Kalau Saja

Kalau saja angin bisa membawa rasa itu pergi

Mungkin aku tak akan sesedih ini ketika kau pergi

Langkahmu amat tegas dan mantap ketika berpaling dan menjauh dariku

Meninggalkan aku yang tak dapat beranjak

Sembari memandangi sosokmu yang perlahan menghilang

Ditelan gelapnya malam di ujung jalan itu

Jangan tanya aku menangis atau tidak

Aku menangis

Tentu saja aku menangis

Dan tentu saja kau tidak bertanya kepadaku akan hal itu

Aku bahkan selalu menangis diam-diam saat masih bersamamu

Kau tidak pernah tau

Tentu saja kau tidak pernah tau

Aku tidak pernah memperlihatkan airmataku padamu

Sekalipun kau menyakitiku saat kita bertengkar

Aku hanya diam

Mengerahkan seluruh kekuatanku

Untuk menahan butiran bening itu jatuh ke pipiku

Dan setelah kau meninggalkanku

Aku menangis

Tentu saja aku menangis

Kau melukai aku begitu dalam

Selalu berulang

Begitu menyakitkan

Tapi aku selalu memaafkanmu

Kau tentu tidak tau aku masih punya sejuta maaf untukmu

Kemudian kau tersenyum dan memeluk bahuku

Mengaliri rasa itu ke dalam hatiku

Rasa yang berhasil membuatku yakin untuk tetap mempertahankanmu

Kalau saja angin dapat membawa rasa itu pergi

Mungkin aku tidak akan sesedih ini ketika kau benar-benar pergi

28 Agustus 2012

Apa Kau Baik-baik Saja?

Saudaraku, bolehkah aku bertanya padamu?

Apa hidupmu baik-baik saja?

Apa hari ini kau baik-baik saja?

Benarkah kau baik-baik saja ketika perutmu belum terisi pagi ini?

Ketika anak-anakmu berlari-lari di tepi rel kereta api?

Ketika udara yang kau hirup di kota besar ini,

sudah tercemar asap kendaraan dan pabrik?

Saudaraku, bolehkah aku bertanya padamu?

Apa hal ini sudah kau pikirkan matang-matang?

Apa keputusanmu ini sudah kau pikirkan matang-matang?

Benarkah sudah kau pikirkan matang-matang,

sementara kau harus meninggalkan kota kelahiranmu?

Sementara ayah ibumu akan menua di rumah masa kecilmu?

Sementara pendidikanmu lebih dibutuhkan di kampung halamanmu?

Apa hidupmu baik-baik saja?

Apa hari ini kau baik-baik saja?

Apa hal ini sudah kau pikirkan matang-matang?

Apa keputusanmu ini sudah kau pikirkan matang-matang?

Benarkah kau baik-baik saja?

Benarkah sudah kau pikirkan matang-matang?

Saudaraku, aku bertanya padamu

28 Agustus 2012

Untuk Sebuah Masa

Ini tulisan gue waktu kelas 3 SMA. WAktu itu lagi masa-masa sulit menjelang Ujian Nasional yang mana satu tahun sebelumnya gue turut menyaksikan banyaknya temen-temen gue di luar sana yang bernasib kurang baik dengan hasil UN nya. Bahkan ada kakak kelas gue yang waktu itu nggak lulus UN. Ditambah lagi pas jaman gue UN waktu itu tahun 2010, pertama kalinya Ujian Nasional dengan 6 mata pelajaran. Suasana menjelang UN saat itu agak horor dan hampa. Rasanya malu banget kalo emang sampe nggak lulus UN. Padahal itu semua balik ke diri kita masing-masing. Makanya gue dan temen-temen sekolah gue tetep semangat ngadepin UN. Alhamdulillah, gue melewati masa-masa ini dengan lancar. Gue dan temen-temen SMA gue diberikan hasil yang terbaik. Ada beberapa temen gue yang enggak lulus, tapi mereka tetep semangat dan kami yang luluspun bangga ngeliatnya. Karena kita semua tau kalo kita semua udah berjuang dengan sangat keras dan baik sekali untuk Ujian Akhir yang menjajah mental kita saat itu. Saat UN begitu licik dan angkuh…

Menukar Alam dengan Rupiah

Ketika hijau perlahan menguning

Lalu menjadi coklat dan kering

 

Ketika biru perlahan mengeruh

Lalu menjadi pekat dan tercemar

 

Ketika sejuk perlahan mengabu

Lalu menjadi sesak dan berpolusi

 

Ketika kota nan indah perlahan temaram

Lalu menjadi rusak dan berantakan

 

Ketika itu pundi-pundi rupiah membengkak

 

Menukar hutan

 

Menukar laut

 

Menukar tempat tinggal

 

Dengan banjir, rusaknya biota laut, dan pemanasan global

Keluhan Kecil Rakyat Kecil

Jika kami memilih, memenangkan mereka

Hidup kami akan tentram

Kesejahteraan sosial akan merata

Perekonomian akan membaik

Itu jaminan mereka

Namun nyatanya, kami telah memenangkan mereka

Hidup kami tambah temaram

Kesenjangan sosial meluas

Perekonomian tercekik

Itukah jaminan mereka?

Kami tidak habis pikir

Padahal kami hanya membutuhkan ratusan ribu

Tapi mereka menghabiskan milyaran rupiah

Untuk dirinya, keluarganya, jabatannya

Padahal kami hanya ingin tinggal dirumah yang layak

Tapi mereka menghabiskan milyaran rupiah

Untuk dirinya, rumahnya, kepuasannya

Padahal kami hanya membutuhkan keadilan

Tapi mereka membelinya dengan uang

Untuk dirinya, keegoisannya, kekuasaannya

Tidak perlu ayam, tempe pun kami lahap

Tidak perlu ikan, tahu pun kami makan

Asal ada nasi, dan uang untuk membelinya

Bagaimana bisa mereka hidup berkecukupan

dan menutup mata terhadap kehidupan kami?

Dengan gaji ratusan bahkan puluhan ribu

kami sudah harus puas

Sedangkan mereka dengan gaji jutaan

masih mau korupsi juga

Ketika perut mereka terisi penuh oleh makanan enak

dari restoran bintang lima,

Tidakkah mereka ingat bahwa perut kami belum terisi sejak kemarin

Padahal kami menaruh harapan pada mereka

Namun mengapa saat ini mereka seperti membatu dan tidak peduli

Apa yang sebenarnya mereka kerjakan

Sehingga memperoleh jutaan rupiah tiap bulan?

Apakah mereka memeras keringat seperti

kami yang mencangkul di sawah?

Apakah mereka membanting tulang seperti

kami yang menjadi kuli bangunan?

Bahkan setelah lelah bekerja, kami masih bisa

dengan sangat mudah kehilangan pekerjaan

Kami rakyat miskin, dari keluarga yang hanya tamat sekolah dasar

Tapi kami cinta tanah ini

Kami hafal lagu kebangsaan, kami hafal Pancasila

Lalu mengapa mereka yang orang-orang hebat

di kepalanya tidak ada pahatan isi Pancasila?

Anak kami yang duduk di kelas 4 sekolah dasar,

dan terancam putus sekolah setelahnya pun

bisa membedakan sila ke-2 dan sila ke-5

Mengapa mereka tidak, Indonesia???

 

 

Desember 2010

Apa Lagi?

Apa  lagi yang akan muncul di negeri ini?

Jutaan topeng memenuhi jagat yang kaya akan kepalsuan

Jutaan perut nelangsa di bumi yang subur akan ketamakan

Jutaan tangis merebak di setiap sudut yang sarat akan keegoisan

Semua muncul

Menyatu

Membentuk harmoni yang menyedihkan

Mereka yang berjuang

Adalah untuk mereka sendiri

Mereka yang putus asa

Adalah karena mereka sendiri

Apa lagi yang akan muncul di negeri ini?

Perampok hak asasi?

Pencopet uang rakyat?

Atau pembajak birokrasi negara?

Mari kita lihat bersama…

 

Depok, 14 Maret 2011

Tahukah?

Tahukah arti dari sebuah perjuangan?

Kau harus melangkahkan kakimu di sana

Di kaki gunung yang terlihat amat bersahabat

Kau harus berjalan

Jangan diam

Jangan hanya melihat

Tahukah arti dari sebuah perjuangan?

Kau harus melangkahkan kakimu

Di lereng gunung yang licin

Yang dengan kemiringannya membuatmu harus bertahan

Tahukah arti dari sebuah perjuangan?

Kau harus meraih apapun yang ada di sisimu

Sekalipun batang pohon kecil

Yang terlihat rapuh untuk menopangmu

Tahukah arti dari sebuah perjuangan?

Berjalanlah

Maka alam akan menunjukkannya kepadamu…

 

 

Depok, 16 Februari 2011

AKU BERJALAN MENYUSURI JALAN INI

Aku berjalan menyusuri jalan ini

Melangkah dengan hati-hati

Menduga dengan teliti

Menggerakkan kaki walau kram di malam hari

Aku terengah, menghirup udara

Yang juga dibutuhkan oleh dedaunan hijau disisiku

Aku berjalan menyusuri jalan ini

Berdecak kagum ketika fajar menyongsong

Hamparan kabut putih menyelimuti puncak-puncak yang megah

Terhampar seluas langit  di pagi hari

Aku tenteram, menghirup udara sejuk

Yang tak dapat ku hirup di tengah kota

Aku berjalan menyusuri jalan ini

Ditemani rintik hujan, bagai tirai alami

Angin menerpa wajahku berkali-kali

Menggetarkan langkah yang sudah kutata sejak kemarin

Namun ketika aku ragu, selalu ada tangan yang membantu

Dan jalan berbatu semakin melelahkan bagiku

Aku berjalan menyusuri jalan ini

Diterpa hujan yang tak lagi rintik

Berjalan dengan perlahan dan hati-hati

Disisi jurang yang tertutup semak dan pepohonan kecil

Jalan berbatu yang tak lagi kutemui, kini semakin sempit

Bahkan akar dan tanaman ramping pun menjadi sangat bersahabat

Bersedia  dipercaya untuk membantu

Melompat dari longsoran ataupun pohon tumbang

Aku berjalan menyusuri jalan ini

Di tengah-tengah rumah berbagai macam tumbuhan

Di sela-sela hiruk pikuk gerakan angin di siang hari

Di antara kesabaran dan keputus asaan

Di atas semangat yang sedikit dipaksakan

Di tempat yang indah, yang sangat jauh dari rumah…

 

Cibodas, 4-6 Maret 2011