Doa ga shimarimasu, doa ga hirakimasu. Bayangkan jika sapaan itu terdengar ketika memasuki sebuah lift di Jepang yang sapaan tersebut bukan dari teman atau orang yang dikenal melainkan pesan yang telah terekam dan akan didengarkan dari lift di setiap lantai ketika pintu terbuka dan tertutup. Begitu juga dengan banyaknya jidouhanbaiki (Vending Machine) yang terdapat di setiap daerah di Jepang bahkan di tempat terpencil sekalipun. Melihat contoh kecil seperti ini secara umum bisa di simpulkan bahwa masyarakat Jepang dalam kesehariannya terbiasa dengan berbagai produk yang bisa membantu kehidupannya dalam sehari-hari, dan inilah menjadi kesan pertama kali ketika mendapatkan kesempatan untuk ikut program Osaka Gas di Japan Foundation. Tetapi dengan melihat langsung keadaan Jepang seperti ini, ketergantungan terhadap teknologi yang berlebihan dampak negative nya dari keadaan seperti ini bisa di rasakan hilangnya kepekaan masyarakat Jepang terhadap sesama yang mengakibatakan pemberian label terhadap orang Jepang yang pendiam, itu juga terlihat ketika menaiki kereta api di Jepang keadaan dalam kereta pun terasa tenang yang jauh berbeda dengan kereta api Indonesia dimana penumpangnya komunikasi satu sama lain.
Terdapatnya jidouhanbaiki (Vending Machine) di Jepang. Keberadaan jidouhanbaiki (Vending Machine) ini sangat mengancam pedagang tradisional Jepang mungkin inilah salah satu modernisasi yang di lakuakan oleh Jepang di abad 21 sehingga pelaku-pelaku perdagangan tradisional tergeserkan dengan kehadiran jidouhanbaiki (Vending Machine) yang berada dimana-mana di setiap pelosok Jepang. Kehadiran jidouhanbaiki (Vending Machine) ini pula menawarkan barang yang sangat bervariatif tidak hanya berupa minuman dan makanan ringan, misalnya : Koran, korek api, rokok, kupon makanan, kamera sekali pakai hingga bunga segar pun di tawarkan oleh mesin ini. Dengan hanya memasukkan uang logam ke dalam mesin kita bisa memilih apa yang di tawarkan oleh jidouhanbaiki (Vending Machine) tersebut.
Seekor anjing berjalan dengan gagahnya bersama tuannya dengan mengenakan pakaian yang bagus dan menggunakan kaca mata ribben itulah yang sering kali terlihat ketika berada di Jepang. Dalam beberapa literatur Masyarakat Jepang juga di kenal dengan sifat penyayang terhadap binatang, itu pun terlihat ketika berkunjung ke Jepang dalam program Osaka Gas ini tetapi sayang nya mungkin bagi sebahagian banyak orang Jepang, rasa sayangnya terhadap binatang yang berupa seekor Anjing ataupun Kucing terlalu berlebihan bahkan boleh jadi rasa sayang tersebut melebihi rasa sayang terhadap diri sendiri. Perhatian yang di berikan terhadap binatang yang terlalu berlebihan ini boleh jadi diambil dari konsep budha yang dalam bahsannya untuk dapat bahagia dan bertahan hidup di dunia ini, diajarkan bahwa sebagai manusia, kita harus mampu hidup secara harmonis dengan lingkungan dan alam sekitar, termasuk flora dan fauna. Karena sifat dan hukum alam saling bergantungan dan berkaitan, begitulah kehidupan kita di dunia ini saling bergantung satu dengan yang lainnya. Jika saja ada salah satu unsur yang ada mengalami kerusakan, maka unsur yang lain akan terkena imbasnya. Contohnya saja dampak yang dihasilkan jika terjadi kerusakan terhadap flora dan fauna; ekosistem menjadi tidak seimbang, Sumber Daya Alam menjadi langka, menurunnya kualitas kesehatan, tragedi lingkungan karena kerusakan hutan (terjadi banjir dan longsor), hilangnya kesuburan tanah, dan bisa saja sampai pada putusnya daur kehidupan di bumi. Maka dari itu Buddhisme mengajarkan berbagai praktik kehidupan yang membawa manusia kepada keharmonisan .
Kemungkinan yang lain terhadap rasa sayang orang Jepang terhadap binatang peliharaan itu juga bisa di sebabkan oleh rasa ingin memamerkan apa yang di milikinya terhadap orang-orang yang berada di sekelilingnya sebagai simbol kemapanan dari seseorang ataukah masyarakat Jepang yang terkenal sangat individual ini memberikan perhatian yang lebih terhadap hewan peliharaannya sebagai suatu bentuk pelarian yang di milikinya untuk memiliki teman karena sifatnya yang individualis.
Dalam sebuah materi diskusi yang di dapati sewaktu mengikuti program ini adalah tentang Kehidupan orang Jepang ada kalimat pendek yang pernah di lontarkan seorang sensei untuk materi diskusi ini :
Kedisiplinan dan taat terhadap aturan itulah image orang Jepang yang menjadi pembicaraan yang berlaku umum di luar Jepang seolah-olah masyarakat Jepang itu dilahirkan oleh sang pencipta dengan keadaan sempurna. Betapa tidak adilnya sang pencipta ketika masyarakat Jepang di lahirkan sempurna seperti itu sedangkan masyarakat Indonesia tidak mendapatkan kesempurnaan yang di miliki oleh masyarakat Jepang
Bahkan ada kalimat kecil yang di ungkapkan pengajar “Nihon jin mo ningen desu” ketika mendengarkan kalimat yng di lontarkan oleh sensei tersebut serentak diskusi semakin menyenangkan karena sebelumnya teman-teman yang berasal dari negara lain seperti Eropa Timur masih beranggapan Jepang itu perilaku masyarakatnya dalam keseharian nya menaati sebuah konsep kesempurnaan yang di banyak di tuliskan oleh peneliti-peneliti Jepang terdahulu yang saat ini kesimpulan tersebut berkata lain. Secara nyata apa yang terdapat dalam image Jepang ketika berada di Osaka itu berkata lain misalnya saja masalah kedisiplinan waktu dalam program 2 bulan di Jepang tiga kali sensei yang seharus nya mengajar pada waktu itu telat datang untuk mengajar, juga ada satu waktu sensei yang akan mengajar malah tidak hadir untuk mengajar dan beberapa dari sensei lain panik sehingga dengan sangat terpaksa menggabungkan kelas kami dengan kelas yang lain.
Diberlakukannya peraturan pemerintah Jepang tentang tempat-tempat yang diperbolehkan merokok di Jepang sehingga harus membuat tempat khusus untuk merokok terlihat ketika berkunjung ke Jepang dan ini juga menjadi salah satu image terhadap orang Jepang yang taat aturan tetapi sayang nya image itu pudar ketika berada di Osaka. Kebanyakan dari masyarakat di Osaka khususnya perokok ada juga yang tidak mematuhi aturan untuk merokok di tempat yang telah di buat oleh pemerintah setempat melainkan merokok sambil jalan seperti halnya orang Indonesia ada juga yang merekok tepat di luar kotak tempat merokok yang di tentukan.
Salah satu koran harian ternama di Indonesia pernah memuat sebuah berita yang menuliskan kedisiplinan orang jepang ketika menyebrang jalan raya dengan setianya berdiri menunggu lampu berubah menjadi hijau. Barulah kemudian dia menyebrang, itu adalah salah satu wacana yang tergambarkan ketika kita bercerita tentang perilaku masyarakat jepang tetapi nyatanya wacana tersebut bisa saja dianggap keliru karena masayarakat jepang sendiri ada juga yang tidak mematuhi aturan untuk menyebrang di jalan raya walaupun itu jalannya agak ramai yang berbeda ketika sepi.
Kemegahan yang di miiki oleh bandara internasional kansai konon katanya pondasinya campuran dari material bumi dan sampah elektronik yang dikumpulkan di daerah kansai dan sekitarnya. Pada bagian ini saya ingin menceritakan beberapa hal menarik tentang sampah di jepang. Sebelum berangkat ke jepang penggambaran yang ada tentang jepag itu ialah negara yang bersih bahkan tidak ada sampah sedikit pun yang berserakan akan terlihat. Hari pertama ketika tiba di center tempat dilangsungkannya program yang diikuti ini adalah pengenalan tentang bagaimana cara membuang sampah yang baik di Jepang. Disayangkan ketiak keluar dari bandara internasional kansai sekitar 30 meter di depan center sampah juga banyak yang berserakan bahkan ada tv yang sudah tidak layak pakai juga yang di buang pakaian bekas hingga sepeda yang berhari hari terparkir entah milik siapa. Sejak tiba di jepang hingga waktu dimana harus kembali ke Indonesia sepeda itu masih berada di tempat yang sama. Ini menandakan kesadaran masyarakat jepang serta kedisiplinan yang selalu di agung-agungkan oleh masyarakat Indonesia bahwa jepang adalah negara yang bersih dan tidak ada sedikitpun sampah yang berserakan ternyata keliru.
Meskipun demikian ada hal yang baik yang bisa di terapkan di Indonesia masalah pemisahan sampah yang bisa di daur ulang seandainya Indonesia bisa melakukannya ini bisa menjadi lahan pekerjaan serta bisa juga membuat sampah Indonesia termanajeman dengan baik.
Salah satu hal yang paling menarik dan berkesan ketika di jepang ialah keteraturan waktu dalam belajar awalnya ketika berada di jepang keteraturan itu sangat menyiksa bahkan untuk satu minggu pertama itu terasa membosankan bahkan kami sering mendiskusikan masalah keteraturan yang di miliki oleh masyarkat jepang terhadap waktu itu, bahkan beberapa teman juga sering mengatakan kalau kehidupan yang teratur itu seperti robot yang semuanya serba diatur sedemikian rupa sehingga tidak boleh terlepas dari jadwal yang telah ditentukan tetapi karena terbiasa keteraturan itu bisa di lalui selama 43 hari di jepang. Ketika kembali ke Indonesia rasa bebas dari keteraturan jelas di rasakan tetapi ternyata hidup dengan keteraturan dan dengan tujuan yang jelas lebih baik dari pada tidak teratur.
Namae mo ningen
Namanya juga manusia, tak ada yg sempurna deshou ne…
Kekurangannya jidouhanbaiki, nda bisa ki nawar, haha
mantab mas,, kapan ya saya bisa kesana…