Kisah terakhir tentang jalan hidup seorang Wolverine. Film ini dibungkus dengan nuansa yang paling kelam, kejam, dan melankolis di antara semua kisah X-Men yang pernah difilmkan, bahkan mengalahkan Deadpool sekalipun. Anda tak akan menemukan adegan-adegan action yang muncul dalam X-Men Apocalypse di sini, hanya gurun pasir penuh keputusasaan yang menjadi tempat-tempat peristirahatan terakhir bagi tim X-Men yang tersisa. Pertarungan yang disajikan begitu kejam dan keji, bola mata yang tertancap, hingga bagian-bagian kepala terbelah hingga seorang anak yang menenteng kepala seorang pria dewasa. Oleh karena itu, film ini tergolong 18+/Rated R. Logan, Charles, dan Caliban berjuang dalam keputusasaan tentang nasib dari ras mereka yang mulai punah, dan juga dari alzheimer yang diderita Charles.

Wolverine dan Charles semakin melemah dalam masa ini, kemampuan healing Wolverine mengalami degeneratif. Wajah Logan semakin menua, penglihatannya mulai kabur, pincang, pemabuk, dan luka-luka bekas pertarungannya pun melambat untuk sembuh sendiri. Sementara alzheimer Charles membuatnya kehilangan kebijaksanaannya, sering meracau, menyakiti pikiran orang lain, dan ketergantungan pada obat. Logan bekerja menjadi seorang supir hanya untuk membeli obat Charles agar ia berhenti meracau dan menyakiti pikiran orang lain. Suasana yang disajikan selama ¾ film berlangsung begitu gelap.

Charles Xavier: Logan.
Logan: I don’t want to talk about it.
Charles Xavier: Logan.
Logan: Just stop!

Charles Xavier: Logan, what did you do?
Logan: Charles, the world is not the same as it was. Mutants, they’re gone now.

(Logan membentak Charles)

Charles Xavier: When I found you… you were disfiguring your career as a cage fighter. A wrong calculated life of assassin. Smoking barbiturates. You were an animal. But we took you in. I gave you a family.
Logan: They are gone now.
Charles Xavier: Logan. Logan… What did you do? What did you do? Answer me! Why are we here? No one should live like this. Drugged in a fucking tank!
Logan: It’s for your own good.
Charles Xavier: No no, it’s not! You’re waiting for me to die.

Charles meramalkan bahwa akan ada seorang gadis seperti Logan yang akan menjadi harapan baru bagi ras mutant, tetapi Logan mulai tidak percaya lagi pada Charles. Ia berpikir bahwa semua itu hanyalah racauan belaka Charles. Charles begitu patah hati, Logan mencampakan dan mengurungnya dalam sebuah dum besi agar ia tidak menyakiti pikiran orang lain lagi karena penyakitnya yang membuat ia tak dapat mengontrol kemampuannya.

Suasana kelam tersebut menjadi semakin suram ketika Logan dikunjungi seorang bekas perawat bernama Gabriela. Ia membawa seorang gadis bernama Laura, anak berusia 11 tahun bekas percobaan laboratorium yang ia bebaskan dari lab rahasia. Donald memburunya untuk memusnahkan senjata yang ia buat sendiri. Gabriela sudah terlanjur memiliki kasih sayang terhadap Laura dan memohon kepada Logan untuk membawanya. Mulanya Logan tidak percaya dan mencampakannya hingga akhirnya Gabriela ditemukan mati ketika Logan kembali, Laura menyelinap masuk ke dalam mobil Logan dan terbawa hingga tempat persembunyian. Dalam ponsel yang ditemui Logan, Gabriela memberi pesan ada suatu tempat yang bernama Eden, di mana mutant dapat hidup dengan damai. Logan menganggap itu hanya dongeng tolol.

Donald dengan mudah melacak Laura yang bersembunyi di peristirahatan Logan, dalam penyerbuan tersebut Logan tercengang bahwa Laura memiliki kemampuan yang sama dengannya. Dua cakar adamantium Laura dengan sadis mencincang pasukan Donald. Dalam pengejaran, Charles mengatakan bahwa Laura adalah anak perempuan Logan yang diambil dari DNAnya, Logan masih terus mengelak. Sayangnya Caliban disandra dan dipaksa untuk melacak Logan dan Charles, dengan kejam Donald membakar Caliban dengan sinar matahari untuk buka mulut.

Logan, Charles, dan Laura akhirnya kabur dan secara tak sengaja dijamu oleh sebuah keluarga dari sebuah Dusun karena menolong kuda-kuda mereka yang kabur dari mobil. Ini adalah sebuah Last Supper yang melankolis bagi Charles dan keluarga tersebut. Charles merasa terharu pada perjamuan terakhir tersebut, keluarga tersebut menjamu mereka dengan penuh kehangatan. Suatu hal yang telah lama tak lagi dirasakan oleh Charles yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun ketika dirinya dikurung di dalam dum besi. Charles menyatakan penyesalannya atas kesalahan yang ia lakukan hingga membuat 7 anggota X-Men tewas karena penyakitnya.

Charles Xavier: This is what life looks like. People who love each other, our home. You should take a moment. Feel it. You still have time.

Charles Xavier: You know, Logan? This was without a doubt… the most perfect night I’ve had in a very long time. But I don’t deserve it. I did something… Something unspeakable. I have remembered what happened in Westchster. This is not the first time I have hurt. Until today, I did not. You wouldn’t tell me. So we just, kept from… running away from. I think I finally understand you. Logan…

Seperti biasa, Donald berhasil menemukan tempat persembuyian Logan. Donaldmenyelinapkan X-24, sebuah kloningan Wolverine yang jauh lebih kuat dibanding Logan yang sudah renta. Penyamaran X-24 berhasil mengelabuhi Charles, ia membunuh Charles dan seluruh penghuni rumah tersebut. Laura berhasil diikat dan dibawanya pergi. Logan begitu kaget melihat X-24 yang begitu menyerupai dirinya. Pertarungan keji pun tak terelakan, cakar duo wolverine tersebut memuncratkan dan membanjiri darah-darah. Caliban yang ditahan melakukan bunuh diri dengan meledakan granat yang berhasil melengahkan seluruh kru Donald dan X-24. Logan membawa kabur Laura dengan segala kesedihannya ketika ia harus mengakui bahwa Charles, mentor dan satu-satunya kawan lamanya yang tersisa harus mati. Frustasi, putus asa, dan dengan luka yang tak kunjung sembuh semakin menusuk hatinya hingga membuat Logan terkapar di jalan raya. Akhirnya Laura berhasil membujuk agar Logan mengantarkannya menuju tempat yang dimaksud Gabriela, di mana mutant-mutant eksperimen yang tersisa bersembunyi. Tak ada tujuan hidup lagi, Logan pun mengantar Laura. Perlahan Logan mulai timbul perasaan kasih sayang terhadap Laura.

Mereka pun akhirnya tiba di tempat yang dimaksud Gabriela. Donald pun kembali menemukan Logan. Para mutant yang ditemui Laura bekerja sama berhasil membunuh Mr. Rice dan Donald, akan tetapi naas bagi Logan yang harus menghadapi X-24. Kemampuan healing yang hilang membuatnya kewalahan menghadapi X-24. X-24 akhirnya menyeret Logan dan membantingnya pada sebuah patahan pohon yang runcing. Logan mati, wolverine sudah tiada. Laura menembak kepala X-24 dengan peluru adamantium saat ia lengah membantai Logan hingga mati. Inilah akhir dari Wolverine yang konon abadi, denga terengah-engah sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Logan mengatakan kepada Laura bahwa akhirnya ia dapat merasakan kematian.

3/4 adegan film ini berhasil dibungkus dengan epik dan nyaris sempurna, unsur kelam, gelap, dan sedikit noir mampu membuat para penonton merinding. Akan tetapi, 1/4 terakhir film malah menjadi kurang klimaks. Ending kematian Wolverine, yang telah menemani penggemar X-Men selama kurang lebih 16 tahun, berakhir kurang dramatis. Adegan kematian yang lebih dramatis justru muncul ketika Charles terbunuh. Sayang sekali, film tidak dapat ditutup secara sempurna seperti Days of Future Past. Skor 7.5 dari 10 saya berikan kepada film Logan dan James Mangold. Selain itu, film ini juga kurang menjelaskan pertanyaan-pertanyaan dari film X-Men sebelumnya yang saling kontradiktif, terutama mengenai timeline.

Film ini terinspirasi dari komik yang berjudul The Old Man Logan dan The Death of Wolverine, komik yang mengisahkan bagaimana seorang Wolverine harus melepas gelar keabadiannya dan betekuk lutut di hadapan maut. Patrick Stewart pun menangis ketika menonton ulang filmya sendiri. Sedih? Kelam? Gelap? Mungkin, tetapi ini adalah sebuah perpisahan dan akhir yang nyaris sempurna untuk menutup kisah Wolverine dan Hugh Jackman di layar kaca. Dalam film dikisahkan bahwa Logan merasakan kehidupan yang suram semenjak masa kecil hingga titik terkakhir hidupnya. Hugh, seorang aktor yang membuat peran Wolverine tak dapat dimainkan oleh aktor lainnya. Rest in Peace Wolve dan Hugh!

Written by A Yoseph Wihartono

Still young and alive

1 Comment

Comments are closed.