Pengukuran Perceived credibility berdasarkan profil Facebook

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar belakang

Dewasa ini, perkembangan dunia komunikasi berkembang dengan pesat, dimana dapat dirasakan secara langsung pengaruhnya bagi aspek kehidupan sosial manusia dalam menjalin suatu komunikasi sesamanya. Komunikasi sendiri dapat didefinisikan sebagai “process through which individuals in relationships, groups, organizations, and societies create and use information to relate with others” (Edwards, 2007), sedangkan tujuan dari komunikasi menurut Alwi Dahlan adalah pemahaman bersama untuk tujuan bersama, yakni kesejahteraan umum.

Saat ini, telah ada berbagai cara dan berbagai macam media untuk berkomunikasi terutama semenjak berkembangnya internet sebagai medium baru dalam berkomunikasi yang bahkan mampu mengaburkan batas negara. Menurut Reddick dan Elliot King, 1996, Internet merupakan suatu jaringan komputer yang memungkinkan pengguna komputer di seluruh dunia untuk saling berkomunikasi dan berbagi informasi dengan cara menghubungkan jaringan komputer satu dengan komputer yang lain, mengirim dan menerima file dalam bentuk teks, audio, video untuk membahas topik tertentu sehingga saling terhubung untuk keperluan komunikasi dan informasi. Perkembangan internet dimanfaatkan pula untuk mengembangkan media-media baru dalam berkomunikasi, seperti Facebook, Twitter, Myspace, Yahoo Messanger, Tumblr dan sebagainya, yang merupakan bagian dari jejaring sosial yang dikenal dengan istilah new social media.

New social media atau media sosial baru merupakan suatu media komunikasi yang saat ini dianggap penting sebagai bagian dari membangun, menjalin atau memantapkan suatu hubungan intrapersonal maupun interpersonal. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Ellison, Steinfield, & Lampe (2007) bahwa situs seperti MySpace dan Facebook sebagai media sosial memungkinkan individu untuk menampilkan diri, mengartikulasikan jaringan sosial mereka, dan membangun atau mempertahankan hubungan dengan orang lain. Selain itu, Hampton & Wellman (2003) menguatkan pernyataan ini dengan mengungkapkan bahwa telah ada bukti empiris yang berulang kali menunjukkan bahwa teknologi komunikasi digunakan untuk mempertahankan hubungan yang sudah ada. Ellison, Steinfield, dan Lampe (2007) pun menunjukkan bahwa Facebook digunakan untuk menjaga hubungan online yang ada atau memperkuat koneksi offline.

Facebook sebagai media sosial yang saat ini telah dilirik oleh perusahaan-perusahaan sebagai media untuk mengkomunikasi apa yang mereka inginkan kepada target audience mereka pada awalnya dirancang untuk mendukung jaringan perguruan yang berbeda saja pada tahun 2004 (Cassidy, 2006), dimana untuk bergabung, pengguna harus memiliki email harvard.edu terlebih dahulu, namun Dimulai pada bulan September 2005, Facebook diperluas untuk mencakup siswa sekolah tinggi, profesional di dalam jaringan perusahaan, dan, akhirnya, semua orang dapat mengaksesnya. Sehingga saat ini, siapapun dapat mengakses Facebook dan dapat membuat akun Facebook tanpa harus membayar. Fitur lain yang membedakan Facebook, yaitu kemampuannya dalam pengembangan membangun “Aplikasi” yang memungkinkan pengguna untuk mempersonalisasikan profil mereka. Berbicara mengenai pengguna Facebook yang dapat mempersonalisasikan profil mereka, ini dapat diartikan bahwa ada konsep diri yang dapat dibentuk atau dibangun oleh para pengguna sebagai identitas diri yang dibentuk dan dibangun yang mereka tampilkan dalam aplikasi informasi profil mereka.

Konsep diri sendiri memiliki pengertian persepsi yang stabil dalam diri manusia mengenai dirinya sendiri. LaRossa dan Reitzes berpendapat bahwa setiap manusia membangun konsep diri dari sebuah interaksi dan konsep diri memberikan motif penting dalam perilaku manusia. Konsep diri dalam bahasan kali ini dapat dilihat dari bagaimana pengguna Facebook menggunakan aplikasi-aplikasi dalam Facebook itu sendiri. Misalnya aplikasi “Status Update”, dimana pengguna dapat menuliskan atau mengungkapkan apa yang mereka rasakan tentang kondisi mereka saat itu dengan meng-update status terbarunyadan atau dalam penggunaan aplikasi “info Profil” dimana pengguna dapat mengatur tampilan informasi profil mereka.

Informasi profil terkait dengan konsep keterbukaan identitas atau self disclosure, yaitu dimana pengguna mengungkapkan identitas mereka dalam profil mereka, apakah pengguna menampilkan seluruh informasi dirinya, atau hanya menampilkan sebagian informasi dirinya dan atau tidak menampilkan informasi dirinya sama sekali, kemudian apakah mereka mengungkapkan identitas yang sesungguhnya atau membuat suatu identitas baru. Hal ini akan dinilai oleh pengguna lainnya sebagai sesame pengguna Facebook, yang terkait dengan perceived credibility atas pengguna tersebut dimata pengguna lainnya, sehingga menentukan bagaimana komunikasi yang akan mereka jalin.

Pengguna Facebook sendiri di Indonesia sampai Maret tahun 2011 telah mencapai 35 juta pengguna, yaitu menempati posisi atau peringkat kedua dengan melampaui Inggris dan Jepang sebagai negara pelopor teknologi tak tertandingi.[1] Selain itu, berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan iCrossing, perusahaan konsultan iklan di Inggris, pengguna Facebook di Indonesia rata-rata paling muda sedunia dimana rata-rata pengguna Facebook di Indonesia adalah 23 tahun, sedangkan di negara berkembang lainnya seperti Filipina, India, dan Afrika Selatan sedikit lebih tua yakni 25 tahun, dan untuk negara maju, Inggris dan Amerika rata-rata pengguna Facebook berusia 31 tahun.[2]

Melihat jumlah pengguna Facebook yang memberikan informasi tentang diri mereka sendiri, dengan sifat yang relatif terbuka informasi dan kurangnya kontrol privasi yang ditetapkan oleh pengguna, Gross dan Acquisti (2005) berpendapat bahwa pengguna dapat menempatkan diri pada dua risiko, yaitu offline, misalnya  menguntit dan online misalnya, mengidentifikasi pencurian.

Dari sekian banyak pengguna Facebook di Indonesia, berdasarkan pengamatan awal peneliti  terhadap beberapa akun secara acak, ternyata tidak semua akun menampilkan informasi profil mereka secara lengkap atau terbuka sepenuhnya. Di sisi lain secara teori, yakni teori interaksi simbolik, konsep diri itu sangatlah penting, dimana konsep diri terbentuk dari adanya interaksi dengan orang lain, sedangkan hubungan dapat terjalin ketika masing-masing pihak mengungkapkan identitasnya sebagai perkenalan atau tahap awal suatu hubungan, yaitu saling mengenal dan berangkat dari pengenalan tahap awal dengan melihat bagaimana keterbukaan identitasnya inilah seseorang diharapkan akan mampu melihat gambaran kredibilitas dari lawan komunikasinya tersebut. Kemudian, hal inilah yang menjadi pertanyaan dasar bagi kami, apakah keterbukaan indentitas atau self disclosure seperti yang telah dijelaskan diatas berlaku pula untuk komunikasi dan jalinan hubungan seseorang dengan orang yang lainnya di dalam Facebook  dengan memicu kepada penilaian mereka terhadap perceived credibility masing-masing.

Melihat hal ini, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara self disclosure seseorang dalam Facebook dengan perceived credibility mereka dimata pengguna lainnya. Berdasarkan penelitian sebelum-sebelumnya, seperti penelitian yang dilakukan oleh Mazer, Murphy & Simonds (2009) bahwa adanya hubungan antara self disclosure seseorang dalam Facebook dengan perceived credibility mereka dimata pengguna lainnya. Maka kali ini, peneliti ingin melihat kembali hubungan tersebut, hanya saja jika Mazer et all membahas memalui hubungan mahasiswa dengan dosennya, maka kami ingin melihat hubungan tersebut dilihat dari sisi antara seorang pengguna Facebook dengan pengguna lainnya, dimana melihat bagaiama pengguna Facebook yang lainnya melihat perceived credibility seseorang melalui Facebook berdasarkan self disclosure dalam tampilan profil Facebook mereka.

Kemudian kami juga ingin melihat berdasarkan jenis kelaminnya, yaitu pria dan wanita karena seperti yang telah diketahui berdasarkan banyaknya penelitian biologis maupun psikologis bahwa wanita lebih emosional dibandingkan pria, dan pria lebih rasional dibandingkan wanita.[3] Peneliltian yang dilakukan oleh Bukhart (1989) menemukan bahwa wanita dianggap penulis yang lebih baik, lebih akurat, lebih bisa dipercaya, dan lebih kredibel serta cerdas dibandingkan dengan pria, sedangkan, Noel dan Allen (1976) menemukan bahwa wanita untuk kategori menulis dan editorial, kualitasnya lebih rendah dibandingkan pria, tetapi lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan pria.[4] Penelitian lainnya, menunjukan bahwa terdapat perbedaan perceived credibility antara pria dan wanita, misalnya pria memiliki perceived credibility yang lebih tinggi mengenai pesan yang ada di website di banding wanita (Flanagan, Metzger). Perceived credibility juga ditemukan lebih tinggi untuk pria kepada wanita dan wanita kepada pria dibanding sesama jenis kelamin. Faktor lain yang dapat memepengaruhi perbedaan antar sesama jenis kelamin adalah tingkat keterlibatan seseorang terhadap suatu pesan. Untuk pria, semakin tinggi tingkat keterlibatan seseorang akan suatu pesan semakin tinggi perceived credibility-nya. Sedangkan untuk wanita semakin rendah tingkat keterlibatan seseorang semakin tinggi perceived credibility-nya (Ferebee, 2007). Sehingga kami pun  ingin melihat kembali hubungan antara self disclosure seseorang dalam Facebook dengan perceived credibility mereka berdasarkan pandangan pria dan wanita, apakah hasilnya akan berbeda atau tidak. Selain itu, kajian di bidang komunikasi dalam media sosial baru di Indonesia belumlah terlalu banyak, sehingga penelitian ini dirancang untuk menambah pengetahuan mengenai kajian ilmu komunikasi di Indonesia, terutama dalam konteks komunikasi di media sosial baru.

I.2 Rumusan Permasalahan

Dalam penelitian sebelumnya, seperti yang sempat disinggung sebelumnya, yang dilakukan oleh Mazer, Murphy & Simonds (2009) pada mahasiswa di Amerika Serikat, ditemukannya adanya pengaruh mediated self disclosure pendidik di kelas atau dosen melalui Facebook terhadap persepsi mahasiswanya terhadap kredibilitas dosen tersebut. Dimana ditemukan suatu kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat keterbukaan identitasnya (self disclosure) melalui Facebook, semakin tinggi pula persepsi mengenai tingkat kredibilitas dosen tersebut dimata mahasiswanya. Ada tiga dimensi untuk melihat dan menilai kredibilitas seseorang dalam Facebook, yaitu competence,  trusthworthiness dan goodwill. Hasil penelitian Mazer et al (2009) melihat bahwa untuk dimensi competence dan trusthworthiness ada perbedaan signifikan untuk skor perceived credibility-nya, sedangkan untulk dimensi goodwill tidak. Pada penelitiannya lainnya yang dilakukan oleh McCroskey dan Young (1981) di Amerika, dimensi goodwill juga mengalami permasalahan pada validitas dimensi ini.

Melihat penelitian-penelitian sebelumnya,  peneliti pun ingin melihat kembali mengenai hubungan antara mediated self disclosure dan perceived credibility. Hanya saja peneliti menganti objek penelitiannya bukan lagi pendidik atau dosen dan siswanya, melainkan ingin melihat bagaiamana penilaian yang dilakukan oleh jenis kelamin pria dan wanita dalam menilai kredibilitas seseorang dengan melihat keterbukaan identitas seseorang tersebut dalam Facebook. Maka dari itu, peneliti pun merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah ada perbedaan antara pria dan wanita dalam menilai kredibilitas berdasarkan keterbukaan identitas di Facebook?

 

I.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini ingin melihat hubungan antara keterbukaan identitas dengan kredibilitas seseorang di Facebook dengan menggunakan metode eksperimen. Adapun tujuan secara khusus dari penelitian ini adalah :

  1. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara keterbukaan identitas dengan kredibilitas seseorang di Facebook.
  2. Mengetahui ada tidaknya perbedaan antara pria dan wanita khususnya mahasiswa FISIP UI dalam menilai kredibilitas berdasarkan keterbukaan identitas seseorang di Facebook.

 

I.4. Signifikansi Penelitian

Dengan rumusan masalah serta tujuan yang telah diuraikan sebelumnya, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan signifikansi sebagai berikut:

1.4.1. Signifikansi Akademis

Secara akademis, penelitian ini dapat menambah wawasan serta pengetahuan bagi penelti dan pembaca. Selain itu, penelitian ini secara khusus memberikan penjelasan teoretis mengenai hubungan antara perceived credibility, self-disclosure, dan social presents. Hasil penelitian ini juga diharapkan menjadi kajian akademis yang memperkaya referensi serta pengembangan ilmu khususnya di bidang komunikasi.

 

1.4.2. Signifikansi Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan bagi para pengguna Facebook yang kini semakin marak, terutama terkait dengan kredibilitasnya melalui informasi serta interaksinya dalam Facebook. Dengan kredibilitas yang tinggi maka dengan sendirinya akan mendapat kepercayaan dari orang lain kemudian mudah pula dalam menyampaikan pesan atau informasi ke pihak lain.

 

KERANGKA TEORI

 

2.1  Jaringan Sosial online

International Networking, yang disingkat dengan kata internet merupakan dua komputer atau lebih yang saling berhubungan membentuk jaringan komputer sehingga meliputi jutaan komputer di dunia (internasional), yang saling berinteraksi dan bertukar informasi.[5] Menurut Reddick dan Elliot King, 1996, Internet merupakan suatu jaringan komputer yang memungkinkan pengguna komputer di seluruh dunia untuk saling berkomunikasi dan berbagi informasi satu sama lain.[6] Caranya yaitu dengan menghubungkan jaringan komputer satu dengan komputer yang lain, mengirim dan menerima file dalam bentuk teks, audio, video untuk membahas topik tertentu sehingga saling terhubung untuk keperluan komunikasi dan informasi. Informasi tersebut dibuat oleh penyelenggara atau pemilik jaringan komputer atau dibuat pemilik informasi yang menitipkan informasinya kepada penyedia layanan internet. Internet secara etimologis berasal dari kata Interconnection Networking, artinya hubungan berbagai jaringan komputer dari berbagai tipe dan jenis yang menggunakan alat komunikasi seperti telepon, satelit, dan lainnya.[7]

Dalam internet terdapat suatu jaringan sosial atau yang biasa disebut dengan situs jejaring sosial atau social network. Terdapat beberapa situs jejaring sosial yang ada seperti Facebook, Myspace, Twitter, Friendster dan lainnya. Jejaring sosial ini adalah suatu tempat atau situs dimana orang-orang atau komunitas berkumpul. Individu yang ada di dalamnya akan saling berinteraksi dan berbagi informasi. Tiap individu memiliki biodata atau profile tersendiri yang bisa diperlihatkan oleh individu-individu lain yang tergabung di jejaring tersebut.

2.2  Facebook

Salah satu jejaring sosial yang paling populer dan banyak di gunakan saat ini di internet adalah Facebook. Facebook awalnya merupakan suatu situs yang dibangun oleh mahasiswa Universitas Harvard bernama Mark Zuckeberg pada tahun 2004 yang hanya dapat digunakan oleh mahasiswa Harvard. Bulan Maret 2004, Facebook memperluas diri ke Stanford, Columbia, dan Yale. Setelah itu, Facebook menyebar ke ribuan kampus-kampus dan sekolah tinggi di seluruh Amerika Serikat dan menarik lebih dari 9 juta pengguna. [8] Karena situs ini berkembang sangat pesat dengan peningkatan pengguna yang signifikan, sehingga pada tahun 2006 bulan September, situs ini pun resmi bisa digunakan bagi masyarakat umum. Sejak saat itu, pengguna Facebook pun lebih meningkat tajam hingga 116 %. Penetrasi pasar Facebook sungguh mengesankan hingga dapat menarik lebih dari 80% dari populasi sarjana di banyak perguruan tinggi.[9]

Facebook merupakan layanan situs jejaring sosial yang gratis. Untuk mendaftar individu hanya tinggal mengisi formulir pendaftaran yang berisi nama, tempat tanggal lahir, tempat tinggal, alamat email, serta password untuk log in ke situs tersebut. Informasi yang ada bisa ditambahakan maupun dihilangkan setelah akun baru tersebut diverifikasi.

Facebook memiliki format dan layanan yang terus diperbaharui atau di update setiap waktu. Para penggunanya bisa membuat profile mereka, memasukkan foto-foto, data diri, video, tulisan, bermain games, mengirim pesan pribadi dan yang paling penting, Facebook menghubungkan individu dengan individu lainnya dalam satu jaringan. Sehingga individu dapat bertukar informasi dan mengetahui informasi dan kabar atau aktivitas orang lain karena profile yang ada terhubung satu sama lain. Para pengguna dapat bebas menampilkan atau pun tidak menampilkan profilnya. Individu bisa berteman dan berkenalan dengan yang lainnya, saling berkomentar mengenai aktivitas terbaru dan Facebook akan mengirimkan notifikasi setiap kali ada kegiatan baru yang berhubungan dengan individu tersebut.

 

2.3  The Self

Self terdiri dari dua konsep yakni identitas dan self concept. Secara lahiriah, identitas dapat dibentuk dari jenis kelamin, ras, status ekonomi dan sebagainya. Identitas adalah kesadaran diri berdasarkan cara seseorang menegosiasikan kemampuan, bakat, dan peran yang diberikan oleh masyarakat. (Erickson, 1968). Selanjutnya perkembangan diri tidak terjadi dengan sendirinya tetapi juga dipengaruhi proses pengalaman sosial (Mead, 1934). Perkembangan identitas diri dibagi menjadi dua tahapan yakni play dan games. Kedua tahapan ini bersinergi dalam membentuk kesadaran diri. Dalam tahapan play seorang anak akan mengikuti peran yang ada dalam lingkungan sekitarnya. Misalnya menjadi dokter, tentara, guru dan sebagainya. Berlanjut ke tahap berikutnya, dalam tahap games terdapat peraturan yang harus diikuti anak. Disini anak sudah mengerti peran orang lain (generalized others) (Mead, 1925).

Disisi lain, self concept adalah kesadaran seseorang mengenai diri sendiri dan bagaimana perasaaan mengenai diri sendiri. (McMartin, 1995). Selain itu juga terdapat konsep I dan me. I adalah bagaimana seseorang berperilaku terhadap orang lain sedangkan me adalah bagaimana orang lain berperilaku terhadap dirinya. (Mead, 1934). Kedua konsep ini membentuk bagaimana peran seseorang dalam bermasyarakat. Terdapat beberapa konsep yang mempengaruhi bagaimana diri berkembang. Misalnya self appraisal yang melihat terjadinya pelabelan  pola perilaku domain berdasarkan  perilaku yang diterima atau ditolak oleh masyarakat. Konsep lainya adalah looking glass self dimana penilaian orang lain dapat berpengaruh dalam pembentukan konsep diri. Konsep berikutnya social comparison yang melihat bahwa konsep diri seseorang tergantung dari bagaimanca cara seseorang menghubungkan diri mereka dengan orang lain. Konsep terakhir yang mempengaruhi perkembangan diri adalah biased scanning yakni teori yang melihat bahwa perkembangan konsep diri yang dipengaruhi cara pandang seseorang dalam melihat lingkungan sekitarnya untuk mencapai aspirasinya sendiri.6 Dari penelitian-penelitian tersebut dapat dilihat bahwa  kehidupan bermasyarakat sangat mempengaruhi the self. Selain itu, manusia secara fundamental termotivasi untuk meningkatkan dan mempertahankan hubungan dengan orang lain. (Cialdini & Goldstein, 2004) Dari hubungan itu maka akan terbentuk identitas diri tergantung kemampuan mereka dalam menyikapi lingkungan sekitar mereka (Gratz & Salem, 1984). Selanjutnya di dalam suatu kelompok masyarakat konsep diri ini berkembang definisinya sebagai pengetahuan individu mengenai nilai-nilai dalam kelompok tersebut. (Tajfel, quoted in Hogg & Abrams, 1988). Keanggotaan seseorang dalam suatu kelompok bisa jadi memperkuat atau bisa juga malah melemahkan konsep diri (Ellemers et al., 2002; Cialdini & Goldstein, 2004). Hal ini bisa terjadi tergantung bagaimana seseorang membandingkan keanggotaannya dalam suatu kelompok dengan keanggotaan kelompok lain.

 

2.4  Self disclosure

Dalam berkomunikasi dengan orang lain agar proses komunikasi berlangsung baik, dibutuhkan latar belakang informasi masing-masing pembicara. Pengungkapan informasi diri kepada orang lain ini disebut self disclosure. Lebih lanjut self disclosure merupakan pengungkapan reaksi atau tanggapan diri terhadap lingkungan sekitarnya (Johnson, 1981). Self-disclosure juga bisa dikatakan sebagai kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain (Morton, 1978). Informasi ini terbagi dua, yakni deskriptif dan evaluatif. Deskriptif berarti bagaimana seseorang menggambarkan fakta diri untuk diketahui orang lain. Sedangkan evaluatif berarti pengungkapan pendapat mengenai kehadiran seseorang. Self disclosure memilki dua sisi, yakni terbuka kepada orang lain dan terbuka bagi orang lain. Apabila kedua hal ini dijalankan serentak akan menghasilkan hubungan relasi yang baik. (Johnson, 1981). Suatu hubungan akan berjalan makin intim apabila terdapat pembukaan diri (Altman dan Taylor, 1973). Pembukaan diri ini bisa terjadi dipengaruhi oleh situasi yang menyenangkan (Raven dan Rubin, 2001), kedekatan hubungan personal yang tak terlalu dekat ataupun terlalu jauh (1988), ataupun karena perbedaan budaya (Kurt Lewin, 2001).

 

Dalam pengungkapannya, terdapat lima fungsi pengungkapan yakni ekspresi, klarifikasi diri, keabsahan sosial, kendali sosial, dan perkembangan hubungan. (Derlega dan Grzelak, 1989). Kelima fungsi pengungkapan ini berlangsung secara bertahap. Ekspresi misalnya, saat seseorang mengalami hal yang mengecewakan atau menyenangkan, seseorang akan menyatakan perasaannya kepada orang lain. Disaat seseorang bercerita untuk mendapatkan penjelasan orang lain mengenai masalahnya untuk membantu mengatasinya, masuk ke dalam tahapan klarifikasi diri. Lalu saat seseorang selesai membicarakan masalahnya dan mendengar pendapat orang lain yang bisa jadi memperkuat kedudukannya atau malah memperlemah kedudukannya, berarti memasuki tahap keabsahan sosial. Selanjutnya, ditahap kendali sosial yang merupakan tahapan pembenaran diri, disini seseorang bisa jadi merahasiakan atau mengungkapkan informasi dirinya untuk menimbulkan kesan baik yang mata orang lain.

 

2.5  Perceived Credibility

Perceived credibility sendiri memiliki tiga dimensi yaitu competence, trustworthiness, dan goodwill. Competence adalah bagaimana persepsi seseorang  mengenai orang lain dilihat dari pengetahuan dan kemampuannya. Trustworthiness adalah keyakinan seseorang dalam merasakan kebenaran pernyataan yang diungkapkan oleh seseorang. Sedangkan, goodwill adalah tingkatan dimana seseorang merasa ada yang peduli dengan mereka sehingga memiliki keterkaitan yang kuat. (McCroskey dan Teven, 1997). Di sisi lain, terdapat pendapat lain dari Aristoteles mengenai tiga dimensi dari Perceived Credibility, yakni kecerdasan, karakter, dan niat baik. Kredibilitas sumber sangat berpengaruh dalam  proses komunikasi (McCroskey dan Young , 1981) Hal ini diperkuat dengan konsep ethos dimana citra yang diberikan seseorang pembicara akan mempengaruhi audiens.

Untuk membangun Perceived credibility terdapat tiga elemen yang ada dalam kehidupan sehari-hari yakni kepercayaan, keahlian, dan dinamisme (Larson, 2004). Kepercayaan muncul dari hal-hal positif yang dilakukan di masa lalu. Kepercayaan juga bisa muncul dari isyarat semisal kontak mata dan tatapan yang menenangkan. Selanjutnya untuk menilai keahlian, bisa dilihat dari performa seseorang dalam menyelesaikan tugasnya di masa lalu, Perceived credibility seseorang dapat ditentukan dengan melihat gabungan keahlian dan latar belakang seseorang. Sehubungan dengan kepercayaan yang bisa muncul dengan tanda-tanda non verbal, keahlian bisa diisyaratkan dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan memberikan pengetahuan yang dimiliki sesuai dengan topik. Elemen terakhir dalam membangun Perceived credibility adalah dinamisme atau bisa juga disebut karisma yang terkadang terkait dengan penampilan fisik dimana orang yang atraktif akan lebih menarik perhatian dibanding yang kurang atraktif.

 

2.6  Information Revelation

Dalam sebuah studi Carnegie Mellon, telah dilakukan penelitian pada sebanyak lima puluh sarjana Universitas yang merupakan pengguna jejaring sosial. Govani dan Pashley menyimpulkan bahwa pengguna umumnya merasa nyaman berbagi informasi pribadi mereka dalam lingkungan kampus. Peserta mengatakan mereka “tidak menyembunyikan apa pun” dan “mereka tidak benar-benar peduli jika orang lain melihat informasi mereka.” Kesamaan latar belakang juga mempengaruhi keterbukaan informasi dalam pertemanan di jejaring sosial.

Disamping itu, sebuah studi terpisah pada lebih dari empat ribu anggota Facebook di lembaga yang sama oleh Gross dan Acquisti, telah membandingkan keterlihatan identitas dalam  mesin pencari oleh anggota Facebook, MySpace, Friendster. University of North Carolina Direktori, Stutzman menemukan bahwa sejumlah besar pengguna berbagi informasi pribadi mengenai diri mereka sendiri dalam jaringan sosial online, khususnya Facebook, yang memiliki tingkat tertinggi dalam partisipasi kampus. Gross dan Acquisti memberikan daftar penjelasan menunjukkan mengapa anggota Facebook begitu terbuka dalam berbagi informasi pribadi secara online.

Tiga penjelasan yang sangat meyakinkan adalah bahwa “manfaat yang dirasakan dari pengungkapan data dan keterlihatan data atau informasi yang lebih besar dirasa lebih menguntungkan, daripada konsekuensi yang harus dibayar, yaitu kehilangan privasi “, alasan lain masih berkaitan yaitu “sikap santainya pengguna atau kurangnya minat pengguna dalam melindungi wilayah privasinya sendiri “, dan alasan terakhir “para pengguna sangat percaya tehadap layanan jejaring sosial tersebut dan juga percaya pada anggota atau komunitas pengguna lain di dalamnya[10]. “

 

2.7  Trust and Privacy

(Mayer, Davis, dan Schoorman, 1995) mendefinisikan kepercayaan sebagai “kesediaan suatu pihak untuk menjadi rentan terhadap tindakan pihak lain berdasarkan harapan bahwa yang lain akan melakukan tindakan tertentu yang penting, terlepas dari kemampuan untuk memantau atau mengontrol pihak lain”(hal. 712). Kepercayaan adalah penentu penting berbagi informasi dan juga penting dalam mengembangkan suatu hubungan yang baru (Fukuyama, 1995, Lewis dan Weigert, 1985). Kepercayaan juga penting untuk membangun interaksi online yang sukses (Coppola, Hiltz, dan Rotter, 2004, Jarvenpaa dan Leidner, 1998, Meyerson, 1996, Piccoli dan Ives, 2003). Pada e-commerce atau perdagangan jual beli melalui internet, peneliti telah menemukan bahwa tingkat kepercayaan sangat terkait dengan keterbukaan pengungkapan informasi (Metzger, 2004). Kepercayaan juga merupakan komponen sentral dari teori pertukaran sosial (Roloff, 1981). Teori pertukaran sosial menyajikan analisis manfaat interaksi sosial. Jika pertukaran tersebut dianggap menguntungkan, maka besar kemungkinan individu akan masuk ke dalam hubungan pertukaran atau jual beli. Kepercayaan yang tinggi akan mengakibatkan persepsi biaya yang rendah, dan sebaliknya. Studi situasi pertukaran interpersonal mengkonfirmasi bahwa kepercayaan merupakan prasyarat untuk self-disclosure, karena mengungkapkan informasi pribadi yang artinya terlibat dalam mengurangi risiko (Metzger, 2004).

Jutaan orang telah bergabung dalam situs jejaring sosial dengan membuat dan menambahkan profil yang mengungkapkan informasi pribadi. Reputasi situs jejaring sosial telah berkurang disebabkan oleh sejumlah insiden yang dipublikasikan oleh media (Chiaramonte dan Martinez, 2006, Hass, 2006, Mintz, 2005, Baca, 2006).

Saat ini, pergaulan offline terasa semakin tertinggal di belakang seiring dengan perkembangan pergaulan online dalam teknologi. Sebut saja telepon seluler dan internet. Dan masalah privasi pun seakan tidak begitu penting dalam kehidupan online, Privasi dalam situs jaringan sosial sering tidak diharapkan atau tidak terdefinisi (Dwyer, 2007). Hingga akhirnya muncul insiden tidak menyenangkan dalam ranah privasi seseorang. Oleh karena itu situs jejaring sosial memerlukan kebijakan eksplisit dan mekanisme perlindungan data dalam rangka  memberikan tingkat privasi yang sama dalam kehidupan sosial offline maupun dalam kehidupan nyata. [11]

 

2.8  Implikasi Privasi

Setiap jejaring sosial mempunyai sistem keamanannya tersendiri untuk melindungi si pengguna dari hal-hal yang tidak diinginkan melalui penggunaan informasi secara tidak bertanggung jawab oleh pihak-pihak tertentu maupun masalah lainnya. Hal ini terkait dengan masalah privasi.  Pada saat mendaftarkan diri pada akun Facebook atau akun jejaring lainnya, pasti selalu ada perjanjian yang harus di baca dan disetuji oleh pengguna jaringan untuk dapat tergabung dalam jejaring tersebut. Seringkali individu yang mendaftarkan dirinya atau membuat akun baru, merasa malas membaca keseluruh perjanjian karena dirasa “aman-aman” saja bersosialisasi dan berbagi informasi di situs tersebut. Padahal, jika diperhatikan lebih lanjut, sebenarnya pihak jejaring sosial sama sekali tidak bertanggung jawab dalam melindungi informasi dan kejadian tidak dinginkan selama penggunaan situs mereka. Pihak pengguna pun merasa tidak terlalu peduli dengan informasi yang bisa di akses orang banyak, tidak peduli siapapun orangnya dan apa niat dibaliknya. Hal ini karena individu sudah merasa aman, dan layanan yang di sediakan sudah cukup memfasilitasi individu untuk melakukan proteksi tersendiri terhadap akunnya mengenai apa yang bisa dilihat di publik, ataupun yang tidak bisa dilihat secara umum.

Kemudahan bergabung dan memperluas jaringan individu, dan kurangnya langkah-langkah keamanan dasar di situs jejaring merupakan hal yang paling membuat mudah untuk pihak ketiga seperti hacker untuk mengakses data pengguna. Banyak kasus yang terjadi mengenai implikasi dari privasi, contohnya tahun 2003, LiveJournal menerima setidaknya lima laporan dari ID atau akun yang dibajak per hari. Suatu informasi akan digunakan tergantung pada informasi yang sebenarnya disediakan oleh pengguna itu sendiri – yang mungkin, dalam kasus tertentu, sangat luas dan intim. Risiko yang terjadi pun berkisar dari pencurian identitas, menguntit secara online dan fisik; sampai pemerasan. Namun, ada beberapa yang percaya bahwa situs jejaring sosial juga dapat menawarkan solusi untuk masalah privasi online. Dalam sebuah wawancara, Tribe.net CEO Mark Pincus mencatat bahwa  “jejaring sosial memiliki potensi untuk membuat perintah cerdas dalam mengatasi resiko, yaitu dengan membiarkan Anda mengelola dalam menampilkan dan membuat profile diri secara bijaksana dan mengatur proteksi atas siapa saja yang bisa berhubungan dan melihat profil Anda[12].

 

2.9  Perbedaan pria dan wanita

Terdapat perbedaan antara pria dan wanita dalam menilai sesuatu. Hal ini dilihat dari perkembangan otak mereka yang berbeda. Otak wanita lebih berkembang dalam kinerja memori, kemampuan mengartikan bahasa tubuh dan perasaan seseorang. Sedangkan otak pria memiliki kemampuan lebih dalam persepsi, logika, perkiraan dan kemampuan melihat gambar tiga dimensi[13] Wanita lebih emosional dalam hubungan dibandingkan pria yang lebih egois. Perbedaan ini tidak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mereka tapi karena perbedaan biologis mereka.[14] Perbedaan perkembangan otak ini berdampak dalam kehidupan sosial mereka. Saat melihat permasalahan, pria akan menawarkan penyelesaian tanpa memperdulikan perasaan orang lain, sedangkan wanita cenderung memberikan nasihat-nasihat tertentu. Di saat-saat yang penuh ketegangan, pria akan berusaha menarik diri sedangkan wanita akan berusah membuka diri membicarakan permasalahan. Pria akan termotivasi saat merasa dibutuhkan sedangkan wanita akan termotivasi saat dihargai.[15] Perbedaan ini juga terbawa dalam kehidupan mereka dalam penggunaan media sosial. Dominasi wanita di media sosial lebih tinggi dibanding pria.[16] Hal ini diakibatkan oleh keinginan wanita untuk selalu dekat dengan teman dan keluarga lebih tinggi dibanding pria.

Dalam penilaian perceived credibility, terdapat perbedaan antara pria dan wanita. Hal tersebut dibuktikan oleh beberapa penelitian. Misalnya pria memiliki perceived credibility yang lebih tinggi mengenai pesan yang ada di website di banding wanita (Flanagan, Metzger). Perceived credibility juga ditemukan lebih tinggi untuk pria kepada wanita dan wanita kepada pria dibanding sesama jenis kelamin. Faktor lain yang dapat memepengaruhi perbedaan antar sesama jenis kelamin adalah tingkat keterlibatan seseorang terhadap suatu pesan. Untuk pria, semakin tinggi tingkat keterlibatan seseorang akan suatu pesan semakin tinggi perceived credibility-nya. Sedangkan untuk wanita semakin rendah tingkat keterlibatan seseorang semakin tinggi perceived credibility-nya (Ferebee, 2007).

 

 

BAB 3

METODOLOGI

 

3.1.      METODE PENELITIAN

3.1.1.   Paradigma Penelitian

            Dalam ilmu social deikenal adanya tiga paradigm penelitian, yakni positivis, konstrukstivis, dan kritis. Paradigm positivis mengacu pada cara berpikir yang melihat ilmu social sebagai metode yang terorganisir dalam mengkombinasikan logika deduktif dengan observasi empiris yang tepat dari perilaku individu dalam upaya untuk menemukan dan mengkonfirmasi serangkaian aturan kausal yang mungkin, sehingga dapat digunakan untuk memprediksi pola umum dari aktivitas manusia (Neuman : 2003). Paradigm ini bebas nilai, sehingga menuntut peneliti untuk objektif.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan paradigm positivis. Peneliti ingin menilai kausalitas antara keterbukaan identitas di jejaring social (dalam hal ini Facebook) terhadap kredibilitas seseorang. Pengukuran kredibilitas akan diukur secara seragam menggunakan ukuran-ukuran yang ditentukan melalui dimensi-dimensi konsep.

 

3.1.2.   Pendekatan Penelitian

            Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif mempunyai pola bebas nilai, deduktif, dan bertujuan mencari kebenaran yang berlaku umum. Data yang disajikan berupa data statistik dari hasil pengukuran secara matematis. Variabel-variabel penelitian dengan pendekatan kuantitatif biasanya diukur dengan hypothetic deductive method yaitu penelitian yang melibatkan pengujian hipotesis dimana hipotesisnya dideduksi dari hipotesis lain yang tingkat abstraksinya lebih tinggi. Dengan kata lain, dalam pendekatan kuantitatif peneliti harus berangkat dari teori atau konsep yang sudah ada.

Pendekatan ini cocok menggunakan pendekatan kuantitatif karena penelitian ini menggambarkan kausalitan antara keterbukaan identitas dan kredibilitas seseorang. Variable keterbukaan identitas akan menjadi sebab dan variable kredibilitas akan menjadi akibat. Variabel-variabel dalam penelitian ini akan diukur dalam besaran angka. Sampel dari penelitian ini akan diatur sedemikian rupa sehingga bisa mewakili suatu populasi. Dengan semikian hasil penelitian ini adalah hukum yang berlaku secara universal.

 

3.1.3.   Jenis Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksplanatif. Penelitian eksplanatif      berusaha menjelaskan bagaimana suatu fenomena social bisa terjadi. Dalam penelitian ini, peneliti ingin menjelaskan bagaimana seseorang mengukur kredibilitas orang lain berdasarkan keterbukaan identitas dalam Facebook.

Berdasarkan dimensi waktunya, penelitian ini bersifat cross sectional. Artinya, penelitian ini hanya mengambil suatu gejala social di waktu tertentu. Peneliti meneliti tentang pengaruh keterbukaan identitas di Facebook terhadap kredibilitas seseorang hanya pada satu waktu tertentu. Peneliti tidak melakukan pembandingan dengan orang-orang terdahulu ataupun dengan fenomena lain yang terjadi pada waktu berlainan. Peneliti juga tidak meneliti gejala ini secara temporer atau melakukan pengujian kembali pada selang waktu tertentu.

Secara teknik pengumpulan data, penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Dalam penelitian eksperimen, responden akan diberi treatment dalam sebuah ruangan khusus. Responden akan diberi treatment berupa tampilan beberapa halaman info profil pada beberapa akun Facebook. Kemudian, responden akan diberi kuesioner untuk mengukur kredibilitas pemilik akun-akun yang ditampilkan.

 

3.2.      SUBJEK PENELITIAN

3.2.1.   Unit Analisis

                        Unit analisis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah individu. Individu adalah unit yang paling sering diteliti dalam penelitian social. Hal ini karena individu terkait langsung dengan interaksi social, sehingga perilakunya dapat mewakili individu-individu lain dalam masyarakat.

 

 

 

3.2.2.   Populasi

Populasi adalah sekumpulan individu dengan ciri-ciri dan kualitas sama yang ditetapkan peneliti. Populasi yang ditetapkan dalam penelitian ini harus memiliki cirri-ciri sebagai berikut:

  1. Laki-laki dan perempuan berusia 19-22 tahun.
  2. Mempunyai akun Facebook.
  3. Aktif dalam menggunakan Facebook

Berdasarkan kriteria di atas maka peneliti memilih mahasiswa FISIP UI S1 Reguler angkatan 2009-2011 sebagai populasi dalam penelitian ini. Total mahasiswa aktif dalam populasi tersebut adalah 7912 mahasiswa.

 

3.2.3.   Sampel

            Sampel adalah bagian populasi yang digunakan sebagai subjek penelitian. Jumlah sampel dari penelitian ini adalah 50 orang yang dipilih dengan menggunakan metode nonprobabilita (quota sampling) berdasarkan jenis kelamin mengingat dalam penelitian ini peneliti juga ingin melihat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam memaknai kredibilitas berdasarkan keterbukaan identitas di Facebook. Peneliti menentukan jatah untuk masing-masing jenis kelamin adalah 25 responden.

 

3.3              METODE PENGUMPULAN DATA

3.3.1        Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden melalui proses penelitian. Data primer dalam penelitian ini diambil dari melalui eksperimen yang dilakukan kepada responden dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner berisi pertanyaan-pertanyaan tertutup dengan alternatif jawaban yang sudah disediakan. Pertanyaan tertutup meminimalisir variasi jawaban yang mungkin timbul, sehingga akan mempermudah peneliti dalam menganalisis. Jawaban dalam kuesioner dibuat dalam skala Semantic differential.

 

 

3.3.2        Data Sekunder

Berbeda dengan data primer, data sekunder tidak diperoleh secara langsung dari responden melainkan dari sumber. Data ini biasanya berupa data jadi yang siap untuk disajikan. Data ini biasanya digunakan sebagai data pendukung penelitian. Oleh karena itu, data sekunder harus berasal dari sumber yang kredibel.

Dalam penelitian ini, peneliti pun menggunakan data sekunder sebagai data pendukung. Peneliti mengambil data sekunder ini dari sumber yang kredibel seperti buku, jurnal, dan website berbayar.

 

3.4              METODE ANALISIS DATA

3.4.1        Analisis Data Univariat

Merupakan analisis awal untuk menguji karakteristik sampel. Data yang dianalisis dalam analisis univariat ini adalah data demografi yang terdiri dari angkatan, jurusan, dan jenis kelamin.

3.4.2        Analisis Data Bivariat

Analisis data bivariat digunakan untuk menguji perbedaaan perceived credibility antara kelompok sampel (pria dan wanita). Pengukurannya menggunakan uji ANOVA.

 

3.5              UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS

3.6.1    Validitas

Validitas mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsinya (Saifuddin Azwar, 2002:7). Walizer dan Wienir, 1991 juga mendefinisikan validitas sebagai berikut, validitas merupakan tingkat kesesuaian antara suatu batasan konspetual yang diberikan dengan batsan operasional yang dikembangkan Validitas dibedakan menjadi tiga jenis yakni validitas isi (content validity), validitas berdasarkan kriteria (criterion-related validity) dan validitas konstruk. Suatu penelitian dikatakan memiliki validitas tinggi apabila instrument yang digunakan memberikan hasil ukur sesuai dengan maksud pengukuran. Sebaliknya, validitas penelitian dikatakan rendah apabila instrument pengukur memberikan hasil pengukuran yang jauh berbeda dengan maksud pengukuran.

3.6.2    Reliabilitas

Reliabilitas menurut Bailey (1987) adalah “the consistency of a measure” atau dengan kata lain reliabilitas adalah tingkatan sejauh mana pengukuran yang dilakukan mendapatkan hasil yang konsisten. Neuman (2006) mengatakan bahwa relaibilitas penelitian dapat disepadankan  dengan konsistensi dalam penelitian.  Pada penelitian kuantitatif, terdapat measurable reliability, yaitu keterandalan pengukuran dimana hasil penelitian yang reliabel pengukurannya itu adalah yang konsisten dan tidak berubah-ubah jika diukur berulang kali (Neuman, 2006).

Uji reliabilitas dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach dengan menggunakan program SPSS. Nilai Alpha Cronbach yang menyatakan bahwa sebuah pengukuran dikatakan adalah lebih besar dari 0,5. Setelah diperoleh hasil perhitungan yang tepat, kemudian disesuaikan dengan kaidah yang berlaku untuk mengetahui tinggi rendahnya reliabilitas alat tes tersebut yang dapat dilihat dalam table kaidah reliabilitas. Menurut Guilford (Kuncono, 2004:27) merumuskan kriteria koefisian reliabilitas sebagai berikut:

Tabel Kaidah Reliabilitas Menurut Guilford

Kriteria

Koefisien reliabilitas

Sangat reliabel

>0.9

Reliabel

0.7-0.9

Cukup reliabel

0.4-0.7

Kurang reliable

0.2-0.4

Tidak reliabel

<0.2

 

 

 

3.6              OPERASIONALISASI KONSEP

3.6.1        Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah self disclosure. Self disclosure dalam Facebook oleh peneliti dikategorisasikan menjadi tiga yaitu terbuka, semi terbuka/tertutup, dan tertutup. Self disclosure terbuka ditandai dengan pemilik akun Facebook menampilkan info profil secara lengkap mulai dari pendidikan, aktivitas dan minat, informasi umum, informasi kontak, filsafat, seni dan hiburan, dan pendidikan dan pekerjaan. Self disclosure semi terbuka ditandai dengan pemilik akun hanya membuka sebagian informasi yang bisa diakses secara umum di Facebook. Selanjutnya, self disclosure tertutup ditandai dengan pemilik akun merahasiakan seluruh informasi pada info profilnya kepada umum.

Variabel Independen : Self disclosure

Variabel Dimensi Indicator
Self disclosure Terbuka Menampilkan info profil secara lengkap (pendidikan pekerjaan, aktivitas dan minat, informasi umum, informasi kontak, filsafat, seni dan hiburan)
Semi Terbuka Membuka sebagian informasi.
Tertutup Sama sekali tidak mau membuka informasi.

 

3.6.2        Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perceived credibility atau penilaian khalayak terhadap kredibilitas seseorang dilihat dari kompetensi, keterpercayaan, dan kemauan baiknya. Perceived credibility dalam penelitian ini dibagi lagi menjadi dua dimensi yakni competence dan trustworthiness. Kedua dimensi tersebut kemudian dijabarkan menjadi indikator-indikator yang relevan. Indikator tersebut nantinya akan disusun menjadi pertanyaan-pertanyaan penelitian tertutup dengan pengukuran menggunakan skala semantic differential.

Variabel Dependen : Perceived Credibility

Variabel Dimensi Indikator Skala
Perceived Credibility  
Competence
 
  1. Berwawasan sempit/ Berwawasan Luas
  2. Berpengalaman sedikit/ berpengalaman banyak
  3. Pintar/Bodoh
  4. Terampil/Tidak terampil
  5. Soliter/sosialita
Interval  
Semantic-differential
 
 
Trustworthiness
 
 
  1. Jujur/bohong
  2. Terhormat/tidak terhormat
  3. Bermoral/tidak bermoral
  4. Sederhana/rumit
  5. Favorable/unfavorable
 
Interval  
Semantic-differential
 

 

3.7  Prosedur Penelitian

Untuk eksperimen ini peneliti menyiapkan 3 akun Facebook yang berbeda tingkat self disclosurenya dengan ketentuan keterbukaan seperti yang dijelaskan pada operasionalisasi konsep self disclosure. Ketiga akun tersebut adalah akun milik Nathaniel Narendra, Daniel Syailendra, dan Fery Narwestu. Akun Nathaniel Narendra dikategorikan memiliki self disclosure terbuka dengan menampilkan seluruh info profile secara utuh, sedangkan akun Daniel Syailendra dikategorikan self disclosure semi terbuka/tertutup dengan hanya menampilkan sebagian info Facebook. Akun ketiga milik Fery Narwestu dikategorikan self disclosure tertutup dengan tidak menampilkan info profil sama sekali.

Responden diberikan diberi tampilan akun Facebook Nathaniel Narendra kemudian diminta mengisi kuesioner bagian 1 yang telah disediakan oleh peneliti. Setelah selesai, responden diberi tampilan akun Daniel Syailendra kemudian diminta mengisi kuesioner bagian 2. Selanjutnya akun ketiga milik Fery Narwestu ditampilkan dan responden diminta untuk mengisi kuesioner bagian 3. Treatment ini dilakukan sama kepada 50 responden baik laki-laki maupun perempuan.

 

3.8              HIPOTESIS

3.8.1        Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. 1.      Terdapat pengaruh self disclosure terhadap perceived credibility di Facebook.
  2. 2.      Ada perbedaan antara pria dan wanita dalam menilai perceived credibility berdasarkan self disclosure di Facebook.

 

3.8.2        Hipotesis Statistik

Hipotesis statistik dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

H1(1)   : Terdapat pengaruh self disclosure terhadap perceived credibility di Facebook.

Ho(1)   : Tidak terdapat pengaruh self disclosure terhadap perceived credibility di Facebook.

 

H1(2)   : Terdapat perbedaan skor signifikan antara pria dan wanita dalam menilai perceived credibility berdasarkan self disclosure di Facebook.

 

Ho(2)   : Tidak terdapat perbedaan skor signifikan antara pria dan wanita dalam menilai perceive credibility berdasarkan self disclosure di Facebook.

 

 

BAB IV

ANALISI DAN INTERPRETASI DATA

 

4.1  Analisis Data

Data yang diolah dalam penelitian ini didapat dari 50 kuesioner yang dibagikan oleh peneliti. Data-data tersebut kemudian diolah menggunakan software pengolahan data SPSS 17.0.

 

4.1.1        Hasil Uji Reliabilitas dan Validitas Instrumen

Peneliti melakukan pengujian reliabilitas dan validitas pada tingkat dimensi. Dimensi-dimensi tersebut adalah competence dan trustworthiness.

 

4.1.1.1  Hasil Uji Reliabilitas dan Validitas Competence

Dari uji reliabilitas dimensi competence diperoleh nilai Alpha Cronbach sebesar 0,720. Dari 5 indikator yang diuji hanya indikator solidaritas yang mempunyai nilai koefisien Alpha di atas 0,720. Jika indikator solidaritas dihapus nilai Alphanya menjadi 0,746. Akan tetapi, peneliti memutuskan untuk tidak menghapus indikator ini karena dinilai tidak terlalu signifikan mempengaruhi hasil penghitungan penilaian Alpha Cronbach. Selain itu, tanpa menghapus indikator ini, nilai Alpha dari dimensi Competence dinilai sudah reliabel.

Selanjutnya peneliti melakukan uji validitas pada dimensi competence. Uji validitas ini diukur melihat nilai KMO (Kaiser-Mayers-Olkin). Nilai KMO dari dimensi competence di atas 0,5 dan signifikansi 0,000 dengan Measure of Adequacy di atas 0,5. Angka ini menunjukkan bahwa variable ini valid dan dapat dianalisis lebih lanjut dengan analisis faktor. Oleh karena dimensi competence tidak memiliki subdimensi.

Nilai TVE (Total Variance Explained) pada dimensi ini adalah 49,785 %. Angka ini menunjukkan bahwa dimensi competence mampu menerangkan variable Perceived credibility sebesar 49,785 %, sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain.

 

4.1.1.2  Hasil Uji Reliabilitas dan Validitas Trustworthiness

Selain competence, dimensi yang diuji dalam penelitian ini adalah trustworthiness. Dari uji reliabilitas dimensi Trustworthiness diketahui nilai Alpha Cronbachnya sebesar 0,704. Dari 5 pertanyaan yang diajukan hanya pertanyaan tentang “sederhana” yang mempunyai nilai Alpha di atas 0,704. Jika pertanyaan ini dihapus, maka nilai Alphanya menjadi 0,840. Peneliti memutuskan untuk tidak menghapusnya karena tanpa menghapus pertanyaan tersebut nilai Alpha dari dimensi Trustworthiness dinilai sudah cukup reliabel.

Hasil uji validitas pada dimensi Trustworthiness menunjukkan angka KMO diatas 0,5 dengan signifikansi 0,000 dan MSA di atas 0,5. Angka ini menunjukkan bahwa indikator pada dimensi Trustworthiness valid dan dapat dilakukan uji analisis faktor. Akan tetapi, dimensi Trustworthiness tidak memiliki sub dimensi sehingga tidak perlu dilakukan analisis faktor.

Dimensi Trustworthiness mempunyai nilai TVE sebesar 55,589 %. Artinya, dimensi ini dapat menjelaskan variable Perceived credibility sebesar 55,589%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh hal-hal lain.

 

4.1.2        Hasil Uji Univariat

Pada bagian ini akan dijelaskan data demografis responden berdasarkan jenis kelamin, tahun angkatan dan jurusan untuk mengetahui keberagaman responden.

 

 

 

 

4.1.2.1  Data Jenis Kelamin

Tabel Data Jenis Kelamin

Jenis kelamin Jumlah Presentase
Laki-laki 25 50%
Perempuan 25 50%
Tidak menyebutkan 0 0%
Total 50 100%

 

Dalam penelitian ini data jenis kelamin sangat seimbang yakni 25 orang laki-laki (50%) dan 25 orang perempuan 50%. Dan tidaka ada yang tidak menyebutkan jenis kelamin. Berdasarkan data diatas jumlah data yang valid adalah 50 orang.

 

4.1.2.2  Data Tahun Angkatan

Tabel Tahun angkatan

Tahun angkatan Jumlah Presentase
2011 7 14%
2010 19 38%
2009 18 36%
2008 6 12%
Tidak menyebutkan 0 0%
Total 50 100%

 

Responden dalam  penelitian ini terbagai menjadi 4 tahun angkatan, yakni 2011 sebanyak 7 orang (14%), tahun angkatan 2010 sebanyak 19 orang (38%), tahun angkatan 2009 mencapai 18 orang (36%) dan terakhir tahun angkatan 2008 sebanyak 6 orang (12%). Tidak ada responden yang tidak menyebutkan tahun angkatannya sehingga data yang valid adalah 50 orang.

 

 

4.1.2.3  Data Jurusan

Tabel Data Jurusan

Jurusan Jumlah Presentase
Komunikasi 9 18%
Kesejahteraan sosial 4 8%
Administrasi 10 20%
Politik 5 10%
Hubungan Internasional 6 12%
Kriminologi 6 12%
Sosiologi 4 8%
Antropologi 6 12%
Tidak menyebutkan 0 0%
Total 50 100%

 

4.1.3        Hasil Uji Bivariat

Dalam penelitian ini kami menggunakan uji ANOVA untuk menguji korelasi jenis kelamin dengan perceived credibility di Facebook dilihat dari self disclosure. Dalam kuesioner yang kami ajukan, kami menggunakan skala semantic differential dengan skala 1-7. Dari uji deskriptif anova yang dilakukan diketahui bahwa baik pria dan wanita dalam meloihat perceived credibility seseorang tidak terlalu dipengaruhi oleh self disclosurenya di Facebook. Ini dibuktikan dengan nilai mean yang didapat berkisar di antara 4 yang mana angka tersebut adalah nilai tengah karena kami menggunakan skala semantic differential 1-7. Untuk pria dalam melihat perceived credibility pada self disclosure terbuka sebesar 4,72, semi terbuka 4,51, dan tertutup 4,11. Sedangkan, wanita menilai perceived credibility pada self disclosure terbuka sebesar 4,61, semi terbuka 4,73, dan tertutup 3,82.

 

   

N

Mean

Std. Deviation

Std. Error

95% Confidence Interval for Mean

Minimum

Maximum

   

Lower Bound

Upper Bound

terbuka pria

25

4.7200

.70000

.14000

4.4311

5.0089

3.70

7.00

wanita

25

4.6120

.80173

.16035

4.2811

4.9429

3.00

5.60

Total

50

4.6660

.74686

.10562

4.4537

4.8783

3.00

7.00

semi_terbuka pria

25

4.5160

.62761

.12552

4.2569

4.7751

3.60

5.90

wanita

25

4.7320

1.00113

.20023

4.3188

5.1452

2.80

8.50

Total

50

4.6240

.83411

.11796

4.3869

4.8611

2.80

8.50

tertutup pria

25

4.1120

.84426

.16885

3.7635

4.4605

2.40

5.80

wanita

25

3.8200

.76757

.15351

3.5032

4.1368

1.60

4.90

Total

50

3.9660

.81205

.11484

3.7352

4.1968

1.60

5.80

 

 

   

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

terbuka Between Groups

.146

1

.146

.257

.614

Within Groups

27.186

48

.566

Total

27.332

49

semi_terbuka Between Groups

.583

1

.583

.835

.365

Within Groups

33.508

48

.698

Total

34.091

49

tertutup Between Groups

1.066

1

1.066

1.637

.207

Within Groups

31.246

48

.651

Total

32.312

49

 

Hasil Uji ANOVA juga menunjukkan nilai signifikansi perbedaan antara pria dan wanita dalam melihat perceived credibility berdasarkan self disclosure di Facebook. Untuk self disclosure terbuka nilai sighifikansinya 0,614, semi terbuka 0,365, dan tertutup 0,207.

 

 

4.1.4        Interpretasi Data

Hipotesis kerja 1 yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Ada pengaruh signifikan self disclosure di Facebook terhadap perceived credibility”. Akan tetapi, hasil uji ANOVA menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan antara self disclosure terbuka, semi terbuka/tertutup, dan tertutup. Nilai mean masing-masing adalah terbuka 4,6660, semi terbuka/tertutup 4,6240, dan tertutup 3,9660. Selisih nilai-nilai tersebut <1, sehingga kami menyimpulkan perbedaannya tidak terlalu signifikan. Jadi hipotesis kerja pertama kami ditolak. Hasilnya adalah tidak ada pengaruh signifikan antara self disclosure di Facebook terhadap perceived credibility.

Hipotesis kerja 2 yang kami ajukan adalah “terdapat perbedaan skor signifikan antara pria dan wanita dalam menilai perceived credibility berdasarkan self disclosure di Facebook”. Akan tetapi, hasil uji ANOVA  menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan antara pria dan wanita dalam memandang perceived credibility berdasarkan self disclosure di Facebook. Pada self disclosure terbuka nilai signifikansinya 0,614, semi terbuka 0,365, dan tertutup 0,207. Dalam uji ANOVA nilai signifikansi dinyatakan signifikan apabila nilainya di bawah 0.05. Maka kami menyimpulkan perbedaannya tidak signifikan. Jadi, hipotesis kerja kami ditolak. hasilnya adalah tidak terdapat perbedaan skor signifikan antara pria dan wanita dalam menilai perceived credibility berdasarkan self disclosure di Facebook.

 

 

BAB 5

KESIMPULAN

 

Berdasarkan analisis data yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan perceived credibility yang signifikan antara pria dan wanita dalam melihat subjek yang sama. Selain itu tidak terdapat perbedaan perceived credibility antara Facebook dengan informasi yang terbuka, semi terbuka dan tertutup.  Pada pria ditemukan urutan perceived credibility dari yang tinggi sampai yang rendah adalah informasi terbuka, informasi semi terbuka dan informasi tertutup. Sedangkan untuk wanita tingkat perceived credibility dari tinggi ke rendah lebih kompleks dengan urutan informasi semi terbuka, informasi terbuka dan terakhir informasi tertutup. Kesamaan terjadi antara pria dan wanita dalam tingkat perceived credibility yang rendah bagi informasi tertutup.

 

 5.1.1 Implikasi akademis

Karena penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita, sehingga penelitian ini tidak terdapat implikasi akademis yang berarti.  Penlitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan apabila ada peneliti lain yang ingin meneliti tentang perbedaan dalam memandang perceived credibility seseorang melalui self disclosure info Facebook

 

5.1.2 Implikasi Praktis

Tidak ditemukannya perbedaan signifikas antara perceived credibility wanita dengan pria. Sehingga akan lebih baik jika peneliti selanjutnya mencoba menelaah lebih jauh dengan metode yang lain.

 

5.2.1 Rekomendasi Praktis

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa tidak adanya perbedaan signifikan antara perceived credibility pria dengan wanita melalui mediated self disclosure menggunakan Facebook yang dilihat hanya berdasarkan info.

 

 

5.2.2 Rekomendasi Akademis

Peneliti selanjutnya bisa meneliti dengan melihat aspek lain, seperti melihat Facebook secara keseluruhan dari akun, atau melihat dari segi foto-foto saja. Peneliti selanjutnya juga bisa meneliti dari social media yang lain seperti self disclosure seseorang di Twitter atau Blog.

 

 

Daftar Pustaka

 

Charnigo, Laurie dan Barnett-Ellis, Paula. (2007). Checking Out Facebook.com: The Impact of a Digital Trend on Academic Libraries. Alabama: Marchanch.

Hewitt, Anne dan Forte, Andrea. (2006) Crossing Boundaries: Identity Management and Student/Faculty Relationships on the Facebook. Georgia: GVU Center.

Arrington, Michael (2005). 85% of college students use Facebook. TechCrunch.

Acquisti, Alessandro dan Gross, Ralph (2006). Imagined Communities: Awareness, Information Sharing, and Privacy on the Facebook, Pittsburgh: PET.

Acquisti, Alessandro dan Gross, Ralph. (2005). Privacy and information revelation in online social networks. Pittsburgh: Workshop on Privacy in the Electronic Society.

Stutzman, Frederic. (2006). An evaluation of identity-sharing behavior in social network communities. Chapel Hill: School of Information and Library Science, University of North Carolina.

Flanagan, A. & Metzger, M. (2003). The perceived credibility of personal web page information as influenced by the sex of the source. Computers in Human Behavior,19(6). 683-701.

Ferebee, S. (2207). An examination of the influences of involvement level of web credibility of web sites. In de Kort, Y. IJsselsteijn, W., Midden, C., Eggen, B

Laraqui, Jawad. (2007). Activity Based Interfaces in Online Social Networks. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology.

Dwyer, Catherine,  Roxanne H, Starr dan Passerini, Katia. (2007). Trust and privacy concern within social networking sites: A comparison of Facebook and MySpace. Colorado: Proceedings of the Thirteenth Americas Conference on Information Systems.

Chun Ho, Kevin Lo. (2006). Perceived Credibility, Loneliness, and Self-disclosure on Blogs. Hong Kong: The Chinese University of Hong Kong.

Pearlson, Godfrey et al. Sex differences in the inferior parietal lobule. Cerebral Cortex, 1999, 9:896-901.

Pease, Allan dan Pease, Barbara (1999) Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps. Australia: Pease International

 

Gray, John. (1992).  Men from Mars, Woman from Venus, New york: Harper Collins.

Supratiknya, A. (1995). Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Derlega, Valerian J dan Berg, John H. (1987) Self-disclosure: theory, research, and therapy. New York: Plenum Press

Honess, Terry dan Yardley, Krysia. (1987). Self and identity: perspectives across the lifespan. New York: Routledge & Kegan Paul Inc.

(http://id.ibtimes.com/articles/3964/20110110/jumlah-pengguna-Facebook-di-indonesia-lampaui-inggris.htm).

(http://tekno.kompas.com/read/2011/04/07/00274410/Ratarata.Pengguna.Facebook.Indonesia.Paling.Muda.di.Dunia)

Pease, Allan dan Pease, Barbara (1999) Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps. Australia: Pease International

Furman, Suzane. “Credibility”. http://www.usability.gov

 

Lampiran kuesioner

 

Selamat sore teman-teman FISIP UI, terima kasih atas kesedian teman-teman untuk bisa hadir dalam ruangan ini. Kami sekelompok mahasiswa S1 Regular Komunikasi ingin melakukan penelitian mengenai self disclosure dalam facebook dalam pengaruhnya terhadap perceived credibility. Penelitian ini kami lakukan dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Metode Penelitian Komunikasi 1.

Mohon teman-teman mengisi isian di bawah ini dengan sejujur-jujurnya tanpa terpengaruh pihak lain setelah melihat ketiga akun facebook yang telah diperlihatkan sebelumnya. Semua data yang diberikan dalam kuesioner ini akan dijamin kerahasiaannya.

Sekali lagi, terima kasih atas partisipasinya J

 

Data diri :

  1. Nama lengkap     :
  2. Jurusan                :
  3. Angkatan             :
  4. Usia                      :

 

Setelah melihat facebook Nathaniel, silahkan melingkari pendapat anda mengenai Nathaniel dibawah ini

Dimensi kompetensi

 
 

1

2

3

4

5

6

7

   
Berwawasan sempit

-

-

-

-

-

-

-

Berwawasan luas  
Pengalaman sedikit

-

-

-

-

-

-

-

Pengalaman banyak  
Bodoh

-

-

-

-

-

-

-

pintar  
Tidak terampil

-

-

-

-

-

-

-

terampil di bidangnya  
Soliter

-

-

-

-

-

-

-

sosialita  
                   

 

 

Dimensi trustworthiness

 

1

2

3

4

5

6

7

 
Bohong

-

-

-

-

-

-

-

jujur
Tidak terhormat

-

-

-

-

-

-

-

terhormat
Tidak bermoral

-

-

-

-

-

-

-

bermoral
Sederhana

-

-

-

-

-

-

-

 rumit
Unfavorable

-

-

-

-

-

-

-

favorable

 

Setelah melihat facebook Daniel, silahkan melingkari pendapat anda mengenai Daniel dibawah ini

Dimensi kompetensi

 
 

1

2

3

4

5

6

7

   
Berwawasan sempit

-

-

-

-

-

-

-

Berwawasan luas  
Pengalaman sedikit

-

-

-

-

-

-

-

Pengalaman banyak  
Bodoh

-

-

-

-

-

-

-

pintar  
Tidak terampil

-

-

-

-

-

-

-

terampil di bidangnya  
Soliter

-

-

-

-

-

-

-

sosialita  
                   

 

Dimensi trustworthiness

 

1

2

3

4

5

6

7

 
Bohong

-

-

-

-

-

-

-

jujur
Tidak terhormat

-

-

-

-

-

-

-

terhormat
Tidak bermoral

-

-

-

-

-

-

-

bermoral
Sederhana

-

-

-

-

-

-

-

 rumit
Unfavorable

-

-

-

-

-

-

-

favorable

 

 

 

 

 

Setelah melihat facebook Fery , silahkan melingkari pendapat anda mengenai  Fery dibawah ini

Dimensi kompetensi

 
 

1

2

3

4

5

6

7

   
Berwawasan sempit

-

-

-

-

-

-

-

Berwawasan luas  
Pengalaman sedikit

-

-

-

-

-

-

-

Pengalaman banyak  
Bodoh

-

-

-

-

-

-

-

pintar  
Tidak terampil

-

-

-

-

-

-

-

terampil di bidangnya  
Soliter

-

-

-

-

-

-

-

sosialita  
                   

 

Dimensi trustworthiness

 

1

2

3

4

5

6

7

 
Bohong

-

-

-

-

-

-

-

jujur
Tidak terhormat

-

-

-

-

-

-

-

terhormat
Tidak bermoral

-

-

-

-

-

-

-

bermoral
Sederhana

-

-

-

-

-

-

-

 rumit
Unfavorable

-

-

-

-

-

-

-

favorable

 

 

 

 

 



[3] Pease, Allan dan Pease, Barbara (1999) Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps. Australia: Pease International
[4] Furman, Suzane. “Credibility”. http://www.usability.gov.  
[5] Daryanto, Memahami Kerja Internet, (Bandung : Yrama Widya, 2005). Hal. 22
[6] Reddick, Randy, dan Elliot King, 1996. Internet Untuk Wartawan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hal. 100
[7] http://www.sejarah-internet.com/pengertian-internet/  diakses 29-September 2011 pkl 15.45 wib
[8] Acquisti, Alessandro dan Gross, Ralph (2006). Imagined Communities: Awareness, Information Sharing, and Privacy on the Facebook, Pittsburgh: PET.
[9] Ibid  
[10] Charnigo, Laurie dan Barnett-Ellis, Paula. (2007). Checking Out Facebook.com: The Impact of a Digital Trend on Academic Libraries. Alabama: Marchanch.
[11] Dwyer, Catherine,  Roxanne H, Starr dan Passerini, Katia. (2007). Trust and privacy concern within social networking sites: A comparison of Facebook and MySpace. Colorado: Proceedings of the Thirteenth Americas Conference on Information Systems.    
[12] Acquisti, Alessandro dan Gross, Ralph. (2005). Privacy and information revelation in online social networks. Pittsburgh: Workshop on Privacy in the Electronic Society.
[13] Pearlson, Godfrey et al. Sex differences in the inferior parietal lobule. Cerebral Cortex, 1999, 9:896-901.
[14] Pease, Allan dan Pease, Barbara (1999) Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps. Australia: Pease International
[15] Gray, John. (1992).  Men from Mars, Woman from Venus, New york: Harper Collins.
This entry was posted in Metode Penelitian Komunikasi, semester 5. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>