Alfid Ardyanto @ Universitas Indonesia
Just another Blog Mahasiswa UI weblog
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquamit amet felis. Mauris eros semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, ec placerat elit nisl in quam. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maec at nisl. ullam lorem mi, eleifend a, fringilla vel, semper at, ligula. Duis sed assa id mauris pretium venenatis.
24th
NOV
Garis Besar Rencana Strategis Sistem Informasi & Teknologi Perusahaan
Posted by Alfid Ardyanto under Uncategorized
Banyak diantara praktisi TI yang sampai saat ini masih bertanya-tanya, hal-hal apa sajakah yang harus dituangkan dalam suatu dokumen rencana startegi SI & TI ? Tulisan di bawah ini saya ambil dari materi presentasi yang dibuat oleh David McClure selaku Managing Vice President di bagian Global Government Research, Gartner pada 25 Juni 2008. Semoga berguna….
Ringkasan Eksekutif Panjang paragraf: Setengah halaman Tujuan: Sebuah ringkasan dari dokumen, yang ditulis untuk eksekutif bisnis senior. Isi: Bagian ini harus menangkap esensi dari strategi, termasuk ‘jejak bukti’ dari strategi TI untuk nilai bisnis.
Konteks Bisnis Panjang paragraf: Setengah halaman Tujuan: Sebuah ringkasan dari fakta-fakta kunci tentang area dan ruang lingkup bisnis, digunakan untuk mengklarifikasi arah serta alasan utama strategi TI yang diambil. Isi: Bagian ini harus mencakup: misi, visi, tujuan dan prinsip-prinsip tingkat tinggi bisnis, tekanan kompetitif, peraturan dan lain-isu makro. Hal ini idealnya juga mencakup beberapa ekspresi formal dari bagaimana bisnis akan berhasil, contohnya nilai-nilai dicipline framework . Tujuan dari bagian ini adalah untuk menjelaskan alasan dan arah startegi TI yang diambil. Bagian ini harus merujuk pada dokumen perusahaan yang relevan dengan strategi bisnis perusahaan.
Kontribusi TI untuk Sukses Bisnis Panjang paragraf: Satu halaman Tujuan: Mengekspresi bagaimana kemampuan TI dalam membuat rencana sehingga memberikan nilai bagi bisnis. Rencana TI harus sejalan dengan misi dan visi perusahaan. Isi: TI ini secara khusus menghubungkan kegiatan dan faktor-faktor keberhasilan bisnis yang dijelaskan di bagian sebelumnya. Misalnya dengan bervariasinya biaya proses bisnis untuk layanna pelanggan, maka dengan hadirnya TI maka akan mengurangi dampak dari permintaan yang selalu berubah. Dapat pula berisi terntang langkah-langkah bisnis yang diharapkan akan dibantu oleh kegiatan TI (misalnya: biaya per transaksi, konsep -produk dalam kurun waktu tertentu.)
Prinsip TI Panjang paragraf: Setengah halaman Tujuan: Gambaran umum sekitar lima sampai sepuluh prinsip yang memandu TI dalam mengambil keputusan dan mencerminkan kontribusinya. Prinsip serta panduan yang menunjang keputusan sehari-hari yang dituangan dalam tata kelola TI, sehingga mampu menjelaskan pada eksekutif bisnis bagaimana TI berkontribusi. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa prinsip TI tersebut sejalan dengan prinsip bisnis perusahaan, jika memang tersedia. Isi: topik umum dalam prinsip-prinsip TI meliputi: di area mana saja kecekatan TI dibutuhkan (agilty), bagaimana menata struktur sistem informasi perusahaan, pemanfaatan sumber daya, staf ahli / keterampilan seperti apa yang dibutuhkan. Contoh dari kecekatan, “Kami akan mempersiapkan aset dan layanan TI yang dibutuhkan dalam skala yang cepat guna mendukung akuisisi suatu teknologi baru”. Sementara itu perusahaan mencanangkan: “Kami akan memusatkan setiap aset dan proses yang diidentifikasi sebagai komoditas bisnis pada satu wilayah saja”. Pada bagian ini, penting untuk menghindari ‘aksioma’ yang berlaku untuk semua sistem informasi perusahaan, misalnya, “kami akan memberikan layanan TI yang berkualitas tinggi dan handal.” – ujilah dengan cara membuat pertanyaan seperti: “Akankah hal ini memberi kontribusi terhadap kesuksesan bisnis di perusahaan saya saja atau berlaku juga untuk usaha apapun? “
Tata Kelola TI Panjang paragraf: Satu halaman Tujuan: Sebuah ekspresi bagaimana keputusan TI akan dibuat. Isi: Bagian ini menjelaskan siapa yang akan memberikan masukan, siapa yang akan membuat keputusan dan mekanisme apa yang akan digunakan untuk membuat, berkomunikasi dan menegakkan keputusan, untuk setiap jenis keputusan TI yang terkait. Jenis keputusan itu termasuk: prinsip TI, Investasi, Infrastruktur, Arsitektur, Keamanan dan Manajemen Resiko.
Manajemen Keuangan TI Panjang paragraf: Satu halaman Tujuan: Penjelasan tentang sumber, penggunaan dan kontrol atas dana untuk TI. Isi: Menjelaskan apakah sistem informasi perusahaan beroperasi sebagai pusat biaya, pusat laba atau pusat investasi. Juga menjelaskan bagaimana dana akan diberikan ke TI, misalnya apakah kebijaksanaan dana proyek TI akan terpisah dari dana proyek bisnis secara keseluruhan. Apakah ada cara yang dapat digunakan untuk mengembalikan biaya investasi dan operasional TI. Hal ini biasanya akan terlihat pada detail anggaran TI dan dokumen strategi keuangan perusahaan.
Arsitektur TI Panjang paragraf: Satu halaman Tujuan: Untuk memperjelas bagaimana aset dan layanan TI dirancang untuk mendukung model bisnis saat ini dan potensinya di masa depan. Isi: Sebuah gambaran tingkat tinggi arsitektur TI, dan bagaimana hal tersebut akan digunakan untuk menyelaraskan bisnis dan sistem informasi, panduan perilaku investasi dan perubahan. Dapat pula didasarkan pada standar seperti Zachman, FEAF atau TOGAF. Hal ini dapat terlihat pada dokumen yang berisi rincian informasi, bisnis dan arsitektur teknis.
Proses dan Layanan TI Panjang paragraf: Satu halaman Tujuan: Penjelasan tentang bagaimana layanan TI dibuat efisien, efektif, handal dan berulang. Isi: a) ringkasan pendekatan untuk layanan dan proses (misalnya, penggunaan standar seperti ISO 20000 dan ITIL). b) Sebuah catatan dari ‘pilihan non-standar’ salah satu layanan yang termasuk / tidak termasuk, berbeda dengan lingkup normal sistem informasi perusahaan, contohnya desain proses bisnis yang membentuk produk akhir bagi konsumen/pelanggan. c) Referensi untuk layanan rinci / dokumen proses
Portofolio Aplikasi TI Panjang paragraf: Satu halaman Tujuan: Deskripsi tingkat tinggi dari himpunan aplikasi yang tersedia sekarang, dan direncanakan di masa depan. Isi: Merangkum sistem informasi dan portofolio aplikasi serta inisiatif yang akan digunakan untuk melakukan pengembangan. Biasanya, akan ada nama aplikasi yang paling penting dan statistik tentang sisanya. Rincian inisiatif, dalam hal waktu dan sumber daya, harus disimpan dalam rencana strategis dan dokumen lainnya, dan hanya dirujuk dari dokumen tersebut.
Infrastruktur TI Panjang paragraf: Satu halaman Tujuan: Ringkasan infrastruktur dasar, termasuk lokasi, biaya dan ketahanan, untuk memberikan visibilitas platform untuk bisnis saat ini dan masa depan. Isi: merangkum infrastruktur TI aktiva dan operasinal, dan bagaimana mereka akan berubah menjadi lebih baik mendukung tujuan bisnis dan layanan TI. Bagian ini biasanya mencakup bagaimana aset dan orang-orang terbagi di sekitar lokasi, biaya (idealnya dibandingkan dengan tolok ukur), vendor / konsultan / mitra, ketahanan dan skalabilitas dari platform. Kemungkinan pendekatan ke arah virtualisasi dan cloud computing dapat juga dibahas di sini.
Manajemen Informasi [Opsional - hanya jika dalam lingkup sistem informasi] Panjang paragraf: Satu halaman Tujuan: Menjelaskan bagaimana informasi dikelola untuk memenuhi kebutuhan peraturan, operasional dan strategi dari perusahaan. Isi: Peran manajemen informasi, tanggung jawab dan pendekatan utama yang dianjurkan untuk setiap kategori utama dari informasi. Hal ini harus mengacu dan terkait dengan lapisan informasi di bagian arsitektur TI yang dibahas pada bagian sebelumnya.
Struktur Sistem Informasi, Personalia dan Sumber Daya Panjang paragraf: Satu halaman Tujuan: Untuk meringkas pengaturan dan sumber sumber daya guna menunjang strategi TI. Isi: merangkum kebutuhan sumber daya yang terkait dengan strategi TI dan bagaimana mereka berada. Hal ini akan mencakup keterampilan dan kebutuhan serta referensi ke struktur perusahaan yang lebih rinci, pelatihan dan rencana rekrutmen dan pendekatan sumber daya strategis.
Manajemen Resiko TI Panjang paragraf: Satu halaman Tujuan: Untuk menjelaskan bagaimana manajemen resiko TI terjadi dan bagaimana hal ini terkait dengan manajemen resiko perusahaan. Isi: Sebuah ringkasantentang pendekatan manajemen resiko, termasuk nama dari setiap standar dan alat yang digunakan. Juga bagaimana TI melakukan tata kelola terkait dengan manajemen resiko perusahaan secara umum, termasuk referensi ke dokumen kebijakan tentang kelangsungan bisnis / pemulihan bencana, keamanan, privasi danlain sebagainya. Hal ini harus disesuaikan dengan domain resiko di bagian tata kelola yang dibahas sebelumnya. Suatu hal penting yang harus disorot di sini adalah garis pelaporan untuk manajemen resiko strategis dan operasional, misalnya: “Untuk masalah strategi dan kebijakan, CISO (Chief Information Security Officer) membuat laporan kepada komite resiko perusahaan, tapi untuk kesehari-hariannya kegiatan pengelolaan resiko TI yang dilakukan CISO harus dilaporkan kepada CIO (Chief Information Officer). “
Resiko dan Masalah Panjang paragraf: Satu halaman Tujuan: Untuk garis besar resiko utama dan isu-isu yang terkait dengan strategi TI yang telah diuraikan di atas, dan pendekatan yang diambil untuk menguranginya. Isi: merangkum resiko dan isu-isu yang terkait dengan strategi TI, dan bagaimana caranya agar resiko tersebut dapat dikurangi. Hal ini seharusnya sejalan dengan bagian resiko laporan tahunan dan rencana bisnis perusahaan, serta fokus pada kategori yangmemilki resiko material paling tinggi. Misalnya, jika strategi TI sangat bergantung mitra eksternal,hal ini termasuk dalam kategori resiko tingkat-tinggi, dan mitigasi diperlukan untuk memastikan mitra menggunakan metodologi standar yang terdokumentasi dengan baik atau tidak.
Lampiran Panjang paragraf: Bebas Tujuan: Untuk mendukung laporan singkat dalam dokumen dengan fakta yang lebih rinci serta angka yang tidak tersedia dalam dokumen lain. Isi: Biasanya mencakup daftar istilah yang relevan, dan rincian diperpanjang untuk setiap area di atas, serta referensi ke dokumen lain.
Sumber: David McClure-Managing Vice President-Global Government Research-Gartner, 25 Juni 2008
19th
JAN
Peranan Knowledge Management Pada Call Center
Posted by Alfid Ardyanto under Perkuliahan
Tulisan ini diadopsi dari paper saya untuk tugas mata kuliah Knowledge Management yang diasuh oleh bapak Dana Indra Sensuse dengan mengambil studi kasus pada sebuah klinik kesehatan mata di Jakarta.
Tingginya kesadaran masyarakat perkotaan atas pentingnya kesehatan membuka peluang terbukanya berbagai klinik kesehatan. Mata sebagai salah satu bagian dari panca indra memiliki arti yang sangat penting. Gangguan kesehatan pada mata disebabkan oleh penyakit hingga menurunnya daya pengelihatan karena faktor usia merupakan hal umum yang sering dikeluhkan pasien. Keinginan untuk mendapatkan informasi lebih lengkap atas gejala yang timbul membuat masyarakat perkotaan mencoba mencari cara tercepat untuk mendapatkannya. Penggunaan media internet tentunya menjadi pilihan pertama yang dapat dilakukan sebelum berkonsultasi dengan dokter. Namun karena sifatnya yang tidak interaktif mengakibatkan ketidak puasan atas informasi yang didapat. Belum lagi berbagai istilah kedokteran yang sering tidak dimengerti oleh pembaca. Sementara bila sekedar melakukan konsultasi dengan dokter spesialis mata maka harus disediakan waktu khusus mulai tahapan reservasi, kunjungan ke klinik atau rumah sakit hingga dapat bertemu langsung dengan dokter.
Berangkat dari hal inilah sebuah klinik kesehatan mata mengembangkan layanan pasiennya. Bila sebelumnya bagian reservasi hanya menangani proses pendaftaran calon pasien maka secara bertahap para penerima telepon tersebut mendapatkan pendidikan umum seputar penyakit mata hingga prosedur operasi. Fungsi bagian reservasi mulai mengarah menjadi konsultasi. Sebuah departemen baru di bawah naungan divisi marketing akhirnya dibentuk. Beberapa pegawai yang sebelumnya merupakan karyawan di bagain resepsionis dimutasi menjadi agen call center. Namun apakah dengan dibekalinya pengetahuan tersebut otomatis mengurangi peranan dokter spesialis mata dalam berkonsultasi? Bagaimanakah caranya membagi pengetahuan yang dimiliki para dokter kepada agen call center yang notabene tidak mengeyam pendidikan kedokteran? Benarkah penerapan knowledge management mampu memecahkan permasalahan call center? Penelitian ini mencoba mengupas lebih jauh tentang peranan Knowledge Management pada sebuah call center di klinik kesehatan mata.
Perkembangan teknologi medis saat ini memungkin pengobatan tidak hanya melalui obat-obatan saja namun juga melalui tindakan langsung. Operasi bedah mata yang dikenal memiliki tingkat resiko cukup tinggi secara bertahap dapat diminimalkan. Bila sebelumnya sebuah operasi mata menggunakan pisau bedah maka saat ini sudah tersedia metode penyinaran dengan laser. Tidak adanya sentuhan antara benda tajam dengan selaput mata membuat metode ini dianggap jauh lebih aman dibanding metode konvensional.
Bagi sebuah klinik yang bertaraf internasional tidaklah cukup hanya mengandalkan pada kecanggihan peralatan yang dimilkinya serta keahlian dokter semata. Layanan bagi pasien maupun calon pasien merupakan nilai tambah yang coba dicermati. Untuk memperkenalkan sebuah klinik yang relatif masih baru tentunya dibutuhkan media promosi yang tepat. Berbagai cara coba dilakukan seperti memang iklan di harian, majalah hingga talkshow di radio ataupun roadshow di penjuru kota besar. Secara bisnis sasaran klinik kesehatan mata umumnya adalah masyarakat menengah dan atas yang memiliki gangguan kesehatan mata. Dalam rangkaian promosinya ada pula mengetengahkan tema tentang kecantikan mata. Baik itu seputar penggunaan lensa kontak hingga operasi yang membuat mata terlihat lebih menarik.
Pada setiap promosinya tersebut biasanya klinik kesehatan mata juga mencantumkan nomor telepon untuk keperluan reservasi. Calon pasien yang baru pertama kali menghubungi nomor telepon tersebut akan dilayani oleh agen call center. Sebelum memutuskan untuk melakukan reservasi seringkali calon pasien menanyakan beberapa hal seputar kesehatan mata yang mereka keluhkan. Kesiapan agen call center dalam memberi jawaban akan sedikit banyak memberi gambaran atas layanan yang akan diterima oleh calon pasien. Bila pada pertanyaan pertama yang diajukan terdengar jawaban yang tidak jelas dan tegas maka ada saja calon pasien yang beranggapan klinik tersebut belum siap dalam melayani pasiennya. Belajar dari hal seperti ini maka pihak klinik merasa perlu memberi pengetahuan tambahan bagi agen call center. Namun mereka juga menyadari bahwa perlunya membatasi ruang lingkup pengetahuan para agen call center agar jangan sampai melakukan konsultasi tanpa didasari diagnosa oleh dokter spesialis sebelumnya. Informasi yang salah dapat tersampaikan tanpa disadari oleh agen call center. Untuk itulah perlu adanya pengawas / supervisor yang mengamati secara langsung setiap komunikasi yang terjadi antara agen dengan si penelpon. Review juga bisa dilakukan pasca terjadinya komunikasi bilamana sebuah call center dilengkapi dengan rekaman. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana caranya meyakinkan calon pasien untuk melakukan reservasi berkunjung ke klinik kesehatan mata.
Saat tiba di klinik kesehatan mata, pasien akan diarahkan oleh staf untuk melakukan registrasi ulang. Pasien akan diminta untuk mengisi formulir pendaftaran yang berisi data identitas pribadi, keluhan penglihatan, riwayat penyakit, obat-obatan yang sedang digunakan dan riwayat alergi obat. Bila pasien pertama kali mengunjungi klinik kesehatan mata, mereka akan menerima sebuah kartu dengan nomor identitas. Nomor identitas ini berlaku untuk semua cabang klinik dan merupakan kode berkas rekam medik pasien. Semua data-data kunjungan pasien tersimpan di berkas rekam medik.
Setelah registrasi, pasien akan menjalani pemeriksaan awal yang terdiri dari pemeriksaan tekanan bola mata/tonometri non-kontak dan pemeriksaan kelainan refraksi dengan komputer/automated refraction. Pemeriksaan ini akan dilakukan oleh perawat dan atau refraksionis. Setelah pemeriksaan awal, pasien akan menjalani pemeriksaan tajam penglihatan (visus) dan pemeriksaan refraksi, bila diperlukan. Pemeriksaan refraksi bertujuan untuk mencari ukuran koreksi terbaik untuk penglihatan terbaik. Pemeriksaan refraksi dilakukan oleh refraksionis. Dokter spesialis mata akan memeriksa mata pasien dengan slit-lamp biomikroskop dan oftalmoskop. Adakalanya mata pasien perlu diberi tetes mata midriasil untuk melebarkan pupil mata agar dokter dapat memeriksa bagian dalam mata. Midriasil mungkin membuat penglihatan agak kabur dan silau selama beberapa jam. Pasien disarankan tidak mengemudikan kendaraan pada saat pengaruh tetes mata midriasil masih berjalan. Kacamata gelap dapat mengurangi rasa silau dan membuat pasien merasa lebih nyaman. Pemeriksaan penunjang dilakukan atas instruksi dokter untuk menunjang penanganan kondisi mata.
Knowledge Management (KM) memiliki definisi berbeda bagi setiap orang. Secara umum KM dedefinisikan sebagai melakukan sesuatu yang diperlukan guna mendapatkan sumber-sumber pengetahuan sebanyak-banyaknya (Becerra-Fernandez, 2004). Selain itu ada pula yang mengartikan KM sebagai manajemen pengetahuan sebuah organisasi guna membentuk business value dan memberikan competitive advantage (Amrit Tiwana, 1999). Beberapa organisasi beranggapan KM adalah sebuah teknologi yang digunakan untuk berbagi informasi. Ada pula yang menganggap KM adalah suatu kegiatan menyusun dokumen dalam sebuah media sehingga memungkinkan para tenaga ahli membagi desain atau data yang mereka miliki, media tersebut dapat pula dimanfaatkan oleh para konsultan dalam melakukan pertukaran pengalaman. Bagi contact center dan manager helpdesk, KM berarti menyediakan sebuah alat yang mampu membantu memecahkan masalah, alat tersebut dapat berupa database sederhana berisi jawaban atas berbagai pertanyaan hingga suatu sistem pemandu pertolongan yang canggih. KM adalah sekumpulan latihan guna memaksimalkan business value atas pengetahuan dalam sebuah organisasi dengan cara mengumpulkan, mengelola dan menyampaikannya pada bagian-bagain kritis dalam suatu proses bisnis. (eGain Communications, 2005)
Yang termasuk dalam tacit knowledge diantaranya pengamatan, intuisi dan insting dimana bersifat sulit diekspresikan dan diformalkan, selain itu ia juga sulit dibagaikan serta berbasis pada pengalaman individu. Sementara explicit knowledge merupakan pengetahuan yang telah diekspresikan dalam angka dan kata-kata, contohnya buku panduan untuk menganalisa pasar saham. Kita dapat mengubah pengetahuan yang bersifat explicit menjadi tacit (Becerra-Fernandez, 2004).
KSS – Knowledge Sharing System dapat digambarkan sebagai suatu sistem yang memungkinkan setiap anggota dari suatu organisasi untuk medapatkan pengetahuan yang bersifat tacit maupun explicit. KSS dapat pula dipandang sebagai suatu knowledge market; seperti pada umunya sebuah pasar memerlukan likuiditas yang cukup guna menjamin terjadinya pertukan produk yang adil, KSS harus menarik baik bagi pemilik pengetahuan maupun sejumlah orang yang mencari pengetahuan (Dignum, 2002). Likuiditas disini memiliki arti besarnya jumlah transaksi pada sebuah pasar – makin besar volume transaksi semakin besar likuiditasnya. Pada sebuah KSS, pemilik pengetahuan memungkinkan untuk:
- Membagi pengetahuannya secara terkendali pada kelompok yang dipercaya.
- Memutuskan kapan ingin berbagi dan kondisi yang menyertainya.
- Mencari pertukaran pengetahuan yang adil serta ganjaran yang didapat.
Para pencari pengetahuan sendiri memungkinkan untuk:
- Tidak perlu mengkhawatirkan berbagai kemungkinan yang timbul untuk berbagi pengetahuan, selain itu mereka akan terbantu dengan adanya fasilitas pencarian dan rangking.
- Memutuskan untuk menerima kondisi dari pengetahuan itu sendiri (Becerra-Fernandez, 2004).
19th
Berkenalan Dengan ‘Process Mining’ Part 2
Posted by Alfid Ardyanto under Perkuliahan
Berbagai manfaat bisa didapat dengan adanya Process Mining, seperti untuk mengetahui bagaimanakah proses yang sebenarnya terjadi? Apakah proses yang berjalan sudah sesuai dengan model yang dirancang sebelumnya? Di tahapan manakah terjadi perlambatan proses? Selain itu yang cukup menarik bahwasannya aplikasi ini juga mampu melakukan prediksi atas jumlah keterlambatan yang mungkin timbul serta membuat rancangan model seperti apa yang lebih tepat guna menyelesaikan permasalahan?
Penggunaan event log sebagai sumber data dari tehnik Process Mining dirasa cukup tepat karena umumnya log sebuah sistem informasi berisi data dari berbagai kasus yang dieksekusi organisasi. Data yang dicatat umumnya berupa waktu mulai dan selesainya pekerjaan di suatu bagian, siapa saja pelakunya, dan lain sebagainya. Di bawah ini terlihat contoh tabel log suatu sistem informasi yang menangani proses penagihan denda kepada pelanggan. Terlihat adanya empat contoh kasus (Case ID) yang terjadi dalam satu siklus. Pada kolom Task Name berisi kegiatan yang dilakukan kemudian pada kolom Event Type berisi status dari setiap pekerjaan. Pada kolom berikutnya tercantum ID si pelaku, apakah dilakukan oleh sistem ataukah orang. Kolom Timestamp berisi tanggal serta jam dilakukannya kegiatan. Data pendukung lainnya masih dapat terus ditambahkan sesuai kebutuhan atas analisa yang hendak dilakukan.
19th
Konsep Solusi Aplikasi ‘Mobile Survey’
Posted by Alfid Ardyanto under Perkuliahan
Tulisan ini diadopsi dari tugas kelompok mata kuliah Manajemen Informasi Multimedia yang diasuh oleh bapak Zainal Hasibuan di MTI – UI. Terima kasih kepada teman-teman anggota yang turut menyusun: Arnaldi Nandana, Geri Brian Rachmadi, Yudhi Biantoro.
Manajemen terhadap informasi dalam format multimedia seperti gambar dan suara menjadi hal yang cukup penting dalam sebuah sistem yang terkomputerisasi. Informasi dalam format multimedia umumnya membutuhkan bandwidth yang cukup besar antara pengguna dengan komputer tujuan. Walaupun harga media penyimpanan terus mengalami penurunan setiap tahunnya namun pertumbuhan data yang pesat tetap membutuhkan perencanaan yang matang terhadap berbagai pola solusi yang ditawarkan. Sebelumnya layanan internet disediakan hanya pada jaringan tetap (fixed line). Sejalan dengan terus berkembangnya teknologi layanan internet bergerak menggunakan pita lebar (mobile broadband) yang disediakan perusahaan telekomunikasi maka jumlah pengguna juga terus bertambah dari waktu ke waktu. Dengan makin meluasnya layanan internet bergerak secara langsung merubah cara akses terhadap sistem informasi. Berangkat dari kedua hal tersebut maka perkembangan sistem informasi digital mulai mengarah pada format multimedia. Dewasa ini perkembangan multimedia begitu cepatnya. Bidang multimedia pun mencakup berbagai macam unsur yang meliputi voice/suara, video, text, image, dan sebagai. Unsur-unsur tersebut dimanfaatkan dan diatur sedemikian sehingga menjadi sesuatu yang bermanfaat. Manfaat tersebut tidak hanya untuk hiburan semata namun sudah merambah ke dalam dunia bisnis/manajemen. Sebagai contoh, report di perusahaan-perusahaan yang menyertakan image sebagai informasi tambahan.
Sebagai salah satu motor penggerak sektor riil di tengah keterpurukan ekonomi Indonesia, kecepatan dan ketepatan penyaluran kredit komersial menjadi suatu hal yang krusial untuk mengejar kesempatan di era pasar yang makin sempit akibat persaingan global yang semakin ketat. Bagi pihak bank dan perusahaan pembiayaan, kecepatan dan ketepatan penyaluran kredit merupakan kunci sukses untuk meningkatkan pertumbuhan keuntungan. Kesuksesan keputusan penyaluran kredit pada dasarnya dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor pertama adalah kualitas dari data-data aplikasi kredit seperti kelengkapan, keakurasian, dan kredibilitas. Faktor kedua adalah kualitas dari model pengambilan keputusannya. Faktor pertama lebih cenderung kearah kriteria yang bersifat teknis, sedangkan faktor kedua jauh lebih kompleks, dimana kesuksesan keputusan sangat bergantung pada sentuhan pengetahuan dan pengalaman dari para ahli pengambil keputusan kredit.
Dalam sebuah proses akusisi kredit di perusahaan pembiayaan melalui serangkaian proses yang tidak sederhana. Hal ini berkaiatan dengan besarnya resiko yang dimiliki oleh perusahaan. Salah satu dari rangakaian proses tersebut adalah tahapan survey atau biasa disebut investigasi kredit. Tahapan ini seringkali disinyalir sebagai sumber penghambat penyaluran kredit secara cepat. Secara normal, seorang surveyor memerlukan data berupa nama dan alamat tentang calon nasabah yang harus ia kunjungi. Dengan dibekali sejumlah formulir investigasi yang harus diisi maka ia mencoba mencari tahu latar belakang sang calon nasabah. Beberapa pertanyaan yang harus ia jawab seperti:
• Apakah alamat sudah sesuai dengan kondisi sebenarnya?
• Bagimanakah status kepemilikan rumahnya?
• Sudah berapa lama tinggal?
• Bagimanakah hubungan dengan lingkungan?
• Bagaimanakah aktifitas di lingkungan?
• Bagaimanakah kondisi lingkungan tempat tinggal?
• Di manakah lokasi tempat tinggal?
• Bagaimanakah kondisi bangunan/rumah?
• Bagaimanakah bentuk bangunan?
• Seberapakah luas tanah?
• Seberapakah luas bangunan?
• Apakah bertemu dengan penghuni?
• Fasilitas apa sajakah yang ada?
• Adakah bukti kepemilikan rumah?
• Berpakah lebar jalan?
• Adakah nomor telepon rumah Fixed Line?
Setelah menemukan jawabannya maka surveyor harus kemabali ke lokasi tempat kerjanya untuk menyusun laporan secara lengjkap. Makin banyak aplikasi pengajuan kredit yang diterima perusahaan maka beban kerja maupun jumlah tenaga surveyor yang dibutuhkan makin meningkat. Hal ini tentunya menjadi permasalahan yang harus diselesaikan dengan segera.
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan maka sebagai konsultan kami berusaha menganalisa permasalahan yang ada serta mengkonfirmasi kebutuhan perusahaan atas pola solusi yang ditawarkan. Saat ini hal-hal yang menjadi kebutuhan
perusahaan diantaranya mempersingkat waktu survey, meningkatkan akurasi informasi lokasi calon nasabah, mengoptimalkan SDM yang ada, efisiensi biaya operasional dan minimalisir biaya investasi IT. Berangkat dari hal-hal tersebut maka kami berkesimpulan bahwa perusahaan memerlukan suatu solusi dimana proses pengiriman data menuju dan dari surveyor dapat dilakukan secara online dimanapun surveyor berada. Proses pengisian data hasil survey harus dapat dilakukan semudah mungkin oleh surveyor dan disajikan secepat mungkin melalui sistem yang terintegrasi.
Guna membangun suatu sistem yang terintegrasi maka dibutuhkan berbagai infrastruktur teknologi yakni diantaranya media koneksi internet yang stabil baik di sisi perusahaan pembiayaan, konsultan serta koneksi GPRS di sisi surveyor yang berada di lokasi calon nasabah. Di sisi perangkat keras dibutuhkan telepon genggam yang dilengkapi kamera dan koneksi internet bagi surveyor. Web dan database serverdisediakan pihak konsultan. Sebuah komputer yang terhubung ke internet menjadi prasyarat bagi perusahaan pembiayaan untuk dapat terhubung. Selain itu pihak konsultan perlu membangun setidaknya 2 jenis aplikasi yakni aplikasi web untuk keperluan upload data calon nasabah dan download laporan hasil suvey serta aplikasi kecil yang dipasang pada perangkat telepon genggam.
Aplikasi yang dipasang pada perangkat telepon genggam dibangun menggunakan bahasa pemrograman Java, ketimbang teknologi web-based. Sistem J2ME (Java 2 Micro Edition) merupakan sub-set dari Teknologi Java Terbaru yakni
Java 2. J2ME memfokuskan diri pada embedded-system seperti peralatan kecil, sistem portabel, residential gateway, gadget PDA/smartphone dan/atau handphone. Adapun berbagai pertimbangan lain mengapa digunakannya teknologi Java ketimbang teknologi web-based antara lain :
► Keamanan. Java lebih aman mengingat kode Java harus dieksekusi dengan Java Virtual Machine (JVM). Sebuah aplikasi biner yang corrupt seperti web browser (web-based system) dapat mengacaukan peralatan (tampilan blue screen atau hang pada gadget/handphone). Namun pada Java hanya mengacaukan Virtual Machine saja. Selain itu, traffic yang terjadi antara gadget dan server dapat diencrypt dengan sistem enkripsi yang lebih customized dan mumpuni (tidak seperti traffic web pada umumnya) sehingga lebih sulit disadap oleh pihak yang tidak berkepentingan.
► Kokoh Java merupakan bahasa yang kokoh, yang disupport oleh teknologi exception. Fitur garbage collector (kebocoran memori) turut mempercepat kecepatan development oleh para programmer.
► Portabilitas Java unggul dalam implementasi di berbagai perangkat yang berbeda merk dan/atau OS (Operating System). Proses kustomisasi fitur dan/atau modifikasi coding yang menyesuaikan dengan tuntutan client menjadi lebih cepat dan mudah, sesuai dengan motto Java : “Write Once, Run Anywhere”. Selain itu, Java dapat meminimalisir arus pertukaran data dengan server. Dengan adanya aplikasi berteknologi Java di perangkat tersebut maka yang dikirim atau diterima hanyalah kontennya saja. Berbeda dengan teknologi web browser (web-based) yang lebih boros dalam bandwidth (menjadikan kecepatan sistem web-based menjadi lamban) karena mendownload seluruh isi halaman website yang sedang dikunjungi, seperti tabel, frame, layer, text, grafis dan lainnya.
► Future Growth Java sudah mendapat tempat di hati para developer maupun para user yang bergerak di sektor finansial, seperti perbankan, baik nasional maupun internasional. Teknologi Java sudah tidak asing lagi karena banyak sekali digunakan di berbagai sektor, diantaranya sistem IT perbankan nasional. Dengan demikian kalaupun ada pengembangan selanjutnya seperti linking/merging dengan sistem lain milik pihak/partner lain yang sudah mengadopsi Java, maka hal tersebut adalah sesuatu yang mudah.
19th
Sekilas tentang Tool ‘ProM’
Posted by Alfid Ardyanto under Perkuliahan
Proyek pembuatan software ProM dimulai tahun 2003 oleh sejumlah peneliti di University of Technology Eindhoven, Belanda, dipimpin oleh Profesor Wil van der Aalst. ProM bersifat Open Source dibawah lisensi CPL – Common Public License. Saat tulisan ini dibuat sudah mencapai versi 5.2 dengan menggunakan arsitektur Plug-in. Sumber data yang digunakan harus dalam format MXML – Mining XML yang merupakan sebuah extensible berbasis XML. Isinya sendiri adalah event log dari sebuah sistem informasi. Saat ini ProM telah mendukung 250 jenis plug-ins yang terdiri dari 38 algoritma mining, 71 analysis plug-ins seperti SNA, LTL, Conformance Checking selain itu ia juga memiliki 21 import dan 41 eksport plug-ins untuk membuka dan menyimpan format EPC, Petri net, YAWL dan lain sebagainya. Ada pula 45 plug-ins untuk mengkonversi format yang ada contohnya dari EPC menjadi Petri net. Selengkapnya untuk mengetahui penjelasan dari setiap plug-ins yang ada dapat merujuk pada situs http://prom.win.tue.nl/research/wiki/online/start. Seluruh plug-ins tersebut digunakan untuk keperluan process mining, analisa, monitoring dan konversi. Aplikasi ProM didistribusikan untuk sistem operasi Microsoft Windows, Mac OS X dan UNIX. Perangkat lunak Java Runtime Environment minimal versi 5.0 dibutuhkan agar aplikasi ini dapat berjalan.
Dibandingkan tools lainnya ProM dapat memberikan simulasi proses bisnis yang lebih aktual karena model yang digunakan benar-benar berdasarkan fakta yang ada di dalam sistem informasi itu sendiri. Sedangkan tools sejenis dalam melakukan simulasi lebih bergantung kepada model yang ada di benak si perancang model. Kebanyakan perancang model bisnis adalah konsultan atau orang-orang yang berada di level paling tinggi hirarki organisasi. Selanjutnya model bisnis tersebut yang coba ditanamkan di dalam sistem informasi. Sistem informasi itu sendiri lebih banyak digunakan oleh orang-orang yang sehari-harinya terlibat dalam siklus proses bisnis. Hal inilah yang terkadang menimbulkan adanya gap antara rancangan model dengan realita di lapangan.
19th
Berkenalan Dengan ‘Process Mining’
Posted by Alfid Ardyanto under Perkuliahan
Tulisan ini diadopsi dari paper saya untuk mata kuliah Data Mining & Business Intelligence yang diasuh oleh bapak Yudho Giri Sucahyo, S.Kom., M.Kom., PhD di MTI-UI
Saat ini banyak organisasi menggantungkan proses bisnisnya pada satu atau lebih sistem informasi yang mereka miliki. Sistem informasi yang digunakan contohnya seperti WMS – Workflow Management System, CRM – Customer Relationship Management, ERP – Enterprise Resource Planning dan lain sebagainya. Setiap sistem informasi tersebut tentunya dirancang berdasarkan model dari suatu proses bisnis. Pada umumnya sebuah sistem informasi mencatat setiap event / kejadian pada sebuah log untuk memonitor proses yang berjalan. Catatan tersebut dapat berupa transaction logs ataupun audit trails. Seiring dengan berjalannya waktu dan tingkat penggunaan sistem informasi yang semakin tinggi maka bertambah pula kumpulan event log yang tersimpan. Melalui event log inilah kita bisa melakukan analisa dengan menggunakan berbagai algoritma yang telah disediakan aplikasi ProM. Hasilnya dapat berupa suatu bagan model proses bisnis yang kemungkinan berbeda dengan model sebelumnya.
Processs Mining merupakan suatu teknologi yang relatif masih baru dalam kaitannya dengan BPM – Business Process Management. BPM sendiri bertujuan untuk mendapatkan model dengan cara mengamati perilaku proses bisnis di suatu organisasi. Pada process mining, pengamatan dilakukan terhadap proses bisnis yang telah terkomputerisasi. Dengan cara ini diharapkan akan ditemukan struktur proses baru yang sebelumnya tidak disadari sedang terjadi. Berdasarkan siklus yang konsisten serta frekuensi aliran informasi yang terjadi maka dapat diketahui apakah selama ini pross bisnis yang diterapkan oleh sistem informasi telah sesuai dengan pedoman yang dimiliki oleh organisasi ataukah sebaliknya?
30th
AUG
Back To Campus
Posted by Alfid Ardyanto under Perkuliahan
Memasuki minggu kedua Ramadhan ini tepatnya tanggal 31 Agustus nanti akan dimulai kembali perkuliahan di MTI Salemba. Rasanya semester ini akan tidak kalah menantangnya dengan semester sebelumnya. Berusaha untuk menyelesaikan secepat mungkin, kubulatkan tekad mengajukan Karya Akhir di semester ini juga. Sementara itu dunia pencarian nafkah juga sedang memasuki tahapan ‘critical’ untuk Implementasi Sistem CONFINS serta pembangunan Infrastruktur memisahkan diri secara bertahap dengan sister company. Enam bulan kedepan akan menjadi hari yang sangat sibuk. Semoga Allah swt memberi perlindungan bagi hambanya ini.
1st
JUL
Tampilan baru epaper Kompas
Posted by Alfid Ardyanto under Personal
Sudah menjadi rutinitas di setiap pagi saya mempuka halaman epaper Kompas yang memuat harian Kompas dalam bentuk web interaktif. Pagi ini, Rabu 1 Juli 2009 ada yang baru di website tersebut. Bila sebelumnya Kompas menggunakan platform berbasis Flash maka mulai hari ini mereka menggantinya dengan Microsoft Silverlight.
Untuk dapat mengakses setiap halamannya perlu mengunduh software Silverlight yang untungnya telah disediakan oleh Kompas. Setelah proses instalasi selesai maka browser harus di restart dan kita diminta login seperti biasa.
Kesan yang saya dapat saat melakukan navigasi terasa sedikit sulit daripada biasanya. Sebagai contoh, untuk melakukan Zoom In atau Zoom Out kita harus memilih icon kaca pembesar di sisi atas dahulu. Begitu juga bila ingin membalik halaman epaper, kita harus memilih icon tanda panah biru dahulu kemudian mengarahkan curson ke sisi pojok epaper. Dibandingkan platform sebelumnya, pengguna cukup melakukan click di satu sisi epaper untuk zoom in dan zoom out. Untuk membalik halamanpun tinggal mengarahkan cursor ke sisi kiri atau kanan dan click sekali saja.
Saya khawatir bila hal ini tidak segera dibenahi maka epaper Kompas akan ditinggalkan oleh penggemarnya.
19th
JUN
Kalender Akademik 2009/2010
Posted by Alfid Ardyanto under Perkuliahan
Pagi ini dari milis kelas MTI 2008SB ada postingan informasi mengenai Kalender Akademik Universitas Indonesia 2009/2010. Hal yang penting dicermati untuk mahasiswa lama adalah tanggal Pelaksanaan pembayaran Biaya Pendidikan serta tanggal Registrasi Akademik. Menurut kalender akademis perkuliahan sendiri nantinya akan dimulai 31 Agustus 2009.
Pelaksanaan pembayaran Biaya pendidikan akan dibuka mulai 28 Juli hingga 14 Agustus 2009. Registrasi Akademis di SIAKNG baru akan dibuka dari tanggal 11 Agustus sampai 24 Agustus 2009. Selain itu yang perlu diperhatikan yakni bagi mahasiswa MTI yang ingin mengajukan Thesis di Semester 3 harus menyerahkannya sebelum tanggal 17 Desember 2009.
http://docs.google.com/gview?a=v&pid=gmail&attid=0.1&thid=121f60e586beda05&mt=application%2Fpdf
11th
JUN
Perusahaan Baru, Suasana Baru, Semangat Baru
Posted by Alfid Ardyanto under Personal
![]()
Tanpa terasa memasuki minggu kedua berada di perusahaan ini. PT ITC Auto Multi Finance, sebuah perusahaan pembiayaan kendaraan roda empat yang merupakan anak perusahaan dari ITOCHU Group dan sebelumnya memiliki afiliasi dengan Group Adira.
Minggu pertama bergabung cukup menarik perhatian karyawan karena datang dengan dibantu tongkat. Pada hari minggu sebelumnya saya sempat terjatuh dari tangga setinggi kirang lebih 2 meter. Alhamdulillah seluruh karyawan terkesan baik dan ramah. Suasana kerja yang kondusif membawa semangat baru dalam berprestasi di lingkungan yang baru.
Semoga Allah swt memberi kemudahan dalam menjalankan seluruh tugas dan aktivitas. Amien…..
<
div style=”padding:.5em 0;margin-bottom:2em”>
Categories
Blogroll
Website Favorit
Recent Comments
- Alfid Ardyanto on Capability Maturity Model
- oscar.km on Capability Maturity Model
- Tertarik presentasi on Cobit Overview dan ITIL
- muhammad faesal on BlackBerry on My SE P990i
- Harri on Cobit Overview dan ITIL
