UI : “habis TERANG terbitlah GELAP” - Realita Sebuah Penerangan

Hari ini saya berangkat menuju RS Fatmawati dari kosan untuk menjaga nenek saya yang sedang berada di ICU. Saya berangkat sekitar pukul 19.00 WIB menggunakan motor tua saya. Keluar dari pagar kuning kukel, dan mengambil arah kiri dari stadion menuju teknik. Pemandangan yang saya lihat sepanjang perjalanan tidak berubah sejak sekitar akhir tahun lalu. Mulai dari jalan kecil keluar kukel, hingga sepanjang lingkar luar UI dari danau MIPA hingga pertigaan TGP (sebelum teknik). Saya tidak tahu apa pendapat anda jika melalui jalan tersebut. Saya hanya punya 1 kata : Gelap!

Pada sepanjang lingkar luar UI, biasanya jalanan akan diterangi oleh lampu jalan di tengah-tengah pembatas jalur. Meski saya bisa bilang masih remang-remang, tapi saya rasa itu cukup bagi pengendara yang melalui jalan tersebut. Jika anda masuk dari arah pocin dan hendak ke kukel/kutek, anda akan merasakan perbedaan “suasana” ketika sampai di tikungan danau MIPA. Tidak ada lagi lampu jalan yang menyala. Terus, melewati tikungan poltek, tikungan gymnasium, kukel, stadion, hingga pertigaan TGP. Semua murni gelap!

Saya tidak mengerti kenapa harus mati seperti itu? Apa karena daerah tersebut hanya dilalui oleh warga dan mahasiswa sekitar kukel? Karena jika mengacu pada peta, daerah tersebut merupakan “ujungnya UI”. Apa karena daerah ujung maka tidak perlu ada penerangan?

Saya berani berkata seperti ini, karena selama 4 tahun saya di UI, awalnya lampu di jalan keluar kukel masih menyala mulai petang. Kemudian sepanjang jalan MIPA sampai pertigaan TGP saya tahu hanya mati ketika hari sabtu malam dan ahad malam. Kenapa saya tahu? Karena saya biasa pulang malam dari kampus.

Saya merasakan betapa sulit sekali melihat jalan ketika masuk UI dari kukel. Seringkali saya justru lebih silau melihat lampu motor dari arah berlawanan. Bagi yang tidak terbiasa pasti saya yakin ia akan terjatuh atau terganggu. Begitu pula di tikungan poltek. Nyaris-nyaris tidak terlihat apa-apa.

Untuk kendaraan yang memiliki lampu depan, tidak apa dalam gelap seperti itu (meski tetap BERBAHAYA). Apalagi bagi mahasiswa/mahasiswi yang terpaksa pulang malam. Meski jam 19.00, saya melihat jalan sudah cukup gelap. Malah ada dua orang mahasiswi yang saya lihat berbagi senter hanya untuk menerangi jalan mereka tadi ketika saya berangkat. Sungguh ABSURD!

Apa salahnya sih, memperbaiki penerangan jalan di UI? Sebuah boulevard mewah bisa dibangun. Tapi penerangan yang memberikan keamanan dan kenyamanan? Tidak terurus seperti ini. Pantas jika angka kriminalitas di sekitar pintu masuk kukel hingga stadion termasuk tinggi. Tidak hanya itu, saya sering lihat kegelapan tersebut dimanfaatkan oleh orang-orang biadab untuk bermesraan di halte bikun yang notabene gelapnya tidak terkira. Saya kadang tidak bisa melihat dengan jelas ada motor atau orang di halte tersebut jika tidak terbantu oleh lampu kendaraan.

Sungguh mengecewakan sekali mengingat UI telah mencanangkan menjadi universitas bertaraf internasional. Ada satu ungkapan yang digunakan untuk menyindir Bali yang penuh sampah : “The only true love is love at first sight”. Kali ini akan saya kembalikan ke keadaan di UI. Jika orang-orang yang melihat hal ini pada kunjungan pertama mereka, apa kata mereka? Saya saja yang sudah sering melihat hal tersebut rasanya jenuh. Kadang saya dan rekan-rekan saya di kampus merasa malu dengan almamater sendiri. Dalam bukunya, Billy Boen menceritakan seorang anak yang ditelpon oleh ayahnya karena karpet hotel miliknya sedikit rusak. Anaknya hanya bilang akan menggantinya. Namun ayahnya berkata, kamu tidak akan bisa menghadapi hal-hal besar jika kamu tidak bisa mengurus hal-hal kecil seperti ini. Segera setelah ayahnya berkata, karpet tersebut langsung diganti (Maaf kalau ada salah penceritaan, kira-kira seperti itu). Bagaimana UI sanggup menyandang predikat sebagai kampus internasional jika “hanya” untuk urusan penerangan saja tidak terurus?

UI “hanya bersinar” disaat matahari bersinar. Itupun hanya “disinari” matahari. Ibarat bulan, nampak cantik dari jauh dan ketika disinari matahari. Tapi ketika didekati, sebenarnya “bolong-bolong” di seluruh permukaannya. Apalagi tanpa matahari dan lampu yang menyinarinya.

Universitas Indonesia

February 04 2010 09:12 pm | pengalaman pribadi

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.