Bersyukur dan Kasih Sayang
06/10/2011 in I Learned, I Shared, I Writen
Para sahabat bagaimana bila sebuah kejadian atau hal yang tidak kita inginkan silih berganti dan bahkan kadang berulangkali menimpa kita? Apa sih kunci pembebasan diri dari semua itu? Yang ada kadang galau, bingung, stuck juga yah, ehm…apa malah melampiaskan? Sebenarnya kembali pada diri sendiri bagaimana kita menghadapinya dan solusinya adalah bersyukur dengan apa yang menimpa kita, mungkin sebagian mereka mengatakan “Hi…man ini tidak realistis!” Uppsss…wait a minute, coba renungkan bukankah bersyukur itu menuntut kepada keberhasilan dan menyingkirkan kotoran-kotoran (sikap negatif) yang ada yang kadang lekat dengan kita ini. Nah…bersyukur ini yang akan membebaskan diri dari kecemasan atas kesalahan, dan hal ini adalah realistis. Yang mampu mendorong setiap dari kita mampu bergerak maju dan antusias, selain itu akan meringankan hidup yang memang serba limit ini bukan?
Semakin banyak bersyukur akan semakin banyak menerima dan ringan dalam segala hal positif tentunya, wah…alangkah bahagianya yah bila hal tersebut selalu mengelilingi kehidupan kita ini. Mari kita coba lihat keberhasilan yang telah kita raih, walaupun sekecil apa pun itu kita harus mensyukurinya, bagaimana tidak Tuhan itu sangat bijak dan tidak bisa dipungkiri Dia Yang Maha Adil kepada setiap hamba terutama yang dekat dengan-Nya. Dengan itu kita setidaknya tidak terpaku pada kegagalan-kegagalan yang ada dan bahkan mengingkarinya. Mari kita bertanya pada diri sendiri “Bukankan orang yang hanya menggerutu dan berkeluh kesah bagaimana mungkin akan berhasil.” Berhasil pasti dengan usaha dan berdoa tentunya. Karena usaha yang dilakukan akan membuka cakrawala positif diri kita sendiri. Bersyukurlah, maka cakrawala itu akan tampak di depan kita.
Hi…man masih ada lagi nih terusannya, bersyukur itu dibarengi dengan kasih sayang he..he..biar ngga’ sendirian. Sebelumnya, para sahabat sekalian masih ingatkan sama pepatah yang berbunyi “Sedikit demi sedikit…, hayo apa terusannya..?” Pasti terusannya “Lama-lama menjadi bukit kan..he..he..” Tentang ini saya kutip dari tulisan Bapak Ir. Andi Muzaki, MT. seorang motivator dan penulis Buku Motivasi Net. Pepatah di atas saya yakin telah banyak di antara kita yang pernah memakainya, bahwa dalam pepatah itu tidak hanya diartikan dengan mengumpulkan sen demi sen, rupiah demi rupiah. Dan pada waktunya kita akan mendapatkan sepundi bahkan kemudian membukit pula. Namun tahukah para sahabat sekalian pepatah ini tidak sekedar berbicara tentang hidup hemat atau ketekunan menabung, he..he..hayo ngaku siapa yang rajin menabung nih? Pepatah ini menyiratkan tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekedar sekantung uang.
Maknanya yaitu bila kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita, maka kebesaran jiwa dalam diri sendiri akan kita dapati. Hmmm..begitu bahagianya kan bila mampu seperti itu. Jika bukan kasih sayang dan keindahan yang menjadi warna hati, wajah, dan cara-cara kita, pasti bukan keindahan yang kita lihat dan rasakan di dunia ini. Nah ada pertanyaan lagi, bagaimana yah tindakan-tindakan kecil itu mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya? Jawabannya, kebesaran jiwa akan tercerminkan bila disertai dengan secercah kasih sayang di dalamnya. Sekali lagi kasih sayang, yah kasih sayang untuk sesama. Ucapan terimakasih, senyuman, sapaan ramah, jabat tangan erat, atau mungkin pelukan persahabatan adalah mungkin tindakan yang sepele saja. Namun dalam liputan kasih sayang, ia jauh lebih tinggi dengan bukit tabungan uang kita. ^_^
moko said on 12/03/2012
Setuja mas bro… tambah satu mas bro! berbagi!