Mahasiswa adalah kader muda bangsa yang kelak akan menduduki kursi-kursi penting baik di pemerintahan maupun di tempat lain. Pengambil kebijakan dan pengemban tanggung jawab yang baik diharapkan dapat ditemukan kelak pada sosok-sosok dengan semangat baru dari anak-anak muda yang menginginkan perubahan. Proses untuk menuju ke sana sangat panjang. Oleh karenanya kita masih butuh banyak pembelajaran. Kepanitiaan merupakan salah satu media pembelajaran itu. Struktur, arus informasi, dan sistem koordinasi sudah terbentuk dengan jelas. Inilah saatnya pembentukan peran, penegasan karakter. Orang muda idealis yang konsisten dan bertanggung jawab tentunya mampu memberikan perubahan untuk Indonesia. Hari ini, saya melihat hal yang sangat menyedihkan. Hal yang biasa saya lihat dari orang-orang di gedung rakyat sana.

                “”Hari ini banyak hal yang saya pelajari dari event olahraga akbar di desa saya. Banyak kejadian yang membuat saya terheran-heran sampai benar-benar tidak habis pikir. Olahraga sangat identik dengan sportifitas, tetapi kok yang ngelaksanain event olahraga di desa saya ini engga sportif, ya? Sebenarnya yang ini sudah ke-3 kalinya, 2 lainnya udah terjadi minggu lalu. Awalnya, sih masih bisa dimaklumi. Mungkin si kakak-kakak pelaksana masih ngalamin cultural lag (kondisi dimana seseorang tidak mampu menyesuaikan diri dengan budaya lingkungan sekitarnya) di desa saya ini. Tapi kok tiang utama dalam olahraga yang dalam bahasa manusia disebut peraturan, beberapa kali tidak diindahkan. Belum lagi si kakak-kakak juga terkesan mendahulukan kepentingan golongan diatas kepentingan bersama. Mirisnya, hal yang kurang baik itu udah kita pelajari sejak sekolah dasar.

Di pertandingan pertama cup desa saya inilah, terjadi kesimpangsiuran informasi terkait si tiang tadi (yang udah disepakati dalam bahasa kita disebut ‘peraturan’) untuk pertama kalinya. Kala itu yang dilombakan adalah lari jarak jauh (yang engga jauh-jauh banget sebenernya) keliling kampung-kampung  tetangga. Informasi awal menyebutkan bahwa masing-masing RT boleh mengirimkan 3 atlit putra dan 3 atlit putri. Maka RT saya dengan sigap menyiapkan 3 orang atlit terbaik untuk masing-masing putra dan putri. Beberapa bahkan merupakan warga yang akan melakukan studi banding ke kota lain, dan menyempatkan hadir. Tetapi begitu atlit sudah berkumpul, ternyata ada peraturan baru yang menyebutkan bahwa setiap RT hanya boleh diwakili 2 atlit putra dan 2 atlit putri sebagai peserta dengan dalih 1 atlit putra dan putrid sebagai cadangan. Saya sih udah mencium ada gelagat tidak beres dari si kakak-kakak. Terbukti saat registrasi,atlit dari RT 5 (kalau saya dari RT 6) jumlahnya masing-masing 3 orang untuk putra dan putri. Nah, loh, kan, kok berubah lagi secara tiba-tiba tuh peraturannya. Hal ini pun tidak diinfokan sama kakak-kakak pelaksana, jadi saya dan teman-teman atlit RT 6 tidak tahu menahu jika saja salah satu warga RT 6 (yang saat itu ikut berlomba juga) tidak mengecek lembar registrasi yang ternyata RT 5 boleh mengirimkan 3 atlit putra dan putri. Maka dengan sedikit rasa kecewa kepada kakak-kakak pelaksana kami pun mengikuti lomba ini dengan lapang dada. Syukurnya bisa bawa pulang 1 medali emas dan 2 medali perunggu.

Kesimpangsiuran ternyata masih terjadi di hari kedua perlombaan olahraga ini, teman satu RT saya (sebut saja Otong), tiba-tiba tidak diperbolehkan mengikuti lomba lari 100 meter dengan dalih terdapat peraturan yang menyebutkan bahwa satu orang hanya boleh mengikuti 2 cabang individu saja. Dan jika ditinjau kebelakang, Otong memang sudah mengikuti 2 cabang individu dan menyumbangkan media perak dan medali emas. Menurut penuturan Otong,  kakak-kakak pelaksana memperbolehkan dia bermain kok ketika dia bertanya, “Eh, kakaknya, saya masih boleh ikutan lari 100 meter kan?”dan kakaknya menjawab “Iya, boleh, kok. Terserah aja.”. Tetapi seperti kasus sebelumnya, peraturan itu lagi-lagi berubah tepat sesaat sebelum perlombaan  lari-lari kecil itu dimulai. Otong pun tidak diperbolehkan mengikuti cabang perlombaan tersebut. Kakak-kakak pelaksana tampak berusaha profesional tapi tidak terlihat sama sekali. Mereka berusaha adil, diatas kepentingan golongan yang mereka ikatkan di kepala mereka. Belum lagi intervensi dari pihak luar kakak-kakak pelaksana juga sedikit banyak mematok langkah berani beberapa orang dari mereka. Maka saat itu atlit-atlit RT 6 sudah terbawa suasana yang suram akibat kekecewaan terhadap ketidakkonsistenan dari kakak-kakak pelaksana. Rasanya medali emas yang diperebutkan hari itu agak turun sedikit harganya karna kami sudah merasa dikecewakan dengan sikap kakak-kakak pelaksana yang cenderung tidak professional. Usai perlombaan, saya  akhirnya mencoba menyampaikan saran dan kritik kepada kakak-kakak itu (kebetulan bosnya dari RT 6). Mereka pun berujar peristiwa hari itu akan dijadikan bahan evaluasi agar kinerja mereka lebih baik lagi. Baiklah, niat baik itu diterima dengan lapang dada. Dan, hari itu kami pulang dengan tambahan 1 medali perak dan 2 medali perunggu sehingga posisi kami sementara unggul dari Kelima RT lainnya.

Dan, yang ketiga ternyata terjadi hari ini. Dan lagi-lagi saya dan RT saya yang dipermasalahkan. Peraturan lagi-lagi dirubah, dan seperti biasa sesaat sebelum pertandingan dimulai (kali ini pertandingan bola keranjang). Masih ada wajah-wajah lama yang dari kesimpangsiuran pertama sampai yang ketiga saat ini dan ternyata ada wajah-wajah baru yang muncul. Seperti tidak belajar dari peristiwa sebelumnya, diskusi masalah peraturan yang pastinya sudah susah payah disusun di awal masih saja dilakukan. Si bos dari RT 6 pun ditekan oleh banyak pihak. Kedudukannya tidak nomor 1, karena si nomor 2 ingin lebih dominan. Kenapa tidak dari awal saja hey, nomor 2 kamu jadi nomor 1. Ini sudah yang ketiga kali, masih dengan permasalahan yang sama, dan orang-orang sama. Jadi apa sih hasil dari evaluasinya? Saya penasaran. Tapi karena udah 3 kali, sudah sepantasnya dapat hadiah. Ini, piring cantik dari saya. “”

 

Hal yang ingin saya tekankan melalui cerita diatas adalah tanggung jawab dan konsistensi dari sebuah kepanitiaan. Hal-hal yang sudah disepakati sejak awal hendaknya dipegang teguh oleh orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. 3 kali mengganti peraturan tepat sesaat sebelum pertaningan dilaksanakan membuktikan bahwa panitia tidak konsisten dan professional dalam melaksanakan tugasnya. Olahraga adalah salah satu sarana pemersatu. Bukankah hal tersebut sudah diteriakkan? Lalu mana  bukti konkritnya? Toh, pada kenyataannya kepentingan golongan tetap menari di atas kepentingan bersama. Persis seperti wakil rakyat yang mewakili partainya. Acara Olahraga ini dibuat untuk mencari kader baru, demi kejayaan olahraga kita bersama. Ini cara kita menjalin persahabatan. Berkenalan di lapangan, menyapa di akhir pertandingan, sampai kemudian merayakan kemenangan.


Notice: link_pages is deprecated since version 2.1! Use wp_link_pages() instead. in /home/mhs.blog.ui.ac.id/public_html/wp-includes/functions.php on line 2839