Mudah – mudahan tahun ini menjadi tahun terakhirku di UI -semester ini-. Jadi aku lulus pas 4 taon..
Amin….
Mudah – mudahan tahun ini menjadi tahun terakhirku di UI -semester ini-. Jadi aku lulus pas 4 taon..
Amin….
Teman khayalan yang membuka pintu bagi masa depan. Beatrix Potter dikaruniai talenta berharga yang ia kembangkan dengan hasil yang sangat memuaskan. Saya baru saja menonton sebuah film yang memberi saya inspirasi.
Beatrix Potter yang kegemarannya adalah mengarang cerita dongeng dan membuat karakter hewan – hewan yang lucu, dibesarkan dalam keluarga yang sangat mapan. Ketika usianya mencapai tiga puluh tahun belum juga ada pria yang menikahinya, meskipun ibunya telah berusaha dengan mempertemukannya dengan pria – pria yang terpandang dan berasal dari kalangan atas.
Beatrix yang kreatif ini tidak tinggal diam dengan potensi yang ia punya. Ia keluar, mencari agen yang dapat mempublikasikan karyanya. Hasilnya, hingga saat ini masih dapat dijumpai cerita – ceritanya yang banyak memberi pelajaran dan teladan, khususnya bagi anak – anak.
Setelah menonton film ini saya jadi teringat akan salah satu binder yang saya punya. Binder yang dibelikan oleh ibu saya ketika berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan studi. Sebuah binder bergambar keluarga kelinci di bawah pohon besar dan bertuliskan “THE WORLD OF PETER RABBIT, The adventures of naughty rabbit from Beatrix Potter’s story book”. Sang ibu kelinci sedang menidurkan anaknya di tempat tidur kecil sedangkan tiga ekor kelinci lain berdiri mengelilingi sebuah mangkok, di samping mereka terdapat sekeranjang wortel dan sebuah cerek. Gambar yang menarik dan cantik. Saya telah lama menyukai cover binder ini dan setelah melihat Miss Potter (the movie) saya baru mengetahui kalau gambar ini dibuat oleh seseorang yang istimewa, dan begitu pula dengan Peter Rabbit-nya.
Dibagian belakang bawah cover tertulis “BEATRIX POTTER™©Frederick Warne & Co.2004”. Warne tentu saja adalah nama percetakan yang pertama kali mencetak buku cerita bergambarnya di awal abad 20 silam. Selanjutnya Beatrix dan Norman Warne, yang merupakan pendatang baru dalam bisnis percetakan memutuskan untuk menikah. Rencana yang baik ini tidak terwujud karena Norman sakit dan akhirnya meninggal.
Beatrix dikenang dengan buku – buku dan gambar – gambarnya. Ia pun memberikan 4000 ha tanah pertaniannya bagi warga Inggris. Ia betul – betul seseorang yang sangat diberkati. Saya teringat pada sebuah ayat di Perjanjian Baru:
“Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”
Matius 25:20-21
Sebuah pesan yang saya dapat adalah bahwa Tuhan menjanjikan damai sejahtera dan kebahagiaan yang besar dengan-Nya, ketika kita melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan mengembangkan setiap talenta yang telah Ia percayakan pada kita sebagai para pekerja-Nya. Meskipun mungkin bagi orang lain talenta itu kelihatan kecil dan tidak berguna, jika kita menganggap itu istimewa dan positif, kita patut mengembangkannya bagi Dia.
Aku mendapat pelajaran yang sangat berharga setelah membaca salah satu cerita pendek karya Leo Tolstoy yakni Aloysha. Dikisahkan tentang seorang anak desa yang dari luar tampak tolol dengan penampilan fisik yang tidak menarik. Aloysha digambarkan sebagai seorang lelaki muda berbadan kurus dengan telinga yang tinggi sebelah dan hidung yang besar. Ia sering digoda teman – temannya “Telinga Aloysha mirip anjing yang nongkrong di atas bukit.” Ia adalah seorang yang patuh terhadap orang tua, ia tidak pernah merasa tersinggung jika digoda teman – temannya, bukannya marah Aloysha hanya diam saja atau kadang ia juga ikut tertawa. Ia juga bukan seseorang yang banyak berbicara, kalimatnya pendek dan terputus – putus jika ia bicara. Bila dimarahi ayahnya Aloysha akan diam, setelah itu ia tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Benar – benar orang baik. Namun menurutku tokoh Aloysha ini memiliki semacam kelainan psikologis. Mungkin ia seorang autis. Apapun itu Aloysha tetap adalah orang baik bagiku. Keterbatasan kadang merupakan sebuah anugerah. Dengan keterbatasannya itu Aloysha tumbuh sebagai orang yang sabar. Memang terlihat tidak normal, tapi ketidaknormalannya itulah yang bagiku telah menjadi ‘pelindung’nya. Ia melakukan apa yang baik, meskipun kadang salah dan dimarahi. Aloysha tidak pandai. Ia tidak mampu memikirkan hal – hal yang rumit, cukup hal – hal yang sederhana saja. Menurutku bila Aloysha ini adalah orang yang benar – benar ada dan hidup di dunia nyata maka pastilah ia bukan orang yang ambisius. Ia pasti punya keinginan namun sederhana dan tidak muluk – muluk. Ia bekerja dengan hati seorang hamba yang benar – benar patuh pada orang – orang yang memiliki kecerdasan sebagai manusia normal dan beradab. Seorang tukang masak di tempat Aloysha bekerja Ustinya namanya, menaruh kasihan terhadap Aloysha. Ia tahu Aloysha bekerja cukup berat dan Ustinya selalu menyisahkan makanan untuk Aloysha. Aloysha sangat berterima kasih, dalam hatinya ia merasa sebuah perasaan yang aneh baginya. Ia mengasihi Ustinya dan berniat menikahinya. Seorang yang tidak normal ini berniat membangun rumah tangga. Meski kelihatan niatnya diterima oleh Ustinya, orang lain menganggap hal ini sebagai hal yang konyol dan tidak pantas. Aloysha dianggap hanya berguna untuk mendapatkan uang tambahan bagi keluarga orang tuanya dan sebagai seorang pekerja upahan oleh majikannya. Ustinyalah orang yang memandangnya sebagai seorang manusia. Kemampuan berpikir, menimbang, dan memiliki kreativitas memang kedengarannya bagus. Namun semuanya itu tidak ada artinya bila tidak digunakan untuk membawa kebaikan bagi diri sendiri dan sesama. Orang seperti Aloysha dengan keterbatasannya dalam berpikir mencegahnya dari pikiran – pikiran jahat, ketamakan, ambisi yang negatif, balas dendam. Ia hidup dalam ketaatan pada majikannya meskipun kadang diperlakukan dengan kasar. Ia tetap patuh pada orang tuanya meskipun mereka mengambil keuntungan dari upahnya. Sampai akhir hidupnya Aloysha tetap berpegang pada pendiriannya yang sederhana, menganggap apa yang dikatakan orang tuanya yakni larangan untuk menikahi Ustinya, adalah pilihan yang terbaik. Ia mengorbankan kebahagiannya dan tetap berusaha untuk berpikir lurus dan positif. Menurutku dunia ini akan terasa menyenangkan apabila semua manusia memiliki keterbatasan seperti Aloysha, seluruh umat manusia akan menjadi orang – orang yang saling mengasihi dan taat pada Tuhan, melakukan apa yang baik dan tidak banyak mengeluh. Memang susah karena kita telah mengenal yang baik sekaligus yang buruk, kita telah diberikan kemampuan dan hikmat untuk mengolah bumi ini dan kadang kita merusaknya. Kadang kita menyakiti orang lain demi kepentingan kita sendiri. Sesuatu yang sederhana, jalan pikiran yang sederhana, kehidupan yang sederhana bagiku saat ini merupakan pilihan yang terbaik. Cerita dari Leo Tolstoy ini memberi pencerahan bagiku.
Sudah dua minggu aku libur. Selama waktu kuliah aku selalu mengharapkan datangnya libur tiga bulan. Aku kesepian. Sedikit sekali kegiatan yang aku lakukan. Kadang aku berharap teman ku menelepon, mungkin kami bisa bergosip atau berbagi pengalaman. Tapi, jarang sekali ada temanku yang menelepon, paling – paling mengirim sms.
Yah, selain itu aku berharap semangat belajar memenuhi aku. Nilaiku semester ini tidak begitu memuaskan. Sementara aku harus selesai dalam 4 tahun. Waa..aku jadi curhat nih..
Aku rasa liburan ini harus aku isi dengan banyak belajar. Aku yakin dengan banyak berusaha dan berdoa, pasti Tuhan memberiku sesuatu yang sangat baik.
Welcome to Blog Mahasiswa UI. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
Recent Comments