Mendaki Gunung Slamet (3428 mdpl) dengan Selamat

Gue pendaki pemula. Baru sedikit gunung yang gue daki. Pendakian yang paling baru gue lakukan adalah pendakian ke Gunung Slamet di Jawa Tengah. Pendakian ini gue lakukan bersama 3 orang anggota GMC dan 6 orang caang GMC 2011 pada bulan Juli 2012 lalu. Pendakiannya seru banget. Gue dan temen-temen gue mendaki Gunung tertinggi di Jawa Tengah ini via Jalur Kaliwadas. Jalur ini menurut gue jalur paling panjang untuk mencapai puncak gunung Slamet (menurut penalaran gue saat melihat peta jalur-jalur yang lain sih :D ) karena jalurnya kebanyakan melipir. Gue dan tim gue menghabisakan 3 hari dua malam di Gunung ini serta berhasil mencapai puncak dan kembali ke basecamp dengan selamat.

Akses untuk mencapai basecamp gunung Slamet jalur Kaliwadas yang berada di ketinggian 1725 mdpl, cukup mudah. Dari pasar Bumiayu, kita dapat menggunakan ojek atau elf jika rombongan berjumlah 10 orang. Waktu itu sih, gue sama temen-temen gue naik elf yang disewa seharga tiga ratus ribu rupiah. Basecamp Gunung Slamet berupa sebuah rumah yang merupakan rumah Bu Haji. Jika ingin melakukan pendakian, kita cukup meminta izin ke Bu Haji ini. Suhu di basecamp Kaliwadas ini cukup rendah (mungkin sekitar 17° C) jadi disarankan untuk para pendaki membawa beberapa baju/pakaian hangat.

Jalur Kaliwadas tidak curam. Tidak banyak tanjakan tanjakan curam yang panjang, hanya saja di beberapa titik jalurnya terhalang batang pohon yang tumbang. Setelah melewati Pos keempat, jalur mulai menyempit dan agak tertutup semak belukar tetapi tetap terlihat jelas. Untuk mencapai puncak Slamet, dari jalur Kaliwadas ini kita akan melewati sebuah punggungan yang cukup panjang yaitu Igir Tjowek. Dari sini, kita dapat melihat puncak Gunung Slamet dengan sangat jelas. Waktu itu pas gue dan tim gue summit attack, kita sempet melihat dengan jelas wedus gembel dari puncak gunung Slamet. Waktu itu gue antara takut sama takjub, tapi akhirnya gue memutuskan untuk takjub dulu baru abis itu khawatir sama debu vulkanisnya yang kemungkinan bakal kebawa angin ke arah jalur gue. Kenyataannya, emang debunya ketiup angin ke arah jalur gue. Alhasil, gue dan tim gue harus menggunakan peralatan tempur anti debu kayak masker, kacamata (caang gue ada yang pake kacamata renang! Lol:D), dan penutup kepala biar rambut tetep kece sampe puncak (hehe).

Pelawangan Gunung Slamet panjaaaaaaaang banget. Sangat panjang sampe gue ngerasa nggak nyampe-nyampe pas manjat-manjat dari satu batuan ke batuan lainnya. Dibanding pelawangan Gunung Raung, pelawangan Gunung Slamet via Kaliwadas ini menurut gue lebih sulit. Bener kata mas-mas di basecamp kalo jalur ke puncak gunung Slamet terdiri dari pasir dan batuan lepas, jadi kita harus ekstra hati-hati saat mendaki. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya sampai juga gue dan seluruh tim gue di puncak Gunung Slamet via Kaliwadas. Kawah aktifnya lebih besar dari Gunung Raung dan sesekali mengeluarkan gas belerang dengan bau yang menyengat. Puncak yang dicapai melalui jalur ini sempit. Saat semua anggota tim gue telah berhasil menjejaki kaki di puncaknya, gue sangat bersyukur karena semuanya dalam keadaan sehat dan ceria. Sekian :D :D :D

Depok, 27 September 2012

Kalau Saja

Kalau saja angin bisa membawa rasa itu pergi

Mungkin aku tak akan sesedih ini ketika kau pergi

Langkahmu amat tegas dan mantap ketika berpaling dan menjauh dariku

Meninggalkan aku yang tak dapat beranjak

Sembari memandangi sosokmu yang perlahan menghilang

Ditelan gelapnya malam di ujung jalan itu

Jangan tanya aku menangis atau tidak

Aku menangis

Tentu saja aku menangis

Dan tentu saja kau tidak bertanya kepadaku akan hal itu

Aku bahkan selalu menangis diam-diam saat masih bersamamu

Kau tidak pernah tau

Tentu saja kau tidak pernah tau

Aku tidak pernah memperlihatkan airmataku padamu

Sekalipun kau menyakitiku saat kita bertengkar

Aku hanya diam

Mengerahkan seluruh kekuatanku

Untuk menahan butiran bening itu jatuh ke pipiku

Dan setelah kau meninggalkanku

Aku menangis

Tentu saja aku menangis

Kau melukai aku begitu dalam

Selalu berulang

Begitu menyakitkan

Tapi aku selalu memaafkanmu

Kau tentu tidak tau aku masih punya sejuta maaf untukmu

Kemudian kau tersenyum dan memeluk bahuku

Mengaliri rasa itu ke dalam hatiku

Rasa yang berhasil membuatku yakin untuk tetap mempertahankanmu

Kalau saja angin dapat membawa rasa itu pergi

Mungkin aku tidak akan sesedih ini ketika kau benar-benar pergi

28 Agustus 2012

Apa Kau Baik-baik Saja?

Saudaraku, bolehkah aku bertanya padamu?

Apa hidupmu baik-baik saja?

Apa hari ini kau baik-baik saja?

Benarkah kau baik-baik saja ketika perutmu belum terisi pagi ini?

Ketika anak-anakmu berlari-lari di tepi rel kereta api?

Ketika udara yang kau hirup di kota besar ini,

sudah tercemar asap kendaraan dan pabrik?

Saudaraku, bolehkah aku bertanya padamu?

Apa hal ini sudah kau pikirkan matang-matang?

Apa keputusanmu ini sudah kau pikirkan matang-matang?

Benarkah sudah kau pikirkan matang-matang,

sementara kau harus meninggalkan kota kelahiranmu?

Sementara ayah ibumu akan menua di rumah masa kecilmu?

Sementara pendidikanmu lebih dibutuhkan di kampung halamanmu?

Apa hidupmu baik-baik saja?

Apa hari ini kau baik-baik saja?

Apa hal ini sudah kau pikirkan matang-matang?

Apa keputusanmu ini sudah kau pikirkan matang-matang?

Benarkah kau baik-baik saja?

Benarkah sudah kau pikirkan matang-matang?

Saudaraku, aku bertanya padamu

28 Agustus 2012

Take It All With You!

Take It All – Adele

Didn’t I give it all, Tried my best, Gave you everything I had, Everything and no less? Didn’t I do it right? Did I let you down? Maybe you got too used to Well, having me around. Still how can you walk away From all my tears? It’s gonna be an empty road Without me right here.

But go on and take it, Take it all with you. Don’t look back At this crumbling fool. Just take it all With my love, Take it all With my love. Maybe I should leave To help you see Nothing is better than this And this is everything we need. So is it over? Is this really it? You’ve given up so easily, I thought you loved me more than this.

But go on, go on and take it, Take it all with you. Don’t look back At this crumbling fool. Just take it all With my love, Take it all With my love.

I will change if I must. Slow it down and bring it home, I will adjust. Oh if only, if only you knew, Everything I do is for you.

But go on Go on and take it, Take it all with you. Don’t look back At this crumbling fool. Just take it, Take it all with you. Don’t look back At this crumbling fool. Just take it all With my love, Take it all With my love Take it all With my love

‘pertama kali denger lagu Adele yg ini, gw langsung suka. Liriknya ngomong abis! :3′

Kondisi Geografi Ekonomi dan Kemampuan ‘Sustainable Development’ Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam Menghadapi Gejala Perubahan Iklim

Informasi Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat

Ibukota Provinsi : Mataram

Lokasi Astronomis : 9º 20′ – 6º 20′ LS dan 115º 30′ – 119º 30′ BT

Luas Wilayah :20.153,15 km2

Jumlah Penduduk : 4.496.855

Kepadatan Penduduk : 223,1/km²

Zona Waktu : WITA

Jumlah wilayah administrasi : Kabupaten (7), Kota (2), Kecamatan (94), Desa/kelurahan (762)

Kondisi Geografi Ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi yang termasuk wilayah pesisir tingkat provinsi dengan daratan yang tidak luas.Potensi terbesar yang dimiliki oleh NTB untuk mengembangkan kegiatan ekonominya adalah potensi kelautan serta potensi pariwisata.Kegiatan ekonomi ini kemudian mempengaruhi jumlah PDRB NTB secara umum.PDRB provinsi ini cenderung meningkat setiap tahun. Terdapat 5 bidang usaha yang menjadi penyumbang terbesar untuk PDRB NTB, yaitu pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan, pertambangan dan penggalian, perdagangan, hotel, restaurant, pengangkutan dan komunikasi, serta jasa-jasa service. Dari kelima bidang usaha tersebut, yang menjadi penyumbang terbesar PDRB NTB adalah pertambangan dan penggalianj (tahun 2004) serta sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan (pada tahun 2009). Sektor perkenbunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan (PPKP) mengalami peningkatan jumlah PDRB dari tahun 2004 sampai akhirnya memiliki PDRB terbesar pada tahun 2009. Hampir seluruh sektor lapangan usaha mengalami peningkatan PDRB provinsi NTB, kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Kegiatan ekonomi yang berkembang secara pesat di NTB selama kurun waktu mulai dari tahun 2004 sampai tahun 2009, adalah usaha pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Sektor ini memang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di wilayah pesisir.Selain itu, peningkatan PDRB juga terjadi pada sektor Industri pengolahan, jasa-jasa/service serta perdagangan, hotel, dan restoran.Peningkatan pendapatan pada sektor tersebut dapat dijadikan indicator perkembangan industripariwisata di NTB. Berikut ini merupakan data PDRB provinsi atas dasar harga konstan.

PDRB Provinsi Atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha tahun 2004/2009

 

1. Potensi Kelautan NTB

Provinsi NTB terdiri dari dua buah pulau besar yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dengan presentase luas wilayah lautannya lebih besar (sekitar 59,13 % dari total wilayah NTB) daripada luas wilayah daratannya. Kedua pulau ini kemudian dibagi menjadi tiga SWP (satuan wilayah pengembangan) dengan prioritas pengembangan komoditas yang berbeda.SWP pertama merupakan SWP Pulau Lombok.Komoditas yang menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah rumput laut, perikanan air tawar, perikanan air payau, perikanan tangkap dan perairan umum. Sedangkan untuk Pulau Sumb awa di bagi menjadi dua SWP, yaitu SWP Sumbawa bagian barat dengan prioritas budidaya air laut dan air payau serta SWP Sumbawa bagian timur dengan prioritas budidaya perikanan tangkap, budidaya laut, dan perairan umum.

 

2. Potensi Pariwisata NTB

Potensi pariwisata yang ada di NTB juga tersebar secara merata di dua pulau terbesarnya, yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.NTB menawarkan sejumlah objek wisata dengan panorama alam yang sangat indah mulai dari pantai (0 mdpl) sampai ke puncak gunung (Gunung Rinjani, 3226 mdpl).Berdasarkan Peraturan DaerahNomor 9 Tahun 1989 tentang pembangunan kawasan Pariwisata di Daerah NusaTenggara Barat, kawasan pariwisata NTB dibagi menjadi 15 kawasan. Enam berada di Pulau Lombok sedangkan 9 lainnya tersebar di Pulau Sumbawa.Salah satu objek wisata yang paling diminati oleh wisatawan adalah Pantai Senggigi dan Gunung Rinjani di Pulau Lombok, serta Gunung Tambora di Pulau Sumbawa. Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke objek wisata tersebut akan mempengaruhi pendapatan provinsi NTB di sektorindustri olahan (biasanya pengolahan makanan atau souvenir) serta hotel dan restoran.

 

 

Kemampuan Sustainable Development di Nusa Tenggara Barat dalam konteks menghadapi gejala perubahan iklim

Konsep pembangunan berkelanjutan dari BruntLand adalah proses pembangunan(lahan, kota, bisnis, masyarakat, dll) yang berprinsip “memenuhi memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan”. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. Berikut ini merupakan syarat-syarat yang telah dirumuskan oleh beberapa ahli sebagai indikato tercapainya proses pembangunan berkelanjutan.

 

Dua jenis potensi sumberdaya alam yang dimiliki oleh NTB dan merupakan sumber pendapatan provinsi ini, tentu saja tidak akan lepas dari kegiatan pembangunan. Permintaan akan fasilitas yang lebih baik dan memadai lambat laun akan menyebabkan adanya proses pembangunan sebagai respon positif agar kegiatan ekonomi berjalan dengan lancar. NTB dengan wisata alam yang menjadi daya tarik wisatawan asing, domestic, maupun lokal pastinya akan melakukan perbaikan atau peningkatan kualitas dari pelayanan jasa maupun fasilitas yang menunjang kegiatan tersebut. Alih fungsi lahan tentunya tidak dapat 100% dihindari.Meskipun pembangunan tidak dilakukan secara besar-besaran.

Mengacu pada syarat-syarat tercapainya pembangunan yang berkelanjutan, NTB sudah hampir memenuhi ketiga aspek/ dimensi yang dirumuskan oleh para ahli.Dalam aspek ekonomi, NTB sudah mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat dan dapat memeberikan kesejahteraan bagi masyrakatnya.Dalam tulisan mengenai pembangunan wilayah tingkat 1 disebutkan bahwa laju pertumbuhan ekonommi NTB cukup tinggi antara kurun waktu 1987-1992 dengan rata-rata kenaikan 11%. Selain itu, jumlah penduduk miskin mengalami penurunan dari 1.143.568 jiwa pada tahun 1984 menjadi 776.299 pada tahun 1990. Hal ini dapat menjadi indicator aspek yang pertama, yaitu pertumbuhan ekonomi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Aspek yang kedua, mengenai lingkungan yang baik untuk generasi sekarang dan yang akan datang juga telah dicapai oleg NTB. Bupati Kabupaten Bima pada tahun 2011 mengeluarkan kebijakan bahwa lahan pertanian yang telah ada, tidak boleh mengalami perubahan fungsi menjadi bangunan maupun permukiman.Selain itu beliau juga membangun DAM Pelaparado yang berfungsi mengairi lahan pertanian yang telah ada serta akses jalan untuk memudahkan jangkauan hasil pertanian. Hal ini dilakukan demi menjaga ketahanan pangan. Agar masyarakat Bima pada khususnya dan NTB pada umumnya tidak mengalami krisis pangan di masa mendatang.

Laju pertumbuhan ekonomi yang terbilang cukup pesat mampu mempengaruhi kemajuan di berbagai bidang seperti meningkatnya kualitas dari fasilitas pendidikan maupun kesehatan.Kemudian kebijakan untuk tetap mempertahankan lahan pertanian mampu menjaga keseimbangan suplai pangan untuk masyarakat NTB pada umumnya.Dengan ini, aspek ketiga yaitu aspek sosial yang syaratnya adalah pemenuhan kebutuhan dasar untuk semua telah tercapai.

Populasi penduduk dunia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Diprediksi bahwa dalam kurun waktu 50 tahun ke depan, Dunia akan semakin sempit akibat adanya ledakan penduduk. Perubahan iklim yang saat ini sedang berlangsung, akan semakin meningkat akibat aktivitas manusia yang merusak lingkungan seperti menebang hutan dan menjadikannya lahan terbangun, menghasilkan emisi gas rumah kaca melalui aktivitas industri maupun asap kendaraan bermotor, dan lain-lain. Akibatnya, perubahan iklim yang di pengaruhi oleh pemanasan global terjadi.Suhu muka bumi meningkat, dan dampak lokal yang akan dihadapi oleh provinsi NTB khususnya dan Indonesia pada umumnya adalah pergeseran pola ilklim maupun cuaca. Hal ini dapat mengganggu keseimbangan hidup manusia. Produktivitas pertanian berkurang serta kualitas dan ketersediaan air akan menipis. Hal ini mungkin saja kan terjadi jika pembangunan yang berkelanjutan tidak diindahkan oleh seluruh warga bumi.

Berdasarkan hasil analisis dari studi literature yang dilakukan menunjukkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki kemampuan untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan dalam konteks menghadapi perubahan iklim. Provinsi NTB mampu melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan dengan tetap mempertimbangkan kelestarian alam sementara di beberapa wilayah lain pembangunan yang tidak mempertimbangkan aspek ekologis terus dilakukan.

 

Referensi:

  1. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat (Berita Resmi Statistik)

Link: http://ntb.bps.go.id/fileupload/BRS_Industri_Februari_2012.pdf, diakses pada tanggal 25/5/12

  1. Situs Resmi Pemerintah Nusa Tenggara Barat

Link: http://www.ntbprov.go.id/tentang_pariwisata.php, diakses pada tanggal 25/5/12

  1. Situs Resmi Intergovermental of Climate Change Indonesia

Link: http://www.ipcc-indonesia.org/, diakses pada tanggal 25/5/12

  1. Situs Resmi Badan Penanaman Modal Provinsi NTB

Link: http://bpmntb.com/promote/gambaran-umum-ntb/ekonomi/http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/75AA37E0-5945-4AAF-A44F-258A0DE9318C/10623/Boks1.pdf, diakses pada tanggal 25/5/12

Ini yang Ke-3, Ini Piring Cantiknya

                 Mahasiswa adalah kader muda bangsa yang kelak akan menduduki kursi-kursi penting baik di pemerintahan maupun di tempat lain. Pengambil kebijakan dan pengemban tanggung jawab yang baik diharapkan dapat ditemukan kelak pada sosok-sosok dengan semangat baru dari anak-anak muda yang menginginkan perubahan. Proses untuk menuju ke sana sangat panjang. Oleh karenanya kita masih butuh banyak pembelajaran. Kepanitiaan merupakan salah satu media pembelajaran itu. Struktur, arus informasi, dan sistem koordinasi sudah terbentuk dengan jelas. Inilah saatnya pembentukan peran, penegasan karakter. Orang muda idealis yang konsisten dan bertanggung jawab tentunya mampu memberikan perubahan untuk Indonesia. Hari ini, saya melihat hal yang sangat menyedihkan. Hal yang biasa saya lihat dari orang-orang di gedung rakyat sana.

                “”Hari ini banyak hal yang saya pelajari dari event olahraga akbar di desa saya. Banyak kejadian yang membuat saya terheran-heran sampai benar-benar tidak habis pikir. Olahraga sangat identik dengan sportifitas, tetapi kok yang ngelaksanain event olahraga di desa saya ini engga sportif, ya? Sebenarnya yang ini sudah ke-3 kalinya, 2 lainnya udah terjadi minggu lalu. Awalnya, sih masih bisa dimaklumi. Mungkin si kakak-kakak pelaksana masih ngalamin cultural lag (kondisi dimana seseorang tidak mampu menyesuaikan diri dengan budaya lingkungan sekitarnya) di desa saya ini. Tapi kok tiang utama dalam olahraga yang dalam bahasa manusia disebut peraturan, beberapa kali tidak diindahkan. Belum lagi si kakak-kakak juga terkesan mendahulukan kepentingan golongan diatas kepentingan bersama. Mirisnya, hal yang kurang baik itu udah kita pelajari sejak sekolah dasar.

Di pertandingan pertama cup desa saya inilah, terjadi kesimpangsiuran informasi terkait si tiang tadi (yang udah disepakati dalam bahasa kita disebut ‘peraturan’) untuk pertama kalinya. Kala itu yang dilombakan adalah lari jarak jauh (yang engga jauh-jauh banget sebenernya) keliling kampung-kampung  tetangga. Informasi awal menyebutkan bahwa masing-masing RT boleh mengirimkan 3 atlit putra dan 3 atlit putri. Maka RT saya dengan sigap menyiapkan 3 orang atlit terbaik untuk masing-masing putra dan putri. Beberapa bahkan merupakan warga yang akan melakukan studi banding ke kota lain, dan menyempatkan hadir. Tetapi begitu atlit sudah berkumpul, ternyata ada peraturan baru yang menyebutkan bahwa setiap RT hanya boleh diwakili 2 atlit putra dan 2 atlit putri sebagai peserta dengan dalih 1 atlit putra dan putrid sebagai cadangan. Saya sih udah mencium ada gelagat tidak beres dari si kakak-kakak. Terbukti saat registrasi,atlit dari RT 5 (kalau saya dari RT 6) jumlahnya masing-masing 3 orang untuk putra dan putri. Nah, loh, kan, kok berubah lagi secara tiba-tiba tuh peraturannya. Hal ini pun tidak diinfokan sama kakak-kakak pelaksana, jadi saya dan teman-teman atlit RT 6 tidak tahu menahu jika saja salah satu warga RT 6 (yang saat itu ikut berlomba juga) tidak mengecek lembar registrasi yang ternyata RT 5 boleh mengirimkan 3 atlit putra dan putri. Maka dengan sedikit rasa kecewa kepada kakak-kakak pelaksana kami pun mengikuti lomba ini dengan lapang dada. Syukurnya bisa bawa pulang 1 medali emas dan 2 medali perunggu.

Kesimpangsiuran ternyata masih terjadi di hari kedua perlombaan olahraga ini, teman satu RT saya (sebut saja Otong), tiba-tiba tidak diperbolehkan mengikuti lomba lari 100 meter dengan dalih terdapat peraturan yang menyebutkan bahwa satu orang hanya boleh mengikuti 2 cabang individu saja. Dan jika ditinjau kebelakang, Otong memang sudah mengikuti 2 cabang individu dan menyumbangkan media perak dan medali emas. Menurut penuturan Otong,  kakak-kakak pelaksana memperbolehkan dia bermain kok ketika dia bertanya, “Eh, kakaknya, saya masih boleh ikutan lari 100 meter kan?”dan kakaknya menjawab “Iya, boleh, kok. Terserah aja.”. Tetapi seperti kasus sebelumnya, peraturan itu lagi-lagi berubah tepat sesaat sebelum perlombaan  lari-lari kecil itu dimulai. Otong pun tidak diperbolehkan mengikuti cabang perlombaan tersebut. Kakak-kakak pelaksana tampak berusaha profesional tapi tidak terlihat sama sekali. Mereka berusaha adil, diatas kepentingan golongan yang mereka ikatkan di kepala mereka. Belum lagi intervensi dari pihak luar kakak-kakak pelaksana juga sedikit banyak mematok langkah berani beberapa orang dari mereka. Maka saat itu atlit-atlit RT 6 sudah terbawa suasana yang suram akibat kekecewaan terhadap ketidakkonsistenan dari kakak-kakak pelaksana. Rasanya medali emas yang diperebutkan hari itu agak turun sedikit harganya karna kami sudah merasa dikecewakan dengan sikap kakak-kakak pelaksana yang cenderung tidak professional. Usai perlombaan, saya  akhirnya mencoba menyampaikan saran dan kritik kepada kakak-kakak itu (kebetulan bosnya dari RT 6). Mereka pun berujar peristiwa hari itu akan dijadikan bahan evaluasi agar kinerja mereka lebih baik lagi. Baiklah, niat baik itu diterima dengan lapang dada. Dan, hari itu kami pulang dengan tambahan 1 medali perak dan 2 medali perunggu sehingga posisi kami sementara unggul dari Kelima RT lainnya.

Dan, yang ketiga ternyata terjadi hari ini. Dan lagi-lagi saya dan RT saya yang dipermasalahkan. Peraturan lagi-lagi dirubah, dan seperti biasa sesaat sebelum pertandingan dimulai (kali ini pertandingan bola keranjang). Masih ada wajah-wajah lama yang dari kesimpangsiuran pertama sampai yang ketiga saat ini dan ternyata ada wajah-wajah baru yang muncul. Seperti tidak belajar dari peristiwa sebelumnya, diskusi masalah peraturan yang pastinya sudah susah payah disusun di awal masih saja dilakukan. Si bos dari RT 6 pun ditekan oleh banyak pihak. Kedudukannya tidak nomor 1, karena si nomor 2 ingin lebih dominan. Kenapa tidak dari awal saja hey, nomor 2 kamu jadi nomor 1. Ini sudah yang ketiga kali, masih dengan permasalahan yang sama, dan orang-orang sama. Jadi apa sih hasil dari evaluasinya? Saya penasaran. Tapi karena udah 3 kali, sudah sepantasnya dapat hadiah. Ini, piring cantik dari saya. “”

 

Hal yang ingin saya tekankan melalui cerita diatas adalah tanggung jawab dan konsistensi dari sebuah kepanitiaan. Hal-hal yang sudah disepakati sejak awal hendaknya dipegang teguh oleh orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. 3 kali mengganti peraturan tepat sesaat sebelum pertaningan dilaksanakan membuktikan bahwa panitia tidak konsisten dan professional dalam melaksanakan tugasnya. Olahraga adalah salah satu sarana pemersatu. Bukankah hal tersebut sudah diteriakkan? Lalu mana  bukti konkritnya? Toh, pada kenyataannya kepentingan golongan tetap menari di atas kepentingan bersama. Persis seperti wakil rakyat yang mewakili partainya. Acara Olahraga ini dibuat untuk mencari kader baru, demi kejayaan olahraga kita bersama. Ini cara kita menjalin persahabatan. Berkenalan di lapangan, menyapa di akhir pertandingan, sampai kemudian merayakan kemenangan.

Perbedaan Kualitas Air secara Spasial dan Temporal

Perbedaan kualitas air secara spasial dan temporal dapat terjadi akibat pengaruh dari beberapa faktor seperti iklim, topografi, geologi, penggunaan lahan, serta tutupan vegetasi. Secara spasial dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu skala local (lingkup DAS), skala regional, serta skala global (dunia). Sedangkan temporal dapat dikelompokkan menjadi short term (tahunan) maupun long term (ENSO, IOD). Berikut penjelasan mengenai factor-faktor yang mempengaruhi kualitas sumber daya air secara spasial dan temporal.

 

Spasial

Pada skala lokal yaitu lingkup kajian terkecil sumberdaya air, dapat diwakili oleh DAS. Ada 3 faktor yang mempengaruhi kualitas air pada skala lokal ini, diantaranya topografi, penggunaan lahan, serta tutupan vegetasi. Dalam sebuah DAS dapat dipastikan terdapat variasi topografik (ketinggian dan kemiringan lereng) mulai dari bagian hulu, tengah, sampai hilir. Semakin curam kemiringan lereng di DAS tersebut, maka terjadi pengikisan tanah oleh air hujan dan bisa jadi terjadi longsor sehingga material tanah yang terbawa oleh air akan semakin cepat dan semakin banyak yang masuk ke sungai dan menyebabkan air menjadi keruh. Faktor yang kedua adalah penggunaan lahan yang dapat dibagi menjadi permukiman, petanian, peternakan, serta industri (baik rumah tangga maupun pabrik). Permukiman menghasilkan limbah rumah tangga, baik limbah kimia (dari sabun, dll) serta limbah fisik (sampah plastik, dll). Pertanian menghasilkan limbah kimia dari pestisida atau pupuk kimia yang digunakan dan dapat mempengaruhi kualitas air melalui saluran irigasi ataupun resapan air tanah. Peternakan menghasilkan limbah organik dari kotoran hewan, yang dapat mengakibatkan air memiliki kandungan bakteri E.coli. Sedangkan industri menghasilkan limbah kimia yang serta merta mengurangi kualitas air permukaan dan secara tidak langsung mempengaruhi kualitas air tanah.

Pada skala regional, faktor yang mempengaruhi adalah faktor geologi. Faktor geologi tersebut diantaranya susunan batuan, jenis batuan, serta umur batuan. Kita dapat mengambil contoh kualitas air dalam skala regional Jawa. Terdapat perbedaan kualitas air di daerah Gunung Kidul dengan Kualitas air di daerah Pegunungan Halimun-Salak. Gunung Kidul dikenal sebagai daerah pegunungan kapur yang terdapat bukit berbentuk dome akibat proses pengikisan yang berlangsung sangat cepat. Kualitas air di Gunung Kidul lebih rendah akibat struktur batuannya yang terdiri dari batuan kapur. Batuan kapur ini mengandung zat kimia CaCO3 yang mudah terlarut dalam air sehingga air yang ada di sana menjadi keruh dan mengandung zat kapur. Sedangkan pada pegunungan Halimun-Salak, jenis batuannya adalah batuan sediment klastika gunung api yang proses pengikisannya tidak secepat batuan kapur.

Pada skala global, faktor yang mempengaruhi kualitas air adalah faktor iklim. Di dunia terdapat lebih dari 20 klasifikasi iklim baik regional maupun lokal. Perbedaan iklim ini mempengaruhi proses pelapukan batuan. Indonesia yang merupakan Negara dengan iklim tropis, proses pelapukannya dipengaruhi oleh intensitas curah hujan yang tinggi. Sedangkan Saudi Arabia yang merupakan Negara dengan iklim gurun, proses pelapukannya dipengaruhi oleh angin dan suhu.

 

 

 

Temporal

Dalam jangka waktu tahunan, kualitas air dipengaruhi oleh curah hujan serta musim yang ada pada satu tahun. Di Indonesia dikenal adanya bulan basah (pada musim hujan) dan bulan kering (pada musim kemarau). Bulan basah di Indonesia menyebabkan adanya rejuvenasi dari sumberdaya air melalui siklus hidrologi yang seimbang. Tetapi pada musim hujan air lebih mudah tercemar karena proses erosi dan run off-nya tinggi, sehingga dapat menyebabkan air menjadi keruh. Sedangkan pada bulan kering, air yang tersimpan pada tanah akan mengalami pelapukan dan bercampur dengan mineral yang terkandung di dalam tanah karena tidak terdapat asupan air baru dari curah hujan.

Dalam jangka panjang, curah hujan dapat dipengaruhi oleh fenomena ENSO (El-Nino South Oscilation) yang mengakibatkan adanya bulan basah atau bulan kering yang berkepanjangan. Di Indonesia, El-Nino menyebabkan bulan kering yang berkepanjangan sedangkan La-Nina menyebabkan bulan basah yang berkepanjangan.

Kasus Banjir di Keerom dan Jakarta

  1. Informasi Umum Wilayah
    1. Kabupaten Keerom, Papua

Kabupaten Keerom merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Papua. Sebelum resmi menjadi daerah otonom pada tahun 2002, Keerom merupakan bagian dari Kabupaten Jayapura. Di sebelah utara, Keerom berbatasan dengan Kabupaten dan Kota Jayapura, di sebelah selatan dengan Kabupaten Pegunungan Bintang, di sebelah barat dengan Kabupaten Jayapura, sedangkan di sebelah timur berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. Kabupaten Keerom memiliki 7 (tujuh) kecamatan yang terdiri dari Kecamatan Arso, Arso Timur, Senggi, Skanto, Towe Hitam, Waris, dan Web.

  1. Kota Jakarta Barat, Jakarta

Kota Jakarta Barat merupakan salah satu dari 5 kota administrasi di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Saat ini Jakarta Barat tengah dirancang menjadi pusat bisnis yang baru untuk daerah Jakarta dan sekitarnya. Di sebelah utara, Jakarta Barat berbatasan dengan Kota Jakarta Utara, di sebelah selatan dengan Kota Jakarta Selatan, di sebelah barat dengan Kota Tangerang, dan di sebelah timur berbatasan langsung dengan Kota Jakarta Pusat. Jumlah kecamatan yang ada di Jakarta Barat adalah sebanyak 8 kecamatan dengan 56 kelurahan yang termasuk di dalamnya.

  1. Banjir yang terjadi di Papua dan Jakarta

Secara morfologi Kecamatan Arso yang berada di Kabupaten Keerom (Papua) dan Kelurahan Rawa Buaya di Kota Jakarta Barat, merupakan back swamp atau yang biasa dikenal dengan rawa (genangan belakang). Back Swamp  merupakan daerah di belakang tanggul (baik tanggul alami, ataupun tanggul buatan) yang selalu tergenang air selama musim hujan. Kedua wilayah ini kemudian dijadikan area permukiman dan akibatnya ketika curah hujan meningkat, kedua derah ini tergenang oleh banjir.

 

  • Kasus Kec. Arso (Papua)

Kecamatan Arso yang secara administratif terletak di Kabupaten Keerom merupakan salah satu daerah tujuan transmigrasi. Hal ini menyebabkan perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Arso dari rawa menjadi lahan terbangun (dalam kasus ini permukiman). Kasus banjir di Kecamatan Arso pada tahun 2007 ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Sungai Tami yang mengalir di Kecamatan Arso memiliki tingkat erosi yang tinggi, tetapi pemerintah tetap membangun sebuah bendungan di sana. Adanya lahan basah (sawah) (yang pada saat itu merupakan program swasembada beras dari pemerintah orde baru) mengakibatkan tingginya proses sedimentasi, sehingga mengurangi fungsi bendungan di Sungai Tami. Selain itu, luas hutan di daerah aliran sungai Tami (DAS Tami) mengalami pengurangan dari tahun ke tahun. Awalnya pada tahun 1996, luas hutan mencapai 90,6 % dari luas DAS. Enam tahun berikutnya, pada tahun 2002 luas hutan berkurang 1,88 % menjadi 88,72 % dari luas DAS. Kemudian saat banjir terjadi pada tahun 2007, luas hutan sudah berkurang sebanyak 2,72 % menjadi 86 % dari luas DAS. Membendung sungai yang memiliki tingkat erosi yang tinggi, memanfaatkan sda yang memperbesar proses sedimentasi, serta berkurangnya luasan hutan yang merupakan daerah resapan air menjadi factor yang mempengaruhi peristiwa banjir di Kabupaten Keerom dalam kasus Kecamatan Arso di Papua.

  • Kasus Rawa Buaya (Jakarta)

Rawa Buaya yang saat ini merupakan daerah padat penduduk, sebenarnya merupakan back swamp (rawa) yang mengalami transisi fungsional dari tahun ke tahun. Awalnya pada abad ke-18, daerah Rawa Buaya merupakan lahan basah dan rawa yang selalu tergenang air selama musim hujan. Pada tahun 1980, lahan basah dan sawah tersebut mengalami pengalihan fungsi menjadi lahan kering dan daerah terbangun. Pada tahun 1990, luasan sawah mulai berkurang seiring dengan mulai bermunculannya permukiman penduduk secara massal. Kemudian pada tahun 2002, daerah rawa ini telah didominasi oleh permukiman dengan luas lahan basah yang sangat sedikit. Hingga pada tahun 2007, tidak ada lagi sawah atau lahan basah di Rawa Buaya. Semuanya telah berubah menjadi permukiman padat penduduk dengan luasan lahan kering yang sedikit. Perubahan penggunaan lahan ini menjadi salah satu factor terjadinya banjir di Rawa Buaya. Meningkatnya jumlah permukiman dari tahun ke tahun menunjukkan adanya pertumbuhan penduduk yang sangat pesat dan mengakibatkan tekanan penduduk di Jakarta, khususnya Rawa Buaya. Daerah tanggul yang seharusnya bebas bangunan pun dimanfaatkan sebagai area permukiman. Akibatnya debit sungai yang meningkat ketika musim hujan mengalir ke  Rawa Buaya yang merupakan back swamp, dan terjebak akibat sampah yang mampat di saluran drainase sehingga daerah ini tergenang air dan banjir.

Untuk Sebuah Masa

Ini tulisan gue waktu kelas 3 SMA. WAktu itu lagi masa-masa sulit menjelang Ujian Nasional yang mana satu tahun sebelumnya gue turut menyaksikan banyaknya temen-temen gue di luar sana yang bernasib kurang baik dengan hasil UN nya. Bahkan ada kakak kelas gue yang waktu itu nggak lulus UN. Ditambah lagi pas jaman gue UN waktu itu tahun 2010, pertama kalinya Ujian Nasional dengan 6 mata pelajaran. Suasana menjelang UN saat itu agak horor dan hampa. Rasanya malu banget kalo emang sampe nggak lulus UN. Padahal itu semua balik ke diri kita masing-masing. Makanya gue dan temen-temen sekolah gue tetep semangat ngadepin UN. Alhamdulillah, gue melewati masa-masa ini dengan lancar. Gue dan temen-temen SMA gue diberikan hasil yang terbaik. Ada beberapa temen gue yang enggak lulus, tapi mereka tetep semangat dan kami yang luluspun bangga ngeliatnya. Karena kita semua tau kalo kita semua udah berjuang dengan sangat keras dan baik sekali untuk Ujian Akhir yang menjajah mental kita saat itu. Saat UN begitu licik dan angkuh…

Indonesia: Negeri yang Kaya, Lagi Miskin

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Dari Sabang sampai Merauke, dari darat sampai dasar laut, tersimpan harta yang begitu melimpah. Berada pada ring of fire akibat pertemuan empat lempeng benua sehingga bermunculan banyak gunung api aktif diikuti kesuburan tanahnya. Di pulau Sumatera dan Jawa terdapat tanah yang subur dan sangat optimal untuk kegiatan pertanian. Di tanah Kalimantan terdapat kandungan mineral yang sangat melimpah, dan merupakan salah satu tempat industri tambang. Hutan hujan tropis yang kaya akan biodiversitas menyelimuti sebagian besar daratan di Indonesia. Lautan luas yang memeluk seluruh kepulauan dan mengandung ikan-ikan sehat dan kaya akan protein dalam jumlah yang luar biasa melimpah. Betapa luar biasa kekayaan alam Indonesia.

Hubungan antara manusia dan alam tidak pernah bisa dilepaskan satu sama lain. Manusia dan alam selalu melakukan interaksi bolak-balik yang selalu terjadi dari waktu ke waktu. Indonesia merupakan salah satu bukti bahwa alam mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tanah yang subur, ikan-ikan yang sehat, air yang bersih, udara yang segar, serta mineral-mineral yang berharga ada di bumi pertiwi. Indonesia sudah seharusnya kaya dan sejahtera. Kemiskinan dan kelaparan tidak sepantasnya muncul di tanah air ini. Krisis air bersih dan pangan bukanlah  hal yang patut dikhawatirkan. Itulah yang seharusnya terjadi. Tapi kenyataannya…? Tidak seperti itu.

Terlalu sederhana jika mengasumsikan negara yang kaya sumberdaya alamnya adalah negara yang kaya secara harfiah dan mampu menyejahterakan masyarakatnya. Terlepas dari keberlimpahan sumberdaya yang ada, Indonesia adalah negara yang miskin. Masih ada saudara-saudara kita yang kelaparan dan sulit memperoleh air bersih. Masih ada saudara-saudara kita yang tidak memperoleh kesejahteraan seperti yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kesenjangan masih terasa di tanah tumpah darah kita ini. Berganti pemimpin tidak pula mengubah keadaan yang ada, tetapi justru melanjutkannya.

Terlalu banyak nasi yang menjadi sampah, sementara masih banyak orang yang miskin dan kelaparan. Terlalu banyak air yang terbuang sia-sia, sementara di tempat yang lain betapa sulitnya menemukan air. Terlalu banyak uang yang diberikan kepada para anggota DPR, sementara masih banyak rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Terlalu banyak anggaran yang direncanakan untuk pembangunan gedung DPR, sementara di beberapa tempat fasilitas pendidikan masih menyedihkan. Terlalu banyak sumberdaya Indonesia yang menghidupi orang asing, sementara tuan rumah hidupnya pun masih terlilit.

Mengapa Indonesia miskin di atas kekayaannya? Begitu banyak sumberdaya yang tidak di kelola dengan baik dan merata. Indonesia yang katanya Negara maritim, nyatanya tidak punya pelabuhan laut yang megah dan bersih. Wilayah teritori pun masih dikadali oleh tetangga seberang yang ‘pengen banget jadi Negara kepulauan tapi maksa’. Padahal banyak sekali ikan-ikan laut yang berada di perairan Indonesia. Mengapa tidak dimanfaatkan saja? Tentu saja di beberapa daerah sudah dimanfaatkan, tetapi bukankah lebih baik jika pemanfaatan sumberdaya perikanan dilakukan di berbagai tempat sehingga tidak terjadi krisis jumlah ikan di satu daerah. Hal ini berlaku untuk sumberdaya lain.

Kalau memang Negara maritim dan agraris, untuk apa bermimpi jadi Negara industri. Setiap Negara memiliki potensi sumberdaya-nya masing-masing. Indonesia tidak perlu berusaha untuk menjadi Negara yang tidak sesuai dengan potensinya. Indonesia memiliki potensi pariwisata, pertanian, perikanan, dan pertambangan. Ya sudah, kembangkan saja dulu. Masifkan pengelolaan SDA tersebut agar terwujud pemerataan kesejahteraan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Indonesia harus berlaku sebagai Negara yang kaya. Negara yang tidak menimbun kekayaan diatas kekurangan saudara-saudara setanah airnya. Kita semua lahir dan besar di tanah yang sama. Tidakkah kita semua memiliki hak yang sama atas kekayaan alam ini? Berbagilah dengan bijaksana. Kelak Indonesia yang kaya, tidak akan miskin lagi.

 

Depok, 3 April 2012