Bismillah..
Ini cuman ungkapan hati seorang rakyat biasa yang melihat fenomena di Indonesia melalui tipi. Tentang bentrokan antara petugas dengan pedagang yang katanya illegal. Gimana ya, kalo liat video yang ditampilin di tipi, rasanya tu mak cres gimanaaa gitu di ati. Emangnya ga ada cara lain yang lebih efektif?
Kalo begitu caranya kan rakyat jadi sedih, marah-marah, bingung gimana lagi caranya cari duit buat makan. Aku inget banget waktu di tipi ada rakyat yang kena gusur trus dikasarin, abis itu dia bilang gini: saya itu kerja di sini bukan buat memperkaya diri, tapi buat cari makan, buat hidup, bukan untuk memperkaya diri. Ada lagi yang bilang: apa lo, berani? Dasar, beraninya sama orang kecil aja, sama orang lemah doang, huu.
Apa enaknya si keadaan seperti itu? Oke kalo memang itu salah mereka yang menempati tempat yang illegal, bisa ga cari solusi dengan cara duduk bersama? Cari solusi bersama gitu? Ni ya, mereka itu meskipun rakyat kecil, sangat berpengaruh lo buat kehidupan pejabat yang katanya terhormat.
Pertama, mereka itu menggaji pata pejabat dan PNS lo. Lo ko bisa? Ya bisa laah. Mereka kan juga belanja tu, barang-barang belanjaan mereka itu ada PPN nya to? 10% kan? Itu larinya kemana? Ke negara kan? Pajak kan? Dan bukannya pajak itu sumber pendapatan negara yang sangat besar ya? Nah, trus pajak itu kan yang gaji pejabat sam PNS kan ya? Itu dia. Jadi pejabat yang idupnya enak itu sebenernya ya dari mereka. Trus dengan enaknya ngelakuin kekerasan kaya gitu? Hmm.. gimana ya seandainya mereka yang dikerasin oleh petugas? Hmm..
Kedua, rakyat kecil dan lemah seperti mereka itu biasanya digunakan sebagai alat kampanye yang luar biasa. Mereka sangat dimanja dengan dibagikannya uang, sembako, dan janji-janji para calon pejabat. Bagi yang menepati janjinya, saya mengucapkan terima kasih. Tapi bagi para anggota DPR yang tidak datangsidang paripurna atau siding apapun karena alesan yang ga masuk akal, semoga Allah membalas dengan balasan yang pedih. Ketika mereka sudah menjadi pejabat, lupalah dengan si rakyat kecil. Memang tidak semua, tapi kebanyakan seperti itu.
Solusi efektif menurut saya adalah duduk bersama dan membicarakan masalah serta jalan keluar bersama-sama. Pihak pemerintah, bicara duluan tentang mengapa mereka harus digusur. Setelah itu, dengarkan apa pendapat pedagang atau yang mau digusur tentang peraturan itu. Menurut mereka baeknya gimana. Toh pemimpin itu tugasnya mengayomi yang dipimpin. Jika si rakyat tetap tidak mau pindah, tawarkan solusi-solusi yang ada, misalnya pemerintah membangun ruko di tempat lain yang letanknya strategis sehingga pedagang bisa pindah ke sana. Kalau pemerintah ga ada anggaran dananya, ya patungan sama pedagang itu, susah amat.
Atau solusi-solusi laiinya yang disepakati bersama. Menurut saya, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Klasik banget kan? Ya emang. Gausa laah menakut-nakuti rakyat denan bawa pentungan itu. Banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk melakukan penggusuran. Toh budaya kita adalah musyawarah mufakat, tingal dilaksanain aja.
Ini curhatan saya aja tentang penggusuran yang dilakukan dengan kekerasan. Semoga kedepannya bisa lebih baik ya, aamin. J