Kapita Selekta Kimia Organik – TA 2016/2017 (Term 1)

Senin, 29 Agustus 2016.

Hari itu merupakan hari pertama kuliah sebagai mahasiswa semester tujuh. Kalau dipikir-pikir, saya sudah menjadi angkatan tua, bukan? Hihi. Di semester ini, saya hanya mengambil 13 SKS. Tidak banyak, memang. Sehingga kini saya memiliki banyak waktu kosong yang bisa saya isi dengan hal-hal lain. Tulisan ini saya buat pada hari Minggu, 04 September 2016. Ya, sudah satu minggu kegiatan perkuliahan berjalan. Dari 13 SKS yang saya ambil, ada satu mata kuliah yang pada pertemuan pertamanya itu memberikan kesan tersendiri bagi saya. Kesan tersebutlah yang membuat saya ingin membagikannya kepada pembaca (jika ada), di sini. Hahaha.

Salah satu mata kuliah yang penting untuk saya ambil karena akan menunjang pengetahuan saya dalam menjalani skripsi tugas akhir di semester delapan nanti adalah Kapita Selekta Kimia (KSK) Organik atau biasa disingkat KSKO. Dosen pengampu mata kuliah tersebut adalah Bapak Dr. Emil Budianto (akrab dipanggil Pak Emil). Beliau juga merupakan Ketua Kelompok Bidang Ilmu (KBI) Kimia Organik di Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Indonesia. Mengapa mata kuliah tersebut penting? karena minat saya adalah di bidang Kimia Organik dan saya memilih KBI Kimia Organik sebagai topik penelitian saya dalam skripsi tugas akhir nanti.

Pak Emil pertama kali menjadi dosen saya yaitu pada mata kuliah Kimia Polimer yang saya ambil di semester enam. Sejak awal pertemuan dengan beliau pada mata kuliah tersebut, saya merasa beliau berbeda dalam segi cara mengajar jika saya membandingkan dengan dosen-dosen lain. Tentu, setiap dosen memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan pada tulisan ini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa dosen A adalah baik dan dosen B adalah buruk. Tapi, yang saya ingin coba sampaikan di sini adalah salah satu pesan beliau (Pak Emil) yang bagi saya, pesannya tersebut berhasil “menampar” saya. Ya, beliau di kelas tidak hanya sekedar menjelaskan bahwa “reaksi polimerisasi suatu senyawa kimia dapat terjadi melalui mekanisme radikal” saja. Tapi, beliau juga memberikan ilmu-ilmu atau pesan yang berkaitan antara ilmu eksak yang kami pelajari dengan kehidupan sehari-hari atau pesan dari beliau sebagai bentuk respon yang beliau dapatkan dari mahasiswa di kelas. Salah satu contoh yang sangat saya ingat adalah sebagai berikut.

Kelas KSKO dimulai pada pukul 08.00 WIB. Beliau sudah hadir di kelas bahkan sepuluh hingga lima menit sebelum kelas dimulai. Hampir tidak pernah beliau terlambat masuk kelas tanpa pemberitahuan kepada mahasiswanya terlebih dahulu. Kuliah hari pertama tersebut tidak belajar mengenai materi kuliah, melainkan hanya membuat kesepakatan antara mahasiswa dengan dosen mengenai jadwal kuliah, pembagian waktu pokok bahasan kuliah, dan lain-lain. Hingga, saya lupa apa yang membuat beliau mengatakan hal ini, beliau mengatakan (kurang lebih seperti ini, tidak sama persis namun maknanya sama)

D: Kalian itu mahasiswa, masa kalah sih sama anak kecil.

M: *kami hanya diam, masih belum menangkap maksud beliau*

D: Anak kecil itu pas lahir gak bisa langsung berdiri apalagi berjalan, kan? Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka mencoba. Mereka mencoba berdiri, kemudian jatuh. Mereka mencoba berjalan, kemudian jatuh. Mencoba berdiri lagi, jalan lagi, jatuh lagi. Hal itu terus dia lakukan. Hingga akhirnya, anak kecil itu bisa berjalan dengan lancar bahkan berlari dengan kencang seperti kalian sekarang ini. Pernah gak kalian mikir pas masih kecil saat kalian mau belajar jalan, “saya bakal jatuh gak ya?”, “kalau jatuh, sakit gak ya?”, “kalau jatuh, saya bisa berdiri lagi gak ya?”. Apakah pikiran itu ada dalam benak kalian? Saya rasa tidak. Buktinya, kalian terus mencoba berdiri dan berjalan hingga kalian bisa berjalan dan berlari seperti sekarang ini.

M: *kami semua hanya terdiam, masih mencoba menyerap apa yang ingin beliau sampaikan*

D: Terus, kenapa sekarang kalian jadi takut “jatuh”? kenapa kalian menjadi takut untuk gagal dalam mencoba sesuatu hal yang baru? Kalian kalah sama anak kecil. Kalian kalah dengan diri kalian sendiri saat masih kecil. Kenapa kalian harus takut kalau kalian bisa bangkit lagi? kenapa harus takut untuk gagal atau jatuh berkali-kali kalau itu bisa membuat kalian bisa semakin dekat dengan keberhasilan? kenapa kalian takut?

M: *tidak ada satu mahasiswapun yang bersuara*

(Catatan: D maksudnya adalah Dosen dan M adalah Mahasiswa)

Bahkan, bagi saya, saya merasa tertampar sekali dengan pernyataan beliau tersebut. Perkataan beliau tersebut membuat semangat saya terbakar lagi untuk mencoba hal-hal baru yang bisa dikatakan sebagai hal-hal di luar zona nyaman saya. Believe it or not, pernyataan beliau tersebut berhasil membuat saya melakukan sesuatu yang di luar zona nyaman saya. Ya, setelah tiga tahun menjadi mahasiswa MIPA, akhirnya saya bisa mendapatkan prestasi akademik! Selain segudang pencapaian atau aktivitas saya di bidang non-akadmik selama tiga tahun menjadi mahasiswa. Hahaha. Alhamdulillah, tim saya berhasil lolos abstrak dalam konferensi internasional! Konferensi tersebut dilaksanakan di Dubai, United Arab Emirates (UAE) pada 9 – 10 Oktober 2016 lalu. Kebetulan, Pak Emil juga merupakan pembimbing (advisor) pada abstrak yang kami daftarkan pada konferensi tersebut. Tenang, saya juga akan berbagi cerita dengan kalian mengenai pencapaian saya tersebut pada tulisan berikutnya! So, keep in touch with my blog or you may follow my blog! 🙂

Mungkin, itu yang dapat saya bagikan pada tulisan kali ini. Tulisan ini baru bisa saya selesaikan setelah semester tujuh berakhir, hihi. Meski hanya mengambil 13 SKS, ternyata cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran. Ditambah dengan kegiatan non-akademis dan akademis yang juga saya ikuti yang salah satunya akan saya ceritakan di tulisan saya yang selanjutnya! Ya, pengalaman saya menginjakkan kaki di Belahan Bumi Allah yang lain yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya 🙂

Feel free to leave a comment or advice or just for sharing your thought. If you have any inspiring moment, you may share to me in the comment column. Cheers!!

[NOTE]: This is a repost article from my another blog, ichsanahmd.wordpress.com