Kajian Film Talentime dan Still Life

Pengantar

            Ada berbagai macam tehnik yang digunakan dalam pembuatan film, mulai dari tehnik pengambilan gambar dari sudut pandang tertentu, performa aktor sampai penggunaan music. Keberagaman cara pembuatan film ini akan membentuk identitas film itu sendiri. Walaupun suatu film mempunyai identitasnya sendiri, film tetap mempunyai berbagai cara untuk memandangnya yang bisa jadi berbeda-beda bagi tiap orang. Berikut adalah kajian film Talentime dan Still Life dari sudut pandang saya saya.                       Talentime – Yasmin Ahmad

 

Diawali dengan lampu yang menyala di dalam kelas dan diakhiri dengan mematikan lampu di dalam kelas yang sama, seakan-akan mencerahkan penonton mengenai keberagaman budaya yang akan ditampilkan dalam film. Ada beberapa kisah yang diceritakan dalam Talentime yang semuanya dihubungkan dalam acara bakat bernama Talentime yang diadakan di sekolah. Cerita pertama yang menjadi fokus utama adalah seorang anak perempuan bernama Melur yang berbakat dalam bernyanyi dan bermain piano jatuh cinta kepada Mahesh yang buta dan tuli. Tidak sampai disitu, perbedaan agama nampaknya juga menjadi penghalang cinta mereka berdua. Cerita berikutnya adalah Hafiz yang pintar bernyanyi dan bermain gitar. Walaupun terlihat sebagai anak yang pintar, ceria dan ramah, di rumah sakit ibunya sedang mengidap penyakit kanker otak. Selain kedua cerita itu ada cerita-cerita lain yang mewarnai film Talentime misalnya kisah cinta antar guru yang menjadi juri, pembantu Cina di rumah Melur yang sudah dianggap keluarga walaupun beda ras dan ada anggota keluarga yang tidak menyukainya atau Ka Hoe dari ras Cina yang diharuskan orang tuanya untuk selalu menjadi nomor satu.   Uniknya walaupun kontestan Talentime ada sepuluh, tidak kesemua kontestan dibuat ceritanya. Beberapa hanya diperlihatkan bakatnya saja misalnya tari India, itu juga tidak ke sepuluh bakatnya ditampilkan. Selain itu, walaupun Talentime menjadi judul dari film ini, fokus cerita bukan pada acara bakat itu. Hal ini terlihat dari akhirnya yang tidak diceritakan siapa yang menang dalam acara bakat itu, karena tidak diperlihatkan siapa pemenang acara bakat itu. Acara bakat itu hanya sebagai pengikat keberagaman yang ada di dalamnya. Fokus film lebih kepada perbedaan agama, suku dan ras di dalamnya. Hal ini bisa terlihat dari  keberagaman penggunaan bahasa yang ada di dalamnya. Misalnya di dalam keluarga Mahesh yang berasal dari India, bahasa yang digunakan adalah bahasa India, berbeda lagi dengan keluarga Cina yang tetap menggunakan bahasa Cina atau keluarga Melur yang berasal dari Inggris yang menggunakan bahasa campuran Inggris dan Malaysia. Terlihat bahwa pembuat film ingin memperkenalkan keberagaman budaya di dalam Malaysia. Konon hal inilah yang membuat film ini kontroversial di negeri asalnya, karena belum ada yang mengangkat tema yang sama sebelumnya karena dianggap tabu. Keberanian Yasmin Ahmad untuk menggunakan tema ini membuat film ini menonjol di sana.   Karena yang diangkat adalah keberagaman budaya, setting dan properti yang digunakan juga beragam tergantung budayanya. Misalnya keluarga Melur yang berasal dari campuran Inggris Malaysia digambarkan kaya dengan rumah besar dengan taman luas disampingya serta berbagai perabotan rumah tangga yang ada di dalamnya. Walaupun keluarga Melur termasuk keluarga kaya, diceritakan bahwa keluarga Melur tetap rendah hati dan senang bergurau di dalamnya. Selain dari akting keluarga Melur, kerendah hatian keluarga ini dapat dilihat dari kostum yang digunakan keluarga tersebut cenderung santai dan apa adanya. Beda dengan keluarga Mahesh yang berasal dari keluarga miskin dari India. Rumahnya digambarkan beralas tanah dengan tembok kayu, perabotan di dalamnya juga sederhana. Kostum yang digunakan ibu Mahesh adalah kain biasa yang digunakan sesuai adat India. Keberagaman India juga ditonjolkan lagi saat upacara pernikahan paman Mahesh, upacara pemakaman dan bakat tari India di Talentime. Berbagai keberagaman budaya itu dipertemukan di setting sekolah. Setting sekolahnya sendiri sudah diperlihatkan dari awal mula film. Sekolah yang digunakan dalam film bukan sekolah bagus, banyak cacat dimana-mana menandakan kesederhanaan dalam sekolah ini.   Untuk masalah performa akting, tiap aktor dapat menyampaikan cerita dengan baik. Saat sedih, penonton bisa dibuat menangis dan saat lucu penonton bisa tertawa karena keluwesan pemain dalam memainkan perannya. Film ini bergerak secara emosianal memainkan jiwa penonton, karena itu mimik dan gerak-gerik pemain yang diambil secara close up sangat berpengaruh. Yasmin Ahmad tampaknya mampu mengarahkan aktor aktornya untuk itu. Misalnya Melur yang menangis saat harus berpisah dengan Mahesh karena pertentangan orang tua Mahesh yang berbeda agama. Walau begitu bukan berarti untuk membuat penonton menangis maka harus dibuat aktor yang juga menangis di dalamnya. Misalnya kisah Hafiz yang berusaha dengan gigih menjadi nomor satu di kelasnya demi membanggakan ibunya yang terkapar di rumah sakit, interaksi antar ibu dan anak yang sering kali bercanda meninggalkan kesan manis yang membuat hati teriris saat mengetahui keadaan ibu yang makin parah. Ketegaran Hafiz dalam mengahadpi cobaan itu membuat sentuhan tersendiri di hati dan membuat menangis seakan-akan menggantikan air mata Hafiz.   Permainan psikologis antar pemain yang menjadi latar belakang dalam melakukan suatu aksi dapat tersampaikan dengan baik. Misalnya alasan mengapa ibu Mahesh takut Mahesh dekat dengan perempuan beragama lain adalah karena meninggalnya paman Mahesh yang dibunuh oleh orang yang beda agama di pesta pernikahannya. Dan alasan kenapa ibu Mahesh mengubah pendiriannya adalah karena surat dari paman Mahesh yang mengatakan dirinya masih mencintai wanita muslim yang pernah dekat dengannya dulu namun dipisahkan oleh perbedaan agama yang ditentang keluarga mereka. Paman Mahesh juga memberitahu Mahesh bahwa ibu Mahesh juga melanggar adat budaya keluarga itu dengan menikahi orang yang berbeda agama.   Sayangnya, ada terlalu banyak cerita di dalamnya yang akhirnya membuat film tidak fokus dan malah meninggalkan kesan yang kurang dalam, mungkin karena keterbatasan waktu juga. Misalnya Ka Hoe yang melaporkan kepada gurunya yang kebetulan ber-ras sama-sama Cina bahwa Hafiz menyontek di kelas padahal sebenarnya tidak. Alasan mengapa Ka Hoe itu melakukan hal tersebut adalah karena orang tuannya yang keras dalam mendidiknya. Apabila dia tidak menjadi nomor satu, dia akan di siksa di rumah karena dianggap tidak becus. Namun kekerasan pendidikan Ka Hoe tidak diceritakan lebih lanjut, alasan mengapa dia akhirnya mengiringi Hafiz saat pentas Talentime juga tidak diceritakan yang akhirnya menimbulkan pertanyaan sendiri.   Salah satu kekuatan utama dalam film adalah suara karena bagaimanapun bakat yang muncul dalam film kesemuanya menggunakan film. Di dalamnya terdapat diagestic sound yang rata-rata muncul saat bakat seseorang sedang ditampilkan, suara musik terus dilanjutkan dengan efek non diagestic sound, film melaju ke shot berikutnya menceritakan latar belakang nyanyian itu. Misalnya saat Hafiz menyanyi dalam audisi Talentime diambil dengan long shot, lagunya terus berlanjut ke adegan Melur tang dijemput oleh sang ayah dengan long shot yang cukup lama. Lalu kembali ke medium shot Hafiz yang bernyanyi dan berlanjut ke kegiatan di rumah keluarga Mahesh yang sedang bercanda dengan kakaknya. Tak sampai situ, musik masih berlanjut ke adegan keluarga Melur yang sedang bercanda bersama dengan menari dan berhenti di adegan ibu Hafiz yang sedang muntah lalu disambung lagi dengan medium shot eye level yang lebih dekat disbanding sebelemunya gambar Hafiz yang sedang menyayi lanjutan lagu sambil bermain gitar tetap di acara audisi awal tadi seakan-akan menekankan posisi Hafiz yang lebih kuat di banding sebelumnya.   Dalam dialognya sendiri sering kali menggunakan Asynchronous Sound untuk membawa film ke tahap berikutnya. Misalnya saat di rumah Melur, sang abah memanggil istrinya dan berlanjut ke panggilan kakak. Setelah shot berganti baru diketahui bahwa panggilan kakak ditunjukan untuk ibu Mahesh oleh pamannya.   Nampaknya penonton Talentime dianggap dewasa untuk memilih, ada banyak bagian cerita dalam Talentime yang tidak diceritakan lebih lanjut dan memilih menyerahkan hasil akhirnya kepada penonton tanpa meninggalkan petunjuk di dalamnya. Misalnya pemenang Talentime atau bahkan hubungan akhir Mahesh dan Melur yang menjadi fokus cerita sekalipun.

 

            Still Life – Jia Zangke  


Dalam cerita still life terdapat dua cerita yang berbeda. Cerita pertama mengenai seorang pria bernama Han Sanming dari Shanxi yang dating ke Fengjie  untuk mencari anak dan istrinya yang sudah terpisah selama 16 tahun. Cerita kedua menceritakan seorang wanita bernama Shen Hong yang juga berasal dari Shanxi datang ke Fengjie  untuk mencari suaminya yang sudah dua tahun tidak bertemu. Berlatar belakang kota Fengjie  yang sudah dihancurkan untuk ditenggelamkan menjadi dam. Akhir kisah keduanya mengalami hal yang berbeda. Han Sanming akhirnya menikah lagi setelah bertemu di sungai Yangtze. Sedangkan pasangan kedua yang terdapat Shen Hong di dalamnya, walaupun mereka menari bersama di dekat Three Georges Dam, keduanya memilih untuk bercerai.   Kebanyakan pengambilan gambar mengambil establishing shot dan long shot dengan durasi yang sangat lama. Sehingga terlihat fokus film bukan kepada ekspresi pemain tapi lebih kepada keadaan sekeliling pemain. Hal ini memperkuat kesan film yang ingin membuat penonton bernostalgia dengan keadaan kota yang sudah hilang dalam air. Pengambilan gambar extreme close up hanya dilakukan untuk fokus kepada benda-benda penting yang menjadi bagian dari fokus cerita, semisal gambar uang yang menggunakan pemandangan di Fengjie di dalamnya. Hal ini menunjukan fokus film lebih kepada kenangan keadaan sekeliling kota.   Berbicara mengenai benda mati, ada beberapa benda mati yang diangkat ke dalam cerita yang ditegaskan dalam bentuk gambar dan tulisan. Maksudnya, setelah diceritakan apa kegunaan benda itu, benda itu kemudaan di shot jarak dekat sebagai bentuk penegasan dan setelahnya dilihatkan layar hitam bertuliskan nama benda itu, benda-benda itu antara lain adalah Cigarette, Liquor, Tea dan Toffe. Benda-benda ini merupakan bagian dari kebudayaan di dalam Fengjie. Benda ini berperan sebagai hadiah tertentu dalam kehidupan sosial disana. Dalam satu kali pengambilan gambar, Jia Zangke memakan waktu yang sangat lama sehingga kesalahan-kesalahan pemain tertangkap kamera namun hal ini sengaja dilakukan agar terlihat natural   Ada beberapa gaya editing dalam menggambarkan Continuity dalam film. Salah satunya gaya editing continuity yang disebut Elliptical. Misalnya saat adegan tokoh utama dipaksa menonton pertunjukan sulap di pelabuhan dan tidak mau membayar sehingga tasnya diambil. Saat tokoh utama mengeluarkan pisau. Adegan langsung di-cut saat tokoh utama  keluar ruangan dengan membawa tas utuh. Hal ini membiarkan penonton untuk membayangkan sendiri apa yang terjadi setelah tokoh utama mengambil tas. Besar kemungkinan pengambil tas ketakutan sehingga menyerahkan tasnya. Adegan pengambil tas ketakutan tidak digambarkan dalam film namun sudah bisa dibayangkan penonton. Continuity dilakukan dengan tidak menggambarkan keseluruhan adegan dalam film   Keunikan continuity lainnya adalah dalam menghubungkan cerita yang satu dengan cerita yang lain dimana tokoh utama dalam setiap cerita tidak saling mengenal. Peralihan cerita disambungkan dengan UFO yang tidak ada sangkut pautnya dalam film. Disini jenis continuity yang digunakan adalah transisi crosscutting. Hal ini membuat emosi penonton kembali naik untuk memperhatikan cerita yang lumayan monoton.   Hal unik juga terlihat saat ada adegan pembersih virus dari laboratorium di tengah orang-orang yang bekerja menghancurkan bangunan. Dan juga saat pemain opera lengkap dengan kostum kaisar dan make up putih tengah bermain psp saat Han Sanming menunggu kedatangan temannya. Tampaknya untuk memahami maksud ambigu yang ada dalam film diperlukan pengetahuan mengenai budaya Cina khususnya Fengjie . Pengangkatan kebudayaan ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi film ini.   Dari hal-hal unik yang cenderung tidak biasa di dalam film ini terlihat sudut pandang pembuat film yang juga unik dalam memandang kehidupan dan menuangkannya di dalam film. Walaupun banyak hal-hal yang unik, film tetap terlihat natural dengan menjaga kesamaan dengan daerah Fengjie. Coba lihat properti dan pakaian yang digunakan oleh aktor dan artisnya secara keseluruhan. Misalnya disesuaikan dengan SES-nya, Han Sanming tampak berpakaian dengan kaos lusuh atau singlet dan celana kain yang juga tampak lusuh dan tidak banyak berubah selama film berlangsung. Kemungkinan bagian kostum menyiapkan beberapa pakaian yang sama untuk satu orang. Sedangkan pihak wanita biasanya menggunakan rok terusan dan make up tipis ala kadarnya. Untuk orang-orang yang menjadi cameo atau sekedar numpang lewat sepertinya menggunakan baju mereka sendiri. Hal ini dilakukan untuk menjaga sisi asli Fengjie  saat itu.   Untuk properti film juga demikian, misalnya handphone Han Sanming yang masih Polyphonic. Makanan asli daerah Fengjie  yang dimakan oleh para aktor di dalamnya. Bagian properti dalam film nampaknya juga tidak bisa terlalu santai walaupun kebanyakan properti dalam film adalah hal yang natural. Misalnya di daerah bangunan yang sudah dihancurkan. Banyaknya batu bekas bangunan membuat para pembuat film harus bekerja keras dalam mengatur peletakan kamera dan berbagai perlatan film lainnya dan tentunya aktor-aktor di dalamnya.   Dilihat dari performa aktor, semua aktor yang menjadi fokus dalam film tampak memerankan bagiannya masing masing dengan baik. Karakter dari tiap aktor terutama bagian-bagian utama dapat tersampaikan dengan baik. Permainan psikologi antar karakter yang menjadi latar belakang seseorang dalam melakukan sesuatu juga dipertimbangkan dalam film ini. Misalnya dilihat dari karakter Han Sanming yang lugu, polos dan  tertutup yang membuatnya sulit berbicara dengan orang lain, dengan istrinya sekalipun saat mereka bertemu. Di sisi lain Sahabat muda Han Sanming yang baru saja ditemukannya di Fengjie  mempunyai sisi yang kebalikannya, senang berbicara bahkan terdengar sok dan cenderung norak dengan mengikuti aktor-aktor kawakan yang ditampilkan di televisi dalam film tersebut. Karakter yang berbeda ini membuat keduanya saling melengkapi satu sama lain. Ikatan antara Han Sanming dan teman barunya ini disampaikan dengan memperlihatkan adegan main air bersama ataupun mengobrol saat sedang makan. Seringkali sahabat baru Han Sanming memberi tahu Han Sanming seputar dunia sosialisasi di Fengjie walaupun tidak penting sekalipun. Misalnya saat membicarakan ringtone handphone masing-masing.   Walaupun kebanyakan obrolan di dominasi oleh sahabat mudanya itu, Han Sanming tetap menyayangi sahabat barunya, mengingat tidak ada orang lain yang bisa di ajak ngobrol sedekat itu dengan Han Sanming. Sayangnya ikatan persaudaraan ini hanya berlangsung sesaat. Sahabat muda Han Sanming harus lebih dahulu menninggalkan dunia karena kecelakaan kerja di tempat penghancuran bangunan. Yang menemukan mayatnya di antara puing adalah Han Sanming sendiri dengan mendengarkan ringtone di antara puing-puing saat Han Sanming menghubunginya.   Namun berbeda dengan tokoh-tokoh yang menjadi fokus dalam film. Performa tokoh-tokoh cameo yang sekedar lewat tidak terlalu diperhatikan. Terlihat jelas kekakuan mereka saat berada di depan kamera. Penggunaan penduduk asli Fengjie yang belum tentu berbakat akting sebagai cameo mungkin untuk memperkuat identitas Fengjie dalam film.   Dilihat dari sisi sound, lagi-lagi karena suasana terakhir Fengjie  yang inigin diangkat, suara asli dari suasana Fengjie  tetap dipertahankan. Diagetic sound sering digunakan di dalamnya. Penggunaan musik yang biasanya digunakan sebagai latar suara tidak sering digunakan untuk memperdengarkan suasana di Fengjie . Penggunaan suara yang seperti ini akhirnya meninggalkan kesan monoton dalam film. Selain itu juga tidak ada voice over yang digunakan dalam film ini, penonton dibiarkan larut di dalamnya dan mengambil maksud film sendiri tanpa di didikte. Efek suara khusus di luar suara natural baru digunakan saat adegan-adegan unik yang memiliki makna ambigu. Misalnya saat ada ufo, gedung terbang atau saat Shen Hong dan suaminya menari di dekat dam.   Pada akhirnya, di lihat dari konstruksi fantasi yang dibangun dalam film Still Life, film ini tampaknya sudah mempunyai karakteristik penontonnya sendiri agar dapat menikmati filmnya . film ini terutama ditujukan bagi penduduk asli Fengjie  yang rindu suasana asli Fengjie  yang sudah terendam air dam.

 

Daftar Pustaka

 

Barsam, Richard dan Monahan, David. (2010). Looking at Movies: Introduction to Film. New York: WW Norton & Company.

Brodwell, David dan Thompson, Kristin. (2008). Film Art: An Introduction. New York: McGraw Hill.

Nowell-Smith, Geoffrey (Ed.). (1996). The Oxforld History of World Cinema. New York: Oxford University Press, Inc.

Penley, Constances. (1975). “Film Language by Christian Metz Semiology‟s Radical Possibilities” dalam Jump Cut: A Review of Contemporary Media Vol. 5, 2004, pp. 18-19.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>