Urgensi Pendidikan Dalam Keluarga

Sebagai orang tua, sangatlah penting untuk memperhatikan aktivitas belajar yang dilakukan anak sehari-hari, karena akan diproyeksikan kelak sebagai pemimpin masa depan. Ada banyak bentuk perhatian orang tua terhadap pendidikan anak, misalkan adanya bimbingan dan nasihat, pengawasan belajar anak, memberikan motivasi dan penghargaan serta memenuhi kebutuhan belajar anak.

a.    Bimbingan dan nasihat

1.    Memberikan bimbingan dalam belajar Bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan yang diberikan orang tua kepada anak untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Kita tahu bahwa memberikan bimbingan kepada anak merupakan kewajiban orang tua. Hal ini seperti makna yang ada dalam Al Qur,an dalam surah An Nisaa’ ayat 9, dimana Allah berfirman: وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (9) Bimbingan belajar terhadap anak berarti memberikan bantuan kepada anak dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana dan dalam penyesuaian dirinya terhadap tuntutan-tuntutan hidup, agar anak lebih terarah dalam belajarnya dan bertanggung jawab dalam menilai kemampuannya sendiri dan menggunakan pengetahuan mereka secara efektif bagi dirinya, serta memiliki potensi yang berkembang secara optimal meliputi semua aspek pribadinya sebagai individu yang potensial.

2.    Memberikan nasihat

Menasihati anak bukan berarti memarahi anak secara keras, tetapi lebih kepada memberi saran untuk memecahkan suatu masalah, berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan pikiran sehat. Nasihat memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membuka mata anak-anak terhadap kesadaran akan hakikat sesuatu, serta mendorong mereka untuk melakukan sesuatu perbuatan yang baik. Betapa pentingnya nasihat orang tua kepada anaknya, Sehingga Allah memberikan contoh melalui Al Qur’an, seperti yang terdapat dalam surah Luqman ayat 13, dimana Allah berfirman: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (3)ِ

 

b.    Pengawasan belajar

Orang tua perlu mengawasi pendidikan anak-anaknya, sebab tanpa adanya pengawasan dari orang tua, besar kemungkinan pendidikan anak tidak akan berjalan lancar. Pengawasan orang tua tersebut dalam arti mengontrol atau mengawasi semua kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh anak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengawasan yang diberikan orang tua dimaksudkan sebagai penguat disiplin supaya pendidikan anak tidak terbengkelai, karena terbengkelainya pendidikan seorang anak bukan saja akan merugikan dirinya sendiri, tetapi juga lingkungan hidupnya.

Orang tua biasanya akan lebih konsen dalam mengawasi masalah belajar. Dengan cara ini orang tua akan mengetahui kesulitan apa yang dialami anak, kemunduran atau kemajuan belajar anak, apa saja yang dibutuhkan anak sehubungan dengan aktifitas belajarnya, dan lain-lain. Dengan begitu, orang tua dapat  memberikan segala sesuatunya hingga akhirnya anak dapat meraih hasil belajar yang maksimal.

 

Mengawasi bukan berarti mengekang kebebasan anak untuk berkreasi, tetapi lebih ditekankan pada pengawasan kewajiban anak yang bebas dan bertanggung jawab. Ketika anak sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penyimpangan, maka orang tua sebagai pengawas harus segera mengingatkan anak akan tanggung jawab yang dipikulnya terutama pada akibat-akibat yang mungkin timbul sebagai efek dari kelalaiannya, contohnya adalah ketika anak malas belajar, maka tugas orang tua untuk mengingatkan anak akan kewajiban belajarnya dan memberi pengertian kepada anak akan akibat jika tidak belajar. Dengan demikian anak akan terpacu untuk belajar sehingga prestasi belajarnya akan meningkat.

 

 

c.    Memberikan motivasi dan penghargaan

Sebagai pendidik yang utama dan pertama bagi anak, orang tua hendaknya mampu memberikan motivasi dan dorongan. Sebab, tugas memotivasi belajar bukan hanya tanggung jawab guru semata, tetapi orang tua juga berkewajiban memotivasi anak untuk lebih giat belajar. Jika anak tersebut memiliki prestasi yang bagus, hendaknya orang tua memberikan motivasi kepada anaknya untuk meningkatkan aktivitas belajarnya lagi. Dan untuk mendorong semangat belajar anak, hendaknya orang tua mampu memberikan semacam hadiah untuk menambah minat belajar  anak.

Namun jika prestasi belajar anak itu jelek atau kurang, maka tanggung jawab orang tua adalah memberikan motivasi atau dorongan kepada anak untuk lebih giat dalam belajar. Bukan malah memarahinya dan menyalahkan anak. Dorongan orang tua kepada anaknya yang berprestasi jelek atau kurang itu sangat diperlukan. Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya dorongan dari orang tua. Jika hal ini dibiarkan, maka akan bertambah jelek pula prestasinya dan bahkan akan menimbulkan keputusasaan pada diri anak. Saran yang perlu dilakukan orang tua adalah seperti mengarahkan cara belajar, mengatur waktu belajar dan sebagainya, selama pengarahan dari orang tua itu tidak memberatkan anak.

 

 

d.   Memenuhi kebutuhan belajar

Yang termasuk kebutuhan belajar adalah segala alat dan sarana yang diperlukan untuk menunjang kegiatan belajar anak. Kebutuhan tersebut bisa berupa ruang belajar anak, seragam sekolah, buku-buku, alat-alat belajar, dan lain-lain. Pemenuhan kebutuhan belajar ini sangat penting bagi anak, karena akan dapat mempermudah baginya untuk belajar dengan baik. Seorang pakar,  Bimo Walgito, pernah menyatakan bahwa “semakin lengkap alat-alat pelajarannya, akan semakin dapat orang belajar dengan sebaik-baiknya, sebaliknya kalau alat-alatnya tidak lengkap, maka hal ini merupakan gangguan di dalam proses belajar, sehingga hasilnya akan mengalami gangguan.Tersedianya fasilitas dan kebutuhan belajar yang memadai akan berdampak positif dalam aktivitas belajar anak. Anak-anak yang tidak terpenuhi kebutuhan belajarnya sering kali tidak memiliki semangat belajar. Lain halnya jika segala kebutuhan belajarnya tercukupi, maka anak tersebut lebih bersemangat dan termotivasi dalam belajar.

 

sumber :

1.    Imam Al-Ghazali,Ihya Ulumiddin, Terjemah: Moh. Zuhri Dipl. dkk.2003. Semarang: CV. As Syifa 2.    M. Ngalim Purwanto, Ilmu pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remadja Karya, 1987 3.    W J S Poerwa Darminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1987 4.    http://tabloid@klubguru.com

5.   Artikel Pendidikan/ insancita.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>