Informasi Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat
Ibukota Provinsi : Mataram
Lokasi Astronomis : 9º 20′ – 6º 20′ LS dan 115º 30′ – 119º 30′ BT
Luas Wilayah :20.153,15 km2
Jumlah Penduduk : 4.496.855
Kepadatan Penduduk : 223,1/km²
Zona Waktu : WITA
Jumlah wilayah administrasi : Kabupaten (7), Kota (2), Kecamatan (94), Desa/kelurahan (762)
Kondisi Geografi Ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi yang termasuk wilayah pesisir tingkat provinsi dengan daratan yang tidak luas.Potensi terbesar yang dimiliki oleh NTB untuk mengembangkan kegiatan ekonominya adalah potensi kelautan serta potensi pariwisata.Kegiatan ekonomi ini kemudian mempengaruhi jumlah PDRB NTB secara umum.PDRB provinsi ini cenderung meningkat setiap tahun. Terdapat 5 bidang usaha yang menjadi penyumbang terbesar untuk PDRB NTB, yaitu pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan, pertambangan dan penggalian, perdagangan, hotel, restaurant, pengangkutan dan komunikasi, serta jasa-jasa service. Dari kelima bidang usaha tersebut, yang menjadi penyumbang terbesar PDRB NTB adalah pertambangan dan penggalianj (tahun 2004) serta sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan (pada tahun 2009). Sektor perkenbunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan (PPKP) mengalami peningkatan jumlah PDRB dari tahun 2004 sampai akhirnya memiliki PDRB terbesar pada tahun 2009. Hampir seluruh sektor lapangan usaha mengalami peningkatan PDRB provinsi NTB, kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Kegiatan ekonomi yang berkembang secara pesat di NTB selama kurun waktu mulai dari tahun 2004 sampai tahun 2009, adalah usaha pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Sektor ini memang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di wilayah pesisir.Selain itu, peningkatan PDRB juga terjadi pada sektor Industri pengolahan, jasa-jasa/service serta perdagangan, hotel, dan restoran.Peningkatan pendapatan pada sektor tersebut dapat dijadikan indicator perkembangan industripariwisata di NTB. Berikut ini merupakan data PDRB provinsi atas dasar harga konstan.
PDRB Provinsi Atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha tahun 2004/2009
1. Potensi Kelautan NTB
Provinsi NTB terdiri dari dua buah pulau besar yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dengan presentase luas wilayah lautannya lebih besar (sekitar 59,13 % dari total wilayah NTB) daripada luas wilayah daratannya. Kedua pulau ini kemudian dibagi menjadi tiga SWP (satuan wilayah pengembangan) dengan prioritas pengembangan komoditas yang berbeda.SWP pertama merupakan SWP Pulau Lombok.Komoditas yang menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah rumput laut, perikanan air tawar, perikanan air payau, perikanan tangkap dan perairan umum. Sedangkan untuk Pulau Sumb awa di bagi menjadi dua SWP, yaitu SWP Sumbawa bagian barat dengan prioritas budidaya air laut dan air payau serta SWP Sumbawa bagian timur dengan prioritas budidaya perikanan tangkap, budidaya laut, dan perairan umum.
2. Potensi Pariwisata NTB
Potensi pariwisata yang ada di NTB juga tersebar secara merata di dua pulau terbesarnya, yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.NTB menawarkan sejumlah objek wisata dengan panorama alam yang sangat indah mulai dari pantai (0 mdpl) sampai ke puncak gunung (Gunung Rinjani, 3226 mdpl).Berdasarkan Peraturan DaerahNomor 9 Tahun 1989 tentang pembangunan kawasan Pariwisata di Daerah NusaTenggara Barat, kawasan pariwisata NTB dibagi menjadi 15 kawasan. Enam berada di Pulau Lombok sedangkan 9 lainnya tersebar di Pulau Sumbawa.Salah satu objek wisata yang paling diminati oleh wisatawan adalah Pantai Senggigi dan Gunung Rinjani di Pulau Lombok, serta Gunung Tambora di Pulau Sumbawa. Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke objek wisata tersebut akan mempengaruhi pendapatan provinsi NTB di sektorindustri olahan (biasanya pengolahan makanan atau souvenir) serta hotel dan restoran.
Kemampuan Sustainable Development di Nusa Tenggara Barat dalam konteks menghadapi gejala perubahan iklim
Konsep pembangunan berkelanjutan dari BruntLand adalah proses pembangunan(lahan, kota, bisnis, masyarakat, dll) yang berprinsip “memenuhi memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan”. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. Berikut ini merupakan syarat-syarat yang telah dirumuskan oleh beberapa ahli sebagai indikato tercapainya proses pembangunan berkelanjutan.
Dua jenis potensi sumberdaya alam yang dimiliki oleh NTB dan merupakan sumber pendapatan provinsi ini, tentu saja tidak akan lepas dari kegiatan pembangunan. Permintaan akan fasilitas yang lebih baik dan memadai lambat laun akan menyebabkan adanya proses pembangunan sebagai respon positif agar kegiatan ekonomi berjalan dengan lancar. NTB dengan wisata alam yang menjadi daya tarik wisatawan asing, domestic, maupun lokal pastinya akan melakukan perbaikan atau peningkatan kualitas dari pelayanan jasa maupun fasilitas yang menunjang kegiatan tersebut. Alih fungsi lahan tentunya tidak dapat 100% dihindari.Meskipun pembangunan tidak dilakukan secara besar-besaran.
Mengacu pada syarat-syarat tercapainya pembangunan yang berkelanjutan, NTB sudah hampir memenuhi ketiga aspek/ dimensi yang dirumuskan oleh para ahli.Dalam aspek ekonomi, NTB sudah mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat dan dapat memeberikan kesejahteraan bagi masyrakatnya.Dalam tulisan mengenai pembangunan wilayah tingkat 1 disebutkan bahwa laju pertumbuhan ekonommi NTB cukup tinggi antara kurun waktu 1987-1992 dengan rata-rata kenaikan 11%. Selain itu, jumlah penduduk miskin mengalami penurunan dari 1.143.568 jiwa pada tahun 1984 menjadi 776.299 pada tahun 1990. Hal ini dapat menjadi indicator aspek yang pertama, yaitu pertumbuhan ekonomi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Aspek yang kedua, mengenai lingkungan yang baik untuk generasi sekarang dan yang akan datang juga telah dicapai oleg NTB. Bupati Kabupaten Bima pada tahun 2011 mengeluarkan kebijakan bahwa lahan pertanian yang telah ada, tidak boleh mengalami perubahan fungsi menjadi bangunan maupun permukiman.Selain itu beliau juga membangun DAM Pelaparado yang berfungsi mengairi lahan pertanian yang telah ada serta akses jalan untuk memudahkan jangkauan hasil pertanian. Hal ini dilakukan demi menjaga ketahanan pangan. Agar masyarakat Bima pada khususnya dan NTB pada umumnya tidak mengalami krisis pangan di masa mendatang.
Laju pertumbuhan ekonomi yang terbilang cukup pesat mampu mempengaruhi kemajuan di berbagai bidang seperti meningkatnya kualitas dari fasilitas pendidikan maupun kesehatan.Kemudian kebijakan untuk tetap mempertahankan lahan pertanian mampu menjaga keseimbangan suplai pangan untuk masyarakat NTB pada umumnya.Dengan ini, aspek ketiga yaitu aspek sosial yang syaratnya adalah pemenuhan kebutuhan dasar untuk semua telah tercapai.
Populasi penduduk dunia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Diprediksi bahwa dalam kurun waktu 50 tahun ke depan, Dunia akan semakin sempit akibat adanya ledakan penduduk. Perubahan iklim yang saat ini sedang berlangsung, akan semakin meningkat akibat aktivitas manusia yang merusak lingkungan seperti menebang hutan dan menjadikannya lahan terbangun, menghasilkan emisi gas rumah kaca melalui aktivitas industri maupun asap kendaraan bermotor, dan lain-lain. Akibatnya, perubahan iklim yang di pengaruhi oleh pemanasan global terjadi.Suhu muka bumi meningkat, dan dampak lokal yang akan dihadapi oleh provinsi NTB khususnya dan Indonesia pada umumnya adalah pergeseran pola ilklim maupun cuaca. Hal ini dapat mengganggu keseimbangan hidup manusia. Produktivitas pertanian berkurang serta kualitas dan ketersediaan air akan menipis. Hal ini mungkin saja kan terjadi jika pembangunan yang berkelanjutan tidak diindahkan oleh seluruh warga bumi.
Berdasarkan hasil analisis dari studi literature yang dilakukan menunjukkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki kemampuan untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan dalam konteks menghadapi perubahan iklim. Provinsi NTB mampu melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan dengan tetap mempertimbangkan kelestarian alam sementara di beberapa wilayah lain pembangunan yang tidak mempertimbangkan aspek ekologis terus dilakukan.
Referensi:
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat (Berita Resmi Statistik)
Link: http://ntb.bps.go.id/fileupload/BRS_Industri_Februari_2012.pdf, diakses pada tanggal 25/5/12
- Situs Resmi Pemerintah Nusa Tenggara Barat
Link: http://www.ntbprov.go.id/tentang_pariwisata.php, diakses pada tanggal 25/5/12
- Situs Resmi Intergovermental of Climate Change Indonesia
Link: http://www.ipcc-indonesia.org/, diakses pada tanggal 25/5/12
- Situs Resmi Badan Penanaman Modal Provinsi NTB
Link: http://bpmntb.com/promote/gambaran-umum-ntb/ekonomi/http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/75AA37E0-5945-4AAF-A44F-258A0DE9318C/10623/Boks1.pdf, diakses pada tanggal 25/5/12





Write a Comment