Metode epidemiologi

Sebelum menuju kedalam pembahasan metode epidemiologi, ada baiknya untuk mengetahui 3 hal pokok dalam epidemiologi. 3 hal pokok itu antara lain:

Frekuensi masalah kesehatan

Frekuensi yang dimaksud disini adalah besarnya masalah kesehatan yang terdapat pada sekelompok manusia. Untuk mengetahui frekuensi suatu masalah kesehatan dengan tepat, ada dua hal pokok yang harus dilakukan yakni menemukan masalah kesehatan yang dimaksud untuk kemudian dilanjutkan dengan melakukan pengukuran atas masalah kesehatan yang ditemukan tersebut.

Penyebaran masalah kesehatan  (Distribusi)

Distribusi menunjuk kepada pegelompokan masalah kesehatan menurut suatu keadaan tertentu. Keadaan tertentu yang dimaksud banyak macamnya, yang dalam epidemiologi dibedakan atas tiga macam yakni menurut ciri-ciri manusia (man), tempat (place). Dan waktu (time)

Faktor-faktor yang mempengaruhi (Determinan)

Faktor-faktor yang mempengaruhi disini menunjuk kepada faktor penyebab dari suatu masalah kesehatan, baik ang menerangkan frekuensi, penyebaran, dan ataupun menerangkan penyebab munculnya masalah kesehatan itu sendiri. Tiga langkah lazim yang dilakukan:

a)      Merumuskan hipotesa tentang penyebab yang dimaksud

b)      Melakukan pengujian terhadap rumusan hipotesa yang telah disusun

c)      Menarik kesimpulan

Di dalam epidemiologi, ada 2 tipe pendekatan atau metode yaitu:

  1. Epidemiologi deskriptif

Disebut epidemiologi deskriptif apabila hanya mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran suatu masalah kesehatan saja, tanpa memandang perlu mencarikan jawaban terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi, penyebaran, dan atau munculnya msalah kesehatan tesebut. Hasil dari pekerjaan epidemiologi deskriptif ini hanya menjawab pertanyaan siapa (who), dimana (where), dan kapan (when) dari timbulnya suatu masalah kesehatan, tetapi tidak menjawab pertanyaan mengapa (why) timbulnya masalah kesehatan masyarakat tersebut.

Di dalam epidemiologi deskriptif dipelajari bagaimana frekuensi penyakit berubah menurut perubahan variabel epidemiogi, yang terdiri dari:

1)   Orang (person)

     Ciri-ciri manusia yang dapat mempengaruhi penyebaran penyakit antara lain dilihat dari umur, jenis kelamin, kelas sosial, jenis pekerjaan, penghasilan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, dan paritas (keadaan wanita berdasarkan jumlah anak yang dilahirkan)

2)   Tempat (place)

Pengertian mengenai distribusi geografis dari suatu penyakit berguna untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai etiologi (penyebab suatu penyakit tertentu) penyakit. Pentingnya pengetahuan mengenai tempat dalam mempelajari etiologi suatu penyakit dapat digambarkan dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah dan pada menyelidikan-penyelidikan mengenai kaum migran. Didalam memperbandingkan angka kesakitan atau angka kematian antar daerah (tempat) perlu diperhatikan terlebih dahulu di tiap-tiap daerah (tempat):

1. Susunan umur 2. Susunan kelamin 3. Kualitas data 4. Derajat representatif dari data terhadap seluruh penduduk.

Variasi geografis pada terjadinya beberapa penyakit atau keadaan lain mungkin berhubungan dengan 1 atau lebih dari beberapa faktor sebagai berikut:

  1. Lingkungan fisis, kemis, biologis, sosial dan ekonomi yang berbeda-beda dari suatu tempat ke tempat lainnya.
  2. Konstitusi genetis atau etnis dari penduduk yang berbeda, bervariasi seperti karakteristik demografi.
  3. Variasi kultural terjadi dalam kebiasaan, pekerjaan, keluarga, praktek higiene perorangan dan bahkan persepsi tentang sakit atau sehat.
  4. Variasi administrasi termasuk faktor-faktor seperti tersedianya dan efisiensi pelayanan medis, program higiene (sanitasi) dan lain-lain.

3)   Waktu (time)

     Mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan dasar di dalam analisis epidemiologis, oleh karena perubahan penyakit menurut waktu menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis. Melihat panjangnya waktu dimana terjadi perubahan angka kesakitan, maka dibedakan: fluktuasi jangka pendek (perubahan angka kesakitan selama beberapa jam, hari, dll); perubahan secara siklus di mana perubahan angka kesakitan berulang-ulang dengan antara beberapa hari, bulan, dll; dan perubahan-perubahan angka kesakitan dalam periode waktu yang panjang. , bertahun-tahun, yang disebut “secular trends

2. Epidemiologi analitik

Disebut epidemiologi analitik bila telah mencakup pencarian jawaban terhadap penyebab terjadinya frekuensi, penyebaran serta munculnya suatu masalah kesehatan. Disini diupayakan tersedianya jawaban terhadap faktor-faktor penyebab yang dimaksud. Karena itu studi ini dipergunakan untuk menguji data dan informasi-informasi yang diperoleh studi epidemiologi deskriptif. Ada 3 studi tentang epidemiologi ini, yaitu:

  1. Studi riwayat kasus (case study history)

Dalam studi ini akan dibandingkan antara dua kelompok orang, kelompok orang yang terkena penyakit dan kelompok orang tidak terkena. Contoh : Ada hipotesis yang menyatakan bahwa penyebab utama kanker paru-paru adalah rokok. Untuk menguji hipotesis ini diambil sekelompok orang penderita kanker paru-paru. Kepada penderita ini ditanyakan tentang kebiasaan merokok. Dari jawaban pertanyaan tersebut akan terdapat 2 kelompok, yakni penderita yang mempunyai kebiasaan merokok dan penderita yang tidak merokok. Kemudian kedua kelompok ini diuji dengan uji statistik, apakah ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok tersebut.

2.    Studi Kohort

Dalam studi ini sekelompok orang dipaparkan suatu penyebab penyakit. Kemudian diambil sekelompok orang lagi mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama, tetapi tidak dipaparkan atau dikenakan penyebab penyakit (Kelompok kedua ini disebut kelompok kontrol. Setelah beberapa saat yang telah ditentukan kedua kelompok tersebut dibandingkan, dicari perbedaan antara kedua kelompok tersebut, bermakna atau tidak. Contoh : Untuk membuktikan bahwa merokok merupakan faktor utama penyebab kanker paru-paru, diambil 2 kelompok orang, kelompok satu terdiri dari orang-orang yang tidak merokok kemudian diperiksa apakah ada perbedaan pengidap kanker paru-paru antara kelompok perokok dan kelompok non perokok.

 

3. Epidemiologi eksperimen

Studi ini diadakan dengan mengadakan eksperimen kepada kelompok seubjek kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol (yang tidak dikenakan percobaan). ). Contoh : untuk menguji keampuhan suatu vaksin, dapat diambil suatu kelompok anak kemudian diberikan vaksin tersebut. Sementara itu diambil sekelompok anak pula sebagai kontrol yang hanya diberikan placebo. Setelah beberapa tahun kemudian dilihat kemungkinan-kemungkinan timbulnya penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin tersebut, kemudian dibandingkan antara kelompok percobaan dan kelompok kontrol.

Leave a Reply