Referensi Sains Indonesia

Makalah Kajian Meteri Hipotesis Penelitian

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan penulis terhadap minat menulis cerpen pada siswa kelas V MI (Madrasah Ibtidaiyah) di kecamatan Kebonsari kabupaten Madiun, berangkat pula dari kesadaran penulis terkait kurangnya minat siswa dalam kegiatan menulis cerpen, pentingnya keterampilan menulis terhadap perkembangan siswa serta seberapa besar pengaruh keaktifan belajar, minat membaca siswa terhadap keterampilan menulis siswa kelas V MI kecamatan Kebonsari, Madiun. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengaruh keaktifan belajar dan kebiasaan membaca terhadap keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah (MI) di kecamatan Kebonsari, kabupaten Madiun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Data dalam penelitian ini berisi catatan tingkat keaktifan belajar, minat membaca, dan keterampilan menulis siswa serta bagaimana pengaruh keaktifan belajar dan minat membaca siswa terhadap keterampilan menulis. Sumber data diambil dari siswa MI sebanyak 128 siswa di tiga sekolah yang ada di kecamatan Kebonsari.Tekhnik pengumpulan data dari penelitian ini melalui kuesioner dan teks. Penelitian ini menggunakam analisis data penelitian statistik. Tahapan dalam penelitian dimulai dari menghitung minat dan tidak minat siswa terkait belajar, membaca dan kegiatan menulis dari kuesioner kemudian menganalisisnya dengan metode penelitian yang sudah digunakan. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata keaktifan belajar siswa sebesar 83,33, minat membaca siswa 81,65 keterampilan menulis siswa 87,20 serta tingginya pengaruh keaktifan belajar dan minat membaca terhadap keterampilan menulis cerpen siswa.

Kata Kunci: Belajar, Membaca, Menulis

BAB I

Pendahuluan

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang tujuannya untuk menghasilkan sebuah tulisan. Dengan menulis siswa mampu bernalar lebih baik dan dapat menyusun pendapat baik dalam tulisan maupun lisan. Dalam karya sastra, tulisan berupa cerpen merupakan hasil praktik dari kegiatan menulis yang mampu mengajak siswa berimajinasi dan menuangkan pikiran ataupun perasaannya. Keterampilan menulis cerpen bagi siswa termasuk kegiatan menambah pengetahuan, pengalaman serta membentuk karakter  baik dalam pribadi dirinya.

Cerpen yang disusun dari penalaran yang membutuhkan perenungan, pengamatan dan penghayatan yang mendalam dari penulis membuat pengajaran keterampilan menulis cerpen berperan dalam pembentukan kebiasaan, sikap dan kemampuan dasar yang diberikan guru untuk siswa mampu berkarya sastra. Mengingat peran keterampilan menulis ini cukup bermanfaat untuk membentuk kepribadian bagi generasi bangsa, maka pembinaan dan pelatihan menulis cerpen termasuk hal yang penting juga.

Manfaat menulis cerpen tidak dapat dirasakan oleh sebagian siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis cerpen. Hal ini terjadi sebab adanya permasalahan yang tidak dapat mereka pecahkan di saat proses pembelajaran. Misalnya guru yang kurang memotivasi siswanya, pembelajaran karya sastra kurang dimaksimalkan, guru masih bergelut dengan aliran-aliran teori bahasa, model pembelajaran yang tidak menarik, siswa kesulitan dalam menemukan ide sehingga tidak antusias untuk menulis.

Ketidaktertarikan siswa menulis cerpen juga menjadi permasalahan utama dalam pencerapan manfaat yang dibutuhkan siswa dari menulis cerpen. Salah satu bukti pakarnya Pardede pada tahun 2011 mengungkapkan bahwa diantara genre sastra bisa meningkatkan prestasi siswa dalam belajar bahasa serta menurut  Allameh Tabataba‘I (2012) menulis cerpen bisa meningkatkan kualitas berpikir yaitu keterampilan berpikir kritis.

Keterampilan menulis bisa berpengaruh juga terhadap kebiasan membaca begitupun sebaliknya, misalnya dalam guna keterampilan menulis dalam kegiatan membaca, membaca bisa memastikan kebenaran dan sudut pandang makna. Walaupun kebiasaan membaca ini cukup baik untuk keterampilan menulis siswa, menumbuhkan kebiasaan membaca dalam diri siswa bukan suatu hal yang mudah. Penerapan metode pembelajaran modern yang cocok dengan karakter siswa, solusi untuk meningkatkan kebiasaan membaca mereka dengan tujuan supaya terampil dalam menulis cerpen. Hal ini membuktikan penerapan metode pembelajaran berhubungan erat dengan kebiasaan membaca dan keterampilan menulis cerpen siswa.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di 3 MI di kecamatan Kebonsari, Madiun yang duduk di bangku kelas V, ditemukan penerapan metode pembelajaran masih bersifat tradisional. Jadi, kegiatan pembelajaran terlalu berpusat pada guru. Siswa menjadi cenderung bosan dengan metode pembelajaran menulis cerpen tersebut. Di sini keterampilan menulis cerpen siswa tidak bisa berkembang karena mereka hanya disuruh mendengarkan saja. Padahal siswa bisa jadi tidak fokus dan hanya ngobrol dengan teman sebangkunya. Alhasil, siswa menjadi tidak bisa memahami teori yang telah dijelaskan.

Hasil penelitian Uswatun Hasanah (2016) menyatakan kebiasaan membaca cerpen 111 siswa SMA kelas X di SMA Negeri 6 Yogyakarta, ditemukan 96 siswa berada dalam kategori sedang, 13 siswa berada pada kategori tinggi, dan 6 siswa lainnya berada dalam kategori rendah. Sedangkan keterampilan menulis narasi siswa SMA tersebut bahwa ada 65 siswa berada dalam kategori sedang, 19 siswa berada pada kategori tinggi, 27 siswa ada pada karegori rendah. Keterkaitan yang signifikan antara keterampilan menulis dan membaca sebesar 9,43 dengan jumalah r hitung 0, 943 dan 0,241 pada taraf koefisien 1% untuk r table  (n=111). Dapat ditarik kesimpulan bahwa kebiasaan membaca cerita pendek dengan kemampuan menulis narasi siswa kelas X SMA tersebut mempunyai hubungan timbal balik.

Mengingat pentingnya hal tersebut pada siswa kelas V MI di  kecamatan Kebonsari, Madiun sepertinya penting untuk mengadakan penelitian sebagai sarana pemecahan berbagai masalah penulisan cerpen.

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

 

  1. Kajian Teori
  2. Keaktifan Belajar Siswa Madrasah Ibtidaiyah

Keaktifan belajar berarti adanya proses keterlibatan setiap siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar. Menurut Paul B. Diedrich keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar terbagi menjadi 177 macam. Contohnya seperti kegiatan visual, oral, menggambar, mendengarkan, menulis, aktivitas motorik dan mental, aktivitas emosianal, dan lain sebagainya.

Pada prinsipnya keaktifan belajar ini menuntut para pengajar atau guru untuk memberikan kesempatan untuk setiap siswa untuk melakukan aktivitas dalam proses pembelajaran. Selain itu, para guru juga harus memberikan fasilitas dan menciptakan kondisi yang nyaman untuk belajar. Sehingga, potensi atau bakat yang dimiliki para siswa dapat terbuka lebar.

Prinsip tersebut harus didukung oleh banyak faktor yang mempengaruhi khususnya dari siswa itu sendiri. Dalam membangun keaktifan belajar perlu memperhatikan berbagai faktor, mulai dari jasmani dan rohani siswa, lingkungan rumah, teman, masyarakat, maupun dari sekolah tempat ia belajar.

  1. Kebiasaan Membaca Siswa Madrasah Ibtidaiyah

Kebiasaan membaca merupakan salah satu kegiatan yang sudah melekat pada diri seorang siswa dengan proses penerapan yang berlangsung cukup lama. Sebuah kebiasaan tentunya tidak akan langsung menjadi kegiatan yang biasa dilakukan jika baru sesekali saja dilakukan terutama dalam hal membaca.

Setiap siswa harus membina dirinya sendiri agar memiliki kebiasaan membaca. Pembinaan tersebut dapat dilakukan secara perlahan dengan frekuensi membaca yang tepat dan mendukung. Kebiasaan membaca dapat dikatakan sebagai sebuah keterampilan.

  1. Keterampilan Menulis Cerpen

Menulis merupakan salah satu kegiatan yang mengekspresikan sebuah karya berupa tulisan dari dalam jiwa seseorang. Keterampilan menulis didasari oleh keterampilan membaca. Sebab, sebelum sebuah karya ditulis maka seseorang harus membacanya terlebih dahulu.

Salah satu karya tulis ialah cerpen. Menulis cerpen berarti menulis sebuah karya sastra yang berisi cerita fiksi atau karangan yang ditulis secara ringkas sesuai dengan nama dari karya ini yang berarti cerita pendek. Sehingga penulisannya pun harus secara singkat atau pendek.

Cerpen terdiri dari beberapa unsur seperti tokoh, alur serta latar. Kemampuan siswa dalam menulis juga perlu dikembangkan salah satunya menulis cerpen. Didalam cerpen siswa dapat menuangkan ide, gagasan serta keterampilan mereka dalam menuangkan isi pikiran.

  1. Penelitian yang Relevan

Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan variabel prestasi siswa dan menggunakan kuisioner dalam pengumpulan data tersebut. Hasilnya, terdapat pengaruh yang signifikan antara cara belajar terhadap prestasi siswa. Kebiasaan membaca sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam mengidentifikasi sebuah cerpen.

Selain itu, kebiasaan membaca dan kemampuan menulis cerpen dapat membangun keaktifan belajar seorang siswa saat di kelas. Membaca dan menulis yang sudah melekat pada diri seorang siswa dapat mempengaruhi minat siswa untuk terus aktif belajar.

  1. Kerangka Berpikir

Kerangka ini dibutuhkan sebagai alur berpikir dan landasan dalam penelitian. Kerangka ini juga dapat mempermudah pembaca dalam memahami masalah. Berikut ini merupakan kerangka berpikir dari penelitian yang sedang dibahas.

  1. Hipotesis
  2. Pengaruh Keaktifan Belajar Siswa Terhadap Ketrampilan Menulis Cerpen

H1 : Terdapat pengaruh keaktifan belajar terhadap ketrampilan menulis cerpen.

Keaktifan tersebut mampu memberikan dampak positif pada keterampilan menulis cerpen. Aktifnya siswa dapat menimbulkan keinginan yang sangat besar dalam membuat karya cerpen. Keaktifan seorang siswa dalam belajar memberikan pengaruh yang positif pada keterampilan siswa dalam menulis.

  1. Pengaruh Kebiasaan Membaca Terhadap Ketrampilan Menulis Cerpen

H2       : Terdapat pengaruh kebiasaan membaca cerpen terhadap keterampilan menulis cerpen.

Membaca dapat menambah pengetahuan dan konsep baru yang positif bagi siswa. Membaca cerpen bisa membuat seorang siswa memahami keutuhan sebuah cerpen yang sesungguhnya. Jika sudah memahaminya, maka siswa akan mampu dan terampil dalam menuangkan sebuah karya cerpen dengan menulisnya sendiri.

  1. Pengaruh Keaktifan Belajar dan Kebiasaan Membaca Terhadap Ketrampilan Menulis Cerpen

H3       : Terdapat pengaruh keaktifan belajar dan kebiasaan membaca cerpen terhadap keterampilan menulis cerpen.

Siswa yang memiliki keaktifan dalam belajar akan lebih terasah untuk membaca dan kemudian menulis sebuah cerpen. Keterampilan tersebut akan lebih terasah dan terpacu melalui keaktifan belajar. Di mulai dengan aktif belajar, kemudian siswa akan tertarik untuk membaca, lalu ia akan mulai terampil dalam menulis cerpen.

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis kuantitatif yang berlandaskan pada filsafat positivisme serta digunakan untuk meneliti sampel tertentu dengan cara random. Penelitian ini juga termasuk dalam penelitian korelasi untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih, tanpa melakukan tambahan, perubahan, tambahan, atau manipulasi data. Gunanya untuk mengetahui korelasi antara Keaktifan Belajar Siswa dan Kebiasaan Membaca dengan Prestasi Menulis Cerita Pendek pada kelas 5 MI Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun.

  1. Populasi & Sampel
    1. Populasi

Populasi atau objek dalam penelitian ini adalah siswa yang 3 sekolah yang akan diteliti, yaitu MI Bahrul Ulum, MI Salafiyah Barek, dan MI Babussalam.

  1. Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampling purposive, dengan menggunakan pertimbangan tertentu yaitu siswa yang sudah menerima atau belajar materi menulis cerpen yang terdapat pada kelas V dari 3 sekolah yang akan diteliti. Sekolah pertama adalah MI Bahrul Ulum sebanyak 33 siswa, sekolah kedua MI Salafiyah Barek dengan 45 siswa, dan sekolah ketiga adalah MI Babussalam dengan 50 siswa, jadi jumlah sampel yang akan diteliti total 128 siswa.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif, adapun sumber datanya sebagai berikut:

 

  1. Data Primer

Data primer atau sumber data pertama berdasarkan hasil kuesioner siswa kelas 5 di MI Bahrul Ulum berdasarkan metode pengambilan sampel.

  1. Data Sekunder

Data sekunder penelitian kali ini, adalah studi pustaka dari literatur yang menunjang atau berkaitan, digunakan untuk membantu menganalisis data primer di lapangan.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Kuesioner
  2. Tes keterampilan untuk mengetahui kemampuan anak dalam membuat dan menyusun sebuah cerita pendek.
  1. Validitas & Reliabilitas
    1. Uji Validitas

Alat pengukur yang digunakan pada penelitian ini adalah korelasi pearson product moment, yang digunakan untuk menghitung nilai korelasi antar masing-masing skor butir jawaban dengan skor total dan butir jawaban dengan taraf signifikan 5% (0,05). Uji validitas menggunakan rumus sebagai berikut (Umar, 2003:78):

Di mana:

r    =          Koefisien korelasi

n   =          Jumlah sampel

X  =          Skor satu item pertanyaan

Y  =          Jumlah skor item pertanyaan

Pengujian instrumen penelitian ini pada 30 siswa kelas V di MI Nurul Ulum Desa Sidorejo Kebonsari Kabupaten Madiun dengan kriteria r tabel pada tingkat signifikansi 0,05 dimana N = 30 – 2 = 28 didapatkan nilai r-tabel sebesar 0,361.

  1. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi: 1) analisis data deskriptif, 2) uji asumsi klasik, 3) analisis regresi linear berganda, 4) pengujian hipotesis terdiri dari uji t dan uji F, dan 5) koefesien determinasi (R2)

  1. Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi berganda dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis pengaruh keaktifan belajar dan kebiasaan membaca terhadap ketrampilan menulis cerpen pada siswa kelas V MI di Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun dengan model regresi sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + e

Keterangan:

Y                   = Ketrampilan menulis cerpen

a                    = Konstanta

b1-b2              = Koefisien regresi

X1                  = Keaktifan belajar

X2                  = Kebiasaan membaca

e                    = error term

  1. Pengujian Hipotesis
  1. Uji Statistik t
  2. Uji Statistik F
  3. Uji statistik t

BAB IV

HASIL PENELITIAN

  1. Deskripsi Data
  2. Analisis Data Deskriptif
  3. Deskripsi Data Keaktifan Belajar Siswa

Dalam mengukur keaktifan belajar siswa, peneliti menggunakan angket yang terdiri 20 item pertanyaan dengan 5 pilihan jawaban, yaitu angka 5 = sangat setuju, 4 = setuju, 3 = netral, 2= tidak setuju, dan 1 = sangat tidak setuju. Dalam menentukan kategori kelompok siswa dengan keaktifan belajar tinggi dan keaktifan belajar rendah digunakan nilai median yang diperoleh dari akumulatif nilai jawaban responden.

Dari hasil penelitan yang dilakukan diketahui bahwa nilai keaktifan belajar siswa tertinggi berada pada angka 83,33. Sedangkan untuk nilai keaktifan belajar terendah berada pada angka 64,17. Dapat diketahui selisih skor rata-rata sebesar 19,16 dengan skor yang lebih tinggi untuk kelompok belajar dengan keaktifan tinggi.

  1. Deskripsi Data Kebiasaan Membaca

Untuk mendapatkan data mengenai kebiasaan membaca digunakan pula angket dengan 20 buah pertanyaan yang memiliki 5 alternatif jawaban seperti di atas. Demikian pula dalam menentukan kategori kelompok siswa dengan kebiasaan membaca tinggi dan yang memiliki kebiasaan membaca rendah yaitu menggunakan nilai median dari hasil yang didapat.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kelompok siswa yang memiliki kebiasaan membaca tinggi mendapatkan skor yang lebih tinggi, yaitu sebesar 81,65. Sedangkan kelompok dengan kebiasaan membaca rendah mendapatkan skor sebesar 59.19. Terdapat selisih angka yang cukup besar di antara keduanya, yaitu sebesar 22,46.

  1. Deskripsi Data Keterampilan Menulis Cerpen

Untuk mendapatkan data maka digunakan tes menulis cerpen, yang mana bila siswa dapat menulis cerpen sesuai dengan ketentuan akan memperoleh nilai 100. Penentuan kategori menggunakan nilai median yang diperoleh. Dari test yang telah dilakukan diperoleh hasil dengan selisih nilai sebesar 23,65. Dengan kelompok keterampilan menulis cerpen tinggi memperoleh hasil yang lebih unggul, yaitu sebesar 87.20 dengan median 80.

  1. Deskripsi Data Variable Penelitian

Data yang diuji (N) dalam penelitian ini sebanyak 128 sampel. Untuk variable keaktifan belajar (X1) diperoleh nilai rata-rata sebesar 74,50 dengan standar deviasi sebesar 12,450. Sedangkan untuk variabel kebiasaan membaca (X2) dalam penelitian ini skor rata-rata yang diperoleh adalah 70,77 dengan standar deviasi sebesar 14,270. Untuk variabel keterampilan menulis cerpen (Y) diperoleh nilai rata-rata 75,74 dengan standar deviasi sebesar 13,975.

Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa terdapat variasi yang cukup tinggi antara responden satu dengan responden yang lain dalam masing-masing variable yang diuji.

  1. Uji Asumsi Klasik

Terdapat 3 metode yang digunakan dalam uji aumsi klasik, yaitu uji normalitas, uji heterokedastisitas, dan uji multikolinearitas.

  1. Uji Normalitas

Peneliti menggunakan uji statistik non parametrik Kolmogorov-Smirnov untuk menguji normalitas residual, dengan ketentuan jika nilai Sig dari residual terstandarisasi > 0,05 maka data residual terdistribusi normal. Hasil yang didapat dalam penelitian ini menunjukan bahwa data residual berdistribusi normal.

  1. Uji Heteroskedastisitas

Dalam penelitian ini digunakan uji Glejser, dengan melakukan regresi variabel independen pada nilai absolut residual dengan ketentuan jika nilai Sig variabel independen > 0,05 maka model regresi tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.

Hasil yang didapat menunjukan bahwa tidak terdapat gejala heteroskedastisitas pada model regresi.

  1. Uji Multikolinearitas

Untuk uji Multikolineritas dalam penelitian ini diperoleh dengan cara melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Yang mana hasil yang diperoleh menunjukkan tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

  1. Hasil Pengujian Hipotesis
  2. Analisis Regresi Berganda

Tujuan dari pengujian hipotesa menggunakan analisis regresi berganda adalah menganalisis pengaruh keaktifan belajar dan kebiasaan membaca terhadap keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas V MI di Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun.

Dari analisis data yang telah dilakukan terlihat bahwa kebiasaan membaca pada siswa mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerpen.

  1. Uji Statistik t

Dalam mencari hasil mengenai berapa banyak pengaruh variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen peneliti menggunakan uji statistik t. Hasil dari uji statistik t menunjukan bahwa kebiasaan membaca berpengaruh terhadap keterampilan menulis cerpen.

  1. Uji Statistik F

Sedangkan untuk mengetahui pengaruh dari variabel independen secara simultan dalam menerangkan variasi variabel dependen maka digunakan uji statistik F. Melalui uji statistik F dapat ditarik kesimpulan bahwa keaktifan belajar dan kebiasaan membaca memiliki pengaruh positif terhadap keterampilan menulis cerpen.

  1. Koefisien Determinasi (R2)

Koefesien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model regresi dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Nilai koefesien determinasi adalah antara nol dan satu. Dalam penelitian ini diperoleh hasil koefisien determinasi sebesar 0,529 atau 52,9%, yang menandakan bahwa keaktifan belajar dan kebiasaan membaca mampu mempengaruhi keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas V MI di Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun.

  1. Pembahasan
  2. Pengaruh Keaktifan Belajar terhadap Keterampilan Menulis Cerpen

Berdasarkan hasil uji menggunakan beberapa metode berbeda yang telah dilakukan dalam penelitian kali ini, diperoleh kesimpulan bahwa memang benar terdapat pengaruh positif antara keaktifan belajar dengan keterampilan menulis cerpen.

Semakin aktif siswa dalam belajar maka keterampilan menulis cerpen pun akan semakin meningkat. Dengan aktif belajar maka secara tidak langsung siswa akan semakin terasah kemampuannya dan kreatifitas yang dimiliki pun akan terus meningkat.

  1. Pengaruh Kebiasaan Membaca terhadap Keterampilan Menulis Cerpen

Berdasarkan hasil dari penelitian yang dilakukan, maka dapat diketahui bahwa kebiasaan membaca sedikit banyak mempengaruhi kemampuan menulis cerpen pada siswa. Bagi pemula banyak membaca literatur merupakan sarana untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam menulis cerita.

Dengan banyak membaca, menguasai teknik mengemas tema menjadi tulisan yang menarik akan mudah untuk dilakukan. Begitupun dengan membaca karya-karya yang telah ada, maka mengembangkan teknik menulis akan jauh lebih mudah.

  1. Pengaruh Keaktifan Belajar dan Kebiasaan Membaca Terhadap Keterampilan Menulis Cerpen

Menurut hasil dari uji data yang dilakukan, terlihat dengan jelas bahwa keaktifan belajar dan kebiasaan membaca membawa pengaruh baik pada keterampilan menulis cerpen siswa kelas V MI di Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun sebesar 52,9% dan sisanya sebesar 47,1% dipengaruhi oleh variabel lain di luar dari model penelitian ini.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Simpulan dirumuskan berdasarkan penelitian dan temuan penelitian yang telah dipaparkan di Bab IV, sedangkan saran ditujukan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan keterampilan menulis cerpen di sekolah.

  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan di depan, selanjutnya dapat dirumuskan beberapa simpulan sebagai berikut.

  1. Terdapat pengaruh keaktifan belajar terhadap keterampilan menulis cerpen pada siswa. Karena siswa memiliki kebebasan dalam berkreatifitas dan bereksperimen.
  2. Terdapat pengaruh kebiasaan membaca terhadap keterampilan menulis cerpen siswa karena berdampak pada keinginan  untuk membuat suatu karya dalam menulis cerpen.
  3. Terdapat pengaruh keaktifan belajar dan kebiasaan membaca terhadap keterampilan menulis cerpen karena adanya sinergi antara belajar yang aktif dan kebiasaan membaca yang tinggi.
  4. Saran

Peneliti mengajukan saran  untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen siswa MI, sebagai berikut:

  1. Guru memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk berkreativitas.
  2. Guru materi menulis cerpen hendaknya memberikan motivasi kepada siswa agar aktif.
  3. Guru hendaknya memberikan latihan dan praktek membaca secara rutin sesuai minat siswa.
  4. Guru materi menulis cerpen hendaknya mendorong siswa untuk rajin membaca karya cerpen.