Bismillah..
Pemimpin itu kalo ada masalah tu ada di paling depan, ketika sedang bekerja ada di tengah, kalo ada kesejahteraan ada di belakang. –Joko Widodo-
Dulu waktu pemilu 2009 saya bingung, ada DPD. Itu macam apa pula, nambah lagi lembaga negara. Awalnya tu mikir kan uda ada Dewan Perwakilan Rakyat yang dipilih rakyat juga dan dari daerah juga, ini ada lagi Dewan Perwakilan Daerah. Hmm, yang saya pikir saat itu, sampe saat ini juga sih, DPD memang harus lebih fokus untuk mengembangkan daerah, sedangkan DPR lebih ke negara secara umum. Iya iya, bisa diatur. Tapi ya bener juga sih ya, secara Indonesia tu luas bener, sob. Halooo, Indonesia bukan sebatas Jakarta aja, tapi dari Sabang sampe Merauke. Itu asli, luas abis binti kaya akan sumber daya alamnya, gan. Tinggal digali, dimanfaatkan, dinikmati rakyat Indonesia sebagai tuan rumah, trus diekspor deh. Andai saya menjadi anggota DPD RI. Wah, berandai-andai aja uda berasa terhormat, apalagi jadi anggota DPD beneran. Yaiyalah, secara dapet sebuah kesempatan luar biasa dipercaya rakyat dan punya kewenangan mengembangkan daerah yang saya yakin di tiap daerah itu punya potensi masing-masing. Okeh, jadi ceritanya saya jadi anggota DPD dari Jawa Timur ni, karena saya dari Probolinggo, sob.
Pertama, saya ga akan korupsi dan 50% penghasilan saya untuk membangun rumah sakit murah dan beasiswa buat siswa ga mampu di Jawa Timur.
Kedua, saya akan mewajibkan tiap kabupaten untuk mengekspor minimal satu sumber daya alam atau hal yang khas dari daerah itu. Misalnya probolinggo kan penghasil mangga dan hampir tiap rumah punya pohon mangga, trus Pasuruan oke dalam hal mebel. Nah, itu bisa difasilitasi pihak kabupaten untuk diekspor. Manfaatnya ekonomi daerah tentunya bakalan kebantu sekaligus sedikit membantu Indonesia untuk mengurangi budaya konsumerisme. Ini cara yang ditempuh Korea Selatan, jadi diawal kebangkitan industrinya, Park Chung Hee (presiden Korsel saat itu) menekankan bahwa mereka harus jadi negara pengekspor. Hasilnya, lihatlah kekuatan ekonomi mereka saat ini.
Ketiga, bikin tim untuk mengadakan lomba entrepreneurship, sosiopreneurship, dan teknopreneurship untuk pemuda. Hal ini dilakukan untuk menyiapkan pemuda Jawa Timur untuk mengubah mind set mereka untuk menciptakan pekerjaan, bukan mencari pekerjaan. Tentunya ga cuman lomba aja, tapi kami beri modal dan dipantau perkembangannya dari laporan keuangannya selama setahun.
Keempat, bikin Pusat Kesenian Jawa Timur. Selain SDA, Indonesia juga kaya akan keseniannya. Tiap harinya da pementasan tarian maupun alat musik dari semua kabupaten di Jatim, tapi diroling. Misalnya hari ini dari Jombang, besok dari Kediri. Di sana juga ada museum keseniannya, ruangan belajar tarian, bazaar hasil kerajinan tangan Jatim, dan souvenir khas Jatim. Ini tentunya perlu promosi ekstra dimasa awal pendirian. Ada biaya masuknya lo, jadi mereka digaji jadi mereka bisa lebih semangat. Jadi orang dan asing tu tau kesenian Jawa Timur tu banyak, keren sekaligus pameeer, ini lo salah satu kekayaan yang dipunya Indonesia.
Itu aja si. Seandainya saya jadi anggota DPD RI untuk Jawa Timur, saya akan melakukan empat hal itu dan tugas dari DPD RI pastinya. Saya ingin ga ada rakyat yang kelaparan lagi. Kalo rakyatnya masih susah, pemimpin ga pantes untuk tertawa bahagia.