Kasus Banjir di Keerom dan Jakarta

  1. Informasi Umum Wilayah
    1. Kabupaten Keerom, Papua

Kabupaten Keerom merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Papua. Sebelum resmi menjadi daerah otonom pada tahun 2002, Keerom merupakan bagian dari Kabupaten Jayapura. Di sebelah utara, Keerom berbatasan dengan Kabupaten dan Kota Jayapura, di sebelah selatan dengan Kabupaten Pegunungan Bintang, di sebelah barat dengan Kabupaten Jayapura, sedangkan di sebelah timur berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. Kabupaten Keerom memiliki 7 (tujuh) kecamatan yang terdiri dari Kecamatan Arso, Arso Timur, Senggi, Skanto, Towe Hitam, Waris, dan Web.

  1. Kota Jakarta Barat, Jakarta

Kota Jakarta Barat merupakan salah satu dari 5 kota administrasi di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Saat ini Jakarta Barat tengah dirancang menjadi pusat bisnis yang baru untuk daerah Jakarta dan sekitarnya. Di sebelah utara, Jakarta Barat berbatasan dengan Kota Jakarta Utara, di sebelah selatan dengan Kota Jakarta Selatan, di sebelah barat dengan Kota Tangerang, dan di sebelah timur berbatasan langsung dengan Kota Jakarta Pusat. Jumlah kecamatan yang ada di Jakarta Barat adalah sebanyak 8 kecamatan dengan 56 kelurahan yang termasuk di dalamnya.

  1. Banjir yang terjadi di Papua dan Jakarta

Secara morfologi Kecamatan Arso yang berada di Kabupaten Keerom (Papua) dan Kelurahan Rawa Buaya di Kota Jakarta Barat, merupakan back swamp atau yang biasa dikenal dengan rawa (genangan belakang). Back Swamp  merupakan daerah di belakang tanggul (baik tanggul alami, ataupun tanggul buatan) yang selalu tergenang air selama musim hujan. Kedua wilayah ini kemudian dijadikan area permukiman dan akibatnya ketika curah hujan meningkat, kedua derah ini tergenang oleh banjir.

 

  • Kasus Kec. Arso (Papua)

Kecamatan Arso yang secara administratif terletak di Kabupaten Keerom merupakan salah satu daerah tujuan transmigrasi. Hal ini menyebabkan perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Arso dari rawa menjadi lahan terbangun (dalam kasus ini permukiman). Kasus banjir di Kecamatan Arso pada tahun 2007 ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Sungai Tami yang mengalir di Kecamatan Arso memiliki tingkat erosi yang tinggi, tetapi pemerintah tetap membangun sebuah bendungan di sana. Adanya lahan basah (sawah) (yang pada saat itu merupakan program swasembada beras dari pemerintah orde baru) mengakibatkan tingginya proses sedimentasi, sehingga mengurangi fungsi bendungan di Sungai Tami. Selain itu, luas hutan di daerah aliran sungai Tami (DAS Tami) mengalami pengurangan dari tahun ke tahun. Awalnya pada tahun 1996, luas hutan mencapai 90,6 % dari luas DAS. Enam tahun berikutnya, pada tahun 2002 luas hutan berkurang 1,88 % menjadi 88,72 % dari luas DAS. Kemudian saat banjir terjadi pada tahun 2007, luas hutan sudah berkurang sebanyak 2,72 % menjadi 86 % dari luas DAS. Membendung sungai yang memiliki tingkat erosi yang tinggi, memanfaatkan sda yang memperbesar proses sedimentasi, serta berkurangnya luasan hutan yang merupakan daerah resapan air menjadi factor yang mempengaruhi peristiwa banjir di Kabupaten Keerom dalam kasus Kecamatan Arso di Papua.

  • Kasus Rawa Buaya (Jakarta)

Rawa Buaya yang saat ini merupakan daerah padat penduduk, sebenarnya merupakan back swamp (rawa) yang mengalami transisi fungsional dari tahun ke tahun. Awalnya pada abad ke-18, daerah Rawa Buaya merupakan lahan basah dan rawa yang selalu tergenang air selama musim hujan. Pada tahun 1980, lahan basah dan sawah tersebut mengalami pengalihan fungsi menjadi lahan kering dan daerah terbangun. Pada tahun 1990, luasan sawah mulai berkurang seiring dengan mulai bermunculannya permukiman penduduk secara massal. Kemudian pada tahun 2002, daerah rawa ini telah didominasi oleh permukiman dengan luas lahan basah yang sangat sedikit. Hingga pada tahun 2007, tidak ada lagi sawah atau lahan basah di Rawa Buaya. Semuanya telah berubah menjadi permukiman padat penduduk dengan luasan lahan kering yang sedikit. Perubahan penggunaan lahan ini menjadi salah satu factor terjadinya banjir di Rawa Buaya. Meningkatnya jumlah permukiman dari tahun ke tahun menunjukkan adanya pertumbuhan penduduk yang sangat pesat dan mengakibatkan tekanan penduduk di Jakarta, khususnya Rawa Buaya. Daerah tanggul yang seharusnya bebas bangunan pun dimanfaatkan sebagai area permukiman. Akibatnya debit sungai yang meningkat ketika musim hujan mengalir ke  Rawa Buaya yang merupakan back swamp, dan terjebak akibat sampah yang mampat di saluran drainase sehingga daerah ini tergenang air dan banjir.

Untuk Sebuah Masa

Ini tulisan gue waktu kelas 3 SMA. WAktu itu lagi masa-masa sulit menjelang Ujian Nasional yang mana satu tahun sebelumnya gue turut menyaksikan banyaknya temen-temen gue di luar sana yang bernasib kurang baik dengan hasil UN nya. Bahkan ada kakak kelas gue yang waktu itu nggak lulus UN. Ditambah lagi pas jaman gue UN waktu itu tahun 2010, pertama kalinya Ujian Nasional dengan 6 mata pelajaran. Suasana menjelang UN saat itu agak horor dan hampa. Rasanya malu banget kalo emang sampe nggak lulus UN. Padahal itu semua balik ke diri kita masing-masing. Makanya gue dan temen-temen sekolah gue tetep semangat ngadepin UN. Alhamdulillah, gue melewati masa-masa ini dengan lancar. Gue dan temen-temen SMA gue diberikan hasil yang terbaik. Ada beberapa temen gue yang enggak lulus, tapi mereka tetep semangat dan kami yang luluspun bangga ngeliatnya. Karena kita semua tau kalo kita semua udah berjuang dengan sangat keras dan baik sekali untuk Ujian Akhir yang menjajah mental kita saat itu. Saat UN begitu licik dan angkuh…

Indonesia: Negeri yang Kaya, Lagi Miskin

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Dari Sabang sampai Merauke, dari darat sampai dasar laut, tersimpan harta yang begitu melimpah. Berada pada ring of fire akibat pertemuan empat lempeng benua sehingga bermunculan banyak gunung api aktif diikuti kesuburan tanahnya. Di pulau Sumatera dan Jawa terdapat tanah yang subur dan sangat optimal untuk kegiatan pertanian. Di tanah Kalimantan terdapat kandungan mineral yang sangat melimpah, dan merupakan salah satu tempat industri tambang. Hutan hujan tropis yang kaya akan biodiversitas menyelimuti sebagian besar daratan di Indonesia. Lautan luas yang memeluk seluruh kepulauan dan mengandung ikan-ikan sehat dan kaya akan protein dalam jumlah yang luar biasa melimpah. Betapa luar biasa kekayaan alam Indonesia.

Hubungan antara manusia dan alam tidak pernah bisa dilepaskan satu sama lain. Manusia dan alam selalu melakukan interaksi bolak-balik yang selalu terjadi dari waktu ke waktu. Indonesia merupakan salah satu bukti bahwa alam mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tanah yang subur, ikan-ikan yang sehat, air yang bersih, udara yang segar, serta mineral-mineral yang berharga ada di bumi pertiwi. Indonesia sudah seharusnya kaya dan sejahtera. Kemiskinan dan kelaparan tidak sepantasnya muncul di tanah air ini. Krisis air bersih dan pangan bukanlah  hal yang patut dikhawatirkan. Itulah yang seharusnya terjadi. Tapi kenyataannya…? Tidak seperti itu.

Terlalu sederhana jika mengasumsikan negara yang kaya sumberdaya alamnya adalah negara yang kaya secara harfiah dan mampu menyejahterakan masyarakatnya. Terlepas dari keberlimpahan sumberdaya yang ada, Indonesia adalah negara yang miskin. Masih ada saudara-saudara kita yang kelaparan dan sulit memperoleh air bersih. Masih ada saudara-saudara kita yang tidak memperoleh kesejahteraan seperti yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kesenjangan masih terasa di tanah tumpah darah kita ini. Berganti pemimpin tidak pula mengubah keadaan yang ada, tetapi justru melanjutkannya.

Terlalu banyak nasi yang menjadi sampah, sementara masih banyak orang yang miskin dan kelaparan. Terlalu banyak air yang terbuang sia-sia, sementara di tempat yang lain betapa sulitnya menemukan air. Terlalu banyak uang yang diberikan kepada para anggota DPR, sementara masih banyak rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Terlalu banyak anggaran yang direncanakan untuk pembangunan gedung DPR, sementara di beberapa tempat fasilitas pendidikan masih menyedihkan. Terlalu banyak sumberdaya Indonesia yang menghidupi orang asing, sementara tuan rumah hidupnya pun masih terlilit.

Mengapa Indonesia miskin di atas kekayaannya? Begitu banyak sumberdaya yang tidak di kelola dengan baik dan merata. Indonesia yang katanya Negara maritim, nyatanya tidak punya pelabuhan laut yang megah dan bersih. Wilayah teritori pun masih dikadali oleh tetangga seberang yang ‘pengen banget jadi Negara kepulauan tapi maksa’. Padahal banyak sekali ikan-ikan laut yang berada di perairan Indonesia. Mengapa tidak dimanfaatkan saja? Tentu saja di beberapa daerah sudah dimanfaatkan, tetapi bukankah lebih baik jika pemanfaatan sumberdaya perikanan dilakukan di berbagai tempat sehingga tidak terjadi krisis jumlah ikan di satu daerah. Hal ini berlaku untuk sumberdaya lain.

Kalau memang Negara maritim dan agraris, untuk apa bermimpi jadi Negara industri. Setiap Negara memiliki potensi sumberdaya-nya masing-masing. Indonesia tidak perlu berusaha untuk menjadi Negara yang tidak sesuai dengan potensinya. Indonesia memiliki potensi pariwisata, pertanian, perikanan, dan pertambangan. Ya sudah, kembangkan saja dulu. Masifkan pengelolaan SDA tersebut agar terwujud pemerataan kesejahteraan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Indonesia harus berlaku sebagai Negara yang kaya. Negara yang tidak menimbun kekayaan diatas kekurangan saudara-saudara setanah airnya. Kita semua lahir dan besar di tanah yang sama. Tidakkah kita semua memiliki hak yang sama atas kekayaan alam ini? Berbagilah dengan bijaksana. Kelak Indonesia yang kaya, tidak akan miskin lagi.

 

Depok, 3 April 2012

Menukar Alam dengan Rupiah

Ketika hijau perlahan menguning

Lalu menjadi coklat dan kering

 

Ketika biru perlahan mengeruh

Lalu menjadi pekat dan tercemar

 

Ketika sejuk perlahan mengabu

Lalu menjadi sesak dan berpolusi

 

Ketika kota nan indah perlahan temaram

Lalu menjadi rusak dan berantakan

 

Ketika itu pundi-pundi rupiah membengkak

 

Menukar hutan

 

Menukar laut

 

Menukar tempat tinggal

 

Dengan banjir, rusaknya biota laut, dan pemanasan global

Keluhan Kecil Rakyat Kecil

Jika kami memilih, memenangkan mereka

Hidup kami akan tentram

Kesejahteraan sosial akan merata

Perekonomian akan membaik

Itu jaminan mereka

Namun nyatanya, kami telah memenangkan mereka

Hidup kami tambah temaram

Kesenjangan sosial meluas

Perekonomian tercekik

Itukah jaminan mereka?

Kami tidak habis pikir

Padahal kami hanya membutuhkan ratusan ribu

Tapi mereka menghabiskan milyaran rupiah

Untuk dirinya, keluarganya, jabatannya

Padahal kami hanya ingin tinggal dirumah yang layak

Tapi mereka menghabiskan milyaran rupiah

Untuk dirinya, rumahnya, kepuasannya

Padahal kami hanya membutuhkan keadilan

Tapi mereka membelinya dengan uang

Untuk dirinya, keegoisannya, kekuasaannya

Tidak perlu ayam, tempe pun kami lahap

Tidak perlu ikan, tahu pun kami makan

Asal ada nasi, dan uang untuk membelinya

Bagaimana bisa mereka hidup berkecukupan

dan menutup mata terhadap kehidupan kami?

Dengan gaji ratusan bahkan puluhan ribu

kami sudah harus puas

Sedangkan mereka dengan gaji jutaan

masih mau korupsi juga

Ketika perut mereka terisi penuh oleh makanan enak

dari restoran bintang lima,

Tidakkah mereka ingat bahwa perut kami belum terisi sejak kemarin

Padahal kami menaruh harapan pada mereka

Namun mengapa saat ini mereka seperti membatu dan tidak peduli

Apa yang sebenarnya mereka kerjakan

Sehingga memperoleh jutaan rupiah tiap bulan?

Apakah mereka memeras keringat seperti

kami yang mencangkul di sawah?

Apakah mereka membanting tulang seperti

kami yang menjadi kuli bangunan?

Bahkan setelah lelah bekerja, kami masih bisa

dengan sangat mudah kehilangan pekerjaan

Kami rakyat miskin, dari keluarga yang hanya tamat sekolah dasar

Tapi kami cinta tanah ini

Kami hafal lagu kebangsaan, kami hafal Pancasila

Lalu mengapa mereka yang orang-orang hebat

di kepalanya tidak ada pahatan isi Pancasila?

Anak kami yang duduk di kelas 4 sekolah dasar,

dan terancam putus sekolah setelahnya pun

bisa membedakan sila ke-2 dan sila ke-5

Mengapa mereka tidak, Indonesia???

 

 

Desember 2010

Apa Lagi?

Apa  lagi yang akan muncul di negeri ini?

Jutaan topeng memenuhi jagat yang kaya akan kepalsuan

Jutaan perut nelangsa di bumi yang subur akan ketamakan

Jutaan tangis merebak di setiap sudut yang sarat akan keegoisan

Semua muncul

Menyatu

Membentuk harmoni yang menyedihkan

Mereka yang berjuang

Adalah untuk mereka sendiri

Mereka yang putus asa

Adalah karena mereka sendiri

Apa lagi yang akan muncul di negeri ini?

Perampok hak asasi?

Pencopet uang rakyat?

Atau pembajak birokrasi negara?

Mari kita lihat bersama…

 

Depok, 14 Maret 2011

Tahukah?

Tahukah arti dari sebuah perjuangan?

Kau harus melangkahkan kakimu di sana

Di kaki gunung yang terlihat amat bersahabat

Kau harus berjalan

Jangan diam

Jangan hanya melihat

Tahukah arti dari sebuah perjuangan?

Kau harus melangkahkan kakimu

Di lereng gunung yang licin

Yang dengan kemiringannya membuatmu harus bertahan

Tahukah arti dari sebuah perjuangan?

Kau harus meraih apapun yang ada di sisimu

Sekalipun batang pohon kecil

Yang terlihat rapuh untuk menopangmu

Tahukah arti dari sebuah perjuangan?

Berjalanlah

Maka alam akan menunjukkannya kepadamu…

 

 

Depok, 16 Februari 2011

AKU BERJALAN MENYUSURI JALAN INI

Aku berjalan menyusuri jalan ini

Melangkah dengan hati-hati

Menduga dengan teliti

Menggerakkan kaki walau kram di malam hari

Aku terengah, menghirup udara

Yang juga dibutuhkan oleh dedaunan hijau disisiku

Aku berjalan menyusuri jalan ini

Berdecak kagum ketika fajar menyongsong

Hamparan kabut putih menyelimuti puncak-puncak yang megah

Terhampar seluas langit  di pagi hari

Aku tenteram, menghirup udara sejuk

Yang tak dapat ku hirup di tengah kota

Aku berjalan menyusuri jalan ini

Ditemani rintik hujan, bagai tirai alami

Angin menerpa wajahku berkali-kali

Menggetarkan langkah yang sudah kutata sejak kemarin

Namun ketika aku ragu, selalu ada tangan yang membantu

Dan jalan berbatu semakin melelahkan bagiku

Aku berjalan menyusuri jalan ini

Diterpa hujan yang tak lagi rintik

Berjalan dengan perlahan dan hati-hati

Disisi jurang yang tertutup semak dan pepohonan kecil

Jalan berbatu yang tak lagi kutemui, kini semakin sempit

Bahkan akar dan tanaman ramping pun menjadi sangat bersahabat

Bersedia  dipercaya untuk membantu

Melompat dari longsoran ataupun pohon tumbang

Aku berjalan menyusuri jalan ini

Di tengah-tengah rumah berbagai macam tumbuhan

Di sela-sela hiruk pikuk gerakan angin di siang hari

Di antara kesabaran dan keputus asaan

Di atas semangat yang sedikit dipaksakan

Di tempat yang indah, yang sangat jauh dari rumah…

 

Cibodas, 4-6 Maret 2011