Koperasinya Tukang Angkot I

Tanggal 12 Juli yang lalu, diperingati sebagai hari koperasi Indonesia. Sepertinya memang tidak ada yang istimewa. Hanya satu hari yang cerah dan sorenya mendung. Keesokan hari dan lusanya tidak ada kejadian luar biasa yang terjadi.

 

Lalu apa?

Ternyata lebih dari itu. Soko guru ekonomi Indonesia ternyata adalah koperasi. Baiklah supaya lebih nyata dan tidak mengawang-ngawang. Mari kita lihat jakarta di pagi hari.. Apa yang terlihat? Macet. Polusi dan penuh sesaknya jalanan dengan kendaraan pribadi beroda dua dan empat. Lalu di mana angkutan umum? Hei hei.. Angkutan umum, khususnya bis, metromini, dan ‘angkot’ kalah bersaing di tengah ‘hutan’ mesin jalanan ibukota

gambar koperasi wahana kalpika

 

Koperasi Angkutan

Ya ini menjadi relevan ketika kita mengaitkan masalah kemacetan. Atau masalah remeh temeh itu, dengan keberlangsungan hidup koperasi, khususnya koperasi angkutan darat. Pada awalnya koperasi ini hadir sebagai wujud solidaritas dan keinginan yang sama antara anggotanya. Bahwa kesejahteraan supir, kernet, dan administrator adalah wujud nyata manajemen koperasi angkutan darat. Namun yang terjadi koperasi tidak dibiarkan berkembang. Akibatnya, kesejahteraan supir dan kernet angkot terbengkalai. Karena terbengkalai, para sopir dituntut menyetor setoran angkot dengan jumlah yang besar. Dampaknya, supir menjadi ugal-ugalan. Kemudian penumpang merasa kenyamanan terganggu dan kecepatan menuju tempat kerja terhambat. Karena ngetem atau sebagainya. Lalu mereka-penumpang mencari solusi dengan membeli motor atau mobil. Padahal jelas2 menggunakan mobil dan motor adalah pemborosan. Lihat saja berapa besar apbn digunakan untuk subsidi bbm.. Busyet deh..

 

This entry was posted in akuntansi terapan. Bookmark the permalink.