Dec 21

Apa kabar?

Ya, saya memang lama tidak bersua ke blog yang bernaung di bawah bendera universitas ini. Padahal sudah hampir dua tahun saya kuliah, jadi kalau misalnya saya bisa lulus tepat waktu empat tahun, saya telah membuang-buang sisa waktu dua tahun yang diberikan universitas untuk mengelola blog “distopis yang sementara” ini.

Ketika kembali ke blog, saya menemukan hal yang mengejutkan. Komentar spam. Ya bukannya itu hal yang aneh sih — biasa saja, justru. Wajar terjadi. Cuma kok ya blog yang ditampung kampus sekaliber Universitas Indonesia proteksi terhadap pesan sampahnya lemah sekali. Mungkin admin di rektorat perlu memutakhirkan fasilitas Wordpress MU yang digunakan beliau. :)

Tapi ya sudahlah, begitu pikir saya kemudian. Nanti toh bisa dihapus satu-satu melalui dashboard. Dengan begitu, saya pun masuk log untuk menghapus komentar tiada berguna itu, sekalian mau menulis entri baru sekedar notifikasi.

Rupanya oh rupanya…

...memang benar, Akismet tidak dibuat tanpa alasan.

...memang benar, Akismet tidak dibuat tanpa alasan.

…saya pun membatalkan niat untuk menghapus komentar satu per satu. Mungkin lain kali saja. Bila saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan di dunia ini.

Lalu, untuk mengunggah gambar saja kok susah. Baru saja saya mau mengunggah hasil jepretan pada layar komputer itu, tapi berkali-kali ditolak karena alasan berkasnya tidak diperbolehkan. Sudah ganti berkas, tapi tetap saja alasan yang sama muncul. Padahal ini cuma .JPG, kok ya tidak boleh? Repot juga. Akhirnya saya terpaksa mengunggah via padepokan gambar mandiri.

Ini bagaimana ya? Barangkali bila fasilitas ini memang mau diseriusi, pihak rektorat perlu memerhatikan hal-hal kecil semacam ini. Memang sering terlewat, karena itu kritik dan komentar kacangan dari mahasiswa macam saya ini yang bermanfaat sebagai pengingat. Saya tengok pihak UGM sampai memberikan subdomain sendiri, kiranya fasilitas itu cukup diseriusi oleh mereka. Mengapa universitas yang memboyong nama negeri ini tidak?

Tentu saja, praduga saya bisa salah. Namanya juga komentar kacangan dari mahasiswa kacangan. Kalau ternyata salah, ya monggo diberitahu. Kalau ternyata komentar saya benar, ya silakan dipakai untuk sarana perbaikan.

Ngomong-ngomong, kemarin ini saya habis ikut nimbrung dalam acara yang digelar oleh Orkes Simfoni Mahawaditra. An Enchanting Evening with Mahawaditra, judulnya.

Saya memang cuma pemain viola kacangan, tapi hitung-hitung nambah pengalaman. Jadi sebuah keberuntungan sekali bisa bermain di antara kawan-kawan musisi yang sudah mahir.

Nah, karena itu, saya mau sekedar menyumbang dokumentasi acara kemarin. Saya bilang, Orkes Mahawaditra nggak kalah hebatnya sama Paduan Suara Paragita yang terkenal itu. Kalau mau buktinya, ya lihat saja penampilannya sendiri. :P

Canon in D - Mahawaditra

Theme from New York, New York - Mahawaditra

Saya nggak tau fasilitas blog kampus ini bisa menyelipkan video atau nggak, tapi kayaknya jawabannya yang kedua. Jadi klik saja tautan yang ada di atas itu.

Universitas Indonesia
Dec 17

Badan Hukum Pendidikan? Apa itu?

Badan Hukum Pendidikan adalah sebuah Rancangan Undang-Undang yang mengizinkan sektor swasta untuk menanamkan investasinya di universitas-universitas negeri. Hal ini menyebabkan universitas negeri jadi “terswastanisasi”. Akibatnya, ratusan mahasiswa di berbagai universitas memprotes pemerintah atas hal ini. Demo, seperti biasa. Baru saja terjadi hari ini, buat yang sempat nonton berita di TV mungkin tahu.

Nah, ada yang menarik. detikNews sempat meliput bagaimana peristiwa yang terjadi antara ketua BEM UI dengan Ketua Komisi Pendidikan di dalam gedung. Saya kutipkan saja ya. :)

Mahasiswa Tak Bisa Tunjukkan Pasal Liberalisasi RUU BHP

Jakarta - Perwakilan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mengamuk dalam rapat paripurna pengesahan RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP). Mahasiswa menuding produk hukum baru tersebut mengandung unsur liberalisasi pendidikan.

Namun mahasiswa tidak memahami benar materi tuntutan mereka. Buktinya Presiden BEM UI Edwin Nafsa Nauval yang memimpin rombongan mahasiwa UI itu tidak dapat menunjukkan bagian mana dari UU BHP mengandung unsur liberalisasi pendidikan.

“Anda sudah baca? Tunjukkan pasal mana yang mengandung liberalisasi,” pinta Ketua Komisi Pendidikan, Irwan Prayitno, kepada Edwin yang ditemuinya di pelataran Gedung Nusantara II, MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (17/12/2008).

Edwin tidak mampu menjawab langsung pertanyaan Irwan. “Pada intinya undang-undang ini secara filosofis dan sosiologis tidak berpihak pada rakyat,” jawab dia diplomatis.

“Jangan intinya, tunjukkan pasal mana?” desak Irwan.

Presiden BEM UI itu pun tak menjawab pasal berapa yang memuat liberalisasi pendidikan. Karena itula Irwan menduga mahasiswa tidak mengikuti secara intensif proses pembahasan dan membaca keseluruhan draft RUU yang paling terbaru yang rampung pada Rabu 10 Desember 2008.

“Lha ini baca yang 1 Desember, padahal perubahan tiap minggu,” sindir Irwan menanggapi mahasiswa yang mengaku membaca draf tertanggal 1 Desember 2008.

Sudah? :)

Saya rasa ini dia celahnya. Saya kebetulan sempat dengar berbagai opini tentang pergerakan mahasiswa yang tidak sesubstansial dulu di sebagian kalangan bloger Wordpress. Saya tidak tahu apakah peristiwa demo barusan bisa menjadi contoh yang mendukung opini tersebut atau tidak.

Tapi, menurut saya, ada yang bisa dijadikan sedikit pelajaran.

  1. Mengkritik RUU adalah riskan
    Ingat kasus RUU pornografi? Jumlah pengkritiknya lebih banyak daripada ini. Disebabkan oleh sifat RUU yang selalu berubah, saya sering dengar orang-orang yang mengkritik pasal-pasal yang sebenarnya sudah diubah. Karena itu, menurut saya, kalau mau mengkritik RUU harus benar-benar up-to-date. Setiap perkembangannya mesti diawasi. Begitu pula dalam hal RUU BHP ini. Tambah lagi, jangan terlalu mengandalkan orang lain bakal ‘menyuapi’ RUU tersebut. Situ yang mau ngritik, ya situ yang aktif nyari berita dong? :?
  2. Tolong beri alternatif solusi
    Di sekitar saya, opini yang paling saya dengar kalau melihat aksi turun ke jalan ini adalah, “Jangan cuma bisa ngeritik doang, solusinya mana?”. Saya memang bukan aktivis, tapi sebagai sesama mahasiswa jadi kepikiran juga. Dalam hal BHP ini, berhubung universitas keuangannya harus mandiri, bagaimana jalan keluarnya? Kalau memang “swastanisasi” tidak setuju, sebaiknya apa? :)

Yah, tapi ini menurut saya. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Jadi, seperti biasa, Anda bebas mengkritik atau pun membantah. :) Akan lebih baik lagi jika Anda kembali kesini setelah komennya saya balas. :P

Terima kasih.

Universitas Indonesia
Sep 2

Oke, sebenarnya saya agak telat menulis ini karena keterbatasan waktu yang dihabiskan untuk bermain Ragnarok Online. Tapi tak apa. Yang penting menulis daripada dibiarkan terlantar, betul tidak? Setidaknya memori saya masih bisa menampung apa yang terjadi saat PSAF (Pengenalan Sistem Akademik Fakultas). Berhubung saya hanya ikut yang FISIP punya, jadi cuma ini yang bisa saya tuliskan. :)

Seperti sebelumnya, sesi-sesi-an ini cuma nama asal-asalan dari saya, tapi karena terjadi di minggu terakhir orientasi, saya yakin sesi ini akan mengakhiri trilogi orientasi. :mrgreen: Meskipun sebenarnya ngga banyak yang bisa saya katakan, tapi biarlah kata mengalir; PSAF terbagi jadi dua hari.

The end of trilogy.

Aug 24

Sekali lagi, ini juga saya kasih nama sesi-nya asal-asalan aja. Jadi nama “Orientasi Sesi II: PSAU” itu bukan nama resmi dari universitas, tapi karangan saya — meskipun PSAU-nya memang nama pemberian universitas. Oke, berhubung dua hari ini saya sakit, saya jadi punya kesempatan buat ngeblog (lha?).

PSAU tahun ini — yang berdurasi dua hari — memiliki sub-kegiatan bernama OKK UI, sebuah kegiatan yang mengusung tema “Bangkit Indonesia!”. Pertama akan saya bahas tentang OKK UI yang bertempat di hari pertama PSAU.

Di OKK UI ini, unit kegiatan mahasiswa yang paling menonjol adalah BEM. Mereka bisa dibilang yang selalu ngintil di setiap detik-detik OKK. OKK dimulai pada pukul 05.30 pagi, dengan acara baris-berbaris dan… bentak-bentakan. Yah, what do you expect from an orientation? Biasa lah, apalagi universitas negeri. Kami semua dikumpulkan dan menerima bentakan dikit-dikit. Untung oratornya nggak kayak teman saya, jadi pas dibentak para mahassiwa baru nggak perlu menyiapkan payung. :P

Baris-berbaris di lapangan itu berlangsung hingga pukul 08:00, kemudian para mahasiswa baru dipindahkan ke dalam ruangan indoor (namanya balairung). Disana mendapat acara ceramah beberapa kali dan pidato dari BEM yang menggelora. Saat itu saya baru tahu bahwa rupanya BEM UI yang semangat sekali melakukan aksi demonstrasi. :? Begitu berapi-api. Tadinya saya kira yang sering turun ke jalan itu bukan mahasiswa UI, nggak tahunya…

Pidato-pidato ini berlangsung hingga waktu shalat dzuhur. Nah, ini yang agak merepotkan. Waktu mau shalat, para mahasiswa baru digiring (memangnya bola?) ke Masjid UI yang ukurannya besar. Rupanya nggak tersedia air wudhu di mesjid itu (air wudhu untuk 3000 orang?), jadi para mahasiswa baru harus ambil air wudhu dari air mentah yang memang disuruh bawa. Setelah shalat, rupanya masih ada pidato menggelora lagi di mesjid. Kali ini dari semacam rohis-nya. ^^; Saya langsung ingat sama mentor rohis saya yang dulu, yang tiap habis pidato selalu teriak “Allahu akbar!” — karena yang ini juga begitu.

Setelah ibadah, mahasiswa baru kembali ke balairung. Digiring lagi. Panas-panas. Dan, demi Tuhan, setelah acara kurang menarik dan pidato ‘bersemangat’ itu, akhirnya di hari itu saya menemui satu hal yang masih lebih menarik. Seminar dari Nalfa Urbach, Hidayat Nur Wahid, dan Menteri Olah Raga. Menarik karena dibawakan dengan kocak! :mrgreen: Sebut saja istilah ‘lima-satu’… :lol: Saya lebih suka yang begini daripada semangat ‘aksi’ yang dibawakan oleh BEM. I’m not into that stuff.

Dan hari pertama pun berakhir pukul 17:00 — kelewatan satu jam dari jadwal.

Sekarang hari kedua PSAU.

Terima kasih, Tuhan, karena hari kedua ini jauh lebih santai! Semacam expo ekskul-nya sekolah, ini adalah hari pameran Unit Kegiatan Mahasiswa. Ada UKM-UKM standar seperti sepak bola atau karate, jelas, atau macamnya fotografi. Tapi yang lumayan mengejutkan buat saya adalah UKM orkestra dan dancesport. Dancesport itu dansa-dansa yang sering ada di film-film bule, kalau belum tahu. Waltz, tango, dan semacamnya. :?

Saya sendiri memilih orkestra, tae kwon do, dan SALAM UI (semacam rohis-nya) untuk UKM. Yang paling menarik buat saya itu sebenarnya orkestra, karena saya suka mendengarkan orkestra. :mrgreen: Meskipun ngga bisa pakai instrumen gitar disana, mudah-mudahan saya bisa belajar biola (?).

Dan hari kedua yang santai berakhir pada pukul 16:00 oleh marching band UI. UKM yang ini benar-benar kelihatan optimal. :D

***

Setelah PSAU, ada dua hari yang namanya Program Cinta Kampus. Masing-masing melepas ikan dan membersihkan sampah (operasi semut). Saya rasa programnya sih cukup bagus, terutama karena pulang cepat. Tapi sayang kayaknya yang datang ngga begitu banyak, apalagi yang dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. :|

Lalu saya juga teringat dengan promosinya OKK UI. Katanya, “tidak ada yang namanya intimidasi.” Tapi menurut saya sebenarnya ini agak kurang pas juga. Secara psikologis kan intimidasi adalah kondisi di mana seseorang merasa terancam. Lha, kalau pas dibentak-bentak itu mahasiswa baru merasa terancam, gimana dong? :mrgreen: Berarti sebenarnya sudah ada proses intimidasi itu sendiri. :P

.

Sekian dulu rangkuman hari ini. Berhubung masih mahasiswa baru, jadi belum banyak yang bisa dikritik. Nantikan entri-entri selanjutnya. :mrgreen:

Universitas Indonesia
Aug 17

Sebagai mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri ini, maka sudah sewajarnya kalau saya menjalani yang sejenis dengan orientasi. Kebetulan di universitas ini memang ada semacam kegiatan orientasi selama satu bulan penuh. Dan satu-dua minggu pertama ini saya beri nama orientasi sesi I: OBM :mrgreen: bukan nama resmi, ngasal ngasih nama aja

OBM adalah kegiatan Orientasi Belajar Mahasiswa selama enam hari, diadakan dari hari Senin tanggal 10 kemarin hingga Sabtu tanggal 16 Agustus 2008. Disinilah saya menemukan makna dari kata orientasi yang sesungguhnya. Setelah dua kali saya dikibulin dengan nama Masa Orientasi Siswa, di Orientasi Belajar Mahasiswa ini saya merasa benar-benar menemukan yang namanya orientasi.

Di OBM, para mahasiswa baru benar-benar diperkenalkan dengan cara belajar gaya mahasiswa. Mulai dari metode Collaborative Learning yang menspesialisasikan setiap mahasiswa pada suatu sub-bab untuk diskusi kelompok, hingga mengenali karakter-karakter belajar mahasiswa — misalnya karakter free rider yang tukang nyampah; numpang nama doang. :P

Selama kegiatan OBM, mahasiswa juga dikondisikan agar tidak nyangkut di satu fakultas tertentu aja. Jadi seluruh mahasiswa baru yang berjumlah 5000 orang dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yang masing-masing dikelompokkan lagi jadi beberapa kelas kecil yang berisi sekitar tiga puluh orang. Isinya adalah mahasiswa dari berbagai fakultas. Kegiatan orientasi selama OBM juga berpindah tiap harinya, jadi misalnya hari Senin kelompok G-2A ada di Fakultas Teknik, hari Selasa-nya pindah ke Fakultas Psikologi. Mungkin untuk sekalian mengorientasikan kampus pula.

Yah, intinya, rupanya orientasi di perguruan tinggi negeri ini sudah tidak (atau memang tidak?) semengerikan yang saya dengar sebelumnya. Setidaknya, hingga sesi I ini berakhir. Apakah saya agak paranoid sebelumnya? Bisa jadi. :P Doakan saja kegiatan yang tak begitu memberatkan seperti OBM ini terus berlanjut selama satu bulan orientasi.

Universitas Indonesia