Badan Hukum Pendidikan

Badan Hukum Pendidikan? Apa itu?

Badan Hukum Pendidikan adalah sebuah Rancangan Undang-Undang yang mengizinkan sektor swasta untuk menanamkan investasinya di universitas-universitas negeri. Hal ini menyebabkan universitas negeri jadi “terswastanisasi”. Akibatnya, ratusan mahasiswa di berbagai universitas memprotes pemerintah atas hal ini. Demo, seperti biasa. Baru saja terjadi hari ini, buat yang sempat nonton berita di TV mungkin tahu.

Nah, ada yang menarik. detikNews sempat meliput bagaimana peristiwa yang terjadi antara ketua BEM UI dengan Ketua Komisi Pendidikan di dalam gedung. Saya kutipkan saja ya. :)

Mahasiswa Tak Bisa Tunjukkan Pasal Liberalisasi RUU BHP Jakarta – Perwakilan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mengamuk dalam rapat paripurna pengesahan RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP). Mahasiswa menuding produk hukum baru tersebut mengandung unsur liberalisasi pendidikan. Namun mahasiswa tidak memahami benar materi tuntutan mereka. Buktinya Presiden BEM UI Edwin Nafsa Nauval yang memimpin rombongan mahasiwa UI itu tidak dapat menunjukkan bagian mana dari UU BHP mengandung unsur liberalisasi pendidikan. “Anda sudah baca? Tunjukkan pasal mana yang mengandung liberalisasi,” pinta Ketua Komisi Pendidikan, Irwan Prayitno, kepada Edwin yang ditemuinya di pelataran Gedung Nusantara II, MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (17/12/2008). Edwin tidak mampu menjawab langsung pertanyaan Irwan. “Pada intinya undang-undang ini secara filosofis dan sosiologis tidak berpihak pada rakyat,” jawab dia diplomatis. “Jangan intinya, tunjukkan pasal mana?” desak Irwan. Presiden BEM UI itu pun tak menjawab pasal berapa yang memuat liberalisasi pendidikan. Karena itula Irwan menduga mahasiswa tidak mengikuti secara intensif proses pembahasan dan membaca keseluruhan draft RUU yang paling terbaru yang rampung pada Rabu 10 Desember 2008. “Lha ini baca yang 1 Desember, padahal perubahan tiap minggu,” sindir Irwan menanggapi mahasiswa yang mengaku membaca draf tertanggal 1 Desember 2008.

Sudah? :)

Saya rasa ini dia celahnya. Saya kebetulan sempat dengar berbagai opini tentang pergerakan mahasiswa yang tidak sesubstansial dulu di sebagian kalangan bloger WordPress. Saya tidak tahu apakah peristiwa demo barusan bisa menjadi contoh yang mendukung opini tersebut atau tidak.

Tapi, menurut saya, ada yang bisa dijadikan sedikit pelajaran.

  1. Mengkritik RUU adalah riskan Ingat kasus RUU pornografi? Jumlah pengkritiknya lebih banyak daripada ini. Disebabkan oleh sifat RUU yang selalu berubah, saya sering dengar orang-orang yang mengkritik pasal-pasal yang sebenarnya sudah diubah. Karena itu, menurut saya, kalau mau mengkritik RUU harus benar-benar up-to-date. Setiap perkembangannya mesti diawasi. Begitu pula dalam hal RUU BHP ini. Tambah lagi, jangan terlalu mengandalkan orang lain bakal ‘menyuapi’ RUU tersebut. Situ yang mau ngritik, ya situ yang aktif nyari berita dong? :?
  2. Tolong beri alternatif solusi Di sekitar saya, opini yang paling saya dengar kalau melihat aksi turun ke jalan ini adalah, “Jangan cuma bisa ngeritik doang, solusinya mana?”. Saya memang bukan aktivis, tapi sebagai sesama mahasiswa jadi kepikiran juga. Dalam hal BHP ini, berhubung universitas keuangannya harus mandiri, bagaimana jalan keluarnya? Kalau memang “swastanisasi” tidak setuju, sebaiknya apa? :)

Yah, tapi ini menurut saya. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Jadi, seperti biasa, Anda bebas mengkritik atau pun membantah. :) Akan lebih baik lagi jika Anda kembali kesini setelah komennya saya balas. :P

Terima kasih.

1,101 Responses

  1. Haris Suryanegara Says:

    Tidak semua mahasiswa yang berdemo itu mengerti benar-benar bagaimana sebenarnya permasalahan suatu kasus. Bahkan mungkin cuma sebagian kecil saja yang paham. Kalo cuma sekedar ikut-ikutan, ya seperti itulah jadinya. :P

  2. hack87 Says:

    fraksi balkon (bem ui, -pen) ditendang-tendang sama penjaga (gile bener tuh)

  3. njet Says:

    menurut kalian apa yang akan terjadi kalau sektor pendidikan kita dikuasai pihak swasta ? akankah kita kembali ke jaman dulu(hanya orang kaya dan anak orang besar yang bisa sekolah), gmn perasaan ki hajar dewantoro akan hal ini………?

  4. Adip Says:

    @Harris Suryanegara: Setuju. :mrgreen:

    @hack87: Sebegitunya ya? :/ Saya lihat di TV memang bentrok mahasiswa sama penjaganya lumayan brutal sih.

    @mas njet: Mas njet, kalo boleh, saya minta dong isi pasal UU BHP versi lengkapnya. :) Soalnya saya nyari-nyari di internet nggak dapet-dapet. Kalo sudah baca, baru saya bisa komen apa itu komersialisasi pendidikan apa bukan.

  5. mahasiwa Says:

    hancur sudah nie negara kalo seperti ini,kapan majunya!??

    kalo bisanya cuman buat undang – undang terus malah menghancurkan masyarakat yang tertindas

    nasionalisme menuntun kita pada kehancuran

  6. Adip Says:

    @mahasiswa: Kalo mas sudah punya UU BHP versi lengkapnya (dan yang paling baru jelas), saya boleh minta? :)

  7. Ephemeral Dystopia » Blog Archive » Reaksioner Says:

    [...] supaya ngga ikutan terbawa mainstream penolakan maupun penyetujuan UU BHP — atau kalau meminjam istilah Agent K, supaya ngga ikutan menjadi hewan yang dungu, panikan, [...]

  8. Catshade Says:
    menurut kalian apa yang akan terjadi kalau sektor pendidikan kita dikuasai pihak swasta ? akankah kita kembali ke jaman dulu(hanya orang kaya dan anak orang besar yang bisa sekolah), gmn perasaan ki hajar dewantoro akan hal ini………?

    Saya harap komentator anonimus ini sadar bahwa Ki Hajar Dewantara dan Yayasan Taman Siswanya adalah pengusaha swasta di sektor pendidikan. :lol:

  9. Catshade Says:

    Bentar…bener kan kalau Taman Siswa itu yang bikin K. H. Dewantara? ^^; lupa2 inget, tadi komen agak terburu2

  10. Adip Says:

    Nice fact. :lol:

    Yep, Taman Siswa yang bikin K. H. Dewantara. Menarik juga melihat bahwa sektor swasta adalah justru yang pernah menjadi pengembang pendidikan Indonesia. :mrgreen:

  11. baobaz Says:

    ruu BHP yang telah disahkan bisa didapat dari: http://tarmizi.files.wordpress.com/2008/12/ruu-bhp.pdf

    sebenernya yang perlu dicermati bukan mengamuknya ketua BEM UI sih, tapi apakah BHP ini memberi dampak yang baik bagi mahasiswa? sepertinya engga deh. Kalo menurut saya wajar sih ketua BEM UI mpe ngamuk gitu. Gw ga bisa ngebayangin lagi deh, tahun depan biaya kuliah bakal naik berapa lagi deh..

  12. IRinzZz... Says:

    Kalau biaya kuliah naik…. Kasian orang-orang yang tak memiliki cukup banyak uang….

    Sejujurnya saya belum pernah baca BHP itu…

    Tapi…, jika investor di bidang pendidikan itu investor asing, saya khawatir…

    Mungkinkah bangsa asing ingin kalau kita, Indonesia lebih pintar dari negaranya..??? Yang kita takutkan, adanya penjajahan lewat pendidikan…

    Padahal kita tahu…, pendidikan dan kaum-kaum muda lah yang akan melanjutkan perjuangan bangsa…

    Jika kaum muda nya telah terpengaruhi, mau dikemanakan bangsa dan negara ini…

  13. ghozt Says:

    aq cm pgn nanya sm tmn2 yg gbg d sini ttg BHP_khususnya yg dah ngerti+phm ttg BHP_pertanyaannya: apkh UU BHP mengijinkan universitas mencari dana d luar pungutan kpd mhsw?misalnya dgn mendirikan unit2 bisnis?tlg bls scptnya…thnks b4

  14. madi Says:

    mahasiswa sebaiknya aksi jgn sekedar aksi saja.. tapi harus benar-benar tahu inti permasalahan..

  15. kifly Says:

    semuanya Pada DEMO! tapi pernah gak mikirin SOLUSINYA??! materi aj’ ngak dikuasai dah berkoar2. payah!

  16. Anasya Linggani Says:

    Hei.. Hei.. Yang kita serang bukan cuma undang”nya aja. Tapi Entitas ‘kenapa BHP’ harus dibuatlah juga harus dimasalahkan. Setau saya. Bem UI Kmaren emang sempat kecolongan.. Tapi, selanjutnya mereka bisa memperbaiki itu. Apa daya kalo keadaan ternyata memaksa mereka untuk langsung Terjun aksi meski mereka paham kalau ada bagian” yang kurang mereka pahami.. Aksi mahasiswa itu insidental.. Kalo waktunya memungkinkan untuk mendukung aksi, ya mereka turun. Gak semua waktu itu cocok untuk ngelakuin aksi. Jangan juga kita nyalain mereka yang aksi. Karena sadar atau tidak, kita memang punya peran wajib sebagai mahasiswa. Memang, aksi bukan segalanya. Tapi, bukannya baik kan kalo setidaknya kita sedikit aja ngehargai mereka yang mau merelakan waktu mereka demi kita juga.. Saya juga bukan aktivis, kok. Tapi saya ngerti dgn maksud mereka. Malahan saya iri sekali.. Mereka mau nanggung malu demi keadilan, sementara saya masih belu bisa apa-apa.. Hhe,.. Jadi. Jangan seenaknya nyalain juga, ya,..

  17. ire rosana Says:

    aku butuh alamat email/web/blog/facebook juga bisa seorang pakar pendidikan atau pengamat pendidikan…bisa dosen, rektor, kajur,,de el el dapatkah kau membantuku memberikanya… aq butuh wawancara via on-line aku aktivis LPM POLINES, untuk mjalah kampus… tahanks for the information and for replay my message

  18. edo Says:

    Aing Teu Ngarti BHP, Maca ge encan, Ditandatangani ge tenyaho, aduhhh.. parusing euyyyyyyyyy..

    yang pasti dalam dunia pendidikan adalah orangtua, orngtua yang pandai lebih baik membelikan buku dan berdagang daripada sekolah tanpa hasil. jangan bergantung pada siapapun kepintaran fan kecerdasan kita bukan karna UU tapi karna semangat kita ingin belajar untuk sukses. jadi introspeksikan diri sendiri sebelum mengintrospeksikan orang lain. salam akademia…!