Kelompok 22 yang beranggotakan Asad, Abi, Cabe, Anggi, Mala, dan Adhon mendapatkan tugas untuk mewawancarai Bapak Sudjana. Bapak yang memiliki nama lengkap Sudjana ini lahir di Jakarta pada tanggal 21 bulan Oktober tahun 1959 sehingga umurnya sekarang adalah 49 tahun. Bapak Sudjana merupakan anak ketiga dari dua belas bersaudara yang terdiri dari enam orang lelaki dan enam orang perempuan. Bapak Sudjana sudah tidak ikut bersama orangtua sejak berumur delapan tahun. Lebaran kemarin Pak Jana (begitu biasa beliau di panggil) pulang ke kampung halamannya di Tasikmalaya. Di Tasikmalaya keluarga Pak Jana memiliki peternakan ikan. Sekarang Pak Jana dan keluarga tinggal di belakang Gramedia, Margonda No. 47 RT 02/RW 19. Pak Jana sudah tinggal disana sejak tahun 1976.
Statusnya sekarang adalah sudah menikah dengan seorang istri bernama Sunah dan empat orang anak, satu perempuan dan tiga laki-laki. Kata Pak Jana, istri beliau masih memiliki keturunan ningrat. Anaknya yang pertama bernama Nurhasanah dan sudah menikah, yang kedua bernama M. Ridwan dan juga sudah menikah, yang ketiga bernama Doni Saputra, dan yang keempat atau yang terakhir bernama Lupi Sofyan sekarang masih duduk di kelas 3 SMP.
Bapak Sudjana memiliki hobi berolahraga. Pak Jana selalu mengendarai sepeda kemanapun dia pergi. Pak Jana juga sangat senang bermain pingpong. Maka dari itu beliau terlihat awet muda. Makanan kesukaan Pak Jana adalah lalap-lalapan sedangkan minuman kesukaannya adalah air putih.
Sebelum bekerja di Fasilkom, Pak Jana pernah bekerja di bengkel di daerah Slipi, karena rasa ingin tahunya yang besar tentang bagaimana mobil itu bisa berjalan. Lalu Pak Jana juga pernah bekerja di Bank Dunia, hingga akhirnya bergabung dengan Unit Pengolahan Teknis (UPT). Pak Jana mungkin adalah orang terlama yang bertahan bekerja di Fasilkom. Mulai dari sejak baru di didirikan UPT, lalu berubah menjadi Pusilkom, hingga akhirnya sekarang, menjadi sebuah Fakultas Ilmu Komputer. Mungkin itulah alasan mengapa beliau berkata bahwa beliau tidak bisa dipisahkan dari Fasilkom, yang menurut beliau adalah sebuah keluarga besar yang sangat erat satu dengan lainnya.
Pak Jana merupakan orang yang sangat terbuka, beliau sangat senang menceritakan tentang kehidupannya sejak dulu hingga sekarang, ingin berbagi pengalaman. Kalau berbicara mengenai pengalaman, mungkin Pak Jana tidak ada yang bisa menandingi. Pengalaman beliau banyak sekali. Menurut beliau, dirinya adalah seorang yang penyabar dan pengalah, sesuai dengan namanya Su yang berarti sabar.
Motto hidup Pak Jana sangatlah mulia, bahwa selama beliau bekerja, semuanya itu untuk anak dan istrinya tercinta. Harapan Pak Jana untuk kami yang mewawancarainya, mungkin juga untuk seluruh elemen yang berada di Fasilkom adalah jangan pernah lupa akan apa yang kita sudah lakukan, bila sudah menjadi orang yang sukses, lihatlah ke belakang, jangan terus melihat ke depan, karena pada awalnya kita mulai dari bawah.
Itulah sedikit ringkasan cerita hasil wawancara kelompok 22 dengan Pak Jana. Mudah-mudahan banyak hal yang bisa kita pelajari dari kcerita kehidupan Pak Jana.