Lakuakn Apa yang Dibutuhkan Rakyat

Bismillah..

Menjadi anggota DPD RI merupakan sebuah kesempatan emas untuk setidaknya sedikit membangun Indonesia melalui kontribusi konkret membangun daerah. Jika saya menjadi anggota DPD RI, inilah yang akan saya lakukan. Ada tiga hal utama yang cukup dibutuhkan oleh masyarakat saat ini, yaitu:

  1. Kesehatan Kesehatan dapat dikatakan sebagai modal utama dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Bagaimana bisa beraktivitas jika seseorang tidak memiliki kesehatan yang baik. Sedangkan yang saat ini terjadi adalah masyarakat masih kesulitan untuk membayar dana jika sakit. Saya sebagai anggota DPD RI perwakilan Jawa Timur akan bekerja sama dengan pemda setempat dan rumah sakit yang ada di Jawa Timur untuk mengutamakan sistem obati dulu penyakit warga, kemudian baru masalah biaya, bukan ada ua ng baru akan dibiayai, agar rumah sakit mau melakukan itu, saya menghimbau pemda untuk memberikan uang diawal sebagai jaminan setiap warga yang miskin terutama untuk diobati dulu baru masalah dana.

  2. Pendidikan Negara maju yang ada di dunia ini pasti memiliki kualitas pendidikan yang baik. Sebagai anggota DPD RI, saya akan bekerja sama dengan dinas setempat untuk mentraining semua guru untuk tulus mengajar murid agar mereka cerdas dan membuat Indonesia menjadi negara maju dan mencetak murid sebagai pemimpin masa depan yang memiliki moral yang baik. Dengan demikian, mereka juga akan berhenti mengorupsi dana BOS. Selain itu, saya akan bekerja sama dengan pemda untuk memberlakukan wajib belajar 14 tahun, mulai dari TK sampai SMA.

  3. Pelayanan masyarakat Salah satu contohnya adalah proses pembuatan KTP, pengurusan ijin, kantor kelurahan, dan kecamatan. Memperbaiki bangunannya menjadi lebih nyaman, pelayanan yang lebih cepat dengan memanfaatkan teknologi yang sudah maju. Sebgai anggota DPD yang juga pemimpin, sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk melayani masyarakat, bukan memakan uang milik rakyat untuk kepentingan pribadi.

Bangun Desa, Sob!

Bismillah..

Pemimpin itu kalo ada masalah tu ada di paling depan, ketika sedang bekerja ada di tengah, kalo ada kesejahteraan ada di belakang. –Joko Widodo-

 

            Dulu waktu pemilu 2009 saya bingung, ada DPD. Itu macam apa pula, nambah lagi lembaga negara. Awalnya tu mikir kan uda ada Dewan Perwakilan Rakyat yang dipilih rakyat juga dan dari daerah juga, ini ada lagi Dewan Perwakilan Daerah. Hmm, yang saya pikir saat itu, sampe saat ini juga sih, DPD memang harus lebih fokus untuk mengembangkan daerah, sedangkan DPR lebih ke negara secara umum. Iya iya, bisa diatur. Tapi ya bener juga sih ya, secara Indonesia tu luas bener, sob. Halooo, Indonesia bukan sebatas Jakarta aja, tapi dari Sabang sampe Merauke. Itu asli, luas abis binti kaya akan sumber daya alamnya, gan. Tinggal digali, dimanfaatkan, dinikmati rakyat Indonesia sebagai tuan rumah, trus diekspor deh. Andai saya menjadi anggota DPD RI. Wah, berandai-andai aja uda berasa terhormat, apalagi jadi anggota DPD beneran. Yaiyalah, secara dapet sebuah kesempatan luar biasa dipercaya rakyat dan punya kewenangan mengembangkan daerah yang saya yakin di tiap daerah itu punya potensi masing-masing. Okeh, jadi ceritanya saya jadi anggota DPD dari Jawa Timur ni, karena saya dari Probolinggo, sob.

Pertama, saya ga akan korupsi dan 50% penghasilan saya untuk membangun rumah sakit murah dan beasiswa buat siswa ga mampu di Jawa Timur.

Kedua, saya akan mewajibkan tiap kabupaten untuk mengekspor minimal satu sumber daya alam atau hal yang khas dari daerah itu. Misalnya probolinggo kan penghasil mangga dan hampir tiap rumah punya pohon mangga, trus Pasuruan oke dalam hal mebel. Nah, itu bisa difasilitasi pihak kabupaten untuk diekspor. Manfaatnya ekonomi daerah tentunya bakalan kebantu sekaligus sedikit membantu Indonesia untuk mengurangi budaya konsumerisme. Ini cara yang ditempuh Korea Selatan, jadi diawal kebangkitan industrinya, Park Chung Hee (presiden Korsel saat itu) menekankan bahwa mereka harus jadi negara pengekspor. Hasilnya, lihatlah kekuatan ekonomi mereka saat ini.

Ketiga, bikin tim untuk mengadakan lomba entrepreneurship, sosiopreneurship, dan teknopreneurship untuk pemuda. Hal ini dilakukan untuk menyiapkan pemuda Jawa Timur untuk mengubah mind set mereka untuk menciptakan pekerjaan, bukan mencari pekerjaan. Tentunya ga cuman lomba aja, tapi kami beri modal dan dipantau perkembangannya dari laporan keuangannya selama setahun.

Keempat, bikin Pusat Kesenian Jawa Timur. Selain SDA, Indonesia juga kaya akan keseniannya. Tiap harinya da pementasan tarian maupun alat musik dari semua kabupaten di Jatim, tapi diroling. Misalnya hari ini dari Jombang, besok dari Kediri. Di sana juga ada museum keseniannya, ruangan belajar tarian, bazaar hasil kerajinan tangan Jatim, dan souvenir khas Jatim. Ini tentunya perlu promosi ekstra dimasa awal pendirian. Ada biaya masuknya lo, jadi mereka digaji jadi mereka bisa lebih semangat. Jadi orang dan asing tu tau kesenian Jawa Timur tu banyak, keren sekaligus pameeer, ini lo salah satu kekayaan yang dipunya Indonesia.

Itu aja si. Seandainya saya jadi anggota DPD RI untuk Jawa Timur, saya akan melakukan empat hal itu dan tugas dari DPD RI pastinya. Saya ingin ga ada rakyat yang kelaparan lagi. Kalo rakyatnya masih susah, pemimpin ga pantes untuk tertawa bahagia.

Kuliah di Jurusan Sastra Arab? Mau Jadi Apa?

Hahaai. Pertanyaan klasik banget. Kalo ada peserta ujian masuk universitas pas liat pengumuman ternyata dapet di jurusan sastra, kebanyakan pada bingung tuh abis lulus mau kerja apa? Ini berdasarkan cerita teman-teman di sekitar aku lo. Apalagi sastra arab, mau jadi guru ngaji, bu? Ato TKI? Ckckck, agak kurang asem ya khan. kalo aku mah beda, aku mah mikirin dulu, yang penting ilmunya dah. Rejeki mah bakal kemana. Yang aku pikir saat itu adalah ya belajar sastra Arab menarik lah, karena bakalan mempelajari Timur Tengah yang emang complicated banget. Itu titik menarik aku.

 

And you know, hah.. ternyata pas baru masuk kuliah sastra arab, ternyata yang akan dipelajari gak Saudi Arabia aja, tapi ada 22 negara. Banyak gak tuh. Dengan adanya banyak negara yang akan dipelajari, otomatis akan ada banyak kesempatan datang, mulai dari beasiswa sampe kerjaan.

 

Di FIB UI negara yang kita pelajari biasanya menjalin hubungan baik pula dengan jurusan kita. Kalo Jepang setau aku ada pertukaran pelajar. Taun 2008 temen aku di sastra Korea dikirim ke Korea, sampe sekarang belom pulang, enak bet yak. Tentang beasiswa, bisa disabet juga dong ya pas lagi uliah di S1, S2, maupun S3 pastinya. Trus tentang kerja. Arab ya mbak? Ma jadi TKI? Hyaaaaaat, awas yaa! Emang iya, bakal jadi TKI, tapi TKI yang pake dasi, bweee..>.< bisa ke Saudi, Mesir, Qatar, Libya, Lebanon, banyak dah.

 

Mau cerita nih. Salah satu dosen aku. Dia ya jadi doesen aja sambil terus menuntut ilmu, beliau suka sekali dengan pemikiran pergerakan Islam. Suatu hari beliau ditawari untuk menjadi atase pendidikan di Saudi. Ya beliau gak nolak lah. Jadilah beliau seorang atase pendidikan di Saudi. Setelah beliau pulang dari sana, beliau ngajar di kelas aku. Cerita deh. Ternyata beliau gak pernah kepikiran untuk menjadi seorang diplomat. Itulah kekuatan ilmu. Beh, dahsyat banget dah ama kalimat itu. Keren kan? Ya tapi bukan berarti yang kita ingin gak dipikirin juga, gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.

 

Selain itu juga ada tu senior yang diterima di Mahkamah Agung sebagai translator. Menurut cerita dosen, anak Arab UI ada yang diterima jadi pramugari pesawat arab, wartawan di Arab, anggota DPR RI, sampe penulis. Nih ya, tau Mbak Helvy Tiana Rosa? Anak Arab tu, hehe. Bangga dikit ye. Uda gitu tau Bang Arya Pandora? Itu lo wartawan TV One yang dikirim ke Libya, Tunisia, dan Mesir..  Keren kaan? Kuliah di Arab bisa jadi apa aja ko.. Tergantung pribadi masing-masing :)

So, yuk kuliah dengan meniatkan untuk Allah dan benar-benar untuk mencari ilmu serta terus membuat planning hidup ke depan dan teruslah bermimpi dan berusaha untuk mencapai citamu.. :)