Mempelajari dan Membandingkan Kapital Sosial Desa Tenggilis Rejo dan Bayeman, Pasuruan, Jawa Timur

Posted by on August 27th, 2010 under Home
 •  No Comments

Tesis ini adalah penelitian eksploratif menggunakan piranti Social Capital Integrated Questioner yang dikembangkan Bank Dunia untuk memahami dan membandingkan kapital sosial dan indikator sosial lainnya dari dua desa berdekatan yaitu Desa Tenggilis Rejo dan Desa Bayeman, Kecamatan Gondang Wetan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Data dari 47 responden di Tenggilis Rejo dan 78 responden di Bayeman ditabulasi untuk memudahkan membandingkan indikator kapital sosial dan indikator sosial lainnya. Sejumlah data dari pertanyaan yang relevan diproses untuk mendapatkan indeks kapital sosial.

Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan menyolok angka indeks kapital sosial Tenggilis Rejo (109) dengan Bayeman (112). Hasil analisis dimanfaatkan untuk masukan perbaikan program corporate social responsibility PT Tirta Investama, produsen air dalam kemasan merk Aqua di Tenggilis Rejo.

Abstrak bisa dilihat di: http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=128902&lokasi=lokal

Untuk mengopi tesis, silahkan menghubungi Perpustakaan UI, Depok.

Ekonomi Komunitas

Posted by on July 11th, 2009 under Sociology of Development
 •  No Comments

Sejak partai-partai mengumumkan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) mereka, pernyataan paling banyak adalah mengenai isu ekonomi. Semua pasangan mencoba membangun citra mereka yang peduli pada rakyat dengan menempelkan kata “ekonomi” dengan kata “rakyat,” menjadi ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan menjadi jargon kampanye tiga pasangan capres-cawapres.

Kata-kata “neo-kapitalis” ikut muncul ketika SBY mengumumkan Boediono sebagai cawapresnya. “Neo-kapitalis” seakan-akan lawan kata dari “ekonomi kerakyatan.” Boediono dan tim kampanye SBY-Boediono “mati-matian” membatah tuduhan itu dengan segala jurus, informasi, dan data, yang menunjukkan bahwa Boediono juga berperspektif “ekonomi kerakyatan.” Selain JK-Wiranto, pasangan Mega-Prabowo ikut menyanyikan lagi “ekonomi kerakyatan” atau ekonomi pro-rakyat. Tetapi sejauh ini, tidak ada penjelasan utuh mengenai “ekonomi kerakyatan” yang dimaksud tiga pasangan capres-cawapres itu.

Adalah Julie Graham dan katherine Gibson, dalam buku mereka, A Postcapitalist Politics (2006), yang memperkenalkanekonomi komunitas sebagai alternatif dari ekonomi non-kapitalis sesungguhnya. Bentuk ekonomi mandiri yang mencoba mengurangi ketergantungan pada ikatan ekonomi global dan nasional serta pengaruh buruk pergerakan kapital.

Apa bedanya ekonomi komunitas dengan ekonomi arus utama, yang dominan saat ini? Dua bentuk ekonomi ini sangat kontras satu dengan lainnya. Ekonomi komunitas melekat pada tempat atau lokasi, sedangkan ekonomi arus utama berskala global atau berdasarkan spasial. Ekonomi arus utama terspesialisasi. Misalnya, perusahaan otomotif hanya berbisnis otomotif. Sedangkan ekonomi komunias bervariasi, tidak hanya satu rupa. Ekonomi arus utama berskala besar, kompetitif, dan terpusat. Ekonomi komunitas berskala kecil, mengedepankan kerja sama, dan terdesentralisasi.

Ekonomi arus utamaberada di luar budaya, tidak melekat secara sosial, jauh berbeda dari ekonomo komunitas yang sangat berdasarkan budaya dan melekat secara sosial. Pemilik ekonomi komunitas adalah masyarakat lokal dan menyebar. Ekonomi arus utama tidak dimiliki masyarakat lokal dan mengumpul (agglomerative).

Ekonomi arus utama berorientasi ekspor, sedangkan ekonomi komunitas berorientasi pasar lokal. Investasi ekonomi komunitas berjangka panjang, sedangkan ekonomi arus utama lebih mementingkan pengembalian modal jangka pendek. Ekonomi arus utama berorientasi pada pertumbuhan, ekstraktif, dan mengalirkannya ke luar sumber daya yang diekstrak. Ekonomi komunitas lebih berorientasi pada vitalitas dan menyirkulasikan sumber daya di wilayah lokal.

Ekonomi komunitas adalah milik komunitas dan dikendalikan komunitas. Ekonomi arus utama dimiliki pemodal yang dikelola oleh manajemen dan dikendalikan pemilik modal. Ekonomi komunitas berkelanjutan dari segi lingkungan, mengutamakan etika, harmonisasi, dan percaya pada lokal. Sebaliknya, ekonomi arus utama tidak berkelanjutan dari segi lingkungan, terfragmentasi, amoral, dan mengandalkan krisis.

Ekonomi komunitas memanfaatkan sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan komunitas, bukan untuk memenuhi permintaan pasar yang jauh. Harga komoditas global tidak menentukan produk apa yang akan mereka hasilkan. Tidak seperti berntuk ekonomi sekarang ini. Ketika harga kopi dunia naik, petani berbondong-bondong menanam kopi. Ketika harga cokelat jatuh petani menebang pohon kakao mereka.

Richard Douthwaite mencirikan ekonomi komunitas, terkait dengan kelestarian lingkungan, harus berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya alam sebatas kebtuhan komunitas, dan setiap siklus produksi bisa bertahan lebih dari 100 tahun tanpa merusak ekologi. Ekonomi komunitas tidak bisa mengandalkan pertumbuhan ekonomi utnuk mempertahankan kesejahteraan.

Apakah mungkin ekonomi komunitas? Masyarakat Baduy adalah bukti praktek ekonomi komunitas. Komunitas Baduy memenuhi kebutuhan hidup tanpa bergantung pada ekonomi di luar komunitas.

Dalam format lebih maju adalah kelompok gerakan petani organik. Mereka berupaya memenuhi lebih dahulu kebutuhan sendiri. Sisa panenan barulah dibarter atau dijual ke komunitas konsumen.

Memang bentuk ekonomi komunitas tidak bisa murni seperti yang dipraktekkan komunitas Baduy. Bagaimanapun, setiap komunitas masih akan bergantung pada komunitas lainnya. Hal paling mendasar yang harus dipenuhi komunitas pelaku ekonomi komunitas adalah kebutuhan akan pangan. Lalu, dalam skala kecil, komunitas-komunitas bisa saling mendukung. Untuk satu produk tertentu, komunias A adalah produsen. Tetapi untuk produk lainnya, komunitas A adalah konsumen.

Ekonomi komunitas sangat pas untuk masyarakat Indonesia, yang terdiri dari komunitas-komunitas. Ketika masyarakat tidak bisa menunggu kesejahteraan yang dijanjikan negara (pemerintah), menentukan nasib sendiri melalui ekonomi komunitas memberikan kepastian kehidupan yang lebih baik.

(Harry Surjadi, diterbitkan di Gatra, No 35, Tahun XV, tanggal 9-15 Juli 2009: halaman 37)