Sumber: edynamiclearning.com

Sumber: edynamiclearning.com

Kriminologi adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan mengkaji tentang kejahatan (bukan belajar menjadi penjahat atau berbuat kejahatan) atau penyimpangan, sebab kejahatan dan penyimpangan dianggap sebagai suatu gejala sosial yang mempengaruhi stabilitas sosial, sekaligus merugikan dan tidak diterima oleh masyarakat. Hasil penelitian dan kajian tersebut tentunya akan berguna dalam memahami, merumuskan solusi, dan pencegahan terhadap kejahatan. Dari penjelasan tersebut, jelaslah bahwa tugas kriminolog adalah melakukan berbagai penelitian dan kajian tentang kejahatan untuk menjelaskan, menjawab, serta memprediksi permasalahan, pertanyaan, dan problema tentang kejahatan. Kriminologi tidak hanya membahas kejahatan berdasarkan dari perspektif hukum pidana saja, melainkan juga dari perspektif jahat dan menyimpang yang dianut oleh berbagai jenis masyarakat dan filsafat sosial. Studi kriminologi ini dapat diperoleh melalui berbagai macam pendekatan ilmu, seperti hukum pidana, psikologi (psikoanalisis), ekonomi, biologi (natural born crime), kedokteran (forensik), demografi, serta yang paling utama adalah sosiologi. Namun untuk dapat menjelaskan kejahatan secara lebih luas dan mencakup berbagai konteks, maka dewasa ini, dipilihlah sosiologi sebagai basis kriminologi. Ruang lingkup yang menjadi objek dan fokus perhatian yang dipelajari dalam kriminologi meliputi; kejahatan, pelaku kejahatan, korban, dan ‘reaksi sosial masyarakat terhadap kejahatan, korban, dan pelaku’ (square of crime). Kriminologi tidak berbicara mengenai kejahatan dari perspektif masyarakat secara umum (common sense) saja, melainkan berusaha untuk menjelaskan kejahatan melalui perspektif yang ‘beyond common sense’, yaitu penjelasan yang berdasarkan kacamata akademis dan tinjauan yang lebih jauh menggunakan teori dan metode penelitian sosial.

Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu memahami dahulu pengertian dari kejahatan dan penjahat itu sendiri. Menurut sosiologi, kejahatan adalah suatu perbuatan yang dianggap menyimpang dari nilai & norma yang berlaku di masyarakat yang menimbulkan kerugian dan tidak dapat ditoleransi lagi. Sementara penjahat adalah orang yang melanggar hukum pidana atau nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

www.usf.edu

www.usf.edu

Ilmu pengetahuan ini tidak hanya mempersoalkan si pelaku dan perbuatannya melulu, melainkan juga mempersoalkan adanya pengaruh, tekanan, dan kekuatan yang berada di luar si pelaku yang dapat mempengaruhinya melakukan suatu kejahatan. Selain itu, kriminologi juga mengkaji bagaimana suatu perbuatan dapat diidentifikasi sebagai kejahatan di suatu tempat, sementara di tempat lain dipersepsikan bukan sebagai kejahatan (berdasarkan pandangan interaksionis dan postmodern). Oleh karena itu, kriminologi (secara filosofis, sosiologis, dan antropologis) berusaha lebih jauh memahami (dengan teori dan metode) bagaimana suatu peristiwa bisa dikatakan sebagai suatu kejahatan dan bagaimana seseorang bisa dipersepsikan menjadi seorang penjahat.

Studi kriminologi ini diperoleh melalui penelitian yang sistematis yang telah berlangsung selama ratusan tahun sehingga layak disebut sebagai ilmu pengetahuan. Selama upaya pencarian sebab-sebab kejahatan yang telah berlangsung cukup lama tersebut, menyebabkan adanya cukup banyak paradigma/perspektif/aliran yang berusaha untuk menjelaskan terjadinya kejahatan. Namun dari semua sudut pandang yang berusaha menjelaskan kejahatan, tidak ada satupun yang bisa menjelaskan kejahatan secara universal/umum/menyeluruh. Hal ini disebabkan karena kejahatan itu memiliki sifat relatif/nisbi/kontingen (bisa tergantung menurut tempat, waktu, dan situasi), pada konteks tertentu suatu peristiwa dapat dikatakan sebagai suatu kejahatan, tetapi pada konteks lainnya tidak. Fenomena kejahatan yang bersifat relatif menyebabkan tidak adanya penjelasan atau penafsiran yang memiliki makna tunggal, oleh karena itu kejahatan harus dipahami dari berbagai cara yang ada untuk menerangkannya. Semakin banyak perspektif yang disediakan dalam kriminologi untuk menerangkan fenomena kejahatan, akan semakin membantu seorang kriminolog memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang kejahatan.

Perlu diketahui juga, bahwa kejahatan adalah hal yang mustahil untuk ditiadakan, sebab masyarakat itu begitu majemuk dan dinamis, selalu terdapat berbagai pertentangan, perbedaan, dan ketimpangan yang dengan mudah memicu penyimpangan, persepsi negatif (prejudice), dan konflik yang menghasilkan peristiwa kejahatan. Oleh karena itu Emile Durkheim mengatakan, “Kejahatan itu adalah suatu gejala masyarakat yang normal”. Sebab dengan memberi label suatu tindakan adalah sebuah kejahatan, membuktikan bahwa manusia dan masyarakat adalah mahluk bermoral yang memiliki definisi tentang benar dan salah.

Tujuan mempelajari studi kriminologi adalah untuk memahami, menganalisis, memprediksi, dan memberikan solusi pada berbagai konteks kejahatan dan penyimpangan. Dengan kata lain, seorang kriminolog (ahli kriminologi) harus mampu menjelaskan berbagai konteks kejahatan & penyimpangan tanpa mendistorsi (memalsukan) fakta kejahatan serta memberikan tanggapan yang bersifat solutif. Pekerjaan kriminolog sebenarnya kurang lebih sama seperti sosiolog dan antropolog. Pemahaman teoritis dan metodologis yang dimiliki oleh kriminolog berfungsi sebagai input dalam berbagai perumusan kebijakan publik, undang-undang, dan hukum pidana yang berguna sebagai penafsiran sosial, kontrol sosial, dan menciptakan cara penghukuman yang tepat, tentunya kesemuaannya itu untuk mengurangi peristiwa kejahatan, penyimpangan, dan konflik pada masyarakat.

Sumber: pbs.twimg.com

Sumber: pbs.twimg.com

Kriminologi di Indonesia

Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki program studi kriminologi hingga saat ini (2015). Di Indonesia sendiri hanya ada tiga universitas yang menyelenggarakan program studi kriminologi, yaitu Universitas Indonesia (UI), Universitas Islam Riau (UIR), dan Universitas Budi Luhur (UBL). Namun, studi kriminologi yang paling dewasa di Indonesia hingga kini masih berada di Departemen Kriminologi Universitas Indonesia yang usianya sudah mencapai setengah abad.

Studi kriminologi di Indonesia sebenarnya masih kurang diminati hingga kini, mengingat disiplin ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, dan psikiatri dianggap tidak marketable, profitable, dan prestigeable. Studi kriminologi hanya terbilang eksis di bawah jurusan hukum pidana, di mana kriminologi hanyalah sebagai ilmu bantu alias mata kuliah yang hanya berbobot beberapa SKS di Fakultas Hukum. Maka dari itulah pengetahuan akan studi kriminologi di Indonesia masih sangat tabu dan masih banyak yang salah mengartikannya. Sebagian besar orang awam menganggap bahwa tugas seorang kriminolog serta prospek kerjanya adalah bertugas sebagai detektif, intel, aktor yang menangkap penjahat, atau semacamnya. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Sebab kriminologi yang dipelajari di universitas atau perguruan tinggi adalah suatu disiplin ilmu yang sifatnya akademis (teoritis dan metodologis), bukan praktisi. Seorang mahasiswa kriminologi akan lebih diarahkan kepada penelitian dan analisis untuk memahami secara hati-hati, menjelaskan kasus-kasus kejahatan, dan melakukan analisis yang solutif ketimbang teknik-teknik untuk menangkap penjahat.

Prospek kerja kriminologi terbilang masih cukup langka di Indonesia, namun sarjana lulusan kriminologi dibutuhkan di beberapa lembaga pemerintah (jika berdasarkan lowongan yang tersedia di CPNS), seperti KPK, BNN, BIN, Polri, BNPT, KPP-PA, Departemen Hukum & HAM, dan Dirjen Permasyarakatan. Lowongan di perusahaan swatsa juga sudah mulai tersedia, misalnya seperti Fraud Investigator, Aviation Security Inspector (di Bandara), Perlindungan Konsumen, dan System Management Security. Sementara di media massa, seorang kriminolog yang memliki kemampuan jurnalistik dibutuhkan untuk mengolah dan menafsirkan newsmaking criminology tanpa mendistorsi suatu kejahatan dari kenyataan. Umumnya dapat juga bekerja sebagai peneliti atau analis LIPI, LSM, dan YLBHI. Namun dari kesemuaannya itu, kemampuan dan pemahaman kriminolog yang sebenarnya dapat berguna untuk mengkoreksi dan merumuskan (input) hukum pidana dan berbagai kebijakan lainnya yang dianggap masih belum sempurna dan relevan. Sayangnya, hingga kini institusi pemerintahan dalam eksekutif, legislatif, dan yudikatif (output) kurang memberi ruang dan kesempatan bagi para ahli ilmu sosial seperti kriminolog, antropoolog, dan sosiolog.

Disusun oleh: Seorang Mahasiswa Kriminologi Universitas Indonesia 2013

Written by A Yoseph Wihartono

Still young and alive