersain dalam karya. Wanita 26 tahun asal Blitar, Jawa Timur ini hijrah dan meneruskan pendidikan di Western Academy of Beijing, Cina sejak duduk di bangku SMA.Ia juga menekuni wushu di Martial Arts in Beijing’s Shi Cha Hai Sports School, almamater Jet Li. Dalam proses pendidikannya, Ia mulai menemukan keinginan untuk berkontribusi di dunia filem. Demi meneruskan sekolah dan kecintaannya terhadap perfileman, Ia hijrah ke Amerika Serikat pada 2009 untuk menempuh pendidikan di University of Washington-Seattle. Bukannya mengambil jurusan perfileman atau penyiaran, Livi, sapaan akrabnya, memilih ekonomi sebagai keahliannya. Pilihannya didasari oleh pemikirannya bahwa dalam perfileman, analisa budgeting diperlukan untuk menekan pengeluaran dan menghasilkan keuntungan yang besar.
    Kerja keras, ketekunan besar dan kesabaran maksimal yang mengantarkan Livi sampai pada tingkat popularitas saat ini. Untuk menjadi sutradara Hollywood, ada tiga hambatan yang harus dihadapi, yakni takdirnya sebagai orang Asia, kodratnya sebagai wanita, dan umurnya yang masih terbilang muda.
    “Banyak yang tidak yakin saya bisa. Penolakan adalah makanan harian, namun saya tidak patah semangat. Saya coba terus sembari belajar meningkatkan kemampuan,” jelas Livi.
    Livi menceritakan, untuk menjadi sutradara filem Brush with Danger, yang mulai tayang di bioskop Indonesia 5 November 2015 ini membutuhkan setidaknya tiga puluh kali penolakan. Kebanyakan, lima kali penolakan adalah maksimal bagi seseorang, namun penolakan sebanyak tiga puluh kali tidak menjadi virus patah semangat untuk Livi.
    “Untungnya, virus patah semangat itu tidak dating. Saya coba terus sampai dapat,” tegasnya.
    Filem yang bercerita tentang dua kakak-adik imigran gelap Asia di Amerika Serikat ini menampilkan Livi sebagai Kakak, dan adiknya, Ken Zheng yang turut berperan sebagai adik. Filem ini berhasil menjadi salah satu kategori nominasi Oscar 2015. Meski belum beruntung, Livi mengaku bangga karena Oscar memperhitungkan karya perdananya ini.
    “Kebanggaan itu terasa luar biasa karena Saya datang dari Indonesia,” lanjutnya.