* Tulisan ini dipresentasikan dalam Workshop Menulis Prosesi F.Psi UI hari Sabtu, 6 September 2008
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah,” pesan Pramoedya Ananta Toer seperti yang disampaikannya lewat Minke dalam Rumah Kaca. Dipikir-pikir, memang benar apa kata Pramoedya, jejak eksistensi manusia memang dapat dikenali lewat tulisan. Periodisasi sejarah manusia saja dibatasi oleh ada dan tidaknya catatan tertulis tentang peradaban. Manusia prasejarah kita kenal sebagai “Meganthropus Javanicus” atau “Homo Soloensis”, tapi siapa yang tahu dengan pasti tentang pribadi mereka, intrik kehidupan mereka? Kita hanya dapat menyusun asumsi tentang mereka secara komunal. Ketika periode sejarah dimulai, barulah, sedikit demi sedikit, kita mengenal manusia sebagai pribadi dalam nama-nama yang “menghantui” kita saat ujian sejarah.
Tanpa tulisan menyangkut dirinya, seorang manusia hanyalah bagian dari suatu kelompok dengan identitas yang semu. Dengan menulis, ia menyatakan keberadaannya, eksistensinya. Sokrates, one of the founding fathers of western philosophy, lekat dengan permasalahan ini. Keberadaannya sebagai filsuf besar (beberapa bahkan menyebutnya sebagai filsuf terbesar yang pernah ada) sempat diragukan oleh tidak adanya tulisan yang ia tinggalkan. Kalau saja Plato, Aristoteles, dan Xenophon tidak menuliskan sesuatu tentang jalan pikirnya, ia mungkin tidak akan kita kenal seperti sekarang ini.
Lalu, apakah menulis itu? Salah satu definisi yang umum diterima adalah menulis sebagai kegiatan membuat huruf (angka dsb) dengan pena (pensil, kapur, dsb). Secara sederhana, ya, begitulah menulis itu. Tapi, Kamus Besar Bahasa Indonesia juga memuat definisi menulis yang lebih dari sekedar deskripsi kegiatan motorik. Menulis disebut juga sebagai kegiatan melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan. Coba simak tulisan berikut ini.
Eu não sou esperto nem burro (I am not smart nor stupid)
nem bem nem mal educado (I am not well nor ill educated)
Sou simplesmente o produto (I am simply a product)
do meio onde fui criado (of the place where I was born into)
Tulisan di atas merupakan buah karya Alessandro Alexio, seorang petani Portugis. Dalam tulisan berbentuk puisi tersebut, ia mengungkapkan pandangannya akan keberadaan manusia sebagai hasil bentukan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah diungkap oleh David Hare, penulis naskah drama asal Inggris, “The art of writing is the art of discovering what you believe.”
John Lennon, personil The Beatles, menghidupi pepatah Hare dengan lebih lugas. Beginilah dia merangkum kepercayaannya dalam lagu God yang ditulisnya (hanya saya cantumkan sebagian).
God is a Concept by which
we measure our pain
I’ll say it again
God is a Concept by which
we measure our pain
I don’t believe in magic; I don’t believe in I-ching; I don’t believe in Bible; I don’t believe in Tarot
I don’t believe in Hitler; I don’t believe in Jesus; I don’t believe in Kennedy; I don’t believe in BuddhaI don’t believe in Mantra; I don’t believe in Gita; I don’t believe in Yoga;
I don’t believe in Kings; I don’t believe in Elvis; I don’t believe in Zimmerman;
I don’t believe in Beatles
I just believe in me…and that reality
Anda tidak perlu setuju dengan John Lennon. Anda bisa saja punya pendapat yang bertentangan. Tulis saja sebuah lirik tandingan. Toh, menulis merupakan salah satu bentuk kebebasan berekspresi secara personal.
Ketika kita selesai bermain-main dengan kata dan berusaha mendefinisikan menulis, pertanyaan lain yang muncul adalah, ”Mengapa kita menulis?” Untuk menjawab pertanyaan ini pun, saya ingin meminjam kata-kata seorang penulis kawakan. Kali ini pilihan saya jatuh pada kata-kata milik Anais Nin, penulis kelahiran Perancis yang terkenal dengan publikasi jurnal hariannya, “We write to taste life twice, in the moment and in retrospection.” Coba perhatikan tulisan berikut guna memahami maksud Anais.
Adikku sayang,
tentang dirimu aku tahu sedikit sekali.
Tiga ratus lima puluh sembilan hari yang membedakan usiaku denganmu
seakan meniriskan sejumlah itu pula misteri tentangmu.
Adikku sayang,
adakah artinya aku ingat
siapa teman-teman pertamamu;
lagu-lagu yang dulu sering kamu mainkan dengan gitar pertamamu;
piala pertamamu;
bahkan corak piring makan pilihanmu;
sementara kita beranjak semakin jauh dari masa itu?
Kamu bukan lagi adik kecil yang kuajak berebut selimut;
tidak lagi bersama-sama dimarahi Papa-Mama;
dan sudah jauh terlewati saat kita mencoret-coret lemari kayu dengan kapur.
Menjadi apa aku dan kamu kini
adalah sebuah tanya yang ingin aku jawab.
Seorang kakakkah aku bagimu?
Warna kesukaanmu saja aku tidak tahu;
duduk dan mendengarkan ceritamu pun, jarang kulakukan;
tentang mimpimu, aku masih berusaha memahami.
Adikku sayang,
mungkin sulit untuk dipahami,
tapi aku sangat senang bahwa hingga saat ini,
setelah lepas kupanggil kamu, “Adek,”
kamu tetap memilih memanggilku, “Kakak.”
(Tentang Adikku, diambil dari http://saatdisini.wordpress.com)
Kadang, waktu beranjak begitu cepat ketika kita sedang menjalani hidup. Banyak kejadian berlalu begitu saja tanpa sempat dimaknai sedikit lebih dalam. Nah, saat menulis, kejadian tersebut dapat kita putar dalam “slow motion”. Tulisan di atas sendiri merupakan refleksi seorang kakak terhadap hubungannya dengan sang adik, di mana ia berusaha memahami “keterlanjuran” keadaan hubungan mereka saat ini dengan menjelajah potongan kenangan yang mereka miliki. Inilah yang dimaksud Anais Nin dengan merasakan hidup untuk kedua kalinya.
Selain untuk mendapatkan fungsi reflektif dari menulis, manusia juga menulis untuk berkomunikasi. Tentu tidak hanya dalam korespondensi saja, namun kita sangat mungkin tergugah untuk menulis guna menyampaikan kepada orang lain apa yang sedang kita rasakan (lagi-lagi ini pun kata-kata pinjaman, kali ini dari Arthur Polotnik). Misalnya, setelah bertemu dengan seseorang yang menarik perhatian, sebuah ungkapan gegap gempita dalam hati dan pikir dituliskan.
Entah bagaimana,
potongan waktu dengan aku dan kamu di dalamnya terasing dari dunia.
Menepi pada sebuah pulau;
tinggal dan diam di sana.
Dan mengapa kupu-kupu itu akhirnya tiba
melengkapi ketidaktahuan tentang seorang dia.
Mungkin,
kita biarkan saja potongan tersebut beranak cucu.
Menyesakkan pulau!
Suatu waktu kita ke sana,
sementara mereka menari untuk kita, dengan sendirinya kita akan mengerti.
(Tentang Seorang Dia, diambil dari http://saatdisini.wordpress.com)
Tenang, sekalipun dua buah tulisan yang saya cantumkan di atas datang dalam bentuk puisi, menulis sendiri sebenarnya dapat berbuah beragam bentuk tulisan sesuai kebutuhan dan selera penulis. Seno Gumira Ajidarma, misalnya, dengan cerdik menggunakan bentuk cerita pendek sebagai potret peristiwa Mei 1998 dalam cerpen Clara atawa Wanita yang Diperkosa. Takeshi Kaiko menyebut hal tersebut “sastra sebagai siasat, melewati batasnya jurnalisme”. Zimbardo, psikolog sosial dari Stanford University, bahkan mencoba mendaraskan hasil penelitian psikologisnya (Standford Prison Experiment) dalam bentuk narasi a la sastra dalam buku Lucifer Effect : How Good People Turn Evil.
Karena salah satu sasaran utama menulis adalah meninggalkan jejak eksistensi, ia adalah milik siapapun yang berkeinginan untuk meninggalkan sesuatu lebih dari “sekedar” nama. Tidak harus Shakespeare yang sanggup menulis dengan penuh teka-teki,
“Not from the stars do I my judgment pluck; And yet methinks I have astronomy…” (Sonnet #14)
Seorang petani dengan metafor sederhana seperti Alessandro Alexio pun bisa melakukannya. Tidak harus seorang penulis lirik hebat seperti John Lennon atau cerpenis handal layaknya Seno Gumira Ajidarma, it could be you! Berikanlah kepada dunia sesuatu untuk dikenang tentang diri Anda : pendapat, perasaan, just speak your mind! Menulislah, maka Anda “ada”. :’)