Jika kami memilih, memenangkan mereka

Hidup kami akan tentram

Kesejahteraan sosial akan merata

Perekonomian akan membaik

Itu jaminan mereka

Namun nyatanya, kami telah memenangkan mereka

Hidup kami tambah temaram

Kesenjangan sosial meluas

Perekonomian tercekik

Itukah jaminan mereka?

Kami tidak habis pikir

Padahal kami hanya membutuhkan ratusan ribu

Tapi mereka menghabiskan milyaran rupiah

Untuk dirinya, keluarganya, jabatannya

Padahal kami hanya ingin tinggal dirumah yang layak

Tapi mereka menghabiskan milyaran rupiah

Untuk dirinya, rumahnya, kepuasannya

Padahal kami hanya membutuhkan keadilan

Tapi mereka membelinya dengan uang

Untuk dirinya, keegoisannya, kekuasaannya

Tidak perlu ayam, tempe pun kami lahap

Tidak perlu ikan, tahu pun kami makan

Asal ada nasi, dan uang untuk membelinya

Bagaimana bisa mereka hidup berkecukupan

dan menutup mata terhadap kehidupan kami?

Dengan gaji ratusan bahkan puluhan ribu

kami sudah harus puas

Sedangkan mereka dengan gaji jutaan

masih mau korupsi juga

Ketika perut mereka terisi penuh oleh makanan enak

dari restoran bintang lima,

Tidakkah mereka ingat bahwa perut kami belum terisi sejak kemarin

Padahal kami menaruh harapan pada mereka

Namun mengapa saat ini mereka seperti membatu dan tidak peduli

Apa yang sebenarnya mereka kerjakan

Sehingga memperoleh jutaan rupiah tiap bulan?

Apakah mereka memeras keringat seperti

kami yang mencangkul di sawah?

Apakah mereka membanting tulang seperti

kami yang menjadi kuli bangunan?

Bahkan setelah lelah bekerja, kami masih bisa

dengan sangat mudah kehilangan pekerjaan

Kami rakyat miskin, dari keluarga yang hanya tamat sekolah dasar

Tapi kami cinta tanah ini

Kami hafal lagu kebangsaan, kami hafal Pancasila

Lalu mengapa mereka yang orang-orang hebat

di kepalanya tidak ada pahatan isi Pancasila?

Anak kami yang duduk di kelas 4 sekolah dasar,

dan terancam putus sekolah setelahnya pun

bisa membedakan sila ke-2 dan sila ke-5

Mengapa mereka tidak, Indonesia???

 

 

Desember 2010