Tips pada saat di Wawancara

Posted by Muhammad Reza Rustam on April 16th, 2012 under Umum
 •  2 Comments

 

Wawancara kerja berguna tidak hanya untuk menilai kemampuan Anda, tapi juga perilaku. Banyak hal harus dipersiapkan agar momen yang menentukan ini berjalan lancar. Salah satunya, mengetahui bahasa tubuh yang sebaiknya dihindari.

Profesor Mehrabian, ahli psikologi dari Universitas UCLA, Amerika, bahasa tubuh sangat menentukan penilaian terhadap diri Anda ketimbang kata-kata yang terucap. Menurut penelitiannya, gerak tubuh dan ekspresi wajah memiliki pengaruh 55 persen sementara kata-kata yang diucapkan hanya 7 persen.

Kesempatan untuk menciptakan kesan pertama yang baik tak memakan lama. Menurut penelitian, 30 detik hingga empat menit pertama merupakan waktu kritis yang sangat menentukan. Nah, agar tak salah langkah saat wawancara kerja, hindarilah beberapa gerak tubuh yang bisa mengundang penafsiran negatif pada diri Anda.

Senyum palsu Masuklah ke ruangan wawancara dengan percaya diri dan senyum yang tulus. Senyum yang terpaksa akan sangat terlihat dan membuat Anda terlihat seperti orang yang suka berpura-pura. Senyum yang tulus mengesankan Anda orang yang percaya diri, terbuka, dan nyaman dengan keadaan sekitar. Tapi hindari juga tersenyum terus-menerus yang bisa memberikan sinyal yang salah pada calon atasan Anda.

Gerakan dan posisi tangan Gerakan tangan memegang peranan penting dalam mengekspresikan bahasa tubuh Anda. Melipat tangan di dada merupakan bahasa tubuh yang wajib dihindari. Melipat tangan di dada mengesankan Anda menjaga jarak, bersikap tertutup, atau malah terkesan bosan dengan pembicaraan ini. Mungkin saran ini sudah sering Anda dengar, tapi kenyataannya saat sedang gugup masih banyak orang melakukannya.

Menepuk-nepukkan tangan atau terus menggerakkan tangan menandakan Anda sangat gelisah. Gerakan ini secara tidak langsung juga bisa membuat orang yang mewawancarai Anda menjadi tidak nyaman dan terganggu.

Hindari juga mengetuk-ketukan tangan ke meja saat proses wawancara. Melakukan hal ini secara tidak langsung Anda mengirimkan sinyal kalau Anda bosan atau merasa lebih tahu dari si pewawancara.

Sebaiknya letakkan tangan Anda secara santai dan terbuka di posisi yang paling membuat Anda santai. Hindari terlalu banyak menggunakan gerakan tangan atau jari untuk menghindari kesan yang salah.

Jabatan tangan Saat memulai dan mengakhiri wawancara jangan lupa jabat tangan si pewawancara dan ucapkan terimakasih. Jabat tangan dengan erat namun wajar. Jangan biarkan tangan terlalu lemas atau mencengkeram terlalu keras. Jika telapak tangan Anda berkeringat, seka dahulu keringat di tangan Anda sebelum masuk ke ruang wawancara.

Menyentuh wajah Menyentuh wajah sebaiknya dihindari saat wawancara kerja. Gerakan ini dapat menyiratkan Anda gugup atau tidak jujur terhadap pernyataan Anda.

Posisi kaki Duduklah dengan kedua kaki menyentuh lantai yang menggambarkan Anda nyaman dan percaya diri. Saat gugup atau cemas Anda sering tak membuat gerak tubuh secara tidak sadar. Salah satu yang paling sering ditemui adalah menggerak-gerakan kaki tanpa henti. Gerakan kaki ini menandakan Anda sangat tidak nyaman bahkan tak sabar ingin keluar dari ruangan.

Kontak mata & posisi duduk Kontak mata dengan si pewawancara memang baik. Tapi terus-menerus menatap si pewawancara tanpa henti juga bisa membuat dia tidak nyaman. Ahli gerak tubuh Janine Driver mengatakan, 60 persen kontak mata sudah cukup membuat Anda terlihat antusias. Selain mata, fokuskan tatapan pada segitiga bagian atas wajah yaitu area sekitar alis kanan-kiri dan pertengahan hidung.

Jangan terlalu sering menatap bagian bawah wajah terutama bagian mulut dan dahi yang bisa membuat si pewawancara menjadi tidak nyaman. Jika pewawancara Anda lebih dari satu, tatap mereka secara bergantian. Hindari tatapan kosong yang membuat lawan bicara Anda kurang nyaman.

Duduklah dengan posisi yang nyaman, tidak terlalu tegak maupun tidak terlalu bersandar. Condongkan tubuh sedikit (sedikit saja) ke arah pewawancara untuk menandakan Anda fokus dan antusias.

Selamat mencoba!

Anthony Giddens: suatu pengantar

Posted by Muhammad Reza Rustam on April 8th, 2012 under Umum
 •  No Comments

 

Mencari tahu tentang pemikiran-pemikiran giddens tentang strukturasi akhirnya mengantarkan saya pada buku ini yang dituliskan dengan gaya bahasa yang sangat ringan dan mudah untuk di pahami. Berikut ini adalah resensi yang telah di buat oleh salah satu dosen di Universitas Indonesia, ternyata dosen ini adalah salah satu dosen saya. Dari pada ngomong panjang lebar mending silahkan di baca artikel ini….!!!

 

B. Herry Priyono, Anthony Giddens: suatu pengantar.

WACANA VOL. 10 NO. 1, APRIL 2008

Cetakan kedua. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2003, 98 hlm. (Cetakan pertama 2002). ISBN 979-9023-85-8. Harga: Rp15.000,00 (soft cover).

Diah Madubrangti

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia

 

Dualitas struktur dan pelaku menunjukkan bahwa pelaku dikepung struktur.  Sebaliknya,  sangatlah sulit untuk memahami bahwa struktur  mengandalkan pelaku. Itulah salah satu paparan yang dikemukakan oleh Herry Priyono, penulis  buku  saku Anthony  Giddens:  suatu  pengantar. Dalam  buku  tersebut,  ia  ingin  memetakan pemikiran dasar Giddens yang luas, tetapi hanya dalam bentuk buku saku. Ia menulis buku saku ini karena terkesan pada Giddens yang mengajarinya ”tidak ada aksi tanpa teori”.  Sebagai  mahasiswa  program  doktor  bidang  Ekonomi-Politik  dan Sosiologi yang pada waktu itu dosennya adalah Anthony Giddens, Priyono berusaha  memahami  sosok  Giddens  sebagai  seorang  teoritikus  yang  tidak pernah memisahkan tindakan dari  teori. Pemetaan pemikiran dasar Giddens ini ditulis oleh Priyono dalam tiga bagian, yaitu pertama, refleksi diri Giddens terhadap  teori  lain,  kedua,  beberapa  terobosan  teori  Giddens,  dan  ketiga, ringkasan penerapan teorinya.

Priyono  menguraikan  cara  pandang  Giddens  dalam  mengelompokkan struktur pada halaman 24-26. Pertama, struktur signifikasi (signification), yaitu  struktur  yang  berhubungan  dengan  pengelompokan  dalam  simbol, pemaknaan  dan  wacana.  Kedua,  struktur  penguasaan  (domination),  yaitu struktur mencakup penguasaan orang dalam  pengertian  penguasaan politik dan  ekonomi.  Ketiga,  struktur  legitimasi  (legitimation),  yaitu  struktur  yang berkaitan  dengan  peraturan  normatif  yang  terdapat  dalam  tata  hukum. Uraiannya  diungkapkan  dalam  bentuk  tabel  dan  contoh-contoh  dengan mengambil situasi yang ada pada masa Orde Baru.

Kerangka berpikir Giddens dalam bidang ilmu-ilmu sosial berbeda dengan kerangka berpikir para teoritikus ilmu-ilmu sosial seperti Talcott Parsons, Karl Marx, dan Levi-Strauss, walaupun sebenarnya kerangka berpikir Giddens dibangun  berdasarkan  pemahaman  Giddens  melalui  kritikan-kritikan terhadap  teori  fungsionalisme,  marxisme,  dan  strukturalisme.  Menurut Giddens (1984: 12-20) dalam perspektif ilmu-ilmu sosial pemahaman dinamika masyarakat selalu dikaitkan dengan  ”ruang dan waktu”,  dan ”pelaku dan tindakan pelaku” .

Pandangan  Erving  Goffman  dan  Talcott  Parsons  tentang  pengertian ”pelaku dan tindakan pelaku” diuraikan oleh Priyono, bahwa setiap anggota masyarakat  adalah  pelaksana  peran  sosial  tertentu  yang  membentuk  satu sistem  sosial  dan  setiap  sistem  sosial  mempunyai  kebutuhan  yang  harus dipenuhi.  Priyono  (hlm.  9-10)  dalam  memaparkan  pandangan  Giddens mengungkapkan bahwa Giddens ingin menghapus istilah fungsi (function) dari  ilmu-ilmu  sosial  dan  ingin  mengembangkan  teori  strukturasi  sebagai suatu ”manifesto contra fungsionalism” karena Giddens tidak bisa menerima pandangan pada teori fungsionalisme yang mengatakan bahwa sebuah sistem sosial mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan pada teori fungsionalime mempunyai syarat fungsional yang harus dipenuhi, yaitu  goal   ‘tujuan’,  adaptation  ‘adaptasi’,  intergration   ‘integrasi’,  dan  latency  ‘tuntutan’.

Giddens membeda kan dimensi ruang dan waktu dalam menjelaskan gejala sosial.  Hubungan antara ruang dan waktu bersifat kodrati dan menyangkut makna serta hakikat tindakan itu sendiri , karena pelaku dan tindakan tidak dapat  dipisahkan.  Priyono  memberikan  contoh,  bahwa  tindakan  dosen berbicara di ruang kelas pada jam-jam tertentu disebut ”berkuliah”  (hlm.  37). Maksudnya, ia   ingin  memetakan  pernyataan  Giddens  bahwa  tanpa ruang dan waktu  tidak ada tindakan , sedangkan dalam pandangan  Talcott Parsons, tindakan  dalam  bentuk  apapun  merupakan  pelaksana  peran-peran  sosial tertentu . Selain itu, setiap tatanan masyarakat selalu dikaitkan dengan peran sosial  dan  fungsi  (function).  Giddens  tidak  menyetujui  dengan  pernyataan Parsons  bahwa  di  dalam  sistem  sosial  terdapat  fungsi.  Menurut  Giddens, sistem  sosial  tidak  mempunyai  kebutuhan  apapun   terhadap  pelaku. Yang mempunyai kebutuhan adalah para pelaku  itu sendiri, k arena pelaku adalah peran sosial. Pada sistem sosial,  ada  nilai (value) yang  mengikat tindakan setiap individu sebagai anggota masyarakat dalam peran sosialnya, entah sebagai seorang  guru,  buruh,  murid  ataupun  manajer.   Terhadap  pernyataan  ini, Priyono (hlm. 12) mengungkapkan kritikan Giddens dengan cara membuat tabel logika terhadap bagian dan keseluruhan konsepsi dasar  fungsionalisme dan strukturasi.

Dalam  marxisme  klasik,  untuk  memahami  dinamika  masyarakat, pandangan  berbagai  segi  kehidupan  masyarakat  dikaitkan  dengan  sistem kapitalis. Priyono (hal. 32-39),  lebih banyak memaparkan kritikan Giddens terhadap  pemikiran  Karl  Marx  mengenai  sistem  kapitalisme.  Menurut Giddens, d inamika masyarakat terjadi bukan pada reduksi struktur dominasi pada  penguasaan  alokatif  ekonomi,  tetapi terjadi  karena  proses  stukturasi dalam  ben tuk  reproduksi  praktik  sosial  dan  sistem  kapitalisme.  Yang dimaksud struktur dominasi pada penguasaan alokatif ekonomi oleh Priyono, sebenarnya  mengacu  pada  hubungan  sosial  pada  tataran  struktur  dengan kekuasaan yang berhubungan dengan kapasitas keterlibatan dalam hubungan sosial itu. Kapitalisme membutuhkan teknologi dan inovasi teknologi. Hal ini dikoordinasi dalam praktik sosial yang berlangsung  melalui ruang dan waktu (lihat Giddens 1984).

Dalam  gagasan  marxisme,  pelaku  dan  struktur  bersifat  fungsional  karena    perubahan  terjadi  dalam  berbagai  kehidupan  masyarakat melalui kontradiksi sistem yang satu dengan sistem yang lain. Menurut Marx (hlm. 33), perubahan terjadi melalui mobilisasi struktur dominasi, maksudnya terbentuk dalam  dan  melalui  penguasaan  alokatif  terhadap  barang  dan  penguasaan otoritatif  terhadap  orang.  Menurut Giddens, dalam logika strukturasinya, dikatakan bahwa perubahan terjadi melalui transformasi yang muncul secara periodik.  Struktur  tidak  mengkoordinasi  suatu  interaksi  sosial  yang  baru, tetapi mengoordinasi perubahan yang terjadi dalam interaksi sosial. Setiap perubahan terjadi pada struktur dalam sistem sosial dan berkembang sangat cepat seiring perjalanan zamannya.

Strukturalisme yang dipelopori oleh Ferdinant de Saussure diterapkan dalam  analisis  bahasa  oleh  Claude  Levi-Strauss. Levi-Strauss cenderung menyingkirkan subjek dengan menempatkan sifat manasuka (arbitrary) dan perbedaan (difference) sebagai pembentuk identitas. Giddens  selalu melihat  fakta dan perbedaan sebagai subjek yang selalu dikaitkan dengan perbedaan dalam fakta, misalnya perbedaan antara bahasa (langue) dan ujaran (parole), the  agent  ’pelaku’  dan  agency   ’tindakan  pelaku’,  structure   dan  structuration  (lihat Giddens 1984). Priyono memberi contoh mengenai fakta dan perbedaan yang ada pada sistem kekuatan militer pada zaman Soeharto, tetapi uraian yang  disampaikan  oleh  Priyono  hanya  bersifat  informatif.  Dikatakannya bahwa  negara  dan  bangsa  pada  masa  itu  menunjukkan  prinsip  strutural dalam  konteks  militerisme.  Militer  mengkoordinasi  praktik  kontrol  atas  peran sosial (hlm. 43-44).

Giddens lebih dapat memahami pemikiran kaum strukturalisme daripada fungsionalisme,  walaupun  keduanya  menunjukkan  adanya  penyingkiran subjek. Giddens lebih menaruh simpati pada beberapa aspek strukturalisme daripada  fungsionalisme,  karena  kehadiran  subjek  dalam  strukturalisme masih tetap ada.

Priyono  menuliskan  penjelasan  waktu  dan  ruang  berdasarkan  teori Giddens ,  yaitu   teori  strukturasi,  bukan  strukturalisme. Strukturasi  berarti kelangsungan suatu proses hubungan  antara pelaku tindakan dan struktur. Ia memberi contoh kehidupan masyarakat tradisional di daerah Jawa Tengah yang melakukan transaksi jual-beli tanpa ditentukan oleh kesatuan ruang dan waktu. Seseorang membeli barang di Wonosari, dan menjualnya di Kota Gede (hlm. 40). Proses jual-beli yang berulang kali memakai  keterikatan waktu dan ruang dalam konteks manajemen modern, menurut Priyono tidak sesuai bila menggunakan teori strukturasi. Menurut Giddens (hlm. 43), ada empat gugus reflektivitas-institusional yang membentuk dan menyangga modernitas, yaitu kapitalisme (capitalism), negara-bangsa (nation-state), kekuatan militer (military power), dan pembangunan (created environment).

Priyono menjelaskan juga konsep-konsep Giddens (hlm. 40-49), antara lain konsep ”relasi dualitas” Giddens, yaitu konsep yang menguraikan hubungan pelaku dan struktur, serta  hubungan ruang dan waktu. Kedua hubungan ini saling terkait dan membentuk pola hubungan dalam praktik sosial, karena  melalui peristiwa yang terjadi berulang kali akan  terpola hubungan dalam praktik sosial. Priyono juga menjelaskan  konsep ”objektivitas  struktur ” yang dikatakan  oleh  Giddens tidak  bersifat  eksternal  melainkan  melekat  pada tindakan  dan  praktik  sosial.  Priyono menyampaikan  bahwa  objektivitas struktur dalam strukturasi berbeda dengan struktur dalam fungsionalisme dan strukturalisme.

Konsep  hermeneutika  ganda  tidak  terlepas  dari  ilmu-ilmu    sosial  dan objek kajiannya. Giddens mengatakan, bahwa hermeneutika ganda (double hermeneutic) adalah arus timbal balik antara dunia sosial yang dilakukan oleh masyarakat  dan  wacana  ilmiah  yang  dilakukan  oleh  ilmuwan  sosial  (hlm. 52). Hal ini dipahami Priyono sebagai transformasi yang dibawa oleh sains dan teknologi, kemudian  melalui praktik sosial, peran dualitas pelaku dan struktur  melibatkan  konsep-konsep  dan  teori  oleh  ilmuwan  sosial.  Kaitan ilmu sosial dan praktik sosial merupakan hubungan timbal balik antara yang dikaji oleh para ilmuwan sosial. Bentuk (form) dan isi (content) dalam praktik sosial merupakan prasarana yang diperlukan.dalam menghadapi modernitas. Modernitas menghasilkan sejumlah profesional dalam sains dan teknologi.

Berdasarkan  konsep-konsep  Giddens,  Priyono   berusaha  memaparkan pemahaman  teori  Giddens  dalam  tiga  kategori  struktur,  yaitu  struktur penandaan, struktur penguasaan, dan struktur pembenaran. Dijelaskan oleh Priyono, bahwa penggunaan istilah kekuasaan perlu dibedakan dengan istilah dominasi pada tataran struktur. Dalam teori strukturasi Giddens, kekuasaan bukan gejala yang terkait dengan struktur atau sistem, melainkan tergantung dari kemampuan pelaku (subjek) dalam paktik sosial atau interaksi sosial. Perubahan kemampuan pelaku selalu terjadi dalam proses strukturasi.

Di dalam kesimpulannya,  Priyono mengatakan bahwa teori strukturasi mencerminkan  kerangka  pemikiran  karya-karya  Giddens. Dikatakan  pula bahwa Giddens  menyadari  bahwa    teori  struturasi  ada  kelemahannya dan  masih  jauh  lebih  memadai  daripada  lainnya.  Priyono  menilai  sebagai orang  yang  ingin  menunjukkan  adanya  keseimbangan  antara  analisis makro dan mikronya.  Priyono mengklasifikasikan konsep-konsep dan teori Giddens dengan membuat skema tentang signifikasi (signification), dominasi (domination), dan legitimasi (legitimation) (hlm. 25). Selain itu, ia juga membuat tabel  mengenai  stuktur  sosial,  sistem  sosial,  dan  praktek  sosial  (hlm.  32). Dari uraiannya, g agasan-gagasan  yang menjadi kerangka berpikir Giddens dapat  digunakan  dalam  berbagai  masalah,  baik  mengenai  negara,  bangsa, modernitas, globalisasi, maupun identitas diri.   

Melalui buku saku ini, Priyono memperlihatkan usaha untuk memaparkan pemikiran  Giddens  dengan  memperkenalkan  teori  strukturasi  kepada pembaca. Dari segi isi, paparan teori sebagai sintesis baru sudah cukup jelas, walaupun dari segi keterbacaan banyak kalimat yang  sulit dicerna maknanya. Misalnya,  penggunaan  istilah  “strukturasi”  (structuration ),  yang  berarti menunjukkan hubungan pelaku dengan struktur sebagai relasi dualitas, atau penggunaan istilah  ”pencabutan” (disembedding), yang berarti ’pemisahan’ antara  ruang  dan  waktu.  Hal  ini    membuat  pembaca  harus  berulang  kali membacanya. Secara keseluruhan, buku ini dapat direkomendasikan untuk dibaca sebagai buku saku yang memuat informasi awal untuk mengetahui pemetaan  kerangka  berpikir  Giddens.  Walaupun  penjelasannya  tidak gamblang, pembaca  mudah mengenal teori strukturasi dengan sintesis baru yang menguraikan kinerja subjek dalam peran sosialnya. Buku ini menyajikan terobosan  sintesis  baru  Giddens  mengenai  dualitas  pelaku  dan  struktur  dengan mengangkat pelaku sebagai subjek tindakan.

 

Daftar Pustaka

Anthony  Giddens.  1984.  Constitution  of  Society ( Outline  of  the  Theory  of Structuration ). Berkeley, LA: University of California Press.

Kesan-Kesan Selama di Jepang

Posted by Muhammad Reza Rustam on January 10th, 2012 under Jepang
 •  2 Comments

Doa ga shimarimasu, doa ga hirakimasu. Bayangkan jika sapaan itu terdengar ketika memasuki sebuah lift di Jepang yang sapaan tersebut bukan dari teman atau orang yang dikenal melainkan pesan yang telah terekam dan akan didengarkan dari lift di setiap lantai ketika pintu terbuka dan tertutup. Begitu juga dengan banyaknya jidouhanbaiki (Vending Machine) yang terdapat di setiap daerah di Jepang bahkan di tempat terpencil sekalipun. Melihat contoh kecil seperti ini secara umum bisa di simpulkan bahwa masyarakat Jepang dalam kesehariannya terbiasa dengan berbagai produk yang bisa membantu kehidupannya dalam sehari-hari, dan inilah menjadi kesan pertama kali ketika mendapatkan kesempatan untuk ikut program Osaka Gas di Japan Foundation. Tetapi dengan melihat langsung keadaan Jepang seperti ini, ketergantungan terhadap teknologi yang berlebihan dampak negative nya dari keadaan seperti ini bisa di rasakan hilangnya kepekaan masyarakat Jepang terhadap sesama yang mengakibatakan pemberian label terhadap orang Jepang yang pendiam, itu juga terlihat ketika menaiki kereta api di Jepang keadaan dalam kereta pun terasa tenang yang jauh berbeda dengan kereta api Indonesia dimana penumpangnya komunikasi satu sama lain.

Terdapatnya jidouhanbaiki (Vending Machine)   di Jepang. Keberadaan jidouhanbaiki (Vending Machine) ini sangat mengancam pedagang tradisional Jepang mungkin inilah salah satu modernisasi yang di lakuakan oleh Jepang di abad 21 sehingga pelaku-pelaku perdagangan tradisional tergeserkan dengan kehadiran jidouhanbaiki (Vending Machine) yang berada dimana-mana di setiap pelosok Jepang. Kehadiran jidouhanbaiki (Vending Machine) ini pula menawarkan barang yang sangat bervariatif tidak hanya berupa minuman dan makanan ringan, misalnya : Koran, korek api, rokok, kupon makanan, kamera sekali pakai hingga bunga segar pun di tawarkan oleh mesin ini. Dengan hanya memasukkan uang logam  ke dalam mesin kita bisa memilih apa yang di tawarkan oleh jidouhanbaiki (Vending Machine) tersebut.

Seekor anjing berjalan dengan gagahnya bersama tuannya dengan mengenakan pakaian yang bagus dan menggunakan kaca mata ribben itulah yang sering kali terlihat ketika berada di Jepang. Dalam beberapa literatur Masyarakat Jepang juga di kenal dengan sifat penyayang terhadap binatang, itu pun terlihat ketika berkunjung ke Jepang dalam program Osaka Gas ini tetapi sayang nya mungkin bagi sebahagian banyak orang Jepang, rasa sayangnya terhadap binatang yang berupa seekor Anjing ataupun Kucing terlalu berlebihan bahkan boleh jadi rasa sayang tersebut melebihi rasa sayang terhadap diri sendiri. Perhatian yang di berikan terhadap binatang yang terlalu berlebihan ini boleh jadi diambil dari konsep budha yang dalam bahsannya untuk dapat bahagia dan bertahan hidup di dunia ini, diajarkan bahwa sebagai manusia, kita harus mampu hidup secara harmonis dengan lingkungan dan alam sekitar, termasuk flora dan fauna. Karena sifat dan hukum alam saling bergantungan dan berkaitan, begitulah kehidupan kita di dunia ini saling bergantung satu dengan yang lainnya. Jika saja ada salah satu unsur yang ada mengalami kerusakan, maka unsur yang lain akan terkena imbasnya. Contohnya saja dampak yang dihasilkan jika terjadi kerusakan terhadap flora dan fauna; ekosistem menjadi tidak seimbang, Sumber Daya Alam menjadi langka, menurunnya kualitas kesehatan, tragedi lingkungan karena kerusakan hutan (terjadi banjir dan longsor), hilangnya kesuburan tanah, dan bisa saja sampai pada putusnya daur kehidupan di bumi. Maka dari itu Buddhisme mengajarkan berbagai praktik kehidupan yang membawa manusia kepada keharmonisan .

Kemungkinan yang lain terhadap rasa sayang orang Jepang terhadap binatang peliharaan itu juga bisa di sebabkan oleh rasa ingin memamerkan apa yang di milikinya terhadap orang-orang yang berada di sekelilingnya sebagai simbol kemapanan dari seseorang ataukah masyarakat Jepang yang terkenal sangat individual ini memberikan perhatian yang lebih terhadap hewan peliharaannya sebagai suatu bentuk pelarian yang di milikinya untuk memiliki teman karena sifatnya yang individualis.

Dalam sebuah materi diskusi yang di dapati sewaktu mengikuti program ini adalah tentang Kehidupan orang Jepang ada kalimat pendek yang pernah di lontarkan seorang sensei untuk materi diskusi ini :

Kedisiplinan dan taat terhadap aturan itulah image orang Jepang yang menjadi pembicaraan yang berlaku umum di luar Jepang seolah-olah masyarakat Jepang itu dilahirkan oleh sang pencipta dengan keadaan sempurna. Betapa tidak adilnya sang pencipta ketika masyarakat Jepang di lahirkan sempurna seperti itu sedangkan masyarakat Indonesia tidak mendapatkan kesempurnaan yang di miliki oleh masyarakat Jepang

 

Bahkan ada kalimat kecil yang di ungkapkan pengajar “Nihon jin mo ningen desu”  ketika mendengarkan kalimat yng di lontarkan oleh sensei tersebut serentak diskusi semakin menyenangkan karena sebelumnya teman-teman yang berasal dari negara lain seperti Eropa Timur masih beranggapan Jepang itu perilaku masyarakatnya dalam keseharian nya menaati sebuah konsep kesempurnaan yang di banyak di tuliskan oleh peneliti-peneliti Jepang terdahulu yang saat ini kesimpulan tersebut berkata lain. Secara nyata apa yang terdapat dalam image Jepang ketika berada di Osaka itu berkata lain misalnya saja masalah kedisiplinan waktu dalam program 2 bulan di Jepang tiga kali sensei yang seharus nya mengajar pada waktu itu telat datang untuk mengajar, juga ada satu waktu sensei yang akan mengajar malah tidak hadir untuk mengajar dan beberapa dari sensei lain panik sehingga dengan sangat terpaksa menggabungkan kelas kami dengan kelas yang lain.

Diberlakukannya  peraturan pemerintah Jepang tentang tempat-tempat yang diperbolehkan merokok di Jepang sehingga harus membuat tempat khusus untuk merokok terlihat ketika berkunjung ke Jepang dan ini juga menjadi salah satu image terhadap orang  Jepang yang taat aturan tetapi sayang nya image itu pudar ketika berada di Osaka. Kebanyakan dari masyarakat di Osaka khususnya perokok  ada juga yang tidak mematuhi aturan untuk merokok di tempat yang telah di buat oleh pemerintah setempat melainkan merokok sambil jalan seperti halnya orang Indonesia ada juga yang merekok tepat di luar kotak tempat merokok yang di tentukan.

Salah satu koran harian  ternama di Indonesia pernah memuat sebuah berita yang menuliskan kedisiplinan orang jepang ketika menyebrang jalan raya dengan setianya berdiri menunggu lampu berubah menjadi hijau. Barulah kemudian dia menyebrang, itu adalah salah satu wacana yang tergambarkan ketika kita bercerita tentang perilaku masyarakat jepang tetapi nyatanya wacana tersebut bisa saja dianggap keliru karena masayarakat jepang sendiri ada juga yang tidak mematuhi aturan untuk menyebrang di jalan raya walaupun itu jalannya agak ramai yang berbeda ketika sepi.

Kemegahan yang di miiki oleh bandara internasional kansai konon katanya pondasinya campuran dari material bumi dan sampah elektronik yang dikumpulkan di daerah kansai dan sekitarnya. Pada bagian ini saya ingin menceritakan beberapa hal menarik tentang sampah di jepang. Sebelum berangkat ke jepang penggambaran yang ada tentang jepag itu ialah negara yang bersih bahkan tidak ada sampah sedikit pun yang berserakan akan terlihat. Hari pertama ketika tiba di center tempat dilangsungkannya program yang diikuti ini adalah pengenalan tentang bagaimana cara membuang sampah yang baik di Jepang. Disayangkan ketiak keluar dari bandara internasional kansai sekitar 30 meter di depan center sampah juga banyak yang berserakan bahkan ada tv yang sudah tidak layak pakai juga yang di buang pakaian bekas hingga sepeda yang berhari hari terparkir entah milik siapa. Sejak tiba di jepang hingga waktu dimana harus kembali ke Indonesia sepeda itu masih berada di tempat yang sama. Ini menandakan kesadaran masyarakat jepang serta kedisiplinan yang selalu di agung-agungkan oleh masyarakat Indonesia bahwa jepang adalah negara yang bersih dan tidak ada sedikitpun sampah yang berserakan ternyata keliru.

Meskipun demikian ada hal yang baik yang bisa di terapkan di Indonesia masalah pemisahan sampah yang bisa di daur ulang seandainya Indonesia bisa melakukannya ini bisa menjadi lahan pekerjaan serta bisa juga membuat sampah Indonesia termanajeman dengan baik.

Salah satu hal yang paling menarik dan berkesan ketika di jepang ialah keteraturan waktu dalam belajar awalnya ketika berada di jepang keteraturan itu sangat menyiksa bahkan untuk satu minggu pertama itu terasa membosankan bahkan kami sering mendiskusikan masalah keteraturan yang di miliki oleh masyarkat jepang terhadap waktu itu, bahkan beberapa teman juga sering mengatakan kalau kehidupan yang teratur itu seperti robot yang semuanya serba diatur sedemikian rupa sehingga tidak boleh terlepas dari jadwal yang telah ditentukan tetapi karena terbiasa keteraturan itu bisa di lalui selama 43 hari di jepang. Ketika kembali ke Indonesia rasa bebas dari keteraturan jelas di rasakan tetapi ternyata hidup dengan keteraturan dan dengan tujuan yang jelas lebih baik dari pada tidak teratur.

Juventus Song Lyric

Posted by Muhammad Reza Rustam on October 22nd, 2011 under Uncategorized
 •  1 Comment

 

Forza la juve la juve la juve ale’

E’ bianconera la bella signora

Ale’ la juve la juve la juve ale’

Solo la juve e’ grande la juve ale’

 

Tu sei la squadra del cuore

Sempre in campo undici eroi

Vinci l’impossibile e vai

Ti seguiremo anche noi

 

Metti un’altra stella sul petto

Mille mani al cielo per te insieme

L’onda di una magica ola partirà

 

Forza la juve la juve la juve ale’

E’ bianconera la bella signora

Ale’ la juve la juve la juve ale’

Solo la juve e’ magica juve ale’

 

Forza la juve la juve la juve ale’ E’

bianconera la nostra bandiera

Ale’ la juve la juve la juve ale’

Solo la juve e’ grande la juve ale’

 

Juve juve juve juve

 

Notte di coppa campioni

Notte che non finirà mai

Grande l’emozione che dai

Quando tu vinci per noi

 

Tutti allo stadio a sognare

Aspettando l’urlo di un goal insieme

L’onda di una magica ola partirà

 

Forza la juve la juve la juve ale’

E’ bianconera la bella signora

Ale’ la juve la juve la juve ale’

Solo la juve e’ magica juve ale’

 

Forza la juve la juve la juve ale’

E’ bianconera la nostra bandiera

Ale’ la juve la juve la juve ale’

Solo la juve e’ grande la juve ale’

 

Juve juve

 

Robot dari masa ke masa

Posted by Muhammad Reza Rustam on August 5th, 2011 under Umum
 •  2 Comments

Ide robot bukanlah hal yang baru. Cukup lama manusia memimpikan adanya mekanik pintar yang dapat menggantikan tugas manusia. Penemuan mainan dan peralatan otomatis yang kemudian menginspirasi robot dalam bentuk gambar, cerita dan film, menjadi awal dimulainya perkembangannya. Istilah robot pertama kali dipakai tahun 1920 oleh penulis Czech Karel Capek (dibaca “Chop’ek”) dengan karyanya  “R.U.R” atau Rossum’s Universal Robot dimana seorang laki-laki membuat robot dan robot membunuh penciptanya. Banyak kemudian film menggambarkan robot sebagai alat yang tidak bersahabat atau sebagai mesin perusak yang berlawanan dengan arti robot (robota) dalam bahasa Czech yang berarti pekerja paksa.

Beberapa film terkenal seperti starwar tahun1977 dengan menampillan robot C3PO dan R2D2 justru menampilkan robot sebagai pembantu manusia sekaligus juga musuh manusia. Robot dalam film ini terlihat menyerupai manusia atau istilahnya “Android”

1941

Tahun 1941, barulah istilah robotics digunakan dalam teknologi robot oleh penulis fiksi ilmiah Isaac Asimov. Dia juga memprediksi akan munculnya robot-robot industri canggih dimasa datang. Jika kita lihat hari ini, maka apa yang dibayangkan olehnya terbukti dimana begitu pesatnya perkembangan robot-robot industri saat ini. Istilah revolusi robot, robot age atau era robot sudah menjadi hal biasa untuk menjelaskan perkembangan itu. Robotics diterima sebagai istilah atau kata untuk mendeskripsikan semua kemajuan teknologi yang berhubungan dengan robot.

1956

Georde Devil dan Joseph Engelberger membentuk perusahaan robot pertama kali tahu 1956. Devil memprediksi robot akan menjadi bagian penting di industri sebagai operator pabrik dan membantu pekerja dalam menjalankan mesin-mesin pabrik. Beberapa tahun kemudian atau tepatnya 1961, General Motor pertama kali menggunakan robot untuk pabrik otomotifnya. Robot industri kemudian berkembang dan mulai banyak digunakan tahun 1980 oleh perusahaan selain otomotif dimana perkembangan elektronik dan computer membuat robot modern lahir.

Today

Bentuk robot seperti manusia tidak lagi diperhatikan meski perkembangan robot android atau humanoid tetap berlangsung dan mengalami penyempurnaan. Kini robot adalah pekerja industri atau berupa tangan dan lengan yang dikontrol oleh computer dan dapat dirubah fungsinya dengan mengedit program robot. Bentuk robot industri ini lebih dikenal sekarang dibanding robot menyerupai manusia.

Pertanyaannya sekarang apakah robot akan menggantikan manusia? Kemampuan robot untuk melakukan semua pekerjaan manusia masih jauh baik dari sisi ketrampilan dan kecerdasan maupun kebebasannya. Robot sekarang adalah model industri bukan Android dan kita tidak bisa menyamakan kecerdasan ke robot karena ia bekerja berdasarkan perintah yang dimasukan oleh manusia sebagai program. Robot bisa melakukan semua gerakan manusia seperti mengambil, menyentuh, menarik dll tapi robot tidak bisa berfikir. Ilmuwan dan Insinyur mencoba mengembangan kecerdasan buatan buat robot (AI= Artificial Intelegent) tapi untuk membuat robot berfikir seperti layaknya manusia masih sangat jauh.

Kemampuan robot untuk melakukan gerakan manusia sangat membantu dunia industri seperti industri mobil, proses pengelasan, perakitan, pemindahan dan banyak lagi.  Gerakan berulang yang presisi adalah salah satu keunggulan robot daripada manusia sehingga didapat hasil produksi yang konstan dan standard.

Robot industri harus diprogram untuk melakukan semua step gerakan atau kerja sebelum ia digunakan. Tahap awal ini bisa disebut merangkai atau membangun pola berfikirnya robot. Benda kerja harus ditempatnya ditempat yang pasti dan tidak berubah-ubah selama proses (meski sekarang kemajuan object recognition sudah maju namun dalam prakteknya benda kerja masih harus diposisikan ditempat yang tetap). Jika benda kerja meleset dari posisinya maka proses akan salah dan robot tidak bisa mengkoreksinya. Robot tidak bisa melihat dan mendengar. Dia tidak bisa merasakan objek dan meprediksi adanya kesalahan dan robot tidak memiliki kemampuan mengadopsi situasi baru yang terjadi disekitarnya.

Robot memberikan keuntungan tersendiri bagi pekerja industri dan suatu negara dimana ia bisa memperbaiki kualitas hidup manusia karena bebas dari pekerjaan yang menjenuhkan, kotor dan penuh resiko atau dalam istilahnya 3D= Dull, Dirty and Dangerous. Benar bahwa robot akan menimbulkan pengangguran tapi jangan lupa robot juga menciptakan lapangan pekerjaa; Insinyur robot, Teknisi, Sales, Programmer dan Pengawas/supervisor. Robot memberikan keuntungan bagi industri karena adanya peningkatan output dan perbaikan kualitas. Industri robot tidak mengenal lelah dan keluhan, ia bisa bekerja tanpa lelah siang malam dengan performance yang sama. Akibatnya, biaya produk per unit akan turun, menaikan keuntungan dan memberi dampak positif terhadap pasar serta ekonomi dunia secara keseluruhan.

Robot Timeline

  • ~270 BC  Ctesibus, teknisi yunani kuno membuat organ dan jam air dengan gambar yang dapat bergerak.
  • 1818 – Mary Shelley menulis  ”Frankenstein” yang bercerita tentang penciptaan manusia oleh Dr. Frankenstein.
  • 1921 – Istilah “robot” pertama kali dipakai dalam sebuah drama “R.U.R.” (Rossum’s Universal Robots) oleh penulis Czech, Karel Capek. Ceritanya sederhana: seorang manusia menciptakan robot dan kemudian robot tersebut membunuh penciptanya!
  • 1941 – Penulis fiksi ilmiah Isaac Asimo, pertama kali menggunakan kata “robotics” untuk menjelaskan teknologi robot dan ia memprediksi kebangkitan dari robot industri.
  • 1942 – Asimov menulis  ”Runaround”, sebuah cerita robot yang memiliki 3 aturan/hukum  (Three Laws of Robotics):
    • Robot tidak boleh melukai atau menyakiti manusia.
    • Robot harus patuh terhadap perintah manusia agar robot terhindar dari perbuatan melukai manusia.
    • Robot harus melindungi keberadaannya selama dia tidak melanggar aturan pertama dan kedua.
  • 1948 – “Cybernetics”, hasil penelitian kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang dipublikasikan oleh  Norbert Wiener
  • 1956 – George Devol dan Joseph Engelberger membentuk perusahaan pertama didunia yang bergerak di bidang robotika.
  • 1959 – CAM (Computer-assisted manufacturingg) ditampilkan di laboratorium Servomechanisms MIT.
  • 1961 – Robot industri pertama yang online di pabrik otomotif General Motor New Jersey dengan sebutan UNIMATE.
  • 1963 – Robot tangan cerdas pertama yang dikontrol dengan komputer dirancang. Robot dengan nama The Rancho Arm ini dirancang sebagai alat bagi penyandang cacat. Robot dengan 6 join memberikan fleksibiltas seperti layaknya tangan manusia.
  • 1965 – DENDRAL adalah sistem atau program keahlian pertama yang dirancang untuk melakukan topik-topik pengetahuan yang terkumpul dari para ahli.
  • 1968 – Robot octopus-seperti tangan gurita dikembangkan oleh Marvin Minsky.
  • 1969 – Robot arm Stanford Arm pertama kali menggunakan tenaga listrik dan komputer (computer-controlled robot arm).
  • 1970 – Shakey memperkenalkan robot bergerak pertama yang dikontrol dengan kecerdasan buatan (artificial intellence). Robot ini kemudian diproduksi oleh  SRI International.
  • 1974 – Arm robot (the Silver Arm) yang melakukan tugar perakitan sederhana menggunakan sensor sentuh dan sensor tekanan (pressure sensors).
  • 1979 – Robot keranjang (cart) Standford dapat melewati ruangan yang penuh dengan kursi tanpa bantuan manusia. Robot ini memiliki kamera TV didekat roda yang akan mengambil gambar dari beberapa sudut kemdian komputer akan menganalisa jarak ke setiap objek didepannya.

 

Instal Japanese characters to windows XP

Posted by Muhammad Reza Rustam on July 20th, 2011 under Jepang
 •  2 Comments

Beberapa hari yang lalu saya sempat kewalahan untuk berjalan jauh sampai ke daerah bekasi untuk menginstalkan font Jepang milik sahabat saya di Jatiwaringin. Saya pikir sih dia kan belajar bahasa jepang jadi kudu tau nih cara instal mandiri :)

ok sebelum anda menginistal program bahasa jepang ini anda anda harus memiliki CD Windows XP karena di dalam CD tersebut ada folder i386 yang berisikan instalasi untuk menjalankan karekter jepang

langkah-langkahnya cukup mudah kok hanya memakan waktu sekitar 15 menitan, dan kalau anda masih belum bisa sama sekali melalui blog yang telah saya sajikan ini silahkan DOWNLOAD HERE !!!

 

Pertama, pergi ke Control Panel dan buka Regional and Language Options. Kalau entah kenapa kamu tidak bisa menemukannya, kamu bisa menjalankannya lewat StartRun... lalu memasukkan perintah intl.cpl. Dari window yang muncul pergilah ke tab Languages:

 

Dari situ, klik tombol Details...:

 

Dari window berikutnya yang muncul, pertama tekan tombol Add..., lalu pada bagian Input language pilih Japanese. Tekan OK. Kamu bisa melihat bahwa kini dukungan untuk menulis huruf Jepang sudah ditambahkan:

Berikutnya tergantung dari keadaan komputer kamu. Kalau di layar tersebut selain bahasa Jepang hanya ada bahasa-bahasa yang menggunakan huruf latin, misalnya bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, maka hapus saja dukungan keyboard untuk bahasa tersebut. Ini karena dengan settingan bahasa Jepang pun kamu bisa menulis huruf latin. Kalau kamu menggunakan bahasa lain misalnya bahasa Arab atau Korea, jangan hapus mereka karena tentu saja IME bahasa Jepang tidak bisa digunakan untuk menulis bahasa-bahasa tersebut.

Pada contoh di atas hanya terdapat bahasa Inggris jadi settingan keyboardnya akan dihapus. Klik nama bahasanya, lalu tekan tombol Remove. Kalau kamu tidak ingin menghapus apapun, kamu mungkin ingin merubah Default input language menjadi Japanese - Microsoft IME Standard 2002 ver. 8.1 (sekali lagi, dengan default bahasa Jepang pun kita masih bisa menulis huruf latin).

Setelahnya tekan tombol OK. Mungkin Windows akan mengatakan bahwa dukungan menulis bahasa yang sedang aktif (misal Inggris) tidak bisa dihapus saat ini. Kalau memang begitu kasusnya, atau kalau ada pesan lain yang menyarankan kita untuk merestart komputer, maka restart komputernya.

Pengaturan language bar

Setelah semua langkah di atas, buka program yang bisa digunakan untuk mengetik misalnya Notepad. Lalu, cari benda baru bernama “language bar” pada taskbar yang bentuknya seperti ini:

Language bar tersebut menunjukkan bahasa apa yang akan dipakai untuk menulis. JP berarti Jepang. Kalau tadi kamu sudah menghapus bahasa-bahasa lain, atau kalau kamu sudah mengatur bahasa Jepang menjadi default, maka di situ akan tertera JP dan tidak ada yang perlu kamu ubah. Namun kalau di situ yang aktif adalah bahasa selain JP, klik saja tombolnya untuk mengubahnya:

 

Kalau language barnya tidak ada di taskbar, coba cari di seluruh layar kamu. Ada kemungkinan dia melayang entah di mana seperti berikut:

Kalau yakin dia benar-benar hilang, kamu bisa memunculkannya dengan mengklik kanan taskbar dan memilih ToolbarsLanguage bar.

Ingat, untuk menulis bahasa Jepang, kode yang tertulis pada language bar haruslah JP. Jika bahasa Jepang tidak terpilih di situ, kita tidak akan bisa menyalakan IME-nya.

Memaknai Belajar demi kesuksesan ANDA

Posted by Muhammad Reza Rustam on July 19th, 2011 under Umum
 •  4 Comments

Setiap orang belajar. Anak-anak, mahasiswa, bahkan orang tua tak terkecuali. Setiap manusia belajar dengan caranya sendiri. Ada yang belajar dengan cara menghadiri perkuliahan, ada yang banyak membaca buku apa saja, serta ada yang belajar dari cerita dan pengalaman hidup orang. Belajar merupakan tradisi umat manusia.

Sebagai seorang mahasiswa, apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata belajar? Mungkin jawabannya bisa berbeda-beda. Tergantung cara pandang kita terhadap belajar itu sendiri. Sebagian membayangkan duduk dan mendengarkan ucapan dosen sambil mengantuk. Tugas-tugas yang bertumpuk. Ancaman mendapat nilai rendah atau malah di-DO.

Setidaknya ada beberapa hal yang disepakati. Pertama belajar bukanlah pekerjaan yang meyenangkan. Kedua belajar Anda lakukan seringkali karena terpaksa. Apakah terpaksa lulus, atau terpaksa supaya dapat ijazah. Belajar menjadi kehilangan maknanya.

Boleh saja Anda membantah pemyataan di atas. Tapi saya akan membuktikan bahwa Anda tidak lebih baik dan seorang bayi yang juga belajar seperti Anda.

Pernahkah Anda memperhatikan seorang bayi belajar berjalan? Dengan keberanian yang dimilikinya, ia melangkahkan kaki selangkah demi selangkah. Namun apa hendak dikata bayi tersebut jatuh tersungkur. Tapi, ia pantang menyerah. Tersungkur satu kali, dua kali, bahkan puluhan kali tidak membuatnya jera untuk terus melangkah dan melangkah. Akhirnya, dalam waktu yang relatif singkat sang bayi sudah dapat berjalan sendiri.

Bagaimanakah bayi tersebut bisa belajar berjalan dengan sukses? Pertanyaan ini cukup menarik untuk dijawab. Seorang bayi tidak pernah diinstruksikan oleh orang tuanya atau siapa saja untuk belajar berdiri tegak, menjaga keseimbangan, atau menyuruhnya berjalan pelan-pelan supaya tidak jatuh. Tidak, sekali-kali tidak. Bayi tidak pernah diberi bimbingan macam-macam. Padahal berjalan adalah suatu kegiatan kompleks yang merupakan gabungan dari koordinasi gerak tubuh, keseimbangan dan kestabilan. Bayi itu temyata berhasil melakukan tugas sulit tersebut tanpa mendapatkan petunjuk teknis yang dibutuhkan.

Sedikitnya ada dua hal yang membuat sang bayi berhasil. Pertama, ia tidak pemah mengenal konsep kegagalan Ia hanya tahu untuk mencoba dan mencoba belajar dari pengalamannya sendiri. Ia tidak mau tersungkur untuk selama-lamanya. Kedua, sang bayi selalu mendapat dukungan positif. Ketika ia jatuh orangtuanya berkata, “Ayo nak berdiri lagi. Mama akan membantumu.” Dan ketika ia berhasil, semua orang bergembira dan memberi selamat atas keberhasilannya.

Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi dengan diri Anda sekarang. Ketika dosen mulai menerangkan pelajaran, mungkin Anda sudah berpikir kapan pelajaran akan usai. Ketika tugas diberikan, Anda mungkin dongkol dengan dosen yang dianggap kelewatan dalam memberi tugas. Dan saat menjelang ujian, jika Anda termasuk golongan mahasiswa kebanyakan, Anda akan mulai sibuk mencari fotokopi catatan di sana-sini, pinjam buku di perpustakaan, dan mulai menyiapkan kopi buat begadang. Dan ketika ujian berlangsung, Anda merasakan tekanan yang luar biasa. Belajar menjadi sebuah beban yang terpaksa Anda lakukan. Anda belajar karena hal itu sebuah tradisi. Anda belajar karena ingin lulus, bukan karena Anda memang mencintai belajar. Cara dan gaya anda belajar tidak lebih baik dari apa yang bisa dilakukan oleh seorang bayi. Semakin meningkatnya umur bukannya memberikan Anda cara dan gaya belajar yang lebih kreatif. Hari demi hari, Anda terjebak dalam rutinitas belajar yang membosankan.

Setelah lulus apa yang terjadi? Ternyata pasar tenaga kerja sering kesal dengan para fresh graduate ini. Para lulusan dianggap tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk menghadapi dunia nyata yang harus dihadapinya. Anda harus ditraining kembali untuk bekerja. Padahal Anda telah belajar bertahun-tahun. Enam tahun untuk SD, tiga tahun untuk SMP, tiga tahun untuk SMA dan sekitar empat sampai enam tahun di perguruan tinggi.

Tapi itulah yang terjadi. Hasil belajar Anda tidak dihargai. Anda hanya dihargai dari selembar ijazah sebagai prasyarat untuk melamar kerja. Selebihnya, Anda harus bersaing lagi, Anda harus dites lagi dan akhirnya, Anda malah di-training kembali.

Temyata, ada yang salah dalam proses pendidikan kita sekarang. Seorang sarjana teknik jadi pengusaha. Lulusan ekonomi jadi wartawan. Tamatan ilmu komputer bekerja di bank. Memang hal itu sah-sah saja, tapi rasanya ilmu yang di dapatkan menjadi kurang berguna.

Kita perlu mengubah semua kejadian tadi. Kita perlu belajar kembali tentang bagaimana caranya belajar. Belajar harus menjadi hal yang menyenangkan. Anda belajar bukan kerena terpaksa tetapi karena belajar memang menyenangkan dan Anda mencintainya.

Mengutip Bobbi de Porter memberikan pemecahan alternatif dengan metode Quantum Learning. Nama Quantum sendiri menunjukkan adanya lompatan besar terhadap cara pandang kita selama ini tentang belajar. Dengan berbagai keterampilan teknis seperti membaaca cepat, teknik mencatat bagaimana berpikir logis dan kreatif, serta menghilangkan mitos “Aku tidak bisa”. Perubahan paradigma ini diharapkan dapat memberikan hasil nyata terhadap kesuksesan Anda.

Belajar seperti ini, mengharuskan Anda untuk memotivasi diri sendiri. Anda harus tahu manfaat apa yang bakal diperoleh dari ilmu yang Anda pelajari. Bagaimana mungkin Anda termotivasi jika Anda tidak tahu manfaat pekerjaan yang Anda lakukan? Anda tidak mungkin mengharapkan pujian orangtua, mendapat dukungan dari teman-teman, atau harapan positif lainnya. Anda harus secara aktif menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi diri Anda. Ketika semua orang tak lagi memotivasi, Anda harus mencari lingkungan baru yang dapat memotivasi Anda. Jika hal itu pun tak dapat dilakukan, setidaknya Anda masih punya diri sendiri untuk memberi semangat.

Jika kita melihat sejarah ke belakang, kita akan temui banyak sekali orang yang belajar dengan benar. Anda pasti kenal Aristoteles, seorang ahli hikmah dari Yunani. Anda juga perlu merujuk pada ilmuwan muslim masa lalu. Al-Farabi yang ahli fisika, Ibnu Sina yang ahli kedokteran, atau Jabir bin Hayyan yang ahli kimia serta banyak lagi lainnya. Mereka adalah para ahli multi disiplin ilmu. Mereka sekaligus spesialis tak tertandingi di bidangnya. Satu hal yang seringkali kita lupa bahwa kita pun merniliki potensi yang sama dengan mereka. Hanya saja, mereka memanfaatkan potensi tersebut sedangkan kita mengabaikannya.

Apa yang membedakan mereka dari kita? Tampaknya hanya satu hal yakni paradigma atau cara pandang mereka terhadap proses belajar itu sendiri. Mereka belajar dengan cara menemukan lebih dahulu apa manfaat dan bidang-bidang yang mereka kuasai. Mereka tidak ingin sekedar prestise yang diperoleh dari selembar ijazah tapi ingin penguasaan yang menyeluruh. Dengan demikian, mereka belajar dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka akan terus menggali ilmu dengan kesungguhan sampai maut memisahkan.

Agama menyuruh umatnya untuk giat menuntut Ilmu. Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah SWT meninggikan derajat orang yang berilmu lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak berilmu. Nabi mengajarkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun. Ilmu laksana hikmah yang harus terus dicari, digali, dieksplorasi dan akhimya diambil dan dimanfaatkan demi kebaikan. Betapa banyak ayat-ayat Al-Qn’an yang menyuruh kita menggunakan akal untuk berpikir, menggunakan hati untuk merenung, serta memanfaatkan potensi diri sebesar-besarnya.

Sebagai seorang calon intelektual kegiatan belajar merupakan makanan sehari-hari bagi Anda. Akan tetapi, sudahkah Anda memiliki motivasi yang tepat, niat yang benar serta mampu melihat manfaat dari setiap bidang yang Anda pelajari? Wallahu a’lam.

Insya Allah, dengan mengubah cara pandang tentang belajar maka belajar Anda akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Anda tidak akan pernah lagi merasakan belajar sebagai sebuah beban melainkan melihatnya sebagai sebuah tantangan. Anda akan memasuki wilayah eksplorasi ilmu yang tiada habis-habisnya. Anda akan merasakan indahnya ilmu Allah SWT yang saling terkait satu sama lain. Anda akan terus-menerus menemukan manfaat dan minat-minat baru dalam belajar. Anda tidak akan pernah puas mereguk lautan ilmu. Semakin banyakAnda mereguknya, Anda hanya akan semakin haus. Dan akhirnya Anda akan menjadi seorang pelajar Quantum. Seorang yang belajar kapan saja, di mana saja, dari siapa saja dan dengan cara apa saja. Anda bisa belajar di ruang kelas, di kamar pribadi, di bus, atau di jalanan. Anda dapat memperoleh ilmu dari dosen, teman, tukang ojek, atau bahkan anak-anak. Andajuga dapat belajar dengan cara membaca buku, berdialog dengan orang lain, belajar dari pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain, atau belajar dan alam semesta dengan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. Belajar Anda tidak lagi mengenal batasan tempat dan waktu.

 

TwentySeven Life

Posted by Muhammad Reza Rustam on July 12th, 2011 under Uncategorized
 •  No Comments

Yang saat ini sedang anda baca adalah hasil dari kumpulan ucapan selamat dari saudara, sahabat, kawan, kekasih, teman teman Organisasi dari penjuru indonesia seperti HIMASPA (Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang) JCC (Japan Course Centre) Makassar, Jalan Sahabat Bacpacker, Bacpacker Dunia (Couchsurfing) dan lain2

terimakasih atas ungkapannya yang tulus di usia ku yang ke 27 ini senang sekali memiliki teman seperti kalian semua

Pantai Losari Makassar

Posted by Muhammad Reza Rustam on July 11th, 2011 under Sulawesi Selatan
 •  4 Comments

Aseeeekkkkkkkk… LIBURAN telah tiba, sudah saat nya aku harus mulai untuk menginjakkan lagi kaki ku ke kota kelahiran tercinta di MAKASSAR, menariknya di makassar banyak hal-hal yang sulit  terlupakan misalnya saja seperti salinan lagu dari Ancie Laricci “Duduk-duduk di pantai losari” itu adalah bagian yang sangat terindah kalau anda menginjakkan kaki di Makassar. konon katanya Makassar Sunset di makassar itu sangat di kenal oleh dunia ada yang bilang kalau di Makassar itu number 3 di dunia (tau dah bener apa ngak) cman di kalo pernah maen ke Thailand pantai Phuket juga indah kok. :)

kalau anda datang di Makassar dan ingin menyaksikan sunset yang indah seperti ini bnyak sekali spot yang menarik apa lagi kalau ke daerah sekitar tanjung bunga spot di tempat itu sangat lah manarik untuk menyaksikan Sunset nya MAKASSAR. kalau ke makassar jangan lupa Ngikutin usulan dari sepenggal lagu anci laricci ini, anda akan semakin menikmati indahnya Sunset Makassar dan wisata Kuliner nya Makassar :)

 

 

Song by: Pantai Losari (Anci Laricci)

 

Jalan jalanki di Pantai Losari

Jangan lupa singgah makan pisang epe

Gulana manis pake durian

enakna mamo bikin lupa undangan

 

Jangan lupa makan Ikan bakar

Di warung na Pak kayu bangkoang

Sayur santan na cobek²na

Mandi (bikin) keringat basah tommi bajuta

 

Duduk duduk di Pantai Losari

Angingmammiri sejuk sepoi-sepoi

ada cewek ta (duduk) di dekat ta (bedeng)

enak na mamo sampe lupaki pulang

 

Banyak tommi tenda-tenda kafe

Tempat kumpul na anak mudayya

Yang tuayya ndak mau tong kalah

Palla na mamo ikut tommi begadang

 

Download Lagu Pantai Losari

Diplomasi ala BUGIS

Posted by Muhammad Reza Rustam on July 10th, 2011 under Sulawesi Selatan
 •  7 Comments

Sebelum saya menjabat sebagai WAPRES, karakter dan watak orang Bugis sangat jarang yang mengenalnya di belahan nusantara ini. Bahkan ada banyak pendapat yang keliru dan menyangka orang bugis adalah bangsa yang keras dan tidak pernah kenal kompromi. Ini jika  melihat dari sejarah banyak yang menganggap bahwa orang bugis adalah bajak laut pada masa silam. Anggapan ini sungguh tidak berdasar dan keliru.

Orang bugis sebenarnya mempunyai cirri khas yang menarik. Dari sejarahnya kerajaan bugis didirikan bukan pada pusat-pusat ibu kota dan sangat jauh dari pengaruh India. Itulah sebabnya di Bugis tidak ada candi. Ini berbeda dengan kerajaan jawa yang mebangun pusat kerajaannya pada ibu kota dan bersifat konsentris.

Namun demikian, orang bugis sudah terkenal memiliki kebudayaan, mereka memiliki tradisi lisan maupun tulisan. Bahkan orang bugis memiliki salah satu epos terbesar di dunia yang lebih panjang daripada epos Mahabarata yakni cerita tentang lagaligo yang sampai saat ini sering dibaca dan disalin ulang dan menjadi budaya yang mengakar pada masyarakat bugis.

Bagi suku-suku lain, orang Bugis sering dianggap sebagai orang yang berkarakter keras dan sangat

menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu demi kehormatan, orang bugis bersedia melakukan kekerasan. Namun dibalik sifat itu semua, sebenarnya orang bugis adalah orang yang sangat ramah, menghargai orang lain dan menjunjung tinggi kesetiakawanan, bahkan bersedia menjadi bumper demi kesetiakawanan. (itulah mungkin sebabnya mengapa Golkar pada masa pemerintahan SBY-JK sering menjadi Bumper karena ia dipimpin oleh seorang yang sangat berwatak bugis).

Meskipun sebagai bangsa perantau, orang bugis selalu membawa identitas bugisnya di mana mana. Beberapa orang-orang di singapura dan Malaysia meskipun sudah menjadi warga Negara sana, dan mereka sudah bergaya hidup modern tapi mereka selalu mengaku sebagai orang Bugis meskpiun sudah merupakan keturunan yang kesekian dan belum pernah menginjak tanah bugis.

Begitu juga dengan saya, selama terjun ke dunia politik saya tidak pernah melepas karakter bugis saya yang blak-blakan, dan sering dianggap kurang santun bagi mereka yang sangat menghargai etiket. Tapi itulah saya, saya sering mengatakan kepada teman-teman, jangan paksa saya jadi orang jawa. Menjadi orang bugis dan berkarakter keras kadang berguna juga. Waktu menyelesaikan kasus ambalat untuk pertama kalinya, saat itu saya menggunakan gaya diplomasi ala Bugis yang anda tidak dapatkan dalam literature strategi diplomasi. Waktu itu saya ke Malaysia bertemu dengan Perdana Menteri yaitu Najib. Saat itu ia ditemani oleh 5 Menteri dan saya juga ditemani oleh 5 Menteri plus Dubes kita. Saat pertemuan itu

 

saya bilang ke Najib “ Najib…Ambalat itu masalah sensitive, itu bisa membuat kita perang. Kalau kita perang, belum tentu siapa yang menang. Tapi satu hal yang mesti you ingat, di Malaysia ini ada 1 juta orang Indonesia, 1000 orang saja saya ajari Bom, dan mereka Bom ini gedung-gedung di Malaysia maka habislah kalian”

Saat itu pak Najib kaget, dia sadar sebagai sesama Bugis, ancaman saya bukan hanya gertakan belaka. Dia bilang ke saya “pak Jusuf, tidak bisa begitu”

Saya bilang ke dia “makanya mari kita berunding, terus terang saya kadang tidak suka sama you punya Negara, Buruh-buruh Ilegal dari Indonesia ditangkapi kayak binatang, sedangkan majikannya tidak

ditangkap, padahal kalau ada buruh Ilegal maka tentu ada juga majikan illegal. Setiap ada Ilegal loging pasti orang Malaysia yang ambil, begitu ada kebakaran hutan mereka marah-marah, padahal hampir sepanjang tahun mereka menghirup udara segar yang dihasilkan oleh hutan-hutan di Indonesia, satu bulan saja ada kabut asap mereka marah marah. Dan juga setiap ada ledakan Bom di Indonesia selalu orang Malaysia dalangnya”

Waktu itu Pak Dubes langsung bisiki saya “Pak, Ini sepertinya sudah melewati batas diplomasi”

Saya langsung bilang ke dia “kau kan Dubes, yah sudah kau perbaikilah mana yang lewat”

Setelah itu, untuk menunjukkan ketidak sukaan saya kepada Malaysia saya menolak menginap di Kuala

Lumpur, saya bilang saya mau menginap di kampong Bugis di Johor sana. Akhirnya pak Najib ikut juga saya ke sana. Di atas mobil, dalam perjalanan menuju Johor Pak Najib Bilang ke saya “ Kayaknya bapak terlalu keras tadi waktu berunding”

Saya cuman bilang ke dia “kamu kan juga orang Bugis, kenapa kau tidak keras juga tadi?” mendengar itu dia cuman ketawa saja.

Malamnya di Johor, kita makan malam dan nyanyi-nyanyi, mengundang Siti Nurhaliza, sampai jam 1 malam dan kita ngantuk. Keesokan paginya kita main golf, dan saat itu juga masalah Ambalat selesai. Dengan gaya Diplomasi ala Bugis, saya tidak perlu memakai bahan yang sudah disiapkan oleh DEPLU semua spontanitas saja. Dan sampai sekarang kalau ada tentara Malaysia datang lagi di Ambalat, saya tinggal telpon Najib “Hey Najib, jangan lagi kau kirim, you punya tentara ke Ambalat, kita bisa perang nanti”

Demikan juga waktu saya menyuruh EXXON supaya angkat kaki dari Blok Natuna. Waktu itu saya dikejar oleh orang-orang EXXON mereka mau melobi. Tapi saya selalu menolak ketemu dan menghindar. Saya ke Riyadh, mereka mau nyusul ke sana, saya ke Jedah mereka mau datang, tapi saya tolak karena saya mau ibadah dan sampai di belahan bumi manapun mereka kejar saya. Akhirnya waktu itu Di Makassar karena melihat kegigihan mereka, saya suruh mereka datang. Dan datanglah itu Chairman Exxon mereka 4 orang dan saya hanya ditemani oleh Sekretaris saya.

Saat pertemuan di Hotel Sahid Makassar, orang Exxon bilang ke saya, “Mr.Vice President, anda kalau membatalkan kontrak dengan EXXON, maka besok akan saya SU”

Saya langsung pukul meja saya dan bilang ke dia “kalau kau berani SU, maka saya akan SU kau 10 kali, Its

my country, not your country, jangan kau datang ke sini mau ancam-ancam saya”.

Saat itu dia langsung minta maaf. Dan saat itu Blok Natuna kembali ke tangan kita pengelolaannya,

meskipun pada akhirnya lepas lagi ke EXXON karena wewenang saya dicabut dan control tidak lagi berada di tangan saya. Apa pun itu, untuk kehormatan bangsa, kita jangan mau didikte oleh bangsa lain, kalau mereka keras, maka kita balas lebih keras lagi. Jangan pernah takut kita akan dibuat susah dan macam-macam. Selama kita yakin Tuhan selalu bersama kita, maka bangsa lain tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap kita.

 

copypaste dari : http://umum.kompasiana.com/2009/08/04/diplomasi-ala-bugis/