Tujuh hari sudah kami mendaki jalur Utara Pegunungan Hyang, Jawa Timur. Tak tersedianya sumber air di jalur Utara membuat kami hanya bergantung pada perencanaan air, akan tetapi panasnya Jawa Timur merusak banyak perencanaan itu. Kegaduhan terjadi ketika semuanya hampir putus asa. “ADA AIRRR WOYYY!!! AIRRR!! ADA AIRRRR!!!” teriak John, salah seorang anggota perjalanan.

John berjalan paling depan di barisan rombongan. Dia menemukan mata air yang mengalir di sebuah sungai musiman yang berbentuk parit kecil. Beberapa dari kami masih tak percaya dan berpikir mereka yang di depan itu bercanda. Sebab berdasarkan peta Bakosurtanal, mata air yang kita temui itu adalah sungai musiman yang umumnya menjadi kering saat musim kemarau, sementara sungai besar yang telah kami periksa sebelumnya kering.

Temuan ini mengakhiri dahaga kami dalam pendakian yang diberi label ‘Perjalanan Panjang Calon Anggota Mapala UI’ selama 11 hari di Pegunungan Hyang, pada Agustus 2015 lalu. Jalur pendakian sejauh 20 Km ini menjadi tantangan tersendiri bagi 26 orang anggota dan 13 mentor, lantaran saat itu masih musim kemarau. Pengaturan penggunaan air menjadi strategi yang tak bisa diabaikan. Bukannya tanpa perencanaan. Tapi sulitnya medan dan teriknya matahari di musim kemarau membuat kami kewalahan mengelola air yang kami bawa. Akan tetapi di atas semua itu, diakhir perjalanan ada suatu kesadaran dalam diri saya bahwa perjalanan ini telah memberikan semacam pencerahan mengenai keindahan alam dan busaya terpecil di Indonesia yang masih belum tergali.

Rute baru di Pegunungan Hyang menunju Argopuro

Pegunungan Hyang merupakan salah satu barisan pegunungan terpanjang di Indonesia, masih cukup banyak potensi sumber dayanya yang belum diangkat. Oleh karena itulah, perjalanan panjang kami ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi-potensi alam dan sosial budaya di Pegunungan Hyang. Kami memilih rute sebelah Utara yang belum pernah dilalui dengan harapan dapat menemukan potensi yang dapat digali. Untuk menembus rute yang belum pernah dilalui ini, dibutuhkan perencanaan dan kemampuan dasar di alam bebas yang cukup matang. Pada perencanaan awal yang disusun leader perjalanan ini, rute awal kami sebenarnya adalah 38 Km hingga turun di Selatan Pegunungan Hyang dengan estimasi 12 hari, serta perencanaan logistik hingga 15 hari. Akan tetapi dalam perjalanan tersebut, begitu banyak perubahan rencana yang terjadi.

Perjalanan panjang kami dimulai dari Dusun Rabunan (325 mdpl), Probolinggo. Sebuah dusun terpencil di paling ujung Pegunungan Hyang sebelah Utara. Mayoritas penghuni dusun tersebut adalah orang Madura, hanya sebagian kecil dari mereka yang fasih berbahasa Indonesia. Mata pencaharian mereka masih sangat tradisional, yaitu bertani dan berternak, oleh karena itu seluruh rumah di dusun ini seluruhnya dikelilingi oleh sawah-sawah. Dusun ini terletak di lembahan besar yang diapit oleh dua barisan pegunungan, oleh karena itu pemandangan di sini begitu eksotis. Ke mana pun saya menengok terlihat barisan pegunungan yang dirambuti oleh pepohonan-pepohonan.

Perempuan-perempuan dewasa di dusun ini tidak hanya mengurusi pekerjaan domestik saja, mereka juga turut pergi bertani. Di pagi hari perempuan-perempuan tersebut nampak tangguh dengan membawa celurit, juga gulungan kayu dan ilalang yang ukurannya empat kali tubunya sendiri. Base camp kami menjadi tontonan banyak orang di sana, mungkin hal tersebut disebabkan jarangnya orang asing yang datang ke Dusun Rabunan. Akan tetapi tak apa, ketertarikan mereka terhadap kehadiran kami menciptakan suasana yang nyaman atas penerimaan tersebut, sebab seringkali kami juga dijamu makanan dan minuman. Mereka selalu terlihat ramah dengan kehadiran kami saat itu.

12 Agustus adalah hari di mana perjalanan panjang kami dimulai. Perjalanan awal adalah salah satu yang paling menantang dan sulit, itu adalah pertama kalinya saya mengangkut ransel yang beratnya melebihi 2/3 tubuh, seberat 38 kg dengan berat saya 50 kg, padahal normalnya seseorang itu hanya mengangkut 1/3 berat tubuhnya. Mendaki dengan beban seperti itu membuat pergerakan kami sangat lambat. Panasnya hari pertama juga membuat tim besar kalap dalam penggunaan air sehingga besoknya dari Camp I (825 mdpl) terpaksa kami harus mengutus beberapa anggota (meskipun sempat mengeluh) turun ke bawah hanya untuk mengambil air, sesuatu yang memang harus dilakukan karena dengan pergerakan lamban seperti ini kemungkinan kami baru dapat mencapai sumber air pada hari ketujuh.

Selain panasnya cuaca dan beratnya ransel yang kami bawa, rintangan lainnya di hari-hari awal ialah rapatnya vegetasi bambu. Ransel-ransel kami seringkali terhadang atau pun tersangkut sehingga pergerakan menjadi lambat. Setiap hari kami semakin beradaptasi dengan kondisi yang menghadang sehingga pergerakan kami lebih cepat daripada hari-hari sebelumnya. Setelah melewati hutan bambu itu, kami mencapai puncak Gunung Santung (2044 mdpl). Gunung Santung bukanlah gunung yang terkenal, bahkan nama Gunung Santung pun tak ada di mesin pencari internet google, but it’s a special peak! Salah satu potensi keindahan alam yang kami temui. Di sekeliling manapun saya melihat, semua pemandangan terasa begitu menakjubkan dari sini, sebab saya dapat berdiri lebih tinggi dari awan-awan, di seberang kami juga terlihat barisan pegunungan tipis yang memanjang hingga ke puncak Hyang, kami dikelilingi oleh edelweiss, bunga-bunga berwarna putih, dan ilalang-ilalang keemasan. Dari sini saya juga dapat melihat puncak-puncak tertinggi di Jawa Timur maupun Jawa Tengah, bahkan dihadapan Selatan pun sudah membentang igir-igir yang langsung mengarah ke puncak Hyang. Akan tetapi indahnya igir-igir[1] Gunung Santung ternyata merupakan neraka di esok siang.

Esok pagi kami mulai menjajal igir-igir Santung, akan tetapi Igir-igir tersebut ternyata tidak membiarkan kami lewat dengan mudah, cuaca sejuk di pagi hari berubah menjadi panas yang begitu membara. Sesekali kami harus berjalan melipir ke pinggir jurang karena bebatuan tinggi yang menghadang. Semua perencanaan penggunaan air siang itu chaos. Lagi-lagi kami kalap menggunakan persediaan air yang semakin menipis, air yang sengaja saya simpan dalam-dalam di dasar ransel agar saya malas mengambilnya demi penghematan pun sia-sia. Seperti kesetanan saya merogoh-rogoh packing-an sendiri demi seteguk air untuk membasahi kerongkongan. Ilalang yang kami lewati juga malah memantulkan panasnya matahari saat itu sehingga kami menerima serangan panas dari atas dan bawah. Suatu kali juga saat saya benar-benar tidak tahan dengan panas itu, saya menjatuhkan ranselku dan meringkuk di samping ransel sehingga panas matahari tidak memanggang. Terkadang awan dan angin sejuk sesekali datang meredakan panasnya matahari, baru kali ini saya benar-benar merasakan nikmatnya ditutupi awan sambil diterpa angin. Saya tak menyangka igir-igir ini cukup merusak perencanaan kami.

Lepas itu, yang perlu kami lalui untuk menuju puncak Hyang adalah mendaki punggungan[2] setinggi 900 meter, dibalik puncak Hyang terdapat mata air yang menunggu kami. Tetapi punggungan yang satu ini tidak membiarkan kami lewat dengan mudah. Hal tersebut nampak jelas dari lebatnya vegetasi yang menghadang. Mulai dari sini kami benar-benar harus merintis jalur kembali. Igir-igir Santung hari itu sudah benar-benar menguras tenaga kami, kami hanya mampu membuka jalan naik hingga 150 meter dalam waktu 4 jam.

Untuk mencapai puncak Hyang (2.910 mdpl), kami masih harus melewati jarak tempuh sekitar 2,2 Km dan menanjak 750 meter lagi dengan kondisi jalur yang vegetasinya sangat rapat dan belum pernah dilalui siapa pun. Batang-batang semak yang rapat sulit sekali ditembus, sepanjang perjalanan kondisi jalan selalu seperti itu. Kesengsaraan kami bertambah dengan adanya musuh baru, yaitu jancukan. “ANJIRRR!!! Ini taneman jelek banget rupanya, dari daun sampe batangnya berduri semua,” ucap John mendeskripsikan. Percuma dengan jaket ataupun sarung tangan karena sengatan jancukan tetap akan menembus kulit. Para perintis jalur biasanya akan mengeluarkan sumpah serapah ketika menyentuh jancukan ini.

Hari itu adalah hari yang paling berat dalam perjalanan ini, persediaan air sudah tidak mecukupi untuk 2 hari ke depan. Cara kami melakukan penghematan air juga terlihat menyedihkan, di situasi panas dan masih harus buka jalur, kami hanya minum sedikit-sedikit melalui tutup botol agar kami tidak kalap saat minum air. Vegetasi selepas ketinggian 2.400 mdpl mulai berubah, bambu-bambu rapat yang silih berganti menjadi semak belukar setinggi 2 meter betul-betul menghalangi. Semak-semak itu begitu gelap, dengan suatu keharusan saya berjalan menembusi gelapnya belukar tinggi itu. Cara yang kami tempuh untuk melalui rapatnya hutan adalah dengan ngotot menyingkirkan semak-semak tebal itu dengan tangan, bahkan juga memaksa tubuh saya untuk menerobos semak itu. Sesekali ketika giliran saya membuka jalur, jancukan atau ranting-ranting tajam membentuk goresan-goresan luka di tangan. Jalur yang kami tembus itu nampak membentuk sebuah lorong gelap menembus semak belukar. Ade sebagai leader harian agak pesimis hari itu, “Duh rapet banget dah, gak yakin gw bisa sampe malem ini.” Vegetasi-vegetasi tersebut melilit ransel atau pun kaki saya. Berjalan di depan benar-benar sangat menyesakan, abu dari gunung Raung, debu-debu bekas kebakaran di Argopuro, dan serbuk-serbuk tanaman benar-benar mencekik pernapasan. Saya mendaki sambil terbatuk-batuk.

Saya rasa penyebab lamanya perjalanan ini juga adalah karena faktor mental calon anggota yang minim pengalaman menjelajahi medan seperti ini, mendaki di tempat lebat yang tak seorang pun pernah lalui begitu berat bagi pemula. Meskipun ransel kami tidak seberat diawal, kondisi medan seperti ini membuat kami berjalan seperti kura-kura. Di ketinggian 2.650 mdpl vegetasi mulai pendek dan tidak serapat sebelumnya, tetapi asa kami sudah mulai robek sehingga pergerakan semakin melambat. Di vegetasi yang mulai terbuka ini saya menengok ke belakang dan melihat diri sendiri berdiri di atas awan, orange-nya senja, dan indahnya igir-igir Santung dapat terlihat. Berdiri di tempat di mana tak seorang pun sebelumnya pernah melihat pemandangan dari sini, tetapi pemandangan itu terasa tidak nikmat dengan kondisi kami yang sekarang.

Hari mulai gelap, senja berganti menjadi malam, itu pertama kalinya kami mendaki tanpa matahari. Ketika kami berada di ketinggian 2.750 mdpl, Ade yang entah mengapa menjadi optimis dengan yakin memaksa tim terus mendaki, “Udah, kita lanjutin aja, emang udah deket kok tinggal 150 meter nanjak lagi!”. Tiba-tiba Fadli selaku Leader utama menghentikan perjalanan kami, “Nggak, kita nge-camp aja! Bahaya trekking malem, udah buka flysheet aja!” dia memutuskan kami untuk tidak melanjutkan perjalanan dan mendirikan camp meskipun sebenarnya saya yakin tidak masalah jika kami tetap berjalan hingga tiba di puncak Hyang.

Di pagi selanjutnya tanggal 19 Agustus, dengan jarak sudah dekat dan vegetasi yang mulai pendek, kami tiba di puncak Hyang dengan ketinggian 2.910 mdpl. Kami sempat kecewa karena sungai utama yang diperkirakan mengalir ternyata telah menjadi kering, akan tetapi ketika kami memeriksa mata air lain yang diduga sebelumnya kering ternyata malah tersedia sumber airnya. Saya berlari kegirangan seperti anak kecil ketika menuju sumber air itu. Sumber air itu menyerupai parit kecil yang mengalir, langsung saja saya minum sambil mengguyur kepala yang sudah tak tersentuh air selama seminggu di hutan. Baru kali ini saya begitu bersyukur saat meminum air. Hingga di sinilah upaya kami merintis jalur berakhir.

Setelah dari sumber air tersebut, kami beranjak menuju savana lonceng yang berada di bawah puncak Argopuro (3.088 mdpl). Perjalanan dilalui dengan mudah sebab kami telah berada di jalur pendakian umum. Setelah itu terjadi beberapa perubahan yang membatalkan rencana turun melalui punggungan Selatan dan mengharuskan kami turun melalui Emergency Exit Point (EEP). Hal tersebut disebabkan karena perencanaan logistik kami yang tidak berjalan sesuai dengan rencana sehingga tidak akan mencukupi jika kami turun lewat Selatan. Waktu yang dibutuhkan untuk turun ke Selatan sekitar 7 hari, sementara logistik yang tersisa hanya sekitar 4 hari saja.

Ketika itu terjadi sedikit perdebatan tim besar. Fadli memaksa dengan optimis bahwa kami masih dapat turun lewat Selatan. Irvan berargumen dengan pesimis, “Nih, coba lo itung baik-baik, jumlah logistik gak bakalan cukup buat 26 orang sampe 7 hari ke depan!” Sambil menunjukan perhitungan logistiknya di kertas. Perdebatan berlangsung cukup lama hingga akhirnya leader perjalanan memahami bahwa kenyataannya logistik tersebut tidak akan cukup untuk 7 hari ke depan.

Dari situ kami masih menghabiskan sekitar 4 hari lagi hingga turun melalui EEP. Jalur Bremi yang dipilih sebagai EEP kami karena merupakan jalur pendakian umum yang cukup mudah dilalui. Empat hari yang tersisa itu kami manfaatkan untuk mendokumentasikan potensi alam yang ada di savana lonceng dan puncak-puncak sekitarnya, lalu ke Kawah Taman Kering, dan Danau Taman Hidup. Hari kesebelas adalah hari terakhir kami di Gunung, paginya saya merenungkan bahwa perjalanan yang telah kami lalui sebagai calon anggota begitu menarik.

Dalam perjalanan ini sebenarnya saya paling sering berbeda pendapat dengan PJ Teknis, akan tetapi jika dipikir ulang dia adalah orang yang paling bersemangat dalam tim, segala kekesalan padanya sebenarnya hanya karena perbedaan pendapat. Dia adalah salah satu nyawa tim dalam perjalanan ini yang paling optimis, jika dibandingkan dengan saya dan anggota lainnya yang sering pesimis, namun beberapa kali saya melihat ia juga begitu pesimis. Segala perbedaan pendapat dengannya adalah sesuatu yang berkesan dalam perjalan ini, jika PJ Teknisnya bukan dia, maka perjalanan ini akan datar-datar saja tanpa ada gesekan emosional. Perjalanan 11 hari ini benar-benar menunjukan betapa liarnya setiap individu ketika berada di luar zona nyamannya, saya mungkin tidak akan pernah melihat diri sendiri maupun teman-temanku sama seperti yang terlihat selama sebelas hari di gunung. Kami mungkin memang tidak mampu mencapai semua checkpoint dan turun melalui jalur Selatan, mungkin beberapa bilang kami gagal, tetapi jika berdasarkan cara pandang si Ed Vieuster, sebenarnya kami berhasil menjalankan kewajiban utama dalam suatu perjalanan, yaitu kembali dengan selamat. Sebenarnya masih banyak sekali kisah menarik selama perjalanan, namun nampaknya itu akan menjadi buku tebal jika memang harus dituliskan. Hari-hari luar biasa kami mungkin telah berakhir, tetapi semua ingatan tentang ini akan terus berbuah menjadikan kami seseorang yang belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Bagi saya terlepas dari segala rintangan dan kesulitan yang kami temui, perjalanan ini membuka mata saya mengenai potensi alam Indonesia yang saya yakin tidak kalah dengan potensi alam luar negeri. Menjelajahi sudut-sudut Indonesia yang tak pernah ditelusuri bagaikan perjalanan untuk pulang kembali ke rumah sendiri yang terkesan asing. Mengingat belakangan ini kecenderungan kami sebagai pemuda Indonesia yang lebih mengagumi keindahan bangsa asing, sebuah penyakit akut yang secara subjektif saya anggap menyerang pemuda Indonesia saat ini.

Menjelajah lerung-lerung Indonesia yang tak pernah ditelusur menyingkirkan paham xenosentrisme (konsep sosiologi yang menjelaskan pemahaman mengangung-agungkan kebudayaan asing) yang menyerang pemuda seperti kami, sebagai suatu penyakit akut masyarakat dari dunia ketiga. Xenosentrisme membuat para pemuda Indonesia tidak lagi menghargai keunikan dan keberagaman alam maupun budaya bangsanya sendiri. Perjalanan ini mungkin bukan petualangan Neil Armsrong ke Bulan, penaklukan Ed Hillary ke puncak Everest, atau pun Marcopolo menjelajahi dunia, akan tetapi sebagai perjalanan untuk pulang kembali ke rumah sendiri yang sudah menjadi asing.

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” – Soe Hok Gie

[1] Bentangan alam tipis memanjang yang menyatukan puncak-puncak di pegunungan, di sisi kanan mau pun kirinya biasanya curam dan terjal, bahkan terkadang menyerupai jurang.

[2] Bentangan alam di pegunungan yang memiliki posisi tanah lebih tinggi dibandingkan posisi tanah di kedua sisinya. Umumnya pendakian gunung melalui pendakian.

Written by A Yoseph Wihartono

Still young and alive